Chapter 6

.

.

Suzuna melihat jam di ponselnya kembali. Sudah lima belas menit berlalu sejak dia turun dari pesawat dan menunggu Mamori menjemputnya.

"Coba telepon," sahut Ako yang berdiri di sebelahnya. "Siapa tahu Mamori lupa menjemput."

"Dia seharusnya ingat," jawab Suzuna sambil memperhatikan mobil yang lewat di depannya.

Tidak lama kemudian sebuah sedan hitam berhenti tepat di depannya dan keluar seseorang dari dalamnya. Suzuna bernapas lega saat melihat orang itu adalah Mamori.

"Lama sekali, Mamo-Nee!" keluh Suzuna.

Mamori tertawa sambil memeluk Ako. "Maaf. Mobilnya dipakai Hiruma tadi," jawab Mamori.

"Apa kabar Mamori?" sapa Ako.

"Aku baik," balasnya. "Tolong buka kunci bagasinya Paman," pinta Mamori kepada Nozawa di kursi pengemudi.

"Ya Anezaki-san."

Setelah terbuka, Suzuna da Ako memasukkan koper mereka ke dalamnya. "You-Nii mana?" tanya Suzuna.

"Dia masih tidur," jawab Mamori sambil menutup bagasinya kembali.

"Kamu masih punya hutang cerita padaku Mamori," sahut Ako.

Mamori tersenyum serba salah. Mereka lalu menaiki mobil dan menuju ke villa kembali.

.

.

Apa yang mau Mamori ceritakan. Dia tidak tahu harus memulai dari mana. Dia tidak ingin bohong kepada Ako, tapi juga dia tidak bisa jujur kepadanya. Untuk hal ini, tidak perlu banyak orang yang terlibat. Cukup hanya Suzuna saja yang tahu, sisanya biar yang lain mengira mereka menikah karena memang sudah lama menjalin hubungan.

Seperti itulah yang akan Mamori ceritakan kepadanya. Karena dia tidak punya pilihan lain.

"Jadi setelah beberapa minggu kamu putus dari Eiji-san, kamu mulai dekat lagi dengan Hiruma-san?" tanya Ako saat mereka duduk bertiga di ruang tengah.

"Aku masih tidak menyangka, Mamori. Kamu memang dulu dekat dengannya. Tapi bukan dekat dalam hubungan seperti ini."

Oh ya. Tentu saja Mamori sangat mengerti kebingungan Ako itu. Dia sendiri juga tidak mengerti harus menjawab apa. Sahabatnya ini sangat tahu seperti apa tipe laki-laki idamannya. Lelaki yang berbeda jauh dengan sifat calon suaminya sekarang ini.

"Dulu kita memang biasa saja. Tapi sekarang aku sangat mencintainya."

Ako mengangguk-angguk sambil tersenyum. Sementara Suzuna, ya, Suzuna, yang mengetahui kebohongan ini hanya bisa berdeham dan menawan sedakannya.

"Oh, You-Nii," sahut Suzuna saat melihat Hiruma keluar kamar.

Mamori menoleh ke belakang melihat Hiruma yang masih menguap. Entah apa yang dilakukannya semalam. Tapi yang jelas, dia baru pulang tiga puluh menit sebelum Mamori menjemput Suzuna ke bandara tadi pagi.

Mamori melihat dengan kesal saat Hiruma duduk di sebelahnya dengan tangan direntangkan ke belakang Mamori dan menyilangkan kakinya.

"Kau tidak buat sarapan?" tanya Hiruma melihat ke Mamori yang masih menatapnya.

Laki-laki ini masih sempat-sempatnya menanyakan sarapan padahal dia baru pulang jam sepuluh tadi. Kenapa juga dia tidak cari makan sendiri sebelum pulang. Kesal Mamori dalam hati. Mamori tentu saja sudah membuat sarapan. Tapi untuk dirinya sendiri tidak untuk laki-laki ini.

"Mana kunci mobilnya?" tanya Hiruma lagi karena tahu Mamori tidak akan menjawab pertanyaannya tadi.

"Ada di Paman," jawab Mamori.

"Kalau begitu aku pergi dulu," sahutnya lagi dan mendadak mencium pipi Mamori dengan cepat. Dia lalu bangun dari duduknya.

Ako yang melihat itu langsung mengalihkan pandangannya. Sementara Suzuna hanya bisa terperanga tidak percaya. Dan Mamori, orang yang tidak tahu, pasti akan melihatnya seperti sedang kesal dengan pasangannya sendiri karena akan ditinggal pergi. Tapi kenyataannya dia kesal karena Hiruma mendadak mencium pipinya tadi.

"Tunggu Hiruma, kau mau kemana?" tanya Mamori setelah mengendalikan hatinya karena tindakan Hiruma tadi.

Hiruma tetap tidak menjawab dan terus berjalan keluar. Sementara Mamori masih memberenggut kesal.

"Ngomong-ngomong, Mamori. Kamu masih memanggilnya Hiruma?" tanya Ako.

Mamori mengalihkan perhatiannya ke Ako. "Ah. Ya. Aku sudah biasa memanggilnya seperti itu."

Ako mengangguk-angguk mengerti.

"Oh ya. Kalian istirahat dulu saja. Karena siang nanti orang-orang dari WO akan datang. Jadi kalian harus membantuku."

.

.

Siang harinya mereka disibukkan dengan kedatangan para pekerja yang akan menghias kebun belakang. Untuk urusan itu, Mamori menyerahkannya pada Suzuna. Mamori percaya Suzuna bisa mengatur mengenai dekorasi, tata letak dan segala macam urusan itu. Sedangkan Mamori dan Ako sedang berbicara mengenai makanan yang akan disajikan nanti. Untuk hal yang satu ini pun, Mamori bisa mengandalkan Ako, mengingat dia adalah pemilik restoran. Jadi dengan memilih makanan pilihannya sendiri ditambah pendapat dari Ako, Mamori berharap yang akan disajikan di pesta pernikahannya nanti akan terasa lezat sekaligus mewah.

Suzuna muncul dari pintu dapur. "Mamo-Nee," panggilnya, membuat Mamori yang sedang berdiskusi di ruang tengah menoleh ke arahnya. "Kamu mau satu meja bundarnya, empat kursi atau lima?" tanyanya.

Mamori berpikir sesaat. "Empat saja," jawabnya.

"Oke." Suzuna lalu kembali ke kebun belakang.

Beberapa saat kemudian, Hiruma datang dan langsung menuju dapur. Dia membuka kulkas dan mengambil botol air minum kemudian langsung menenggaknya. Hiruma menyadari Suzuna yang baru saja masuk dari pintu belakang.

"Dari mana saja kau You-Nii?" tanya Suzuna sambil bersandar di pintu.

"Bukan urusanmu," jawab Hiruma. Dia lalu melewati Suzuna begitu saja dan menuju ke kebun belakang memperhatikan tiga orang pekerja dekorasi.

Suzuna menghampiri Hiruma dan berdiri di sebelahnya. "Ada yang kurang?"

"Kapan kira-kira mereka akan selesai?"

"Aku tidak tahu," jawab Suzuna. Dia lalu melihat ke Hiruma. Teringat akan pertanyaan yang terus mengganjal pikirannya. "Ngomong-ngomong You-Nii," sahutnya. "Aku masih penasaran kenapa kamu mau melakukan pernikahan ini."

Hiruma menoleh dan melihat Suzuna sebentar. "Karena dia hamil. Bukannya kau sudah tahu?"

Suzuna melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang kendengar percakapan mereka. Dia lalu kembali ke Hiruma lagi. "Tapi aku pikir kau tidak akan mau repot-repot menikahinya," balasnya. "Terlebih, Mamo-Nee bilang kau yang memintanya."

Hiruma tidak membalas dan hanya memperhatikan ke depan.

"Aku tidak tahu apa maksud tujuanmu bertindak seperti itu," lanjut Suzuna lagi. Dia sangat yakin dengan pemikirannya. Menurut Suzuna, melakukan pernikahan ini sama sekali tidak ada untungnya bagi Hiruma.

"Aku hanya melakukan apa yang semestinya aku lakukan. Mempertanggungjawabkan perbuatanku."

"Tapi masih ada jalan lain. Kau bisa juga kan mengirim Mamo-Nee ke tempat yang jauh dan memberinya uang untuk merawat bayinya."

"Kau ingin aku melakukan itu, heh?"

"Aku tidak mau," balas Suzuna cepat. "Tapi tetap saja ini bukan seperti dirimu. Aku tahu bagaimana kehidupanmu setelah kau menjadi atlet profesional, You-Nii. Hubunganmu dengan wanita-wanita Inuwashi. Pernikahan ini hanya akan merugikanmu."

Hiruma masih tetap terdiam. Dia pun sangat tahu sifat wanita yang satu ini. Kalau Suzuna sudah penasaran akan satu hal. Dia tidak akan segan-segan mengatakannya dan mencaritahu kebenarannya. Begitu pula dengan yang satu ini.

"Aku tidak suka kalau kau hanya ingin mempermainkan Mamo-Nee," lanjut Suzuna lagi.

"Aku tidak akan melakukan itu,"

"Lalu apa tujuanmu?"

Hiruma lagi-lagi tidak menjawab. "Apa tidak bisa kau tidak bertanya-tanya terus seperti itu, heh?"

"Kau mencintainya?" lanjut Suzuna lagi tanpa menggubris perkataan Hiruma tadi dan terus menatap ke mata Hiruma.

Hiruma membalikkan badannya dan menghadap langsung ke Suzuna. Tentu saja kekesalan Hiruma sudah mulai muncul sekarang. "Dengarkan baik-baik, sialan," balasnya. "Aku melakukannya karena aku mau. Tidak ada hubungannya dengan apa-pun yang ada di dalam teori sialanmu. Jadi berhenti bertanya yang macam-macam dan jangan membuatku kesal."

Hiruma lalu membuka pintu geser dan masuk ke dalam kamarnya sambil menutup pintunya kembali keras-keras membuat para pekerja di kebun melihatnya.

Suzuna menghela napas pasrah. Dia melihat Hiruma menarik dengan kasar gorden di kamarnya. Suzuna lalu kembali ke dalam menuju Mamori dan Ako di ruang tengah.

"Sudah selesai?" ujar Suzuna dan duduk di sebelah Mamori.

Mamori jawab mengagguk sambil meneruskan obrolannya dengan pekerja catering. Setelah itu Mamori bersalaman dan mengucapkan terima kasih.

Mamori lalu beralih ke Suzuna setelah kedua pekerja itu pergi pamit. "Bagaimana dekorasinya?"

"Mereka masih memperkirakan dekornya," jawab Suzuna.

"Tapi kamu sudah kasih tahu apa-apa saja yang aku bilang tadi kan?"

Suzuna mengangguk. "Mereka akan mendiskusikan denganmu kalau sudah selesai sketsanya."

Mamori tersenyum setuju. Dia lalu celingukan mencari seseorang. "Mana Hiruma?"

"Di kamarnya."

Mamori lalu bangun dari duduknya.

"Mau kemana Mamori?" tanya Ako.

"Ada yang mau kubicarakan dengannya."

.

.

Mamori membuka pintu kamar Hiruma dan menutup pintunya kembali. Di dalam kamar gelap, hanya ada tembusan sinar matahari dari gorden yang tertutup rapat. Mamori mendengar suara pancuran air dari dalam kamar mandi. Dia lalu duduk di ujung kasur sambil menunggu Hiruma. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu Hiruma keluar. Karena beberapa saat kemudian, Hiruma muncul dengan hanya menggunakan handuk di pinggangnya.

Mamori menundukkan kepalanya. Kalau bukan karena ada yang ingin dibicarakan berdua saja dengan Hiruma, dia tidak perlu repot-repot menemuinya disini.

"Apa yang kau lakukan disini, heh?" tanya Hiruma sambil membuka lemari pakaian.

"Bisa pakai baju dulu?" balas Mamori. Dia lalu mendengar suara kamar mandi ditutup dan membuat Mamori menaikan kepalanya lagi

Tidak lama Hiruma keluar. Mamori hanya mengernyitkan dahinya frustasi. Dia melihat Hiruma telanjang dada dan hanya mengenakan celana panjang hitamnya.

"Ada apa?" tanya Hiruma berdiri sambil menompang kedua tangan di dada.

"Bisa pakai bajumu dulu?" ulangi Mamori lagi.

"Apa kau merasa terganggu?"

"Sudahlah," balas Mamori. "Begini. Aku memang belum memintamu menandatangani surat perjanjiannya. Tapi bukan berarti kamu bisa berbuat hal seperti tadi pagi."

"Berbuat hal seperti apa?"

"Kau menciumku di depan Ako dan Suzuna tadi pagi," kesalnya.

"Kalau kau mau membuat pernikahan kita terlihat nyata di depan teman-temanmu yang tidak tahu apa-apa, maka kau harus bisa terbiasa dengan itu, bodoh."

"Tapi kau seharusnya bilang dulu!"

Hiruma tersenyum menyeringai dan perlahan mendekat ke Mamori. "Bukannya lucu kalau aku harus bilang dulu kalau ingin menciummu?"

"Bukan begitu..." ucapan Mamori tiba-tiba terhenti saat Hiruma menundukkan tubuhnya dan merangkap tubuh Mamori di tengah dengan kedua tangan.

"Jadi aku harus bilang dulu di depan altar nanti saat akan menciummu?" sela Hiruma.

Mamori yang terlalu gugup dan tidak berani menatap mata Hiruma, kesulitan untuk menemukan kata-katanya sementara Hiruma kian mendekati wajah mereka sehingga membuat Mamori memundurkan kepalanya.

"Aku penasaran bagaimana reaksi teman-temanmu saat melihat kau yang menciumku dengan canggung di depan altar nanti."

"Kita akan melakukannya dengan cepat," sahutnya. Berhasil menemukan suaranya kembali sambil mendorong lengan Hiruma yang mengurungnya.

"Seperti apa?" tantang Hiruma tidak goyah sedikitpun.

"Kau jangan memancingku, Hiruma."

"Bukannya sebaiknya kita latihan dulu?" Hiruma semakin mendekat dan menaikan satu kakinya ke atas kasur sementara Mamori merangkak naik, berusaha menjauh dari Hiruma.

"Kau jangan macam-macam," balas Mamori. Kali ini dia benar-benar gugup dan jantungnya terus berdebar cepat. "Lepaskan aku." Mamori mendorong dada Hiruma sekuat tenaga namun lelaki itu sama sekali tidak bergeming dan terus memojokan Mamori sampai ke ujung tempat tidur.

"Aku tidak memegangmu. Kau yang menyentuhku."

Mamori langsung menjauhkan tangannya yang berusaha menyingkirkan Hiruma.

"Kau takut?" sahut Hiruma. "Kau yang masuk sendiri ke dalam kamarku."

"Aku hanya ingin bicara," balas Mamori.

"Laki-laki dan perempuan berduaan saja di dalam kamar tidak hanya sekedar bicara."

"Kalau kau macam-macam, aku akan teriak."

"Teriak saja. Orang-orang hanya akan bingung kenapa kau berteriak," balas Hiruma.

"Oke. Sekarang apa maumu?" tantang Mamori berusaha mengembalikan keberaniannya.

"Cium aku," jawabnya. "Setidaknya aku harus tahu bagaimana cara calon istriku berciuman."

Wajah Mamori semakin panas dan jantungnya berdebar tidak karuan. Sekarang dia menyesal telah memilih tempat ini untuk bicara dengan Hiruma. "Bukannya kau sudah pernah?"

"Kapan?"

"Waktu itu...," jawabnya menghindari tatapan mata Hiruma. "Pada malam waktu itu."

Hiruma menyeringai. "Itu sudah lama sekali. Aku sudah lupa rasanya."

Mamori menghela napas pasrah. "Kau janji akan melepaskanku setelah aku melakukannya?"

"Aku tidak pernah bohong."

"Baiklah," balasnya dan dengan cepat mencium pipi Hiruma.

Hiruma mendecak. "Kau pikir aku anak kecil, heh?"

Mamori menatap sebal. Dia lalu dengan ragu-ragu mendekat ke bibir Hiruma dan menciumnya dengan cepat pula.

"Kau menciumku seperti bocah lima tahun," sahutnya.

Tanpa penjagaan, Hiruma lalu menyentuh leher Mamori dan mencium bibirnya. Hiruma mencium dengan dalam dan tidak tertahankan. Sementara tangan yang lainnya berusaha meraih ke belakang pinggang Mamori dan perlahan membawanya berbaring di tempat tidur.

Mamori yang tidak bisa melawan, hanya bisa terlarut dalam kehangatan tubuh Hiruma yang melingkupinya dan membalas ciuman Hiruma. Entah mengapa Mamori sulit menolak dan terus mengikuti irama ciuman Hiruma yang terasa tepat di bibirnya.

Hiruma memanggutnya dengan lahap dan enggan untuk melepaskan. Hiruma tidak ingat kapan dia terakhir kali berciuman seperti ini. Yang dia ingat, dia sangat merindukan kenikmatan seperti ini sejak malam reuni waktu itu. Sejak Mamori berada di dalam dekapannya seperti ini.

Akhirnya, Hiruma perlahan melepaskan ciuman mereka dan mulai mengatur napasnya yang berantakan. Dia menatap mata Mamori lama, berusaha membaca apa yang wanita itu rasakan kepadanya. Perlahan Hiruma menunduk lagi dan ingin menikmati bibir Mamori kembali namun ada suara ketukan pintu menyelanya.

"Mamo-Nee, pekerja dekor ingin bicara denganmu." Samar-samar terdengar suara dari balik pintu.

Tanpa kata-kata, Mamori bangun dan Hiruma menaikan tubuhnya kembali. Mamori lalu turun dari tempat tidur sambil merapikan kuncir rambut dan bajunya yang berantakan. Setelah itu dia membuka pintu dan menutupnya kembali meninggalkan Hiruma di dalam. Entah apa yang akan dilakukan mereka berdua, jika tidak ada suara ketukan pintu yang menyelanya. Dan Hiruma bersyukur akan hal itu, karena dia sudah tidak dapat menahan dirinya sendiri.

.

.

To Be Continue

.

.

Catatan Kecil:

Maaf semuanya, saya tidak bisa update cepat-cepat karena waktu libur saya sudah habis tgl 17 kemarin. Jadwal saya seperti anak sekolahan, tapi saya tidak semuda itu XD. Mencari sela-sela untuk menulis saja susah ditambah mood yang minus setiap hari. Jadinya chapter ini jadi lama kelarnya.

Karena itu, dimohon kesabarannya ya guys~ saya pasti akan meluangkan waktu sesaat untuk menulis walaupun hanya beberapa baris. Jadi tenang saja, saya pasti akan update.

Okey, pembaca setia yang luar biasa semuanya, katakan sesuatu tentang chapter ini di dalam kotak paling bawah XD

Salam: De