Chapter 5
.
.
"Kenapa berita kamu mau menikah belum ada?" heran Mamori sambil mengamati tablet di tangannya.
"Sst! Nanti terdengar orang, bodoh," balas Hiruma. Mereka saat ini berada di dalam pesawat sebelum lepas landas.
Mamori menoleh dan mengerutkan dahinya bingung. "Apa masalahnya orang lain tahu sementara kamu sudah memberitahu Kepala Editorku?"
"Kau bodoh, heh? Cuma majalah di tempatmu lah yang akan memberitakan pernikahan kita nanti. Karena itu kau bisa cuti tiga minggu karena kesepakatan itu."
"Mana aku tahu. Memangnya kamu sudah cerita?" balas Mamori tidak peduli. "Hei... kalau kamu bisa membuat kesepakatan tiga minggu, kenapa tidak sekalian sebulan?"
Hiruma hanya menatap tajam ke Mamori dan malas untuk menjawabnya. "Sudah cepar masukkan benda itu. Kita sudah mau lepas landas."
.
.
Mamori masih terpana dengan bangunan mewah yang terhampar di depannya. Saat melewati gerbang depan yang tinggi dan kokoh, dengan sistem kunci otomatis dari mobil Hiruma, Mamori tidak menyangka di dalam pagar itu ada pemandangan seindah ini. Saat masuk, mereka melewati jalan sepanjang seratus meter dengan taman yang tertata rapi sebelum sampai ke tempat Hiruma memarkirkan mobilnya. Ini bukan seperti villa yang dibayangkannya, tapi lebih seperti resort pribadi. Mamori lalu menengok ke Hiruma yang baru saja memarkirkan mobilnya.
"Milikmu?" tanya Mamori.
"Bukan. Milik tukang kebunku," jawabnya asal.
Saat berkata seperti itu, lelaki berusia empat puluh tahunan berlari ke arahnya. "Hiruma-san, kenapa tidak bilang kalau mau datang?" tanya Nozawa, lelaki yang tidak lain adalah tukang kebunnya itu.
"Dia yang punya," sahut Hiruma lagi kepada Mamori.
Nozawa tertawa. "Aku yang lebih sering kesini," tambah Nozawa. Dia lalu mengambil koper yang dibawa Mamori.
"Tidak usah. Aku saja yang bawa Paman," tolak Mamori halus.
"Cepat buka pintunya," perintah Hiruma dan Nozawa langsung berlari ke pintu.
Mamori lalu mengikuti dari belakang dan bersusah payah mengangkat kopernya menaiki anak tangga yang lumayan banyak.
Tugasmu sudah selesai?" tanya Hiruma kepada Nozawa.
Nozawa mengiyakan sambil membuka pintu.
"Kau boleh pulang," ujar Hiruma saat Nozawa menyerahkan kunci kepada Hiruma.
"Oke. Terima kasih Hiruma-san," balasnya tersenyum girang.
Mamori berhenti dan menatap bingung saat Nozawa menganggukan kepala dan tersenyum kepadanya lalu berjalan menuju pintu gerbang. Mamori kemudian beralih pada Hiruma yang memperhatikannya dari tadi. "Kenapa Paman itu pulang?" tanyanya.
"Tugasnya sudah selesai," jawab Hiruma.
Ta-tapi kan...," Mamori bingung harus mengatakan apa dan menoleh lagi ke pintu pagar.
"Cepatlah masuk. Panas sekali, tahu!"
Mamori lalu melanjutkan lagi mengangkat kopernya. "Hei... Bisa tidak kau membantuku?"
Hiruma bersandar di pintu. "Tadi kau menolak tawarannya."
"Aku tidak pernah menyuruh orang tua."
"Salahmu sendiri." Dengan santai Hiruma masuk dan meninggalkan Mamori.
Beberapa menit akhirnya Mamori dengan susah payah sampai di pintu. Dia menghela napas panjang dan menarik koper ke dalam. Lagi-lagi Mamori harus terpana. Bukannya dia terkesan kampungan, tapi dia tidak pernah memasuki rumah semegah ini. Tepat di depannya ada ruang tengah berbentuk lingkarangan. Di sisi kirinya berderet tiga kamar, sampai ke sisi sebelah kanan ada dapur yang menghubungkannya ke kebun belakang sekaligus kolam berenang.
Mamori perlahan melangkah. Seketika langkahnya terhenti dan dia menunduk. Dia melihat ada anak tangga lagi. Namun tidak sebanyak tadi, yang ini mungkin hanya sepertiganya. Dia lalu melihat Hiruma yang sudah ada di sebelahnya dan mengangkat koper miliknya.
"Terima kasih," ujar Mamori.
Hiruma lalu membawanya masuk ke kamar tengah sementara Mamori duduk dan masih memperhatikan sekelilingnya. Seandainya dia benar-benar memiliki suami yang punya villa seperti ini, mungkin Mamori akan sering mengajaknya liburan ke Okinawa. Sayang, yang dia punya adalah suami kontrak, ditambah orang itu adalah Hiruma. Bahkan menikahi laki-laki itu tidak pernah terlintas di pikirannya, walau hanya pura-pura sekalipun.
"Kamarmu yang ini," sahut Hiruma keluar dari kamar sambil menunjuk ke belakangnya. "Aku mau istirahat sebentar. Bangunkan aku jam satu nanti."
Mamori lalu melihatnya masuk ke kamar di sebelahnya yang dekat dengan dapur. Beberapa saat setelah Hiruma masuk, Mamori pun juga masuk ke kamar. Dia lalu duduk di kasur sambil memandang jendela besar di sampingnya. Dari sini dia bisa melihat sebagian kebun belakang yang ada kolam kecil dengan Gazebo di tengahnya. "Wah... dia ternyata punya selera yang bagus."
Mamori langsung teringat ponsel yang dimatikannya dari tadi. Dia lalu mengambil di dalam tas selempang dan menghidupnya. Beberapa saat masuk satu buah pesan dan dia langsung membacanya.
Suzuna
Maaf Mamo-Nee, aku kehabisan tiket untuk hari ini. Tapi aku sudah beli tiket untuk besok pagi. Jadi tenang saja. Aku akan kesana besok. Oh ya, Ako-san juga bilang dia ingin ikut denganku. Dia bilang, dia tidak sabar ingin bertemu langsung denganmu sebelum hari pernikahan. Tidak apa-apa kan?
Kemarin dia memang sudah menelepon kedua sahabatnya itu tentang pernikahannya. Walau hanya nikah pura-pura, Mamori tetap harus mengabarinya. Dia tidak ingin mereka tahu dari mulut media lebih dulu kalau dia akan menikah senin depan. Ako dan Sara tentu akan mengosongkan jadwalnya apabila Mamori sudah mengabari mereka terlebih dahulu. Kalau Ako, dia pemilik restoran kecil di daerah rumahnya, jadi bisa meluangkan waktu kapan saja. Yang lebih sulit Sara, karena dia sudah menikah dan ikut suaminya yang ditugaskan ke Taiwan.
Dia lalu meletakkan ponselnya di kasur dan mulai membenahi barang bawaannya. Dia tidak bawa banyak barang di kopernya. Hanya beberapa potong pakaian dan sepasang heels.
Ponselnya tiba-tiba berdering dan Mamori langsung mengangkatnya.
"Ya Suzuna,"
"Kamu sudah sampai, Mamo-Nee?" tanya Suzuna.
"Ya. Aku lagi membereskan pakaianku."
"Tidak apa-apa kan Ako-san ikut?"
"Tidak apa. Memang aku yang menyuruhnya untuk ikut denganmu. Karena dia rencananya mau kesini hari sabtu."
"Aku masih heran kenapa You-Nii buru-buru seperti ini," sahut Suzuna.
"Entahlah. Dia bilang secepatnya daripada perutku tambah membesar," jawab Mamori. "Oh ya, kamu tidak bilang ke siapa-siapa kan tentang pernikahan ini?"
"Aku tidak bilang ke siapapun Mamo-Nee. Kemarin kamu sudah melarangku," jawabnya. "Aku cuma memberitahu Sena. Dia harus tahu. Dan Kurita-kun. Sudah mereka saja. Aku mau memberitahu Musashi-san tapi tidak tahu bagaimana menghubunginya."
"Kalau itu biar saja jadi urusan Hiruma."
"Baiklah. Ya sudah. Besok aku akan sms jagi saat mau jalan. Jangan lupa jemput aku."
"Ya. Sampai besok." Mamori lalu menutup teleponnya.
.
.
Hiruma terbangun dan melihat ke jam dinding di sebelahnya. Masih tiga puluh menit lagi sampai dia meminta Mamori membangunkannya. Dia lalu menatap lurus ke depan ke jendela sekaligus pintu geser di kamarnya. Hiruma melihat Mamori diluar sana, duduk memunggunginya di pinggir kolam berenang. Dia lalu menghampirinya.
Mamori menoleh saat mendengar pintu geser di belekangnya terbuka. "Kau sudah bangun?"
"Hm," jawab Hiruma.
"Apa Paman itu kesini setiap hari?" tanya Mamori saat Hiruma duduk di sebelahnya. "Dia pasti orang yang rajin. Taman disini bisa sampai sebagus ini."
"Ya. Pagi dan sore," jawab Hiruma. "Selain dia, ada juga istrinya yang suka beres-beres rumah tiga hari sekali."
"Gerbang di belakang itu menuju kemana?" tanya Mamori, menunjuk ke pintu pagar kecil yang menghubungkan jalan setapak yang di kelilingi pohon-pohon rindang.
"Suatu tempat yang akan membuatmu tambah takjub."
"Apa itu pantai?" tanyanya lagi. "Karena samar-samar aku mendengar suara ombak."
Hiruma menyeringai sebagai jawabannya. "Ayo bangun. Kita akan ke suatu tempat," sahut Hiruma bangun dari duduknya.
"Kemana?"
"Kau butuh pakaian untuk pernikahanmu, kan?"
.
.
Kali ini Mamori memang tidak sempat memikirkan mengenai gaun pengantinnya. Tapi laki-laki ini, Hiruma Youichi, dia benar-benar telah menangani semuanya.
"Jadi... seharian kemarin itu, kamu mengurusi semua ini?" tanya Mamori saat mereka sudah tiba di depan butik pengantin.
"Hm," jawab Hiruma sambil membuka kunci pintu mobil. "Turunlah. Aku akan menjemputmu dua puluh menit lagi."
"Kau mau kemana?" tanya Mamori tidak percaya dia akan ditinggal sendirian di kota yang sama sekali belom pernah dia tapaki.
"Ada urusan sebentar."
"Tapi kan... aku tidak mengerti apa-apa."
"Sebut saja namamu, bodoh. Mereka akan langsung melayanimu."
Selalu saja Hiruma berbuat seenaknya. Mamori mau tidak mau akhirnya keluar dari mobil sambil memandangi mobil Hiruma yang sudah melaju. Dia lalu menengok ke butik di belakangnya. Mamori enggan untuk melangkah. Apa yang harus dia lakukan. Apa yang harus dia katakan. Akhirnya dia pun bergerak maju ke pintu otomatis butik itu.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?" sapa resepsionis di dalam.
"Hmm... saya kesini, atas nama Anezaki Mamori?"
"Oh... tunggu sebentar." Resepsionis itu lalu mengubungi seseorang di teleponnya. "Anezaki Mamori-san sudah disini." Dia lalu menutup teleponnya. "Silahkan duduk dulu," ujarnya ramah kepada Mamori.
"Terima kasih." Mamori lalu duduk sambil melihat-lihat ke sekeliling. Menjadi wanita sederhana memang sudah menjadi prinsipnya. Tapi bukan berarti dia tidak tahu merek-merek ternama. Seperti contohnya gaun-gaun penganti yang dipajang di display butik ini.
"Anezaki-san?" panggil seseorang membuat Mamori menoleh ke arahnya. "Saya Saori, yang akan memandu anda." Wanita itu lalu mengulurkan tangan.
Mamori bangun dan menjabat tanganya. "Anezaki Mamori."
"Silahkan ikut saya."
Mamori lalu mengikutinya ke dalam dan mereka sampai pada ruangan yang cantik penuh dengan perlengkapan gaun pernikahan.
"Karena calon suami anda baru menelepon kemarin, jadi kami hanya punya persediaan terbatas. Beberapa model harus dipesan terlebih dahulu, tapi kami punya persediaan gaun di butik ini yang tidak kalah cantiknya." Saori lalu memberikan buku katalog ke Mamori. "Silahkan dilihat dulu."
Mamori lalu melihat model-model gaun pengantin yang begitu cantik dan elegan. Namun, tak bedanya dengan kebanyakan wanita lain, hal kedua yang dia lakukan setelah melihat barang, adalah melihat harga di bawahnya. Satu persatu Mamori lihat. Beberapa halaman sudah dia buka dan yang paling murah adalah seratus lima puluh ribu yen, sedangkan yang paling mahal bisa mencapai lima ratus ribu yen. Entah dia harus bekerja berapa bulan untuk bisa membeli gaun semahal itu.
"Apa ini katalog yang untuk dibeli?" tanya Mamori.
"Ya."
"Apa ada yang untuk disewa?" tanyanya lagi.
"Calon suami anda memesan gaun yang dibeli. Bukan yang disewa."
"Saya ingin lihat yang disewa," pinta Mamori.
"Maaf. Saya tidak bisa. Karena sesuai permintaan calon suami anda, anda harus memilih gaun yang untuk dibeli. Dia tidak ingin menyewanya."
"Maaf. Saya ingin menelepon dulu," sahut Mamori dan Saori lalu pamit dan meninggalkannya.
Beberapa detik nada sambung, dan telepon kemudian dijawab. "Aku tidak mau membelinya," serobot Mamori. Kali ini dia tidak mau Hiruma bertindak tanpa persetujuannya lagi.
"Kau tinggal pilih, dicoba, habis itu bawa pulang. Apa susahnya, heh?" balas Hiruma.
"Aku tidak mau. Semuanya mahal-mahal Hiruma. Kamu jangan menghambur-hamburkan uang untuk pakaian sekali pakai," balas Mamori lagi. "Dimana kau sekarang?"
"Keh kalau kau tidak mau. Pilih saja yang disewakan." Hiruma lalu menutup teleponnya.
Mamori lalu dengan sebal menatap ponselnya sendiri. Dia lalu melihat ke Saori dan memanggilnya. "Bawakan aku katalog yang disewakan."
Beberapa saat Saori membawakannya buku dan Mamori langsung melihat-lihat model gaun pengantin di dalamnya. Tidak banyak yang berbeda. Gaun yang disewakan juga cantik-cantik. Beberapa juga ada yang termasuk di katalog yang dijual. Yang berbeda hanyalah perbedaan harga yang lumayan jauh. Harga gaun yang disewakan rata-rata seperpempat dari harga yang dijual. Tentu Mamori akan lebih memilih menyewa gaun pengantinnya. Dia hanya memakainya sekali. Tidak perlu susah-susah dalam perawatan dan penyimpanannya. Yang lebih penting, ini cuma pernikahan sementara, untuk apa dia butuh gaun mahal-mahal.
Akhirnya Mamori memilih gaun dengan harga sewa lima puluh lima ribu yen. Gaun ini ada juga di katalog yang dijual dengan harga dua ratus ribu yen. Modelnya sangat elegan namun terkesan manis. Dengan payet emas di bagian pundak dan dadanya. Gaun bernuansa putih ini sangat cantik. Sebelumnya dia sudah melihatnya di katalog yang dijual. Dia bersyukur karena gaun ini juga bisa disewa, karena Mamori sudah menyukainya dari awal.
Beberapa menit Mamori mencobanya. Andai dia bisa memuji dirinya sendiri, dia pasti tidak akan beranjak dari cermin besar di depannya ini. Dia tidak percaya dengan matanya sendiri kalau ini adalah dirinya.
"Saya mau yang ini," sahut Mamori dan Saori mengiyakan. Dua orang yang membantu memakaikan gaun Mamori lalu menutup tirainya kembali bersamaan dengan Mamori melihat Hiruma datang dan berbicara dengan Saori.
Beberapa menit Mamori sudah kembali ke pakaian aslinya dan membuka tirai. Dia melihat Hiruma membayar di kasir sambil membawa tuxedo hitam di tangannya.
"Untuk gaun pengantinnya akan kami antar pada hari pernikahan. Tolong tandantangani ini," sahut Saori.
"Jangan sampai telat," ujar Hiruma sambil menandatanganinya.
"Ya. Terima kasih."
Mamori lalu tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Terima kasih Saori-san."
Mereka lalu sampai ke mobil dan Hiruma meletakkan tuxedonya di kursi belakang. Sementara Mamori masuk ke mobil dan mencium wangi sesuatu. Wangi yang manis dan segar. Wangi seperti ini sebelumnya tidak ada saat mereka berangkat tadi.
Mamori menengok melihat Hiruma masuk dan mengunci pintu mobilnya. "Habis bertemu seseorang?"
Hiruma menoleh sesaat, "Hm," jawabnya sambil memasang sabuk pengaman.
"Wanita?"
Hiruma kesal jika ada yang bertanya macam-macam tentang urusannya. "Bukan urusanmu, sialan. Pakai sabuk pengamannya," balasnya.
Mamori hanya melengos tidak peduli dengan kekesalan Hiruma dan memakai sabuk pengamannya. Sementara Hiruma mulai melajukan mobilnya kembali ke villa.
.
.
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil:
TGIF guys (ngikutin V-san ceritanya XD) ~!
Wah... ceritanya masih belum ada perlonjakan. Tapi tenang saja beberapa chapter lagi saya siap untuk mengaduk-aduk cerita dan membuat kalian sedih, kesal, dan berdebar XD
Ternyata kesukaan kalian beda-beda ya XD kalau menurut saya sendiri, saya paling suka
yang pertama itu You and I + Us
yang kedua Love Trap
yang ketiga If You Love Me series (apa WDYKM ya? Saya bingung XD)
Okey... dan maaf untuk You Poo-san, saya tidak bisa update kemarin. Benar-benar tidak bisa karena chapter ini belum kelar. Semangat untuk KKNnya. KKN ya? Jadi terkenang KKN saya sendiri beberapa tahun silam di daerah Sumedang (duh, ketauan deh kalau sudah tua)
Jangan lupa reviewnya yaaa~
Salam: De
