Chapter 4

.

.

"Menikahlah denganku," ujar Hiruma, dengan keseriusannya. Dia tidak seratus persen yakin ini tindakan yang tepat. Hiruma boleh sering bertindak sesukanya dan mengancam orang, tapi dia membenci suatu tindakan yang tidak bertanggungjawab.

"Menikah... denganmu?" sahut Mamori, tidak yakin dengan apa yang didengarnya.

"Kau mendengarku," balas Hiruma. Melangkah masuk melewati pagar sambil menutup gerbangnya kembali. "Kita bicara di dalam."

"Tunggu," sahutnya terburu-buru mengunci slot pagar dan mengikuti Hiruma masuk ke dalam. "Tunggu Hiruma. Kau bercanda?" lanjutnya kali ini sambil menutup pintu.

Hiruma tidak menjawab dan terus berjalan sampai ke ruang tamu. Dengan santai dia duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya. Matanya mengikuti Mamori yang sudah berdiri di depannya. "Duduklah," ujarnya.

Mamori menghela napas tidak percaya. Ini rumahnya, kenapa dia yang harus dipersilahkan duduk. Raja tiran yang satu ini memang belum berubah, batinnya. "Oke," sahutnya sambil duduk di sofa seberang Hiruma. "Kamu tadi bilang apa?" lanjutnya berusaha tenang.

"Kita menikah saja," jawab Hiruma sama tenangnya.

"Yang benar saja Hiruma. Menikah itu bukan hal main-main!"

"Begitu pun dengan hamil di luar nikah," balas Hiruma.

"Aku tidak bisa."

"Kenapa?"

"Aku tidak mau!"

"Jadi kau lebih memilih keegoisanmu yang tidak mau menikah denganku dibanding memikirkan merawat bayi itu."

"Aku bukannya egois. Tapi ini menikah Hiruma. Apa kau serius dengan keputusanmu?"

"Sejak kapan aku melakukan sesuatu dengan tidak serius, heh?"

Mamori menghela napas. "Oke. Begini. Aku tidak mau menikah denganmu. Kamu, Hiruma Youichi. Aku cukup tahu diri untuk tidak menyusahkanmu."

"Bagaimana kalau begini," balas Hiruma. "Biarkan aku bertanggungjawab atas apa yang sudah aku perbuat."

Mamori menatap dalam-dalam ke wajah Hiruma. Dia berpikir untuk memilih keputusan. Sebenarnya Mamori bisa saja menyutujui semua ini. Namun banyak kendala yang mengganjal pikirannya.

"Aku akan kesini lagi," sahut Hiruma. "Pikirkan baik-baik."

"Tunggu," tahan Mamori. "Aku mau menikah denganmu."

Hiruma kembali ke posisi santainya dan menunggu Mamori melanjutkan perkataannya.

"Tapi aku punya syarat," lanjut Mamori lagi.

"Katakan."

"Kita hanya menikah satu tahun."

Hiruma berpikir sesaat sambil menatap Mamori. "Tidak masalah."

"Tidak ada kontak fisik. Tidak ada hubungan... yaah... kamu tahu maksudku," lanjutnya memelankan suara sambil menghindari tatapan Hiruma.

"Kau sudah mengatakannya dengan jelas," jawab Hiruma. "Apa ada lagi?"

"Jangan ikut campur urusanku."

"Keh," balas Hiruma. "Syaratku cuma satu. Jangan melarangku."

Mamori mengernyitkan dahinya berpikir. "Jangan melarangmu? Kalau kau mau macam-macam padaku. Jelas aku akan melarangmu."

"Syaratku tidak berhubungan dengan dua syaratmu itu,"

"Tiga."

"Terserah," balas Hiruma.

"Oke. Kita sudah setuju." Mamori lalu mengulurkan tangannya.

Hiruma memperhatikan sesaat ke tangannya, lalu melihat ke Mamori lagi. Dia lalu menyeringai dan membalas jabatan tangan Mamori.

"Aku akan membuat surat perjanjiannya nanti."

"Surat perjanjian?" balasnya dengan tatapan meledek. "Terserah kau saja."

.

.

Setelah selesai dari rumah rumah Mamori. Hiruma kembali ke pusat pelatihan Inuwashi. Dari depan memang ada bangunan megah berlantai enam, namun di belakanganya terdapat lapangan dan asrama atlet.

Hiruma memasuki lift untuk ke lantai empat tempat ruangan pelatihnya berada. Lift berbunyi dan pintu terbuka di lantai dua. Hiruma melihat dua rekan klubnya, Furukawa dan Walker.

"Hai, Hiruma," sapa Walker tersenyum ramah kepada Hiruma. Berbeda dari penampilannya yang besar dan menyeramkan kalau di lapangan.

"Kau juga mau ke lantai empat?" tanya Furukawa, receiver yang memiliki wajah yang mampu membuat tiket pertandingan mereka habis dibeli oleh para kaum wanita.

"Hm," jawab Hiruma sambil memencet tombol untuk menutup pintu lift.

"Oh ya. Aku dengar dari Mari, kalau kau sudah tidak pernah lagi 'memakai'nya. Dia sampai mengancam wanita lain yang berani mengambilmu," cerita Furukawa.

"Aku tidak peduli," sahut Hiruma.

"Aku pikir wanita itu serius ingin memilikimu," ujar Walker dengan logat Inggrisnya.

"Apa yang telah kau lakukan padanya? Mari selalu puas denganku, tapi dia tidak mengejar-ngejarku."

"Aku tidak pernah melakukan apapun padanya," jawab Hiruma.

Furukawa mengangguk-angguk mengerti.

Suara lift terdengar lagi dan pintu terbuka di lantai empat. Mereka berdua lalu keluar lift. Furukawa dan Walker asik mengobrol sedangkan Hiruma hanya mendengarkan percakapan mereka.

Furukawa membuka pintu ruang kepala pelatih dan mereka bertiga masuk ke dalam.

Pelatih yang sedang bersantai di balik kursi mejanya sambil membaca koran melihat tiga atletnya masuk ruangan. "Ada apa kalian bertiga kemari?" tanyanya sambil menutup koran.

Walker melirik ke Hiruma seolah menyuruhnya duluan, sedangkan Hiruma balas dengan menggerakkan kepala, menyuruh Walker bicara duluan. Walker lalu mengangguk.

"Aku mau minta cuti tiga hari," ujar Walker. "Adikku akan menikah akhir pekan ini."

Pelatih melihat kalender di mejanya. "Harusnya kau bilang jauh-jauh hari," keluhnya. "Tapi kuizinkan. Karena minggu ini lawan kita tidak begitu krusial."

"Terima kasih," balas Walker tersenyum.

Pelatih lalu menatap Furukawa untuk menunggunya berbicara.

"Aku hanya menemani Papa Bear," sahutnya.

"Oke. Hiruma, cepat katakan." Pelatih lalu beralih ke Hiruma.

"Aku ingin minta cuti tiga minggu," jawab Hiruma santai.

"Kau gila!?" balas pelatih tidak percaya dengan perkataan Hiruma. "Kau ini Kapten Tim Nasional. Dua minggu lagi kita akan ada pertandingan persahabatan dengan Korea!"

"Aku tahu. Tapi ini penting. Tidak bisa ditunda."

""Memang kau ada urusan apa sampai cuti tiga minggu?"

"Aku mau menikah."

Ketiganya langsung menatap Hiruma.

"Kau... apa?" tanya Furukawa.

"Apa tadi aku tidak salah dengar?" Kali ini Walker yang memang masih kurang fasih berbahasa Jepang.

"Oke Hiruma," sahut pelatih sambil berusaha menenangkan pikirannya. "Cukup sudah kau membuatku jantungan," lanjutnya. "Kau mau menikah? Aku bahkan tidak pernah mendengar kau punya pacar."

"Aku punya."

Furukawa mendecak. "Sejak kapan? Yang ada kau selalu bermain-main dengan wanita disini. Bagaimana mungkin kau punya pacar."

"Berhenti membahas soal itu. Intinya beberapa hari lagi aku akan menikah. Kau izinkan atau tidak. Aku akan tetap libur tiga minggu."

"Oke. Aku mengizinkanmu, asal...," tegasnya. "Asal kau ikut ke Korea nanti. Pelatih Timnas sendiri sudah menuliskan namamu di daftar pemain. Tidak bisa diubah."

"Tidak masalah. Tiga hari latihan dan satu hari pertandingan. Kau akan menambahkan cutiku empat hari."

Pelatih menghela napas. "Baiklah," balasnya. Pelatih menatap ketiga atletnya. "Siapa lagi yang mau membuatku jantungan?"

Furukawa tertawa.

"Kalian boleh pergi," sahut pelatih.

"Terima kasih pelatih," balas Walker.

.

.

Mamori masih bersantai di ruang tengah setelah selesai berendam sambil mengecek pesan masuk di ponselnya

Suzuka

Selamat atas pernikahanmu, Anezaki-san~

Mamori mengernyitkan dahinya bingung. Bagaimana dia bisa tahu kalau dirinya akan menikah.

Pesan berikutnya pun terus berdatangan mengucapkan selamat padanya. Tidak hanya dari rekan editor, asisten editor, wartawan, bahkan bagian finansial yang mengenalnya pun mengirimkan pesan ucapan selamat.

Dia lalu mendapat satu pesan dari Haruna, rekan kerja yang paling dekatnya di kantor.

Haruna

Mamori-san, kau akan menikah? Kenapa kamu tidak pernah cerita apa-apa padaku? Dan lagi, calon suami itu atlet Hiruma!? Bagaimana bisa?

Oh ngomong-ngomong. Selamat atas pernikahanmu. Kau harus mengundangku, oke? Dan kau harus cerita nanti.

Mamori hendak membalas pesan Haruna namun suara bel menghentikan tangannya. Dia lalu bangun dan beralih menuju pintu.

Mamori membuka sedikit pintu rumahnya dan mengintip keluar. "Hiruma?"

"Ada yang ingin aku bicarakan sebentar. Bukalah," sahut Hiruma.

Mamori berpikir ragu. "Sekarang sudah malam."

"Sekarang masih jam tujuh. Cepat buka," perintah Hiruma.

Mamori menghela napas pasrah. Dia lalu berjalan keluar dan membuka pintu gerbang. "Kau ini. Apa tidak bisa besok?"

"Tidak bisa."

Mamori menutup gerbangnya lagi setelah Hiruma masuk dan mengikutinya ke dalam. Kalau sudah berurusan dengan laki-laki yang satu ini, Mamori mau saja menuruti perintahnya.

Mereka lalu duduk di ruang tamu. Hiruma memperhatikan pakaian yang dikenakan Mamori. "Kau sudah mau tidur?"

"Menurutmu?" balas Mamori, karena sudah jelas dia mengenakan piyama dan ingin segera tidur namun diganggu oleh laki-laki ini.

"Kurasa belum. Karena yang kuingat, kau memakai lingeria putih super tipis untuk tidurmu," balasnya dengan seringai yang menyebalkan.

Mamori berusaha menahan rona wajahnya dan membalas kata-kata Hiruma. "Itu kupakai karena aku memang berencana menginap di hotel dan langsung memakai lingeria dibalik gaunku."

"Aku lebih suka yang itu."

Mamori tidak menyangka Hiruma akan berkata seperti itu. "Sudah jangan membahasnya lagi. Sekarang katakan urusanmu?" sebalnya.

"Kita akan menikah hari Senin," ujarnya.

Senin besok?" sahut Mamori kaget.

"Senin minggu depan, bodoh."

"Tetap saja. Apa itu tidak terlalu cepat?"

"Apa kau mau menunggu sampai perut itu membesar lalu kita menikah, heh?" balas Hiruma sambil menunjuk perut Mamori.

"Tapi semua itu butuh persiapan. Mana mungkin menyiapkannya dalam satu minggu!?"

"Karena itu, tadi aku sudah menemukan WO yang bersedia melakukannya dalam satu minggu," jawabnya. "Jadi dalam seminggu ini, kita akan mengurusnya. Di Okinawa."

"Okinawa!?" Tak henti-hentinya Mamori dibuat kaget.

"Ya. Kita akan menikah disana."

"Tapi kenapa di Okinawa?"

"Karena aku suka tempat itu. Lagipula aku punya villa disana," jawabnya. "Kita akan melangsungkan pernikahan di kebun villa itu."

"Tapi aku belum minta cutiku!?" Entah sudah berapa kata 'tapi' yang dia ucapkan.

"Sudah aku urus itu."

Mamori tidak bisa berkata-kata dan hanya memandang tidak percaya Hiruma.

"Kau akan cuti tiga minggu."

"Bagaimana bisa cuti tiga minggu? Biasanya paling lama cuma satu minggu."

"Telepon Kepala Editormu kalau tidak percaya."

Mamori menghela napasnya lagi. Dia hanya melakukan pembicaraan dengan Hiruma. Tapi kenapa rasanya dia seperti sudah melakukan sit-up dua puluh kali.

Pantas saja dia mendapat banyak pesan seperti itu. Karena bahkan Kepala Editornya pun tahu. Dan pasti dialah yang mengetahuinya pertama kali dan langsung menyebarkannya ke seluruh karyawan. Bukan kantor majalah kalau gosip seperti itu tidak cepat menyebar bagai virus di kantornya. Mau itu hari kerja ataupun hari libur, atasan atau bawahan, mereka semua suka bergosip.

Dan lagi laki-laki ini, Hiruma Youichi. Tidak ada yang tidak mungkin untuknya. Itulah yang selalu dia ingat selama tujuh tahun mengenalnya.

"Sekarang berkemaslah. Besok pagi kita akan berangkat," lanjutnya lagi.

Helaan napas Mamori tidak ada henti-hentinya. "Apa tidak bisa kamu beri waktu aku untuk berpikir? Setidaknya diskusikan dulu denganku sebelum melakukan sesuatu."

"Kita tidak punya banyak waktu. Semakin besar perutmu, semakin wartawan curiga kalau aku menikah karena kecelakaan."

"Aku mengerti. Makanya dari awal aku bilang aku tidak ingin menyusahkanmu."

"Sudah jangan banyak bicara. Kemasi barang-barangmu. Besok pagi jam tujuh akan kujemput."

"Apa aku boleh mengajak Suzuna?" pinta Mamori.

Hiruma berpikir sambil menatap Mamori. "Bisa saja. Tapi dia harus naik pesawat kesana sendiri. Karena aku hanya beli tiket untuk berdua."

Mamori menghela napas lega.

"Apa kau sebegitu takutnya berdua saja denganku disana, heh?" tanyanya meledek.

"Tentu saja aku takut. Terakhir kali aku berdua denganmu, kau berbuat macam-macam padaku."

"Tapi saat ini kau baik-baik saja bersamaku," balas Hiruma santai.

"Itu karena aku masih sadar. Siapa yang jamin kalau kau tidak akan macam-macam padaku disana?"

Hiruma tersenyum menyeringai. "Suka-suka kau saja." Hiruma lalu bangkit dari duduknya. "Jangan sampai kesiangan. Jam tujuh. Ingat."

"Aku tahu," balasnya seraya mengikuti Hiruma menuju pintu.

Hiruma sampai di depan pagar dan membukanya.

"Hati-hati. Sampai besok," sahut Mamori menutup pintu pagarnya lagi sementara Hiruma berjalan ke mobilnya.

.

.

To Be Continue

.

.

Catatan Kecil:

Hey~ Apa banyak yang kecewa kemarin saya tidak update selain You Poo-san? Hehe XD

Oh iya.. pasti kalian akan berpikir si Mari ini adalah orang ketiga? Tenang aja... dia bukan orang ketiga. Karena masih ada yang lain. Ada si anu, si ini, dan si unu XD Jadi, akan ada banyak perempuan lain disini. Hehe

Dan untuk xxsr-san, saya punya akun wattpad. Tapi disitu saya bukan penulis. Hanya pembaca saja, untuk mencari inspirasi XD pernah ingin mempublish cerita disana, tapi saya tidak begitu percaya diri. Hehe

Okay guys. Sebenarnya saya penasaran. Dari semua fic yang saya tulis. Kalian paling suka yang mana? Coba tolong tuliskan tiga teratas yang paling kalian suka. Saya harap yang jadi silent rider pun menjawab pertanyaan ini.

Jangan lupa tulis di kotak review yaa~

Salam: De