Chapter 11

.

.

Mamori mengatur napasnya perlahan. Dia mulai mengendurkan pelukannya dari Hiruma. Tangannya masih menggantung di lehernya sementara dia mengangkat kepalanya yang menyandar ke Hiruma. Dia bisa merasakan napas hangat Hiruma di telinganya. Dia memberanikan diri memandang wajah Hiruma yang hanya beberapa senti darinya.

Hiruma memandangi wajah Mamori, berusaha membaca matanya. Tidak ada kecanggungan yang dia rasakan. Walau mereka sedekat ini, walau sekarang tangannya masih melingkari pinggang Mamori, tapi Hiruma merasa semuanya terasa tepat. Dia ingin terus bisa memeluk Mamori dan memandangi wajahnya seperti ini.

Sedetik kemudian penjagaan Hiruma runtuh ketika Mamori perlahan mendekatkan bibirnya dan seketika itu bibir mereka saling bertautan. Dia melihat Mamori yang sudah memejamkan mata. Sedangkan Hiruma sendiri merasa kaget dan bingung dengan tindakan Mamori. Namun dengan perlahan dan ragu, Hiruma menyambut Mamori dan mulai membalas ciumannya.

Dengan tidak melepaskan ciuman mereka, Hiruma perlahan membawa Mamori berbaring dan sekarang Mamori berada tepat di bawahnya. Hiruma menciumnya lembut, tidak terburu-buru, serta menikmati dan merasakan setiap sentuhannya. Seolah Mamori adalah miliknya, hanya untuknya. Hiruma membuka matanya saat Mamori melepaskan ciuman mereka. Dan sekarang, dia melihat Mamori tersenyum kepadanya.

Mamori tersenyum memandangi Hiruma. "Aku tidak tahu kamu bisa mencium wanita dengan selembut ini Hiruma."

Hiruma balas dengan tatapan serius yang tak terbaca. Dia tidak pernah mencium wanita seperti ini. Karena hanya dengan Mamorilah Hiruma menciumnya dengan segenap perasaan. "Aku bisa melakukannya kapanpun kau mau," sahutnya. Dia kemudian kembali merapatkan bibir mereka. Perlahan dan pasti, Hiruma kembali menikmatinya. Tidak ada ganjalan. Mamori pun kembali menciumnya dengan lengan yang masih melingkar di leher Hiruma.

Beberapa saat kemudian, tangan Mamori mendarat di kedua pipi Hiruma dan membuatnya melepaskan ciuman mereka. Hiruma kembali menatap wajah Mamori.

Mamori berusaha mengatur napas dan debaran jantungnya. Dia memandangi Hiruma, memberanikan diri untuk berkata, "Berjanjilah padaku."

Hiruma tidak membalas dan hanya menunggu kelanjutan dari perkataan Mamori.

"Jangan bersama perempuan lain lagi. Kalau kamu ingin melakukannya, lakukanlah denganku."

Rasa panas tiba-tiba menjalar ke kepala Hiruma. Hiruma mendengarnya dan tentu paham apa yang dikatakan Mamori. "Kau sadar apa yang barusan kau katakan, heh?"

Mamori hanya balas mengangguk.

"Tapi aku tidak mungkin melakukannya denganmu," sambungnya. "Kau sedang hamil."

Mata Mamori mulai tergenang kembali. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi untuk membalas Hiruma. Karena Mamori sedang hamil, sudah pasti Hiruma akan mencari perempuan lain yang bisa memuaskannya.

Melihat raut wajah Mamori yang mulai berubah, Hiruma melingkarkan lengannya ke belakang leher Mamori. Dia lalu berbaring dengan membawa Mamori di dalam pelukannya. Hiruma memang pandai membaca pergerakan lawan di lapangan, tapi untuk urusan wanita, Hiruma sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkannya. Dia tidak mengerti kenapa Mamori terlihat akan kembali menangis lagi. Apa ada yang salah dengan jawabannya. Hiruma hanya menjawab sesuai dengan keadaan sebenarnya. Tapi kenapa Mamori bersikap seperti ini. Hiruma sama sekali tidak mengerti.

Hiruma menghela napasnya pasrah. Dia tidak akan bertanya lagi dan tidak akan berkata apa-apa lagi. Entah karena Mamori sedang hamil atau karena suasana hatinya yang sedang buruk, dia jadi mudah menangis seperti ini.

"Kau pasti belum makan," sahut Hiruma mengalihkan sambil mengusap kepala Mamori di dadanya.

Mamori menggeleng. "Aku sudah makan creampuff."

"Kalau begitu aku mandi dulu. Gerah rasanya," sahutnya. Hiruma lalu memindahkan kepala Mamori untuk berbaring di bantal. "Aku akan keluar sebentar nanti. Kau tidur duluan saja."

.

.

Touchdown terakhir berhasil di lakukan catcher Tim Jepang di menit-menit terakhir dan mengantarkan kemenangan dengan skor 34 -27. Penonton bertepuk tangan dan para pemain saling berjabat mengucapkan selamat.

Mamori bangun dari duduknya di kasur mengambil segelas air yang sudah kosong di gelas. Masih tetap melihat ke layar televisi, Mamori melihat seorang reporter Korea berbicara, kemudian kamera bergeser dan menampakan seseorang yang tak lain adalah Kapten yang membawa kemenangan pada Tim. Mamori melihat Hiruma disana dengan wajah bahagianya. Dengan helm masih di rangkul di pinggangnya, Hiruma mendengarkan reporter yang bertanya dalam bahaaa Korea padanya. Tentunya ada seorang penerjemah disana. Hiruma memang banyak menguasai bahasa asing, tapi tidak temasuk bahasa korea.

"Tentu saja kami menang. Tim kami lebih kuat dan kompak," jawab Hiruma bangga.

Mamori tersenyum mendengar jawaban itu. Jawabannya sangat Hiruma sekali, pikirnya. Begitu percaya diri ditambah dengan kesombongannya yang tiada tanding. Tapi karena hal itulah, yang bisa membuat Hiruma menjadi sekarang ini. Karena keyakinan tinggi yang dia miliki terhadap timnya, mereka bisa menang.

"Ya. Mereka memang tim yang kuat. Terutama pemain baru mereka itu. Si nomor 4," jawab Hiruma saat reporter bertanya lagi.

Mamori membawa gelas dan kembali duduk di kasur. Dia kembali menyelimuti dirinya. Acara sudah berganti ke pembawa acara dan komentator yang sedang mengobrol dan membahas pertandingan. Mamori masih menonton dengan seksama meskipun dia sama sekali tidak mengerti bahasanya. Setelah beberapa menit Mamori merasa bosan, dia lalu mematikan televisinya. Dia bangun kemudian mulai membereskan pakaiannya karena besok pagi mereka sudah akan kembali ke Jepang. Begitulah pesan Hiruma sebelum dia meninggalkan hotel tadi pagi.

Mamori menolak untuk ikut. Karena selain malas, dia merasa tidak enak badan. Mungkin karena bawaan dari hamilnya ini, dia jadi mudah merasa lelah. Dan lagi, sejak kejadian memalukan semalam itu, saat Mamori menumpahkan seluruh air matanya, dia tidak mau berlama-lama berada di dekat Hiruma. Perasaannya jadi tidak karuan dan dia tidak bisa mengendalikan debaran jantungnya.

Beruntung semalam Hiruma tidak tidur bersamanya. Mamori tidak tahu dimana dia semalaman, yang pasti entah mengapa Mamori yakin Hiruma tidak pergi ke tempat wanita itu. Entah karena dia percaya Hiruma akan memegang janjinya atau perlakuan lembut kepadanya semalam. Membayangkan perlakuan Hiruma padanya kemarin saja sudah membuat seluruh tubuh Mamori terasa panas, apalagi terus berada bersama Hiruma. Tapi Mamori bersyukur dia tidak mengatakan perasaannya. Dia memang terlalu terbawa suasana semalam sehingga tidak bisa mengendalikan ucapannya, tapi untungnya dia tidak mengatakan semuanya.

Apa jadinya kalau sampai dia mengungkapkan perasaannya. Itu akan mengacaukan semuanya. Dia hanya akan membuat Hiruma mundur dari rencana pernikahan kontrak ini kalau sampai dia tahu perasaan Mamori yang sesungguhnya. Mamori sangat mengenal Hiruma dan bagaimana sifatnya. Karena tidak ada perasaan apapun itulah Hiruma berniat menikahinya. Begitu pun dengan Mamori. Karena Mamori tahu, Hiruma tak bisa terikat. Hiruma setuju menikahinya karena pernikahan ini tidak mengikat. Begitulah Hiruma.

Memang seperti itulah yang terbaik. Karena bagaimana pun mereka tidak akan mungkin bisa bersama. Hiruma tidak mungkin membalas perasaannya. Jadi sampai semuanya selesai pun, Mamori akan tetap diam. Walau rasanya penyakitkan, dia tidak akan mengejar cinta Hiruma. Dia akan tetap pada rencana semula. Menikah kontrak, dan bercerai pada saat waktunya tiba.

.

.

Mereka sudah menginjakkan kakinya kembali di Jepang. Mamori tidak berencana kembali ke Okinawa karena mereka tiba di bandara Haneda. Jadi dia lebih memilih pulang ke rumahnya di Tokyo daripada harus naik pesawat lagi ke Okinawa. Lagipula untuk apa dia lama-lama berlibur di Okinawa, mereka bahkan tidak sedang berbulan madu sungguhan.

Walaupun masih ada beberapa barang-barangnya di disana, Mamori cukup meminta tolong kepada kepada Karin atau Musashi mengirimnya. Mamori hendak memberhentikan taksi saat Hiruma menarik tangannya dan mengambil alih kopernya.

"Apa yang kamu lakukan?" kaget Mamori dengan suara pelannya karena banyak orang di bandara.

"Kau ikut denganku bodoh," sahut Hiruma. Dia lalu menerima kunci saat sedan hitam berhenti tepat di depan mereka. Hiruma lalu memasukkan koper Mamori ke kursi belakang. Setelah itu dia membukakan pintu depan untuk Mamori. "Masuklah."

Mamori masih menatap kesal ke Hiruma.

"Aku bilang masuk."

Sambil menggerutu, akhirnya Mamori masuk ke dalam. Hiruma lalu menutup pintunya dan berjalan mengitari mobil dan duduk di kursi pengemudi.

"Kita tidak perlu terus bersama-sama kan. Asal tidak ada orang yang melihat, kita bisa menjalani hidup masing-masing," protes Mamori.

"Kau pikir kita sedang pura-pura pacaran, bodoh? Semua orang mengenalku di Tokyo. Apa jadinya kalau mereka melihatku pulang sendiri sementara istriku pulang naik taksi?" balas Hiruma. "Pakai dulu sabukmu," lanjutnya sambil memakai sabuknya sendiri dan mulai menyalakan mesin.

"Tapi aku mau ke rumahku sekarang," ujarnya sambil memakai sabuk.

"Tidak masalah dimana pun. Asal kau tetap bersamaku."

Wajah Mamori hampir saja memerah mendengar perkataan itu sehingga dia tidak bisa menjawab apa-apa.

Hiruma lalu mulai menjalankan mobilnya.

"Tunggu," sahut Mamori. "Kalau kita harus terus bersama, bagaimana dengan pekerjaanku? Aku di Fukuoka sekarang!"

"Kau bisa berhenti bekerja," balas Hiruma santai.

Mamori hanya bisa memandang Hiruma dengan tatapan tidak percaya. "Lalu aku harus apa untuk menghidupiku saat kita pisah nanti? Kau pikir cari kerja itu mudah?" balas Mamori.

Hiruma tidak membalas apa-apa. Dia hanya menatap serius ke jalanan.

"Intinya. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku. Terserah orang akan berpikir apa. Aku akan tetap di Fukuoka," sambungnya. "Lagipula kau juga akan tinggal di asrama atlet. Jadi tidak bisa juga aku terus bersamamu."

"Keh. Terserah apa maumu."

.

.

"Kau bisa tidur di kamar orangtuaku."

Hiruma manatap pintu kamar yang ditunjuk Mamori. "Aku tidur di sofa saja," sahutnya lalu menaruh ranselnya di sofa.

Mamori menatap Hiruma lalu tersenyum meledek. "Kenapa? Kau takut?" ledeknya.

Hirum membalas dengan tatapan kesal. "Aku menghormati orangtuamu, bodoh. Mereka tahu aku menghamilimu. Kau pikir aku pantas tidur di kamar mereka?"

Mamori tidak bisa berkata apa-apa mendengar jawaban Hiruma. Tidak pernah menyangka seorang Hiruma Youichi bisa memikirkan hal seperti itu. "Kalau begitu kau tidur di kamarku. Aku yang akan tidur disini."

"Keh."

Mamori balas tersenyum. Dia lalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Saat itu telepon di tas Mamori berdering. Mamori merogoh ke tasnya sebelum membuka pintu kamar.

"Halo, Suzuna," sapanya saat Hiruma masuk ke dalam kamar diikuti dengan Mamori.

"Syukurlah tersambung," sahut Suzuna di seberang telepon. "Berarti kamu sudah di Jepang Mamo-Nee?"

"Ya. Aku sudah di Tokyo," lanjutnya sambil duduk di pinggir tempat tidur dan menaruh tas tangannya di meja belajar. Dia lalu melihat Hiruma membuka jaketnya dan menyampirkannya ke kursi meja belajar.

"Kapan kamu kembali ke Fukuoka?"

"Entahlah. Cutiku masih ada seminggu lagi," jawab Mamori sambil melihat Hiruma keluar kamar dan menengok ke kanan dan ke kiri.

"Berarti kamu akan menginap di rumah?"

"Ya," jawab Mamori.

"Apa tidak ada kamar mandi di lantai dua, heh?" sela Hiruma.

Mamori menurunkan ponselnya. "Cuma ada satu di bawah."

"Ck. Merepotkan sekali," gerutu Hiruma, dia lalu keluar kamar.

"Dasar dia itu," sebalnya. Lalu kembali menempelkan ponsel ke telinga. "Halo, Suzuna," sambungnya lagi.

"Iti tadi suara You-Nii kan?" tanya Suzuna.

"Hm. Dia bilang aku harus terus bersamanya. Jadi dia ikut denganku pulang ke rumah."

"Tunggu. Kenapa jadi terdengar romantis seperti itu Mamo-Nee? Apa terjadi sesuatu saat di Korea?"

Mamori menghela napasnya. "Bukan seperti itu. Dia bilang begitu untuk menjaga reputasinya karena kita sudah menikah. Dia bahkan menyuruhku untuk berhenti kerja."

"Lalu?"

"Tentu saja aku tidak mau," jawabnya.

"Oke. Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"

"Yah... jalani saja seperti biasa. Aku di Fukuoka nanti dan dia tetap di Tokyo. Yang beda hanya sekarang kami suami istri."

"Hmm.. aku mengerti. Berarti kalian akan seperti suami istri jarak jauh?"

Mamori tertawa. "Tepat."

"Aku tutup dulu Mamo-Nee. Ada pelanggan datang," sahut Suzuna, yang sekarang mempunyai Toko Roti di Osaka. "Kapan-kapan aku akan mampir."

"Ya. Sampai nanti."

Mamori lalu membuka kopernya dan mulai merapikan pakaian-pakaiannya. Mulai dari memindahkan pakaian yang masih bersih ke lemari dan mengumpulkan pakaian kotor. Mamori lalu beralih ke ransel Hiruma dan membukanya. Mamori menghela napas. Dia tidak pernah membayangkan apa yang dilihatnya. Di dalam hanya ada gulungan baju-baju, yang Mamori duga adalah baju kotor semua, sepasang sepatu, dan kantung plastik hitam yang entah berisikan apa.

"Apa yang kau lakukan, heh?" tanya Hiruma saat dia masuk ke kamar.

"Aku tidak menyangka kau sejorok ini," jawab Mamori, masih tetap memandangi isi tas sambil bertolak pinggang.

"Biar saja. Masih ada yang bersih."

Mamori menoleh dan memandang tidak percaya ke Hiruma. "Jadi maksudmu pakaian bersih dan kotor kamu jadikan satu di dalam sini?"

"Memang masalah, heh?"

"Tentu saja masalah. Cuci saja semua."

"Tung-"

Tanpa aba-aba, Mamori langsung menumpahkan pakaian kotor ke dalam kantung plastik yang berisi pakaian kotor miliknya.

"Terus aku harus pakai apa bodoh?" protes Hiruma.

"Pakai baju Ayahku di bawah," jawab Mamori. Dia lalu mengangkat dan membawanya untuk dimasukkan ke mesin cuci.

"Yang benar saja," balas Hiruma. Dia lalu mengambil alih kantung plastiknya dan membawanya.

Mamori mengikuti Hiruma yang sudah berjalan terlebih dahulu ke bawah. Dia lalu masuk ke kamar orangtuanya saat Hiruma memasukkan pakaian kotor ke keranjang di dalam kamar mandi.

Setelah itu Hiruma duduk di ruang tengah dan menyalakan televisinya. Beberapa menit kemudian Mamori muncul dan duduk di sebelah Hiruma sambil menaruh sweater dan celana panjang di pangkuannya.

"Pakailah."

Hiruma melihat sweater abu-abu dan celana panjang hitam di pangkuannya. "Kau pikir muat?"

"Muat. Itu sweater Ayahku yang kebesaran. Pakai saja," jawab Mamori.

Hiruma lalu membuka baju dan melemparnya ke pangkuan Mamori.

Mamori menoleh. "Kenapa ganti disini!?" protesnya panik melihat Hiruma yang sudah bertelanjang dada.

"Kau berisik sekali dari tadi," balasnya sambil memakai sweater.

"Jangan berani-beraninya ganti celana disini," ancam Mamori.

Hiruma menoleh sambil menyeringai. "Aku jadi semakin ingin mencobanya."

Mamori melotot mendengar jawaban Hiruma. "Ganti di dalam sana!" perintahnya sambil mendorong Hiruma dan memaksanya bangun sampai dia masuk ke dalam kamar. Setelah itu Mamori menutup pintunya. Dia lalu mengelus dada dan menghela napas.

Beberapa saat kemudian Hiruma keluar. Dia lalu memberikan celana panjangnya ke Mamori dan kembali duduk di sofa.

Mamori lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Setelah itu dia kembali ke ruang tengah. "Mau makan sesuatu?" tanyanya. "Tapi aku cuma punya mie ramen."

Hiruma terdiam sesaat dan berpikir. "Pesan Delivery saja."

Mamori balas tersenyum. "Oke."

.

.

To Be Continue

.

.

Catatan Kecil :

Apa ada yang membaca tepat beberapa menit setelah saya update? Kalau ada, berarti kamu sedang hoki XD