CHAPTER 2: AKU MULAI BELAJAR SESUATU DAN TARUHAN ITU MULAI BERJALAN
.
.
.
.
.
.
ALHAM BASKORO PROUDLY PRESENT
.
.
.
.
.
.
Menurut Wonho, Terjebak hanya berdua dengan Changkyun sebenarnya tidak terlalu buruk juga. Apalagi pria berkulit pucat itu sangat senang mendapati Changkyun salah tingkah ketika ia menatapnya. Tapi, tidak untuk terjebak di dalam McDonald dengan seporsi Happy Meal. Asal kalian tahu, Changkyun terus merengek bertanya tentang dimana letak McDonald terdekat di pagi hari karena ia lapar. Apalagi dengan iming-iming bonus mainan Despicable Me 3 yang baru saja dirilis.
"Jadi, boleh aku memanggilmu paman Wonho? Temanku bilang harus lebih sopan pada yang lebih tua." Changkyun buka suara, tanpa berani menatap Wonho. Hari ini, Changkyun menyisir rambut madunya, rapi sekali, dengan mengenakan sweater warna hijau tosca yang kebesaran hingga menutupi telapak tangannya. Tentu itu punya Wonho
"Aku belum setua itu. Kau boleh memanggilku Wonho hyung. Apa kau tidak pernah belajar honorifiks saat taman kanak-kanak?"
"Eum, aku menetap di luar negeri sejak sekolah dasar jadi aku agak bingung ketika harus pulang ke sini sendirian."
"Sendirian? Dimana orang tuamu? Atau temanmu. Biasanya bocah seumuranmu punya geng seperti anak-anak kekinian yang aku kenal." tanya Wonho mulai penasaran. Sambil terus mengunyah chicken nuggetnya, Changkyun berpikir. Apa maksudnya geng?
"Orang tua ku ada di Israel dan akan pulang bulan April nanti. Dan aku rasa aku tidak punya geng."
"Kau serius?!" Wonho berseru takjub. "Kau sama sekali tidak mempunyai sekumpulan teman tidak berguna yang selalu mengikutimu kemana-mana? Kau ini kelakuannya seperti bocah, kelas berapa?"
"Ish, aku ini siswa tahun kedua Sekolah Pertunjukan Seni Seoul. Kalau yang seperti itu sepertinya aku punya. Ada Minhyuk hyung, Jooheon hyung, Hyungwon hyung dan lainnya."
"Oh. Suatu keajaiban jika bocah sepertimu tidak mempunyai geng." ujar Wonho acuh sambil mencomot kentang gorengnya. "Ngomong-ngomong kenapa kau bisa datang ke Apollo dan tahu namaku?"
Kerja bagus untuk membuat sarapan Changkyun tersangkut di tenggorokannya, Wonho.
"Tidak perlu berlebihan seperti itu."
Setelah menghabiskan satu botol air mineral untuk meredakan tenggorokannya, Changkyun menatap Wonho sebentar.
"Euuummm, anu, itu."
"Katakan saja, apa mereka menggunakanku sebagai bahan taruhan? Berapa yang mereka berikan?"
"BAGAIMANA KAU TAHU, HYUNG?! AKU BAHKAN—" kelopak mata Changkyun membola. Sadar akan apa yang ia katakan membuatnya malu setengah mati. "Ups, maaf."
"Setelah ini aku akan berpura-pura tidak mengenalmu. Cepat katakan sekarang."
"Kau mau aku mengatakan yang sejujurnya atau tidak?" Changkyun kini beralih pada mainan minion ungu sebagai pengalih kegelisahannya. Benda itu lebih enak ditatap ketimbang wajah Wonho yang membuatnya merah padam.
"Aku tidak peduli."
"Baiklah, aku akan mengatakannya."
Semua itu berawal ketika libur musim panas pertama ku di Seoul...
Aku bahkan tidak tau harus memulainya dari mana. Kejadian ini sangat cepat bahkan aku hampir tidak bisa mengingatnya. Mungkin dari saat ayah dan ibu mengatakan akan membeli apa pun yang aku mau saat hari ulang tahun ku. Waktu itu, ketika pesta bantal di rumah Jooheon hyung, Minhyuk hyung mengatakan padaku;
"Kalau begitu, kenapa kau tidak minta dibelikan sebuah mobil? Porsche sepertinya tidak buruk juga."
"Apa benar boleh seperti itu, hyung?" aku kira dia hanya bercanda dengan mengatakan bahwa aku harus meminta sebuah mobil mewah sebagai hadiah ulang tahun. Aku bahkan belum cukup umur untuk bisa mempunyai lisensi mengemudi.
"Kau harus mempunyai salah satu antara Mercedes Benz atau Porsche. Dua mobil itu tidak terlalu mahal bagi kedua orang tuamu. Jika mereka benar-benar sayang padamu, mereka pasti akan membelinya."
"Bagaimana aku meminta sesuatu yang bahkan tidak bisa aku gunakan?"
"Tenang saja, aku akan mengajarinya untukmu. Lagipula kita ini jajaran atas mana mungkin kau tidak tampil prestis tanpa mobil?"
Ah, aku ingat. Aku juga baru tahu bahwa ayah adalah petinggi Sekolah Pertujukan Seni Seoul. Lebih tepatnya, dia adalah seorang Pimpinan Sekretariat dan Keuangan di yayasan itu. Pantas ayah sering bolak-balik Korea-Israel untuk bekerja. Sebenarnya, ayah ku bukan lah benar-benar warga Israel, alasan ia menetap di Israel adalah demi ibu yang masih bekerja sebagai konsultan duta besar PBB Korea untuk Israel.
Jadi, secara harfiah aku tergabung dalam jajaran atas Sekolah Pertunjukan Seni Seoul tanpa aku sadari. Aku tidak akan membahas tentang Minhyuk hyung dan lainnya karena itu tidak penting.
Dulu aku sempat bertanya pada Jooheon hyung tentang hal ini. Dia selalu mengatakan padaku bahwa aku terlihat bingung di hari pertama masuk sekolah, jadi ia berinisiatif untuk mengajak ku bicara. Tadinya ia sama tidak tahunya dengan diriku hingga Minhyuk hyung datang padanya dan memberitahu biodataku.
"YA! Jangan mengajari Changkyun yang aneh-aneh, hyung!" Jooheon hyung datang dengan semangkuk besar popcorn. Malam ini rencananya kami akan menonton film di kamar Jooheon hyung dengan televisi pintar yang besar.
"Aku tidak mengatakan apa pun pada Changkyun. Aku hanya memberitahu dia pentingnya mempunyai kendaraan pribadi. Akan sangat berat baginya untuk setiap hari berdesak-desakan di bus tingkat itu."
Mobil mewah? Porsche? Apakah itu gaya hidup anak jaman sekarang di Seoul? Tapi, Minhyuk hyung, Jooheon hyung, Hyungwon hyung, dan yang lainnya juga punya kendaraan mereka sendiri. Hanya aku yang setiap hari menumpang bus untuk berangkat sekolah. Kadang Jooheon hyung berbaik hati mengantar ku yang sedang duduk sendirian di halte.
Ya, aku memang begitu naif hingga aku termakan omongannya. Pukul dua pagi Jooheon dan Minhyuk hyung sudah terkapar di ranjang karena terlalu banyak mengonsumsi red wine. Aku tidak berani mencobanya karena aroma minuman itu sangat aneh seperti obat batuk. Aku hanya menenggak berkaleng-kaleng cola soda hingga perutku terasa amat kembung. Dan seperti yang kalian tahu, soda membuatku tidak bisa memejamkan mata.
Iseng, aku coba-coba menelepon ibu. Aku sangat antusias karena sebelumnya aku tidak berharap banyak ibu akan mengangkat teleponnya, berhubung di sana pasti sudah siang.
"Halo, Ibu, bagaimana jika aku ingin sebuah Porsche sebagai hadiah ulang tahun?"
"Changkyun-ah apa kamu yakin? Kamu bahkan tidak bisa mengendarainya."
"Aku sudah besar, ibu dan aku sudah belajar mengendarai mobil dari Jooheon hyung." Tuhan, jangan kutuk aku karena berbohong pada ibu.
"Changkyun, kamu tau ibu tidak pernah bisa menolak permintaanmu."
"Jadi, apa ibu akan membelikannya?"
"Ibu akan bertanya pada ayah mu tentang hal ini"
Hatiku lega sekali mendengarnya. Walau pun agak sedikit mencelos, tapi aku berusaha meyakinkan diri jika ibu tidak merasa terbebani.
"Ibu, jika ayah keberatan sepertinya tidak apa-apa."
"Tidak, Changkyun, ibu akan menanyakan hal ini pada ayah segera. Ibu harap kamu tetap menjadi anak baik selama di Seoul. Ibu mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, ibu."
Aku sudah mengatakannya, sekarang apa yang harus ku lakukan? Bahkan aku belum mengantuk sama sekali.
.
.
.
.
.
"Hei, Changkyun bangun! Bangun, mandi dan buat dirimu berguna dengan membantuku membereskan semua ini."
Itu suara Jooheon hyung. Bukan alarm seperti biasanya. Oh iya, aku kan sedang berada di kamarnya Jooheon hyung.
"Jam berapa ini?"
"Jam sembilan pagi. Cepat mandi sana!"
Rasanya seperti aku baru tidur sekejap. Bahkan aku tidur tidak pulas sama sekali karena Minhyuk hyung selalu mengigau tepat di telingaku.
Untungnya aku masih mempunyai sisa kesadaran lumayan karena aku pasti mengira ini mimpi ketika membuka pesan whatsapp dari ibu.
'Ibu sudah mengatakannya pada ayah dan dia setuju. Ayah juga bilang mempunyai refrensi model yang sedang menjadi tren di Seoul karena teman kantornya. Hadiah mu akan dikirim besok sore dari Dongdamun jadi mungkin kamu perlu bersabar hingga lusa. Selamat ulang tahun, ibu sangat mencintaimu, bayi kecilku. Tidak terasa dulu kamu masih belepotan ketika makan sekarang kamu sudah dewasa dan tampan seperti ayah mu.'
Juga dari ayah
'Selamat Ulang Tahun, Changkyun-ah. Hadiah idamanmu akan dikirim oleh paman Kim langsung dari showroom ayah harap kamu ada di rumah hingga lusa karena itu membutuhkan tanda tanganmu sebagai tanda serah terima.'
"KYAAAAAAAAA" Tolong tampar aku sekarang juga. "—AAAAH SAKIT!" Ya, Jooheon hyung benar-benar menampar pantatku dengan sapu.
"Jangan berisik dan cepat basuh dirimu, Changkyun!"
"Tapi hyung, ibu menghadiahkanku Porsche untuk ulang tahunku kali ini!"
"DEMI APA KAMU JANGAN BERGURAU!" Jooheon dan Minhyuk kompak berseru lalu merebut ponselku. Berkali-kali Jooheon menutup mulutnya takjub ketika menbaca pesan dari ibu dan ayah ku di whatsapp.
"Woah aku tidak percaya ini kamu mendapatkannya hanya dalam waktu semalam! Keren!" Minhyuk menjerit girang. "SELAMAT ULANG TAHUN CHANGKYUN-AH! DAN SELAMAT ATAS HADIAH MOBILNYA!" lanjutnya.
"Aku rasa aku ingin menjadi anak angkat ayahmu."
"Eeeyy, hyung tidak perlu berlebuhan seperti itu."
Entah, tapi kami bertiga merasa penting untuk tiba-tiba berpelukan seperti teletubbies.
"Akhirnya Changkyun kita sudah dewasa. Jadi, kapan kami mulai bisa mengajarimu mengemudi?"
"Secepatnya! Minhyuk hyung bisa datang ke apartemen ku kapan saja jika kau mau."
Aku sangat bahagia, sekali lagi entah apa alasannya. Di lubuk hati paling dalam, aku sedikit kecewa pada diriku yang telah membohongi ibu. Tapi di satu sisi, ada rasa bangga yang menyelinap karena akhirnya aku bisa sederajat dengan Jooheon dan Minhyuk hyung di sekolah. Atau bahkan jika aku mau, aku bisa lebih di atas mereka. Aku merasa penting sekarang karena akhirnya semua orang akan tau siapa Lim Changkyun yang sebenarnya.
.
.
.
.
.
"Tunggu dulu, jadi kamu dan yang kamu sebut sebagai teman itu, hanya menggunakan uang untuk berfoya-foya untuk menjunjukan jati diri?" Wonho hyung menginterupsi. Bibirnya naik sebelah dan kentang goreng di sela-sela jarinya menunjuk ke arah ku.
"Terdengar agak miris, sih tapi memang kenyatannya begitu."
"Itu yang kamu sebut sebagai teman? Coba kamu pikir, apakah mereka mau melihatmu jika kamu bukan lah Lim Changkyun yang sekarang? Yang selalu gampang meminta uang pada orang tua?"
"Uhmmm...HEI, JANGAN MEMOTONG PEMBICARAANKU TUAN SOK MENGATUR."
"Terserah, aku tidak mau mendengar ceritamu lagi. Langsung saja ke intinya."
"Ya, jadi satu bulan setelah aku mendapatkan mobilnya, Minhyuk hyung, Seungcheol hyung dan aku bertaruh apa yang terjadi pada anak jenius korban bully—"
"Hei! Apa kamu gila? Menjadikan korban penindasan sebagai bahan taruhan? Aku tidak mengerti dengan pola pikir anak jaman sekarang."
"Itu bukan salah ku dia jadi korban bullying. Namanya Wonwoo. Jenius, Kutu buku dan sombong. Selalu ingin mendapat peringkat satu di kelas dan jajaran atas di angkatan tahun kedua tidak suka padanya. Terlebih Junhui hyung yang sangat benci kepadanya. Suatu hari kami bertaruh apakah dia akan pindah sekolah atau tetap bertahan lalu akhir yang mengejutkan karena Wonwoo ditemukan tewas bunuh diri di kamarnya—" Wonho hyung terlihat menahan nafasnya. Tapi sungguh, sebenarnya aku juga agak sangsi menceritakan hal ini. "Aku bertaruh hadiah mobil dari ayah karena dia akan bertahan karena aku pikir tidak mungkin siswa sejenius itu gampang menyerah dan membuat waktu belajar di sekolah ini terbuang sia-sia. Apalagi mengingat untuk masuk ke Sekolah Pertunjukan Seni Seoul tidak mudah. Seungcheol hyung bertaruh jam tangan mewahnya karena Seungcheol hyung pikir anak itu akan pindah sekolah. Sangat mengejutkan karena hanya tebakan Minhyuk yang benar-benar terjadi."
Well, tenggorokanku perih karena terlalu semangat bercerita. Duh, airnya sudah habis semua.
"Kenapa? Haus?" tanya Wonho hyung seolah mengerti pancaran kode dari mataku. Aku mengangguk sedikit lalu Wonho hyung menjentikan jarinya untuk memanggil pelayan restoran.
"Tolong satu McFlurry dan air mineral besar untuk bocah ini."
Ya, aku tentu tidak protes karena aku tidak akan melukai tenggorokanku yang serak ini dengan sirup berperisa buatan.
"Aku mendapatkan poinnya di sini dan tolong jawab dengan jujur. Oke?"
Anggukanku membuat Wonho hyung menghela nafas sejenak.
"Jadi, kamu mempunyai mobil Porsche mewah di usia 17 tahun dan bahkan ketika kamu belum bisa mengendarainya?"
Sekali anggukan.
"Dan kamu menggunakannya atas dasar harga diri di kalangan murid lainnya?"
Dua kali anggukan.
"Dan kamu jelas-jelas membuat taruhan di atas penderitaan orang lain?"
Satu kali anggukan. Hei, aku terlihat seperti anak anjing.
"Dan kamu bertaruh lagi untuk mendapatkan mobilmu kembali dengan mendekati seorang Shin Wonho? Bagaimana temanmu tau tentang diriku?"
Aku mengangguk sekali lalu kemudian menggeleng. Sumpah aku tidak pernah terpikir untuk bertanya yang satu itu pada Minhyuk hyung.
"Apa sebenarnya motivasimu?" yang bisa aku tangkap kali ini adalah, mimik wajah Wonho hyung terlihat kecewa. "Ah, terima kasih atas minumannya" akhirnya kita bisa berhenti sebentar untuk aku meneguk minuman dan Wonho hyung mencicipi pencuci mulutnya.
Hei kamu pria tampan berkulit pucat, biarkan aku menenggak minumanku dulu.
Kamu bisa lanjutkan pertanyaanmu setelah ini. Haha, ini hanya jeritan pilu hatiku dan aku tidak akan berani mengucapkannya secara verbal.
Eh?! Apa yang baru saja aku pikirkan?!
"Aku melakukannya karena temanku—"
"Kamu bilang teman?! Apakah orang yang datang hanya untuk uangmu bisa disebut teman?! Apa orang yang menertawakan penderitaan orang lain bisa disebut sebagai teman?! Kamu harusnya tau bagaimana perasaan anak korban penindasan itu! Bayangkan jika itu dirimu!"
Oh tidak, aku benar-benar tidak mengantisipasi untuk hal ini.
"H-hyung..."
Aku menangis, karena aku benar-benar menyesal. Semua yang Wonho hyung katakan sepenuhnya benar. Tapi, aku merasa bodoh karena baru menyesali hal itu sekarang.
"Aku akan membantumu, katakan saja apa tugasku dan kita selesaikan ini dengan cepat!"
"B-benarkah itu hyung?! Bahkan untuk seks di akhir pekan?"
"A-APA KAMU BILANG?!"
Good job, kini semua atensi jatuh ke meja kami.
"Anak sekolah jaman sekarang benar-benar gila." di sela-sela tangis, aku bisa mendengar Wonho hyung ngedumel. Aku jadi merasa amat bersalah padanya karena telah merepotkan begitu banyak. Aku akan sangat berterima kasih jika dia mau melakukan ini semua untuk ku.
"Tidak ada yang gratis di dunia ini. Aku bersedia jika tawaranmu cukup bagiku."
"A-ah tunggu sebentar." mungkin kertas ini ampuh untuk membalas jasa Wonho hyung. Aku menuliskan sejumlah angka di kertas itu.
"Ini cek senilai dua juta lima ratus ribu won di woori bank atas nama Lim Changkyun. Tugasmu hanya menjalankan kencan palsu hingga hari valentine tiba. Jika masih kurang, kamu bisa memintanya di akhir minggu nanti, hyung. Terima lah ini dan bantu aku menjalankan misi kencan palsu ini."
"Kamu benar-benar tau cara menjalankan bisnis, bocah! Deal!"
"Untuk langkah pertama, boleh aku mengambil selca kita berdua untuk pembuktian jika kita sedang kencan di restoran?"
"Hapus dulu itu bekas air mata mu, Changkyun."
Oh iya, aku hampir lupa.
Satu... Dua... Tiga... Say cheese!
Dan satu permulaan yang bagus ketika harus terjebak dalam permainan bodoh ala anak kekinian di Kota Seoul.
.
.
.
.
.
"Wah, kamu berhasil di hari pertama! Katakan padaku, apa rahasiamu untuk mendapatkan hati si vampir dingin itu?"
Minhyuk hyung tidak bisa berhenti mengoceh sedari tadi aku datang dan menunjukan fotoku bersama Wonho hyung. Meskipun aku ingin, tapi aku tidak mungkin menggigit kepala Minhyuk hyung sekarang juga. Perusak mood merupakan julukan terbaik untuk laki-laki anggur itu. Tolong, ini masih di starbuck dan tentu aku harus menjaga sikap.
"Tidak ada rahasia. Aku hanya mengajaknya mengobrol. Mungkin dia akan benar-benar jatuh cinta padaku nanti." jawabku percaya diri. Tolong, sebenarnya aku masih bertanya kenapa di sekolah ini masih membutuhkan ilmu eksak ke dalam daftar mata pelajarannya. Menyebabkan aku harus repot-repot pergi ke starbuck sambil menyalin tugas matematika sialan ini dari buku Jooheon hyung. Oh, aku baru ingat senin besok juga ada uji kemampuan berbicara untuk pelajaran bahasa inggris besok. Ah, itu semudah membalikan telapak tangan bagiku, tapi tidak untuk matematika.
"Katakan itu pada orang yang terkejut dengan hubungan sesama jenis beberapa hari yang lalu."
Aku mengedikan bahu tak peduli. Minhyuk hyung duduk di sebelah ku menyesap minuman kopinya lalu sibuk dengan memijat ponsel. Beberapa saat aku tersadar akan sesuatu.
"Hyung, bagaimana kau bisa kenal dengan Wonho hyung?"
"Wah! Bahkan kau memanggilnya dengan akrab ini suatu keajaiban—"
"Jawab saja pertanyaanku!" mungkin sudah secara naluriah hobiku menyela pembicaraan orang lain dengan ketus. Kalian harus memahami ini suatu saat.
"A-aaah oke. Dia teman baik mantan pacar ku dulu. Namanya Hyunwoo. Jika kau tanya dia, Wonho pasti tau karena Hyunwoo lah yang telah memungutnya."
"Me...mungut?"
"Itu istilah kasar untuk seseorang yang diangkat derajat hidupnya oleh orang lain. Biasanya diberikan pekerjaan yang pantas, tempat bernaung atau mengangkatnya menjadi anak adopsi. Hyunwoo termasuk yang pertama dan dia sering mengatakan padaku betapa kelamnya masa lalu Wonho hingga ia seperti sekarang."
"Boleh aku tau lebih lengkapnya?"
"Kenapa kau tidak bertanya sendiri padanya? Aku yakin dia akan. Bercerita banyak ketika kau telah memuaskannya di atas ranjang."
Tidak bohong, penuturan Minhyuk hyung membuat wajahku panas. Malu dan juga kesal di saat yang bersamaan. Dia membicarakan tentang aktivitas ranjang di tempat umum!
"Kenapa aku harus berteman denganmu sih, hyung! Kau hanya tinggal mengatakannya padaku, apa susahnya?!"
"Begini, Changkyun sayang. Di dunia ini tidak ada yang gratis, daripada kau membuang uangmu untuk membuatku menceritakan masa lalu Wonho, kenapa kau tidak memintanya langsung dari sang terduga? Kau bisa mendapatkan ceritanya langsung, tanpa rekayasa dan juga gratis. Aku tidak yakin sih pada yang terakhir, jadi tidak ada salahnya mencoba."
Ya, apakah segalanya di dunia ini bisa dibeli dengan uang? Pantas saja semua orang begitu memuja kertas ajaib itu. Bentuknya kecil, rapuh, tapi bisa menguasai dunia, bahkan bisa menguasai pikiran manusia. Apa itu termasuk untuk ayah dan ibu? Apa itu termasuk untuk diriku? Selama ini aku dengan mudahnya mengeluarkan hanya untuk hal-hal yang tidak aku butuhkan. Juga ayah dan ibu bekerja keras siang dan malam hanya untuk mencari lembaran kertas itu. Dan yang lebih parah, uang itu mereka habiskan dengan percuma hanya untuk seorang anak seperti diriku. Ah, tapi aku pikir itu berlaku bagi siapa saja yang mendapatkan uang dengan mudah, Jooheon dan Minhyuk hyung contohnya, dan juga beberapa orang jajaran atas di sekolah ini. Kedua orang tua mereka pasti mendapatkan uang dengan mudah hingga tidak pernah berpikir untuk kehabisan limit saldo di kartu kreditnya.
"Changkyun-ah, apa kamu sudah selesai menyalin tugasku? Jangan terlalu banyak bergaul dengan Minhyuk hyung nanti kamu jadi ikut-ikutan gila seperti dirinya." Jooheon hyung tiba-tiba nyeletuk. Kedua tangannya membawa nampan makanan. Aku hanya memesan sepotong croissant dengan green tea latte, dan kue red velvet itu punya Jooheon hyung.
"Katakan itu pada Lee Jooheon yang mengenalku lebih dari tiga tahun. Itu berarti kau sama gilanya dengan ku."
"Ah, harusnya aku benar-benar tidak pernah mengenalmu." Jooheon hyung tertawa lepas setelahnya. Benar-benar persahabatan yang aneh, menurutku. Aku sebenarnya penasaran apakah mereka juga berteman atas dasar uang?
"Hei, Changkyun. Harusnya dari awal kamu tidak perlu mengikuti taruhan bodoh ini. Kamu adalah orang paling polos yang aku kenal." aduh, aku merasa tersanjung. Terima kasih banyak, Jooheon hyung. Tapi aku akan lebih mengenal kerasnya dunia ini dari Wonho hyung. Tunggu, dia sedang apa ya kira-kira?
"Terima kasih atas pujiannya. Tapi aku tidak berteman atas dasar pujian. Aku belajar itu darimu hyung." kataku sambil terus menggoreskan pulpen membentuk rumusan aneh di buku.
"Bagus itu! Jangan seperti Minhyuk hyung yang selalu gila pujian."
"Hei! Aku hanya menerima pujian itu dengan senang hati. Aku tau aku ini tampan dan banyak yang menyukaiku ."
Itu lucu karena Minhyuk hyung tidak pernah membalas dengan serius, bahkan ketika Jooheon hyung mengeluarkan mimik berpura-pura muntah. Ah, aku rasa mereka sudah akrab dengan atau tanpa kekayaan mereka.
Ngomong-ngomong, apa aku perlu melakukan sesuatu di hari minggu yang cerah ini? Maksudku, Wonho hyung dan aku telah bertukar sosial media dan aplikasi chating tapi aku sama sekali belum menyapanya hari ini. Apakah aku harus berinisiatif? Tapi ego ku lebih besar dari—
Katalk
Ah, ada pesan masuk. Ternyata dari Wonho hyung. Kebetulan sekali. Mungkin jauh di sana, ia sedang bersin-bersin karena kami tengah membicarakannya tadi.
Shin_WH: 'Hei, Changkyun, apa kamu sibuk hari ini?'
ChangkyunLim: 'Aku sedang mengerjakan tugas sih, Sepertinya jam 5 sore aku kosong. Kenapa?'
Shin_WH: 'Mau Night Date di bioskop malam ini? Aku kira kamu suka Despicable Me 3'
DEMI SEMUA MINION KERDIL! Tentu aku tidak akan menolaknya.
ChangkyunLim: 'Aku mau, hyung! Pesan satu tiket untuk ku juga malam ini.
Shin_WH: 'Mau film jam berapa?'
ChangkyunLim: 'Jam 7 sepertinya jika kamu tidak keberatan, hyung. Aku masih lama mengerjakannya dan aku juga perlu bersiap.'
Shin_WH: 'Oke, sesuai permintaanmu filmnya mulai jam 7 malam di Lotte Mall dan kamu sebaiknya jangan terlambat.'
ChangkyunLim: 'Oki doki. Siap kapten!'
Well, sepertinya aku akan berkencan lagi hari ini. Aku penasaran apakah aku akan menikmatinya, terhitung ini hari kedua setelah perjanjian itu. Hanya tinggal menyelesaikannya beberapa hari ke depan.
Ini akan mudah, terlebih jika kami saling mengerti keadaan satu sama lain.
.
.
.
.
.
Hari ini, aku tampil total untuk Wonho hyung. Ah, maksudku, bukan sepenuhnya untuk Wonho hyung. Aku hanya ingin tampil menarik karena aku akan pergi berkencan untuk yang pertama kalinya dalam hidupku—walau itu hanya kencan palsu. Asal kalian tahu, aku ini penggemar berat serial animasi dari Despicable Me. Tentu, sweater rajut kuning ngejreng dengan satu bola mata berkacamata bulat di tengah ini menjelaskan semuanya. Jangan sebut aku kekanakan karena para Minion itu terlalu bodoh untuk jadi panutan anak-anak kecil. Harusnya semua orang dewasa menyukai makhluk itu karena kebodohan mereka, tapi faktanya—mungkin—hanya aku yang menggilainya di pusat perbelanjaan ini.
Ya, aku menghabiskan waktu setengah jam untuk memilih baju dan akhirnya aku menemukan sweater lama ini di dalam koper ku yang belum tersentuh. Itu hadiah dari ibu ketika kami liburan ke Disney land di Jepang. Aku baru sekali memakainya ketika pergi ke pesta ulang tahun sepupuku di Gangnam, lantas baju itu membuat beberapa mamah muda memintaku untuk difoto bersama.
Untuk kedua kalinya aku memakai sweater itu, dan Wonho hyung langsung mengajak ku berfoto. Seperti de javu.
"Kamu tampak menggemaskan. Apa kamu selalu berpakaian seperti ini ketika pergi ke luar rumah?" dia bilang begitu. Wonho hyung sendiri harus ku akui teramat—jika ada frasa yang lebih dari itu mungkin aku akan menggunakannya—sangat tampan. Bahunya yang lebar sangat cocok dalam balutan jaket kulit hitam dan celana denim hitam, ditambah ia pandai memadupadankan dengan kaos oblong berkerah v berwarna abu-abu.
Secara literal, Kami nampak seperti... Seorang ayah yang mengajak anak sulungnya menonton Despicable Me 3. Jika orang kekinian sering mengatakan bahwa Wonho hyung itu daddy-able sekali. Astaga, aku bahkan tidak pernah berpikir hingga sejauh itu.
"Apakah aku telat, hyung?"
"Tidak sama sekali. Ayo kita beli brondong jagung."
Kami mengambil antrian panjang untuk brondong jagung. Untung filmnya akan diputar lima belas menit lagi. Aku tidak heran karena ini hari minggu dan bioskop merupakan sasaran tepat untuk menghabiskan waktu di akhir pekan bersama orang terkasih. Ya, terkasih. Banyak sekali pasangan muda-mudi yang bergandeng tangan di depan kami. Beberapa dari mereka saling menyandarkan kepala di bahu dan cekakak-cekikik sambil memilih rasa.
"Aku heran, hyung."
"Hm, kenapa?"
"Apakah semua pasangan kekasih melakukan hal itu?" tanyaku sambil menunjuk ke depan, ke arah pasangan yang sedang cekikikan tadi.
"Aku sangat percaya jika kamu bilang belum pernah berkencan sebelummya. Mau mencobanya?"
"Mencoba ap—"
Wonho hyung benar-benar memyandarkan kepalanya di bahuku. Sayup-sayup aku bisa mendengar jeritan pelan para wanita di belakangku. Ini kenapa jadi mereka yang salah tingkah? Harusnya aku, kan? Tapi aku tidak merasakan apa pun ketika Wonho hyung melakukan itu. Hei, mana mungkin aku benar-benar jatuh cinta pada playboy cap kadal seperti Wonho hyung?
Atau mungkin belum?
Berhenti memikirkan hal yang aneh-aneh, Changkyun!
"Kenapa kamu memukul kepalamu sendiri?"
"A-ah, benarkah itu hyung?"
"Kamu pasti salah tingkah ya ditatap wanita-wanita itu? Katanya kamu mau terlihat seperti sepasang kekasih denganku."
Bagus, Wonho hyung terus mengoceh hal-hal yang tidak berguna tepat di leherku. Nafasnya menggelitik dan itu semakin membuatku merinding ngilu.
"Jangan buat aku mencolok matamu, hyung. Cepat pesan brondong jagung bersalut karamel itu untukku. Pakai kartu kreditku jika perlu."
"Aku baru saja kehabisan uang dan Kamu memang pengertian, Changkyun-ie." Wonho hyung mencubit pipiku gemas yang mana membuat wanita-wanita di belakang kami semakin menjerit senang. Entah apa yang mereka lihat, aku tidak peduli.
Harus ku akui, Wonho hyung bukan lah tipikal pria yang terlalu menjaga sikap. Maksudku, dia bisa menjadi menyebalkan di satu sisi tapi juga bisa menjadi dewasa di sisi lainnya. Dia baru saja menggodaku seperti ini tapi aku benar-benar yakin bahwa Wonho hyung melakukannya tanpa perasaan. Ya, dia bisa saja melakukan hal yang sama pada setiap pria atau wanita lain yang ia temui. Siapa yang tidak akan meleleh jika melihat manusia setampan Wonho hyung bergelayut manja di bahunya. Mungkin itu hanya aku.
Selama pemutaran film berlangsung, kami sibuk mengabadikan momen. Tidak bisa disebut 'kami' juga sih karena Wonho hyung yang terus minta diajak foto bersamaku. Dia bilang aku mirip minion sungguhan yang keluar dari layar bioskop. Entah aku harus merasa tersanjung atau menyesal.
Aku merasa kencan ini tidak terlalu gagal sebenarnya. Namun keseluruhan, aku yang membiayai kencan ini, kecuali untuk dua tiket di awal yang sudah dibeli oleh Wonho hyung. Ya, dia hanya mengeluarkan untuk tiket kami berdua. Dan itu juga teater 3D reguler. Mulai dari kami membeli brondong jagung, mimuman cola, brondong jagung ekstra besar tambahan, hingga akhirnya pukul sepuluh malam masih terjebak di pusat perbelanjaan untuk mencari buku. Aku baru tahu kalau Wonho hyung ternyata hobi membaca novel. Padahal banyak novel fiksi yang bisa ia beli secara online, kenapa harus repot-repot beli di toko buku? Total tiga buku ia beli hari ini. Tebal halamannya luar biasa dan aku juga harus merogoh kocek untuk itu. Pada akhirnya, Wonho hyung bilang;
"Untuk novel ini aku ganti jika gajiku sudah keluar." Ditambah cengiran tanpa dosa yang ia berikan ketika aku menggesek kartu kredit untuk yang ke sekian kalinya.
"Cih, memangnya kamu pernah gajian, hyung?"
"Uang yang kamu berikan sudah habis untuk membayar tagihan kartu kreditku bulan ini, Changkyun-ah dan malam ini aku tidak bekerja demi kamu."
Mungkin jika aku seorang wanita, aku akan pingsan bersimbah darah dari hidung ketika Wonho hyung melempar ciuman terbang kepadaku. Tapi nyatanya aku masih berdiri di sini dan hasrat ingin menjambak rambut pirang Shin Wonho semakin menjadi-jadi. Tolong catat hutangnya padaku malam ini sebesar seratus lima puluh ribu won untuk tiga novel itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
A/N: YEAAAH! PAGI-PAGI ORANG SIBUK SEKOLAH GUA MAH SIBUK BIKIN FF DAN MIKIR ENAKNYA ENDING INI ANGST APA HAPPY ENDING YA? KOK KAYAKNYA ANTUSIASNYA KURANG YA KOK GUA SEDIH T.T EEEEEH IKYUN MAMPIR KE KOTAK REVIEW DUH GUA SENENG SEKALI J)))) GUA BARU INGET JUGA FF INI TERINSPIRASI DARI FF IKYUN YANG JUDULNYA TARUHAN SATU MINGGU. CHANGKYUNNYA GEMAY DAN GUA BIKIN YANG GAK KALAH GEMAY DENGAN DIA PAKE SWEATER MINION KUNING. SENGAJA GUA SKIP BAGIAN NONTONNYA KARENA GUA BELOM NONTON FILM ITU PADAHAL PENGEN BANGET NONTON T.T. MASIH MAU LANJUT GAK NIH? REVIEW DONK MAKANYA
AND AS ALWAYS, THIS IS NON-BETA FICT :")
AT LAST, MIND TO FAV, FOLLOW AND REVIEW?
SINCERELY
NAN GWISHIN KKUM KKOTTO :* /AEGYO/
ALHAM BASKORO
