Chapter 9

.

.

Sinar mataharimenembus gorden tipis di kamar Hiruma yang tertidur lelap. Dering ponsel berbunyi dan memaksa Hiruma untuk membuka matanya. Dengan malas Hiruma menggapai ponsel dan mematikannya, setelah itu dia tertidur lagi.

Selang beberapa detik, ponsel kembali berdering dan membuat Hiruma kesal. Dia seketika duduk dan sadar sepenuhnya, melihat ke jam weker yang menunjukan jam delapan pagi. Dia lalu meraih ponselnya lagi dan melihat ke seseorang yang meneleponnya.

"Ada apa?" ketusnya.

"Kau tidak lupa kan?" tanya pelatih Inuwashi di seberang telepon.

"Ini masih jam delapan!" kesal Hiruma.

"Penerbanganmu jam dua belas dari Osaka. Kau harus siap-siap," balasnya.

"Aku tahu, berisik." Hiruma lalu mematikan ponselnya.

Dia lalu mencari nomor telepon Musashi. "Suruh seseorang bawa mobilku ke rumah," sahutnya saat telepon sudah tersambung. "Ya sekarang," lanjutnya sedikit kesal dan langsung mematikan teleponnya.

Hiruma lalu turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Dia mencium aroma masakan dari dapur dan menduga kalau Mamori ada disana.

Mamori menyadari kedatangan Hiruma dengan rambut berantakannya, dan masih mengenakan kemeja birunya kemarin, "kebetulan kamu sudah bangun. Aku buat sup untuk menghilangkan rasa pusingmu," katanya sambil membawa mangkuk berisi sup ke atas meja.

Hiruma mengambil botol air dan gelas lalu duduk di kursi meja makan. "Kemasi pakaianmu. Kita akan pergi selama empat hari."

Mamori menatap Hiruma sesaat. "Kemana?"

"Tidak usah banyak tanya," balasnya.

Mamori memandang kesal dan berbalik untuk membawa dua mangkuk nasi. Dia meletakkannya di atas meja dan duduk di hadapan Hiruma. "Kalau begitu aku tidak usah ikut," sahutnya.

"Kau-"

"Katakan dulu kita mau kemana," potong Mamori sambil memulai makannya.

"Ada latih tanding dengan Korea hari jumat nanti. Manager Timnas sudah menitipkan dua tiket untukku kemarin. Jadi kau harus ikut," balasnya kesal.

"Korea?" tanya Mamori lagi.

"Ya, kenapa?"

"Aku belum pernah kesana."

"Kalau begitu ikut."

"Oke."

.

.

Penerbangan memakan waktu beberapa jam untuk sampai ke Korea. Setibanya disana, Mamori celingukan mencari rombongan Timnas yang lain sementara Hiruma dengan santai berjalan keluar bandara.

"Dimana anggota tim yang lain?" tanya Mamori.

"Sudah di hotel," jawab Hiruma.

Mendengar itu membuat Mamori tambah bingung. "Lalu kita bagaimana?" tanya Mamori.

Tidak perlu Hiruma menjawab, Mamori melihat seseorang dengan kemeja putih menghampiri mereka kemudian membungkuk. "Mobilnya di sebelah sana," ujarnya.

"Siapa?" bisik Mamori kepada Hiruma.

"Kau tidak dengar dia tadi?" balas Hiruma. "Dia yang akan mengantar kita ke hotel."

"Apa sepenting itu kamu sampai harus dijemput seperti ini?" tanyanya lagi tidak percaya.

Hiruma hanya menyeringai bangga.

Mamori melengos malas. Tentu saja dia tahu. Kapten Tim Nasional American Football Jepang. Tidak pernah tergeser selama empat tahun, dan penyandang gelar kapten termuda saat usianya dua puluh tiga tahun. Tentu saja tidak ada yang berani menggesernya. Kecerdasannya terbukti di lapangan dan yang pasti, dia memegang kartu mati dari semua anggota tim. Jadi apapun perkataannya, tidak ada yang berkata tidak untuknya.

Lima belas menit tiba di hotel. Mereka turun dan pria tadi memberikan kunci kamar kepada Hiruma lalu menjalankan mobil kembalinya. Kamar 802.

Mamori mengikuti berjalan di belakang Hiruma. Tanpa banyak bertanya, mereka menaiki lift menuju lantai delapan. Setibanya di kamar mereka, entah Mamori harus berkata apa dan hanya satu kalimat yang menyangkut di kepalanya. "Hanya ada satu tempat tidur?" tanyanya.

Hirum menatap sesaat ke Mamori yang memandangi tempat tidur. "Apa kau harus bertanya?" balasnya. "Kau 'istriku'. Itu yang mereka tahu."

Mamori menghela napas. Dia memang harus pasrah pada kenyataan. Memang apa yang diharapkannya. Meminta ada dua tempat tidur atau kamar yang berbeda? Itu cuma akan membuat bingung orang lain.

Telepon kamar berbunyi dan Hiruma menjawabnya.

"Ya," sahutnya. Kemudian dia diam dan mendengarkan. "Keh," balasnya lagi. Dia lalu menutup teleponnya.

"Aku keluar sebentar," ujar Hiruma kepada Mamori.

Mamori mengangguk dan tersenyum mengiyakan. Hiruma lalu berjalan keluar kamar. Mamori lalu duduk di kasur sambil melihat ke sekeliling kamar. Situasi seperti ini, seandainya saja dia bisa bulan madu sungguhan bersama suami sungguhan pula. Dia pasti akan menjadi wanita paling bahagia. Tapi kenyataannya, dia bersama lelaki yang hanya berstatus suami kontrak dan mereka kesini karena urusan kerja. Apa boleh buat, Mamori hanya bisa menganggap ini liburan sendiri saja.

Mamori menoleh ke jendela besar di sampingnya. Dia lalu menuju ke beranda. Di lantai delapan ini, pemandangan kota Seoul pasti terlihat jelas. Dan benar saja, dari sini terlihat keramaian kota. Di sebelah kanannya terlihat stadion yang megah. Mamori menduga kalau itu pasti stadion tempat Hiruma bermain nanti.

Seandainya saja Mamori kesini bersama teman, dia pasti tidak akan melewatkan kesempatan untuk berjalan-jalan. Namun sayangnya dia sendirian. Mamori ada sedikit rasa khawatir untuk jalan-jalan sendiri di negara yang belum pernah dikunjunginya.

Mamori lalu kembali ke dalam. Dia melihat ke jam dinding yang menunjukkan pukul tiga sore. Merasa bingung dengan apa yang harus dilakukannya, Mamori kemudian berbaring sambil merentangan kedua tangannya. Dia menarik napas panjang lalu tersenyum sambil mengelus perutnya. Tentu Mamori ingat kalau ada nyawa lain di dalam dirinya. Dia tidak akan membebankan pikirannya dan berusaha untuk bahagia demi kesehatan bayinya.

.

.

Hiruma baru saja selesai menghadiri konferensi pers di aula utama gedung hotel. Acara itu dihadiri oleh beberapa wartawan dari Korea ataupun Jepang. Sedangkan hanya ada Hiruma, Pelatih, dan dua orang pemain lain yang mewakili Tim Nasional untuk wawancarai.

Suara flash kamera masih mengikuti mereka saat keluar dari pintu sambil menuju ke belakang. Sedetik kemudian, suasana sudah kembali tenang saat manager tim menutup pintunya.

"Jangan pergi dulu Hiruma-san," cegah manager melihat Hiruma yang terlihat mau beranjak keluar. "Kita makan bersama dulu di restoran di lantai lima. Yang lain sudah menunggu disana."

Hiruma melihat ke jam tangannya yang menunjukkan pukul enam sore.

"Kau boleh mengajak istrimu," lanjut manager itu sambil tersenyum.

"Keh," balas Hiruma.

Dengan santai Hiruma berjalan ke lobi dan menuju tempat resepsionis. "Sambungkan ke kamar 802," sahutnya dalam bahasa Inggris.

Petugas lalu memberikan teleponnya ke Hiruma. "Ini aku," sahutnya saat telepon tersambung.

"Ada apa?" tanya Mamori.

"Turunlah ke lantai lima. Aku tunggu disana."

"Untuk apa?" tanya Mamori lagi.

Hiruma terdiam menahan kejengkelannya. "Bisa tidak kau tidak usah banyak tanya, heh? Apa kau tidak lapar?"

Kali ini Mamori yang harus menahan kesabarannya. "Oke," balasnya.

Mamori lalu mengambil mantel krem-nya dan menuju ke lantai lima. Dia masuk ke dalam lift. Tidak menunggu lama, suara dentingan lift berbunyi saat tiba di lantai lima dan pintu lift terbuka.

Mamori melihat Hiruma dan tersenyum kepadanya. Mereka lalu berjalan ke restoran dengan Mamori berjalan di belakang Hiruma. Mamori melihat ke ujung lorong dan melihat pintu restoran. Dia lalu mempercepat langkahnya karena Hiruma sudah sampai lebih dulu.

"Ayo," sahut Hiruma.

Sesaat setelah masuk ke dalam. Mamori bisa mendengar suara ramai dalam bahasa yang dikenalinya.

"Yo. Kapten," sapa seseorang saat melihat Hiruma.

Mamori hanya bisa terdiam melihatnya. Bukan apa-apa, walau Mamori terbiasa dengan anggota Devil Bats ataupun Saikodai dulu, tapi melihat atlet-atlet nasional Amefuto Jepang dengan tubuh-tubuh atletis mereka, membuat Mamori sedikit bingung dan gugup. Tanpa sadar tangannya langsung merangkul lengan Hiruma dan dia bergeser ke belakang tubuhnya.

Hiruma menoleh melihat tangan Mamori dan berganti memandang wajahnya. "Kenapa, heh?"

Dengan suara pelan dan hampir seperti berbisik, Mamori berkata, "aku makan nanti saja."

Seolah mengerti akan keresahan Mamori, Hiruma mengambil tangan Mamori, menggenggamnya, lalu memasukkannya ke dalam kantung mantel panjang hitamnya. "Tidak ada restoran lain di hotel ini. Sekarang sudah hampir malam, dan aku lelah."

Mamori menghela napas dan berjalan di samping Hiruma. Mereka menuju buffet makanan dengan berpasang mata memperhatikannya. Mamori melihat di depan buffet, ada enam orang sedang mengantri.

"Kau duduk saja," sahut Hiruma sambil mencari kursi kosong. "Disana," unjuknya melihat ke kursi kosong.

Mamori hendak protes karena di meja sana sudah ada dua atlet yang menempati.

Mamori lalu berjalan menuju kursi dan tersenyum kepada dua orang atlet yang terlihat masih muda. Mereka hanya balas tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.

Mata Mamori menyapu ke sekeliling ruangan yang dipenuhi pemain Timnas. Seingat Mamori, Sena dan Yamato juga termasuk ke dalam anggota Tim, tapi Mamori tidak melihat mereka.

"Maaf," sahut Mamori. "Sena, maksudku Kobayakawa-san. Kemana dia?" tanya Mamori.

"Kobayakawa-san tidak ikut. Klubnya ada pertandingan penting akhir pekan nanti," jawabnya.

"Kalau Yamato-san?"

"Dia di Amerika. Tidak bisa pulang. Jadi Pelatih tidak memasangnya."

Mamori menangguk mengerti. "Terima kasih," ujarnya.

Beberapa saat kemudian Mamori melihat Hiruma datang dengan dua piring di tangannya.

"Terima kasih," sahut Mamori tersenyum saat Hiruma meletakkan makanan mereka di atas meja.

.

.

Hampir jam delapan malam. Hiruma dan Mamori sudah kembali ke kamar mereka. Hiruma membuka mantel hitamnya dan menyampirkannya ke kursi. Dia lalu melemparkan dirinya ke kasur.

"Tidak mandi dulu?" tanya Mamori.

"Kau saja," balas Hiruma malas.

Mamori lalu membuka kopernya dan mengambil baju tidur yang cukup hangat mengingat sekarang sedang musim dingin. Setelah itu dia masuk ke kamar mandi.

Lima belas menit Mamori selesai mandi. Dengan sweater putih yang besar dan celana panjang abu-abu, Mamori berjalan ke tempat tidur. Dia lalu menghentikan langkahnya tepat di samping kasur. Dia terdiam sembari berpikir. Dia melihat Hiruma yang sudah tertidur pulas. Dan sekarang, Mamori bingung harus tidur dimana. Tidak ada sofa panjang. Selimut pun hanya ada satu. Kalau saja sekarang bukan musim dingin, tidak masalah baginya untuk tidur di lantai.

Mamori lalu mendapat ide. Dia lalu menelepon petugas hotel untuk membawakan selimut lagi. Tidak perlu menunggu lama, Mamori sudah mendapatkan selimutnya. Dia lalu menjadikan selimut itu sebagai alas tidur dan dia berkemul di dalamnya. Dengan begini, Mamori bisa tidur dengan tenang.

.

.

Hiruma perlahan membuka matanya dan menemukan ruangan yang sudah gelap dan sunyi. Dia melihat ke jam weker digital di samping tempat tidur yang menunjukkan jam sebelas kurang dua puluh lima menit. Sudah dua jam lebih dia tidur.

Dia lalu menurunkan kakinya dan menyentuh sesuatu. Hiruma menunduk. Dia lupa kalau ada Mamori disini. Hiruma memandangi Mamori dengan mengernyitkan dahinya frustasi, memikirkan bagaimana wanita ini bisa berpikir untuk tidur di lantai dibanding memilih untuk membangunkan dirinya yang tertidur pulas. Walaupun Mamori terlihat nyaman dengan selimut yang menghangatinya, tetap saja melihat Mamori seperti ini membuat Hiruma tidak habis pikir. Yang paling penting, dia ini sedang hamil.

Hiruma kemudian berdiri. Dia berjalan ke sisi Mamori dan menunduk untuk memindahkannya. Hiruma menyelipkan tangan dengan hati-hati ke bawah leher Mamori, dan tangan yang lain ke bawah kakinya. Dengan perlahan, Hiruma berhasil mengangkat Mamori beserta selimutnya. Dua hal yang disyukurinya saat ini, yaitu Mamori yang masih tetap pulas, dan tubuhnya yang begitu ringan.

Dengan hati-hati pula Hiruma membaringkan Mamori ke atas tempat tidur. Dia lalu membenarkan selimut Mamori. Setelah itu Hiruma mengganti bajunya sendiri mengingat dia masih memakai baju yang sama dari aktivitasnya seharian ini. Hiruma lalu mengambil selimutnya dan kembali melanjutkan tidurnya di lantai.

.

.

Mamori terbangun dari tidur nyenyaknya merasakan sinar matahari sudah masuk menembus jendela yang lupa ditutup gordennya semalam. Mamori bangun terduduk dan meregangkan tubuhnya. Saat menengok ke sebelah kanan, Mamori melihat Hiruma tertidur di lantai.

Mamori terdiam berpikir. Setelah itu dia menyadari kalau selamalam, seharusnya dirinyalah yang tidur di lantai. Bukan Hiruma. Tapi kenapa sekarang dia bisa terbangun di atas tempat tidur. Mamori lalu menghela napasnya.

Tanpa suara, Mamori beranjak dari tempat tidurnya untuk menyikat gigi dan mencuci muka. Namun usahanya gagal, karena dia melihat Hiruma yang bergerak dan perlahan membuka matanya.

"Sudah bangun?" tanya Mamori memastikan.

Hiruma tidak menjawab dan hanya langsung berpindah ke atas tempat tidur. Dia kembali berkemul dengan selimut yang dipakai Mamori tadi.

Mamori hanya menggelengkan kepalanya dan merapikan selimut Hiruma yang berantakan di lantai. Setelah tertata rapi, Mamori kembali menuju ke kamar mandi.

Lima menit Mamori habiskan di kamar mandi, setelah itu dia keluar dengan wajah yang segar dan melihat Hiruma yang masih tetap seperti posisinya tadi. Sambil menggelengkan kepalanya, Mamori menghela napas tidak percaya.

.

.

Sinar matahari menyoroti lapangan stadion tempat latihan Timnas Amefuto Jepang. Beruntungnya sekarang sedang musim dingin, sehingga membuat mereka merasa hangat di tempat latihan. Begitu pun dengan Mamori yang sedang duduk di kursi penonton.

Mamori duduk sambil memperhatikan mereka berlatih. Jarang sekali bagi orang biasa untuk bisa melihat anggota Timnas berlatih seperti ini. Terlebih dia melihatnya di korea. Udara berhembus menusuk leher Mamori. Dia langsung merapatkan jaketnya. Di saat Mamori sedang menutupi rasa dinginnya, dia tidak sadar kalau ada orang duduk di sebelahnya.

"Ehem."

Mamori menoleh mendengar suara dehaman dan melihat seorang duduk di sebelahnya. Melihat dari wajahnya, tentu Mamori bisa mengenali kalau wanita ini orang Jepang.

"Istri Youichi-san?" tanyanya dalam bahasa Jepang dan tepat seperti dugaan Mamori.

"Ya," jawab Mamori ragu. "Ada apa?"

Wanita itu memperhatikan Mamori dari atas sampai bawah. Dia lalu melihat ke wajah Mamori dan tersenyum meremehkan. "Kau tidak terlihat seperti seleranya," ucapnya.

Entah Mamori harus bereaksi apa. Yang jelas, dia merasa tersinggung dengan tatapan mata yang ditujukan kepadanya. "Maksudmu?"

"Kau sepertinya belum mengenal Youichi-san dengan baik. Karena kau tidak mengerti apa maksud perkataanku," jawabnya.

"Maaf," sahut Mamori sambil menahan kesabarannya. "Bagaimana kalau kau katakan dulu siapa dirimu."

"Edo Yukina," balasnya. "Aku kekasih Youichi."

Wajah Mamori tidak berubah. Masih menatap wanita itu lama. Mamori tentu menduga hal ini akan terjadi. Pasti akan ada satu sampai tiga orang wanita yang akan mendatanginya seperti ini. "Aku Anezaki Mamori. Istri Hiruma Youichi," balas Mamori menekankan.

Wanita itu mendengus tidak percaya. "Aku tidak habis pikir bagaimana wanita sepertimu bisa menjadi istrinya? Aku bahkan tidak yakin kau bisa memuaskannya."

"Aku rasa pertanyaanmu bisa kau tanyakan ke suamiku."

Wanita itu kembali tersenyum sinis. "Aku tidak peduli kau istrinya atau apa. Yang jelas..," jedanya sesaat dan menatap tajam ke Mamori. "Dia milikku dan dia sangat membutuhkanku. Kau tahu? Dia tidak akan cukup denganmu. Jadi aku harap, kau tahu tempatmu dan jangan mengganggu."

Mamori balas tersenyum. "Bukannya itu seharusnya kata-kataku?"

"Mamori!" panggil seseorang dari bawah lapangan.

Mamori dan wanita itu sama-sama menoleh ke asal suara dan terlihat Hiruma berdiri disana.

Mamori lalu kembali menatap wanita itu dan tersenyum. "Lihat? Sekarang siapa yang dia pilih?" sahutnya.

Wanita itu terlihat kesal dan kehilangan kata-katanya.

"Permisi," lanjutnya kemudian bangun dan berjalan menghampiri Hiruma ke lapangan.

Mamori berjalan menuruni tangga. Mamori menghela napasnya. Bukan karena lega karena dia sudah terselamatkan, tapi karena dia tidak habis pikir bagaimana dia bisa direndahkan seperti ini hanya karena terlibat dengan kehidupan bebas Hiruma. Namun ada hal yang membuat Mamori tersenyum sendiri. Mendengar Hiruma memanggil namanya seperti itu, entah mengapa membuat Mamori merasa senang.

Mamori melihat Hiruma menatap wanita itu dari kejauhan. Entahlah. Mamori tidak bisa membaca wajah seseorang dan apa yang dipikirkan Hiruma saat ini. Mamori tidak peduli.

"Kau tahu apa yang dia katakan kepadaku?" ujarnya saat dia sudah beberapa langkah lagi di depan Hiruma. "Rasanya aku mau-,"

Ucapan Mamori terhenti seketika saat Hiruma menarik tangannya. Mamori mendadak meletakkan tangannya di dada Hiruma sementara lengan Hiruma bersantai melingkari pinggangnya.

"Apa... yang kau lakukan!?" tanya Mamori setengah kaget sambil mendongak menatap Hiruma.

"Bagaimana kalau kau bertingkah sebagai istri yang sangat menyayangi suaminya?" sahut Hiruma.

Mamori berdecak. "Lalu aku harus bagaimana? Mengelus pipimu seperti ini?" balasnya sambil memegang pipi Hiruma. "Lalu tersenyum, seperti ini?"

"Hm. Hampir seperti itu," balas Hiruma menyeringai.

"Bagaimana dia? Apa masih disana? Apa terlihat kesal?"

"Sepertinya begitu," jawab Hiruma. Mendadak Hiruma tiba-tiba mengecup bibir Mamori cepat lalu menyeringai. "Aku rasa dengan begini dia akan cepat pergi."

Mamori menahan napasnya kaget. Dia terdiam menatap Hiruma sesaat.

"Kenapa, heh?" tanya Hiruma.

"Bukannya kau sudah biasa menciumku?" ledeknya.

"Hei Hiruma! Latihan kita belum selesai," teriak seseorang dari tengah lapangan. "Kau jangan bermesraan dengan istrimu terus!"

Hiruma menoleh ke lapangan lalu kembali ke Mamori lagi. "Masuklah kesana," tunjuknya ke lorong di belakang Mamori. "Ada ruang tunggu di dalam. Tunggu disana dan kunci pintunya."

Hiruma lalu melepaskan Mamori dan berlari ke lapangan meninggalkan Mamori yang terpaku dan masih sibuk dengan pikirannya.

.

.

To Be Continue...

.

.

Catatan Kecil:

Hei ! Saya rasa saya tidak perlu berkata banyak disini. Tapi terima kasih untuk kalian yang setia menunggu. Saya harap kalian tidak kecewa dan tetap menunggu cerita saya :D

Salam: De