Senin sore ini kantin kampus lebih ramai dari biasanya, kebanyakan dari mereka makan dengan beberapa buku atau dokumen diatas meja. Tengah semester ini mahasiswa disibukkan dengan tugas yang dikejar deadline serta persiapan untuk tes. Tidak semuanya juga dari mereka yang tampak terbebani dan pusing oleh kehidupan kampus ini. Ada yang dengan santai meminum cola sambil live streaming melalui laptopnya, ada yang bermain truth or dare dan tertawa lepas, sekumpulan gadis bergosip ria memperhatikan setiap lelaki yang menurut mereka keren, dan ada seorang kutu buku yang terjebak diantara kumpulan temannya yang mengobrolkan hal nista.
"Ingat saat Soonyoung ketahuan masturbasi oleh adik perempuannya?" Seungcheol tergelak, wajahnya memerah karena tawa.
"Hey jangan ungkit hal itu kembali, aku merasa menjadi kakak yang mengerikan." Soonyoung menutup wajah dengan kedua tangannya, kepalanya menggeleng cepat mengingat kejadian beberapa bulan lalu itu.
"Lagipula siapa yang akan melakukan hal itu pada siang hari diruang keluarga." Pernyataan Jeonghan membuat wajah Soonyoung semakin merah, ia langsung membela diri. "Aku tidak tahu Minhee akan pulang secepat itu, seharusnya anak itu sedang les balet. Damn stop! jangan bahas ini lagi." Soonyoung melipatkan lengannya didada, terlihat sedikit kesal.
"Ya ya sudahlah, lagipula ia tak usah tersiksa dan membereskannya sendiri lagi mulai saat ini." Jihoon menyikut lengan Soonyoung pelan sambil memasang smirk. Yang lain ikut terkekeh dengan tatapan yang jelas menggoda Soonyoung.
"How was it hyung?" Hansol memainkan alisnya sambil tersenyum miring. Semuanya tahu apa yang di maksud oleh pemuda western ini.
"You don't need to ask Hansol, just look at those hickeys." Jawab Jisoo santai, telunjuknya mengarah pada leher Soonyoung yang pada permukaan kulitnya tercetak jelas beberapa warna kemerahan.
Pemuda yang belum lama ini berulang tahun itu mengusap lehernya sambil tersenyum malu, lalu ia memukul lengan Jisoo pelan. "Its amazing. Yura benar-benar hebat." Mereka bisa lihat seberapa senang Soonyoung dari ekspresi dan kilatan matanya. Mereka semua tertawa dan kembali menggoda Soonyoung. Wonwoo pun ikut menyunggingkan bibir dari balik bukunya.
Mereka bertujuh duduk berkumpul disebuah meja persegi panjang besar, biasanya berdelapan, namun Junhui tidak punya kelas hari ini dan mungkin sekarang ini ia sedang melakukan kencan buta dengan beberapa gadis.
"Hey Seokmin, Mingyu!" seru Seungkwan yang tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya pada dua sosok yang tak jauh dari meja mereka. "Come here! Bergabung dengan kami."
Mendengar nama Mingyu membuat Wonwoo tak konsentrasi dengan apa yang dibacanya, dia merasa tak enak. Merasa terganggu. Dia tak ingin pemuda tinggi itu mengusiknya.
Saat mereka berdua menghampiri mereka, tatapan Mingyu langsung mengarah kepada Wonwoo, namun kali ini tak setajam biasanya, ada keraguan, maniknya tak fokus.
Begitu tiba Seokmin dan Seungkwan langsung melakukan high-five unik yang entah sejak kapan mereka membuatnya. "Lihat, aku benar saat berkata Seokmin dan Seungkwan akan sangat akrab." Seungcheol menaikkan dagunya tersenyum bangga.
Seokmin duduk disamping Seungkwan melanjutkan lelucon mereka dan membuat yang lainnya pecah dalam gelak tawa. Mingyu menarik kursi disamping Seokmin. Mereka langsung menyerang Mingyu dengan pertanyaan saat melihat memar pada pipinya, sama dengan yang terjadi sebelumnya pada Wonwoo karena plester yang menempel.
Seperti yang diharapkan Wonwoo, Mingyu melakukan kontak mata dengannya terlebih dulu, dan sorot tajam serta kata 'don't' samar dari bibir Wonwoo cukup untuk membuat Mingyu mengerti jika ia tak boleh mengatakan yang sebenarnya. Pemuda yang belum lama duduk itu berakhir dengan menjawab bahwa salah satu pacarnya lah yang melakukannya karena mereka putus.
Teman-temannya ber 'oh' ria, terkekeh dan mengatai Mingyu. Sedangkan Wonwoo mengendikkan bahu, memikirkan bahwa jawaban Mingyu memang masuk akal.
"Kenapa tidak duduk didekat Wonwoo?" tiba-tiba Jeonghan bertanya sambil tersenyum miring. Baik Mingyu maupun Wonwoo sama terkejutnya dengan munculnya pertanyaan yang sangat tiba-tiba itu.
"Eh, dia tak akan menyukainya." Balas Mingyu pelan dengan tampang kikuk.
Wonwoo tidak suka dengan arah percakapan yang dimulai Jeonghan ini, jadi ia buru-buru menimpali Mingyu dengan tajam. "Tentu." Katanya. Dia membalikkan halaman buku lalu lanjut berkata, "bisa-bisa nanti ada seorang gadis yang menyerangku dengan perkataan tak masuk akal lagi." sindirnya.
Mingyu menggigit bibir bawahnya, menyesal dengan kejadian kemarin. Kini ia lah yang tak menyukai arah pembicaraan ini.
"Wah wah, apa yang sudah terjadi memangnya?" Jeonghan penasaran, ia antusias dengan hal semacam ini. Wonwoo sedikit menyesal juga telah mengatakan yang terakhir itu, ia sedang tidak dalam mood untuk berkisah. Namun melihat binar dimata Jeonghan serta beberapa dari temannya yang mulai memperhatikan dan juga isi kepalanya yang berpikir untuk 'menjatuhkan' Mingyu dan membuatnya berhenti mengganggu dirinya, semua hal itu membuat ia memutuskan untuk bercerita.
Wonwoo mengalihkan pandangannya dari buku, menghembuskan napas kasar. "Salah satu pacarnya yang umm menyebalkan dan kekanak-kanakkan memarahiku karena playboy ini."
Jeonghan semakin tertarik, dia memajukan badannya. "Kenapa bisa begitu?" ucapnya dengan semangat, yang lain juga mulai mendengarkan. Wonwoo menaruh bukunya dimeja, ia mendengkus, "um, orang ini," matanya mendelik ke arah Mingyu. "menemuiku kemarin," lalu terdengar dehaman dan bunyi seperti 'wah~' 'uh~' ditambah siulan dari Seokmin yang membuat Wonwoo menggertakkan gigi kesal. Ia tak menceritakan ini untuk digoda oleh teman-temannya. "Ya! Ini karena Jeonghan hyung yang sembarangan memberikan alamat tempat kerjaku padanya." Dia menatap Jeonghan kesal.
"Pardon me okay," ucap Jeonghan dengan ditambahkan aegyo yang membuat Wonwoo ngeri. "Lalu bagaimana seterusnya?"
Mingyu disana sudah merasa tak nyaman, ia menundukkan kepala berharap Wonwoo tak melanjutkan ceritanya.
"Yang ternyata pada hari itu Mingyu sebenarnya sudah ada janji dengan pacarnya." Wonwoo menghela napas lagi, sedangkan Mingyu kini merasa dirinya semakin mengecil, mengecil dan mengecil. "lalu saat kami- maksudku dia dan aku ke kafe, pacarnya ada disana dan gadis itu um—" Wonwoo memberi jeda untuk dirinya yang bergidik mengingat kejadian tersebut. "langsung menempel padanya dan menciuminya, dia merengek ini dan itu yang membuat mereka menjadi pusat perhatian."
Semuanya serius mendengarkan, mata mereka mengarah kepada Wonwoo yang membuat pemuda itu merasa canggung. Dia melirik Mingyu—satu-satunya yang tak memperhatikannya—lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia berpikir untuk melanjutkan ini atau tidak.
"Terus bagaimana?" Kini Seungcheol yang terlihat paling antusias.
"Wonwoo hyung lanjutkan!"
"Wonwoo aku penasaran."
"Ya jangan berpikir kau akan berhenti ditengah-tengah cerita seperti ini." Kata Jihoon tajam.
Wonwoo memejamkan mata, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Well. "Lalu pacarnya itu menatap tajam padaku, sambil tetap memeluk Mingyu dia berteriak padaku mengatakan aku merebut waktu Mingyu dan menggodanya lalu berkata bahwa Mingyu bukanlah gay jadi dia tak akan tertarik padaku." Wonwoo berhenti sejenak, ia mengepalkan kedua tangannya mengingat hal tersebut. Di seberangnya Mingyu sedang menutupi wajahnya dengan sepasang telapak tangan.
"Wah, saat itu aku benar-benar kesal, jika menejer tak segera datang dan mencairkan suasana mungkin aku akan marah dan memakinya begini 'hey bitch! oppamu itu yang menggodaku!'" napas Wonwoo memburu membayangkan jika itu yang sebenarnya terjadi. Jeonghan dan Soonyoung tertawa sambil bertepuk tangan.
"Woah as expected Jeon Wonwoo." Ucap Seungcheol heboh.
"Savage~"
"Ya tapi itu tak terjadi, sialnya aku malah disuruh untuk meminta maaf." Timpal Wonwoo kecewa.
Lalu tiba-tiba Mingyu berdiri dari kursinya dan membungkuk pada Wonwoo, "Seriously I'm really really very extremely so sorry Wonwoo." Dia membuat yang lain terdiam. Terkejut. Apalagi Wonwoo.
Lelaki kutu buku itu diam sejenak, menghela napas. Dia juga sebenarnya merasa tak enak telah membuat Mingyu malu didepan teman-temannya. "Well, lagipula itu sudah terjadi. Kau hanya harus belajar dari perbuatanmu." Balasnya, dia menyuruh Mingyu untuk berhenti membungkuk.
"Ckck Mingyu kau benar-benar pro ya.." Soonyoung menggelengkan kepalanya namun tetap mengacungkan jempol pada Mingyu, "aku iri padamu."
"Then what happened to your girlfriend after that, I mean, you did something right?" Tanya Jisoo yang tak terlalu banyak bereaksi seperti biasanya.
"Aku memarahi dia dan mengatakan yang sebenarnya lalu kami… putus." jawab Mingyu dengan canggung. Semuanya mengangguk-angguk mengerti. Wonwoo sedikit tertegun, dia seharusnya tak merasakan ini namun hati memang seringkali tak sejalan dengan kepala. Dia merasa bersalah.
Mingyu putus dengan sang pacar karena dirinya.
҉
Hari berlalu begitu saja, Wonwoo keluar dari kafe pukul sembilan malam setelah membereskan pekerjaanya. Sambil berjalan ia mengecek handphone yang menunjukkan notifikasi dari percakapan grup, yang dimulai oleh Hansol.
Chwe : Guys, pamanku pulang dari california, dia membawa beberapa wine
Princeofchina : Shit! That is the best news from all the best news in the world today!
Iamthecoolesthere : Jun kau lebay. Btw hansol.. itu Merlot, Cabernet Sauvignon, Chardonnay, Shiraz?
Chwe : binch its chardonnay
Iamthecoolesthere : holy fucking shit I'm ready! ILY hansol 3
Chwe : thanks, I love me too seungcheol hyung
YoonAngel : Um, Soonyoung kurasa kau harus siapkan snack dan movie.
KwonStar : PINTU RUMAH SELALU TERBUKA GAYS
Booboo : excuse me but im not gay.
Wonwoo terkekeh pelan sementara tangannya terus menscroll ke bawah layar, teman-temannya bercanda ringan diobrolan seperti 'Seungkwan bawalah underwearmu nanti, aku tak akan meminjamkannya karena ukuranku tidak akan cukup' dan adapun 'jangan dekati Junhui saat ia mabuk berat atau ia akan menerjangmu.'
Wonwoo baru menyadari kalau anggota group chat mereka bertambah dua dengan username 'SexyKim' dan 'SeokminLaugh'. Ia berdecih melihat nama pengguna Mingyu. Kepercayaan dirinya memang selangit.
Hanya enam dari mereka yang akan menginap dirumah Soonyoung. Sedangkan Seokmin, Jisoo, Jihoon tak bisa ikut karena besoknya mereka punya kelas pagi. Dan mereka bertiga melemparkan ancaman-ancaman jika sampai tak disisakan anggur. Tentu ancaman Jihoon lah yang paling mengerikan.
'Aku akan menaruh wasabi dimata kalian jika sampai tak ada yang tersisa.'
Dan yang lain langsung berjanji untuk menyimpan sebagian.
Sebelumnya rumah Hansol lah yang menjadi tempat berkumpul mereka, namun karena keluarga Soonyoung pindah kota dan ia sekarang sendiri dirumahnya yang besar, maka markasnya berganti, setiap hari selalu ada yang menginap disana, Seungcheol adalah yang paling sering karena rumahnya yang jauh dari kampus.
Wonwoo berpikir untuk ikut juga, meskipun ia tidak terlalu suka dengan alkohol tetapi membayangkan segelas penuh wine dari tempat yang terkenal surganya itu membuat air liur dimulutnya berkumpul. Saat sampai dirumah ia akan meminta izin dari ibunya setelah menemaninya makan dan pergi saat sang ibu sudah tertidur.
Ibunya pasti mengizinkan selama Wonwoo berkata akan kemana dan berapa lama. Beberapa hari yang lalu saat pesta ulang tahun Soonyoung itu adalah salahnya yang lupa menelpon bahwa dirinya akan pulang telat. Kali ini ia berkata jika akan menginap jadi ibunya tak usah khawatir dan terjaga sampai dini hari. Dan tentu ia tak mengatakan pada ibunya bahwa ia akan mabuk-mabukkan dengan teman. Sang ibu mungkin akan pingsan mendadak.
Yeah Jeon Wonwoo adalah anak yang buruk.
"Hey Jeon aku kira kau tak akan datang." Soonyoung menyambutnya dengan sempoyongan, dia tersenyum sangat lebar. Dan Wonwoo langsung melesak masuk menyadari mereka sudah mulai minum dan melihat tampang Soonyoung begitu rasanya pasti menakjubkan.
"Aku ragu kalian akan menyisakannya."
"Eyy~ tentu kita akan menyimpan sedikit, kau tahu kan Jihoon itu tak pernah main-main dengan perkataannya." Ucap Soonyoung sambil cegukan. Begitu mendaratkan pantat diatas sofa, Wonwoo langsung dirangkul Junhui yang mulai mabuk, pemuda china itu membisikkan gombalan-gombalan tak jelas pada telinganya. Wonwoo mendorongnya menjauh kemudian menuang satu gelas penuh wine berwarna merah pekat tersebut. Lelaki itu meminumnya perlahan, menikmati setiap teguknya.
"Shit. Gila ini hebat."
Nampak yang masih sadar hanya Mingyu dan Jeonghan. Entah Wonwoo terhitung atau tidak, dia sudah meminum dua gelas, dan untuk orang sepertinya dua gelas sudah cukup untuk membuatnya mabuk.
Mingyu mendekati Wonwoo, duduk disampingnya lalu menuang cecair anggur pada gelas miliknya.
"Wonwoo.."
Yang dipanggil langsung membalikkan wajahnya, menatap Mingyu dengan mata sayu. Mingyu terdiam menatap sepasang manik kecoklatan Wonwoo, ragu akan melanjutkan perkataannya atau tidak melihat kondisi lawan bicaranya yang sepertinya tak bisa diajak serius.
"What?" Wonwoo memajukan wajahnya, mempersempit jarak. Mingyu sedikit tersentak, matanya melebar tak menyangka dengan tingkah lelaki dihadapannya.
"Aku benar-benar minta maaf untuk kejadian dikafe—"
"Stop stop!" Wonwoo memotong cepat lalu menarik kepalanya lagi, "kau sudah meminta maaf," ia cegukan, "lupakan." Ia cegukan lagi, "karena dengan agak terpaksa aku sudah memaafkanmu." Mingyu mengukir senyum melihat sisi baru pemuda didepannya, sikapnya sangat berbeda ketika mabuk.
"Dan sebenarnya aku juga merasa bersalah."
Wonwoo menyandarkan punggungnya disofa, diikuti oleh Mingyu. "Kenapa? Kau tidak seharusnya."
"Kau putus dengannya karena aku." Jawabnya kemudian menyesap cairan anggur digelasnya.
"Kau berpikiran begitu?" Tanya Mingyu terkejut, ia tak menyangka dengan pernyataan Wonwoo. Kenapa bisa. Kenapa ia merasa bersalah dan bukannya merasa senang mengingat pemuda kutu buku itu sangat sebal terhadap dirinya. "itu bukan karena kau. Aku dengannya memang sudah seharusnya putus."
Wonwoo terkekeh, "Iya juga ya, lagipula pacarmu masih banyak."
Mingyu tak menjawab. Perkataan Wonwoo tak sepenuhnya salah. Ya, masih ada orang lain yang ia kencani tapi tidak bisa dikatakan banyak.
"Kau tidak sedih hubunganmu berakhir?" pertanyaannya diselingi dengan cegukan.
Mingyu kembali tertegun, ia menggaruk tengkuknya. "Um, tidak."
"Kenapa? Orang-orang biasanya sedih saat putus dengan pacarnya." Wonwoo memiringkan kepalanya bingung. Dan Mingyu tak bisa berhenti terkejut, ia tak terbiasa dengan sisi berbeda Wonwoo ini. Suaranya, intonasinya, ekspresi wajahnya, semuanya berbeda. Wonwoo memang cute dimata Mingyu, namun kali ini pemuda dengan mata rubah itu beberapa kali lipat lebih lucu.
"Entahlah, aku tak pernah merasa sedih apalagi saat mengetahui beberapa dari mereka hanya memanfaatkanku."
Wonwoo mengangkat alisnya, mulutnya membulat. Mingyu tersenyum melihatnya. "Memanfaatkan apa? Tubuhmu?"
Pemuda yang lebih tinggi terkekeh, "Mungkin.. tapi yang ku tahu pasti itu uangku."
Wonwoo mengangguk-angguk lalu menuangkan lagi cairan wine dari botol pada gelasnya. "Ah, tak heran~"
Mingyu ingin menghentikan Wonwoo minum lagi, ia sudah mabuk sekarang dan akan jadi bagaimana jika ia terus-menerus meneguk seperti ini. Namun yang lebih tua menepis tangannya dengan cepat.
"Memikirkan bagaimana kau tidak sedih berarti kau tidak mencintai mereka?"
Pertanyaan Wonwoo disambut jeda penjang. Mingyu melemparkan pandangannya pada langit-langit putih ruang tamu Soonyoung.
"Hmm cinta.. tidak. Aku tak pernah merasakannya. Itu terlalu dalam." Kata Mingyu dengan tatapan seakan menerawang sesuatu. Bibirnya menggaris tipis dibawah hidung.
"Jadi para kekasihmu itu, kau hanya main-main dengan mereka?!" Suaranya semakin naik.
"B-bukan begitu juga.. itu, um, bagaimana ya," Mingyu terbata, memikirkan kalimat yang tepat untuk menjelaskan. "mereka lah yang menginginkan untuk menjadi pacarku dan aku tak bisa menolak mereka.."
"Kau menerima setiap orang yang menyatakan perasaannya padamu?!"
"Tidak semuanya, aku tentu agak memilih. Masa jika seorang ahjumma atau noona yang sudah memiliki suami aku terima begitu saja."
"Woah, kau pernah ditembak oleh yang seperti itu?!"
Mingyu terkekeh, kikuk. "Ya begitulah, bahkan ada yang lebih buruk." ia merinding sendiri mengingat-ingat apa saja yang terjadi dimasa lalu.
"Kau benar-benar populer~"
Mingyu hendak berujar lagi namun Jeonghan mengusir mereka dari sofa karena ia mengantuk dan ingin tidur disana. Pemuda yang paling tinggi berdiri tak keberatan, beda dengan Wonwoo yang masih duduk sambil protes kepada lelaki berambut pirang itu. Mingyu menghela napas menyaksikan perdebatan kedua orang yang mabuk dihadapannya, sebelum bertambah buruk pemuda jangkung itu segera menarik Wonwoo menggandengnya menjauh dari sofa.
"Hey sudahlah, masih banyak tempat duduk, rumah ini luas." Ucap Mingyu menenangkan, Wonwoo melepaskan tangan yang lebih tinggi dari bahunya lalu berjalan sempoyongan ke arah tangga sambil bersungut-sungut tak jelas.
Pemuda kurus itu naik ke lantai dua diikuti oleh Mingyu yang berada satu langkah dibelakangnya, tangannya beberapa kali terjulur saat Wonwoo berjalan ceroboh atau tersandung kakinya sendiri. Beruntung yang lebih tua tidak benar-benar terjatuh.
Keduanya duduk bersampingan dibalkon, punggung bersender pada dinding dingin dibelakang mereka. Angin tengah malam menusuk ke pori-pori. Wonwoo merapatkan jaketnya.
"Yah, kenapa kau terus terus saja mengikutiku kesana dan kemari." Omel yang lebih tua.
"Karena aku—"
"Stop, wait, sebelumnya kau bilang para kekasihmu itu adalah orang-orang yang menembakmu duluan. Lalu kenapa kau mengejarku bahkan mengajakku kencan?!" Wonwoo menatap horor orang disampingnya, kedua tangannya disilangkan didepan dada, "kau merencanakan sesuatu yang buruk terhadapku kan? Apa yang akan kau lakukan?! Memanfaatkan otakku? Menjual organ tubuhku?"
Mulut Mingyu terbuka sedari tadi tak tahan untuk menjawab, bagaimana Jeon Wonwoo bisa dramatis begitu.
"Ya ya, mana mungkin aku begitu. Dengarkan dulu oke." Ia menatap mata rubah yang menjauh. "bagaimana aku bisa dijuluki pro jika tak pernah mengejar siapapun. Jika menurutku seseorang itu menarik ataupun menurut kebanyakan orang dia menarik, maka aku akan mencoba mendapatkannya."
"Dan kau mendapatkan mereka dengan mudah." Timpal yang lebih tua.
Mingyu mengangguk, menampilkan senyum bangga. "Dan kau, Wonwoo. Diantara yang menarik tersebut. Kau itu spesial." Ungkapnya. Lalu setelahnya Mingyu menahan diri untuk tak memeluk lelaki disebelahnya itu. Wonwoo sangat lucu sekarang. Wajahnya memerah dengan tampang heran dan malu. Tahu begini ia rela membeli banyak wine mahal hanya untuk Wonwoo.
"Eh?"
"Kau spesial. Kau satu-satunya orang yang menolak tawaran kencanku yang terbilang langka."
Wonwoo bungkam. Meskipun setengah sadar, pikirannya bermain dalam. Ya, siapa yang akan menolak lelaki seperti Kim Mingyu. Hanya dirinya. Ia tidak mau, dan keengganan itu berasal dari rasa takutnya. Kencan. pacaran. Tak pernah sekalipun terpikir oleh kepalanya yang didominasi oleh logika. Dirinya bahkan tidak tahu apakah ia tertarik pada wanita atau pria, atau dua-duanya, dan atau tidak pada keduanya.
"Kau tak pernah berpacaran ya?" Tanya Mingyu memecah keheningan yang panjang.
Wonwoo mengangguk lemah sebagai jawaban. Selama ini ia juga berpikir. Apakah pacaran berguna untuk kehidupannya.
"Bebaskan dirimu Wonwoo. Cobalah banyak hal. Menjalin hubungan, berciuman, bercinta, melakukan hal-hal yang menantangmu. Biarkan perasaanmu meledak-ledak bercampur hingga kau tak tahu bagaimana definisinya, namun kau merasakannya dengan tawa. Jangan terlalu keras pada diri sendiri, itu hanya akan menghasilkan rasa muak. Izinkan dirimu sendiri mencoba semuanya, merasakan semuanya, Wonwoo."
Wonwoo tercenung, wajahnya lurus kepada langit hitam tanpa bintang. Kelam. Seperti dirinya. Terpenjara dalam kotak sempit yang ia buat sendiri. Ia hanya seorang introvert yang tak punya banyak harapan, cukup membiarkan hidupnya berjalan seadanya, tanpa perubahan. Rumah, sekolah, tempat kerja. Ia tak pernah berkunjung ke tempat lain kecuali perjalanan wisata yang diadakan sekolah dulu. Hidupnya selalu datar. Monoton. Tak menarik.
"Aku… entahlah." Wonwoo tak yakin. Matanya dicemari keraguan. Bahkan ia tak tahu sampai kapan ia sanggup berpura-pura kuat.
"Cobalah berpacaran, biarkan hatimu merasakan hal baru." Mingyu tersenyum dan mengalihkan pandangannya mengikuti Wonwoo. Langitnya lebih gelap dari malam kemarin. Mata Mingyu berubah sendu melihat bulan yang menggantung sepi sendiri. "aku tahu basi mengatakan ini, tapi…hidup itu singkat."
Mereka berdua geming untuk waktu yang lama. Angin yang membelai telinga satu-satunya yang bersuara. Mingyu berharap besok Wonwoo akan mengingat pembicaraan mereka ini. Walaupun ia tak yakin untuk perubahan, setidaknya Wonwoo harus ingat jika hidupnya berhak untuk ditambah beberapa warna.
"Atau mau mencoba berpacaran denganku?"
"Jangan bercanda."
Itu bukan candaan. Tapi Mingyu tak menjawab, ia hanya terkekeh kecil. Dia memang belum pantas untuk mendapatkan Wonwoo.
҉
Bunyi alarm dari handphone membuat Wonwoo membuka matanya perlahan. Buram. Pening. Mual. Kepalanya berdenyut keras. Dia merogoh saku jaketnya, mengambil benda seluler tersebut dan melihat jam digital yang menunjukkan angka 08:00. Wonwoo mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, mulai memindai seluruh ruangan. Ia tertidur dilantai ruang keluarga Soonyoung. Kepalanya bersandar diatas lengan seseorang.
Lengan seseorang…
Wonwoo mulai mendapat seluruh kesadarannya. Wine, mabuk, obrolan, cinta, hidup, pacaran.
What the fuck
Ia menelan ludah, perlahan memutar kepalanya ke samping, jantungnya berpacu kencang, matanya sontak melebar saat mendapati wajah Kim Mingyu yang sangat teramat dekat dengan wajahnya. Wonwoo bahkan bisa merasakan hembusan napas pemuda itu.
"Good morning~" ucap Mingyu tiba-tiba dengan suara serak. Manik kecoklatan keduanya saling tatap.
"Horrible morning." Wonwoo segera mengangkat tubuhnya untuk duduk. Ia menajamkan tatapannya pada eksistensi Mingyu.
"Aku sudah menyangka kau akan terkejut dan mungkin sedikit kesal?"
"Sedikit? Aku sangat kesal. Kau!" dia mengarahkan jari telunjuknya pada Mingyu yang kini mulai mendudukan diri. "Kau memanfaatkanku yang sedang mabuk kan?! Mencuri-curi kesempatan?!"
Mingyu mendengkus, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Aku bisa saja begitu, tapi tentu saja kemarin malam tidak. Cobalah ingat-ingat lagi."
Wonwoo diam, kepalanya berusaha mengingat-ingat lagi kejadian semalam. Masih pagi namun pikirannya harus bekerja sekeras ini.
Ia meletakkan telapak tangan pada keningnya. Ia ingat saat dirinya menarik lengan Mingyu untuk turun ke lantai bawah. Mengeluh bahwa ia harus segera tidur karena besoknya harus bangun pagi. Ia tak henti mengumpat saat mendapati semua sofa yang nyaman sudah ditempati. Soonyoung mengunci diri dikamarnya bersama Yura yang entah sejak kapan datangnya. Dan Junhui, dia sendirian dikasur yang besar tapi Wonwoo jelas enggan tidur dengannya saat mabuk begitu.
Lalu dia mengerang, dan membaringkan diri begitu saja dilantai tempatnya berdiri yang dilapisi karpet. Wonwoo ingat dia mengeluh kepalanya sakit jadi dia mengomel pada Mingyu untuk meminjam lengannya.
Oh My God.
Wonwoo menjambak rambutnya sendiri.
Dia tak ingin mabuk didekat Kim Mingyu lagi.
Mingyu tertawa, "Lihat, siapa yang memanfaatkan siapa."
"Shut up. Aku mabuk jadi anggap saja tak pernah terjadi."
Wonwoo berdiri lalu membenarkan rambutnya. Mingyu menghentikan tawanya, dia menyunggingkan senyum sendu.
"Biar aku antar, aku membawa mobil."
Wonwoo dengan cepat menolak. Tapi Mingyu tentu tak cepat menyerah.
"Kau buru-buru kan, akan lebih cepat dengan mobil. Menunggu bus ataupun berjalan kaki sama lamanya, dan taksi um…kurasa kau harus menghemat uangmu?" Mingyu mengangkat bahu, ia smirk dan alisnya terangkat saat Wonwoo menatapnya jengkel.
"Tidak usah."
"Ayolah~ apa ruginya, kau akan sampai dengan cepat tanpa mengeluarkan sepeserpun. Tak baik menolak niat baik orang."
Wonwoo hendak menolak lagi, namun teleponnya berbunyi. Nama ibunya muncul dilayar dan dia langsung menekan logo hijau. Ia menjauh dari Mingyu untuk berbicara dengan seseorang diseberang sana, maniknya berkilat khawatir, tangannya gemetaran, keringat mengucur dari pelipisnya.
Wonwoo menutup telepon, dia berjalan menghampiri Mingyu, menunduk. Tangannya yang bergetar terulur untuk memegang tangan Mingyu. Yang lebih tinggi terkejut dengan dinginnya telapak tangan Wonwoo.
"Mingyu…"
Wonwoo mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca.
"antar aku ke rumah sakit."
*.*
Song rec : Heize - Star
a/n : akhirnya update juga~ mohon masukannya ya, aku gak tahu ini kecepetan atau nggak alurnya
Thanks for reading~
