Nerd? r u serious?

.

.

Kim Taehyung

Min Yoongi

.

.

(Sebaiknya kalian baca ulang chapter pertama

Bagian ini agar tidak bingung)

.

.


Yoongi hanya bisa menggigit bibirnya kuat-kuat saat Taehyung menjambak rambutnya. Mungkin agak berlebihan, tapi ia merasa seperti kepalanya akan lepas. Sakit, bukan main. Belahan bibirnya yang sewarna peach berubah kemerahan.

"Master hentikan, aku ugh-"

Pertama Taehyung mencium lehernya lembut. Sampai membuatnya tersedak karena adiksi memabukkan yang laki-laki itu berikan, dirinya terbawa permainan Taehyung. Otaknya berkata tidak, namun saraf-saraf ditubuhnya bekerja sebaliknya. Lalu Ia mulai menjilati dan mengigitnya, sangat pelan sampai Yoongi menggelinjang tidak sabar.

Bibir penuh Taehyung adalah favoritnya, setelah kulit tanning yang dimilikinya. Yoongi sangat suka ketika tubuh itu basah oleh keringat, terlihat dua kali lebih seksi.

Miliknya menegang saat friksi yang Taehyung berikan melebihi batasannya untuk menahan. Kedua mata sipit itu terpejam dengan tidak wajar, pemiliknya kepayahan.

Yoongi mengulurkan tangannya kebelakang, berusaha menggapai selangkangan yang masih tertutup bahan kain itu. Mungkin dengan membalas sedikit perlakuan sang dominan bisa membuatnya mendapatkan apa yang ia mau, kesejatian Taehyung berada didalam dirinya.

"A-ahk!" Belum sampai tangan itu menyentuh, Taehyung lebih dulu menarik tangannya, mencengkeramnya kuat sampai berbekas merah segaris di tangannya yang pucat. Yoongi yakin bekas itu akan susah hilang,

"Apa yang ingin kau lakukan jalang?–

Laki-laki yang lebih muda membuka resleting celana Yoongi secara paksa sampai pengaitnya putus dan berserak di lantai. Malang sekali nasibnya, Yoongi meringis.

Yang dia tau pasti sekarang, celananya tidak akan bisa ia pakai saat pulang nanti. Bahkan Yoongi tidak yakin akan pulang dengan keadaan baik-baik saja. Dari ekspresinya, Taehyung tidak mungkin menyudahinya ini secepatnya. Yoongi hanya berharap kalau besok ia masih bisa berjalan. Semoga saja.

"T-taehh.." setengah mendesah, saat miliknya diremas kuat tangan dingin itu. Kim Taehyung, brengsek.

Plak!

Taehyung menampar bokongnya. Ia tidak berani menengok kebelakang, menatap wajah laki-laki karamel itu. Mungkin semua orang tidak tau sisi yang lain dari 'Kim Taehyung yang teladan' mereka hanya tau Kim Taehyung yang sopan, Kim Taehyung yang pandai, Taehyung yang baik dan penurut. Bukan Taehyung yang ia lihat sekarang.

Taehyung yang sadis dan tidak kenal belas kasihan. Ekspresinya yang tenang membuatnya semakin mengerikan. Ia tidak segan mencelakai orang yang berani menyentuh Yoongi barang sejengkal.

"Taehyung apa kau melakukan sesuatu pada Chanhyeo-arghh!" Entah benda apa yang dimasukkan kedalam menholenya. Benda itu panjang dan kering, itu bukan jarinya pasti, Yoongi yakin itu. Ia mencakar dinding di depannya, dengan bibir yang sudah berdarah sejak tadi. Pikirannya masih waras untuk menahan suara desahannya dari setiap perlakuan yang Taehyung berikan. Disatu sisi dirinya sakit luar biasa namun disisi lain Yoongi merasa terlalu nikmat dan menginginkan lebih.

"Bahkan kau lebih mengkhawatirkan dia dari pada aku."

Yoongi merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya, dan hanya bisa menahan nafas saat tau kalau itu adalah pisau lipat yang selalu Taehyung bawa. Tidak ada yang tahu itu, bahwa setiap hari ketua osis mereka menyelipkan pisau dibajunya, bersiap untuk menggunakannya kapan saja.

Tarhyung sangat suka membuat Yoongi terluka, membuatnya menangis karena kesakitan, lalu memohon padanya seperti jalang untuk memuaskan lubangnya yang basah dan sempit. Taehyung adalah iblis yang terperangkap dalam tubuh malaikat yang luar biasa tampan.

"Ssh..masterhh sakithh..." Darah mengalir di pipi mulus itu, turun perlahan dari luka yang Taehyung buat. Bukannya kasihan, laki-laki itu mengelus pipi yang satunya, mendekatkan wajah mereka sebelum menjilat darah itu, perlahan dan membuat kesadarannya nyaris di tarik keluar. Yoongi menggigit pipi bagian dalamnya. Tubuhnya bergetar setiap kali tangan hangat itu menyentuh dirinya.

"Maafkan a-akuh ahh hentika uh–" Yoongi hanya bisa memohon, terserah Taehyung ingin menghukumnya di kamar mereka sampai suaranya habis pun, ia bersedia. Tapi tidak dengan disini, yang Yoongi takutkan hanya kalau ada murid masuk ke ruang loker dan melihat kegiatan mereka. Bukan karena ia takut gosip "Kim Taehyung si peringkat pertama bercinta dengan seorang berandal di ruang loker" tapi Yoongi takut keselamatan orang itu akan terancam. Taehyung rela mengotori tangannya sendiri dengan anyir darah kalau ada yang berani mengusiknya.

"Ughh, kumohon, Master, hentikanh..''

Ekspresinya datar, menatap Yoongi seolah tidak terjadi apa-pun padanya. Jelas-jelas sekarang pemuda di depan sudah setengah sadar, nyaris pingsan.

''Mulutmu bilang berhenti, tapi anal mu terus menghisap stik Ini-"

''Stik! T-tunggu, apa yang kau-argh!" Tangannya menggerakan benda itu semakin dalam. Memaksanya agar masuk ke dalam lubang sempit Yoongi.

"Keluar kan!"

"Tidak, tidak sampai aku puas."

Yoongi menengok kebelakang susah payah, melihat ekspresi Taehyung yang sangat tenang, tapi matanya benar-benar bernafsu. Jantungnya berdebar, perasaan ini sungguh tidak bisa diartikan.

"Master!"

Saat itu juga, ia tahu bahwa dirinya benar-benar jatuh.

Yoongi mencintai Kim Taehyung.

.

.

.

"Taehyung?" Pemuda itu membawa 3 buku tebal dalam pelukannya. Mengernyit bingung melihat teman sebangkunya bisa sedekat itu dengan siswa paling ditakuti disekolah.

"Kau? Apa yang terjadi? "

Taehyung menggedikan bahunya menatap santai ke arah si manis yang sekarang tertidur di dalam gendongannya. Manis dalam penglihatannya.

"Aku melihatnya pingsan di ruang loker, rumah kami berdekatan jadi ya, aku akan mengantarkannya hhe." Laki-laki itu Jimin, wakil ketua kelas 11.4 teman sebangku sekaligus 'sahabat'nya.

Jimin menjilat bibirnya yang kering, sadar sekarang sudah jam tujuh malam lebih. Apa yang Taehyung lakukan disini?

Entahlah, kadang ia juga merasa Taehyung agak aneh. Diluar dari semua kelakuan baiknya di sekolah. Jimin berdebar, firasatnya tidak enak.

"Oh, baiklah, hati-hati dijalan tae, aku duluan."

"Ya, Jimin." Tubuhnya melangkah menjauhi Taehyung, mengucapkan perpisahan sejenak sebagai basa basi.

"Park Jimin, jalan xx no xx.." Taehyung tersenyum miring menatap layar ponselnya yang berisi riwayat lengkap seorang Park Jimin.

"Kau terlalu banyak meilhat Jim," ucapnya seraya membetulkan letak Yoongi, mencium keningnya yang berekerut.

"Ugh, Master-" ia memeluk leher Taehyung erat. Merasa lemas bukan main. Ditambah Taehyung yang terus menekan sesuatu di bawah sana.

"Ayo kita lanjutkan di rumah, honey" ucapnya lembut sembari mengulum telinga Yoongi.

.

.

.

Fin!


Ah, long time no see. Sudah berapa Bulan aku ga lanjutin ff ini?

Aku berfikir untuk buat sekuel tersendiri tentang TaeGi kali ini, kaya side story mereka begitu. Gimana menurut kalian?

[08-14-17]

Je with luv