LACUNA

(n.) ruang kosong, bagian yang hilang

.

Relationship : Jeon Wonwoo & Kim Mingyu

Characters : SEVENTEEN and others

Warning! Typos, language, alcohol consumption, implied sexual content, smoking

.

.

.

Rumah besar yang biasanya sunyi itu pada hari ini mendadak ramai, musik berat terdengar sampai radius dua ratus meter, botol soju, bir dan beberapa merk anggur terletak pada beberapa meja didalam rumah , lampu pesta berkelap-kelip warna-warni, dibawahnya puluhan orang menari, tak beraturan, sebagian mabuk sebagian masih sadar diri.

"Soonyoung kau mengundang orang satu kampus hah?"

Ungkapan protes berasal dari Junhui−salah satu pemuda yang duduk berkumpul pada sofa diujung ruangan−dihadapan mereka terdapat kue blackforest yang bahkan sudah tak terdefinisi bentuknya apa.

"Ini terlalu banyak, seriously ku pikir kau akan menghancurkan rumahmu." Pemuda western bernama Hansol dengan beanie dikepalanya turut mengungkapkan ketidakpercayan terhadap suasana malam ini.

"Hey guys santai. I'm twenty now, dan aku ingin ulang tahunku yang menginjak kepala dua ini diadakan seramai mungkin. So aku mengundang semua orang yang aku kenal dan menyuruh mereka mengajak orang yang mereka kenal dan mengajak orang yang mereka kenal dan−"

"Stop Soonyoung. Oke, ini pesta yang hebat dan ku harap kau tak akan pernah lagi mengundang orang sebanyak ini nanti." Potong Wonwoo yang sedari tadi tak menunjukkan minat pada acara ulang tahun yang berlebihan ini.

"Okay mom!" Jawab sikepala dua sambil memberikan hormat pada orang yang baru saja berbicara disampingnya. "Mom your ass." Ia dihadiahi hantaman dari buku tebal pada kepalanya, Soonyoung meringis mengusap ubun-ubunnya.

"Dan Wonwoo, siapa yang membaca novel saat pesta ulang tahun sedangkan didepanmu terdapat banyak minuman dan gadis-gadis seksi." Junhui menggelengkan kepalanya setelah itu, lalu meneguk langsung satu gelas bir ditangannya. "Well itu hanya kau, dasar raja dari para kutu buku." Lanjutnya lalu menuangkan lagi bir pada gelasnya sampai penuh dan meminumnya.

"Aku melakukan hal yang berguna." Balas Wonwoo tak acuh tetap memfokuskan perhatiannya pada halaman buku yang sedang ia baca.

"Biarkan saja Jun, dia hero kita dalam setiap tugas dan tes," Soonyoung meneguk bir lalu berdiri "come on siapa yang akan bergabung menari bersamaku."

"Yeah!" Hansol langsung berdiri membawa satu botol bir diikuti Junhui dan mulai mengikuti Soonyoung yang berjalan menghampiri kumpulan orang-orang yang melenggak-lenggok tak beraturan dibawah pengaruh alkohol.

Semakin malam musik pun semakin keras, hampir seisi ruangan orang-orang mulai mabuk. "Ini benar-benar kacau." Ucap Seungkwan dengan napas tersengal-sengal yang berjalan mendekati sofa. Jihoon menghembuskan napas berat "Tapi kita tak bisa apapun, tunggu saja sampai pagi dan lihat bagaimana keadaan rumah ini. Malangnya pembantu Soonyoung."

Terlihat beberapa orang mengahmpiri mereka, salah satunya langsung menjatuhkan diri begitu saja diatas tubuh Seungkwan. "Yak! Jeonghan hyung aku tak bisa bernapas." Jeonghan terkekeh lalu mengangkat dirinya dan duduk disamping Seungkwan. "Sorry my Boo." Ia mengacak pelan rambut pemuda chubby tersebut.

"Where is the birthday boy?" Tanya Jisoo yang baru saja duduk disamping Jeonghan. "Dancing like crazy." Jawab Jihoon menunjuk keberadaan Soonyoung dengan dagunya.

"Dia terlihat sangat senang ya." Jeonghan menggelengkan kepalanya sebelum mengambil satu botol soju dan meminumnya.

"Sangat. Teramat. Tentu saja, dia akan mencoba sex pertamanya tahun ini." Jihoon tersenyum miring, tatapannya terpaku pada Soonyoung yang kini sedang menari sambil memeluk seorang gadis. "Itu yang ia tunggu-tunggu ya," Jeonghan tertawa, matanya mengikuti arah pandang Jihoon. "dengan Kim Yura huh?"

Sang tuan rumah yang sedang ditonton kini berciuman dengan kekasihnya, panas dan menuntut. "Yeah, mereka sudah berpacaran selama enam bulan. Ckck lihatlah betapa semangatnya ia." Mereka berempat terkekeh, kecuali Wonwoo tentunya yang tenggelam dalam dunianya sendiri.

Tiga orang datang lagi. satu diantaranya terlihat sedikit mabuk.

"Yoo Seungcheol!" Jisoo berdiri menyambut temannya dengan antusias, mereka melakukan salaman yang unik. "Yeaa Hong~"

"Eyy, kau mulai mabuk ya Seungcheol hyung." Seungkwan berdecih.

"Sedikit." Seungcheol terkekeh "Oh ya guys perkenalkan dua temanku ini," ia berdiri agak sempoyongan "yang tinggi ini Mingyu dan satunya Seokmin." Seungcheol duduk, kepalanya bersandar pada pundak Jisoo. "dan Seungkwan ku rasa Seokmin akan cocok denganmu, kalian sama gilanya." Seungcheol tertawa matanya setengah tertutup.

"Tak sadar dirinya juga gila." Gerutu Seungkwan. "omong-omong salam kenal Mingyu and Seokmin, aku Seungkwan."

"Aku Jeonghan."

"I'm Jisoo."

"Jihoon."

Jeda panjang.

"Yak!" Jihoon menyikut Wonwoo disampingnya, kutu buku itu akhirnya mengangkat kepala "bisa kau simpan dulu baby mu itu, dan novel apalagi−tunggu bukannya kau sudah selesai dengan Sherlock Holmes?" Pemuda mungil itu mengangkat alisnya. "Aku membaca ulang, ini yang ke tujuh kalinya." Balas Wonwoo santai.

"Dasar maniak." Timpal Jeonghan.

"Oh by the way, Wonwoo." Ucap penggila buku itu menatap singkat kedua kenalan baru mereka.

Mereka melanjutkan malam dengan minum, menari dan berbincang. Wonwoo karena merasa haus ia meneguk sedikit cairan soju didepannya. Soonyoung masih melanjutkan 'kegiatannya' dengan Yura. Hansol kembali bergabung dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Junhui seperti biasa melakukan aksinya, menggoda sana-sini yang menurutnya seksi.

Mingyu tersenyum miring, ia berdiri kemudian duduk didekat Wonwoo. Pemuda yang sedang membaca itu mengerutkan alis heran pada teman barunya yang tiba-tiba menempel itu. Dia menutup bukunya jengkel. "Ada apa?" Tanyanya yang jelas merasa terganggu.

"Kau unik."

Wonwoo tertegun, menatap orang disampingnya yang kini sedang memberikan smirk. Rasanya aneh mendengar hal seperti itu dari orang yang baru saja dikenalnya. Ia tak menjawab, dan kembali membuka buku ditangannya.

"Literatur?" Mingyu tetap tak beranjak meski orang didekatnya ini terlihat kesal.

"Ya."

"Aku Sosial."

"Aku tak bertanya." Jawab Wonwoo ketus. Mingyu menyunggingkan bibir lagi, ia mendekatkan bibirnya pada telinga Wonwoo, "Boleh aku meminta nomormu?" bisiknya.

Wonwoo menjauhkan kepalnya, ia menatap Mingyu kesal lalu menghela napas "Mingyu ssi kita baru saja kenal. Dan jawabannya adalah tidak." Pemuda itu berdiri, membawa satu botol soju kemudian mengayunkan tungkainya ke lantai atas.

Mingyu menggigit bibir bawahnya, ia nampak berpikir sebelum melangkah juga mengikuti Wonwoo.

"Ck, Kim Mingyu akan melakukan aksinya." Ucap Seokmin yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.

"Aksi?" Seungkwan tak mengerti.

"Dia mencoba mendapatkan Wonwoo. Mingyu itu pro playa', entah sekarang ia mempunyai berapa pacar. Sepertinya Wonwoo menarik baginya." Timpal Seungcheol dengan intonasi naik turun.

"Eyy, Jeon Wonwoo itu mustahil, sehebat apapun Mingyu merayu dia tak akan bisa menaklukan manusia batu itu." Ucap Jihoon yakin. Dan obrolah berlanjut dengan berbagai macam taruhan.

Wonwoo duduk begitu sampai dibalkon, meminum sedikit soju lalu membaca bukunya kembali. Rambut hitamnya tersapu angin, bibirnya bergerak sesuai dengan apa yang dibacanya, mata tajamnya yang begitu fokus pada satu hal tak menyadari kehadiran seseorang yang berdiri disamping memperhatikannya.

"Hey bahkan jika ada perampok berjalan didekatmu sepertinya kau tak akan peduli."

Wonwoo terkejut, dia melirik sumber suara lalu memutar bola matanya malas.

"Jangan mengikutiku, aku tak suka diganggu."

"Bahkan oleh pria tampan sepertiku?" Mingyu duduk disampingnya, menatap Wonwoo yang sepertinya mulai emosi.

"Mingyu ssi, pergilah." Titah Wonwoo datar.

"Tidak mau, aku suka disini, bersamamu." Dia tersenyum miring lagi.

Wonwoo berdecih sarkastik, dia mendelik tajam pada si pengganggu. "Tapi aku tidak suka, apalagi dengan playboy tak berguna sepertimu." Mingyu tergemap, dan Wonwoo dengan biasa saja melanjutkan kegiatannya kembali.

"Wow, pertamakalinya aku mendengar pujian sekejam itu." Mingyu mendekatkan kepalanya, melirik halaman yang sedang Wonwoo baca. Namun Wonwoo geming, tak acuh sama sekali.

"Kau tahu, aku pernah menonton Sherlock Holmes juga." Wonwoo berhenti membaca sejenak tapi matanya tetap terpaku pada rentetan kalimat dibukunya. "Aku tak terlalu memperhatikan bagaimana jalan ceritanya karena rumit sekali," Mingyu tersenyum melihat bibir Wonwoo yang berhenti membaca. "tapi aku shipping Sherlock dan Watson."

Wonwoo menatap Mingyu dengan alis yang berkerut, wajah mereka sangat dekat hingga bisa merasakan hembusan napas masing-masing. Namun keduanya biasa saja, Wonwoo dengan ekspresi datar dan Mingyu tetap menunjukkan smirknya.

"Shipping? Kapal? Pengiriman?" Tanya Wonwoo sambil memiringkan kepalanya. Mingyu tergelak, pemuda datar mengumpat kesal. "Kau tidak tahu tentang ship?"

Wonwoo mengalihkan lagi perhatiannya pada buku, menggerutu tak jelas lalu menjawab orang disampingnya dengan sebal. "Aku tahu. Ship adalah kapal."

Mingyu terkekeh lagi, dia mendekatkan bibirnya pada telinga Wonwoo. "You're cute."

Mingyu menyunggingkan bibir melihat perubahan warna pada telinga pemuda cuek tersebut. Kemudian setelahnya meringis kesakitan karena pukulan keras oleh buku pada kepalanya.

"Omong kosong." Wonwoo berdiri, kemudian berjalan cepat menuruni tangga, meninggalkan Mingyu mengusap kepalanya yang sedikit pusing.

Dilantai bawah rupanya beberapa orang sudah ada yang pulang, suasana tidak sekacau sebelumnya. Soonyoung merangkul kekasihnya memasuki kamar, Junhui duduk disalah satu kursi dengan gadis dipangkuannya, Seungcheol tak berhenti meracau dan menyusahkan Jisoo, Seungkwan dan Seokmin melakukan hal bodoh dan membuat yang lainnya tertawa.

Tak lama, Mingyu turun dan bergabung lagi dengan mereka, matanya menyapu sekeliling mencari seseorang. "Wonwoo… dia kemana?" Tanya pemuda paling tinggi itu kepada Jihoon yang sedang mengobrol dengan Jeonghan.

"Sepertinya seorang playboy gagal total." Jeonghan tertawa menyindir.

"Dia pulang." Timpal Jihoon santai.

"Hah?" Mingyu menunjukkan air muka tak senang, dia menggigit bibir bawahnya.

"Wonwoo punya problem." Jawab Jeonghan.

Mingyu mengerutkan alisnya, dia terlihat ragu-ragu. "Bolehkah aku minta alamatnya?"

҉

Wonwoo terus mengayunkan tungkainya, pandangannya sedikit tak jelas karena alkohol, dia peminum yang buruk. Diluar masih gelap walaupun dibantu penerangan minim dari lampu jalan, matanya melihat waktu pada jam tangan yang menunjukkan pukul tiga dini hari dan ia merutuki dirinya sendiri.

"Ah aku terlambat."

Pemuda kurus itu terus berjalan, ia mempercepat langkahnya. Dipertigaan ia berhenti terlihat bingung memilih jalan yang mana. Tak mengambil waktu lama, Wonwoo menarik napas dalam-dalam lalu melanjutkan langkahnya ke arah kiri.

Setelahnya ia segera menyesali keputusannya tersebut, "Shit." diujung gang kecil yang gelap ia melihat tiga orang laki-laki dengan baju serba hitam membawa pisau lipat disaku dan tangan mereka. Wonwoo hendak memutar badannya dan kembali namun terlambat, salah seorang dari mereka yang berbadan paling besar melihat keberadaan Wonwoo.

"Hey pria kecil, hari yang buruk ya." Disusul oleh tawa menyeramkan dari mereka bertiga.

"fucking bad day." Wonwoo terpaku ditempat.

*.*

Song rec : Bumkey – Attraction (feat. Dynamic Duo)

a/n : Halo~ ketemu lagi dijudul yang baru, padahal ada dua judul yang belum beres. Tiba-tiba suatu plot terlintas dikepala jadi greget pengen nulis. Dan ini permulaannya, dengan judul yang diambil dari bahasa latin hehe sekali-kali. Thanks for reading and don't forget leave review ^^