Chapter 7
.
.
Hari-hari berikutnya berlangsung dengan kesibukan yang menyita waktu Mamori. Dari mulai mengurus segala sesuatu untuk surat pernikahan, mendata tamu undangan, sampai perawatan diri menjelang hari pernikahannya.
Tamu undangan mereka tidak banyak. Hanya lima puluh orang kerabat dan teman-teman yang akan mereka undang. Mamori tentu akan mengundang beberapa teman dekat dan rekan kerjanya di Fukuoka. Tidak banyak, karena tamu undangan hanya untuk lima puluh orang, maka Mamori hanya menulis lima belas nama yang dekat dengannya. Sisanya adalah tamu undangan untuk Hiruma. Yang sudah pasti, Mamori jugalah yang harus mengurus itu semua. Karena lelaki itu selalu tidak ada di rumah.
Sejak mereka menginap di villa ini, Mamori selalu melihat Hiruma pulang pagi dan tidur sampai siang. Entah dia pergi kemana semalaman. Tapi dengan begitu Mamori bersyukur. Sejak kejadian itu, Mamori tidak mau berada dekat-dekat dengan Hiruma, apalagi hanya berdua saja dengannya. Jangakan berdekatan, untuk menatap matanya saja Mamori sudah merasa tidak enak, seolah ada yang bergejolak di perutnya. Jadi sebisa mungkin, Mamori benar-benar menghindari Hiruma sampai hari ini, satu hari sebelum pernikahan mereka.
"You-Nii belum pulang lagi?" tanya Suzuna sambil mendekati dapur sambil celingukan berharap Ako tidak ada di sekitar mereka.
Mamori hanya menjawab menggeleng.
"Sebenarnya kemana dia, selalu pergi malam dan pulang pagi."
"Entahlah. Aku tidak tahu. Itu urusannya. Yang aku tahu, selalu ada wangi yang berbeda darinya setiap dia pulang."
"Bagaimana kau tahu?" tanya Suzuna.
Mamori hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.
"Mana Ako-san?" tanya Mamori.
"Biasa... Dia sedang membantu Paman Nozawa," Mamori lalu berjalan ke ruang tengah membawa susu yang tadi dibuatnya.
Mereka lalu duduk dengan santai di sofa sementara Suzuna memperhatikan susu yang sedang diminum Mamori. "Itu susu ibu hamil?"
Mamori selesai meminum setengahnya dan mengangguk.
"Jangan sampai ada orang lain yang lihat."
"Aku sudah memindahkannya ke toples. Kardusnya sudah kubuang. Kamu tenang saja."
Pintu terbuka dan orang yang mereka bicarakan tadi muncul disana. Hiruma berjalan santai sambil mengacak rambutnya dan melewati ruang tengah. "Nanti Pak Tua sialan akan kesini," sahut Hiruma.
Mamori mengernyitkan kepalanya berpikir. "Musashi-san?" tanya Mamori lagi.
"Hm," balas Hiruma kemudian masuk ke kamarnya dan menutup pintunya lagi.
"Kau benar...," sahut Suzuna. "Ada wangi seperti aroma terapi."
"Sudah kubilang," balas Mamori kembali melanjutkan meminum susunya.
.
.
Hiruma menutup pintu kamarnya. Dia menghela napas. Melihat wanita itu membuatnya gila. Sekuat hati Hiruma berusaha mengelak perasaan itu. Tapi rasanya tidak mungkin. Ditambah fakta bahwa dia akan bersama selama setahun, membuat dirinya semakin tersudut. Dia tidak bisa lari kemana-mana.
Hiruma tidak boleh mempunyai perasaan ini lagi. Karena Hiruma tahu, dia hanya akan berputar di luar lingkaran dimana dia tidak bisa menembus ke dalamnya. Sama seperti masa dulu. Dimana dia hanya bisa menatap dari jauh, suatu hal yang paling indah yang tidak boleh dirusaknya.
Tapi kenyataannya dia sudah merusaknya. Dia sudah melangkah lebih ke dalam lingkaran. Tapi tetap saja, masih jauh dari jangkauan tangannya. Lingkaran itu masih terbuka. Dan suatu saat, dia pasti akan kembali keluar. Jadi sebelum melangkah lebih jauh, dia ingin berada di posisinya sekarang ini. Menjalaninya sesuai dengan kesepakatan.
.
.
Siang harinya, seperti yang dikatakan Hiruma. Musashi datang dengan istrinya, Karin. Penduduk asli Okinawa yang membuat Musashi ikut tinggal di Okinawa.
Melihat kedatangan mereka dengan aroma wewangian yang khas, entah mengapa membuat Mamor lega. Karena ternyata wangi inilah yang tercium dari tubuh Hiruma setiap dia pulang pagi. Dan Mamori baru ingat, kalau Karin memiliki toko aroma terapi dan sudah pasti dia juga memakainya di rumah mereka.
"Apa kabar, Karin-san. Sudah lama tidak bertemu," sapa Mamori sambil memeluk Karin.
"Baik, Mamori-san," balasnya. "Sudah kuduga kalau calon istrinya itu kamu." Mereka lalu melepaskan pelukannya.
Mamori lalu beralih ke Musashi yang masih memandanginya bingung. "Ada apa Musashi-san?"
Musashi tersadar dari pikirannya. "Ah. Tidak apa-apa."
"Dia cuma kaget," timpal Karin. "Hiruma-san tidak memberitahu siapa calon istrinya. Dia cuma bilang, kalau kita berdua mengenalnya. Aku sudah bilang kalau perempuan itu pasti kamu, tapi Musashi-san tidak percaya."
"Dimana Hiruma?" tanya Musashi.
"Di kamar. Sepertinya masih tidur."
Tanpa kata-kata Musashi berjalan ke arah kamar yang ditunjuk Mamori meninggalkan dua wanita yang akan mengobrol panjang, yang Musashi yakin, dia tidak ingin mendengarnya.
Tanpa mengetuk lagi, Musashi langsung membuka pintu dan melihat Hiruma sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. Musashi lalu menutup pintunya kembali.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi," ujar Musashi tanpa basa-basi.
Hiruma hanya melirik sekilas dan kembali lagi ke laptopnya. "Aku sudah bilang kalau aku akan menikah," jawabnya santai.
Musashi berdiri tegak di depan pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Mendengar kau mau menikah saja sudah membuatku keheranan, ditambah calon istrimu adalah Anezaki," balas Musashinya. "Jangan membuatku bertanya-tanya sendiri Hiruma."
"Intinya aku akan menikah. Besok. Kau tidak usah berpikir yang lain-lain."
"Kau kira aku bodoh? Aku sudah lama mengenalmu. Aku tahu bagaimana hubungan kalian berdua saat sekolah dulu. Dan Anezaki? Kalian jauh dari hubungan seperti ini."
Hiruma tidak menjawab dan hanya memandang ke layar laptopnya.
"Apa kau memaksanya? Atau kau sedang merencanakan sesuatu dan membuat pernikahan pura-pura?"
"Kau jangan banyak tanya Pak Tua."
"Kalau begitu katakan alasannya," kesalnya dengan suara pelan agar tidak terdengar keluar.
"Dia hamil! Kau puas, heh?"
Musashi terdiam selama beberapa saat mendengar perkataan Hiruma. "Hamil... anakmu?"
Hiruma tidak menjawab lagi dan itu merupakan jawaban bagi Musashi.
"Oh Tuhan," hela Musashi. "Aku jadi tambah bingung sekarang. Bagaimana bisa Anezaki, dan dirimu, melakukan itu? Dia Anezaki Mamori. Dan kau Hiruma Youichi. Siapapun yang mengenal kalian berdua tidak akan mempercayainya."
"Aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu," timpal Hiruma.
"Apa kau yang memaksanya?" lanjut Musashi.
Kali ini Hiruma menoleh dan mengernyitkan dahinya kesal ke Musashi. "Apa kau bisa berhenti menuduhku, sialan?" kesalnya. Dia lalu menutup laptopnya dan bangkit dari tempat tidur. Kemudian melangkah ke arah Musashi. "Yang jelas, dia hamil dan aku sudah berniat baik untuk menikahinya."
"Sebatas hanya karena alasan itu? Tidak ada hubungannya dengan perasaanmu?" tekan Musashi lagi. "Jangan kira aku tidak tahu, Hiruma."
"Minggir," kesal Hiruma dan membuka pintu kamarnya dengan kesal. Dia lalu keluar kamar dan bertemu mata dengan Mamori. Dengan cepat pula dia menghindarinya dan melewati ruang tengah, kemudian keluar rumah.
Setelah hening beberapa saat, Karin melihat suaminya keluar kamar. "Apa yang terjadi?" tanyanya. "Dia mau kemana?"
Musashi hanya mengangkat bahunya sementara Mamori masih menatap pintu depan dan melihat Hiruma menjalankan mobilnya.
"Apa kalian yakin tidak sedang bertengkar?" tanya Karin, mengalihkan perhatian Mamori.
Mamori hanya menjawab menggeleng dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
.
.
Di ruang makan, Mamori, Suzuna, dan Ako sedang menikmati makan malam. Suzuna dan Ako asik bercerita tentang rencana mereka pulang besok setelah pernikahan, sementara Mamori hanya menatap lurus ke ruang tengah, memandangi seseorang yang tengah duduk disana.
Dia jadi ingat percakapan dengan Karin siang tadi.
"Apa kalian sedang bertengkar?" tanya Karin saat mereka sedang mengobrol di ruang tengah setelah Musashi masuk ke dalam kamar Hiruma.
"Tidak," jawab Mamori sambil menggeleng. "Kenapa memang?"
"Karena setelah dia bilang akan menikah, beberapa hari belakangan dia terus menginap di tempat kami," ceritanya. "Aku bertanya kenapa dia tidak pulang. Tapi dia tidak menjawabnya. Akhirnya Gen membiarkannya saja."
"Aku mengira kalau dia pasti sedang ada masalah dengan calon istrinya," lanjut Karin lagi. "Karena kebanyakan pasangan yang akan menikah pasti akan mengalami perdebatan dengan pasangannya sendiri."
"Hei, Mamori," panggil Ako yang melihat Mamori sibuk dengan lamunannya sendiri. "Mamori," panggilnya lagi dengan suara yang lebih keras.
Mamori terenyak dan langsung menoleh menatap Ako yang duduk di sebelahnya.
"Melamun saja dari tadi. Cepat habiskan makananmu."
Mamori hanya tersenyum kaku. "Ah, maaf," sahutnya sementara Suzuna yang duduk di depan Ako hanya mengamati tingkah Mamori.
"Apa kamu sedang bertengkar dengannya?" tanya Ako.
"Hm? Bertengkar dengan siapa?" tanya Mamori yang masih belum menyimak pembicaraan mereka.
"Dengan Hiruma-san," jawab Ako. "Beberapa hari ini aku tidak melihat kalian mengobrol. Dan sepertinya kalian saling menghindari satu sama lain."
"Mungkin mereka tegang karena mau menikah besok," jawab Suzuna membantu Mamori yang kesulitan mencari jawabannya.
"Bicaralah dengannya. Kamu bahkan tidak mengajaknya makan malam," ujar Ako lagi.
"Dia tidak biasa makan ramai-ramai seperti ini," jawab Mamori sekenanya. Walau kemungkinan alasan itu bisa jadi benar.
"Aku berharap besok cerah," sahut Suzuna, mengalihkan pembicaraan mereka.
"Semoga besok berjalan dengan lancar. Ya kan, Mamori?"
Mamori hanya membalas dengan tersenyum.
.
.
Hari pernikahan tiba. Para tamu undangan, mulai dari rekan klub Hiruma, teman kerja Mamori, serta teman-teman lama mereka di Deamon dan Saikyodai sudah menempati kursi. Dengan santai mereka menjadi saksi saat kedua mempelai akan mengucapkan sumpahnya.
"Saya bersedia," ucap Hiruma saat pendeta bertanya kepadanya.
"Apakah kamu, Anezaki Mamori, bersedia menerima Hiruma Youichi sebagai suamimu, dalam senang atau pun susah sampai maut memisahkan kalian?" kali ini pendeta bertanya kepada Mamori.
"Saya bersedia," jawab Mamori.
Setelah itu Musashi memberikan cincin pernikahan mereka. Hiruma membuka kotak cincin itu, sementara Mamori hanya bisa memandang dengan kagum benda kecil yang indah itu. Tidak pernah terpikir oleh Mamori tentang cincin pernikahan mereka, dan Hiruma sudah mempersiapkan semuanya.
Dengan lembut Hiruma menaikan tangan Mamori yang bersarung tangan putih dan memakaikan cincin tersebut. Seraya Mamori tersenyum menatap Hiruma dan sekarang giliran dia yang memakaikannya ke jari Hiruma.
"Sekarang mempelai pria dipersilakan mencium mempelai wanita," sahut pendeta itu lagi.
Dengan ragu Mamori menatap mata Hiruma. Entah sejak kapan, menatap bola mata hijau ini membuat Mamori kesulitan bernapas. Mamori melihat Hiruma yang begitu tenang dengan kepercayaan dirinya perlahan memegang lembut pipi Mamori. Keduanya mendekat dan memperpendek jarak mereka sampai akhirnya keduanya berciuman. Hanya beberapa detik dan Hiruma mencium Mamori tepat di ujung bibirnya.
Hiruma menatap Mamori yang tersenyum terkesan meledeknya. Membuat dirinya enggan untuk bertanya walaupun dia sangat penasaran.
Keduanya berbalik badan menghadap ke tamu undangan dengan tangan Mamori yang melingkari lengan Hiruma.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri, heh?" Akhirnya Hiruma melontarkan pertanyaannya.
Mamori menggeleng menahan tawanya sambil berjalan perlahan ke kursi yang telah disediakan. Mamori tetap senyuman dan menerima ucapan selamat dari teman-temannya. Dia lalu mendongak ke Hiruma da tersenyum penuh kemenangan. "Kamu menciumku seperti anak umur lima tahun," ledeknya.
"Kauć¼ !"
"Halo kakak ipar!"
Mamori menoleh ke asal suara yang tidak dikenalinya. Namun setelah melihatnya, Mamori tahu siapa orang itu. Bagaimana tidak, dia bekerja di kantor majalah selebriti. Dan lelaki bernama Furukawa ini pernah menjadi pilihan topik utama, walaupun selalu menolak untuk diwawancarai.
"Tidak menyangka kalau istri Hiruma akan secantik ini," lanjut Furukawa lagi.
Mamori tersenyum mendengar pujian itu. "Terima kasih, Furukawa-san."
Kau mengenalku?" tanyanya dengan mata yang terbuka lebar.
"Tidak ada satupun perempuan di Jepang yang tidak mengenalmu," balas Mamori.
"Aku senang kamu memujiku kakak ipar. Tapi aku rasa suamimu tidak senang."
Mamori melirik ke Hiruma yang terlihat sedang bicara dengan Walker.
"Kita akan bicara lagi nanti ya kakak ipar," lanjutnya lagi.
Mamori hanya membalas dengan tersenyum.
Setelah sampai ke meja bundar mereka, Hiruma menarik kursi untuk Mamori duduk dan dia duduk di sebelahnya.
Mamori mengambil anggur dari atas meja.
"Aku tidak tahu kau bisa menggoda rekanku seperti itu, heh."
Mamori menoleh dengan santai sambil memakan anggurnya. "Aku tidak tahu kau mendengarkan pembicaraanku dengan Furukawa-san."
"Kau tidak mengundang Bibimu?"tanya Hiruma.
Kali ini Mamori menoleh dengan sedikit terkejut. Dia tidak mengira kalau Hiruma tahu bahwa Mamori masih punya kerabat, yaitu keluarga Bibinya.
"Aku hanya mengabari lewat telepon. Pamanku sakit. Jadi aku tidak memaksanya untuk datang."
Hiruma hanya membalas diam sambil mengambil buah apel.
"Aku tidak melihat orangtuamu." Giliran Mamori bertanya.
"Aku tidak mengundangnya," jawab Hiruma.
Kali ini Mamori benar-benar terkejut. Bagaimana bisa Hiruma tidak mengundang kedua orangtuanya. Walau ini hanya nikah kontrak, tetap saja mereka harus minta restu dari orangtuanya.
Mamori lalu melihat ke satu meja tempat kerabat kantornya berkumpul. Disana Mamori Haruna dan Sanae, rekan editornya. Dua orang wartawan, dan kepala editornya. Haruna melambai ke arahnya dan Mamori balas tersenyum.
"Kapan kamu akan diwawancarai?" tanya Mamori.
"Bukan aku. Tapi kamu."
"Aku?" Mamori hendak protes namun datang Dua Kobayakawa menghampiri mereka.
"Selamat atas pernikahan kalian Mamo-Nee, dan Hiruma-san," sahut Sena.
"Terima kasih Sena."
"Semoga cepat dapat keturunan," lanjutnya lagi.
Suzuna terbatuk mendengar itu sementara Mamori hanya tertawa canggung.
"Aku baru tahu kalau kalian selama ini menjalin hubungan."
"Mereka melakukannya diam-diam." Suzuna membantu Mamori yang terlihat kesulitan menemukan kata-katanya.
Mamori lalu tersenyum dan dengan begitu saja menggengam tangan Hiruma. "Kamu yang terbaik untukku. Bukan begitu, sayang?"
Hiruma yang kaget dengan sandiwara Mamori, langsung bisa mengikuti permainannya. Dia lalu merangkul pinggang Mamori dan menggenggam tangannya. Dia lalu mencium ujung kepala Mamori. "Aku jadi tidak sabar menantikan malam pertama kita," bisiknya tepat di telinga Mamori.
Sontak Mamori memundurkan kepalanya. Sementara Sena dan Suzuna mendengarkan perkataan itu hanya bisa salah tingkah.
"Ayo, Suzuna. Biarkan mereka berdua," ujar Sena sambil menarik tangan Suzuna yang sepertinya enggan meninggalkan mereka.
Mamori menoleh melihat Sena dan Suzuna sudah pergi. Dia lalu kembali ke Hiruma yang masih merangkulnya. "Kau sadar apa yang kau katakan?"
"Kenapa, itu kan cuma acting, heh."
"Tetap saja kau gila!"
"Aku bisa melakukan hal gila lainnya dengan menciummu disini."
"Kau gila. Cepat lepaskan aku."
"Bekerja samalah. Kau hanya akan terlihat mencurigakan di depan tamu-tamu kita yang sedang melihat kesini," balasnya dengan semyuman yang menyebalkan.
Mamori lalu melirik ke sekitar. Dan benar kata Hiruma, karena ini hari pernikahan mereka, tentu saja mereka yang menjadi pusat perhatian.
Mamori lalu berdeham menemukan ide cemerlang. Dengan tangannya yang bebas dia meraih dengan lembut ke belakang Hiruma. Hiruma yang tidak terpikirkan akan tindakan Mamori, kaget dan mulai mengendurkan pertahanannya sementara tangan Mamori mulai membelai naik pipinya.
Dengan seluruh keahlian menggoda yang dimiliki Mamori, perlahan dia menempelkan bibir mereka, dengan lembut dan menggoda. Mamori menghentikan gerakannya saat merasa Hiruma sudah kehilangan penjagaan dan mengendurkan rangkulannya. Dia lalu memundurkan kepala dan tersenyum penuh kemenangan melihat Hiruma yang masih terpana. Dengan pasti Mamori bangun dari kursi, menunduk ke Hiruma sambil memegang pipinya dan berkata, "Kamu mau aku ambilkan minuman sayang?"
Hiruma yang baru sadar dengan hal itu, hanya bisa mengumpat dan memandang jengkel ke Mamori yang sudah pergi meninggalkannya. "Sialan!"
.
.
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil:
Hey... Apa kabar semuanya?~
Saya benar-benrar minta maaf. Sungguh-sungguh minta maaf karena telah membuat kalian menunggu update cerita ini.
Saya tidak akan banyak berasalan. Tapi yang pasti saya tidak akan menggantungkan cerita ini. Walaupun butuh banyak waktu untuk update, saya mohon kesabaran kalian semua.
Oke guys. Jangan bosan2 untuk meriview dan menyemangati saya.
Thank you dan love you all ~~~ you guys the best lah XD
Salam: De
