Chapter 2

.

.

Satu setengah bulan kemudian...

Mamori memegangi kepala sambil terus tertunduk lemas di meja kantornya. Sudah beberapa hari belakangan dia merasa tidak enak badan seperti ini. Entah kenapa, karena yang dia ingat, tidak terjadi masalah dengan nafsu makannya. Dia makan seperti biasa dan tidur dengan teratur juga. Namun dia sering mengalami pusing dan kelelahan secara tiba-tiba seperti ini. Sekarang pun seperti, rasanya tidak karuan.

Mamori membuka laci mejanya mencari sesuatu.

"Cari apa?"

Mamori tidak perlu menengok untuk tahu siapa yang bertanya. Karena sudah pasti itu adalah rekan kerja editornya yang sedang melongokan kepala ke mejanya.

"Obat Maag," jawab Mamori, masih terus mencari.

"Hentikan kebiasaanmu itu," balas Haruna.

Ya. Teman 'sebelahnya' ini memang tahu kebiasaan Mamori. Mamori sering meminum obat itu jika merasa mual. Padahal Mamori tidak punya penyakit maag. Tapi dengan meminum itu Mamori merasa lebih baik.

"Lebih baik kamu ke dokter," lanjutnya lagi. "Bukannya sudah beberapa hari kamu merasa seperti ini? Lebih baik ke dokter saja."

Mamori menyandarkan punggungnya lelah. Dia tidak berhasil menemukan obatnya. Haruna memang benar. Mamori pun tanpa harus disuruh, dia pasti akan ke dokter kalau merasa sakit. Tapi kali ini Mamori malas untuk ke dokter. Karena dia tahu, dia tidak merasa sakit. Dia hanya merasa perubahan mood yang buruk yang menyebabkan dia merasa tidak enak seperti ini.

Mamori melihat ke jam tangannya. Masih satu jam lagi sampai jam istirahat. "Aku mau pintu izin pulang ke Manager."

"Harusnya kamu lakukan itu dari tadi."

Mamori hanya membalas dengan tersenyum kecut.

Tidak perlu waktu lama untuk minta izin ke Managernya, karena sudah dari kemarin Mamori sudah disuruh pulang dan beristirahat. Tapi Mamori menolak dan tetap masuk kerja. Mau bagaimana lagi, dia masih punya tanggung jawab atas pekerjaan yang belum selesai mengingat deadline majalah edisi berikutnya tinggal dua hari lagi.

Mamori kemudian menunggu di halter bus untuk ke klinik. Setidaknya dia bisa mendapat vitamin dari dokter untuk menjaga kondisi tubuhnya yang tidak stabil ini.

Mamori ingat dua hari lalu, tanpa sebab dia mual-mual dan lemas sekali. Kalau sedang tidak fit seperti ini, Mamori merasa sedih sendiri karena tidak ada yang mengurusnya, mengingat kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan pesawat enam tahun lalu. Sejak itulah Mamori hidup sendiri. Setahun sebelum dia lulus kuliah, hidupnya ditanggung oleh Pamannya yang tinggal di Hokaido. Setelah itu Mamori segera mencari pekerjaan.

Sayangnya dia mendapat pekerjaan yang jauh dari rumahnya di Tokyo. Akhirnya Mamori meninggalkan rumah penuh kenangan itu dan mencari apartemen murah di daerah Fukuoka. Rumah itu memang penuh kenangan. Dia tinggal bersama keluarga kecilnya disana. Karena itu Mamori selalu pulang kesana pada saat libur kerja dan hari perayaan untuk bertemu teman-teman lamanya.

Setelah menunggu sepuluh menit, bus pun akhirnya datang membuat Mamori bernapas lega melihat bus itu hanya ada beberapa penumpang. Mamori mengambil kursi di depan yang kosong. Dan bus pun mulai melaju.

.

.

Setelah melakukan pemeriksaan tadi dengan dokter, sekarang Mamori sedang menunggu hasil tes. Mamori tidak mengira akan melakukan beberapa tes. Karena dia pikir, dokter hanya perlu memeriksa tubuhnya dan dia diberikan obat.

Sambil menunggu Mamori mengecek pesan masuk di ponselnya. Ada satu pesan masuk dari Suzuna yang bertanya alamat apartemennya untuk mengirimkan hadiah. Ya. Hadiah. Mamori baru saja berulang tahun tepat seminggu kemarin. Dia merayakannya bersama rekan kerjanya di restorant di dekat kantornya. Mamori tentu tidak mengharapkan hadiah di usianya yang sudah seperempat abad lewat ini. Namun junior kesayangannya itu memaksa ingin memberikan sesuatu ke Mamori.

Mamori tidak langsung menjawab pesan itu dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas bersamaan dengan suster yang memanggil namanya.

"Anezaki-san," panggilnya membuat Mamori menoleh. "Silahkan masuk."

Mamori balas tersenyum dan masuk ke dalam ruangan yang dibukakan suster tersebut kemudian ditutupnya lagi.

Dokter muda di dalam tersenyum menyambut Mamori masuk dan mempersilahkannya duduk. "Anezaki-san."

"Bagaimana dok?" tanya Mamori.

. "Tidak perlu cemas. Hal ini biasa terjadi pada ibu hamil," jawabnya.

Mamori terdiam selama beberapa detik mencerna apa yang sudah didengarnya. "H-Hamil?"

"Ya," balasnya tersenyum . "Selamat!"

Mamori tidak tahu harus bersikap apa. Dunia seolah hancur di depan matanya. Bagaimana dia bisa hamil!

"Kandungan anda sudah memasuki usia lima minggu. Suami anda pasti akan senang mendengar kabar ini."

Bagaimana bisa ada suami? Dirinya saja belum pernah menikah!

Mamori berusaha kembali ke kenyataan dan menatap dokter itu. "Anda yakin Dokter?" tanyanya penuh harap.

"Tentu saja," jawabnya yakin. Karena di matanya, Mamori terlihat seperti mendengar berita gembira yang mengejutkan. "Anda sepertinya terkejut sekali. Memang sudah berapa bulan anda menikah?"

"Satu tahun," jawabnya. Berbohong seperti ini lebih tepat untuk menyelamatkan reputasinya saat ini.

"Baiklah. Saya akan memberi beberapa vitamin. Minumlah tepat waktu." Dokter itu menuliskan dengan cepat di kertas resep obat dan memberikannya ke Mamori.

"Terima kasih, dok."

"Sama-sama. Jagalah kesehatan agar bayi anda juga sehat. Apa perlu saya beri surat izin dokter?"

Mamori berpikir sejenak. "Ya."

.

.

Mamori tertegun di dalam taksi menuju apartemennya. Dia hamil. Sekarang keadaannya tambah kacau. Mamori tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana dia bisa hamil? Dia tidak pernah melakukannya. Tidak dengan mantan pacarnya sekali pun. Mamori memegangi perutnya. Menyadari kalau ada nyawa lain di dalam tubuhnya. Entah kenapa Mamori merasa hangat dan ingin melindunginya. Tidak terlintas niat sedikit pun untuk menghancurkan janin ini. Karena itu, sekarang Mamori bingung harus melakukan apa.

Setelah tiba di apartemennya. Mamori menaiki tangga dan dan berjalan di lorong menuju kamarnya. Ponsel di dalam tasnya berdering. "Halo," sapa Mamori.

"Halo, Mamo-Nee," sahut Suzuna. "Kenapa pesanku belum dibalas?"

"Oh maaf Suzuna. Aku lupa. Tapi sudah kubilang, kamu tidak perlu repot-repot," jawabnya sembari membuka pintu.

"Tidak apa Mamo-Nee. Ini kan setahun sekali," balasnya.

Mamori terdiam sejenak teringat sesuatu. "Oh ya Suzuna. Apa besok Sena di rumah?"

"Tidak ada. Sore nanti dia akan ke Tokyo untuk tanding akhir pekan nanti," jawabnya. Sudah dua tahun mereka pindah ke Osaka karena Sena membela klub Amefuto di Osaka.

"Tokyo?" sahut Mamori. "Kalau begitu apa besok aku boleh ke rumahmu?"

.

.

Sekitar dua setengah jam Mamori naik Shinkansen dari Fukuoka ke Osaka. Saat tiba di stasiun, Suzuna sudah menjemputnya disana. Mamori menyapa dan memeluk Suzuna senang, karena sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu. Mereka lalu berjalan menuju ke mobil.

"Ada apa Mamo-Nee, mendadak sekali kesini?" tanya Suzuna sambil mulai menjalankan mobilnya. "Apa tidak kerja?"

"Aku izin beberapa hari," jawab Mamori.

"Lalu ada apa? Kamu membuatku penasaran seharian kemarin."

Mamori tertawa. "Nanti aku ceritakan di rumah."

.

.

Keheningan melanda ke penjuru keluarga kediaman Kobayakawa. Suzuna terus menatap raut wajah Mamori berharap menemukan celah candaan dari keseriusannya. Tapi tidak ada. Suzuna tahu Mamori sangat serius. Dia tidak mungkin susah payah datang dari Fukuoka ke Osaka hanya untuk menyampaikan lelucon macam ini.

Kali ini Suzuna tidak histeris seperti biasanya. Dia tenang, dengan segenap pemikirannya, dia bersandar ke sofa. Menoleh ke Mamori sekali lagi, dan melihat wanita itu tengah menerawang menatap langit-langit dan menghela napasnya.

"Kamu..." Suzuna memecahkan keheningan. "Yakin, Mamo-Nee?"

Mamori menangkap kesadarannya kembali dan melihat Suzuna. Mamori mengangkat bahunya. "Aku sebenarnya tidak ingin yakin. Tapi yang ini memang sudah pasti," jawabnya. "Aku ingat, seharusnya aku sudah datang bulan sekitar dua minggu yang lalu. Aku tidak terlalu memedulikannya kalau aku telat. Karena kukira aku kelelahan."

"Tapi ini hamil, Mamo-Nee! Bagaimana bisa!?" balasnya dengan kepanikan yang sudah tidak bisa disembunyikannya lagi. "Kau benar-benar tidak tahu siapa ayahnya?"

Mamori menunduk memikirkan kata-katanya. "Sebenarnya ada satu nama, Suzuna. Tapi aku tidak yakin?"

"Kenapa tidak yakin?" tanya Suzuna.

"Pertama-tama, aku mau bilang kalau aku tidak pernah melakukannya dengan mantan pacarku. Jadi dia tidak masuk hitungan. Yang kedua, aku tidak yakin dengan orang yang aku curigai ini, karena aku juga tidak yakin telah melakukannya bersama laki-laki itu."

"Kau membuatku pusing, Mamo-Nee."

"Kau janji tidak akan histeris mendengarnya?"

"Aku janji," jawabnya dengan anggukan pasti.

Mamori terdiam sejenak memikirkan kata-katanya.

"Siapa?"

"Hiruma Youichi."

"ASTAGA! You-Nii!?" pekiknya dengan tidak pecaya.

Mamori menghela napas. "Aku kan sudah bilang kamu jangan histeris, Suzuna."

"Maaf, Mamo-Nee. Tapi, bagaimana bisa dengan You-Nii? Bagaimana ceritanya?"

Mamori menghela napasnya lagi. "Saat Reuni kampus waktu itu. Aku juga tidak ingat apa yang terjadi. Saat itu aku sangat pusing dan mabuk, dan Hiruma yang membawaku ke hotel. Paginya aku terbangun tanpa busana di kamar hotel dan tidak ingat apa-apa."

"Apa ada You-Nii juga saat kau bangun?"

Mamori menggeleng.

"Lalu bagaimana kau bisa yakin?"

"Aku sudah bilang kalau aku juga tidak yakin," jawab Mamori langsung. "Tapi semua bukti merujuk kepadanya. Cerita karyawan hotel, selimut, gaunku yang sobek, mantel panjang, secarik kertas."

Suzuna hanya mengerutkan dahi dan bingung dengan kata-kata Mamori.

"Aku yakin kalau dia bersamaku semalaman di kamar hotel itu!"

Kali ini Suzuna yang menghela napas sambil bersandar dan melipat kedua tangannya. "Lalu sekarang kamu mau bagaimana?" tanyanya sambil memperhatikan raut wajah Mamori. Suzuna sangat heran bagaimana Mamori bisa setenang ini. Kalau hal ini terjadi pada dirinya, mungkin dia akan menangis histeris dan entah apa yang akan dilakukannya.

"Aku akan merawat bayi ini," sahutnya.

"Aku tahu," balas Suzuna langsung. Dengan mengetahui sifat Mamori yang sangat penyayang, dia tidak mungkin akan menggugurkan bayi ini. "Lalu bagaimana dengan ayahnya?"

"Aku akan merawatnya sendiri."

"Bagaimana kalau kamu bilang ke You-Nii?"

Mamori tersenyum. "Kalau Hiruma masih seperti orang biasa yang kukenal dulu, mungkin aku akan langsung bilang padanya," balasnya. "Tapi sekarang, Hiruma Youichi, atlet terkenal kelas atas itu. Dia hanya akan memberikanku uang untuk menggugurkan bayi ini. Singkatnya, aku hanya menyusahkannya."

"Kita belum mencobanya Mamo-Nee...," sahut Suzuna. "Oh! Aku ingat. Bagaimana kalau begini, kita ke Tokyo untuk menonton pertandingan Sena? Besok malam dia akan bertanding dengan Inuwashi," ingatnya. Inuwashi adalah klub asal Tokyo yang dinaungi Hiruma. Sedangkan klub Sena adalah Thunder Osaka.

"Aku tidak mau nenemuinya," tolak Mamori.

"Aku tidak memintamu menemuinya. Aku cuma mau kamu melihatnya. Mungkin dengan melihat You-Nii lagi, kamu bisa berubah pikiran."

Mamori menatap curiga ke Suzuna. "Kamu tidak sedang mencoba menjodoh-jodohkanku dengannya lagi kan, seperti waktu SMA dulu?"

"Tidak, Mamo-Nee," balasnya tegas. "Yaahh... walaupun aku sangat ingin kelihat kalian bersama. Tapi tidak Mamo-Nee. Aku sangat tahu bagaimana kehidupan You-Nii sekarang. Klub Inuwashi itu sudah terkenal dengan wanita-wanita di sekelilingnya. Tidak terkecuali You-Nii. Dia juga pasti punya banyak wanita."

"Aku baru dengar soal itu," sahut Mamori.

"Yaa... itu juga karena Sena cerita padaku. Bukan untuk dipublikasi, tapi pemain Amefuto sudah banyak yang mengetahuinya."

"Kau membuatku tambah tidak ingin melihatnya," tambah Mamori.

"Jangan seperti itu," balas Suzuna. "Kamu harus tetap melihatnya."

Mamori masih terdiam memikirkan jawabannya.

"Mau ya? Besok pagi kita berangkat dengan kereta. Jadi malam ini kamu menginap disini."

Mamori menghela napas. "Baiklah..."

.

.

To Be Continue

.

.

Catatan Kecil:

Wow! Ini benar-benar waktu update terlama saya. Maaf yaa semuanya. Beberapa bulan ini saya terlalu pusing dengan urusan saya jadi tidak sempat untuk menulis. Tapi tenang saja, sekarang sudah masuk waktu libur saya. Jadi doakan saja saya bisa update setiap minggu tepat hari jum'at seperti biasa.

Hiruma tidak muncul di chapter ini. Ya... saya pun sangat merindukan kemunculan Hiruma XD. Saya juga berharap kalian tidak membenci Hiruma di cerita ini. Jangan yaaa...

Okay, sampai disini saja basa-basi saya. Terima kasih untuk segala dukungan. Review, favorit, dan follow. Kalian memang yang terbaik.

Jadi... jangan lupa reviewnya lagi ya guys :D

Salam: De