Chapter 8

.

.

Pernikahan berlangsung dengan sempurna. Tamu sudah satu per satu pulang saat Mamori ditanya beberapa pertanyaan oleh rekan kerjanya sendiri. Tidak pernah terbayangkan oleh dirinya kalau dia akan diwawancara seperti ini.

Pernikahan mereka memang hanya diliput khusus oleh majalah tempat Mamori bekerja. Karena begitulah perjanjiannya. Walau Hiruma bukan selebriti, tapi tetap saja kehidupannya menjadi sorotan di berbagai media.

Hari hampir sore saat Mamori dan Suzuna selesai membantu istri Paman Nozawa membersihkan dapur. Walau berkali-kali wanita itu menolak bantuan Mamori dan menyuruhnya istirahat, tapi Mamori menolaknya. Mamori tidak bisa berdiam diri saja melihat orang-orang bekerja membersihkan rumah Hiruma sementara dia diminta bersantai-santai.

Sena yang sedang duduk di ruang tengah bersama Hiruma menyadari kehadiran istrinya. "Kalau sudah selesai, cepat kemasi barangmu Suzuna," sahut Sena.

Mamori menoleh kaget dan menarik tangan Suzuna. Dia memprotes Suzuna dengan raut wajahnya.

"Maafkan aku, Mamo-Nee," lirihnya pelan. "Sena sudah memesan tiketnya," ujarnya merasa bersalah. Karena seharusnya, dia menjaga Mamori dari Hiruma, karena Ako sudah pulang lebih dulu ke Tokyo beberapa jam yang lalu. Sementara dirinya dan Sena akan pulang ke rumah mereka di Osaka.

Mamori melihat Hiruma yang tengah menonton televisi dan sama sekali tidak peduli dengan kegelisahan Mamori.

"Aku yakin kau bisa menanganinya sendiri, Mamo-Nee," lanjut Suzuna lagi. Dia lalu berbisik ke telinga Mamori. "Lagian, dia pasti tidak akan macam-macam pada perempuan hamil."

Seandainya saja memang begitu. Tapi kenyataannya, beberapa hari lalu, Hiruma nyaris saja memangsanya. Tapi tidak bisa dibilang memangsa, karena Mamori pun tanpa paksaan ikut terlarut dalam permainan mereka. Wajah Mamori seketika memerah membayangkan kejadian waktu itu.

"Aku beres-beres dulu ya," sahut Suzuna membuyarkan ingatan Mamori.

Mamori hanya memandang kecewa ke arah Suzuna yang sudah masuk ke kamar mereka. Dia lalu berjalan ke sofa dan duduk di sebelah Sena. Sena yang sedari tadi bingung, sekarang malah terlihat canggung duduk di antara pasangan yang baru saja menikah ini.

"Apa tidak bisa ditunda, Sena? Besok atau lusa mungkin?" pinta Mamori.

"Aku sudah memesan tiket pesawat Mamo-Nee," jawab Sena merasa bersalah.

Mamori menghela napas.

"Lagipula aku dan Suzuna tidak boleh mengganggu bulan madu kalian," lanjutnya tersenyum sambil merilik ke Hiruma.

Hiruma terkekeh mendengar jawaban Sena. "Kadang kau pintar juga, pendek," sahutnya masih memandang ke televisi.

Sudah di ujung tanduk, sekarang Mamori tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya pasrah pada keadaan. Dan lebih buruknya, Hiruma terlihat sangat menikmati keadaan Mamori yang kebingungan seperti ini. Jelas saja, karena dia jadi punya waktu untuk membalas tindakan Mamori di pesta pernikahan mereka tadi. Dan Mamori belum memikirkan soal itu.

.

.

Mamori membuka matanya. Entah dari jam berapa dia tertidur karena dirinya merasa kelelahan seharian ini. Mamori melihat jam weker di sebelahnya. Ternyata sudah jam delapan dan dia melewatkan makan malam.

Mamori lalu keluar kamar. Setelah Suzuna dan Sena pulang tadi, Mamori langsung masuk ke kamar dan membaca buku sampai dia tertidur. Sebisa mungkin dia harus menghindari Hiruma. Dan tanpa harus dihindarinya pun, tampaknya sekarang ini tidak ada orang lain selain dirinya di rumah ini. Untuk memastikan itu, Mamori beranjak keluar dan membuka pintu depan. Dia melongokkan kepala melihat ke garasi mobil, dan ternyata benar, Hiruma tidak ada di rumah.

Mamori tersenyum tipis. Seharusnya dia senang, tapi entah kenapa ada rasa kecewa mwngganjal di hatinya. Dia lalu menutup pintunya kembali dan menuju dapur untuk mengambil kue sus sisa pesta tadi. Setelah melahap dua kue sus, dia lalu masuk ke kamar lagi. Karena dia ingat kalau dia belum mandi sehabis pernikahannya tadi.

.

.

Suara deringan telepon mengganggu Musashi yang tengah asik menonton siaran bola tengah malam. Sedangkan Karin sudah terlelap di kamar. Musashi melihat ke jam dinding yang menunjukkan pukul setengah satu. Dia menggerutu. Siapa pula yang menelepon di jam segini dan menganggu waktu bersantainya.

"Halo?" sapanya.

"Maaf Pak menganggu malam-malam, ini saya Tanishi," sahut salah satu karyawan yang bekerja di baseball training club miliknya.

"Ya. Ada apa?"

"Ada tamu yang tidak mau pulang. Dia bersikeras tidak mau pulang Pak. Dan dia bilang, dia kenal dengan Bapak."

Musashi memutar otaknya. Club yang dijalankan selama dua tahun belakangan itu memang harus tutup jam dua belas tadi. "Siapa nama tamu itu?"

.

.

Hiruma memukul bola itu sekuat tenaga. Namun bola itu tidak terpantul jauh mengingat dia sudah bermain selama kurang lebih tiga jam. Dia tidak peduli, karena dia berusaha untuk menghilangkan sosok wanita yang berkelebat di pikirannya.

Awalnya Hiruma berniat ke klub malam langganannya yang biasa dia datangi apabila ke villa di Okinawa ini. Dia menyukai tempat itu, minumannya, dan juga para wanitanya. Kedua hal itulah yang bisa melepaskan penat yang menumpuk selama aktivitasnya di Tokyo. Begitu pun malam ini. Dia ingin menikmati beberapa gelas bir kesukaannya. Seperti biasanya, saat dia tengah minum akan ada seorang wanita menghampirinya. Dialah yang biasa 'memuaskan' Hiruma disini. Malam ini perempuan itu memakai baju warna orange. Hiruma tidak yakin, mengingat lampu-lampu ruangan berwarna merah bercampuran.

Di tengah pikirannya yang melayang karena beberapa tenggak bir yang telah diminumnya, dia melihat perempuan itu tersenyum dan duduk di sebelahnya. Begitu dekat, sehingga perempuan itu dengan leluasa membelai paha dan naik ke dada Hiruma sambil mendekatkan jarak bibir mereka. Dengan santai Hiruma, menyambutnya. Toh, perempuan ini sudah biasa menemaninya. Dan dia sudah tahu apa tugasnya ketika Hiruma datang ke tempat ini.

Ketika bibir mereka mulai bertaut, sekelebat ingatan menghantam Hiruma. Dia lalu memundurkan kepala dan menatap perempuan itu dengan penuh tanda tanya. Perempuan itu mencoba bertindak lagi, namun kali ini Hiruma menahan bahunya dan menolak dengan tegas. Tanpa kata-kata Hiruma mengambil jaketnya dan bangkit dari duduk meninggalkan perempuan itu sendirian.

Kejadian itu teringat lagi dan membuat Hiruma kesal. Dia datang ke klub malam itu karena ingin menghilangkan pikirannya yang penuh dengan sosok wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu, tapi yang terjadi malah dia justru tidak bisa melupakannya.

Dia berharap melampiaskannya pada perempuan lain, bisa mengalihkan pikirannya. Tapi pada kenyataannya, Hiruma tidak bisa. Bersama dengan perempuan lain terasa salah. Dia tidak bisa melakukannya. Seperti saat ingin berciuman dengan perempuan lain, tiba-tiba saja terbayang wajah Mamori saat mereka berciuman. Hiruma sangat menginginkannya. Seolah tubuhnya ini hanya menginginkan satu wanita, yaitu istrinya.

"Apa yang kau lakukan tengah malam begini?"

Hiruma mendengar suara Musashi di belakangnya bersamaan dengan pintu tempt latihannya terbuka. "Aku akan membayar uang sewanya untuk semalam," sahut Hiruma.

"Bukan itu jawabannya," timpal Musashi. Dia melihat Hiruma yang sudah sangat kelelahan, namun masih tetap memaksakan dirinya. "Pulanglah."

"Aku tidak akan merusak tempatmu. Jadi pergilah. Dan kunci pintu dari luar."

"Apa yang terjadi denganmu? Aku lihat kau baik-baik saja saat pernikahanmu tadi."

"Aku tidak baik-baik saja," balas Hiruma. "Kau lihat, heh. Aku sedang menjernihkan pikiranku dan mengeluarkan semua keringat dari tubuhku."

"Kau sudah cukup melakukannya." Dengan satu tangan Musashi menahan ayunan tongkat Hiruma. "Berhentilah."

Hiruma lalu menjatuhkan tongkat bersama dirinya ke lantai. Sembari berbaring dan merentangkan kedua tangannya, Hiruma mengambil napas kelelahan.

"Kau tidak bisa tidur disini. Ini bukan hotel."

"Kalau begitu aku menginap di rumahmu," sahut Hiruma.

"Kau pikir apa yang harus aku katakan pada Karin?" balas Musashi.

"Kalau begitu aku tidur disini."

"Pulanglah. Apa Anezaki tahu kalau kau disini?"

"Dia tidak akan peduli."

"Sebenarnya apa yang sedang kau hindari, Hiruma?" tanya Musashi.

Hiruma tidak menjawab. Dengan satu tangan dia menutupi matanya dari sorotan lampu di atasnya.

"Kalau kau tidak mau pulang, aku akan memanggil Anezaki kemari untuk membawamu pulang."

"Aku akan melukai istrimu kalau berani melakukannya," ancam Hiruma.

Musashi menghela napas. "Kenapa kau jadi berantakan seperti ini?"

Hiruma tidak menjawab sehingga Musashi melanjutkan.

"Yang kutahu. Kau orang yang sama sekali tidak terganggu dengan masalah seperti apapun."

"Dan sekarang. Kenapa kau jadi 'terlihat jelas' seperti ini?" sambungnya. "Aku tahu Hiruma. Kenapa belakangan kau selalu tidak mau pulang. Kau sedang menghindari seseorang. Dan orang itu jelas Anezaki."

"Kau pikir menghindarinya bisa menyelesaikan masalah? Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri." Musashi melihat Hiruma yang masih tetap pada posisinya. "Kenapa kau tidak katakan yang sebenarnya pada Anezaki?"

"Aku tidak bisa," sahut Hiruma lirih membuat Musashi tidak menyangka Hiruma akan menjawabnya.

"Oke. Aku yang akan katakan padanya. Akan ku katakan pada Anezaki kau sangat menginginkannya."

"Berani kau melakukannya, aku benar-benar akan melukai istrimu!"

"Kalau begitu katakan sendiri padanya. Katakan kalau kau mencintainya. Katakan kau ingin memilikinya seumur hidupmu!"

Hiruma tertawa dibalik keseriusannya. "Seandainya semudah itu."

"Kau saja yang membuatnya jadi sulit Hiruma," balas Musashi.

Hiruma lalu bangkit dan membuka pintu.

"Aku akan mengantarmu," ujar Musashi.

"Aku bisa pulang sendiri."

"Bilang seperti itu kalau kau tidak mabuk dan kelelahan."

.

.

Musashi memarkirkan mobilnya di depan gerbang.

"Kau tidak usah masuk," sahut Hiruma sambil membuka pintu mobil berjalan ke pintu gerbang.

Musashi ikut keluar dan mengunci mobilnya. "Aku harus memastikanmu masuk ke dalam."

"Terserah."

Setelah sampai di teras, Hiruma membuka pintu depan yang tidak terkunci. Sambil mengeluh dalam hati bagaimana bisa Mamori seceroboh ini. Dan yang lebih ceroboh lagi, dia melihat Mamori yang tertidur di sofa.

Mamori terbangun menyadari kedatangan seseorang. Sambil membetulkan sweater yang dipakai untuk menutupi gaun malam selututnya, dia melihat Hiruma bersama Musashi. Bau akhokol tercium dari tubuh Hiruma dan dia terlihat sangat berantakan. Mamori lalu beralih ke Musashi, yang terlihat baik-baik saja.

"Terima kasih sudah mengantarnya, Musashi-san," sahut Mamori dengan cepat membaca situasi.

"Apa pun kesalahan yang telah dia lakukan, aku mohon maafkan dia, Anezaki. Dia terlihat kacau sekali," balas Musashi.

"Hentikan sandiwaramu Pak Tua," ketus Hiruma sambil membuka jaket dan melemparnya ke sofa.

"Loh. Memang benar. Belakangan kau selalu menginap di rumahku dan sekarang di malam pertama kalian, kau malah pergi keluar. Walaupun kau tidak mau mengatakan alasannya. Aku tahu kalau kalian sedang bertengkar," jelas Musashi, masih memainkan perannya sebagai orang yang tidak tahu apa-apa.

Tanpa peduli lagi, Hiruma langsung masuk ke dalam kamarnya.

"Aku tidak akan mengatakan apa-apa kepadamu," lanjut Musashi kepada Mamori. "Karena dari dulu, kaulah orang yang paling mengerti dirinya. Walaupun sifatnya seperti itu, tolong jaga dia baik-baik."

Mamori tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya mengangguk dan tersenyum kepada Musashi.

"Aku pulang dulu," ujarnya lagi.

"Terima kasih, Musashi-san."

.

.

Dengan seluruh keyakinan yang dimilikinya, Mamori membuka pintu kamar Hiruma. Setelah mengambil segelas air dan obat sakit kepala untuk Hiruma, Mamori memberanikan diri untuk bertemu dengannya. Entah kenapa dia melakukan ini, karena sifatnya yang terlalu peduli inilah, dia tidak bisa membiarkan begitu saja Hiruma yang jelas mabuk dan tampak kelelahan.

Hiruma yang berbaring di atas ranjangnya, merasakan seseorang membuka pintu kamar. Namun rasanya dia enggan untuk membuka matanya. Akhirnya dia pun menoleh dan melihat Mamori menaruh gelas dengan sebutir obat di atas tisu.

"Apa yang kau lakukan, heh?" tanya Hiruma.

Mamori menoleh menyadari Hiruma yang menatapnya. "Aku rasa kamu butuh ini."

Hiruma mengeluarkan senyuman khasnya. "Jadi sekarang kau mau mulai jadi istri yang perhatian?" tanyanya.

"Aku hanya tidak mau bayi di kandunganku menganggap aku tidak peduli kepada ayahnya," jawabnya santai sambil duduk di samping Hiruma. Dia lalu membuka sepatu Hiruma seolah itu adalah hal yang wajar.

Hiruma lalu duduk di kasur dan meminum obatnya sambil memperhatikan Mamori yang membuka sepatunya. Setelah itu dia kembali berbaring lagi.

"Istirahatlah," sahut Mamori. Dia lalu bangun dari duduknya. Mamori hendak berbalik menuju pintu, namun ada tangan yang menahan pergelangan tangannya.

Mamori menoleh melihat ke pergelangan tangannya, setelah itu memandang Hiruma yang tengah menatapnya. "Perlu yang lain lagi?"

Hiruma terdiam memandanginya. "Apa kau mau...," Hiruma tidak jadi melanjutkan kalimatnya. "Tidak jadi."

Mamori mengerutkan dahinya kesal namun dia bisa menahannya.

"Pergi sana," usir Hiruma.

Mamori menghela napasnya. "Lepaskan dulu tanganku."

Hiruma melihat ke tangan mereka yang masih bertautan. Dengan cepat Hiruma langsung melepas dengan kasar tangan Mamori.

Mamori menggerutu melihat kekasaran Hiruma sambil mengelus pergelangan tangannya.

"Cepat sana. Jangan lupa matikan lampunya," perintah Hiruma.

"Aku tahu," balasnya sama ketus. Mamori lalu mematikan lampu dan menutup pintu. Dia lalu kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya.

.

.

Catatan Kecil:

Kecewa yaaaa sama adegan terakhir? Hehehe... jangan kecewa doong. Cerita ini butuh proses. Begitu pun dengan hubungan mereka.

Saya bisa update minggu ini! Selamat ! Jadi saya mohon semangat dari kalian dan jangan lupa review biar saya tambah rajin nulisnya.

Okey... sampai minggu dengan (insyaallah)

Jangan lupa review, fav, atay follow cerita ini yaaa~

Salam: De