Chapter 3

.

.

Touchdown terakhir dari running back Inuwashi, mengantarkan klub-nya memenangi pertandingan malam ini dengan skor 23-15. Hiruma membuka pelindung kepalanya dan menyelamati rekan se-timnya karena sudah berusaha keras mengalahkan pesaing terkuat mereka. Dia juga menyalami pemain Thunder Osaka yang sudah bermain maksimal.

Di tengah kegembiraan mereka, Hiruma memandang ke kursi penonton ke arah wanita yang berhasil mengalihkan perhatiannya sepanjang pertandingan tadi. Hiruma sudah menyadari sosok itu sejak dia masuk lapangan. Melihat Suzuna ada di antara kursi penonton VIP bukan hal yang baru untuk Hiruma, tapi mendapati wanita itu duduk disana bersama Suzuna, membuat Hiruma penasaran.

Awalnya dia penasaran, tapi lama-kelamaan dia makin curiga. Karena sepanjang pertandingan, wanita itu terus saja mengikuti pergerakan Hiruma dengan sorot matanya yang tidak terbaca. Hal ini mengingatkannya pada waktu sekolah dulu, di tengah pertandingannya, Hiruma selalu mencuri kesempatan berdiskusi strategi dengan wanita itu. Jadi Hiruma tahu, kapan dia merasa Mamori ingin bicara dengannya begitu pun sebaliknya. Jadi sekarang ini pun menangkap sosok itu di antara bangku penonton, bukanlah hal yang sulit untuknya.

"You-Nii!" teriak Suzuna girang. Jarak dari kursi VIP ke lapangan memang cukup dekat dibanding kursi kelas lain.

Hiruma mengalihkan pandangan ke Suzuna yang sudah berdiri dengan melambaikan tangannya girang. Dia lalu melihat ke Mamori lagi yang berusaha menarik lengan baju Suzuna agar kembali duduk. Sementara penonton lain berjalan untuk keluar stadion, kedua wanita itu masih duduk di tengah-tengahnya. Tanpa menghiraukan panggilan Suzuna itu, Hiruma berjalan menghampiri mereka dengan pandangan yang masih terpaku pada Mamori.

"Kau datang, heh?" sapanya. Mereka bertiga tahu kemana ucapan Hiruma tertuju.

Mamori tersenyum. "Sudah lama aku tidak menonton pertandingan Amefuto."

"Kau sehat?" tanya Hiruma.

Mamori menahan napasnya tidak percaya mendengar pertanyaan Hiruma, begitu pun dengan Suzuna. "Ya," angguknya.

"Aku ke dalam dulu," balasnya sambil berjalan mengikuti pemain lain masuk ke dalam.

Suzuna masih menatap tidak percaya ke Hiruma sampai dia menghilang dari pandangan. "Aku tidak salah dengar?" Suzuna beralih menatap Mamori. "Dia bertanya kamu sehat?"

Mamori hanya tersenyum dan mengangkat bahunya. "Apa wajahku terlihat pucat?"

Suzuna menggeleng. "Apa jangan-jangan dia mengetahui sesuatu yang kamu tidak tahu, Mamo-Nee?"

Mamori mengangkat bahunya. "Entahlah."

"Kalau begitu ayo. Kita temui dia di dalam," ajaknya sambil mengambil tangan Mamori.

"Aku tidak mau," tolak Mamori menarik tangannya kembali. "Aku sudah bilang aku hanya ingin melihatnya."

Suzuna menghela napas.

Mamori lalu melihat ke jam tangannya. "Sudah larut. Kita pulang ke rumahku saja."

"Baiklah. Kalau begitu tunggu di gerbang. Aku mau menemui Sena dulu."

.

.

Mamori menunggu dengan cemas sambil sesekali melihat ke jam tangannya. Sudah dua puluh menit dia berdiri di samping gerbang ini. Tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan mobil Suzuna. Dia pun sudah berkali-kali menghubungi ponsel Suzuna, tapi tetap tidak ada jawaban. Mamori ragu. Kalau dia kembali ke dalam, kemana dia harus mencarinya. Lagipula, penonton tanpa tanda khusus tidak boleh masuk ke dalam.

Dia melihat mobil hitam hendak keluar dan berhenti tepat di depannya. Kaca mobil diturunkan dan dia melihat Hiruma.

"Masuklah," sahut Hiruma.

"Aku sedang menunggu Suzuna. Dia akan mengantarku."

"Dia sudah pulang dengan si pendek itu."

Rasa kaget dan tidak percaya langsung menghantam Mamori.

"Sekarang masuklah."

Mau tidak mau, Mamori menurut dan masuk ke dalam mobil. Kemudian dia memasang sabuk pengamannya.

Keheningan di antara mereka berdua tidak dapat dielakan selama beberapa menit perjalanan sampai Hiruma memecahkan keheningan mereka. "Taki bilang kau ingin bicara denganku."

"Aku? Tidak."

"Kau yakin, heh?" tanya Hiruma lagi. "Karena dia bilang ini pembicaraan yang sangat penting."

"Tidak ada," elak Mamori lagi.

"Keh..."

Mereka berdua kembali terdiam. Mamori hanya memperhatikan kosong ke jalanan di depannya.

"Kamu punya pacar?" tanya Mamori. Entah apa yang merasukinya. Pertanyaan itu tiba-tiba saja terlintas di kepalanya.

Hiruma menyeringai. "Jadi ini yang Taki bilang pembicaraan serius itu? Kau ingin tahu apa aku punya pacar?"

"Aku hanya bertanya," balas Mamori serba salah. "Kalau begitu tidak usah jawab."

"Aku tidak tertarik untuk punya pacar," jawab Hiruma. "Kau sendiri?"

"Sudah putus hampir setahun lalu," jawabnya. Mereka berdua kembali terdiam beberapa saat. "Kalau istri?"

Hiruma mendadak memutar stir dan menepikan mobilnya. Dia lalu menoleh tajam menatap Mamori. "Jangan kebanyakan basa-basi, manager sialan."

"Aku bukan lagi manager," balas Mamori. "Kenapa kamu masih memanggilku seperti itu. Padahal sekarang kau bisa memanggil Suzuna dengan marganya. Kenapa denganku tidak?"

"Bukan itu masalahnya sekarang. Cepat katakan apa maumu? Pertama kau bertanya soal pacar, sekarang bertanya soal istri. Jangan pikir aku bodoh," kesal Hiruma.

"Aku mau turun," balasnya hendak membuka pintu mobil, namun Hiruma lebih cepat mengunci semua pintu mobilnya.

"Ayo cepat katakan."

Mamori hanya bisa menghela napas pasrah. "Bagaimana aku harus mengatakannya?" balas Mamori membuat Hiruma tambah bingung.

"Mana aku tahu, sialan. Memangnya kau mau bicara soal apa?"

"Tentang malam itu," jawabnya lirih, namun Hiruma masih bisa mendengarnya. Mamori melirik sekilas ke Hiruma lalu menunduk lagi. "Saat reuni kampus kita waktu itu."

"Hm."

"Kau kan yang mengantarku ke hotel waktu itu?" lanjutnya lagi.

"Memang benar. Terus kenapa?" balas Hiruma.

"Apa... Mm.. Kita... melakukan sesuatu?"

Hiruma terdiam sejenak. Dia tidak langsung menjawab. Karena Hiruma teringat kejadian pada saat malam itu. Walau dia berusaha mengelaknya, tapi belakangan ini Hiruma berhasil samar-samar mengingat apa yang sudah mereka lakukan. "Jangan bilang kau-...,"

Mamori langsung melihat ke Hiruma yang tidak melanjutkan kata-katanya. Kepanikan langsung melanda dirinya. "Berarti kita benar melakukannya!?"

"Jangan bilang kau tidak ingat, heh?"

"Oh Tuhan!" Mamori langsung menyandarkan punggungnya pasrah. Dia lalu menengok kesal ke Hiruma. "Aku tidak pernah melakukannya sekalipun. Apa kau tidak tahu kalau aku masih perawan!?"

"Aku tahu," jawab Hiruma langsung membuat Mamori tambah mengernyitkan dahi menatapnya. Membedakan gadis yang masih perawan dan yang tidak, tentu saja Hiruma sangat mengetahuinya.

"Lalu kenapa kau masih melakukannya?"

"Kau jangan bicara seolah hanya aku yang bersalah. Kau yang membuatku melakukannya, sialan."

"Apa?" balas Mamori masih bingung.

Hiruma tidak membalas kata-katanya. Karena sampai mati pun, dia tidak akan cerita ke Mamori. Alasan mengapa Hiruma terpancing dan alasan kenapa dia melakukan itu bersama Mamori. "Sudah itu saja yang ingin kau tanyakan, heh?" sahutnya berniat menyalakan mesin mobil lagi. Namun Mamori menyelanya.

"Tunggu."

"Apa lagi?"

"Aku belum memulai inti pembicaraan," jawabnya. "Kau pikir untuk apa aku mengungkit-ungkit tentang kejadian itu."

"Mana aku tahu!"

"Aku hamil."

Seketika pikiran Hiruma kosong. Kekesalan tentang percakapan mereka tadi, tiba-tiba hilang begitu saja saat mendengar dua kata itu. Dia melihat ke Mamori lagi. Sekeras apapun Hiruma mencari kebohongan di mata itu, dia tetap tidak bisa menemukannya. Karena Hiruma tahu, Mamori sangat serius.

"Tenang saja," lanjut Mamori. "Aku tidak akan meminta pertanggung jawabanmu soal bayi ini. Aku cuma ingin tahu apa benar kau adalah ayah dari bayiku." Mamori melihat Hiruma yang masih tetap terdiam. "Sekarang cepat jalankan mobilnya. Sudah larut malam."

.

.

Setelah mengantarkan Mamori, Hiruma memarkirkan mobilnya di parkiran rumahnya. Berjalan masuk ke rumah dengan pikiran melayang mengenai percakapannya dengan Mamori tadi. Seberuntung itukah Hiruma, hanya dengan melakukannya sekali Mamori bisa langsung hamil. Masalahnya, dia belum menikah dan Mamori jelas bukan istri. Jadi semua itu tidak bisa dibilang keberuntungan. Saat ini Hiruma berdoa, semoga saja berita ini tidak diketahui oleh klub. Karena berita-berita miring seperti ini hanya akan membuatnya mendapatkan sangsi apabila publik mengetahuinya. Bukan apa-apa, karena bagi klub, skandal dengan wanita sama buruknya dengan terlibat obat-obatan terlarang. Bisa membuat performa tidak stabil di lapangan.

Anezaki Mamori. Wanita itu datang lagi ke kehidupan Hiruma. Mendapatinya di pesta reuni kampus waktu itu membuat Hiruma tidak percaya. Karena dari Fukuoka ke Tokyo bukan jarak yang dekat. Jadi Hiruma tidak menyangka Mamori akan datang.

Kejadian di kamar hotel pun juga merupakan kesalahan. Hiruma jelas tidak bisa mengontrol dirinya. Melihat Mamori tanpa penjagaan, terlelap di kamar hotel. Saat itu Hiruma memang juga ikut terlelap di sofa. Namun dia terbangun saat Mamori memanggilnya, dan meminta dirinya untuk menemani wanita itu tidur di sebelahnya.

Dalam setengah sadarnya, Hiruma beranjak ke kasur tanpa menyadari gaun yang dikenakan Mamori sudah terlepas dari tubuhnya. Semua yang terjadi mengalir begitu saja. Hiruma menginginkan wanita ini. Dia ingin memeluk dan menciumnya. Karena bagaimanapun, Hiruma pernah mencintainya.

Ya. Dia pernah mencintai Anezaki Mamori.

Karena alasan itulah, mengapa Hiruma tidak bisa menghentikan dirinya sendiri.

.

.

"Ya. Aku sudah bilang padanya," ujar Mamori di telepon saat sedang bersantai di ruang keluarga keesokan paginya. "Aku masih tidak habis pikir kamu tega meninggalkanku semalam."

Suzuna tertawa. "Maaf, maaf," ujarnya. "Lalu bagaimana?" balas orang di seberang, yang tak lain adalah Suzuna.

"Lalu apa?"

"Kamu tidak memintanya menikahimu?"

Kalau saja dia sedang makan atau minum, mungkin Mamori akan tersedak mendengar pernyataan Suzuna. "Aku tidak pernah membayangkan menikah dengan Hiruma," balasnya hampir tertawa.

"Dengar Mamo-Nee, aku tahu kamu mau membesarkan bayimu sendiri. Tapi ini Jepang. Orang-orang di sekelilingmu akan tahu kamu sedang hamil sedangkan mereka juga tahu kamu belum menikah. Mereka akan menjadikanmu bahan gunjingan."

""Lalu aku harus bagaimana? Memintanya untuk segera menikahiku? Itu hal yang tidak mungkin Suzuna."

"Kalau kamu mau membesarkan bayimu sendirian, satu-satunya cara adalah pergi ke tempat dimana tidak ada orang yang mengenalmu. Tapi kalau kamu pergi, kamu akan kehilangan pekerjaanmu. Dan kalau kamu tidak bekerja, Mamo-Nee, bagaimana kamu bisa merawat bayimu seorang diri?" jelas Suzuna.

"Kamu membuatnya terlihat rumit," sahut Mamori. "Aku tidak perlu melakukan semua itu. Cukup aku menjalani kehidupanku seperti biasa. Aku tidak peduli orang mau berkata apa."

"Baiklah, kalau itu memang keputusanmu," pasrah Suzuna.

"Lagipula kamu sendiri yang bilang, kamu tidak ingin melihat aku dengannya bersama karena dia pasti punya banyak wanita."

"Memang benar sih. Tapi aku menyarankan ini bukan untuk pernikahan seumur hidup. Cukup menikah sampai bayimu lahir, habis itu kalian bisa bercerai."

"Mau setahun atau seumur hidup, tetap saja aku harus memintanya menikahiku," balas Mamori.

Ya sudahlah, Mamo-Nee. Kamu memang orang yang keras kepala," balas Suzuna kecewa membuat Mamori tertawa mendengarnya. "Oh ya. Ngomong-ngomong Mamo-Nee, aku lupa mau bertanya," lanjutnya lagi. "Aku heran kenapa kamu bisa setenang ini. Kalau aku di posisi sepertimu. Aku pasti akan merasa frusfasi."

Mamori menengadahkan kepalanya lalu menghela napas panjang. "Entahlah Suzuna. Mungkin karena aku hanya sendirian menjalani hidupku. Aku merasa tidak membebani siapapun dengan masalahku. Kalau saja orangtuaku masih ada. Aku juga pasti akan panik dan bingung harus melakukan apa."

"Tapi tetap saja hal ini akan mempengaruhi kehidupanmu," ujar Suzuna. "Kamu belum menikah, Mamo-Nee."

Mamori tentu mengerti arah pembicaraan Suzuna. Mamori sangat mengerti. Bukannya tidak terpikir olehnya. Mamori sudah memikirkan itu dari awal, tentang kehidupan percintaannya ataupun tentang membangun keluarga dengan lelaki pilihannya kelak. Tapi apa mau dikata, semua ini sudah terjadi. Kalaupun nanti tidak ada laki-laki yang mau menerimanya karena dia sudah punya anak, biarkanlah buah hatinya ini yang akan menemaninya.

"Mamo-Nee, kau masih mendengarkanku?" sahut Suzuna lagi menyadarkan Mamori.

"Ya."

"Begini, Mamo-Nee. Aku jelas tidak bisa membiarkanmu seperti ini. Aku akan bilang ke You-Nii agar dia menikahimu."

"Jangan!"

"Mau aku yang bicara dengan You-Nii atau kamu sendiri, Mamo-Nee? Kamu tahu tidak ada yang bisa menghentikanku."

"Aku sudah bilang padanya kalau aku tidak akan meminta pertanggungjawabannya."

"Kau hanya menambah panjang daftar laki-laki tidak bertanggungjawab di planet ini!" sindir Suzuna.

"Oke, aku akan bicara dengannya," balas Mamori pasrah.

"Kapan?"

"Besok," jawab Mamori.

"Siang ini."

"Jangan siang ini. Itu terlalu cepat. Aku belum menyiapkan kata-kataku."

"Memangnya kamu mau pidato," balas Suzuna. "Jangan kira aku tidak tahu kalau besok senin kamu pasti akan kembali ke Fukuoka, Mamo-Nee, dan menghindari semua ini."

"Aku punya surat izin dokter tiga hari," balas Mamori.

"Tetap saja siang ini kau harus menemuinya."

"A-." Perkataan Mamori terhenti saat mendengar suara bel rumahnya. "Sebentar Suzuna. Sepertinya ada tamu. Aku akan meneleponmu lagi." Mamori lalu memutuskan percakapan mereka dan meletakkan kembali gagang teleponnya.

Dia berjalan ke pintu dan membukanya. Mamori hampir tidak percaya melihat seseorang di depan pagar rumahnya.

"Hiruma," sahutnya perlahan menghampiri gerbang pagar. "Ada apa kesini?" tanyanya masih tetap menatap Hiruma seraya tangannya membuka slot pagar.

"Menikahlah denganku."

.

.

To Be Continue

.

.

Catatan Kecil:

Sorry guys, mau update sore tadi, tapi saya kelupaan. Jadilah tengah malam seperti ini.

Menanggapi review dari You Poo-san, sebenarnya di cerita ini Mamori memang hanya memakai lingeria putih alias pakaian dalam. Nah, di chapter 2, saya tulis tanpa busana. Namun tanpa busana itu, dari perkataan Mamori saat dia cerita ke Suzuna. Jadi dia cerita sedikit di hiperbola kan, karena bagi Mamori, memakai pakaian dalam sama saja tidak pakai apa-apa. Begituu... XD

Okay guys, jangan lupa tulislah sesuatu di dalam kotak di pojok bawah itu XD.

Salam: De