Wonwoo termangu, berdiri diam di bubungan atap rumah sakit, matanya kosong menerawang jauh tak terpancang pada apapun. Gedung-gedung pencakar langit terasa mengerubunginya, menghinanya.
"Tuhan membenciku ya Mingyu." Jelas bukan pertanyaan. Sarkasme, pada dirinya sendiri.
Mingyu yang sedari tadi berdiri dibelakangnya menghampiri, lebih dekat pada ujung rooftop, pada Wonwoo.
"Mungkin bagi Tuhan juga kau spesial, Dia tahu kau kuat."
Wonwoo terkekeh, tetes air mengintip dari ujung matanya. "Kuat? Aku bisa saja terjun dari sini sekarang."
"Wonwoo…" lengan bajunya disentuh khawatir.
"Mingyu kau tidak mengerti, ini, ini keterlaluan untukku. Aku tak sekuat itu." Wonwoo tersenyum. Senyuman tak selalu tentang bahagia bukan. Miliknya hampa. Hanya sudut bibir yang tertarik ke atas. Memilukan.
"Aku akan membantu, yang lain pun juga. Kau tidak sendiri Wonwoo."
"Kau dan yang lainnya sudah terlalu baik padaku, apalagi yang harus aku terima."
Tangan Mingyu terkepal, ia kesal. Baru kali ini ia benar-benar kesal pada sikap keras kepala Wonwoo.
"Lalu kau mau apa? Bekerja sampai tenagamu habis dan membiarkan ibumu tersiksa? Atau membunuh dirimu sendiri dan tak menyelesaikan apapun? Aku yakin kau tidak sebodoh itu Wonwoo."
"Aku harus bagaimana Mingyu?! Aku malu, mereka sudah sering membantuku. Aku mungkin tidak akan kuliah lagi sekarang jika dulu Soonyoung dan Seungcheol tidak membantu kekurangan biayaku. Dan kini aku harus meminta lagi?! Kau tidak akan pernah tahu perasaanku Mingyu."
"Tapi kau tak punya pilihan lain Wonwoo!"
Yang lebih tua sedikit tersentak, Mingyu berseru keras tepat disampingnya.
"Waktu akan selalu berjalan, dan kau bisa membayar semua bantuan temanmu kelak."
Wonwoo diam, berpikir lagi, bingung. Kepalanya sangat sakit. Apa dirinya harus menuruti kata Mingyu. Menyusahkan teman-temannya lagi.
Aku ingin waktu berhenti saja.
Mendadak lengan Wonwoo dicengkram, ditarik oleh Mingyu dengan tegas.
"M-mingyu apa—"
"Ayo ke bawah, suruh dokter melakukan operasinya sekarang."
"Tapi Mingyu—"
"Aku tak ingin dibantah sekarang." Tajam. Perkataan Mingyu diakhiri dengan penuh penekanan. Dia membuat kontak mata sekejap dengan yang lebih tua.
Dan Wonwoo langsung bungkam.
I hate my life.
.
.
"Kami menemukan tumor dimata ibumu."
Wonwoo bergeming. Tangannya gemetaran. Ingin berteriak pada orang yang memakai jas putih dan kacamata kotak didepannya kalau bercanda jangan berlebihan. Tapi konyol. Kenyataan begitu menghantam keras dirinya. Rasa takut sudah tidak bisa dibayangkan.
Wonwoo menggerakkan bibirnya ragu-ragu.
"A-apa?"
Ia kehabisan kata-kata, kepalanya masih belum bisa menerima semua ini.
Dokter memperlihatkan hasil scan MRI pada dirinya. "Tampak tumor berkembang pada iris, mendorong lensa mata ibumu menyebabkan opacity kornea dan hilangnya penglihatan."
"Jadi ibuku tak bisa melihat bukan karena kecelakaan?" jemari Wonwoo yang bergetar memijit pelipisnya. Kaget, bingung, takut. Ia tak tahu lagi.
"Bukan begitu, beliau memang kehilangan penglihatan karena kerusakan kornea yang sangat dalam saat kecelakaan. Tumor ini terjadi tak lama setelahnya, perkembangannya memang tergolong lambat. Namun dalam kasus ibumu, karena matanya memang sudah luka jadi operasi harus segera dilakukan. Jika tidak maka akan menyebar ke hati."
Pandangan Wonwoo mengabur, cairan bening berkumpul ingin turun. Ia tak mau mendengar semua ini. Kenapa nasib sang ibu begitu malang begini. Ibunya orang yang baik. Apakah takdir membenci orang baik.
Dia ingin lari, berteriak, menghajar apapun yang ada disekelilingnya.
"Maaf, Wonwoo—"
"Apakah ibuku tahu?"
"Tentu, kami membicarakannya dengan beliau begitu sadarkan diri."
"Lalu bagaimana katanya?"
Ia memandang wajah dokter tersebut. Nampak kerutan kecil dikening sang dokter menunjukkan kekhawatiran.
"Beliau awalnya menolak untuk dioperasi."
"Ke-kenapa?" vokal Wonwoo bergetar. Tak menyangka dengan jawaban yang ia dengar.
"Beliau berkata bahwa sia-sia karena penglihatannya memang sudah hilang."
Bahu Wonwoo merosot, ia mengalihkan pandangan pada lantai putih bersih. Bayangan wajahnya yang buram terlihat menyedihkan.
"Tapi Wonwoo, bila tumor dimata ibumu tidak segera dioperasi, bukan hanya sakit tak tertahankan saja yang bisa menyerang tubuh, tapi beliau juga bisa kehilangan nyawanya."
.
.
Wonwoo menundukkan kepalanya dalam-dalam, kedua tangan bertautan erat, harapan tak henti terucap dari hati. Disampingnya Mingyu ikut berdoa. Kehadirannya memberi kekuatan bagi Wonwoo. Sebab ia tak tahu, akan bagaimana dirinya jika Mingyu tak ikut.
Akan seperti apa, jika ia tak mengenal Mingyu.
Waktu berlalu sangat lambat, bunyi jarum jam ditangan Wonwoo serasa mencekiknya. Keringat tak henti mengalir dari pelipis. Ia tak sanggup menahan gejolak dihatinya. Ketakutan tak dapat diimaginer. Kakinya diketuk-ketukkan dengan cepat pada keramik rumah sakit.
"Wonwoo," Mingyu menyentuh lembut tangannya, tersenyum menenangkan. "everything will be fine."
Kaki Wonwoo berhenti bergerak, kedua tangannya menguatkan cengkraman.
Aku harap juga begitu.
Setelah beberapa jam yang menyiksa, pintu ruang operasi terbuka. Wonwoo bergegas lari menghampiri dokter berjubah hijau, dan saat dia melepaskan maskernya. seluruh otot tubuh Wonwoo melemas.
Dokter tersebut tersenyum seraya berkata, "Operasinya berhasil, ibumu akan segera dipindahkan ke ruang perawatan."
Mingyu langsung memegang tubuh Wonwoo yang mulai limbung.
"Apa kataku." Pemuda tinggi itu tersenyum sambil mengusap bahu kurus yang masih bergetar.
҉
Kelopak mata tunggal itu mengerjap, perlahan membuka pandangan. Putih. Wonwoo menegakkan badannya yang sebelumnya tidur dengan kepala bertumpu pada ranjang sang ibu yang masih terbaring. Perban melilit kepalanya yang menutupi bagian mata.
Wonwoo memandang ibunya lama. Dan sesak itu kembali mendatangi dada. Ribuan kata tanya 'kenapa' memenuhi kepalanya bagai gas dalam balon yang siap meledak.
Ia merogoh saku jaketnya mengambil handphone, untuk menghubungi Soonyoung jika ia tak bisa masuk kelas hari ini karena sakit. Wonwoo tak ingin menceritakan hal ini pada siapapun, ia hanya akan membuat mereka khawatir dan menambah beban.
Mingyu pulang larut malam dengan paksaan Wonwoo, sebab bagaimana orang itu masih bersikeras ingin menemaninya setelah membantu banyak hal. Wonwoo tentu tak ingin menyusahkannya lagi. Ia juga memikirkan kapan bisa melunasi hutangnya pada Mingyu. Kenapa Mingyu dengan semudah itu mau membiayai operasi ibunya. Apakah uangnya tidak habis. Apa memangnya pekerjaan Mingyu. Apa ia sekaya itu. Dimana rumahnya.
Wonwoo sadar bahwa ia tak tahu apapun tentang Mingyu.
Dia mengecek handphone membuka kotak pesan lalu menyentuh salah satu yang tanpa nama. Membaca lagi satu-satunya kalimat disana. Wonwoo menekan tulisan 'Save Number' kemudian mengetikkan pesan.
To: Mingyu
Terimakasih, Mingyu.
Terkirim. Wonwoo menghela napas dalam. Apa yang harus ia lakukan untuk membayar uang sebanyak itu.
҉
Tubuh jangkung telentang diatas sofa hitam, tangannya terangkat memegang ponsel. Layar persegi itu ditatapnya lama sambil menyunggingkan bibir. Ia melempar pandangan pada suasana kota yang terlihat dari dinding kaca. Lalu berdiri dan bergegas ke kamar mandi.
҉
Jari telunjuk bergerak lemah.
"I-ibu!"
Wonwoo membelalakkan mata lalu dengan cepat memanggil dokter.
Takdir memang selalu mempermainkan hidup Wonwoo. Namun juga rasa terima kasih selalu terselip, salah satunya adalah sang ibu masih berada disamping dirinya.
Dokter dan perawatnya memeriksa keadaan ibu Wonwoo, stetoskop bergerak kesana-kemari, selang infus diputar, suntikkan, obat, Wonwoo menggigiti kukunya cemas.
"Bagaimana dokter?" tanya pemuda bermarga jeon itu begitu dokter melepaskan stetoskop ditelinganya.
"Keadaannya membaik jangan khawatir, pastikan ibumu makan dan meminum obatnya secara teratur."
Wonwoo menghembuskan napas lega, dia kembali duduk disamping ibunya saat dokter itu keluar dari ruangan. Tangan ringkih ibunya ia genggam perlahan.
"Wonwoo…" suara yang sangat parau, membuat yang mendengar merasa sakit.
"Iya bu?"
"Kau mendapat uang darimana?" tanya sang ibu pelan.
"Ibu jangan khawatirkan itu, sebaiknya sekarang makan lalu minum obat, biar aku suapi."
"Tapi Wonwoo bagaimana kau…"
"Ibu. Percaya padaku kan?" kata Wonwoo lembut, namun matanya berair.
Ibu Jeon mengangguk, menguatkan genggamannya pada sang anak.
Wonwoo merawat ibunya dengan baik, penuh hati-hati dan lembut. Sang ibu sangat rapuh dimatanya, satu perlakuan yang berlebihan saja ia takut akan menyakiti ibunya.
Pintu tiba-tiba terbuka, menampakkan eksistensi Kim Mingyu dengan buket bunga baby's breath dan satu keranjang buah-buahan.
Wonwoo terkejut, apalagi yang pemuda kaya raya itu lakukan disini. Lalu bunga dan buah-buahan, itu membuat Wonwoo semakin tak enak.
"Mingyu." Helaan napas lelah menyusul.
"Selamat pagi Wonwoo dan Nyonya Jeon." Mingyu melangkah mendekati, menyimpan keranjang buah dimeja.
"Mingyu? Aku belum pernah mendengar namamu." Ucap nyonya Jeon, kepalanya bergerak pada posisi Mingyu berada.
"Perkenalkan aku Kim Mingyu, teman baru Wonwoo." Ia membungkuk sopan, meskipun tak terlihat. Buket bunga ia serahkan pada tangan ibu temannya.
Teman?
Sejak kapan?
"Apa ini." Nyonya Jeon meraba-raba kumpulan bunga putih kecil itu. Kemudian ia tersenyum, "Terimakasih Mingyu."
Wonwoo menatapnya capek, ini tak menghiburnya. Ia memang senang melihat ibunya tersenyum, tapi pemuda itu tak bisa terus-menerus menerima pemberian dari Mingyu.
Wonwoo membawa teman barunya itu keluar sebentar menjauhi ruangan.
"Mingyu berhentilah."
"Berhenti apa?" tanya Mingyu memiringkan kepalanya.
"Memberi ini dan itu, kau sudah sangat membantu. Aku tak mau menyusahkanmu. Lagipula hutangku begitu banyak."
"Wonwoo kau yang harusnya berhenti. Berhentilah terlalu memikirkan apapun. Apa kamu memang selalu berlebihan seperti itu?"
Tidak.
Wonwoo bukan orang yang terlalu membawa perasaan, dia tidak begitu. Hanya saja perlakuan Mingyu padanya itu memang berbeda. Ia menganggap Mingyu terlalu, maka rasa tak enak padanya pun begitu.
"Aku ingin secepatnya mengembalikan uangmu Mingyu."
"Tenang saja, kau bisa mengembalikannya dengan cepat."
"Bagaimana kau berpikir begitu?" Dia tak mengerti lagi, Mingyu menganggap enteng semuanya seperti ia yang mengatur. Memangnya dia siapa.
"Bekerja lah padaku."
Wonwoo menatap horor lawan bicaranya. Sebab ia tahu bagaimana kepribadian Mingyu.
Bekerja dengannya?
Sebagai apa?
Dia tak menjawab, tubuhnya refleks menjauhi Mingyu.
"Hey, bisakah kau sekali saja berpikir hal baik tentangku?!" pemuda yang lebih tinggi itu cemberut, dicurigai terus menerus oleh gebetan itu tak enak.
Wonwoo mendelik, "Kau akan menggunakanku untuk apa?"
"Ckck, kata yang kau pilih itu." Mingyu mendekat satu langkah. "Aku punya sebuah restoran, bukan sepenuhnya milikku sebenarnya. Dan disana kami kekurangan pegawai." Wonwoo mulai mengerti, tapi ia kan sudah punya pekerjaan.
"Upahnya cukup besar, dua sampai tiga kali lipat dari gajimu dikafe. Jadi kau bisa membayar padaku setengah dari penghasilanmu nanti."
Mingyu semakin mendekat, menatap Wonwoo mencari jawaban dari matanya.
"Bagaimana?"
Yang lebih tua masih diam, karena pinjamannya kepada Mingyu tetap butuh waktu lama untuk dilunasi. Namun jika ia tetap bekerja ditempat-tempat lamanya itu sama saja. Bagaimana ini.
"Wonwoo?" Mingyu menuntut jawaban, Wonwoo berpikir terlalu lama.
"Baiklah."
"Apa?" Mingyu memang mengharapkan jawaban positif, tapi ia masih tak percaya.
"Baiklah kataku, aku setuju."
"Serius?"
"Tidak."
"Wonwooo!"
"Ya serius, jangan membuatku mengulang pernyataan." Jawab yang lebih tua jengkel. "Dan juga sejak kapan aku menjadi temanmu?"
"Kau tak menganggapku sebagai teman?!" Mingyu balik bertanya dengan intonasi yang sedikit berlebihan.
"Belum." Balas Wonwoo singkat. Mingyu membelalakkan mata tak percaya, bagaimana mau jadi pacar, setelah apa yang ia lakukan bahkan dirinya belum dianggap teman oleh pemuda datar cuek dan savage—tapi cute—itu.
"Kalau begitu maukah kau jadi temanku?" Mingyu mengulurkan tangan seperti seseorang yang mengajak pasangannya untuk berdansa.
Wonwoo diam sejenak. "Baiklah dan turunkan tanganmu itu." Uluran tangan itu ditarik kembali, kini Mingyu menatap wajah Wonwoo yang masih flat dengan tatapan 'seriously?'karena,
"Begitu saja? Aku resmi menjadi temanmu sekarang? Hanya tinggal bertanya?"
"Ya, lagipula kau sering berbuat baik padaku."
Woah, Jeon Wonwoo benar-benar unik.
҉
"Kau sakit apa kemarin bro?" Soonyoung merangkul Wonwoo begitu sang bro melewati gerbang kampus. Pemuda yang mirip hamster—menurut Wonwoo—itu bilang akan menanti kedatangannya saat kemarin ia membalas pesan Soonyoung bahwa dirinya akan masuk kuliah esok hari.
"Tak enak badan saja."
"Tapi biasanya walaupun sakit kau tetap berangkat. Benar tidak apa-apa?" tanya Soonyoung lagi, dia memang selalu khawatir kepada Wonwoo.
"I'm okay Soonyoung, my hyper friend."
"What kind of hyper?"
"Hyperhyper."
"What the fuck is hyperhyper?!"
"Soonyoung language."
Jisoo tiba-tiba muncul dibelakang mereka berdua, dia menyapa Wonwoo dan kembali menceramahi Soonyoung.
"Are you feeling well today?" tanya Jisoo, ia kini berjalan disamping Wonwoo.
"Very well, hyung." Mereka berdua melanjutkan percakapan, tentang kelas kemarin, hal-hal lucu yang Wonwoo lewatkan, dosen sejarah yang mendadak mencukur habis rambutnya, dan obrolan lain yang membuat Wonwoo tertawa. Sedangkan disamping kanan, Soonyoung masih bengong memikirkan apa itu hyperhyper.
҉
"Wonwoo I miss you soooooo much~" Jun langsung berhiperbola ketika Wonwoo datang ke kantin. Dia merentangkan tangannya hendak memeluk pemuda yang dirindukannya itu, dan seperti diduga, ajakan pelukan itu ditolak dengan cuek. Wonwoo langsung duduk dikursi yang berseberangan dengan Jun.
"Aku hanya tak masuk sehari, jangan lebay." Ucap Wonwoo dengan akhir yang tajam, Jun langsung memegangi dadanya, "Ouch, kalau sudah kejam seperti ini berarti kau memang sembuh." Wonwoo memutarkan bola matanya malas, Jun memang selalu seperti itu.
"Tapi Wonwoo, apa kau benar-benar sakit?" Jeonghan mengangkat alis, dia mencurigai sesuatu. Wonwoo mendadak gugup, apa Jeonghan tahu yang sebenarnya.
"Kau berpikiran apa hyung?" tanya Wonwoo hati-hati, ia menggigit bibir wajahnya.
"Tidak Wonwoo, hanya saja kemarin Mingyu juga tak masuk kelas pagi."
Ah anak itu ya, lagi pula kenapa dia datang pagi-pagi ke rumah sakit sih.
"Oh, entahlah." Jawabnya sembari menggendikkan bahu. Tentu ia bohong, jika dia bilang Mingyu ada bersamanya kemarin, pasti mereka akan bertanya bagaimana sebab kejadiannya dan Wonwoo tak ingin menceritakan tentang ibunya. Teman-temannya tahu bagaimana rasa sayang Wonwoo pada sang ibu dan mereka pasti sangat khawatir. Wonwoo benci itu, Ia tak mau membuat mereka merasa kasihan padanya.
Mingyu baru sampai di kantin, dia dengan santainya duduk disamping Wonwoo. Dan saat pemuda pecinta buku itu mendelik tajam, Mingyu membalasnya dengan kedipan. Wonwoo mendengus. Sang buaya Mingyu beraksi lagi.
Jeonghan berdehem. Meskipun tak memandang dirinya, tapi Wonwoo tahu deheman itu untuk apa.
"Hey Wonwoo hyung apa itu primero comemos, entonces lo demas?" Hansol yang baru datang membuat yang ada disana menghentikan kegiatan mereka. Karena dia berlarian dan bertanya dengan panik dan juga apa yang sedang dibicarakannya itu.
"Makan lebih dulu baru lakukan hal lainnya." Jawab Wonwoo langsung tanpa berpikir.
"Aku tidak lapar hyung jawab saja dulu pertanyaanku." Hansol makin tak sabaran, dia menggoyang-goyangkan tubuh Wonwoo.
"Itu jawabannya Hansol."
"Artinya makan lebih dulu baru lakukan hal lainnya?" Tanya Hansol lagi, Wonwoo mengangguk sebagai jawaban. Hansol mematung, bola matanya bergerak ke atas berpikir.
"Wow, kau tahu darimana?" Mingyu berdecak kagum.
"Novel." Wonwoo mengangkat bahunya, lalu meminum lemon tea yang sedari tadi ia abaikan.
Yang lainnya pun terkesan, tapi bukan hal biasa, Wonwoo adalah kamus dan ensiklopedia hidup bagi mereka, pertanyaan aneh pun Wonwoo sering bisa jawab.
"Wah aku kira apa, Nana mengucapkan itu padaku saat aku akan menciumnya, dan dia langsung pergi. Lalu aku seketika panik takut dia meminta putus dengan bahasa yang tak aku mengerti. Wah aku sangat lega sekarang." Hansol mengusap-usap dadanya lalu duduk dikursi yang masih kosong.
"Nana-mu disana Chwe." Jeonghan mengarahkan telunjuk ke samping, dimana kekasih Hansol sedang makan satu mangkuk besar ramen.
"Dia benar-benar tukang makan." Hansol menggelengkan kepalanya melihat sang pacar yang mengabaikan dirinya padahal ia tadi heboh tak jauh dari tempat duduknya.
"Hey jangan lupa hari ini kau ikut denganku." Saat semuanya sedang bercanda, Mingyu diam-diam berbisik pada orang disampingnya.
"Ya." Wonwoo menjawab singkat, sekaligus terselip peringatan pada Mingyu untuk tidak berkata apapun lagi.
҉
Wonwoo berdiri jauh diluar gerbang, beruntung hari ini kelasnya hanya sebentar jadi ia langsung pamit pada teman-temannya setelah makan siang. Tangan dilipatkan erat didada, meskipun matahari sedang naik angin musim gugur tetap terasa dingin. Dia mengetuk-ketukkan kakinya diatas trotoar. Menunggu memang tak pernah menyenangkan.
Mingyu akan pulang bersamanya hari ini, bukan pulang dalam artian yang sebenarnya. Mereka akan pergi ke restoran dimana Wonwoo akan bekerja. Dan lelaki yang sedang berdiri kebosanan itu meminta Mingyu agar pergi beberapa lama setelah dirinya, namun ia tak menyangka akan selama ini. Wonwoo telah berdiri disana hampir setengah jam dan pemuda genit jangkung itu belum menampakkan diri.
Dia sejujurnya ingin segera ke rumah sakit untuk menemani ibunya, tapi pinjamannya pada Mingyu adalah kewajiban yang ingin segera ia lunasi. Ia tak betah harus berlama-lama dengan beban tersebut. Setidaknya perasaan Wonwoo bisa lebih tenang karena ada seorang perawat yang menjaga ibunya, ia juga kemarin sudah memohon pada perawat tersebut untuk selalu memperhatikan sang ibu. Dan perawat wanita itu memastikan segalanya akan baik-baik saja jadi dia tidak usah khawatir. Ya, Wonwoo lega meski tak sepenuhnya.
Wonwoo hampir menyerah dan hendak menghubungi Mingyu melalui telepon. Tapi belum sempat mengeluarkan handphonenya, mobil sport hitam keluar dari gerbang dan kepala Mingyu muncul dari jendela pengemudi, dia tersenyum lebar memamerkan giginya dan melambai pada Wonwoo yang masih kesal.
"Ayo naik." Ucap Mingyu senang.
Wonwoo melangkah menuju pintu belakang, baru saja menarik pegangannya Mingyu mengomeli, "Hey duduk didepan, aku bukan sopir taksi tau." Dia memajukan bibir, Wonwoo anti dekat-dekat dengannya atau gimana.
Yang lebih tua menghela napas, dia akhirnya duduk didepan bersampingan dengan Mingyu yang mulai melajukan mobil.
"Kenapa kau…" Wonwoo hendak protes dengan Mingyu yang kelamaan menyusulnya, namun ia tarik kembali ucapan selanjutnya sebab kedengarannya ia mengharapkan lelaki playboy itu.
"Huh?"
"Tidak."
"Eyy, kalau mau bicara lanjutkan sampai selesai kalau tidak nanti sariawan."
"Mingyu aku bukan anak kecil, aku tak percaya dengan hal seperti itu."
"Aku tak berbohong, aku pernah mengalaminya dulu."
Wonwoo melemparkan tatapan 'apa-kau-bercanda-karena-itu-kekanak-kanakkan' pada lawan bicaranya yang tetap fokus menyetir.
"Kau tentu tak akan percaya, pokoknya jangan sampai menyesal kalau nanti sariawan."
"Terserahlah."
Wonwoo sekarang tak mengerti kenapa banyak orang tergila-gila padanya, karena selain playboy kelas berat, Mingyu juga idiot.
҉
Mereka sampai didepan bangunan besar dengan ukiran elegan didinding bagian atas bertuliskan 'Eatalia Restaurante', fontnya begitu cantik dan warna coklat keemasan menambah kesan mewah restoran.
Mingyu memarkirkan mobil diparking area samping restoran, mereka berdua turun, sang pemilik restoran itu mengajak Wonwoo yang masih bengong ke pintu belakang, mereka masuk ke bagian dapur dan persediaan bahan makanan, para chef yang melihat kedatangan Mingyu menyempatkan diri untuk membungkuk kecil dan menyapa lalu kembali pada kegiatan mereka masing-masing.
Wonwoo yang kini mulai sadar dari ketakjuban dan ketidakpercayaannya berkata. "Kau tidak akan menempatkanku didapur kan?"
Mingyu tertawa kecil dia berbisik, "Tentu saja, aku tahu kau tak bisa memasak bahkan memotong sayuran sekalipun."
"Ya! Kau tahu darimana?!" Wonwoo mendelik kesal pada orang yang barusan menghinanya itu.
"Hanya tahu saja." Jawab Mingyu dengan tambahan smirk yang ia tunjukkan tepat didepan wajah Wonwoo.
Mereka masuk kedalam ruangan yang tidak terlalu besar, didalamnya terdapat sebuah kursi juga satu meja yang diatasnya terdapat komputer, tumpukkan buku dan berkas bermap, vas bunga kotak berisi Lavender dan asbak. Dibelakang kursi ada rak buku dan cd lalu ada tempat sampah disampingnya.
"Ini ruanganku." Kata Mingyu, dia mendaratkan pantatnya diatas kursi empuk satu-satunya disana. "Tak ada papan nama karena ini belum sepenuhnya milikku, setelah aku menyelesaikan studi namaku akan terpajang disini." Ia menunjuk meja, tersenyum bangga.
"Jadi intinya kau adalah anak dari pasangan yang kaya raya." Mingyu kira dia akan mendapat pujian atau ucapan selamat berjuang dan semoga sukses dari Wonwoo, tapi yang ia dapat melenceng jauh.
"Restoran ini adalah bisnis ayahku sebelumnya." Mingyu menunduk, tindakan itu membuat Wonwoo tak ingin bertanya lebih jauh.
"Jadi apa pekerjaanku?" Wonwoo lebih memilih mengalihkan topik dan memang itu tujuan dia disini. Juga Mingyu seharusnya membawa minimal satu kursi lagi ke ruangannya ini, tak nyaman juga dia terus berdiri sedangkan calon atasannya ini duduk.
"Sekretaris pribadiku."
"Mingyu aku tahu kau bercanda."
Lelaki yang duduk itu terkekeh, dia berdiri menghampiri Wonwoo. "Aku kira kau percaya," dia terkekeh lagi. "Kau akan jadi waiter."
Mereka lalu berjalan lagi keluar ruangan menuju tempat utama alias ruangan dimana para pelanggan menikmati hidangan italia dengan duduk manis diatas kursi yang nyaman dengan interior klasik yang mewah. Desain tempat ini sangat elegan, kesan Roma begitu terasa.
Mingyu mengenalkan Wonwoo kepada menejer dan beberapa waiter lain disana, semuanya ramah dan terlihat muda. Kecuali sang menejer yang merupakan seorang wanita paruh baya dengan paras berwibawa, yang dari wajahnya saja kita tahu bahwa dia dapat dipercaya.
"Dia akan bekerja mulai besok saat shift kedua atau ketiga."
Wonwoo terkejut, dia kira Mingyu akan membiarkan ia langsung kerja hari ini. Dia sedikit kecewa, tapi mungkin saja Mingyu mempunyai alasan yang masuk akal.
"Mohon bimbingannya." Wonwoo membungkuk sopan sembilan puluh derajat, sebelum ia ditarik lagi mengelilingi restoran oleh Mingyu.
"Aku tidak langsung bekerja sekarang?" tanya Wonwoo ketika mereka masuk lagi ke ruangan Mingyu.
"Tidak, ada beberapa yang harus kau pelajari," ia mengambil sebuah buku tebal dengan judul besar yaitu 'panduan'. "kau harus membaca ini, banyak orang italia yang belum fasih bahasa korea datang kesini, jadi terdapat beberapa kosakata yang sering digunakan juga aturan-aturan lainnya seperti cara bersikap dan hal apa saja yang tak boleh dilakukan." Lanjut Mingyu, ia menyerahkan buku bersampul coklat tersebut pada Wonwoo.
"Baiklah." Ini sangat berbeda dengan dikafe, dulu ia hanya tinggal bekerja tanpa panduan apapun, yang harus ia lakukan hanyalah bersopan santun.
Keduanya keluar ruangan lagi, Mingyu berbicara dulu dengan menejer sebelum pamit dan keluar menuju tempat parker.
"Kau tidak tetap direstoran?"
"Karena ini belum resmi milikku, semuanya diatur dan ditangani oleh menejer dulu. Aku harus belajar dengan benar dan menambah wawasan sampai kuliahku beres. Tapi aku selalu ikut membantu perkembangan restoran kok."
Wonwoo sedikit demi sedikit tahu mengenai Mingyu, dia kira yang pemuda itu lakukan selama ini hanyalah berkencan. Kita memang tak boleh sembarangan menilai seseorang yang baru kita kenal.
Mereka menaiki mobil lagi, sorotan matahari mulai melemah, senja sudah mau muncul. Lalu lintas masih padat. Wonwoo berkata dalam hatinya semoga ini adalah keputusan yang baik, berhenti dari pekerjaan ia sebelumnya kecuali diperpustakaan karena jika akhir pekan ia masih sempat bekerja dan bayarannya juga lumayan untuk menambah penghasilan. Semoga semuanya akan membaik.
"Mingyu maaf tapi bisakah kau antarkan aku ke rumah dulu, aku ingin membawa beberapa baju."
"Tentu saja."
Wonwoo akan tinggal dirumah sakit sampai keadaan ibunya membaik dan dibolehkan pulang.
Mingyu menyalakan pemutar musik, lagu-lagu dari penyanyi indie menemani mereka berdua diperjalanan. Wonwoo diam menikmati, musik dari Acourve, Cheeze atau King of Convenience adalah tipenya. Dia terkejut juga Mingyu menikmati lagu-lagu seperti ini.
Mereka tiba dirumah Wonwoo, keduanya masuk dan Wonwoo baru sadar jika dua hari ini rumahnya tidak dikunci. Dia berharap semoga tidak terjadi pencurian atau apapun.
Wonwoo langsung masuk ke kamarnya dan dia sedikit risih karena diikuti Mingyu, tak bisakah orang itu menunggunya diruang tamu saja.
"Kau membaca komik juga?" Mingyu bertanya ketika ia melihat beberapa series dari Marvel di rak buku Wonwoo.
"Hanya Guardians of the Galaxy."
"Damn Wonwoo aku juga sangat menyukai itu." Mingyu mengambil salah satu bukunya.
"Aku tak terkejut, kau seperti Peter Quill." Jawab Wonwoo santai sambil memilih baju dari lemari dan melipatnya.
"Apa?!" Mingyu menghampiri Wonwoo, "He is an idiot!"
"Just like you." Wonwoo mengangkat bahu, sedikit terkikih.
"Tapi aku keren!" Mingyu masih protes membela dirinya.
"Peter Quill juga keren."
"Jadi kau mengakui aku keren?"
"I don't say like that!"
"Wonwoo aku tahu kau juga mengagumiku."
"Yak!"
"Kau blushing~"
"Tidak!" Wonwoo berkaca, dan telinganya memang merah tapi apa benar gara-gara itu. "whatsoever." Dia mengabaikan Mingyu dan kembali memasukkan bajunya.
Wonwoo selesai mengemas baju dan buku-bukunya mengajak Mingyu yang masih duduk dikasur untuk segera keluar, namun yang lebih muda bergeming, dia menatap Wonwoo intens.
"A-apa yang kau lihat, ayo cepat."
Mingyu tak menjawab, dia menggerakkan tangannya lalu menarik kedua lengan Wonwoo dengan cukup kuat hingga dia terjatuh diatas tubuh jangkung Mingyu.
Mereka bertatapan, Mingyu masih tak bicara, dia terus manajamkan tatapannya pada sepasang manik kecoklatan Wonwoo yang berusaha melepaskan cengkraman erat Mingyu.
"Yah! Jangan main-main!" Wonwoo mulai khawatir, dia merasa Mingyu yang seperti ini akan menyerangnya.
"Kau tahu kan aku masih menginginkanmu?" bisik Mingyu dengan suara yang lebih berat dari biasanya.
Wonwoo diam, dia bingung kenapa lelaki itu tiba-tiba begini. Mereka masih sangat dekat, napas berat Mingyu berhembus dikulit hidungnya. Apa tadi ia melakukan hal yang salah. Apa gara-gara blushing. Atau karena mereka hanya berdua disini. Wonwoo berusaha melepaskan tangan Mingyu lagi.
"Mingyu lepaskan aku mulai takut."
Setelah mendengar itu cengkraman Mingyu mulai melemah dan Wonwoo segera melepaskan tangannya. Dia langsung berdiri dan mendelik tajam pada Mingyu.
"Apa-apaan tadi?"
"Maaf, aku hanya… gemas."
What?!
"Kau melakukan itu karena gemas?"
"A-aku tak tahan melihatmu blushing begitu."
Wonwoo membatin, dia bersumpah tak akan ngeblush lagi didepan Mingyu.
Tapi… pipinya sekarang memerah dan Mingyu langsung memalingkan wajah.
*.*
Song rec : NU'EST – Love Without Love
a/n : panjang dan boringㅠㅠ aku jarang baca sama nulis sekarang, diksi juga jadi acak-acakanㅠㅠ belum aku edit juga, jadi tolong kasih tau ya kalo ada typo atau kalimat yang aneh :')
Thanks for reading~
