CHAPTER 4: SURAT KECIL UNTUK CHANGKYUN
.
.
.
.
.
ALHAM BASKORO PROUDLY PRESENT
.
.
.
.
.
[WONHO POINT OF VIEW]
Aku heran dengan pola pikir remaja jaman sekarang, atau itu hanya firasatku saja yang berlebihan? Kalian pikir mungkin aku berlebihan, tapi mengancam jiwa seseorang bukan lah hal yang patut untuk dijadikan bahan tertawaan. Minhyuk bisa saja menghancurkan hidupku tapi dia tidak akan pernah bisa membuat luka sekecil pun di tubuh Changkyun.
Ngomong-ngomong, apa kalian masih tidak mengerti? Akan aku berikan salah satu alasanku rela mengikuti Changkyun jauh-jauh ke Jeju.
Jadi, secara harfiah Minhyuk adalah sepupuku. Dulu namaku Lee Hoseok hingga aku pernah jatuh miskin karena bawahan Ayah melakukan pengkhianatan, ingat? Pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah Ayahnya Minhyuk. Dan sejak saat itu aku mengubah nama dan tidak akan sudi menggunakan marga sialan itu lagi. Aku tidak terlalu terkejut ketika semua adik Ayahku melakukan kejahatan padanya, toh bukan aku yang dirugikan karena pada akhirnya aku bisa menghidupi diriku sendiri tanpa bantuan mereka semua.
Aku hanya khawatir pada Changkyun. Cukup beberapa tahun lalu aku sangat kaget mendengar fakta bahwa Minhyuk adalah mantan kekasih Hyunwoo hyung. Aku kira selama ini Minhyuk anak baik-baik dari keluarga konglomerat Lee yang rajin belajar dan tidak sombong. Ya, aku sering mendengar pepatah jangan menilai buku dari sampulnya, tapi tetap saja aku tidak mempercayai bahwa ternyata seorang Lee Minhyuk juga bisa pergi ke klub malam dan menyewa seorang gigolo.
Lee Minhyuk, lahir dengan marga Lee dan kekayaan keluarga mengalir dalam darahnya. Selama ini aku mengenalnya sebagai anak yang baik dan selalu patuh pada kedua orang tuanya, terlalu patuh bahkan juga pada teman sekolahnya. Aku tidak menyangka cerita Hyunwoo hyung yang sering mendapat pelanggan anak SMP saat itu adalah Lee Minhyuk. Aku kira hanya aku yang berandalan di keluarga itu.
Shin_WH: Changkyun-ah, kenapa kamu tidak membalas pesanku?
Shin_WH: Apa kamu sedang tidur siang?
Pesanku tiga puluh menit terakhir bahkan belum dibaca oleh Changkyun. Aku jadi sedikit khawatir, apalagi kejadian disabotasenya bagian mobil Changkyun membuatku semakin berpikir;
Jika Ayahnya Minhyuk berani merusak keluarga hanya karena uang, bukan tidak mungkin anaknya lebih kotor daripada itu. Bisa saja dia menyakiti Changkyun secara perlahan, atau bahkan mengancam keselamatannya. Tapi, apa yang bocah sialan itu incar dari Changkyun?
Daripada memikirkan itu, aku lebih takut lagi jika Changkyun berurusan dengan satu orang lagi. Anak itu.
Shin_WH: Tolong katakan dimana kamu sekarang juga, Changkyun!
.
.
.
.
.
[NORMAL POINT OF VIEW]
Ponsel Changkyun sedari tadi berdering, menginterupsi perahu mimpinya sejenak.
Shin_WH: Tolong katakan dimana kamu sekarang juga, Changkyun!
Changkyun tidak bisa berbohong, sudah kebiasaan dari kecil.
ChangkyunLim: Aku baru saja tidur di van tapi kamu mengangguku, hyung. Aku dalam perjalanan pulang dari kebun apel. Maaf tidak memberitahumu terlebih dahulu.
Jauh di kamar hotel sana, Wonho mengelus dadanya lega.
Shin_WH: syukurlah. Aku kira kamu sedang bobo cantik di villa.
Anak laki-laki itu memgernyit. Apa? Cantik?
ChangkyunLim: Siapa yang kamu sebut cantik, hyung! Ngomong-ngomong aku membeli sesuatu untukmu.
Shin_WH: Tentu kamu yang cantik.
Shin_WH: Wah, apa tuh yang kamu beli?
Kenapa Changkyun harus berubah merah padam ketika membaca pujian cantik dari Wonho?
ChangkyunLim: Aku tidak cantik, Wonho hyung bodoh. Aku ragu kita bisa memberikannya nanti karena acara puncak ulang tahun Seokmin akan diadakan sore ini.
Shin_WH: Ya, ya, ya terserah. Ngomong-ngomong apa yang akan mereka lakukan untuk acara puncaknya?
ChangkyunLim: Katanya sih setelah meniup lilin dan membagikan potongan kue, akan ada acara nonton film bersama.
Shin_WH: menonton film apa? sepertinya seru.
ChangkyunLim: Mana aku tahu, hyung. Kamu sedang apa di hotel?
Shin_WH: aku baru saja selesai mandi.
Shin_WH: Wonho sent a picture.
Changkyun merasa kelopak matanya tidak bisa berkompromi untuk flirting melihat foto kekasihnya dengan rambut setengah basah dan jubah mandi. Lelah seharian membuat Anak laki-laki itu lebih memilih memejamkan mata setelah membaca pesan terakhir dari Wonho.
Di kursi paling depan, dua orang anak laki-laki sIbuk berbisik. Seru sekali, dan sepertinya mereka enggan membagi apa yang mereka bicarakan.
"Hyung, kau sudah mempersiapkan videonya, kan?"
"Tentu, nanti aku akan berpura salah memasukan potongan video itu ke dalam video ucapan ulang tahun Seokmin."
.
.
.
.
.
"Wah, bukan kah itu Changkyun? Memalukan sekali."
"Anaknya presdir Lim? Aku masih tidak percaya itu.
"Apa benar itu Changkyun? Bukan kah itu bersama Hoseok?"
"Itu Lee Hoseok, kan? Aku kira dia ikut bunuh diri bersama kakak."
"M-maaf semua, ada kesalahan teknis. Tolong lupakan kejadian tadi, ya. Tadi itu hanya kesalahan teknis,"
"Jadi, selama ini anak presdir Lim ternyata seorang gay? Dan dia menyewa Hoseok untuk bermain?"
"Menjijikan."
"Kamu tau siapa Hoseok? Aku tidak kenal dengannya."
"Aku dengar dia menjadi gigolo di bar Apollo."
Tuuut… Tuut… tuut—
"Yeoboseyo, Changkyun, ada apa?"
"Hiks, H-hyung, aku mau pulang."
"Aku akan segera ke sana segera, tunggu sebentar."
.
.
.
.
.
"Wah, Bukankan itu Lee Hoseok? Apa yang dia lakukan di—"
"Dasar kau bajingan! Apa yang kau lakukan pada Changkyun?"
Buagh.
"Bu-bukan a-aku—"
"Masih kau tidak mau mengaku, sialan! Katakan apa maumu sekarang juga?!"
Buagh.
"Wonho hyung, cukup! Hentikan itu, aku hanya ingin pulang."
"Jangan mengganggu, Changkyun. Aku akan mengurus bajingan ini sampai selesai. Dia selalu jadi parasit di hidupku selama ini, aku sudah muak melihatnya."
"I-ini tidak seperti yang kau bayangkan, Wonho."
"Bedebah ini masih saja menganggu hidupku sekarang juga berani mengganggu Changkyun?! Memangnya salah dia apa? Kenapa kamu hanya berani menusuk orang dari belakang?!"
Buagh.
"Kamu sama liciknya dengan Ayahmu, Minhyuk. Menjijikan."
"A-aku hanya disuruh. A-aku benar-benar tidak mengerti apa-apa. Lee Jooheon yang menyuruhku."
"Tolong panggil keamanan, dan juga ambulans."
Malam itu, setelah melihat Jooheon tersenyum licik sambil mengangkat ponselnya, Changkyun mempelajari sesuatu yang sangat fatal dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
Ada kalanya manusia hanya mempunyai harapan sebagai pilihan terakhir, bahkan di saat bagian paling genting di dalam hidupnya. Entah pada siapa harus berserah diri selain pada Tuhan? Hanya ada harapan yang manusia butuhkan, termasuk untuk mengubah hidup satu orang.
Changkyun merasa jika hidupnya kini tidak sama lagi. Jika dulu dia selalu penasaran tentang dunia orang dewasa yang dijalani kedua orang tuanya, sekarang anak itu akan menangis pada Tuhan, memohon agar berkenan membalik waktunya ke masa kanak-kanak. Dia tidak akan menyangka jika problema orang dewasa ternyata lebih pelik dari yang ia perkirakan. Terlalu pelik hingga Changkyun ingin menghilang saja ditelan bumi setelah malam kejadian Wonho menghajar Minhyuk dengan membabi buta itu.
Selang satu bulan setelahnya, suara tangis Changkyun tidak akan lagi terdengar, karena Changkyun sudah menyadari fakta di dunia ini tidak ada yang bisa diandalkan, mungkin Tuhan juga termasuk. Terlalu lelah untuk menyia-nyiakan air matanya. Tidak peduli betapa ia menyesali hal itu, hidup tidak akan memutar ke belakang dan memberi pengampunan. Kehidupan baru tidak akan menunggu Changkyun.
Keadaannya kacau, dan hidupnya hampir berantakan, walau orang tuanya memutuskan untuk segera pulang karena Changkyun menelepon mereka sambil menangis. Kini, dengan atau tanpa adanya mereka mungkin terasa sama saja. Tidak ada yang bisa disesali, apalagi terulang kembali.
Bagaimana bisa Changkyun menjalani kehidupannya sekarang tanpa Wonho? Kekasihnya itu kini mendekam di hotel prodeo karena tuduhan kekerasan. Semua anggota keluarga Minhyuk bersaksi di pengadilan jika Wonho datang tiba-tiba lalu menghajar anak laki-laki berambut ungu itu. Juga dengan bukti rekaman kamera pengawas dan hasil visum rumah sakit semakin memberatkan pembelaannya. Tidak banyak yang Wonho katakan di pengadilan, terlebih pria itu pasti tidak mau Changkyun khawatir. Setidaknya Wonho tidak terjerat banyak pasal kali ini karena dia menjadi warga yang taat hukum dan lebih memilih untuk tidak menggunakan hak pledoi. Jadi lah ia mendapat hukuman delapan bulan penjara dengan jaminan bebas bersyarat setelah satu bulan.
Hari-harinya tidak akan pernah sama lagi karena Changkyun akan selalu mendapat cemoohan tersirat dari seluruh penghuni sekolahnya. Dihujani tatapan-tatapan jijik sekarang menjadi makanan sehari-hari. Padahal sudah lama kejadian itu menjadi booming setelah Jooheon menyebar videonya di grup angkatan siswa jajaran atas sekolah, mengatasnamakan Changkyun Lim sebagai anak Presdir Lim kepala bidang sekretariat dan keuangan yayasan sekolah. Dengan itu Changkyun memutuskan untuk keluar dari grup dan menonaktifkan semua akun media sosialnya.
Mungkin kedua orang tuanya tidak akan pernah tahu hal ini karena Changkyun lebih memilih memendamnya sendiri. Menurutnya, biar lah masalah sepele seperti itu ia kubur sendiri jauh di dalam hatinya. Ia tidak mungkin tega melempar bom atom pada kedua orang tuanya. Biarlah masalah Changkyun menjadi bom waktu tersendiri, setidaknya alih-alih melukai orang lain, itu akan melukai dirinya sendiri—atau bahkan membunuhnya.
Lagipula, tidak ada yang lebih buruk daripada dijauhi orang-orang satu sekolah. Agak menyakitkan memang, tapi Wonho benar, selama ini yang Changkyun sebut sebagai teman ternyata tidak lebih buruk dari sampah.
Changkyun pikir gosip tentang dirinya dan Wonho akan cepat menyebar seperti sambaran petir; gaduh dan menggemparkan. Alih-alih mengemparkan satu sekolah, cerita itu menyebar seperti desisan ular derik; senyap dan mematikan. Changkyun menutupinya dengan baik dan lebih memilih bungkam—secara harfiah, kini tidak banyak orang yang mengajaknya bicara. Dia harus menutupi kejadian ini jangan sampai sang Ayah mengetahuinya.
Tentu dengan jangka waktu satu bulan setelah kejadian itu, Changkyun mulai beradaptasi dengan tidak adanya seseorang yang selalu mengekor dengan embel-embel 'teman'. Ia rela melepas hobinya bermain basket dan lebih memilih sendirian berjam-jam di taman belakang sekolah menikmati semilir angin atau di perpustakaan. Kadang ia membaca novel, mengerjakan tugas, atau menangis dalam diam karena merindukan Wonho. Changkyun juga tidak pernah pergi ke kafetaria sekolah lagi, yang mana membuat sang Ibu bingung sekaligus senang karena anaknya jadi lebih sering membawa bekal.
Membosankan memang, tapi hari itu di musim semi, Changkyun bertemu dengan seseorang. Tepatnya tanggal 25 April, saat bunga kanola kuning bermekaran di taman belakang sekolah.
"Hei..." anak laki-laki itu berujar tipis. Perawakannya seperti anak kecil. Tubuhnya pendek dan memakai kacamata. Kulitnya pucat dengan telapak tangan terangkat ramah; menyapa Changkyun. Changkyun sepertinya belum pernah melihat anak itu sebelummya.
Tentu dengan kehadirannya di sini membuahkan banyak pertanyaan untuk Changkyun. "Aku Lee Jihoon, dari kelas seni tahun kedua. Aku mengenalmu. Changkyun, kan?" lanjutnya, dia mengambil tempat duduk persis di samping Changkyun.
Untuk saat ini sepertinya tidak masalah menjadi ramah dan baik hati seperti semula. Lagipula, Changkyun merasa sangat kesepian walau banyak orang ada di sekitarnya.
"Bagaimana kamu mengenalku? Oh, sepertinya di sekolah ini tidak mungkin ada yang tidak mengenaliku, kan? Haha." Changkyun tertawa sarkas, terdengar seperti ia sedang bermonolog.
"Kamu ingat Jeon Wonwoo?"
Pertanyaan anak itu membuat tawa Changkyun terhenti, seketika hening menyergap. Hembusan angin tiba-tiba bertiup dari barat.
"A-aku tau dia. Tidak ada yang tidak mengenal Jeon Wonwoo, kan?"
Jihoon menghela nafas panjang.
"Menurutmu, apa bedanya masalahmu dengan Wonwoo?"
"Aku tidak tahu." Changkyun mengedikkan bahunya, tatapannya dilempar jauh ke arah hamparan bunga kanola; Jihoon juga melakukan hal yang sama.
"Tidak ada bedanya. Aku bicara tentang Minhyuk, Jooheon dan semua anak jajaran atas Sekolah Pertunjukan Seni Seoul. Kalian sama sama bermasalah dengan dua orang itu."
"Kenapa kamu tau itu, Jihoon-ssi?"
"Kamu terlalu naif jika tidak benar-benar mengenal Minhyuk dan Jooheon."
"Ya, aku rasa itu benar, atau terlalu bodoh."
"Tidak, tapi apa kamu tidak benar-benar mengenal mereka sebelumnya?" Jihoon melayangkan tatapan sangsi, Jihoon pikir itu mustahil jika Changkyun tidak mengenal Minhyuk dan Jooheon.
"Aku pindah dari luar negeri dan, ya, aku tidak kenal dengan mereka sebelumnya."
"Tapi kamu bagian dari jajaran atas bagaimana—"
"Kamu tahu? Terkadang ada hal mustahil untuk dipercaya, tapi percayalah itu ada."
"Oke, maaf jika aku mulai melantur." Jihoon tersenyum manis, setelahnya dia mengambil nafas, siap mengatakan sesuatu. "Jeon Wonwoo, jenius, bisa masuk ke sekolah ini karena beasiswa, disenangi banyak guru karena sifatnya yang hangat. Aku kenal dengan dia karena aku sahabatnya."
Changkyun tertegun.
"Ya, dia anak yang baik dan tidak banyak bicara hingga suatu hari Minhyuk dan junhui berubah dendam karena Wonwoo sering mengadu pada guru konseling tentang mereka."
"Ya, sebenarnya Wonwoo bukan lah tipikal anak yang banyak bicara jika tidak ada hal penting untuk dibicarakan, maksudku, junhui sempat punya masalah dengan Wonwoo."
"Masalah? Boleh aku tau apa masalahnya?"
"Haaaah. Aku tidak yakin kamu akan benar-benar peduli. Tapi berhubung Wonwoo sudah tidak ada dan kamu juga bernasib sama dengan Wonwoo, tidak ada salahnya kamu mengetahui ini, Changkyun."
"Aku bukan orang yang seburuk itu." ini hanya persepsi Changkyun saja atau memang Jihoon tidak tahu siapa Changkyun? Anak laki-laki bersurai cokelat madu itu merasa tidak ada yang pernah mengenalinya sebelum kejadian video tidak senonoh itu benar-benar booming.
"Wonwoo pernah bercerita padaku bahwa dia hidup berdua dengan Ibunya. Tidak, ia tidak miskin meski Sang Ayah telah meninggal sejak Wonwoo berumur lima tahun, dan tidak ada yang lebih membuatnya bahagia selain diterima di sekolah ini karena mendapat beasiswa. Wonwoo selalu bertekad untuk bisa berada di atas dengan kemampuannya sendiri, agar ia bisa dibanggakan oleh Ibunya. Tapi, satu hari ketika Wonwoo berhasil mendapat peringkat satu di kelas, Ibunya mengalami kecelakaan. Ternyata pelakunya tidak lain adalah junhui yang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk." Jihoon menjeda ceritanya sejenak untuk mengambil nafas.
"Ibunya tewas dan junhui hanya dikenakan tuntutan ringan ditambah jaminan bebas bersyarat. Mulai dari situ Wonwoo sangat benci pada orang yang selalu mengandalkan uang dan relasinya untuk mengendalikan orang lain. Tentu Wonwoo tidak bisa berbuat apa-apa selain mengadukan tabiat buruk junhui di sekolah pada guru konseling. Tapi, menurutku itu hanya membuang waktu karena junhui anak semata wayang dari seorang duta besar Cina untuk Korea. Wonwoo tidak peduli dengan siapa dia berurusan dan anak itu selalu berusaha menjatuhkan junhui di setiap kesempatan. Pada prinsipnya, setiap manusia punya hak yang sama untuk menikmati hidup."
Cerita Jihoon bagai bogem mentah untuk Changkyun, seolah tijuan imajiner kini menyerang dadanya; sesak dan menyakitkan. Selama ini dia hanya melihat Wonwoo dari satu sisi. Dan yang lebih parahnya, ia turut andil dalam kematian Wonwoo. Memang secara harfiah Changkyun tidak membunuhnya tapi bahkan Changkyun merasa lebih jahat dari itu karena ikut menari di atas penderitaan orang. Walau bagaimana pun, bertaruh untuk hidup dan mati seseorang tidak bisa dibenarkan.
"Aku tidak akan menyalahkan siapa pun di sini, tapi aku hanya prihatin pada kalian berdua yang harus berurusan dengan orang-orang seperti mereka. Aku juga tahu jika Minhyuk disuruh oleh Jooheon untuk membuat taruhan, kan? Dan aku juga tahu jika kamu ikut di dalamnya."
Satu lagi bom atom imajiner meledak di dalam hatinya, membuat perasaan Changkyun hancur berkeping-keping. Sungguh, tapi Changkyun tidak benar-benar mau ikut dalam taruhan itu sebelumnya. Entah apa yang merasukinya hingga Changkyun merasa terpengaruhi.
"K-kamu tahu segalanya ya, Jihoon."
Ya, obrolan dengan Jihoon sore ini benar-benar mengajarkan Changkyun untuk tidak pernah menilai buku dari sampulnya. Jika boleh berteriak sekarang maka Changkyun ingin sekali memaki Tuhan atas kehendaknya. Walau sudah lama berlalu, tapi anak itu masih terus berharap ini hanya mimpi.
Lee Jooheon yang ia kira selama ini...
.
.
.
.
.
[CHANGKYUN POINT OF VIEW]
Kalian pikir apakah aku pantas hidup setelah ini? Bukan kah aku yang paling jahat di sini? Semua karena ulahku. Bahkan Wonho hyung masuk penjara juga akibat perbuatakanku. Mungkin jika dari awal aku tidak mengikuti saran bodoh kedua orang tuaku untuk pindah ke Seoul, hidupku tidak akan berakhir seperti ini.
Yang aku tahu aku hanya membuat semua orang dalam masalah, dan berakhir menderita. Jika dulu Minhyuk hyung bilang aku bisa mengubah hidup Wonho hyung, jawabannya adalah Ya, Aku mengubah hidup kekasihku, dan di saat yang sama aku menghancurkannya. Aku juga secara tidak langsung menghancurkan mimpi Wonwoo untuk jadi kebanggaan Ibunya. Sekarang, siapa yang akan memberikan harapan pada mereka semua? Jika itu aku, maka aku yakin bukan harapan yang baik.
Tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang selain dihantui rasa bersalah. Jihoon seolah memberondongku dengan AK47 untuk menyadarkan diriku dari kemunafikan dunia orang dewasa. Peduli setan dengan semua ini tapi aku ingin kembali merasakan pelukan Ibu ketika aku harus menangis, tapi aku tidak bisa, karena aku sudah dewasa. Jika aku melakukan hal itu maka Ibu akan khawatir dengan keadaanku. Aku benar-benar tidak mau melibatkan orang lain. Biar lah kesepian menjadi temanku minum berbotol-botol soju untuk malam ini.
Ya, aku tahu ini salah, tapi banyak orang bilang jika sebotol alkohol bisa membuat masalah hilang dalam sekejap. Aku minum karena aku berharap semua masalah di dalam hidupku lenyap, seolah tidak ada yang pernah terjadi dalam hidupku.
Aku benar-benar tidak peduli karena pada kenyataannya aku harus mengemudi pulang setelah ini. Siapa peduli? Aku merasa ringan setelah minum beberapa gelas, dan itu membuatku ketagihan. Bahkan paman gendut pemilik kedai soju ini terus memperingatiku, dia bilang wajahku berubah merah dan bicara melantur, namun setelah aku melempar beberapa lembar uang, dia bungkam serIbu bahasa. Mengabaikanku seolah aku tidak pernah ada.
Cih, semua orang sama saja. Hanya peduli dengan lembaran uang.
Aku tau kenapa kini beberapa orang hobi melipir ke kedai soju ketika mengalami hari yang berat. Fantastis, seperti sihir, dan secara ajaib kepalaku terasa ringan. Rasanya seperti bermimpi, aku bertemu dengan Wonho hyung di taman belakang sekolah.
Aku terbuai, terlalu dalam menikmati mimpi itu, hingga rasanya aku tidak mau bangun. Terus seperti ini saja, karena aku bisa bertemu dengan Wonho hyung di mimpiku.
Pria kekar itu masih tampan seperti biasa, wajahnya cerah seolah ditimpa sinar mentari pagi. Aku rasa ada beberapa hal yang sangat menonjol ketika hari ini ia tersenyum padaku. Aku melihat Wonho hyung mengecat rambutnya menjadi berwarna hitam gelap dan memakai kostum putih. Aku tahu semua orang tampan bebas menggunakan apa yang ia pakai bahkan jika itu hanya sebatas kostum putih sutra dengan celana jeans.
Rasanya benar-benar seperti mimpi ketika ia membawaku ke dalam pelukannya yang hangat. Dan di situ aku mulai menangis. Aku menangis karena aku benar benar merindukannya.
Aku yakin jika senyuman Wonho hyung begitu cerah, dan aku bisa mendengarnya berbisik padaku.
"Changkyun-ah, jangan khawatir. Aku akan selalu ada di dalam hatimu. Jarak kita hanya terpisah beberapa jengkal dari matamu."
"A-aku merindukanmu, hyung."
"Sentuh hatimu maka aku akan ada di sana."
Tuhan, tolong jangan bangunkan aku dulu sebelum aku bisa bertemu dengan Wonho hyung. Aku mencintainya. Buat kami bersatu dam setiap ikatan darah dan denyut nadi.
Sayangnya Tuhan seolah tidak pernah mendengar doaku. Aku menyesal karena seseorang tiba-tiba membangunkanku dan ternyata itu Ibu.
Dan beliau sesenggukan di pangkuanku.
.
.
.
.
.
.
[WONHO POINT OF VIEW]
Aku pernah berjanji untuk menebus kesalahanku di masa lalu dengan membantu Changkyun untuk menghindari teman-teman palsunya. Dan, ya aku sedang melalkukannya sekarang.
Aku di sini, di balik jeruji besi membuat lukisan dinding berupa hitungan hari yang ku lewati sejak pertama kali mendekam. Aku tidur hanya berlapis lantai dingin dan ditemani kesendirian; membayar semua perbuatan karena telah menghajar Minhyuk hingga babak belur.
Aku bisa merasakan sedikit kebahagiaan di sini karena memang dari dulu aku ingin menghajar bocah sok suci itu.
Memang sudah menjadi rutinitasku untuk menggambar lidi-lidi itu setelah melakukan olah raga ringan. Walau di dalam penjara, aku tetap tidak mau kehilangan semua otot di tubuhku.
Sambil bersiul-siul ringan aku menggores kapur ke dinding, hingga suara gemericik kunci menginterupsiku.
"Wonho-ssi ada yang menunggumu. Mungkin saja anda bisa bebas bersyarat setelah ini."
Itu kepala sipir yang berbicara. Pria berkumis tebal itu membantuku berdiri lalu memasang borgol di kedua tanganku.
Aku tidak banyak bertanya pada kepala sipir itu karena aku mengira bisa saja Hyunwoo hyung yang menjenguk dengan sekeranjang ramen instan kesukaanku. Tidak pernah terlintas di dalam pikiranku jika ternyata Lee Minhyuk yang berada di seberang kaca pembatas ruang jenguk.
Ya, kalian benar, Minhyuk datang menjenguk. Apa aku tidak salah lihat? Tapi itu benar-benar dia.
Seperti pada ruang jenguk penjara pada umumnya, kami akan mengobrol dengan batas kaca setebal tiga senti meter. Ketika kepala sipir itu mengaktifkan mikrofonnya, aku tidak segan-segan langsung membentak Minhyuk. Lagipula, untuk apa aku berbasa-basi dengan anak sialan itu?
"Lee Minhyuk sialan, kenapa kau datang ke sini? Apa yang kau mau?!"
Minhyuk terkejut dan hampir terjungkang dari kursinya.
"T-tolong, aku tahu kau tidak akan pernah memaafkanku, tapi kali ini biarkan aku memberitahumu sesuatu. Ini tentang Changkyun."
Bahkan ketika dia tahu aku tidak bisa menyakitinya, Minhyuk tetap bergetar ketika melihatku.
"Apa yang kau lakukan padanya? Katakan sekarang juga!"
"C-Changkyun kecelakaan, benturan air bag membuatnya terpelanting ke bahu jalan dan organ dalamnya dalam keadaan kritis. Changkyun koma sudah dua hari dan dia sedang membutuhkan cangkok hati segera untuk bertahan hidup."
Tidak, ini tidak mungkin.
"Kamu pasti bohong, kan? Katakan yang sesungguhnya terjadi! Jangan bercanda."
"A-aku tidak bohong, hyung—" Minhyuk merogoh saku jas sekolahnya. "—Aku dapat pesan dari presdir Lim langsung."
Bukan karena Minhyuk yang tiba-tiba memanggilku dengan honorifik, melainkan isi pesan Ayahnya Changkyun yang membuatku membisu.
Sebisa mungkin aku memikirkan jalan keluar. Ah, iya benar, jaminan bebas bersyarat. Pertama, aku harus keluar dari tempat ini.
"Minhyuk, tolong telepon pengacaraku sekarang juga."
Tenang, Changkyun, Shin Wonho akan benar-benar menjadi One Hope bagimu.
.
.
.
.
.
"Apa?! Jadi aku tidak bisa mendonorkan hatiku pada Changkyun?!"
"Maaf Wonho-ssi, kami tidak bisa melakukan tindakan pengambilan donor pada seseorang yang masih hidup."
"Argh!"
.
.
.
.
.
[CHANGKYUN POINT OF VIEW]
Boston 26 Januari 2016
'My dear Changkyun, happy birthday honey. May God always bless you! Please spread more loves for us!'
'Changkyun-san, Otanjōbiomedetōgozaimasu. Kamisama ga anata o motto aishite kudasaimasu yō ni. Kotoshi wa takusan tabete kudasai.' (Changkyun, selamat ulang tahun. semoga Tuhan lebih menyayangimu. Tolong lebih banyak makan di tahun ini.)
'Changkyun-ie selamat ulang tahun. Ibu tidak percaya jika kamu sudah berumur dua puluh tahun. Tapi selamanya kamu akan tetap menjadi bayi kecil Ibu. '
'Anak jagoan Ayah ulang tahun, ya? Berapa sih umurmu? Bukannya kamu masih suka pipis di celana kalau masuk ke rumah hantu, ya? Hahahah Ayah bercanda. Ngomong-ngomong Ayah dan Ibu punya sesuatu yang spesial untukmu. Kami sudah memesan tiket ke Seoul dan kita akan berangkat malam ini. Jangan dulu berangkat ke bandara sebelum kami pulang ke rumah, ya.'
Dan masih banyak lagi ucapan dan doa yang masuk secara virtual ke ponselku, itu membuat hatiku berdesir hangat sekaligus merasa sangat bahagia, hingga satu pesan terakhir yang tidak terduga ia baca
'Changkyun-ah apa kabar? Selamat ulang tahun! Aku harap kamu tumbuh tinggi dan tambah dewasa dan juga semakin tampan tentunya. Kapan mau main ke Korea? Wonho bilang ia merindukanmu, loh.'
Aku di sini baik-baik saja, Hyunwoo hyung. Tolong katakan pada Wonho hyung aku juga rindu padanya.
.
.
.
.
.
Suasana kota Seoul tidak banyak berubah sejak aku meninggalkannya menetap di Boston. Udaranya masih sama, penduduknya—mungkin— masih sama, kemacetannya juga masih sama. Bahkan bunga kanola di taman belakang sekolahku dulu masih sama.
Aku hanya ingin bernostalgia sebentar. Agak aneh sih karena aku hanya meninggalkan Seoul selama satu tahun, namun aku bersikap seolah aku sudah sepuluh tahun tidak menginjakan kaki di tanah gingseng ini. Ya, secara keseluruhan semuanya masih terasa sama.
Tapi, entah kenapa jauh di dalam lubuk hati, aku merasa akan ada hal yang berbeda siang ini.
Walaupun suasana hatiku sedang random, tapi aku juga tidak menampik jika delapan puluh persen hatiku merasa bahagia karena bisa kembali ke Seoul. Tidak ada yang lebih membuatku bahagia selain pulang ke tanah kelahiran di hari ulang tahunku. Terlebih hari ini aku akan bertemu Wonho hyung sebentar lagi.
Selama perjalanan di dalam taksi menuju apartemen milik Hyunwoo hyung, air mataku terus mengalir karena rindu. Aku pergi sendiri karena Ibu dan Ayah mengunjungi kedua orang tuanya dan akan menyusul beberapa jam setelah itu. Mungkin karena aku pergi sendirian lalu tiba-tiba menangis, sampai bapak supir itu bertanya apakah aku baik-baik saja. Sesekali pria paruh baya itu menawarkan selembar tisu.
Entah lah paman, aku juga tidak yakin, rasanya gugup, seperti aku baru pertama kali berkencan dengan seseorang.
Agak memakan waktu di perjalanan karena terjebak macet hingga aku mendapat senyuman hangat dari Hyunwoo hyung di depan pintu apartemennya. Pria berbadan tegap itu menyuruhku masuk dan menyeruput segelas teh hijau. Aku pernah tahu Hyunwoo hyung seorang pria yang sudah menikah, dan ternyata istrinya sangat cantik. Dia membawa dua cangkir teh hijau dengan nampan lalu tersenyum hangat padaku.
"Silahkan diminum. Oh iya, namaku Yoon Bora."
Ya, untuk ukuran seorang penyedia lelaki penghibur seperti Hyunwoo, beruntung ia mendapat istri secantik itu. Tampangnya juga awet muda, Aku jadi bingung memanggilnya apa.
"T-terima kasih, bibi. Eh?!—"
"Tidak perlu sungkan, panggil aku apa pun yang kamu mau. Semua teman Hyunwoo adalah temanku juga."
Ya, orang baik juga akan selalu bertemu dengan orang baik. Dua orang di hadapanku ini memiliki pribadi yang selembut kapas kalau boleh dibilang.
"Aku dengar kalian berdua akan menjenguk Wonho, ya?" wanita berambut hitam pendek itu memeluk nampannya di dada. Kelopak matanya yang besar menyapaku ramah dengan eyesmile.
"Ah, iya."
"Kalau begitu, aku titip salam juga. Aku akan kembali ke dapur untuk memasak makan malam. Changkyun-ah, kalau bisa mampir dulu untuk makan malam."
"Ah, tidak perlu repot-repot, bibi."
Setelah memastikan aku meminum teh buatannya, bibi Bora melipir ke dapur.
"Ngomong-ngomong sebelum kita pergi, Wonho menitipkan surat ini satu tahun yang lalu. Dia bilang kamu harus membukanya saat hari ulang tahunmu."
.
.
.
.
.
Aku pernah mengatakan bahwa hari ini akan terasa berbeda, bukan? Padahal aku akan bertemu dengan Wonho hyung. Harusnya aku lebih banyak bersyukur karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk melihatnya.
Rasanya gugup. Benar-benar tidak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Bahkan aku selalu menggenggam erat surat pemberian Wonho hyung. Aku tidak pernah mau kehilangannya, lagi.
Aku tiba di sini. Tempat yang kebanyakan orang sebut sebagai rumah. Tapi, aku lebih suka menyebutnya dengan taman yang abadi. Tempat dimana biasanya seseorang menangis dari balik senyumannya. Tidak semua orang, sih. Tapi aku yakin aku ke sini dengan senyuman. Tentu karena aku bahagia bisa bertemu dengan Wonho hyung.
Jalan setapak kami berdua lewati, hingga ada satu titik yang membuat kami lebih memilih diam dan membisu di depannya. Hembusan angin musim dingin menusuk ke pori-pori, membuat Hyunwoo hyung merapatkan mantel tebalnya.
Aku harap sebuket bunga mawar cantik ini bisa menghindari Wonho hyung kedinginan.
"Halo, Wonho hyung, apa kabar?"
Tidak ada jawaban.
"Aku datang ke Seoul hari ini. Apa kamu tidak merindukanku?
"J-jangan diam saja, hyung. Ayo jawab aku!"
Percuma saja. Semuanya sia-sia karena aku mulai berteriak pada sebongkah pusara batu dengan hangul Shin Wonho di atasnya.
Bohong jika aku tidak sedih. Bohong jika aku tidak rela dengan kepergian Wonho hyung yang terlalu cepat. Bohong jika aku sedang menangis bahagia sekarang. Bohong juga jika Wonho hyung akan tiba-tiba muncul dan memelukku lagi seperti dulu. Itu semua bohong karena sekarang, pada kenyataannya, Wonho hyung sudah tenang menikmati tidur abadinya di sisi Tuhan.
"SHIN WONHO CEPAT BANGUN ATAU AKU PATAHKAN SEMUA KARTU KREDITMU—Hiks."
Bahkan jika aku mati-matian membentak dan memakinya, Wonho hyung tetap tidak akan berubah. Dia sangat egois. Egois karena lebih memilih tidur selamanya daripada bertemu denganku.
"Changkyun-ah, tolong tenang sedikit." untung ada Hyunwoo hyung di sini. Jika tidak mungkin aku akan nekat masuk ke dalam tanah.
"Wonho hyung—hiks. Aku, merindukanmu. Tolong jangan buat aku begini. Aku janji akan menjadi anak baik jika kamu mau bangun—hiks."
Yang bisa aku lakukan sekarang hanya menangis dalam diam dan memeluk pusara batu itu dengan penuh harap. Sekali lagi aku berharap waktu akan terulang kembali dan aku bisa memiliki Wonho hyung seutuhnya.
"H-hyung, aku mencintaimu. Tolong berikan aku sesuatu. Kamu tau apa yang paling aku inginkan untuk kado ulang tahunku?—hiks." aku bisa merasakan seseorang mengelus pundakku. Tentu saja itu Hyunwoo hyung. "—A-aku hanya butuh kamu, hyung. Aku hanya butuh seorang Shin Wonho hadir dalam hidup Changkyun Lim yang bodoh ini."
"Changkyun-ah, mungkin kamu akan berubah ketika membaca suratnya. Itu ditulis langsung oleh Wonho dan ada permintaan terakhirnya yang harus kamu tahu."
Benar, ah, bodohnya aku. Sekarang siapa yang egois? Aku hanya memikirkan diriku sendiri yang meraung-raung memohon Wonho hyung untuk kembali.
Jemari tanganku bergetar membuka amplop berwarna ungu itu, tapi ada Hyunwoo hyung yang selalu meyakinkanku.
Haruskah aku membuka luka lama dengan surat ini?
Seoul, 30 April 2015
[DEAR LIM CHANGKYUN]
Namamu unik, persis seperti orangnya. Dan aku yakin di dunia ini hanya ada satu Lim Changkyun yang aku kenal. Kamu satu-satunya. Jika kamu membaca ini, berarti sekarang hari ulang tahunmu. Aku ucapkan selamat ulang tahun, semoga kamu bisa lebih menjaga diri. Tumbuh menjadi anak baik yang selalu riang dan makan yang banyak! Kamu terlihat sangat kurus.
Pertama, Aku menyimpan surat ini karena aku ingin minta maaf karena belum menjadi seseorang yang terlalu berharga bagimu. Bahkan sepertinya aku menghancurkan hidupmu. Untuk itu biar lah aku menukar nafas dan denyut nadi ini hanya untukmu. Tolong jaga baik-baik hati yang aku berikan. Anggap saja jika itu hadiah hari kasih sayang yang belum pernah aku berikanpadamu. Jadi sekarang, aku merasa berguna sebagai manusia. Untungnya dokter mengatakan bahwa hatiku belum tercemar, hahahaha.
Kedua, aku menulis surat ini agar kamu tahu jika aku benar-benar mencintaimu. Bahkan saat fakta kehidupan yang menampar pipiku bahwa seorang sampah masyarakat sepertiku tidak pantas mendapat cinta. Tolong cintai aku sebanyak mungkin, dan bilang pada Hyunwoo juga aku mencintainya, ia sudah ku anggap sebagai Ayah sendiri di saat aku ingin mencekik Ayah kandungku. Mungkin setelah ini aku bisa bertemu dengannya di kehidupan yang abadi lalu benar-benar mencekiknya. Hahahaha
Tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk dunia, maka biarkanlah aku melakukan sesuatu pada dunia kecilku. Ya, you're my world. You're my universe. Jadi, tolong terima pemberianku.
Ketiga, aku menulis surat ini hanya ingin mengatakan bahwa jika kamu merasa kesepian, Changkyun-ah, jangan pernah merasa khawatir. Aku akan selalu ada di dalam hatimu. Jarak kita hanya terpisah beberapa jengkal dari matamu. Sentuh hatimu maka aku akan ada di sana. Agak menyeramkan mungkin, tapi kita akan menjadi satu dalam denyut nadi.
Keempat, aku menulis surat ini karena aku tidak mau membuatmu khawatir dan terus kembali ke seoul hanya untuk mengingatku. Mungkin jika senggang, kamu bisa minta tolong Hyunwoo hyung untuk menjengukku. Tolong hidup dengan baik di tahun-tahun berikutnya dimana pun kamu berada. Boleh sesekali memikirkan diriku tapi tolong jangan jadikan beban untukmu. Aku tidak mau hal itu terjadi.
Terakhir tapi bukan akhir dari segalanya, aku menulis surat ini karena aku ingat Hyunwoo hyung pernah bilang, akhir yang bahagia adalah ketika ada seseorang yang terus mengingatku bahkan jika aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Mungkin itu juga menjadi alasanku menitipkan surat ini pada Hyunwoo hyung; karena aku ingin menjadi satu satunya harapan bagimu. Aku ingin menjadi One Hope di dalam hidupmu, jadi kamu bisa terus mengingatku. Egois, ya? Tidak apa-apa, kan.
Semoga di hari ulang tahunmu ini, kamu menemukan teman yang akan benar-benar tertawa bersamamu ketika bahagia dan benar-benar menangis saat kamu bersedih.
Sebagai penutup. Aku igin bertanya padamu satu hal;
Aku menyebalkan, ya? XD
Dengan segala pelukan hangat aku meninggalkan surat ini di tanggal yang sama sejak aku menulisnya, tertera;
[WONHO SHIN a.k.a LEE HOSEOK.]
Ya, kamu memang sangat menyebalkan hyung.
Untuk pertama kalinya, Aku merasa mempunyai seseorang seperti Wonho hyung adalah kado terindah yang pernah ku miliki. Biarlah sosok pria beriris biru itu memang tidak akan pernah terganti bagi diriku, dan secara harfiah, Wonho hyung tidak akan ada lagi di dunia ini. Namun satu yang pasti, aku tahu jika Wonho hyung akan terus bersamaku, di dalam hati. Jiwanya hidup bersama dengan denyut nadiku.
"Wonho hyung, kamu itu One Hope bagiku."
Aku berpesan untuk kalian, jangan pernah menyia-nyiakan orang yang tulus berteman padamu. Jangan pernah menilai seseorang dari sampulnya, dan yang paling penting, jangan pernah salah memilih seorang teman.
Aku hanya ingin mengatakan bahwa seorang teman sejati adalah satu-satunya orang yang akan kalian andalkan di saat kalian tidak bisa berharap pada siapa pun. Bahkan saat kalian tidak bisa kengandalkan kedua orang tua.
.
.
.
.
.
.
.
.
[.FIN.]
.
.
.
.
A/N: MALEM MALEM AKHIRNYA SELESAI JUGA NGETIK INI. SEMPET ADA TROUBLE KETIKA MENCARI PASANGAN HYUNWOO KARENA FO A GOD SAKE GUA UDAH MASUKIN MINHYUK SAMA KIHYUN DI CAST SEBELUMNYA, DAN BINGUNG MAU PAKE CAST SIAPA SEBAGAI ISTRINYA HYUNWOO :") SEMOGA TIDAK ADA YANG TERPELATUQ DENGAN YOON BORA YANG GUA JADIKAN ISTRINYA HYUNWOO. ANYWAY, TEMEN GUA BILANG HYUNWOO SEBAGAI 'MUCIKARI GAY' BISA AJA TERNYATA PUNYA ISTRI CANTIK. TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN DI DUNIA INI. A6 10AN (ASIX TEN AN) THAT'S WHY AKHIRNYA GUA PILIH YOON BORA. GUA BENAR-BENAR TIDAK HABIS PIKIR TADINYA INGIN MENJADIKAN INI ONESHOT DENGAN WORDS YANG SEGITU BANYAK HARUS DIKETIK. DAN VIOLA! JADINYA FF INI HANYA MEMPUNYAI 4 CHAPTER. TIDAK ADA SEQUEL JUGA YAAAA. TERIMA KASIH SELALU UNTUK PARA PEMBACA YANG SUDAH MENYEMPATKAN DIRINYA MEMBACA KARYA GUA YANG SATU INI. ENTAH ITU YANG GHOIB HANYA KELIATAN BERDASARKAN JUMLAH VIEW ATAU YANG MUNCUL KE PERMUKAAN KOLOM REVIEW. THANKS TO IKYUN, SUGANTEA, SWAGGYSUGA DAN 200+ READERS GHOIB YANG SUDAH MENJADI PENUNGGU SETIA FF BOBROK INI. ME AS CHANGKYUN (MAYBE) DAN FYI INI PENGALAMAN PRIBADI. TENTU DENGAN BEBERAPA HAL DIDRAMATISIR UNTUK KEPENTINGAN HIBURAN. KALO GUA JADI CHANGKYUN, TENTU GUA BAKAL LEBIH MILIH MOBIL MEWAH KETIMBANG PUNYA TEMEN. LOL XD
AND AS ALWAYS, THIS IS NON-BETA FICT :")
AT LAST, MIND TO FAV, FOLLOW AND REVIEW?
SINCERELY
NAN GWISHIN KKUM KKOTTO :* /AEGYO/
ALHAM BASKORO
