CHAPTER 3: JANGAN MENILAI BUKU DARI SAMPULNYA
.
.
.
.
.
.
ALHAM BASKORO PROUDLY PRESENT
.
.
.
.
.
.
Hari ini, aku tampil total untuk Wonho hyung. Ah, maksudku, bukan sepenuhnya untuk Wonho hyung. Aku hanya ingin tampil menarik karena aku akan pergi berkencan untuk yang pertama kalinya dalam hidupku—walau itu hanya kencan palsu. Asal kalian tahu, aku ini penggemar berat serial animasi dari Despicable Me. Tentu, sweater rajut kuning ngejreng dengan satu bola mata berkacamata bulat di tengah ini menjelaskan semuanya. Jangan sebut aku kekanakan karena para Minion itu terlalu bodoh untuk jadi panutan anak-anak kecil. Harusnya semua orang dewasa menyukai makhluk itu karena kebodohan mereka, tapi faktanya—mungkin—hanya aku yang menggilainya di pusat perbelanjaan ini.
Ya, aku menghabiskan waktu setengah jam untuk memilih baju dan akhirnya aku menemukan sweater lama ini di dalam koperku yang belum tersentuh. Itu hadiah dari ibu ketika kami liburan ke Disney land di Jepang. Aku baru sekali memakainya ketika pergi ke pesta ulang tahun sepupuku di Gangnam, lantas baju itu membuat beberapa mamah muda memintaku untuk difoto bersama.
Untuk kedua kalinya aku memakai sweater itu, dan Wonho hyung langsung mengajak ku berfoto. Seperti de javu.
"Kamu tampak menggemaskan. Apa kamu selalu berpakaian seperti ini ketika pergi ke luar rumah?" dia bilang begitu. Wonho hyung sendiri harus ku akui teramat—jika ada frasa yang lebih dari itu mungkin aku akan menggunakannya—sangat tampan. Bahunya yang lebar sangat cocok dalam balutan jaket kulit hitam dan celana denim hitam, ditambah ia pandai memadupadankan dengan kaos oblong berkerah v berwarna abu-abu.
Secara literal, Kami nampak seperti... Seorang ayah yang mengajak anak sulungnya menonton Despicable Me 3. Jika orang kekinian sering mengatakan bahwa Wonho hyung itu daddy-able sekali. Astaga, aku bahkan tidak pernah berpikir hingga sejauh itu.
"Apakah aku telat, hyung?"
"Tidak sama sekali. Ayo kita beli brondong jagung."
Kami mengambil antrian panjang untuk brondong jagung. Untung filmnya akan diputar lima belas menit lagi. Aku tidak heran karena ini hari minggu dan bioskop merupakan sasaran tepat untuk menghabiskan waktu di akhir pekan bersama orang terkasih. Ya, terkasih. Banyak sekali pasangan muda-mudi yang bergandeng tangan di depan kami. Beberapa dari mereka saling menyandarkan kepala di bahu dan cekakak-cekikik sambil memilih rasa.
"Aku heran, hyung."
"Hm, kenapa?"
"Apakah semua pasangan kekasih melakukan hal itu?" tanyaku sambil menunjuk ke depan, ke arah pasangan yang sedang cekikikan tadi.
"Aku sangat percaya jika kamu bilang belum pernah berkencan sebelummya. Mau mencobanya?"
"Mencoba ap—"
Wonho hyung benar-benar menyandarkan kepalanya di bahuku. Sayup-sayup aku bisa mendengar jeritan pelan para wanita di belakangku. Ini kenapa jadi mereka yang salah tingkah? Harusnya aku, kan? Tapi aku tidak merasakan apa pun ketika Wonho hyung melakukan itu. Hei, mana mungkin aku benar-benar jatuh cinta pada playboy cap kadal seperti Wonho hyung?
Atau mungkin belum?
Berhenti memikirkan hal yang aneh-aneh, Changkyun!
"Kenapa kamu memukul kepalamu sendiri?"
"A-ah, benarkah itu hyung?"
"Kamu pasti salah tingkah ya ditatap wanita-wanita itu? Katanya kamu mau terlihat seperti sepasang kekasih denganku."
Bagus, Wonho hyung terus mengoceh hal-hal yang tidak berguna tepat di leherku. Nafasnya menggelitik dan itu semakin membuatku merinding ngilu.
"Jangan buat aku mencolok matamu, hyung. Cepat pesan brondong jagung bersalut karamel itu untukku. Pakai kartu kreditku jika perlu."
"Aku baru saja kehabisan uang dan Kamu memang pengertian, Changkyun-ie." Wonho hyung mencubit pipiku gemas yang mana membuat wanita-wanita di belakang kami semakin menjerit senang. Entah apa yang mereka lihat, aku tidak peduli.
Harus ku akui, Wonho hyung bukan lah tipikal pria yang terlalu menjaga sikap. Maksudku, dia bisa menjadi menyebalkan di satu sisi tapi juga bisa menjadi dewasa di sisi lainnya. Dia baru saja menggodaku seperti ini tapi aku benar-benar yakin bahwa Wonho hyung melakukannya tanpa perasaan. Ya, dia bisa saja melakukan hal yang sama pada setiap pria atau wanita lain yang ia temui. Siapa yang tidak akan meleleh jika melihat manusia setampan Wonho hyung bergelayut manja di bahunya. Mungkin itu hanya aku.
Selama pemutaran film berlangsung, kami sibuk mengabadikan momen. Tidak bisa disebut 'kami' juga sih karena Wonho hyung yang terus minta diajak foto bersamaku. Dia bilang aku mirip minion sungguhan yang keluar dari layar bioskop. Entah aku harus merasa tersanjung atau menyesal.
Aku merasa kencan ini tidak terlalu gagal sebenarnya. Namun keseluruhan, aku yang membiayai kencan ini, kecuali untuk dua tiket di awal yang sudah dibeli oleh Wonho hyung. Ya, dia hanya mengeluarkan untuk tiket kami berdua. Dan itu juga teater 3D reguler. Mulai dari kami membeli brondong jagung, mimuman cola, brondong jagung ekstra besar tambahan, hingga akhirnya pukul sepuluh malam masih terjebak di pusat perbelanjaan untuk mencari buku. Aku baru tahu kalau Wonho hyung ternyata hobi membaca novel. Padahal banyak novel fiksi yang bisa ia beli secara online, kenapa harus repot-repot beli di toko buku? Total tiga buku ia beli hari ini. Tebal halamannya luar biasa dan aku juga harus merogoh kocek untuk itu. Pada akhirnya, Wonho hyung bilang;
"Untuk novel ini aku ganti jika gajiku sudah keluar." Ditambah cengiran tanpa dosa yang ia berikan ketika aku menggesek kartu kredit untuk yang ke sekian kalinya.
"Cih, memangnya kamu pernah gajian, hyung?"
"Uang yang kamu berikan sudah habis untuk membayar tagihan kartu kreditku bulan ini, Changkyun-ah dan malam ini aku tidak bekerja demi kamu."
Mungkin jika aku seorang wanita, aku akan pingsan bersimbah darah dari hidung ketika Wonho hyung melempar ciuman terbang kepadaku. Tapi nyatanya aku masih berdiri di sini dan hasrat ingin menjambak rambut pirang Shin Wonho semakin menjadi-jadi. Tolong catat hutangnya padaku malam ini sebesar seratus lima puluh ribu won untuk tiga novel itu.
.
.
.
.
.
[NORMAL POINT OF VIEW]
Senin, 12 Februari.
Dimana bunyi bel berdering nyaring, di situ semua siswa mulai patuh untuk menaati peraturan yang berlaku. Harusnya begitu, tapi pagi ini ada empat pemuda berani yang masih duduk-duduk di kafetaria. Ada yang disemir rambut warna ungu mengkilap, merah terang, hitam pekat dan juga cokelat madu. Sepatutnya, mereka yang masih asyik menyantap sarapannya itu tidak boleh dicontoh, tapi tidak ada satu pun oknum guru yang berani menginterupsi kegiatan mereka.
"Hyung, aku baru sadar kenapa kau membuat kesepakatan hingga hari kasih sayang lalu loncat di akhir pekan?
Changkyun nyeletuk di sela-sela kunyahannya. Membuat ketiga pemuda lain menjatuhkan atensi padanya .
"Aku membebaskanmu pada hari itu. Terserah jika kamu mau mengungkapkan perasaanmu yang sebenarnya atau bahkan tidak melakukan apa-apa. Tapi yang jelas kau harus menyelesaikan misi terakhir hingga akhir pekan. Bukan kah itu pas? Hari valentine jatuh di hari Rabu dan kau bisa menikmati waktu sejenak hingga hari minggu."
Pemuda bersurai cokelat madu itu membisu. Apa ia benar-benar bisa melakukannya?
"Changkyun-ah, jika kamu khawatir tidak bisa melakukannya, tidak apa-apa. Selama kamu berhasil hingga hari kasih sayang, aku akan tetap yakin Minhyuk hyung akan mengembalikan hadiahmu jika ia masih mau melihat matahari." kata Jooheon, si pemuda dengan rambut merah terang.
"Ya, jika Minhyuk tidak benar-benar mengembalikannya, aku akan berbaik hati menghajarnya untukmu." si tinggi berambut hitam pekat menimpali. Chae Hyungwon namanya.
"Ey, kenapa kalian kejam sekali. Lagipula Changkyun menjalaninya dengan senang hati, ia juga harus punya pengalaman seks untuk yang pertama kalinya."
"—Tapi aku pikir tidak dengan Wonho."
"Memang kenapa? Siapa tau Changkyun bisa membawa satu harapan baru bagi Wonho, benar? Kalian tidak tau kan betapa kesepiannya hidup seorang Wonho?" penuturan Minhyuk barusan terdengar seperti lumrahnya pemuda anggur itu berbicara tentang betapa bangganya ia mempunyai keluarga kaya. Sangat enteng dan pongah. Changkyun hanya bisa terdiam melihat ketiga seniornya berdebat, otaknya sibuk memikirkan kalimat terakhir itu.
Apa benar Wonho begitu kesepian dan masa lalunya sangat kelam?
"Tapi kan, Wonho sering bergonta-ganti pasangan."
"Aku yakin Wonho kenal apa yang namanya Alat Kontrasepsi."
"Hyung, harusnya kau lebih hati-hati dengan mulutmu. Ada sesuatu yang namanya luka di hati. Itu tidak bisa diobati dengan uang atau kartu kredit." ujar Hyungwon. Terdengar menakjubkan Hyungwon banyak nimbrung dalam obrolan tidak penting seperti ini. Di antara jajaran atas lainnya, pemuda dengan kacamata bulat itu memiliki sifat lebih pasif dan biasanya, Hyungwon hanya sibuk dengan ponselnya.
"Ya, ya, ya aku sering dengar itu. Mungkin benar jika Changkyun akan membawa satu harapan yang bisa mengubah Wonho. Aku tidak melihat dari sisi negatifnya dia dekat dengan Wonho. Bukan kah aku penyelamat jika memang Wonho ternyata bisa berubah karena bertemu dengan Changkyun?"
"Kau dan sifat keras kepalamu, hyung."
"Sepertinya aku tidak benar-benar membawa harapan untuk Wonho hyung."
Kali ini, yang lebih muda membuka suaranya. Giliran ketiga seniornya yang berubah hening.
"Ya, aku tau mungkin Minhyuk hyung berniat baik, tapi bisa saja kan Wonho hyung bersikap ramah seperti sekarang karena ia terbiasa melakukannya pada seseorang. A-aku tidak berharap aku benar-benar jatuh cinta pada Wonho hyung atau sebaliknya. A-aku—"
Suasana mendadak sendu karena Changkyun menitikan air mata.
"—A-aku hanya tidak mau mengecewakan siapa pun termasuk Minhyuk hyung, Wonho hyung dan terutama orang tua ku. Sudah terlambat jika aku harus menyesalinya jadi aku pikir sebagai lelaki sejati, aku harus menghadapinya. Apa pun yang terjadi."
Ya, akhirnya Changkyun bisa mengutarakan isi hatinya selama ini. Agak berat tapi setelah itu ia merasa hatinya begitu lapang. Changkyun mulai belajar bahwa menjadi dewasa bukan hanya sekadar nominal usia tapi juga berani menghadapi hal-hal yang terlanjur ada di depannya. Ibarat pepatah, tidak ada masa depan jika tidak ada masa lalu, dan masa lalu tidak lah terlalu penting untuk disesali.
Shin_WH: Changkyun-ah, apa yang akan kita lakukan hari ini? Jika tidak aku akan pergi bekerja seperti biasa. Mungkin jam 9 malam nanti aku baru lowong.
Setidaknya, satu pesan masik dari Wonho bisa sedikit membuat Changkyun meras alebih baik. Bahkan di saat seperti ini, Wonho berinisiatif untuk menghubunginya. Masih ada ya orang yang mau menghubungi dirinya bukan karena uang? Dalam hatinya, kalimat sarkas itu terbayang begitu saja.
ChangkyunLim: pergilah bekerja, hyung. Aku tidak apa-apa. Mungkin besok aku butuh kamu menemaniku ke pusat perbelanjaan. Aku ingin membeli sesuatu.
Shin_WH: Oke, kamu bisa mengandalkanku.
Mungkin tidak buruk juga Changkyun benar-benar jatuh cinta pada pria itu. Tapi masalahnya, apakah Wonho juga mencintainya?
"Hei lihat itu Changkyun senyum-senyum sendiri."
"Tadi abis nangis sekarang ketawa sendiri. Mungkin sebentar lagi Changkyun akan berteriak kegirangan karena Wonho." ejek Minhyuk dengan terus menyikut Changkyun.
"Ah, ada-ada saja kau hyung. Aku akan masuk kelas. Jooheon hyung mau ikut?"
.
.
.
.
.
Mungkin jika Wonho mau, ia ingin sekali menuliskan jalan cerita untuk hidupnya sendiri. Jalan cerita yang bahagia penuh kasih sayang dan serba sempurna. Dulu sekali, Wonho pernah bercita-cita sebagai penulis terkenal. Walaupun di sekolah, Wonho terkenal sebagai anak yang urakan, tapi nilai untuk sastra Korea paling bagus di antara teman-temannya. Juga, Wonho kerap kali iseng mengirimkan beberapa cerita fiksi ke redaksi majalah dinding di sekolahnya, jenisnya lebih condong ke arah fiksi penggemar. Banyak yang jatuh hati pada alur cerita yang Wonho buat karena terkesan sangat detil nan nyata. Seolah-olah Wonho juga ikut melihat kejadian yang ia tulis. Tapi sayang kini semuanya kandas, kenyataan tidak seindah apa yang tulis di kertas. Jika Wonho mau, sebenarnya ia sangat rindu dengan masa-masa itu.
Andai, waktu bisa diputar dan Wonho bisa menulis sendiri alur cerita hidupnya. Tentu Wonho tidak akan mau memilih jalan seperti ini. Namun kenyataan menampar pipinya begitu keras hingga ia terbangun dari dunia fiksi. Bersyukur karena dengan begini ia jadi mengenal Changkyun. Sosok anak laki-laki malang yang menjadi korban salah pergaulan. Sebenarnya sekarang, Wonho itu seperti sedang bercermin pada Changkyun. Namun bedanya, kali ini ia harus mencegah Changkyun dari akhir yang tragis, jangan sampai anak itu bernasib sama dengan dirinya.
"Hyunwoo hyung, apa menurutmu akhir yang indah selalu datang belakangan?"
Tanya Wonho disela-sela suasana gempita klub malam. Hari ini, Wonho sudah puas menguras kocek wanita kaya kesepian yang ditinggal suaminya. Tidak terlalu banyak, Wonho hanya meminta tiga juta won untuk sekali bermain.
"Aku rasa tidak akan ada yang namanya akhir sebelum kita benar-benar mati." ujar Hyunwoo dengan sebelah tangan menggoyang-goyangkan gelas cocktail.
"Ah begitu. Bagaimana kita tahu akhir hidup kita menjadi indah atau tidak?"
"Biasanya dengan kepergianmu, bisa dilihat dengan berapa banyak orang yang benar-benar menangis terpukul. Atau yang lebih bagus lagi, jumlah orang yang selalu datang untuk menjenguk abu mayatmu kelak."
Wonho mulai memikirkan sesuatu. Selama ini, dia hidup sendirian. Entah ketika bekerja atau pun berdiam di apartemennya, selalu sendirian. Jika dia mati, akan kah ia ditemani kesepian? Bahkan Wonho juga ragu apakah Hyunwoo mau datang ke pemakamannya kelak.
Ah, memikirkan apa sih Wonho sebenarnya?
"Kenapa kau tiba tiba bertanya hal itu, Wonho-ah? Ada masalah?" ya, setidaknya masih ada Hyunwoo yang bisa ia ajak curhat.
"Mungkin aku hanya bosan hidup sendirian. Ya, aku tau kau tidak akan mengerti karena kau sudah menikah, hyung."
"Kau bisa mencoba dekat dengan seseorang. Kau tau, biasanya rasa cinta datang ketika sudah terbiasa." pria kekar itu meneguk minumannya. "—Biasanya orang yang benar-benar mencintaimu akan selalu ada di dalam pikiranmu." lanjut Hyunwoo.
Benar, tapi yang ada di pikirannya saat ini hanya Changkyun seorang. Walau sekadar menawarkan bantuan kencan palsu, tapi Wonho tidak menampik jika ia selalu menyukai saat Changkyun tersenyum bahagia di hadapannya. Itu sedikit membuat ulu hatinya terasa geli.
Dulu, ibunya Wonho sering berpesan padanya—tentu sebelum wanita itu kabur dengan simpanannya yang berdompet tebal.
Hoseok-ah, hidup itu bukan sekadar menggapai apa yang kita inginkan di dunia. Tapi kita juga harus menjadi arti bagi orang lain. Setidaknya, agar kita bisa terus abadi kelak di hati orang yang kita cintai.
Walaupun tahu itu hanya lah bualan belaka, namun Wonho selalu melihat dari sisi baiknya. Hei, faktanya sang ibu lebih memilih kekayaan daripada harus makan cinta bersama sang ayah. Ya, tapi namanya juga manusia, pasti tidak luput dari salah dan dosa. Apalagi Wonho
Tapi, apakah ada cara untuk menebus dosa itu?
Mungkin, ia hanya khawatir pada Changkyun, karena bocah itu benar-benar berada di dalam lingkar pergaulan yang tidak sehat. Changkyun itu pantulan nyata seorang Lee Hoseok ketika SMA. Hanya bedanya, sejak lahir bocah itu sama sekali belum merasakan pahitnya hidup. Tidak seperti Wonho yang telah banyak menelan asam garam kehidupan yang keras ini.
Ya, ada cara untuk menebus dosa-dosanya selama ini.
Sesuai namanya, Wonho akan menjadi satu pengharapan bagi Changkyun.
.
.
.
.
.
.
[WONHO'S POINT OF VIEW]
Sudah kenal bocah yang bernama Changkyun bukan? Apakah kalian sama terkejutnya denganku? Aku harap begitu. Daripada terkejut, aku lebih merasa iba dan prihatin padanya. Apakah kalian pernah merasakan sakitnya mempunyai teman yang hanya peduli padamu yang berpura-pura menjadi orang lain? Apakah kalian pernah merasakan bagaimana sakitnya mempunyai orang terdekat yang hanya mengharapkan lembaran uangmu? Segera bersyukur pada Tuhan sebanyak-banyaknya jika kalian tidak pernah merasakannya.
Tidak, jangan pernah merasa kasihan padaku dan Changkyun. Mungkin jika aku bertemu dengan Changkyun terlebih dahulu, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Changkyun tidak akan masuk ke dalam pergaulan yang salah jika Tuhan berkehendak. Tapi faktanya? Cih, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Tuhan.
Ya, aku pernah menjelaskan pada kalian tentang masa laluku yang terlanjur kelam. Tidak buruk juga, dari situ aku bisa mengambil banyak hikmah, salah satunya milih teman dengan manfaat. Ini lebih seperti kalian yang mempunyai teman dan saling melakukan simbiosis mutualisme. Seperti aku dan Hyunwoo hyung. Aku sangat berhutang budi padanya di saat aku ingin mencekik semua teman-teman lamaku. Ayolah, maksudku ini semua jelas-jelas berbeda. Hyunwoo hyung mengajak diriku bekerja, walau aku tahu ini salah tapi aku tidak pernah mengeluh dengan pekerjaanku karena Hyunwoo hyung. Aku merasa banyak berhutang padanya hingga aku mulai bisa mencintai pekerjaanku yang sekarang. Bagaimana tidak? Aku bisa menghasilkan paling banyak lima juta won dalam semalam. Katakan alasan yang sangat tepat untuk aku untuk berhenti dari pekerjaan ini dan mengecewakan Hyunwoo hyung. Tidak bisa mengatakannya? Itu karena kalian semua tidak membantuku. Kalian hanya menilai sesuatu dari penampilannya. Pasti kalian tidak pernah berpikir bahwa aku bekerja seperti ini karena tidak mau mengecewakan Hyunwoo hyung yang jelas-jelas berbaik hati menolongku. Di saat semua manusia-manusia bejat yang dulu ku panggil sebagai teman, hilang entah kemana.
Untuk itu, niatku sudah bulat menolong Changkyun dalam permainan bodoh ini dan melupakan semua tentang teman palsunya. Aku akan lebih menjaganya mulai detik ini.
Seperti yang Hyunwoo hyung bilang, mungkin benar saja aku butuh seseorang yang bisa mewarnani hidupku. Aku akan mencobanya pertama pada Changkyun.
Kira-kira, pukul sepuluh malam seperti ini dia sedang apa, ya? Dia bilang besok mau pergi ke pusat perbelanjaan. Ah, daripada penasaran lebih baik aku bertanya
Shin_WH: Selamat malam Changkyun-ie.
Pesan terkirim. Hei, apa-apaan panggilan akrab itu? Ah, lupakan saja. Mungkin Changkyun tidak akan mebacanya.
ChangkyunLim: Malam juga, hyung. Kenapa?
Wow, rupanya Changkyun belum tidur.
Shin_WH: Belum tidur? Sedang apa? Aku gabut nih. Apartemenku selalu sepi.
Ey, Shin Wonho, bodoh! kenapa aku harus flirting sih? Ah, bahkan rasa bantal ini lebih enak digigit ketimbang menatap isi pesan itu lama-lama.
ChangkyunLim: Aku baru saja selesai membuat pekerjaan rumah. Tidak juga sih sebenarnya aku menyalin jawaban Jooheon hyung.
ChangkyunLim: apartemenku juga selalu sepi. Apa jangan-jangan kita...? Jo...
Shin_WH: MBLO... IYA AKU JOMBLO TERUS KENAPA? MEMANGNYA KAMU MAU JADI KEKASIHKU?
Eh, demi kepiting saos tiram. Apa yang baru saja aku ketik?
ChangkyunLim: Biasa aja dong. Keliatan banget jomblonya kan. Masa nembak lewat pesan kakaotalk. Seperti anak SD aja.
Ya. Jari Changkyun bahkan sama tidak sopan dengan mulutnya.
Shin_WH: Tidak usah dibahas! Aku hanya lagi sensi karena sesuatu. Ngomong-ngomong, kita mau pergi kemana dan jam berapa besok?
Aku tahu, mungkin Changkyun di seberang sana sedang cekikikan tidak jelas karena pesanku barusan. Tipikal anak remaja puber aneh.
ChangkyunLim: aku mau ke Lottemart, belanja bahan makanan buat bukan depan.
Ah, iya, belanja bulanan ya? Sebentar aku bangun untuk mengecek kulkas. Hmmm... Aku benar-benar harus menemani Changkyun.
Shin_WH: Kebetulan sekali aku juga mau belanja bulanan.
ChangkyuLim: Ah, bagus. Itu artinya kamu ada uang, kan? Lunasi hutangmu juga besok.
Shin_WH: IYA! bocah bawel. Tumben kamu cepat membalas pesanku.
Apakah Changkyun juga sedang leha-leha di atas kasur dengan ponselnya sepertiku? Harusnya bocah itu kan sudah tidur dari setengah jam yang lalu.
ChangkyunLim: aku menyelesaikan tugas bahasa Inggris dengan mudah, lalu menyalin tugas matematika punya Jooheon. Kamu tau, hyung? Bahkan hanya menyalin tugas yang sudah jadi itu sangat menyusahkan jadi mungkin aku akan menyelesaikannya besok. Lagipula, tugas itu dikumpul lusa.
Tipikal anak modern kekinian sekali. Aku yakin sekali jika semua hasil jadi tugas itu dalam bentuk foto dan Changkyun menyalinnya.
Shin_WH: Dasar pemalas. Jika kamu ada tugas sastra Korea, tolong datang padaku. Gini-gini aku selalu peringkat satu dalam membuat syair kuno dengan dialek satoori loh!
Mempromosikan diri sedikit tidak apa-apa kan?
ChangkyunLim: di Sekolah Pertunjukan Seni Seoul tidah dibutuhkan hal yang seperti itu. Pergi lah dan cari orang lain.
Cih, dasar bocah menyebalkan.
Shin_WH: Ya, terserah apa katamu, tuan hebat segalanya. Ngomong-ngomong jam berapa kita akan pergi? Ini sudah larut dan kamu belum tidur? Besok sekolah?
Kali ini, mungkin sekitar sepuluh menit jeda Changkyun membalas pesannya. Dan selama itu juga aku terus menatapi layar ponsel.
ChangkyunLim: ah, mungkin aku bisa bolos besok. Lagi pula, tidak ada yang istimewa. Besok hanya uji kemampuan lisan mata pelajaran bahasa Inggris, itu semudah membalik telapak tangan, hyung.
ChangkyunLim: Sore saja, hyung. Jam 5 sore.
Wah, darimana Changkyun belajar untuk songong kepada yang lebih dewasa?
Shin_WH: Changkyun dan gayanya yang selangit. Mau aku jemput atau kamu yang menggerakan pantat malasmu itu ke Lottemart?
Seingatku, Sekolahnya Changkyun bersebrangan dengan Lottemart. Ah, bodohnya aku.
ChangkyuLim: Tidak perlu. Aku tunggu jam 5 di depan Lottemart, atau kalau kamu kelamaan, temui aku di bagian fresh food.
Shin_WH: Oke, kalau begitu dimengerti.
Shin_WH: Sekarang lebih baik kamu pergi tidur. Ucapkan selamat malam!
ChangkyunLim: Dih, kenapa harus aku?
Shin_WH: Sudah lakukan saja, bocah!
ChangkyunLim: Terserah
ChangkyunLim: Selamat malam, Wonho hyung. Selamat tidur.
Duh, gemasnya anak ini.
Shin_WH: Selamat tidur juga :)
ChangkyunLim: Mimpi indah...
'Mimpi bersamamu...' Tidak jadi, deh. Duh, kenapa jadi flirting lagi? Ah, lebih baik aku mencari kegiatan lainnya.
.
.
.
.
.
[NORMAL POINT OF VIEW]
Selasa 13 Februari, besok hari kasih sayang...
Ketika pagi menyambut, biasanya Tuhan telah menyelipkan secarik harapan hidup pada setiap insan. Mungkin, tidak terkecuali bagi Changkyun yang terbangun karena suara alarm ponselnya, lagi, dan akan terus seperti itu. Mungkin akan menyedihkan jika hari yang cerah seperti ini dilewatkan begitu saja. Oh, anak laki-laki itu baru ingat ia akan berkencan dengan Wonho di Lottemart.
Pagi ini sama seperti pagi sebelumnya. Setiap saat sama dan monoton. Setelah berseragam lengkap, Changkyun mendengar suara gemuruh dari dalam perutnya. Seperti biasa, oatmeal menjadi satu-satunya pilihan untuk sarapan.
Karena Changkyun itu domba Tuhan maka ia harus menangkupkan kedua tangan untuk memohon berkat sebelum ia menyendok santapannya. Berhubung isi kardus oatmealnya tinggal setengah kosong, Changkyun memutuskan untuk menyantapnya hingga tetes susu terakhir. Oh, bahkan ini belum tengah bulan dan anak itu sudah menghabiskan stok oatmealnya.
Ah, andai ibunya ada di sini. Pasti ia makan enak untuk sarapan. Ditemani bau kopi robusta dari ayah yang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Oh, jadi begini hidup sendirian jadi bujangan? Pikir Changkyun.
Changkyun hanya harus lebih bersabar karena beberapa bulan lagi orang tuanya akan segera pindah ke Korea.
Pemuda Lim itu juga harus lebih bersabar ketika ponselnya berdering dan menginterupsi sarapannya.
iMinhyuk: Changkyun-ie, nanti tanggal 18 sibuk? Aku akan mengajakmu ke suatu tempat, mau datang tidak?
Woah, ada undangan tidak resmi dari Minhyuk. Tumben isinya terdengar penting.
ChangkyunLim: jika kamu tidak membawaku ke acara aneh-aneh lagi tidak apa-apa, hyung.
iMinhyuk: percaya padaku. Kali ini Seokmin mengadakan pesta ulang tahun di villa keluarganya di Jeju. Kau juga diundang!
ChangkyunLim: Itu pesta ulang tahun kau atau Seokmin? Kenapa kau yang mengundangku? Seokmin yang mancung itu kan? Sepupumu?
iMinhyuk: Iya, menurutmu? Seokmin mengatakan padaku untuk menyampaikan undangan ini karena dia belum terlalu kenal padamu. Nanti akan aku kenalkan padanya. Acara ini terbatas dan Seokmin tidak mengundang banyak orang. Semua akomodasi ditanggung olehnya.
Changkyun tahu pasti yang diundang hanya jajaran atas sekolah. Siapa lagi? Sepupu dari Lee Minhyuk juga pasti dari jajaran atas, meskipun statusnya sebagai junior. Terlebih pesta ulang tahun pribadi di villa, dengan ongkos ke Jeju ditanggung oleh keluarganya. Changkyun tidak habis pikir berapa uang yang harus mereka keluarkan untuk itu.
ChangkyunLim: terdengar menarik. Jika jadwalku kosong aku pasti ikut.
.
.
.
.
.
"Wonho hyung, tolong carikan aku lada hitam dan lima bungkus ramen keju. Aku akan membeli daging beku dan nugget."
"Tunggu, kamu bisa memasak?"
"Kenapa tidak? Aku bosan hanya makan oatmeal selama sebulan. Aku sudah belajar memasak dari Youtube."
"Tapi kamu juga membeli banyak oatmeal, Changkyun."
"Itu bukan urusanmu, hyung."
"Terserah."
Wonho mengalah dan membawa troli belanjaannya melipir ke bagian bumbu dapur dan mie instan; melakukan apa yang Changkyun perintahkan.
Sesuai kata-kata Changkyun, sekarang sudah jam setengah tujuh malam dan mereka masih mondar-mandir di dalam Lottemart. Kalau kata Wonho, mereka sedang mencari amunisi untuk bertahan hidup selama satu bulan. Jika Wonho gila akan ramen dan berbagai macam mie instan, maka andalan Changkyun adalah beberapa bahan makanan enak untuk awal bulan dan oatmeal siap seduh untuk akhir bulan, makanya dia membeli banyak sekali oatmeal berbagai varian rasa di dalam trolinya.
"Aku juga bisa memasak. Mau coba makanan buatanku?" lelaki pirang itu datang dengan bahan makanan yang diperintahkan. Changkyun mengerutkan dahi, tawaran Wonho lumayan juga.
"Boleh. Mau masak di apartemenku?"
Sebenarnya, Changkyun tidak benar-benar berpikir untuk mengotori dapurnya. Tapi, entah kenapa tawaran itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Terserah. Aku bawa mobil jadi bebas dimana saja." ujar Wonho. Iris matanya sibuk meneliti kandungan gizi yang tertera pada kemasan kimchi siap saji.
"Makanan apa yang kamu suka selain Ramyeon?"
"Pasta Raffioli. Dengan banyak saus keju di atasnya."
"Bukannya itu masih sebangsa dengan ramyeon? Kamu tau, sejenis mie?"
Wonho sebagai pakar mie instan jelas tersinggung dengan pertanyaan Changkyun. Setelah ia melempar dua bungkus kimchi siap saji, bibirnya terbuka.
"—Ah, aku hanya bercanda. Aku tidak sebodoh itu untuk tau perbedaan pasta dengan mie instan."
Wonho menghela nafas lega. Jadi ia tidak perlu menghabiskan tenaga untuk memberikan Changkyun pencerahan tentang seluk beluk mie instan.
"Changkyun-ah.."
"Ya?"
"Ngomong-ngomong, apa semua teman-teman di sekolahmu melakukan hal itu?"
"M-maksudnya?"
"Ya, kamu tau, seperti menghamburkan uang, bertaruh, atau membeli barang mewah atau yang lain-lain?"
"Mau duduk sebentar, hyung? Aku lelah mendorong troli ini."
"Apa kamu tersinggung dengan pertanyaanku?" Wonho agak menyesal sebenarnya. Tapi ia juga penasaran.
"Tidak sama sekali. Ayo kita makan dulu. Kamu pasti lapar setelah menemaniku belanja, hyung."
Semua Lottemart punya restoran cepat saji sendiri di dalamnya. Berbagai menu lengkap tersedia dengan harga yang lumayan merakyat. Mulai dari kedai kimchi curah segar hingga sushi bar. Bisa juga jadi alternatif tempat nongkrong setelah penat berbelanja seharian. Yang yang lebih penting, Wonho suka mie hitam di sini. Porsinya besar dengan banyak pilihan toping tersedia.
Wonho dan Changkyun memilih tempat duduk di dekat etalase roti. Dan tepat di sampingnya merupakan restoran yang menjual aneka kue.
Wonho selalu ingin makan mie hitam di Lottemart dengan tambahan tumis daging babi di atasnya, Changkyun jadi ingin memesannya juga. Padahal sang ibu selalu melarangnya untuk makan mie selain buatan rumah. Karena sempat ragu memilih menu, akhirnya Changkyun mendapat pencerahan dari Wonho.
"Pesan apa pun yang mau kamu makan. Hidup hanya sekali dan nikmati selagi bisa. Makan satu porsi tidak akan membuatmu mati."
Oke, dua porsi mie hitam tumis daging telah tersedia di atas meja. Changkyun memilih jus jeruk untuk minuman dan kimchi lobak sebagai pencuci mulutnya. Beda dengan Wonho yang memilih Cola Squash dan manisan melon untuk hidangan penutup.
"Jadi, apa kamu tidak keberatan menjawab pertanyaanku?"
"Tentu. Tidak semua temanku seperti itu. Tapi untuk sesuatu seperti membeli barang mewah dan menghamburkan uang mungkin iya."
Wonho mengangguk paham. Kepalan tangannya mengaduk-aduk isi mangkuk dengan ganas lalu menyumpitkan mie ke dalam mulut dalam sekali gulungan besar. Hal yang sama dilakukan Changkyun karena anak itu pikir Wonho begitu keren saat melakukannya.
"Apakah semua temanmu hanya berteman dengan orang-orang tertentu seperti mereka juga? Maksudku, apa mereka berteman hanya dengan sesama kaum elit di sekolah?"
"Bagaimana kamu tahu hal itu, hyung? Di sekolahku, biasanya disebut dengan jajaran atas."
"Ya, gini-gini aku juga pernah sekolah dan aku pernah melakukan hal itu."
"Kamu juga bertaruh untuk kematian seseorang?"
Pertanyaan Changkyun membuat Wonho tersedak. Untung bocah itu sigap menolongnya.
"Bukan itu, bodoh!—" Wonho menyela setelah tenggorokannya bebas dari makanan. "—Aku dulu juga punya teman yang seperti itu. Mereka tidak berguna ketika kamu sedang mengalami masa sulit."
"Ah, bilang dong."
"Kamunya saja yang seenaknya mengartikan. Aku jadi tersedak tahu!"
"Ya, maaf, hyung. Aku pikir reaksimu tidak berlebihan seperti itu."
Wonho melempar tatapan galak pada Changkyun. Tapi ujung-ujungnya pria itu juga lumer melihat Changkyun dengan tatapan anjing seperti sekarang. Masa sanggup ia berlama-lama jutek di depan Changkyun?
"Tapi, bukankah teman yang seperti itu bisa dimanfaatkan? Maksudku ada orang yang berteman hanya karena uang."
"Kasusmu berbeda. Kamu merasa punya teman karena satu derajat dengan mereka. Coba jika kamu jatuh miskin, mereka mana mau melihatmu sebagai teman. Bahkan kamu akan kesulitan memanfaatkan uang mereka."
Kali ini, Changkyun yang mengangguk paham.
"Oh, jadi mereka pikir teman hanya untuk sekadar gengsi, begitu? Sebenarnya mereka tidak membutuhkan uang, ya."
"Tepat sekali! Bahkan mereka lebih peka dengan seseorang yang hanya memeras uang mereka. Maka dari itu mereka berjaga-jaga hanya berteman dengan jajaran atas sepertimu."
"Jadi, apakah aku harus menghindari mereka semua?"
"Tidak juga. Mungkin kamu bisa mengurangi intensitasmu untuk berkumpul dengan mereka. Meski mereka tidak peduli dengan uang, tapi mereka juga tidak bisa diandalkan ketika kamu sedang kesulitan."
"Jika aku tidak mempunyai teman, lalu dengan siapa aku harus berinteraksi? Kamu kan tahu hyung kalau aku hidup sendiri sampai kedua orang tuaku datang bulan april nanti."
"Ada aku." celetuk Wonho asal.
"Harus ya aku selalu menghubungimu?"
"Kalau tidak mau ya sudah."
"Bercanda, hyung. Gitu aja marah."
"Ah, aku akan membayar hutangku setelah ini. Berapa semua total yang kamu habiskan?"
"Nanti saja itu."
Changkyun baru ingat, besok hari kasih sayang. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Anak laki-laki itu tidak pernah terpikir untuk membuat kue cokelat karena terakhir kali ia melakukan hal itu, dapur rumahnya bertabur tepung dan kuning telur karena Changkyun tidak tahu cara menggunakan mixer.
Tentu Changkyun juga tidak akan berpikir untuk melakukannya sekarang karena ia tidak mempunyai mixer.
.
.
.
.
.
"Aku dapat dua cokelat dan brownies dari mantan pacarku. Aku heran kenapa dia masih memberiku padahal aku pikir dia sudah melupakanku."
"Hari ini ada yang menaruh sebatang cokelat dengan pita merah muda di atas lokerku. Kira-kira siapa ya?"
"Ey, aku bahkan belum menerima apa pun hari ini."
"Itu karena kamu jomblo."
"—atau tidak ada yang menyukaimu secara diam-diam."
"Jangan sedih, nanti pasti ada yang memberikanmu coklat."
"Bisa jadi malah yang orang yang tidak pernah terpikirkan olehmu akan menikah denganmu."
Beberapa pria di kelas sibuk bergunjing tentang betapa istimewanya hari ini, sedang satu di antara mereka mengeluh karena tidak mendapatkan apa pun hari ini.
"Tenang, tidak semua yang memberimu cokelat adalah orang yang suka padamu. Siapa tahu kau akan mendapatkannya dari sahabat atau orang yang menyayangimu."
"Ya, aku harap itu akan terjadi."
Mendengar hal itu, membuat Changkyun semakin bersemangat. Pasalnya, hari ini ia banyak sekali membeli kue dan cokelat untuk teman-temannya—terlebih nanti untuk Wonho—setelah menimbang saran dari Jooheon untuk lebih memilih belanja di toko kue dan tidak menghancurkan dapur rumahnya. Jooheon marah besar ketika ia tahu anak laki-laki itu ingin belajar memasak di rumahnya. Ya, Changkyun pikir, ibunya Jooheon pasti punya peralatan yang lebih memadai untuk membuat kue cokelat.
Meskipun Changkyun paham betul adat turun temurun tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, tapi hati kecil Changkyun juga berharap bahwa dia akan mendapatkan sesuatu hari ini. Sedikit beharap tidak ada salahnya kan?
Pagi ini dibuka oleh guru Kim yang mengajar tentang teknik vokal. Terlebih dulu beliau berpesan pada anak didiknya untuk tidak pernah menyia-nyiakan seseorang yang tulus peduli pada kita. Satu yang Changkyun ingat;
"Sesuatu akan terasa sangat berharga jika kita kehilangannya."
Itu membuat hati Changkyun menghangat. Anak laki-laki itu selalu ingat bahwa di dunia ini hanya ada kedua orang tua yang peduli dan menyayanginya. Mereka tidak peduli seberapa besar pengorbanan dan materi yang harus dikeluarkan asal buah hatinya bahagia. Oh, ngomong-ngomong, dari sekian banyak kue dan cokelat yang ia beli, Changkyun akan menyimpan tiga untuk yang paling spesial. Niatnya, Setelah pelajaran teknik vokal selesai Changkyun akan memberikan kue dan cokelat itu di kafetaria sekolah, tempat biasa mereka berkumpul. Itu juga sekaligus ajang pembuktian pada Minhyuk jika Changkyun pergi berkencan lagi dengan Wonho di Lottemart. Tapi apa itu bisa disebut kencan? Apakah ada orang yang berkencan di antara tumpukan mie instan dan bumbu dapur?
Kebanyakan orang tahu jika suatu kepedulian diukur dari besarnya pengorbanan yang dikeluarkan. Changkyun tahu beberapa contoh karena sang ibu selalu bekerja atas dasar kepedulian sesama. Sejauh ini, hanya dengan materi yang ia tahu. Banyak orang di luar sana selalu melakukan donasi atas dasar kepedulian sosial, Changkyun juga pernah ikut berpartisipasi. Tapi sejauh ini Changkyun belum paham betul dengan konsep rasa kasih dan rasa sayang—terlalu naif memang. Lagi-lagi, Changkyun hanya tahu jika kedua orang tuanya yang menyayanginya. Anak laki-laki itu tentu sering beribadah, dan khotbah yang ia dengar sering kali menyinggung tentang rasa cinta kasih dan sayang yang harus disebarkan oleh setiap umat. Selama belasan tahun Changkyun hidup di dunia, ia sama sekali belum pernah merasa disayangi oleh orang lain selain ibu dan ayahnya. Meski hari kasih sayang identik dengan cokelat dan kue, tapi satu yang Changkyun pahami adalah sebatang cokelat bukan menjadi tolak ukur rasa kasih dan sayang.
"Wah. Changkyun kita sepertinya akan memberikan sesuatu." Hyungwon terkekeh ketika Changkyun mengeluarkan totte bag. Anak laki-laki jangkung itu duduk di sebelah Minhyuk, dan ada Minhyuk di sebelahnya.
"Ah, tidak begitu. Ini hanya ungkapan rasa terima kasihku." ujar Changkyun. Jemarinya mengeluarkan isi toples cokelat dan cookies kering yang langsung disambut tatapan lapar Jooheon.
"Aku tahu ini rekomendasi paling bagus." Jooheon kebagian setoples cokelat berbentuk hati dengan seulas pita merah di atasnya. Jooheon yakin jika isinya cokelat kecil-kecil yang akan meleleh di mulut.
"Terima kasih untuk apa, Changkyun-ah?" kali ini Hyungwon penasaran. Dia kebagian sebatang cokelat Toblerone.
"Untuk menjadi temanku, mungkin?"
Senyuman polos Changkyun membuat ketiga orang lainnya membisu. Terlebih Lee Minhyuk.
"A-aaah menjadi teman, ya. Tentu saja! Tidak perlu berlebihan seperti itu, Changkyun-ie. Benar kan, Hyungwon?" untuk Minhyuk, Changkyun membelikannya setoples besar permen cokelat Cadburry. Anak laki-laki bersurai cokelat madu itu tidak sadar ketika Jooheon menyipitkan mata pada dua orang di depannya. Ia seperti mencium ada gelagat aneh dari Minhyuk yang menyikut laki-laki berkacamata bulat itu.
"Aaah iya! Seharusnya kita membelikan Changkyun cokelat juga. Tapi sepertinya kartu kreditku limit untuk bulan ini—"
"Ah, tidak perlu repot, Hyungwon hyung. Oh, kalau bisa titip ini untuk senior jajaran atas. Aku tidak bisa ikut kalian ngumpul karena ada keperluan mendadak."
Masih ada satu totte bag penuh untuk dibagikan.
"Terima kasih banyak, Changkyun-ie. Semua pasti akan senang menerima ini."
Katalk~
Shin_WH: Mau main ke apartemenku?
Ah, iya Changkyun baru ingat.
"Aku kencan dengan Wonho hyung kemarin. Kami makan di Lottemart saat Wonho hyung belanja bulanan."
.
.
.
.
.
Apa yang lebih membuat hatimu terbang ketika seseorang menyukai pemberianmu? Terlebih, jika itu orang yang terasa amat spesial bagimu. Kurang lebih, itu yang Changkyun rasakan sore ini.
Ya, walaupun Changkyun belum sepenuhnya yakin apakah Wonho akan menjadi orang yang sangat spesial baginya, namun melihat senyum pria pirang itu sekaramg, Changkyun jadi tersipu malu. Padahal itu bukan kue bikinan dirinya sendiri.
"Changkyun-ah, apa kamu repot-repot membelikan ini untukku? Ini benar-benar enak."
Ya, Changkyun menyimpan satu untuk Wonho, berupa kue tart cokelat mahal dengan logo Tous Les Jours di atasnya. Pantas saja enak.
"Tidak masalah untukku hyung. Aku juga menyimpan beberapa cokelat mahal untuk ibu dan ayah, jadi itu bukan yang paling spesial."
Benar adanya, namun Changkyun lebih memilih gengsi di depan Wonho ketimbang flirting tidak jelas. Lagipula tidak akan ketauan karena sekarang wajah Changkyun tengah serius menatap layar permainan interaktif di televisi. Wonho tidak akan sadar jika Changkyun sudah berubah merah padam sejak tadi.
"Mmpphh belumph pewrnah adamph yangh memberimhkanku cokelatm sewlainh kamwuh. (Belum pernah ada yang memberikanku cokelat selain kamu.)" sedang satu pria lainnya sibuk mengisi perut.
"Telan dulu semua makananmu, hyung. Itu menjijikan. Aku tidak mau kamu tersedak dan mati di sini."
"Ini terasa enak karena kamu yang memberikannya."
Mampus, Changkyun jadi salah tingkah sendiri. Bahkan anak laki-laki itu jadi tidak fokus dengan permainannya.
"Tidak perlu berlebihan seperti itu." duh, Wonho tidak akan tahu jika Changkyun mati-matian menahan detak jantungnya agar tidak melompat keluar—Hiperbola.
Mungkin antara doyan atau lapar—Changkyun juga tidak mengerti—, Wonho menghabiskan satu loyang kue itu sendirian dengan cepat, sepertinya tidak ada dua puluh menit waktunya. Pria beriris biru itu kini duduk di sampingnya.
'Tolong jangan buat aku mati jantungan, Shin Wonho' Changkyun membatin. Pasalnya, Changkyun mendapati ada yang salah pada dirinya ketika ia merona hebat saat Wonho menjilati jarinya. Bukan hanya sekadar jari yang belepotan cokelat, itu lebih ke gerakan menjilatnya yang terlalu, uhmmm, erotis? Ah, apa sih yang Changkyun pikirkan?
"Changkyun-ah, aku ingin bicara sesuatu padamu."
"B-bicara saja! Kamu sepertinya tidak pernah ijin sebelumnya, hyung."
Oh ayolah, Changkyun tidak harus membentak Wonho juga, kan? Calm down dan jangan salah tingkah.
"Aku menyebalkan, ya?"
"E-eeeh? Tidak kok, hyung. Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Changkyun mengalihkan atensinya pada Wonho. Untuk sekarang, pertanyaan pria itu lebih menarik daripada permainan interaktif di televisi.
"Aku hanya, merasa belum menjadi orang yang baik."
Suasana mendadak hening, Wonho menatap kosong dinding di depannya.
"A-apa maksudmu, hyung? Kamu baik kok—secara harfiah."
"Aku merasa bahwa semua orang yang datang padaku hanya menginginkan sesuatu padaku."
"Wonho, hyung. Kamu tidak apa-apa? Kamu bisa ceritakan semua masalahmu padaku—"
"Bahkan seorang anak SMA lugu yang mendekatiku hanya ingin mobilnya kembali dari taruhan."
Eh? Changkyun merasa itu dirinya.
"Wonho hyung..."
"Aku sadar jika aku ini sampah, menjijikan, dan tidak pantas dimiliki. T-tapi—" Changkyun benar-benar bungkam ketika Wonho mulai berlinang air mata. Satu kedipan, air mata Wonho jatuh di pipi. "—tapi apakah memang Tuhan menakdirkan setiap sampah sepertiku hidup sengsara tanpa orang lain yang tulus hati dekat denganku?" lanjut Wonho.
"Kamu tau, hyung? Kita itu sama. Bukan kah kamu pernah bilang itu?" Changkyun menghela napas. "Kamu tidak perlu khawatir karena aku tidak hanya mengharapkan mobilku kembali."
"Tidak, Changkyun. Kamu pasti sama seperti yang lainnya. Mengeluarkan sejuta kata-kata manis di depan ku lalu bisa membuangku kapan saja." Wonho mulai terisak, dan jujur, itu membuat dada Changkyun terasa sesak. Anak laki-laki itu selalu sensitif untuk hal ini.
"Darimana kamu tahu?! Jangan bersikap seolah kamu tahu segalanya, hyung. K-kamu tau, hyung? Aku selalu memikirkanmu, juga mengkhawatirkanmu. Aku salah jika melakukan hal itu?"
"Kamu tidak mungkin melakukan hal itu, Changkyun! Aku ini hanya gigolo menjijikan! Masa depanmu masih cerah dan tidak sepantasnya kamu kenal denganku—"
Sudah cukup, Changkyun tidak sanggup menahan ini semua.
"Tatap mataku sekarang, hyung!"
Tidak sadar, intonasi suara Changkyun meninggi. Kini keduanya tenggelam menyelami iris mata masing-masing.
"A-aku tidak berbohong saat aku mengatakannya. Kamu bisa lihat ke dalam mataku."
"Changkyun-ah, terima kasih." Wonho tersenyum miris. Air matanya masih menganak sungai.
"Tidak, hyung. Aku yang harus berterima kasih padamu karena kamu mengajarkanku arti kerasnya hidup padaku." entah, tapi Changkyun merasa penting untuk menghapus jejak air mata Wonho dengan ibu jarinya. Ketika Wonho tersenyum miris, maka Changkyun akan memberinya senyuman paling tulus yang ia punya.
"Aku tahu ini memalukan, tapi aku jatuh cinta padamu, hyung."
Wonho bungkam seketika.
Bukan, bukan karena ia tersentuh dengan ucapan Changkyun, tapi ia lebih memilih diam karena sekarang anak laki-laki itu mencium bibirnya.
Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, Wonho baru merasakan apa yang disebut efek kupu-kupu sekarang, saat Changkyun menciumnya. Bahkan anak itu terlalu amatir untuk berciuman, tapi perasaannya sangat berbeda kali ini. Apa itu artinya—
"Changkyun, aku juga jatuh cinta padamu."
"Berjanjilah untuk saling memiliki satu sama lain. Jika kamu merasa kesepian, ingat ada aku, hyung."
—Wonho benar-benar jatuh cinta pada Changkyun?
Senyum Wonho merekah. Kali ini sama tulusnya dengan milik Changkyun.
"Changkyun, belajar darimana kamu untuk hal ini, hmm?"
"A-aku melihatnya dari drama di televisi, hyung."
.
.
.
.
.
Orang kebanyakan bilang masa SMA adalah masanya anak muda untuk jatuh cinta. Ada banyak hal yang harus dilakukan karena hidup hanya sekali, nikmati saja selama masih bisa. Jadi, jangan heran ketika di jaman sekarang ada banyak remaja yang senyum-senyum sendiri sambil menatap ponselnya. Ada dua kemungkinan besar seperti diskon gila-gilaan online shop atau sang kekasih baru saja mengirim kata kata gombal nan cheesy untuknya. Untung sepertinya Wonho tidak begitu—tidak sepenuhnya juga sih.
'Selamat pagi, Changkyun-ie!'
Hari ini, Changkyun mendapat tiga sapaan selamat pagi di ponselnya. Yang dua seperti biasa catatan suara dari ayah dan ibunya tapi kali ini berbeda, coba tebak? Wonho ikut memberi bonus pada anak itu. Apakah mereka resmi berpacaran sekarang? Sepertinya, Changkyun enggan —dan mungkin tidak akan pernah— menggunakan kata-kata itu. Wonho lebih dari sekadar kekasih baginya.
Haduh, anak jaman sekarang.
Tunggu sampai Minhyuk mendengar hal ini. Eh, tapi sepertinya Changkyun melupakan sesuatu yang penting. Tapi, apa ya?—
"Benarkah? Kamu sudah taken dengan vampir tampan itu? Woah hebat! Jadi lebih gampang untuk mengajak Wonho tidur bersamamu, benar?"
—benar, satu misi lagi ia lupakan. Ada baik dan buruknya juga Changkyun memamerkan hal ini pada Minhyuk. Terlebih di depan Jooheon dan Hyungwon sekarang. Oh, dan ada senior Seungcheol dan Jisoo, karena mereka sekarang ada di ruangan laboratorium matematika, tempat favorit murid jajaran atas kumpul karena tidak pernah dipakai.
"Minhyuk-ah, apa kamu masih hobi mengadakan taruhan bodoh itu?"
Jisoo berujar, suara petikan gitar mengalun dari jemarinya. Bisa dikatakan, Jisoo ini sebelas-dua belas dengan Hyungwon yang tidak banyak bicara. Tapi mungkin ini sudah terlalu berlebihan hingga manusia irit bicara seperti Hyungwon dan Jisoo juga harus turun tangan menegur Minhyuk.
"Ini menyenangkan, hyung. Ada banyak hal yang bisa aku ajarkan pada Changkyun. Hehe." hanya dibalas cengiran, Jisoo lebih memilih tidak peduli dan terus memetik gitarnya. Satu lagu soundtrack lawas film Mr. idol mengalun, kalau Jisoo tidak salah ingat, judulnya Summer dream.
"Hyung, apa kalian semua menyukai pemberianku kemarin? Semua cokelat itu sampai ke tangan kalian, kan?" Changkyun nyeletuk setengah melucu, berusaha sebisa mungkin untuk menghindari topik tentang taruhan itu. Jujur, walau memang ada satu misi lagi yang belum tuntas, Changkyun sebenarnya tidak mau melakukan hal itu. Changkyun pikir ia akan sama bejatnya dengan wanita jalang yang suka menyewa Wonho ketika Changkyun harus terpaksa menyetubuhi pria itu untuk suatu alasan.
Itu akan menyakiti hati Wonho, lagi dan lagi. Tapi, ia juga harus melakukan hal itu, untuk mobilnya. Changkyun merasa bahwa ia tidak boleh kalah dari Minhyuk. Anak itu bertekad untuk menyelesaikan ini semua secepat mungkin.
Tapi, bagaimana caranya? Apakah ia harus membuat video rekayasa?
"Kami menerimanya. Terima kasih banyak Changkyun-ie aku suka cookiesnya."
"Aku kira cuma Jeonghan yang akan memberiku cokelat. Tapi ternyata ada Changkyun adik ku tersayang juga, hahahaha."
Changkyun membalas Semua pujian dari Seungcheol dan Jisoo dengan senyum seadanya, tidak ada yang curiga akan hal itu. Jujur, semua pujian dari mereka tidak membuat Changkyun merasa lebih baik, bahkan sedikitpun. Anak itu terlalu kalut dalam pikirannya sendiri.
"Changkyun-ah, kamu pasti ikut ke acaranya Seokmin kan?"
Changkyun tidak merespon, karena ponsel yang ia putar-putar sedari tadi sepertinya lebih menarik dari pertanyaan Minhyuk.
"Changkyun-ah, apa kamu mendengarkanku?"
Baru setelah Minhyuk menepuk pundaknya, pikiran Changkyun buyar seperti sekelompok semut yang disiram air.
"E-eeh, kau bilang apa, hyung?"
"Makanya jangan kebanyakan memikirkan Wonho—" Changkyun agak salty untuk hal ini. "Kamu jadi kan datang ke acara Seokmin nanti? Kalau iya kau bisa datang ke rumahku dulu, kita berangkat bersama Jooheon."
"A-ah, seperti itu. Bagaimana dengan Hyungwon hyung? Apa dia juga ikut?"
"Tenang, semua jajaran atas diundang. Kamu datang ke rumahku dulu karena aku harus melihat rekaman video itu dengan mataku."
"O-oke kalau begitu."
Satu hal yang pasti, Changkyun dan Minhyuk tidak sadar jika Jooheon melempar mereka berdua dengan tatapan penuh curiga.
.
.
.
.
.
Tidak ada yang tau alasan kenapa kedua anak laki-laki itu lebih memilih ruang kesehatan sebagai tempat bertemu. Tapi jika kita melihat dari sorot mata yang lebih muda, hal ini terdengar serius. Kebetulan sore ini sekolah mereka sepi tanpa ekstrakurikuler yang mengisi, jadi lebih tenang suasananya.
"Apa yang ingin kau lakukan sebenarnya? Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu!"
"Bukankah menyenangkan, hyung? Kamu bisa saja menjadikan Changkyun sebagai mangsa kita kali ini karena presdir Lim sedang ada di luar negeri."
"Iya tapi kenapa Seokmin juga harus terlibat dalam masalah ini?! Aku—"
"Sstt, kau hanya perlu melakukan apa yang aku suruh karena jika tidak, maka ayahmu akan mendapat gelar pensiunan Jeguk Construction lebih cepat dari yang kau duga. Atau aku juga perlu mencabut jabatan paman?"
"Aku tidak mengerti kenapa kamu ingin menghancurkannya seperti itu. Apa yang kurang dari hidupmu sekarang?"
"Kau tau, hyung? Orang jaman dulu pernah bilang jika kita menemukan satu gunung emas, maka kita juga pasti mencari gunung emas yang lainnya."
"Tapi kau sudah punya segalanya—"
"Dan juga, ketika kita mau berada di puncak tertinggi, maka ada dua cara. Pertama, berusaha membuat sebuah tangga lalu menaikinya, atau menginjak-injak orang yang ada di bawah. Tentu jika ayahku ingin menjadi pimpinan sekretariat keuangan di yayasan ini, dia harus menyingkirkan presdir Lim dari jabatannya sekarang. Salah satunya adalah mempermalukan Changkyun."
"K-kau berubah menyeramkan.
"Kau juga sama. Siapa yang dulu berani memberontak dan menghancurkan bisnis kakak tertua ayah kita? Bukankah ayahmu kebih kotor dari aku? Bahkan kakak tertua ayah sampai bunuh diri dan Hoseok berubah jadi pria menjijikan yang hobi menjajakan kelaminnya untuk mendapatkan uang."
Yang satu tertegun, membisu dalam keheningan sore. Otaknya hanya bisa sedikit memproses memoar hitam tersebut. Seperti jutaan keping puzzle yang belum lengkap. Sejarah kelam keluarga itu, terjadi ketika umur mereka masih amat belia.
Saat dimana uang menguasai segalanya, maka apapun jalan dilewati, bahkan jika itu berujung jurang sekalipun.
"Aku lebih suka kau yang selalu mendengar apa perintahku, hyung. Jika hal ini sampai gagal, maka aku tidak akan segan mencopot jabatan ayahmu dan juga paman."
Dan, pada akhirnya yang lebih muda berbisik
"Di dunia ini yang kita butuhkan hanya uang. Semua hal bisa dibeli dengan uang. Ingat itu baik-baik, hyung."
"Oke, aku mengerti."
"Anak baik!"
.
.
.
.
.
ChangkyunLim: hyung, sibuk ya?
Sepuluh menit kemudian.
Shin_WH: Tidak juga. Aku baru saja melayani beberapa tante girang sore ini. Kenapa?
Itu yang sebenarnya Changkyun takutkan. Ia belum siap melakukannya dengan Wonho. Meski Changkyun terlanjur jatuh hati padanya, tapi tetap saja ia tidak—belum—rela Wonho membobolnya.
ChangkyunLim: Uhmmm, itu hyung. Aku memikirkan sesuatu.
ChangkyunLim: Aku belum siap untuk melalukan hubungan seks denganmu. Apa kita harus benar-benar melakukannya?
Jika tidak dilihat, jadi penasaran. Jujur sebenarnya Changkyun sangat malu menanyakan hal ini pada Wonho. Rasanya ia ingin mengubur diri sekarang juga.
Shin_WH: jika memang itu yang kamu, aku bisa membuat video rekayasa.
Changkyun membaca pesan Wonho dengan kelopak mata berbinar penuh harap. Ini yang daritadi ia tunggu.
ChangkyunLim: Benarkah itu? Jadi aku masih punya harapan?
Bodoh, apa sih maksudnya?
Shin_WH: Harapan untuk apa nih? Apakah kamu tidak mau mencoba tubuhku yang seksi ini? Kkkkkk
ChangkyunLim: Aku belum siap! Lagipula kan kamu selalu berganti pasangan, aku takut.
Shin_WH: HEI KAMU PIKIR AKU PENYAKITAN?!
Shin_WH: aku tau aku ini gigolo tapi aku juga peduli pada kesehatan. Mau aku bawa hasil laboratorium bebas penyakit dalam milikku agar lebih meyakinkan?!
ChangkyunLim: Eh. Maafkan aku hyung, aku tidak berniat seperti itu. Aku hanya belum siap.
Changkyun merasa benar-benar bodoh sekarang. Pasti Wonho merasa sangat sakit hati dengan kata-katanya barusan.
Shin_WH: Tidak apa-apa. Mungkin kamu tau benda yang disebut kondom. Ya, aku memakainya dan aku juga rajin ikut penyuluhan tentang HIV AIDS. Jika kamu tetap mau membuat video rekayasa juga aku bisa melakukannya.
ChangkyunLim: aku benar-benar minta maaf, hyung. Aku hanya ingin berjaga-jaga. Sepertinya pilihan kedua lebih baik.
Shin_WH: Yah, padahal aku berharap pada pilihan pertama XD kkkkk
Tidak sadar, Changkyun menggigit ponselnya.
ChangkyunLim: dasar kamu otak mesum, hyung. Mikir jangan pakai selangkangan mulu makanya.
Shin_WH: Daripada kamu, punya otak cerdas tapi tidak bisa menghasilkan uang. :P
Kini emotikon diselipkan. Changkyun baru sadar jika Wonho merupakan tipikal orang yang begitu ekspresif ketika di chat. Ya, setidaknya Changkyun sempat melupakan image Wonho yang terkesan dingin dan badboy.
Shin_WH: ngomong-ngomong, kamu mau membuat videonya kapan? Biar aku sesuaikan dengan jadwal kerjaku.
ChangkyunLim: mungkin Jum'at sore? Aku ingin menyelesaikannya secepat mungkin sebelum akhir pekan.
Shin_WH: Bisa diatur. Nanti aku jemput ya. Kita di apartemenku saja.
.
.
.
.
.
Ada saat dimana malam hari ditemani kesendirian merupakan hal yang terbaik untuk dinikmati. Kita bisa belajar dan merenung tentang apa saja yang telah kita lakukan ketika menikmati heningnya kesendirian. Mungkin bagi penganut paham waktu adalah uang hal itu akan menjadi sia-sia karena kita tidak melakukan apapun. Tapi bagi Changkyun, tekadang dia butuh suasana hening, dan juga menikmati kesendiriannya.
Setelah mandi, Changkyun melempar dirinya ke atas ranjang, memutar kembali memoarnya ke masa dimana ia masih tinggal bersama ibu dan ayahnya. Waktu itu usianya masih sangat belia dan ia tidak perlu mengkhawatirkan tentang hal-hal yang tidak masuk akal di dunia ini. Changkyun ingat ketika dirinya baru pertama kali belajar mengendarai sepeda dan ia terjatuh. Lututnya berdarah tapi sang ibu dengan sigap mengobatinya.
Changkyun tidak begitu ingat penyebab ia jatuh dari sepeda tapi setelah selesai mengobati lukanya, sang ibu berpesan untuk selalu berhati-hati, bahkan untuk hal yang tidak bisa kita lihat sekali pun, Bisa saja itu karena murni keteledoran Changkyun.
Changkyun ingat beberapa tahun menjadi yang paling memalukan baginya. Termasuk saat Changkyun iseng memencet bel pintu rumah tetangga lalu kabur setelahnya.
Tidak banyak memoarnya berputar indah pada waktu Changkyun masih belia. Yang Changkyun ingan akhir-akhir ini adalah betapa membosankannya hidup sebagai orang dewasa.
Menurutnya, dunia orang dewasa itu tidak seru, munafik, dan penuh kepura-puraaan. Bahkan dulu Changkyun belajar curang main Uno dari kakak kelasnya di SMP. Changkyun yang begitu naif juga pernah kenduan main Uno dengan cara licik. Padahal Changkyun percaya jika berbohong itu dosa, tapi ya memang pada dasarnya Changkyun yang tidak pernah curiga, maka kakak kelasnya juga tidak segan ikut menambah dosa Changkyun.
Tapi, biasanya yang dosa itu yang paling nikmat, benar?
Ya, memang manis dan pahit untuk dikenang. Tapi, tidak ada masa lalu yang terlalu penting untuk disesali.
Ketika satu hari disesali, maka ada ribuan hari esok yang menunggu untuk diisi. Setidaknya Changkyun paham hingga suara dering ponsel menginterupsinya. Ternyata dari sang ibu nun jauh di wilayah konflik sana.
"Yeoboseyo, Ibu?"
"Ah, halo Changkyun. Bagaimana kabarmu?"
"Aku di sini selalu baik, bu. Ibu bagaimana?"
"Ibu juga baik, kok. Bagaimana dengan pola makanmu? Apa kamu makan dengan teratur? Ibu lihat fotomu terakhir di Instagram lebih tirus dari sebelumnya. Kemana perginya pipi mochi cokelat kesukaan ibu?"
"Ah, ibu. Aku hanya sering melakukan beberapa kegiatan luar rumah, kelihatannya saja hanya kurus padahal lemak menimbun di perut."
Lalu keduanya terkekeh lewat sambungan telepon.
"Oh, ya begitu?"
"Tentu. Ngomong-ngomong aku mau cerita, bu."
"Ya, katakan saja, Changkyun. Ibu selalu mendengarkan."
"Apa ibu lagi senggang? Aku takut mengganggu pekerjaan Ibu."
"Tidak juga. Ibu sudah selesai mengerjakan tugas ibu dan pagi ini sudah selesai."
"Ah, di sana sudah pagi, ya." Changkyun berpikir sejenak. "Begini, bu—"
Entah tapi Changkyun merasa bingung apa yang harus ia ceritakan pada Ibunya. Terlalu banyak hal di pikiran Changkyun yang berebut minta keluar dari mulutnya, tapi Changkyun ragu ingin mengatakan apa.
"—Jadi, aku punya beberapa teman, tapi mereka seperti hanya melihatku sebagai Changkyun Lim, anak ayah. Ya, ibu tau kan ayah punya posisi penting di yayasan sekolah itu."
Di seberang telepon masih sepi, membiarkan Changkyun untuk bicara.
"Walau mereka tidak pernah merugikanku, apa—" Changkyun menggingit bibirnya ragu. "—apa menurut ibu aku harus tetap berteman dengan mereka? Aku juga terlanjur dekat dengan seseorang karena mereka. Apa ibu punya solusinya?"
Terdengar helaan nafas dari pihak sang Ibu.
"Ibu mengerti, Changkyun. Begini, menurut ibu, pilihan selalu ada di tanganmu. Jika memang temanmu tidak benar- benar merugikanmu, kamu bisa membatasi diri dengan tidak terlalu sering berinteraksi dengan mereka. Sebenarnya tidak ada ruginya juga karena pasti mereka berteman hanya dengan anak-anak pemilik yayasan itu, benar? Coba kamu belajar mencari teman selain mereka, dan coba cari seseorang yang benar-benar tulus berteman denganmu bukan hanya karena kamu Changkyun Lim. Jadilah dirimu sendiri dan jangan pernah ada embel-embel lain di belakang namamu."
Beberapa petuah ibunya persis seperti apa yang Wonho katakan.
"Ibu telah memberikanmu kepercayaan untuk belajar mandiri karena kamu sudah dewasa, Changkyun. Belajar hadapi dunia dan cari orang yang paling spesial di kehidupanmu selain ayah dan ibu. Seseorang yang bisa mengajarkanmu arti kehidupan yang sebenarnya."
"Bahkan jika itu laki-laki?" Changkyun reflek menutup mulutnya. Ia hampir keceplosan.
"Kamu bisa menjadikannya seorang kakak yang baik. Ayah dan ibu tidak selamanya bisa berada di sampingmu."
Kakak, ya?
.
.
.
.
.
Hari Jumat biasanya Changkyun isi dengan ekstrakurikuler basket kesukaannya hingga sore hari. Tapi berhubung ia akan melakukan sesuatu yang—ekhem—spesial dengan Wonho hari ini, ia tidak mau merusak penampilannya dengan keringat dan bau badan.
Semakin Changkyun memikirkan hal itu semakin cepat jantungnya memompa, seolah akan lompat keluar. Memikirkannya saja sudah membuatnya ketar-ketir, apalagi saat melakukannya?
"Hei, Changkyun. Aku lihat dari kemarin kamu hobi melamun. Memikirkan apa sih?"
Tiba-tiba Jooheon datang dengan semangkuk mie hitam lalu duduk di samping Changkyun. Hari ini Changkyun merasa sangat gugup hingga nafsu makannya menguap begitu saja. Bahkan ia hanya minum susu pagi ini untuk sarapan.
"A-aku tidak memikirkan apa pun."
"Kamu pasti bohong. Kamu mengkhawatirkan misi bodoh itu ya? Kamu tidak makan siang?"
"Ah, aku tidak lapar, hyung. Aku hanya sedang memikirkan kedua orang tuaku."
"Baik lah kalau begitu. Tapi satu hal yang kamu tahu, aku tidak suka berteman dengan Minhyuk. Kamu jangan terpancing lagi dengan kata-katanya setelah misi ini selesai." ujar Jooheon. Setelahnya pemuda sipit itu menyeruput mie hitamnya.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu, hyung? Aku kira kamu berteman baik dengan Minhyuk hyung."
"Tidak juga. Kami dekat, tapi tidak terlalu dekat. Bagaimana menjelaskannya ya?" Jooheon menggaruk kepalanya. "Dia itu sepupuku, jadi ya pantas saja kami terlihat dekat, tapi sebenarnya kami tidak benar-benar dekat. Ini hanya sekadar hubungan keluarga, kamu mengerti?"
"Ah, oke. Aku mengerti."
"Anak baik!" Jooheon tersenyum, pipinya yang gempal membuat kelopak matanya hilang tinggal segaris. "Mau aku antar pulang nanti?"
"Sepertinya aku akan dijemput seseorang hari ini, hyung."
"Wonho?"
Dan anggukan malu-malu Changkyun membuat Jooheon kembali melempar tatapan curiga padanya.
.
.
.
.
.
"Apa aku harus melakukannya dengan bertelanjang, hyung?!"
"Iya lah! Kamu pikir penisku sakti bisa menembus celanamu?! Yang benar saja Changkyun"
"Tapi kenapa hanya kamu yang memakai celana?!"
"Kamu mau aku membuka semuanya? Jangan salahkan aku jika penisku tidak sengaja masuk ke—"
"Baik lah, hyung. Tapi tolong buat angle kameranya sebagus mungkin. Buat kita seolah-olah melakukannya sungguhan. Aku tidak mau harus mengulanginya lagi."
"Padahal akan lebih bagus jika kamu mau benar-benar melakukannya, Hehehehe"
"WONHO HYUNG!"
Well, ini akan menjadi malam yang berat bagi Changkyun. Tapi, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Malam itu, Changkyun mengetahui satu fakta penting.
.
.
.
.
.
[CHANGKYUN POINT OF VIEW]
Aku tidak percaya jika Minhyuk hyung percaya begitu saja dengan video buatan kami. Jujur, walaupun hanya rekayasa, tapi melakukan hal yang di luar nalar seperti kemarin malam membuat seluruh tubuhku bergetar hebat. Bahkan hingga saat ini aku masih merinding ketika mengingatnya. Sumpah, aku tidak akan pernah berani melihat hasil rekamannya.
"Changkyun, sepertinya kamu menikmati itu dengan Wonho. Bagaimana rasanya?"
"Y-yaaaa eum, bagaimana ya?" duh, jangan sampai Minhyuk hyung tahu itu video rekayasa. Bisa tamat riwayatku jika Minhyuk hyung tahu yang sebenarnya.
"Ahahaha aku juga menikmatinya saat pertama kali. Ya, walau agak menyakitkan."
Wow, ini hal yang mengejutkan untuk di dengar, tapi aku berusaha sebisa mungkin menutupinya. Benar apa yang selama ini aku duga. Kalian tidak pernah percaya dengan apa yang aku dan Wonho hyung bicarakan saat malam kami membuat video rekayasa itu.
"Baiklah. Kau menang, Changkyun. Ini kuncinya dan Porcshe kesayanganmu ada di garasi. Jangan lupa nanti sore jam 6 kumpul di rumahku. Kita berangkat ke Jeju dengan penerbangan malam."
Ya, hari sabtu siang ini memang jadwalnya untuk pergi ke rumah Minhyuk hyung sebentar untuk menonton video tidak senonoh itu—secara harfiah, hanya Minhyuk hyung yang menontonnya— lalu mendapatkan kembali Porsche kesayanganku.
Hanya itu satu-satunya alasan aku pergi ke tempat ini. Tapi, mendengar Minhyuk hyung mengatakan kalimat tadi, menjadi bonus tersendiri yang cukup memuaskan bagiku. Aku jadi mengetahui satu fakta baru.
Kalian penasaran?
Baiklah, akan aku menceritakannya. Tapi jangan harap ada bagian dimana aku merekam kegiatan-panas-bohongan dengan Wonho hyung.
Jadi aku mengetahuinya ketika kami selesai merekam kegiatan tersebut. Aku sangat bingung memulainya dari mana karena malam itu Aku benar-benar berubah merah padam seperti kepiting rebus dari kepala hingga kaki. Terlalu malu, aku sendiri juga bingung kenapa aku harus merona. Padahal Wonho hyung sudah lengkap mengenakan pakaiannya. Oh, Tuhan, tapi aku tidak pernah bisa melupakan bagaimana raut wajah Wonho hyung yang berada di atas dan—oke aku berjanji tidak akan menceritakannya.
Aku akan menjeda bagian itu dan membiarkan kalian bebas berimajinasi. Aku mulai cerita ketika tiga puluh menit setelah kegiatan-panas-bohongan itu usai. Aku dan Wonho hyung pergi ke luar untuk mencari makan malam ke Starbuck.
Padahal aku terus merengek pada Wonho hyung agar ia membuatkan makanan untuku—oke, skip.
Di dalam starbuck, aku memilih tempat di dekat jendela, dan kami berdua sama-sama memesan Croissant dengan minuman teh hijau untuk dibawa pulang. Niatnya duduk sebentar sambil menunggu pesanan.
Tunggu, aku pikir seharusnya aku tidak meceritakan hal itu karena tidak terlalu penting untuk diketahui—Oh, maaf sepertinya aku linglung karena otakku masih blank
Pada ujungnya kami memilih kedai bulgogi pinggir jalan untuk singgah. Wonho hyung memesan makanan dan yang aku lalukan hanya berdiam diri. Masih tidak bisa memproses apa-apa.
"Changkyun-ah, kamu minum cola saja ya, terakhir kali kamu minum alkohol itu membuatku kesulitan membawamu pulang. Menyusahkan aku, tahu. "
"Ah, terserah padamu, hyung."
"Kenapa wajahmu kusut begitu? Bukannya kamu suka daging? Aku juga memesan ayam goreng pedas manis untukmu."
"Terima kasih, hyung. Tapi aku masih punya satu pertanyaan untukmu."
Sebenarnya agak ragu ketika aku harus menanyakan hal ini. Takut jika Wonho hyung harus menguak masa lalunya.
"Silahkan saja. Kamu seperti pernah minta ijin saja jika mau bertanya."
"Apa kamu kenal dengan Lee Minhyuk?"
Benar saja, pertanyaanku membuat Wonho hyung berhenti sejenak menuang soju. Tapi, yang aneh adalah ketika Wonho hyung terkekeh setelahnya.
"Haha, Aku kenal Lee Minhyuk, anak Sekolah Pertunjukan Seni Seoul, sama sepertimu, kan? Dia sepupuku. Ayahnya, si kepala bidang tata usaha sekolah brengsek itu merupakan adik kandung ayahku." jawab Wonho hyung santai. Aku benar-benar kaget karena bukan itu jawaban yang aku harapkan. Aku mendengar jelas ada intonasi kecewa tersirat ketika Wonho hyung mengatakan hal itu.
"Apakah, itu buruk?" tanyaku sekali lagi, kali ini aku lebih berhati-hati dengan pertanyaan.
"Menurutmu? Jika bukan karena dia mantan pacarnya Hyunwoo hyung, pasti aku akan membunuhnya."
Tidak, sepertinya itu bukan lah jawaban yang siap aku dengar dari Wonho hyung tentang seorang Lee Minhyuk.
"Hyung, k-kamu apa kamu benar-benar membencinya? Maksudku, kalian mempunyai hubungan darah—"
"Apa peduliku?" Wonho hyung sedikit membanting botol sojunya ke meja, membuatku kaget sekaligus takut. Tapi, jika aku tidak melanjutkan hal ini, aku akan terus terperangkap dalam permainan Minhyuk hyung. Aku harus mengetahui siapa Wonho hyung sebenarnya.
"Apa Minhyuk pernah peduli padaku ketika sepupunya ini jatuh miskin karena perbuatan ayahnya sendiri? Apakah ayahnya Minhyuk peduli pada nasib kakaknya ketika sudah jatuh terpuruk? Aku rasa tidak." aku tahu betul jika Wonho berusaha sebisa mungkin menjaga intonasi suaranya agar tidak menakutiku, tapi tetap saja aku tahu persis ia terbakar emosi.
"Bahkan kerabat dan keluargaku tidak ada yang peduli ketika aku menghilang dan mengganti nama."
Oke, cukup sampai di sini. Aku tidak mau Wonho hyung merasa sakit untuk ke sekian kalinya.
"A-aah hyung. Hiks, a-aku tidak pernah bermaksud untuk mengorek luka lamamu. A-aku benar-benar minta maaf, hyung." dan bodohnya aku yang hanya bisa menangis.
"Eeeh, Changkyun kenapa kamu menangis? Apa kamu juga kenal dengan Lee Minhyuk?"
"D-dia yang membuat aku terjebak dalam taruhan bodoh itu, hyung."
Aku sedikit tenang sekarang, bukan karena aku sudah memgetahui semuanya, namun karena Wonho hyung membawaku ke pelukannya yang sangat erat. Membuatku melepas semua tangisan di bahunya.
"Minhyuk tidak akan berani berbuat apa-apa jika ada aku. Mulai saat ini aku akan melindungi Changkyun-ie."
"T-terima kasih, hyung."
"Changkyun-ah, kamu harus memberitahuku setiap kegiatanmu dengan Minhyuk. Jika ada sesuatu terjadi padamu aku tidak akan segan menghajar wajahnya.
.
.
.
.
.
Aku tidak bisa tidur setelah percakapan terakhir dengan Wonho hyung malam itu, menyebabkan rasa kantuk yang berlebihan menyerangku sekarang. Apalagi dengan semua kejutan yang aku temui hari ini, membuat kepalaku semakin berdenyut minta beristirahat.
Aku tidak boleh ketiduran, terlebih jam 6 sore harus sudah stand by di rumah Minhyuk hyung untuk berangkat.
Pukul setengah dua siang, dan aku baru selesai mengemas semua barang ke dalam koper. Ya, aku akan perlu semua perlengkapan pribadi karena otomatis kami akan menginap di Jeju. Lelah rasanya menjadi orang dewasa, boleh kah aku berharap jika waktu bisa berputar kembali. Tidak? Oke aku baik-baik saja.
Ada satu notifikasi kakaotalk masuk ke ponselku.
iMinhyuk: Changkyun-ah! Aku kira kamu tidak akan pulang. Aku sempat mengkhawatirkanmu.
ChangkyunLim: Ah, aku baru ingat jika aku tidak memberitahukanmu. Aku harus pulang untuk mandi dan mempersiapkan barang-barangku.
iMinhyuk: harusnya kamu memberitahukanku. Apa kau pulang dengan selamat? Aku rasa Porsche mu harus dibawa ke bengkel, Changkyun-ah.
ChangkyunLim: yang benar saja, hyung. Mungkin nanti jika sempat aku akan membawanya ke bengkel. Tapi, apakah aneh rasanya jika selama ini mobilku ada di rumahmu tapi kau menyarankan untuk pergi ke bengkel. Apa kau pernah menabrak sesuatu?
iMinhyuk: Bukan begitu, Changkyun. Setiap mobil butuh perawatan berkala. Tidak ada salahnya kan membawanya ke bengkel sebulan sekali?
Ada yang aneh. Aku pikir aku harus mengirimkan tangkapan layar percakapan ini pada Wonho hyung.
Ah, lagipula apa peduliku pada Minhyuk hyung? Dia mungkin akan menjebakku lagi kali ini.
Aku sempat mengacuhkan pesan terakhir Minhyuk hyung untuk pergi mandi. Tapi yang membuatku heran adalah kehadiran Wonho hyung yang memencet bel di depan pintu sesaat setelah aku selesai mandi. Aku tidak pernah mengira Wonho hyung akan datang setelah aku mengirimkan foto itu. Kali ini ia datang bersama dengan seseorang.
"Hyung, tumben datang ke sini. Ada apa?"
"Boleh aku melihat mobilmu, Changkyun?"
"Tentu, ada di parkiran basement."
Yang lebih mengejutkanku siang ini adalah fakta bahwa seseorang yang ikut bersama Wonho hyung adalah temannya yang berprofesi sebagai montir. Pria berkumis tipis itu mengatakan bahwa suspensi bawah rem mobilku telah disabotase dan cairan remnya dikurangi. Agak berbahaya karena itu bisa saja mengancam keselamatanku ketika cairan rem itu habis.
Setelah selesai mencari solusinya, Wonho hyung menatap mataku dengan serius.
"Aku akan ikut denganmu ke Jeju."
Apakah ini pilihan yang bagus? Wonho hyung bahkan belum mempunyai tiket pesawat.
.
.
.
.
.
Pulau Jeju dijuluki Samdado, artinya Pulau yang Berlimpah dengan Tiga Hal yaitu, bebatuan, wanita dan angin. Karena memiliki keindahan alam dan kebudayaan yang unik, Pulau Jeju adalah salah satu objek wisata paling terkenal di negeri ini. Bahkan ada pepatah lama mengatakan jika belum merasakan Korea jika belum ke Jeju.
Selama berabad-abad, penduduk Pulau Jeju dijuluki sebagai yukgoyeok (enam jenis pekerja keras) yang merujuk kepada warga yang mengerjakan berbagai pekerjaan sulit dan berat untuk hidup, seperti mencari abalon dan kerang dengan cara menyelam ke dasar laut, membangun pelabuhan, memelihara ternak, membuat kapal dan bertani. Seringkali mereka diperas demi membayar upeti kepada penguasa di ibukota. Tidak heran jika di sini mulai banyak dibangun hotel-hotel bintang lima dan villa pribadi. Kebanyakan pemiliknya merupakan warga asli provinsi Jeolla yang kaya raya dan merantau ke Seoul. Mereka sengaja menginvestasikan pundi-pundi kekayaan di tanah kelahirannya dengan membangun banyak hotel dan villa pribadi.
Banyak sekali destinasi wisata di pulau eksotis ini, termasuk bangunan villa pribadi milik keluarga Seokmin yang tidak jauh dari gelanggang pacuan kuda Jeju. Asal kalian tahu saja, gelanggang itu dibangun oleh Asosiasi Pacuan Kuda Korea Selatan untuk mengembangkan olahraga berkuda di Jeju. Pacuan kuda biasanya diadakan seminggu sekali tiap hari Sabtu di tempat ini.
"Sayang sekali kita melewatkan itu, ya?"
"Tenang, Ayahku menyewa gelanggang itu untuk kita. Jadi kalian bebas mencoba semua kuda peliharaan pemerintah di sini."
"Benarkah itu? Wah aku sangat tidak sabar, Seokmin-ah!"
"Iya, Aku juga sudah lama tidak berkuda. Belakangan aku selalu ikut ayahku main golf."
"Aku menekuni golf dan memanah jika senggang."
Wow, aku tidak akan pernah mengerti apa yang mereka bicarakan. Jangankan menekuni olah raga mahal, pergi ke bioskop seminggu sekali pun aku jarang melakukannya di Israel.
Jeju teramat asing bagiku. Suasananya seratus delapan puluh derajat berbeda dengan Seoul. Ini seperti pergi ke negara lain, tapi masih masuk dalam peta Korea Selatan. Menurutku ini seperti melakukan perjalanan ke negara bagian Korea Selatan—aku tahu sangat bodoh karena memikirkan hal ini.
"Changkyun-ah, kamu melamun terus. Ayo ikut berkumpul di ruang tengah. Akan aku kenalkan pada Seokmin."
Ya, sedari tadi aku hanya memperhatikan mereka mengobrol dari balik bar dapur. Jika bukan karena Minhyuk hyung yang menyeretku ke ruang tengah, mungkin aku tidak akan pernah bergerak dari kursi.
Aku terlalu malu untuk ikut gabung mengobrol karena mereka semua adik kelas ku. Lebih baik aku mengamati mereka bicara sambil menikmati sarapan selagi menunggu Jooheon, dan Hyungwon hyung selesai mandi.
"Halo semua, aku membawa seseorang yang harus kalian kenal." Minhyuk hyung menginterupsi mereka dengan kedatangan kami, ada satu orang dari mereka yang langsung melayangkan tatapan bertanya-tanya ke arahku.
"Ini, Changkyun Lim." Minhyuk hyung menyikut lenganku, lalu dia berbisik "—perkenalkan dirimu."
"Halo. Aku Changkyun Lim dari kelas Vokal hip-hop di tahun kedua. Salam kenal semuanya."
"Ah, dia ini anak dari Presdir Lim yang lama tinggal di luar negeri. Dia teman baikku."
"Ah, begitu." entah seperti sihir atau apa, tapi tambahan Minhyuk hyung tadi segera melenyapkan tatapan-tatapan aneh yang aku terima dari mereka. Seketika mereka mengangguk paham lalu berubah melempar senyum manis.
"Kenalkan, ini Lee Seokmin, sepupuku. Seokmin kenalkan, ini Changkyun."
Oh, jadi anak laki-laki mancung itu yang namanya Lee Seokmin?
"Lee Seokmin. Tahun pertama seni Vokal."
"Changkyun Lim. Senang bertemu dengan kamu Seokmin-ssi."
"Hyung, berarti kamu itu senior ku!" satu anak laki-laki menjabat tanganku dengan antusias. Anak itu tinggi, bekulit agak gelap dan selalu pamer gigi taring ketika tersenyum.
"Kim Mingyu, tahun pertama Vokal hip-hop. Aku harap bisa belajar banyak darimu, hyung!"
"Aku Changkyun Lim. Senang bertemu dengan kamu Mingyu-ssi."
"Changkyun-ah, Mingyu ini anak Menteri Pendidikan kita."
Satu kata: Wow.
"A-aaah. Aku baru tau hal itu."
"Tidak perlu berlebihan seperti itu, hyung."
"Aku Xu Minghao, biasa dipanggil Myungho—itu nama Korea ku. Tahun kedua kelas Vokal hip-hop. Alu juga berharap bisa belajar banyak darimu, hyung."
"Aku, Changkyun Lim. Senang bertemu denganmu, Myungho-ssi. Sepertinya nama kamu orang Cina, ya?"
"Yup, benar."
"Aku Kwon Soonyoung. Dari kelas tari modern tahun pertama."
Nah, ini orang yang sedari tadi menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Changkyun Lim, Senang bertemu denganmu."
Agak pegal rasanya jika aku harus mengatakan hal yang sama berulang-ulang sambil menyambut jabatan tangan mereka semua—hiperbola, abaikan.
Kali ini aku duduk di samping Minhyuk, di sebelah masih ada sisa tempat kosong lalu tidak lama Jooheon, Hyungwon, Seungcheol, Junhui, Jisoo, dan Kihyun hyung datang bergabung. Kami duduk di sofa besar yang mengelilingi meja kaca.
"Seokmin-ah, temanmu yang lain mana? Apa hanya mereka yang kamu ajak?"
"Ah, beberapa dari mereka bukan dari jajaran atas jadi aku tidak mengundangnya. Ada Jungkook sepertinya belum selesai mandi."
"Ah, seperti itu."
"Oke, jadi run down acara kita kali ini apa?" Minhyuk hyung bertanya.
"Jam tujuh nanti kita akan mengadakan pacuan Kuda."
ChangkyunLim: Wonho hyung, aku akan ada di Gelanggang Pacuan Kuda jam tujuh nanti. Kamu sudah bangun kan?
Ya, hanya berjaga-jaga.
.
.
.
.
.
Jika kalian tanya aku bagaimana Wonho hyung bisa masuk ke dalam arena gelanggang, aku juga tidak tahu pasti bagaimana caranya. Tapi yang jelas, aku sempat melihat Wonho hyung duduk di antara penonton. Secara harfiah, penontonnya hanya terdiri dari beberapa orang kerabat dekat atau keluarga Minhyuk hyung dan Seokmin.
Demi apa pun aku tidak pernah mencoba mengendarai kuda sebelumnya. Ini pertama kalinya aku menunggangi hewan pekerja itu, dan rasanya sangat mengerikan. Walau tidak gagal ketika pertama kali mencoba, tapi tetap saja menyeramkan jika harus membayangkan terjatuh dari punggungnya. Puji Tuhan aku berhasil tanpa luka gores sedikit pun saat pertama kali mencoba.
Sejauh ini, tidak ada masalah dengan kegiatan acaranya hingga siang hari menjelang. Kalau boleh jujur aku juga takut menyusahkan Wonho hyung jika dia harus mengikutiku bahkan hingga ke Jeju seperti ini. Tapi aku juga tidak bisa menghentikannya, lagipula sejak kejadian mobilku kemarin, aku jadi lebih berhati hati. Bukannya berprasangka buruk pada Minhyuk hyung, tapi berjaga-jaga lebih baik bukan?
Pindah dari kegiatan berkuda, kami bersenang-senang di perkebunan apel. Aku sengaja tidak memberitahukan Wonho hyung tentang ini karena perjalanan dari villa ke sini terlalu jauh untuk ditempuh sendiri. Lagipula kami bersenang-senang di kebun apel, tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Changkyun-ah, lihat di dalam apelnya ada ulat kecil."
Celetuk Jooheon hyung ketika aku sibuk memotong beberapa apel untuk dijadikan selai. Dia memamerkan potongan apel yang ada ulatnya padaku. Bentuknya kecil seperti nasi dan warnanya hijau.
"Itu menggelikan, hyung. Cepat buang karena itu tidak bisa dijadikan selai."
"Hahaha Changkyun-ie takut ulat ya?" Jooheon hyung melempar potongan apel itu ke tempat sampah. "Ulat itu tidak menggelikan tapi sangat imut karena dia kecil."
"Mungkin di dunia ini hanya kamu yang mengatakan jika ulat itu sangat imut, hyung."
Aku pikir kegiatan ini lebih pantas disebut dengan karya wisata daripada acara merayakan ulang tahun seseorang. Hanya bedanya keluarga Seokmin yang menjadi pemandu turnya. Aku ingat dulu pernah karya wisata ke kebun binatang saat sekolah dasar, dan aku menjerit ketakutan karena telingaku digigit rakun. Ya, mereka sungguh-sungguh menggigit telingaku, walau tidak ada luka tapi itu membuat jiwaku sebagai anak kecil langsung terguncang. Dari situ aku mulai membenci rakun.
Karena setelah agenda memetik apel di kebun telah usai, maka dapur ini menjadi sangat penuh dengan orang-orang yang ingin membuat apel. Untungnya semua orang dari kelompok kami—termasuk keluarganya Seokmin—kompak mengenakan baju dengan warna yang sama guna menghindari resiko hilang ditengah padatnya turis.
Aku akan membeli beberapa toples selai apel untuk ayah dan ibuku nanti. Oh, mungkin aku bisa membeli satu lagi untuk Wonho hyung, hitung-hitung aku menebus rasa bersalahku karena pergi tanpa memberitahunya.
"Jooheon hyung, kapan puncak acara nanti akan dimulai?"
"Aku juga tidak tahu. Tanya saja pada Seokmin."
Sepertinya pertanyaanku menganggu Jooheon hyung yang masih sibuk memotong beberapa apel. Aku ingin menanyakan ini tapi aku tidak melihat Seokmin atau pun Minhyuk hyung sejak tadi.
"Kamu tau kemana perginya Seokmin atau Minhyuk hyung?"
"Aku kira dia masih ada di ruang tengah dan mengupas apel dengan yang lainnya."
Ah, iya. Ada beberapa orang yang kebagian tugas mengupas apel di ruang tengah, sedangkan aku, Jooheon hyung dan beberapa orang lainnya bertugas untuk mengolah apelnya.
Lihat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?"
.
.
.
.
.
Di sisi lain
[WONHO POINT OF VIEW]
Aku heran dengan pola pikir remaja jaman sekarang, atau itu hanya firasatku saja yang berlebihan? Kalian pikir mungkin aku berlebihan, tapi mengancam jiwa seseorang bukan lah hal yang patut untuk dijadikan bahan tertawaan. Minhyuk bisa saja menghancurkan hidupku tapi dia tidak akan pernah bisa membuat luka sekecil pun di tubuh Changkyun.
Ngomong-ngomong, apa kalian masih tidak mengerti? Akan aku berikan salah satu alasanku rela mengikuti Changkyun jauh-jauh ke Jeju.
Jadi, secara harfiah Minhyuk adalah sepupuku. Dulu namaku Lee Hoseok hingga aku pernah jatuh miskin karena bawahan ayah melakukan pengkhianatan, ingat? Pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah ayahnya Minhyuk. Dan sejak saat itu aku mengubah nama dan tidak akan sudi menggunakan marga sialan itu lagi. Aku tidak terlalu terkejut ketika semua adik ayahku melakukan kejahatan padanya, toh bukan aku yang dirugikan karena pada akhirnya aku bisa menghidupi diriku sendiri tanpa bantuan mereka semua.
Aku hanya khawatir pada Changkyun. Cukup beberapa tahun lalu aku sangat kaget mendengar fakta bahwa Minhyuk adalah mantan kekasih Hyunwoo hyung. Aku kira selama ini Minhyuk anak baik-baik dari keluarga konglomerat Lee yang rajin belajar dan tidak sombong. Ya, aku sering mendengar pepatah jangan menilai buku dari sampulnya, tapi tetap saja aku tidak mempercayai bahwa ternyata seorang Lee Minhyuk juga bisa pergi ke klub malam dan menyewa seorang gigolo.
Lee Minhyuk, lahir dengan marga Lee dan kekayaan keluarga mengalir dalam darahnya. Selama ini aku mengenalnya sebagai anak yang baik dan selalu patuh pada kedua orang tuanya, terlalu patuh bahkan juga pada teman sekolahnya. Aku tidak menyangka cerita hyunwoo hyung yang sering mendapat pelanggan anak SMP saat itu adalah Lee Minhyuk. Aku kira hanya aku yang berandalan di keluarga itu.
Shin_WH: Changkyun-ah, kenapa kamu tidak membalas pesanku?
Shin_WH: Apa kamu sedang tidur siang?
Pesanku tiga puluh menit terakhir bahkan belum dibaca oleh Changkyun. Aku jadi sedikit khawatir, apalagi kejadian disabotasenya bagian mobil Changkyun membuatku semakin berpikir;
Jika ayahnya Minhyuk berani merusak keluarga hanya karena uang, bukan tidak mungkin anaknya lebih kotor daripada itu. Bisa saja dia menyakiti Changkyun secara perlahan, atau bahkan mengancam keselamatannya. Tapi, apa yang bocah sialan itu incar dari Changkyun?
Daripada memikirkan itu, aku lebih takut lagi jika Changkyun berurusan dengan satu orang lagi. Anak itu.
Shin_WH: Tolong katakan dimana kamu sekarang juga, Changkyun!
.
.
.
.
.
[NORMAL POINT OF VIEW]
Ponselnya sedari tadi berdering, menginterupsi perahu mimpinya sejenak.
Shin_WH: Tolong katakan dimana kamu sekarang juga, Changkyun!
Changkyun tidak bisa berbohong, sudah kebiasaan dari kecil.
ChangkyunLim: Aku baru saja tidur di van tapi kamu mengangguku, hyung. Aku dalam perjalanan pulang dari kebun apel. Maaf tidak memberitahumu terlebih dahulu.
Jauh di kamar hotel sana, Wonho mengelus dadanya lega.
Shin_WH: syukurlah. Aku kira kamu sedang bobo cantik di villa.
Anak laki-laki itu memgernyit. Apa? Cantik?
ChangkyunLim: Siapa yang kamu sebut cantik, hyung! Ngomong-ngomong aku membeli sesuatu untukmu.
Shin_WH: Tentu kamu yang cantik.
Shin_WH: Wah, apa tuh yang kamu beli?
Kenapa Changkyun harus berubah merah padam ketika membaca pujian cantik dari Wonho?
ChangkyunLim: Aku tidak cantik, Wonho hyung bodoh. Aku ragu kita bisa memberikannya nanti karena acara puncak ulang tahun Seokmin akan diadakan sore ini.
Shin_WH: Ya, ya, ya terserah. Ngomong-ngomong apa yang akan mereka lakukan untuk acara puncaknya?
ChangkyunLim: Katanya sih setelah meniup lilin dan membagikan potongan kue, akan ada acara nonton film bersama.
Shin_WH: menonton film apa? sepertinya seru.
ChangkyunLim: Mana aku tahu, hyung. Kamu sedang apa di hotel?
Shin_WH: aku baru saja selesai mandi.
Shin_WH: Wonho sent a picture.
Changkyun merasa kelopak matanya tidak bisa berkompromi untuk flirting melihat foto kekasihnya dengan rambut setengah basah dan jubah mandi. Lelah seharian membuat Anak laki-laki itu lebih memilih memejamkan mata setelah membaca pesan terakhir dari Wonho.
Di kursi paling depan, dua orang anak laki-laki sibuk berbisik. Seru sekali, dan sepertinya mereka enggan membagi apa yang mereka bicarakan.
"Hyung, kau sudah mempersiapkan videonya, kan?"
"Tentu, nanti aku akan berpura salah memasukan potongan video itu ke dalam video ucapan ulang tahun Seokmin."
.
.
.
.
.
"Wah, bukan kah itu Changkyun? Memalukan sekali."
"Anaknya presdir Lim? Aku masih tidak percaya itu.
"Apa benar itu Changkyun? Bukan kah itu bersama Hoseok?"
"Itu Lee Hoseok, kan? Aku kira dia ikut bunuh diri bersama kakak."
"M-maaf semua, ada kesalahan teknis. Tolong lupakan kejadian tadi, ya. Tadi itu hanya kesalahan teknis,"
"Jadi, selama ini anak presdir Lim ternyata seorang gay? Dan dia menyewa Hoseok untuk bermain?"
"Menjijikan."
"Kamu tau siapa Hoseok? Aku tidak kenal dengannya."
"Aku dengar dia menjadi gigolo di bar Apollo."
Tuuut… Tuut… tuut—
"Yeoboseyo, Changkyun, ada apa?"
"Hiks, H-hyung, aku mau pulang."
"Aku akan segera ke sana segera, tunggu sebentar."
.
.
.
.
.
"Wah, Bukankan itu Lee Hoseok? Apa yang dia lakukan di—"
"Dasar kau bajingan! Apa yang kau lakukan pada Changkyun?"
Buagh.
"Bu-bukan a-aku—"
"Masih kau tidak mau mengaku, sialan! Katakan apa maumu sekarang juga?!"
Buagh.
"Wonho hyung, cukup! Hentikan itu, aku hanya ingin pulang."
"Jangan mengganggu, Changkyun. Aku akan mengurus bajingan ini sampai selesai. Dia selalu jadi parasit di hidupku selama ini, aku sudah muak melihatnya."
"I-ini tidak seperti yang kau bayangkan, Wonho."
"Bedebah ini masih saja menganggu hidupku sekarang juga berani mengganggu Changkyun?! Memangnya salah dia apa? Kenapa kamu hanya berani menusuk orang dari belakang?!"
Buagh.
"Kamu sama liciknya dengan ayahmu, Minhyuk. Menjijikan."
"A-aku hanya disuruh. A-aku benar-benar tidak mengerti apa-apa. Lee Jooheon yang menyuruhku."
"Tolong panggil keamanan, dan juga ambulans."
Malam itu, setelah melihat Jooheon tersenyum licik sambil mengangkat ponselnya, Changkyun mempelajari sesuatu yang sangat fatal dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
.
.
.
A/N: NIH GUA LANJUT ONE HOPE, HAYO UDAH DIKASIH CHAPTER YANG PANJANG HARUS REVIEW! ENDINGNYA KIRA-KIRA GIMANA YA? HMMMM… KASIH SPOILER DIKIT DEH, NANTI WONHONYA MASUK PENJARA. UDAH GITU AJA YA SPOILERNYA…. CHAPTER DEPAN UDAH END KOK YAKIN DEH. SEMALEM GUA BACA FF WONKYUN JUGA PUNYA iKyun DAN SANGAT SPEECHLESS KARENA ADA BEBERAPA SCENE YANG MIRIP. PALING KAYAK CHANGKYUN BAWAIN KUE COKLAT PAS VALENTINE SAMA NANTI ADA SCENE DIMANA CHANGKYUN KOMA /YAH SPOILER LAGI KAN/ MAAFKAN ATUH. SUMPAH AWALNYA GA NIAT BIKIN INI TAPI KENAPA BABLAS SAMPE 222K WORDS LEBIH YA? PERASAAN JUGA FANFICT INI GA BAGUS BAGUS AMAT. MUNGKIN SAKING NO LYFE AUTHORNYA KALI MAKANYA JADI PRODUKTIF. OH IYA, ADA SARAN ALUR GITU GA? SIAPA TAU SAYA BISA NERIMA REQUEST PAS NANTI ONE HOPE SUDAH SELESAI.
AND AS ALWAYS, THIS IS NON-BETA FICT :")
AT LAST, MIND TO FAV, FOLLOW AND REVIEW?
SINCERELY
NAN GWISHIN KKUM KKOTTO :* /AEGYO/
ALHAM BASKORO
