Chapter 12

.

.

"Hiruma," panggil Mamori dari bawah tangga. "Hiruma!" panggilnya lagi dengan suara yang dikencangkan.

Mamori melihat ke jam tangannya. Sudah jam setengah sembilan pagi, namun sejak Mamori bangun jam delapan tadi, dia tidak melihat atau mendengar tanda-tanda Hiruma sudah bangun. Mamori lalu berdecak dan dengan berat hati naik ke atas menuju kamarnya. Dia membuka pintu dan melihat kamar yang masih gelap, bahkan gorden juga masih tertutup rapat.

"Bangun Hiruma. Sudah pagi," ujarnya sambil berjalan membuka gorden. Sinar matahari langsung memenuhi ruangan, namun tidak ada pergerakan dari Hiruma yang tidur dengan selimutnya. Mamori lalu berjalan ke pinggir tempat tidur. "Hei, bangun," sahutnya lagi sambil mengguncangkan tubuh Hiruma. "Aku mau bertemu temanku dulu. Nanti kau kunci pintunya kembali, ya?"

Tanpa menunggu jawaban Hiruma, Mamori berbalik berjalan keluar namun seketika terhenti saat ada tangan yang menahan pergelangan tangannya.

Mamori menoleh dan mendapati Hiruma menggenggam tangannya. Dia melihat ke Hiruma yang perlahan bangun dan selimut turun dari tubuhnya. Seketika Mamori langsung menyadarkan pandangannya dari Hiruma yang bertelanjang dada.

"A-apa kau tidak kedinginan tidur seperti itu?" ucapnya tanpa sadar dan langsung menyesali pertanyaan bodohnya itu.

"Kau mau kemana, heh?" tanya Hiruma tidak memedulikan pertanyaan Mamori.

"Tadi aku sudah bilang, aku mau bertemu teman dulu," jawab Mamori, masih tidak fokus dengan pemandangan di depannya itu. Mamori dengan canggung mundur, saat Hiruma bangun dan mengambil jaket yang tersampir di kursi.

"Aku ikut."

"A-apa?" tanya Mamori tidak yakin dengan apa yang didengarnya.

"Aku cuci muka dulu," lanjut Hiruma, sambil mengacak-acak rambut berantakannya dan keluar kamar.

"Tunggu, Hiruma." Mamori mengikuti Hiruma yang sudah turun tangga. "Untuk apa aku ikut?" tanya Mamori lagi masih tetap mengikuti Hiruma. "Maksudku, apa kau tidak ada latihan?"

Hiruma mengambil sikat gigi dan mulai menyikat giginya. Dia melihat Mamori yang berdiri di sebelahnya dari balik cermin.

Sementara Mamori yang masih menunggu jawaban Hiruma, mengeluarkan suaranya lagi. "Kau tidak usah ikut ya, Hiruma?" pintanya. "Kau kan bisa pergi kemana saja, tidak usah ikut aku."

Hiruma yang telah selesai berkumur, langsung menghadap Mamori sambil bertolak pinggang. "Kenapa kau tidak ingin sekali aku ikut, heh?" balas Hiruma. "Memangnya kau mau kemana?"

"Hanya ke kafe di dekat stasiun," balas Mamori.

"Terus memangnya kau mau bertemu siapa, heh? Laki-laki?"

Mamori mendadak menggelengkan kepalanya. "Bukan. Aku mau bertemu Ako dan Sara."

"Keh. Aku ikut," jawabnya singkat lalu mulai membasuh mukanya.

"Aku tidak enak kalau kau ikut," balas Mamori. "Mereka pasti akan segan untuk mengobrol."

"Apa masalahnya, heh?" sahut Hiruma sambil menyeka wajahnya dengan handuk. "Anggap saja aku tidak ada." Dia lalu keluar dan mengambil kunci mobil di atas meja.

"Bagaimana bisa menganggap kamu tidak ada? Bayanganmu saja sudah membuat mereka takut."

"Kau ini berisik sekali," keluh Hiruma sambil membuka pintu depan. "Jangan lupa kunci pintunya."

"Tunggu Hiruma," gegasnya sambil buru-buru mengunci pintu depan dan pagar rumah. Dia melihat Hiruma sudah masuk ke dalam mobilnya. "Apa tidak bisa sekali ini kamu mendengarkanku, hem?" gumam Mamori saat sudah masuk ke dalam dan memasang sabuk pengamannya. Dan seperti biasa, Hiruma tetap tidak mempedulikannya.

.

.

Ako dan Sara duduk sambil menatap canggung ke Mamori dan ke seseorang yang duduk di sebelahnya. Bagaimana pun, walau mereka sudah mengenal Hiruma sejak SMA dan kenyataan bahwa sekarang dia sudah menjadi suami dari sahabatnya, masih membuat mereka merasa tidak nyaman. Mereka bahkan belum pernah duduk satu meja sebelumnya.

"Tidak usah mempedulikannya," sahut Mamori menjawab keluhan yang tak terkatakan oleh kedua sahabatnya itu. Dia lalu menoleh kesal ke Hiruma yang sedang sibuk membaca majalah. "Apa tidak bisa kau pergi ke tempat lain dan jemput aku lagi nanti? Aku tidak akan kemana-mana," kesalnya.

Hiruma melirik ke Mamori lalu melihat ke jam tangannya. "Keh," sahutnya. "Telepon aku kalau sudah selesai."

"Tunggu," timpal Mamori sambil menahan ujung baju Hiruma.

"Apa lagi? Tadi kau yang minta aku pergi, heh?" balasnya sambil melihat Mamori yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya dan menunjukkannya ke Hiruma.

Aku tidak tahu nomor ponselmu

"Ck. Yang benar saja," kesal Hiruma lalu merebut ponsel dari tangan Mamori dan mengetik nomor teleponnya. Dia lalu mengembalikannya dan mulai berjalan lagi.

"Ah, tunggu," cegah Mamori lagi.

"Apa lagi, heh?" keluhnya.

"Bukannya kamu belum sarapan?"

"Biar saja," Setelah itu Hiruma keluar meninggalkan Mamori menuju ke tempat parkiran mobilnya.

.

.

Entah sekarang Hiruma harus kemana. Karena dia masih ada cuti seminggu lebih, jadi sia-sia masa cutinya kalau dia harus ke tempat latihan. Tapi apa boleh buat, tidak ada tempat lain yang bisa dia tuju, rekan anggota klub-nya juga sudah pasti ada disana semua.

Tiba-tiba muncul sekelebat pikiran di kepalanya. Dia lalu melihat ke jam tangannya. Masih jam sepuluh, masih terlalu pagi untuk mengunjungi tempat itu karena masih jam sekolah. Sudah lama sekali dia tidak mengunjungi SMA Daemon, bahkan hampir terlupakan untuk ke tempat itu. Yang dia tahu, pelatih gilanya itu, masih melatih disana. Tapi seandainya Hiruma kesana, pasti akan terjadi kehebohan besar. Karena itulah Hiruma selalu mengurungkan niatnya untuk berkunjung kesana.

Akhirnya Hiruma memutuskan untuk ke asrama atletnya untuk memgambil beberapa potong pakaian.

Setibanya di kamar asrama, Hiruma langsung mandi untuk menghangatkan tubuhnya dan berganti dengan pakaian bersih. Kamarnya cukup rapih karena dia tidak punya waktu untuk membuatnya berantakan. Hiruma hanya menghabiskan waktu di kamarnya ini dari jam malam sampai jam tujuh pagi. Itu pun kalau dia tidak keluar bersama rekan atau wanita-wanitanya.

Dia hanya libur pada hari Senin setelah pertandingan liga Jepang di setiap akhir pekannya. Dan pada hari Senin itu, Hiruma menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri, yaitu tidur dan bersantai. Untungnya dia memiliki kamar untuk dirinya sendiri sesuai dan cukup luas dibanding dengan kamar anggota lainnya. Karena itulah dia meletakkan treadmill miliknya untuk berolahraga sendiri.

Setelah mandi, Hiruma menuang kopi yang sudah dibuatnya tadi ke dalam cangkir dan meletakkannya di meja samping tempat tidur. Dengan mengenakan sweater abu-abu dan celana panjang putih, Hiruma merebahkan tubuhnya di kasur sambil menyalakan televisi. Tentu saja tidak ada acara yang menarik di matanya. Karena menonton televisi bukanlah hobi Hiruma. Dia biasanya menyalakan televisi hanya untuk menghilangkan kebosanan dan keheningan di kamarnya. Jadi Hiruma pun membiarkan televisinya menyala sementara dia membuka laptop dan memulai pekerjaannya menganalisis data pertandingan.

Tanpa terasa waktu berlalu sementara Hiruma tetap sibuk dengan pekerjaannya. Dia lalu melihat jam di laptopnya yang menunjukan pukul dua siang. Dia heran, kenapa Mamori tidak menghubunginya, padahal sudah jam segini. Apa dia terlalu asik dengan temannya. Entahlah.

Hiruma lalu meraih ponselnya di meja. Sempat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, ternyata entah dari kapan ponselnya kehabisan daya dan mati total. Pantas saja tidak ada kabar dari Mamori. Hiruma mencoba menyalakan sembari menghubungkannya ke stop kontak. Tidak menunggu lama untuk bisa menyala, beberapa saat kemudian masuk beberapa pesan dari Mamori.

Pesan pertama :

Jemput aku

Hiruma lalu membaca pesan kedua :

Kenapa lama sekali? Tidak usah menjemputku di cafe. Aku akan pulang naik bis

Setelah membaca kedua pesan itu, beberapa saat kemudian ponsel Hiruma berdering dan muncul nama Mamori disana.

"Ya?", sapa Hiruma.

"Oh syukurlah. Kau baik-baik saja? Kenapa ponselmu tidak aktif. Kupikir terjadi apa-apa," sahut Mamori, terdengar khawatir dari nada suaranya yang mampu membuat Hiruma tersenyum senang.

"Aku lupa men-charge ponselku semalam," jaeabnya.

"Kamu di mana?" tanya Mamori.

"Aku di asrama."

Mamori hening beberapa saat, "mmm... berarti kau akan tidur di sana malam ini?" tanyanya lagi.

Hiruma berpikir sesaat mendengar pertanyaan Mamori. "Kenapa aku harus tidur di sini, heh? Apa kata anggota klub kalau mereka tahu?"

"Baguslah. Karena aku sudah berbelanja untuk makan malam nanti," ujarnya. "Kapan kamu akan kemari?"

"Kupikir aku akan menunggu ponselku terisi sambil menyelesaikan pekerjaanku."

"Baiklah...," sahut Mamori. "Sampai nanti."

"Hm." Hiruma lalu meletakkan ponselnya dan melanjutkan pekerjaannya kembali.

.

.

Beberapa hari berlalu. Hari-hari Hiruma berjalan dengan membingungkan. Selama dia cuti, tubuhnya terasa kaku dan berat. Jadi walaupun dia sedang cuti, Hiruma tetap ke gym atau lari pagi di asrama atlet. Anehnya walaupun dia menghabiskan kebanyakan waktunya di asrama atlet, namun saat malam hari, Hiruma tetap kembali ke rumah Mamori. Entahlah, Hiruma hanya tidak ingin meninggalkannya sendiri. Dia takut istrinya itu mengalami kerisauan hati yang akan membuatnya menangis seperti waktu itu. Jadi sebisa mungkin, Hiruma selalu kembali saat jam makan malam.

Waktu cuti Mamori hanya tinggal dua hari lagi. Setelah itu dia akan menjalani rutinitas seperti biasa sebagai editor majalah di Fukuoka. Karena itu sekarang ini, Mamori sedang bersiap-siap merapikan pakaian-pakaiannya.

"Memangnya kau sudah mau kembali ke Fukuoka besok, heh?" tanya Hiruma yang berdiri di ambang pintu sambil melihat Mamori membereskan kopernya di kamar.

"Ya," jawabnya. "Aku ada janji dengan dokter kandungan di sana. Dan lagi banyak yang harus kubereskan di apartemenku. Sudah kutinggal hampir sebulan."

"Keh. Aku akan mengantarmu."

"Tidak perlu. Bukannya lebih baik kamu kembali latihan? Kudengar pekan kemarin kalian kalah?"

"Ck. Mereka saja yang tidak becus bermain," balasnya. "Memangnya aku tidak boleh mengantarmu, heh?"

"Bukannya tidak boleh. Kamu cuma buang-buang uang saja. Karena kalau denganmu kita pasti akan pergi dengan pesawat ya kan? Jangan terlalu boros Hiruma."

"Yah... terserah kau saja."

Mamori pun hanya membalas dengan senyuman.

.

.

Keesokan paginya Mamori telah berangkat dengan kereta. Hiruma hanya bisa menahan kekesalannya saat lagi-lagi Mamori menolaknya untuk mengantarkannya ke stasiun. Hiruma tidak mengerti, dia pikir belakangan ini mereka sudah semakin dekat, tapi kenapa Mamori terlihat seperti menjaga jarak dengannya. Bukan pada saat seperti ini saja, Hiruma bahkan juga menyadari bahwa Mamori tidak mau duduk berdekatan di sebelahnya. Memikirkan hal kecil seperti itu saja sudah membuat Hiruma kesal.

Hiruma akhirnya kembali ke rutinitasnya seperti biasa bersama rekan anggotanya di asrama atlet. Setelah meletakan dengan kasar tasnya di lantai. Hiruma mengambil ponselnya dan berjalan ke beranda dan duduk di kursi santai disana. Dia lalu menyari nama seseorang dan langsung meneleponnya.

"Yo Pak Tua," sapa Hiruma saat telepon sudah bersambung.

"Wah. Hiruma. Tumben sekali. Ada apa kau meneleponku?" sapa Musashi di seberang.

"Ada yang sedang kupikirkan," sahutnya.

"Ada apa? Kau tidak mungkin meneleponku hanya untuk bicara soal pertandingan kan?" ledeknya. "Oke. Katakan apa masalahnya."

"Apa yang wanita pikirkan saat dia melarang laki-laki untuk tidur dengan wanita lain selain dirinya?"

"Wow Hiruma. Kau serius ingin berdiskusi hal itu denganku?" jawab Musashi.

"Jawab saja, bodoh. Karena cuma kaulah yang tahu tentang masalahku yang satu ini."

"Apa ini soal Anezaki?" balasnya lagi.

"Tidak usah banyak tanya, Pak Tua."

"Oke," sahutnya. "Jika ada wanita berkata seperti itu, bukannya secara tidak langsung dia telah menyampaikan perasaannya?"

"Perasaan apa maksudmu?"

"Oh Tuhan. Kau ini memang tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti Hiruma?" keluhnya. "Aku bilang kalau kemungkinan besar Anezaki sudah ada rasa terhadapmu."

"Begitu?" balas Hiruma. "Tapi setelah berkata seperti itu, selanjutnya tidak ada perkembangan apa-apa. Dia bahkan terlihat jelas sedang menjauhiku."

Musashi tertawa. Bagaimana tidak. Seorang Hiruma yang menurutnya tidak akan pernah memusingkan hal sepele macam ini, sekarang dia malah secara terbuka menceritakan masalah ini kepadanya.

"Kalau untuk itu aku tidak tahu kenapa Anezaki menjauhimu," balas Musashi. "Apa kau ada salah terhadapnya?"

"Entahlah. Menurutku tidak ada," jawab Hiruma. "Tapi kalau aku berbuat salah, dia pasti akan langsung ngomel-ngomel padaku. Sedangkan ini, dia seperti tidak mau berada di dekatku."

Musashi menghela napas. "Entahlah Hiruma, untuk soal seperti ini aku juga sama sekali tidak mengerti," balasnya. "Apa kau mau bicara dengan istriku? Mereka kan sama-sama wanita."

"Sudah. Lupakan. Kau sama sekali tidak membantu," kesalnya.

Musashi tertawa. "Ah aku lupa tanya," sahutnya. "Saat Anezaki bilang seperti itu, apa kau benar-benar tidak tahu kalau dia sedang mengungkapkan perasaannya?"

"Aku sudah bilang aku sama sekali tidak tahu bodoh," jawab Hiruma. "Saat itu dia menangis. Jadi aku tidak bisa berpikir apa-apa."

"Menangis?"

"Hm."

"Karena apa?"

"Mana kutahu. Kau pikir aku cenayang!"

"Harusnya kau tanya," balas Musashi.

"Kau pikir aku tidak bertanya!"

Musashi menghela napasnya. "Sudahlah. Jangan membuatku ikut-ikutan memikirkan masalahmu juga. Lebih baik kau kembali ke Tim. Lakukan rutinitasmu seperti biasa. Dengan begitu kau akan lupa."

"Masih ada lagi," sela Hiruma.

"Apa lagi?"

Hiruma terdiam sejenak. "Apa yang harus kukatakan padanya kalau aku ingin menemuinya di Fukuoka?"

Musashi menghela napasnya lagi karena pertanyaan Hiruma. "Apa kau masih butuh alasan? Dia istrimu!"

"Sudahlah. Percuma aku bicara denganmu," kesal Hiruma.

"Begini Hiruma," sahut Musashi. "Dari awal sudah kukatakan, bilang padanya kau mencintainya. Jelaskan semuanya kalau kau ingin terus bersamanya dalam ikatan yang nyata," tegasnya. "Kupikir dengan mendengar ceritamu dan ditambah dengan kondisinya yang sekarang. Kemungkinan besar dia akan menerimamu."

"Aku tidak mau dia menerimaku hanya karena dia sedang hamil."

"Kalau begitu berusahalah. Bukannya itu salah satu kelebihanmu? Kau selalu mendapatkan apa yang kau mau walaupun tanpa paksaan."

Hiruma terdiam mendengar kata-kata Musashi.

"Oke Hiruma. Kau paham kata-kataku?"

"Keh Pak Tua," sahut Hiruma lalu memutuskan sambung mereka.

.

.

To Be Continue

.

.

Catatan Kecil:

Saya sungguh-sungguh minta maaf semuanyaaaa... Tidak bisa menulis dengan lancar seperti biasa. Karena semua waktu yang padat sampai-sampai untuk menyalurkan hobi saja tidak ada. Tapi sebisa mungkin saya akan menyelesaikan cerita ini dengan akhir yang indah sesuai harapan kalian.

Terus baca fic ini sampai akhir ya guys agar semua pertanyaan2 kalian tentang kehamilan Mamori dan hubungan mereka terjawab.

Oke jangan lupa review nya. Dukungan dari kalian sangat membantu mencerahkan hari2 saya~ XD

Salam : De