"Ibu, aku berangkat."
"Iya, hati-hati dan belajar dengan benar ya."
Wonwoo menekan tombol untuk membuka pintu elevator, dia masuk, menaruh tas lalu memakai sweater baby bluenya. Hanya mengenakan kaus putih lengan pendek pada musim dimana angin tak bosan melambai adalah pilihan bodoh. Jadi ia menambahkan baju hangat yang cocok dengan kaos putih dan jeans hitamnya.
Hari ini Wonwoo akan memulai bekerja di restoran Mingyu, jadi ia telah berkata pada ibunya bahwa dirinya akan selalu kembali larut. Wonwoo hanya berharap ibunya cepat dibolehkan pulang ke rumah. Rumah sakit itu tidak enak, meskipun ada perawat yang menjaga sang ibu. Rumah tetaplah tempat yang jauh lebih baik, tempat untuk pulang.
Kelas pagi ini termasuk salah satu favoritnya. Mengkaji sebuah film. Biasanya yang ditayangkan adalah film yang berhubungan dengan misteri, detektif, surealisme bahkan transendental. Dosen muda yang selalu memakai kemeja bergaris itu masuk ke dalam ruangan. Senyumannya yang oleh beberapa kaum hawa dijuluki paling sejuk seantero kampus itu ia tunjukkan dengan singkat kepada para mahasiswa. Wonwoo bisa melihat jajaran gadis yang duduk didepan menundukkan kepala dengan tangan terkepal kuat yang diletakkan pada dada seolah-olah jantung mereka akan meloncat keluar saja.
Pak dosen bermarga Hwang itu membuka laptopnya, menghubungkannya dengan proyektor. "Siapkan fokus kalian, kali ini Christoper Nolan."
Beberapa orang ada yang mengeluh pelan tak senang, sedangkan Wonwoo bersorak dalam hati. Film-film dari Nolan selalu menjadi favoritnya, plot yang luar biasa, permainan alur, pertokohan yang mantap. Mr.Hwang tak pernah mengecewakan.
Interstellar yang disebut-sebut sebagai masterpiece sang sutradara mulai memasuki menit pertamanya. Wonwoo sudah menonton ini, namun ia sama sekali tak keberatan untuk menyaksikan ulang kemudian menelaahnya. Film terus berjalan, banyak yang memperhatikan, tak sedikit juga yang ketiduran.
"Okay, time's up. Kumpulkan lembaran kalian." Mr.Hwang berdiri dengan tegas, semua orang bergegas menyerahkan rentetan analisis mereka mengenai tayangan tadi.
Wonwoo keluar dari kelas, disusul oleh Jihoon yang berlari mengejarnya.
"Sungguh daripada Nolan aku lebih baik menonton dua filmnya Oriol Paulo." Jihoon mendengus, yah pemuda yang paling ditakuti dalam kelompok itu memiliki selera berbeda dengan Wonwoo. Dia mendengus lagi, alisnya bertautan saat tangannya menggedor-gedor mesin penjual minuman didepannya yang tak kunjung mengeluarkan satu kaleng cola dari sana. "What is the matter with this fucking machine?!"
Wonwoo terkekeh, dia mendekati mesin tersebut lalu menendang cukup keras bagian bawahnya. Kaleng berisi cairan karbonat itu keluar, Jihoon segera mengambilnya.
"Ini harus segera diperbaiki." Wonwoo berdecak, mesin tersebut sudah nampak tua sekali. Mereka berdua melangkah lagi, "Kau ingat saat kita menonton Inception, Seungkwan tertidur begitu saja." Keduanya terkekeh, pemuda berpipi chubby yang sedang dibicarakan itu memang selalu melakukan hal-hal lucu tak terbayangkan.
"Kau tahu tak ada yang bisa mengalahkan Disney dihatinya." Timpal Jihoon. Mereka berdua tertawa, terus berjalan menuju bangku panjang ditaman kecil kampus.
Begitu duduk Wonwoo segera membuka tasnya, mengambil buku bersampul coklat. Jihoon meneguk cola, melirik lewat ujung mata pada halaman yang sedang lelaki dengan sweater paws itu baca.
"Italia?"
Wonwoo Mengangguk, "Aku akan bekerja di sebuah restoran Italia, seseorang mengajakku."
"Mingyu."
Mata rubah membulat, "Bagaimana kau?"
"Everyone knows." Jihoon tersenyum miring, "Wonwoo mungkin kau terlalu sibuk dengan buku-bukumu saat orang flirty itu mengatakan bahwa ia punya sebuah restoran."
Wow, oke. Wonwoo memang selalu ketinggalan apapun. Awalnya ia kira Mingyu merahasiakan hal itu, tapi kalau dipikir-pikir lagi mana mungkin. Fakta tersebut bisa menarik lebih banyak gadis tentunya.
Pantas saja orang itu selalu dimanfaatkan. Dasar bodoh.
҉
"Hey guys bisa bantu aku?" Seungcheol datang dengan tumpukan selebaran ditangannya.
"What's this Cheol?" Jisoo membantunya membawa kertas-kertas tersebut lalu membacanya.
"Salah satu tugas akhir semester." Seungcheol menghela napas dalam, dia membagikan selebaran itu kepada masing-masing temannya lalu duduk dan memijat pelipisnya.
"Eusthanasia?" Hansol mengerutkan dahi.
"Kematian yang baik." Jawab yang paling tua diperkumpulan itu dengan lelah.
"Hyung kau tahu otakku tak sebagus suaraku jadi tolong jelaskan secara rinci." Seungkwan bergerutu, memangku dagunya menunggu jawaban.
"Itu berarti pengakhiran kehidupan seseorang yang sedang dalam keadaan sangat sakit untuk membebaskannya dari penderitaan. Aku meminta kalian menulis opini mengenai eusthanasia ini." Seungcheol mendesah lagi, ia telah menjelaskan ini berkali-kali kepada beberapa mahasiswa jurusan lain yang diminta pendapat. Benar-benar melelahkan.
Namun Seungkwan dan Seokmin masih tetap kurang paham, Wonwoo yang melihat itu membuka mulut untuk menjelaskan lagi, "Jadi ini adalah kejadian dimana seseorang mengakhiri nyawa orang lain karena orang tersebut menderita sakit yang teramat. Menurutku ada dua sudut pandang disini, orang yang mengakhiri nyawa tersebut bisa dianggap sebagai pembunuh ataupun penyelamat. Ini tergantung perspektif masing-masing orang."
Seungcheol mengangguk mengiyakan perkataan sang bookworm, dia melanjutkan. "Dan aku meminta kalian untuk mengutarakan pendapat tersebut, apakah euthanasia adalah perbuatan yang tak masalah untuk dilakukan ataukah sebaliknya."
Semuanya mengangguk-angguk mengerti kemudian melihat selebaran. Jisoo, Wonwoo, Jeonghan dan Mingyu sudah memegang bolpoint mereka.
"Aku masih tidak mengerti kenapa satu-satunya orang yang masuk psikologi disini adalah Seungcheol hyung." Hansol menggelengkan kepalanya, "kau tidak punya wajah psikolog hyung." Lanjutnya.
"Yak!" yang dikatai protes, dia memukul kepala yang lebih muda itu dengan pulpen yang dipegangnya. "Lihat saja nanti kalau aku menjadi psikolog paling sukses di Korea Selatan ini. Kau akan malu sendiri mengatakan itu." Seungcheol melipatkan kedua tangannya didada, menatap sebal pada Hansol yang menjulurkan lidahnya.
"Woah Mingyu sudah mulai menulis jawabannya, ini aneh." Seokmin menutup mulutnya dengan tangan menunjukkan keterkejutan ia terhadap tingkah temannya.
Mingyu berdecih menimpali omongan Seokmin, mereka semua tidak tahu bahwa kemampuan logikanya itu pantas bersanding dengan Wonwoo, Jeonghan dan Jisoo—menurutnya.
"So, what do you think about euthanasia?" Jisoo yang duduk disamping Mingyu bertanya. Yang lainnya ikut memperhatikan, bersiap untuk menyimak seperti apa jawaban dari pemuda paling tinggi disana itu.
Lelaki jangkung itu berdehem, "Korban memiliki hak untuk mengakhiri hidupnya kalau ia menginginkan dan sudah tak sanggup lagi. Dalam pandangan itu, si korban ini diselamatkan bukan dibunuh. Tapi bagaimanapun aku menganggap keputusan tersebut adalah kesalahan besar. Sebab betapapun hidup terlihat sangat buruk, selalu ada hal sekecil apapun yang dapat dilakukan. Dalam hidup, serendah apapun seseorang merasakannya, pasti selalu ada harapan. Selama ia masih bisa bernapas, mungkin ada hal baik yang bisa terjadi. Takdir memberikan kesempatan lalu kenapa tak serahkan saja kematian padanya."
Wonwoo tercenung, bukan adorasi, ia merasa ada sesuatu asing. Sesuatu yang menampar. Tersindir? Tidak. Wonwoo tak merasa begitu. Hanya saja perkataan Mingyu rasanya mampu sampai ke dasar hatinya. Menggetarkan sesuatu disana.
Mingyu selalu mengejutkannya.
Dan jujur, ia tersentuh.
҉
Wonwoo seperti kemarin menunggu Mingyu ditempat yang sama, dan kali ini setengah jam telah terlewati namun sang atasan itu belum juga muncul. Lelaki kurus itu keki, daun Ginkgo yang berjatuhan disekitarnya bukan terlihat indah malah serasa mengganggu. Kesal pada satu orang, makhluk hidup lain pun ikut membuat moodnya tambah buruk.
Sepuluh menit kemudian mobil Mingyu keluar dari gerbang, dan brengseknya—Wonwoo sudah sangat kesal—mobil hitam itu melewatinya begitu saja dengan sangat cepat. Emosi Wonwoo meluap-luap, disumpah serapahi orang bernama Kim Mingyu itu didalam hatinya. Baru saja tadi siang orang itu membuat dirinya kagum, namun ia ingin menarik perasaan itu kembali. Dia benar-benar tak menyangka, dibiarkan menunggu selama itu lalu diabaikan begitu saja. Walaupun wajahnya sudah seperti karya seni tapi dia bukan patung baru yang dibangun didekat kampus.
Rahang Wonwoo mengerat, dia berjalan cepat menuju halte bus. Meskipun Mingyu atasannya, tapi ia bersumpah tak akan mengajaknya bicara kecuali orang itu memberikan penjelasan yang masuk akal.
Pemuda yang keki setengah mati duduk menunggu bus. Bosan, Wonwoo mengeluarkan ponselnya untuk bermain game ringan. Namun begitu layarnya menyala, puluhan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan muncul dikotak notifikasi.
Mingyu, Mingyu, Mingyu, Mingyu. Semuanya dari orang itu.
Wonwoo menggigit bibir bawahnya, membuka deretan pesan dari Mingyu.
'Kenapa tak menjawab telpon?'
'Wonwoo?'
'Maaf aku tak bisa pergi ke restoran bersamamu sekarang, seseorang umm pacarku baru saja kecelakaan jadi aku akan ke rumah sakit terlebih dahulu. Aku akan menemuimu di restoran.'
Wonwoo membuang napas panjang, pada akhirnya ini adalah salahnya yang tidak mengecek handphone yang masih dalam silent mode itu. Dia mengacak poninya, masih merasa kesal.
҉
"S'accomodi. Cosa vuole mangiare?"
"Prendiamo i fettucini carbonara e la pizza."
"Cosa da bere?"
"Prendo cappuccino."
"Anch'io."
"Oke, un momento per favore."
Wonwoo tersenyum dan membungkuk singkat kepada dua orang pelanggan sebelum ia pergi untuk menyerahkan pesanan pada bagian dapur. Ini hari pertamanya bekerja dan ia langsung disambut oleh kedatangan orang Italia. Beruntung dirinya bisa mengingat kosa kata dasar dalam semalam.
Menejer Lee dan pegawai lainnya begitu baik, mereka langsung berusaha mengakrabkan diri dengan Wonwoo seolah tahu jika ia adalah tipe yang harus dihampiri terlebih dulu. Terutama lelaki bernama Minghao yang sekarang sedang merangkul dirinya.
"Jadi kau teman kampusnya Mingyu ya?"
Wonwoo mengangguk, ia awalnya kaget saat mendengar Minghao menyebut nama atasannya itu dengan informal, tapi pemuda yang berasal dari China itu menjelaskan bahwa dirinya dan Mingyu adalah teman dari sekolah menengah, jadi dia bersikap biasa saja dan karena sang atasan sendiri juga yang memintanya seperti itu.
"Dia harusnya menemanimu pada hari pertama, ckck kemana orang sok keren itu." Pemuda China menggelengkan kepalanya, sepertinya mereka sangat dekat mendengar bagaimana cara Minghao membicarakan sang bos.
"Tidak apa-apa, lagipula dia punya urusan yang lebih penting." Jawab Wonwoo, dia melepaskan rangkulan Minghao dengan sopan saat menu yang dipesan dua pelanggan Italia tadi telah siap. Dia mengantarkan fettucini carbonara, pizza dan dua gelas cappuccino yang dibawa oleh kedua tangannya pada meja pelanggan.
Pelanggan terus berdatangan, namun suasana tetap tenang. Wonwoo benar-benar kagum dengan tatakrama pelanggan maupun pegawai disini. Pantas saja restoran ini begitu terkenal. Wonwoo yang sejatinya merupakan orang rumahan yang membosankan, baru tahu dengan eksistensi restoran Italia ini. Lagipula dia memang tak pernah mencari tahu mengenai rumah makan, perutnya sudah bersahabat dengan mie instan.
Sepasang manusia yang baru masuk restoran menarik penuh perhatiannya. Mingyu menggandeng seorang gadis yang berjalan pincang. Sepertinya ia adalah sang pacar yang kecelakaan itu. Mereka berdua menempati salah satu meja kosong, Mingyu mengatakan sesuatu pada gadis itu sebelum berdiri lagi lalu menghampiri meja pelayan.
"Wow kau terlihat bagus memakai seragam itu." Kata Mingyu ketika matanya menangkap penampilan Wonwoo. Yang diberi pujian melihat sekilas baju yang dipakainya kemudian menunjukkan tampang datar pada atasannya.
Seragam waiter yang dipakai oleh Wonwoo yaitu atasan kemeja putih dengan rompi lengan pendek berwarna coklat yang mempunyai motif floral indah dan celana panjang putih. Sesimpel itu. Komplimen Mingyu hanya dianggap basa basi yang tak penting oleh Wonwoo.
"Ingin memesan sesuatu untuk kekasihmu tuan?" setelah bertanya begitu Wonwoo bingung sendiri, sebab pertanyaannya terdengar sinis. Kenapa dirinya harus berintonasi seperti itu.
"Lasagna dan dua coklat panas." Mingyu smirk juga mengedipkan mata pada pegawai barunya. Wonwoo mendengus, tak mengerti lagi dengan sikap flirty Mingyu yang kelewatan itu.
Tak menunggu lama, pesanan Mingyu telah siap untuk diberikan. Wonwoo membawa nampan tersebut dengan tegap, bagaimanapun ia harus mempertahankan mannernya meskipun atasannya itu sangat menyebalkan.
"Silahkan dinikmati." Wonwoo membungkuk sambil menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Mingyu memperhatikan wajahnya, dia tahu jika pemuda datar itu tak benar-benar tersenyum.
"Bukankah aku meminta tiramisu?!"
Wonwoo terkejut, ia menautkan kedua alisnya. "Tapi tuan ini memesan lasagna nona." Dia memasang senyuman terpaksanya.
"Jangan berbohong, oppa tahu kesukaanku." Gadis itu nyolot, dia menatap Wonwoo sarkastik.
"Aku memang memesan lasagna Sunhee, sudahlah makan saja." Mingyu tersenyum menenangkan pacarnya.
"Jangan membela karyawanmu oppa."
Demi apapun apakah Kim Mingyu tak bisa lebih pilih-pilih lagi mencari pacar, pacarnya kekanak-kanakkan semua. Wonwoo sedang mati-matian menahan sarkasmenya sekarang. Dia mengamati gadis bernama Sunhee tersebut, lututnya lecet biasa, sepertinya bukan kecelakaan yang serius malah terlihat seperti habis jatuh karena tersandung sesuatu. Seriously, Mingyu saja sudah bikin jengkel, dan kini ditambah pacarnya.
"Dia memang tidak salah, jangan diributkan. Kalau tidak mau lasagna ini ya sudah, tinggal meminta lagi tiramisunya." Kali ini ucapan Mingyu tak selembut sebelumnya.
"Sepertinya dia pelayan baru ya oppa, pantas saja dia terlihat buruk."
Mingyu melotot horor, "Ya ya kita pergi saja, aku antarkan kau ke rumah." Dia berdiri, memegang tangan Sunhee yang sedang protes dan menariknya ke pintu keluar. Mingyu sumpah tidak berani menatap wajah Wonwoo. Dia akan memikirkan bagaimana meminta maaf padanya nanti.
Sedangkan sang karyawan baru yang baru saja dihina oleh kekasih atasannya itu masih berdiri disana, tangannya terkepal, rahangnya mengeras. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum kembali lagi ke meja pelayan.
Mulut gadis itu perlu dijahit. Batin dirinya.
Kim Mingyu seriously. Bagaimana Wonwoo bisa menghormatinya sebagai atasan kalau seperti ini terus. Dia perlu dikuliahi tentang bagaimana memilih gadis oleh Jisoo dan Seungcheol sepertinya. Playboy yang sungguh menyedihkan.
҉
Setelah membersihkan meja-meja, Wonwoo pergi ke ruang ganti. Dia melepas seragam waiternya satu persatu lalu mengenakan kembali pakaiannya waktu pagi. Ia bukan seseorang yang mudah berkeringat dan juga cuaca memang tidak terlalu panas jadi bajunya masih tetap berbau seperti sebelumnya, harum deterjen.
"Aku duluan ya Wonwoo." Minghao yang telah selesai berganti baju menepuk bahunya lalu melangkah keluar.
Baru hari pertama Wonwoo sudah mulai merasa nyaman disini. Mingyu pandai memilih pegawai tapi buruk sekali memilih kekasih, dia heran. Dan juga untuk apa sang pemilik restoran tersebut mempunyai banyak pacar, dia sendiri tahu jika sering dimanfaatkan. Ya memang bukan berarti hartanya akan habis. Namun orang seperti Mingyu itu pasti melakukan sesuatu yang jelas punya manfaat bagi dirinya. Mingyu memang playboy kelas berat, tapi dia tak sehina itu jika hanya bermain-main untuk menghibur dirinya saja. Mungkin dia punya alasan tersendiri yang ditutup rapi.
Wonwoo yang baru saja keluar dari restoran langsung terlonjak kaget ketika melihat orang membungkuk padanya sembilan puluh derajat bahkan lebih.
"Maafkan kejadian tadi sungguh!"
Wonwoo menatap orang didepannya tak percaya, dia meminta maaf sampai seperti itu untuk seseorang yang katanya tak ia cintai.
"Sudahlah, bukan salahmu juga." Memang seperti itu, yang meminta maaf harusnya si gadis tadi. Mingyu mengangkat kepalanya, dia memasang wajah menyesal.
"Yah singkirkan ekspresi itu, tidak pantas." Wonwoo bergidik pelan, pemuda tinggi besar seperti Mingyu menurutnya tak cocok beraegyo cemberut begitu.
"Kau memaafkanku kan?"
"Sudah ku bilang kau tidak bersalah, untuk apa meminta maaf." Wonwoo mulai melangkahkan tungkainya, namun Mingyu segera memegang pergelangan tangannya.
"Biar aku antar."
"Tidak usah."
"Ayolah, ini sebagai rasa terimakasih ku karena kau bekerja dengan baik dihari pertama."
"Kau tidak perlu berterimakasih juga."
Mingyu membuang napas keras, memijat pelipisnya bingung.
"Ada yang ingin aku bicarakan mengenai pinjamanmu." Kata Mingyu serius. Wonwoo menatapnya heran dan khawatir kemudian mengangguk dan masuk bersama bosnya ke dalam mobil.
Mesin dinyalakan, dan Wonwoo langsung bertanya mengenai hal penting apa yang ingin atasannya itu bicarakan.
"Ckck tenang dulu, kita bahkan belum melaju sama sekali."
Pemuda bermata rubah diam, mendaratkan punggungnya pada jok mobil, musik akustik yang mengalun membuatnya ingin tidur. Dia merasa lelah. Mobil telah menempuh jarak cukup jauh untuknya bertanya lagi.
"Jadi, ada apa dengan pinjamanku Mingyu?"
Yang ditanya tak langsung menjawab, ia menggigit bibir bawahnya sebelum itu. "Kau bisa membayarnya dengan setengah dari gajimu."
Wonwoo tercenung, dia mendelik pada orang disampingnya. "Aku yakin kau sendiri tidak lupa kalau telah mengatakan itu sebelumnya."
"A-aku lupa."
"Mingyu." Ucap Wonwoo tajam, "Aku pasti akan melunasinya." Lanjutnya.
Bukan, bukan itu maksud Mingyu. Dia tak bermaksud mengingatkan temannya itu tentang pinjaman. "Bukan begitu Wonwoo, tolong jangan dipikirkan."
"Lalu kenapa kau tiba-tiba membahasnya?" Wonwoo bingung.
Mingyu menggigit bibir bawahnya lagi, ia hanya… "Membuat alasan agar kau mau diantarkan olehku."
Dengan rahang mengeras Wonwoo mendelik tajam pada Mingyu. "Dengar. Aku tak akan pernah menjadi salah satu leluconmu Mingyu. Aku tak tertarik dipermainkan olehmu."
Lagu akustik yang diputar menjadi tak enak didengar. Mingyu menghentikan mobilnya ditempat parkir darurat. Musik dimatikan.
"Kau tak akan pernah berhenti berpikiran buruk tentangku kan Wonwoo." Atmosfirnya sungguh tak bagus, Wonwoo tak suka ini.
"Karena ini lucu Mingyu, bagaimana orang sepertimu bisa tertarik padaku, jika bukan untuk main-main tentunya."
Mingyu terkekeh sarkastik. "Kepedulianku padamu hanya kau anggap perlakuan bodoh rupanya."
Wonwoo bungkam. Kenapa jadi seperti ini, dia tak mau begini. Dia tak pernah meremehkan perbuatan baik Mingyu. "Aku selalu berterimakasih atas hal itu Mingyu." Dia lebih tenang dari sebelumnya, mata rubah itu terpejam. "hanya saja menggodaku saat kau jelas-jelas sudah punya pacar, aku tak bisa menerimanya. Seolah-olah aku hanya mainan ditoko yang sudah kau targetkan untuk dibeli." Tuntas Wonwoo.
Mingyu membalikkan badannya, menghadap orang keras kepala disampingnya, memandangnya intens. "Kalau begitu aku akan memutuskan hubungan dengan mereka semua."
Wonwoo memutar kepalanya, menatap lawan bicaranya tak mengerti.
"Aku punya suatu alasan kenapa menjadikan diriku playboy Wonwoo, namun tak bisa ku katakan sekarang."
"Mingyu kenapa kau seperti ini padaku?" Wonwoo semakin heran. Apa yang Mingyu inginkan dari orang menyedihkan seperti dirinya.
"Karena aku…" Napas Mingyu tiba-tiba memburu, ia menelan ludah. Kalimatnya menggantung disana, orang yang ditatapnya mengerutkan kening heran. Dia masih belum menjawab, bola matanya bergerak kemana-mana kecuali pada Wonwoo. Mingyu menutup erat kedua matanya kemudian menjawab.
"…ingin mengantarmu pulang."
What the hell?!
Mingyu mengacak frustasi rambutnya sendiri, dia segera menjalankan kendaraan roda empat yang dikemudikannya itu.
Wonwoo masih bergeming, dia mengingat lagi percakapannya dengan Mingyu tadi. Tunggu, dia benar-benar tak mengerti semuanya, obrolan sebelumnya, suasana tegang diantara mereka, dan ujung-ujungnya hanya karena itu. Hanya karena alasan pertama? Mingyu akan memutuskan semua pacarnya hanya karena ingin mengantar dirinya? Apa-apaan ini, sungguh tak masuk akal.
Wonwoo tenggelam dalam kebingungannya. Sedangkan disampingnya Mingyu sedang merutuki diri, menggertakkan gigi. Bukan itu yang hendak ia katakan. Bukan itu.
Mereka telah sampai dirumah sakit, suasananya canggung. Wonwoo melepas sabuk pengaman dengan tangan yang bergetar. Pandangan Mingyu masih lurus ke depan.
Wonwoo memegang gagang pintu bersiap keluar. "Terimakasih Mingyu."
"Wonwoo,"
Yang dipanggil menoleh, pintu sudah dibuka.
"T-tidur yang nyenyak dan mimpi indah."
Tiba-tiba rasa dingin menjalar ke telinganya, Wonwoo semakin kikuk. Dia mengangguk pada Mingyu sebelum keluar dari sana dan menutup pintu mobil.
Hari ini merupakan hari yang panjang dan… aneh.
҉
Wonwoo terus-terusan menguap dalam perjalanannya ke kampus, dia hanya tidur sebentar semalam, ia baru ingat tugas membuat puisi yang harus diserahkan esoknya sehingga membuat pemuda itu begadang untuk menyelesaikannya.
Perkataan Mingyu kemarin terlintas lagi, Wonwoo berdecih, mimpi indah apanya. Dia juga harus dibingungkan lagi dengan pesan selamat pagi dari Mingyu yang ia baca tadi. Orang itu semakin aneh saja.
Wonwoo masuk ke kelas, dia membelalakkan mata mendapati sosok Kim Mingyu yang duduk paling belakang. Apa yang orang aneh itu lakukan dikelas literatur. Wonwoo sudah menyerah untuk memikirkan segala tingkah lakunya.
Mingyu melambaikan tangan padanya namun tak ia hiraukan, lelaki yang memakai sweater sama seperti kemarin itu lebih memilih tempat duduk yang cukup jauh dari si weird.
Pengajar sudah masuk kelas, melalui kacamata bulatnya sang dosen memindai pandangannya ke seluruh ruangan lalu memberikan perintah. "Bacakan puisi kalian dimulai dari orang yang pojok itu."
What?!
Lucu sekali, orang yang ditunjuk oleh Pak Choi adalah Mingyu. Dosen paruh baya itu sama sekali tak mengingat wajah para muridnya. Sebab sudah mau enam bulan dia tak tahu jika orang yang disuruhnya sekarang itu tak seharusnya ada dikelasnya.
Dan yang mengejutkan lagi, Mingyu berdiri dari kursinya. Dia tak memegang apapun, namun sikapnya menunjukkan bahwa ia siap untuk mengungkapkan sesuatu.
Wonwoo tak sanggup melihatnya, dia khawatir Mingyu memalukan dirinya sendiri. Jadi ia menundukkan kepalanya, menyembunyikannya dikedua tangan.
Mingyu membersihkan tenggorokannya, dia mengambil napas dalam sebelum rangkaian kalimat terucap dari bibirnya.
"Bintang redup berkisah pada langit
Tentang asa yang terombang-ambing tirani
Rembulan bernyanyi menyayat hati
Dia adalah gravitasi
Bersamanya ia bawa matahari
Sudahilah ambivalensi
Ada presensi yang ingin dipahami
Ada hati yang selalu menanti
Bintang itu tak terlihat lagi."
Ada jeda sejenak sebelum suara tepuk tangan memenuhi ruangan, Pak Choi mengangguk puas, mengira anak didiknya telah mengerjakan tugas dengan baik. Namun yang lain sangat kagum, seseorang dari jurusan lain mampu membacakan puisi mendadak yang bermakna seperti ini.
Wonwoo termangu didepan, dia duduk tegap, memandang papan tulis. Ada sesuatu yang pilu dalam puisi Mingyu. Dia tentu terkejut dengan hal ini, dia bisa saja menarik semua ucapan yang mengatai bahwa Mingyu itu bodoh sekarang juga.
Wonwoo memutar kepalanya, menatap Mingyu yang juga memperhatikannya. Obsidian keduanya berbinar. Yang dibelakang memberikan senyuman. Detik berikutnya, Wonwoo pun membalasnya.
Tidak. Mingyu memang bodoh.
*.*
Song rec : Acourve – Coincidence
a/n : Meanienya sudah ada perkembangan nih~ makasih buat yang meninggalkan review, bener-bener bikin semangat nulis :) makasih juga buat yang udah ngasih masukan :) aku baca lagi dari awal ternyata banyak typo ㅠㅠ, bakal aku edit besoknya karena ini udah jam 2 dini hari :'D masukan dari kalian selalu aku harapkan huhu. Dan maafkan itu puisi maksa banget :"
Thanks for reading~ :*
