Chapter 13
.
.
Setelah tiba di Fukuoka, Mamori melihat kamar apartemennya yang sedikit berdebu. Bagaimana tidak, rencana dia hanya ke Tokyo selama tiga hari, namun semua berubah total menjadi cuti tiga minggu pernikahannya. Dunia Mamori yang semula berjalan dengan tenang, sekarang bergejolak dan tak terkendali.
Mamori seharusnya butuh waktu istirahat setelah perjalannya di kereta tadi. Tapi karena melihat keadaan kamarnya yang tidak nyaman ini, Mamori lalu memgambil celemek dan sarung tangan, dan dia siap untuk membersihkannya. Mulai dari mengganti seprai, menggiling pakaian kotor di mesin cuci, menyapu dan mengepel lantai. Setelah itu Mamori duduk di kursi sambil menarik napasnya, padahal hal ini sudah biasa dia lakukan, tetapi kenapa rasanya Mamori kehabisan tenaga sekali.
Sembari duduk dan berpikir, Mamori melihat ke beranda luar, ternyata masih ada jemuran yang belum sempat diangkat selama berminggu-minggu. Dengan perlahan Mamori bangkit dari duduknya, namun kepalanya mulai berputar dan pandangannya serasa kabur. Mamori lalu duduk kembali. Dia menompangkan tangan ke kepalanya. Setelah merasa lebih baik, Mamori berjalan sambil pegangan ke meja makan menuju sofa tempatnya menaruh tas tangannya. Dengan sisa-sisa energinya, Mamori berhasil sampai, dengan hati-hati, dia duduk dan mengambil napas perlahan. Setelah itu di merogoh tasnya mengambil vitamin yang pernah diberikan dokter kepadanya. Mamori lalu meminumnya langsung karena dia sudah tidak kuat berjalan ke dapur yang ada di dekat pintu masuk kamar apartemennya untuk mengambil air.
Memang seharusnya dia bersama seseorang yang bisa menemaninya. Dalam kondisinya yang sedang hamil seperti ini, memang tidak seharusnya dia sendirian. Tapi apa boleh buat, dia hidup sendiri di apartemennya. Mamori hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri di saat dia berada dalam situasi seperti ini. Mamori tidak pernah mau membayangkan bagaimana nasibnya jika dia tiba-tiba jatuh sakit dan pingsan di dalam kamarnya ini. Tanpa ada tetangga yang tahu.
Sudah pasti sekarang ini Mamori harus lebih hati-hati lagi. Karena terkadang dia lupa kalau ada nyawa lain di dalam dirinya.
Mamori perlahan membaringkan dirinya di sofa. Dia memang seharusnya butuh istirahat. Tapi karena kelalaiannya itu, dia sekarang kelelahan. Mamori sudah tidak bisa menahan kantuknya lagi. Dia pun akhirnya tertidur di sofa.
.
.
Hari Senin telah tiba, Mamori kembali masuk kerja tidak seperti biasanya. Karena saat dia membuka pintu, rekan-rekan kerjanya langsung memberi kejutan kepadanya. Mereka memberi ucapan selamat atas pernikahannya dan memberikan bunga kepadanya.
"Kupikir kamu tidak perlu bekerja lagi Mamori-san."
"Ya benar. Kamu kan sudah punya suami yang cukup terkenal," sahut yang lainnya.
Mamori hanya bisa tertawa sambil mengucapkan terima kasih atas bunga-bunga indah yang diberikan kepadanya. Setelah selasai menyelamati Mamori, mereka lalu kembali ke kantor bagian masing-masing. Mamori dan beberapa rekan editornya pun juga mulai berjalan ke kantor bagiannya.
"Jadi dimana suamimu?" tanya Haruna sambil membawakan beberapa ikat bunga di tangannya membantu Mamori membawakannya.
"Di Tokyo."
"Wah... jadi kalian menjadi suami istri jarak jauh?" sahut editor yang lain.
Mamori hanya balas tertawa.
"Memangnya dia tidak melarangmu untuk bekerja?" tanya Haruna lagi. "Kupikir dengan melihat wajahnya yang sangar seperti itu, dia orang yang pemaksa."
"Dia memang melarangku. Tapi tentu saja aku yang menang," jawabnya lalu tersenyum.
"Lalu bagaimana kalian bertemu nanti? Suamimu kan pasti sibuk latihan."
"Yaahh... itu bisa diatur," jawab Mamori sekenanya.
"Jangan memaksakan diri Mamori-san," sahut Haruna. "Kalian kan pengantin baru. Bukannya lebih baik kalau kamu menemani suamimu?"
Mamori memandang dengan tatapan tidak percaya. "Jadi kamu ingin aku berhenti kerja disini, begitu?" candanya.
Haruna tertawa. "Tapi aku tidak ingin kamu berhenti, Mamori-san," jawabnya sambil menggandeng lengan Mamori dan mereka berjalan menuju ruangan.
.
.
Ponsel berbunyi saat Mamori tiba di mejanya. Mamori melihat nama Hiruma tertera di sana.
"Ya," sapa Mamori.
"Kenapa kau tidak meneleponku?" sahut Hiruma yang sedang istirahat di sofa sambil meneguk air dari botolnya, setelah dia selesai lari pagi di asrama atletnya.
"Hmmm...," balas Mamori bingung dengan pertanyaan itu. "Maksudmu?"
"Kenapa kau tidak juga meneleponku, bodoh?" kesalnya.
"Apa harus?" balasnya polos sambil melirik ke Haruna yang melihat ke arahnya. Mamori melihat ke arah mata yang ditunjuk Haruna dan mendapati kepala editor disana. Dia memberi isyarat agar menemuinya di kantor. "Oh, maaf Hiruma. Aku akan meneleponmu lagi nanti."
Mamori lalu mengikuti kepala editornya ke dalam ruangan. Dia lalu duduk setelah dipersilahkan oleh atasannya itu.
"Jadi begini Anezaki-san. Saya mau berdiskusi," ujar kepala editornya.
Mamori tampak ragu mendengarnya. "Diskusi?"
"Wakil redaksi bilang pada saya kalau kantor pusat majalah kita yang di Chiba sedang membutuhkan seorang revisi. Bagaimana?"
Mamori berpikir. Dia mengerti kemana arah pembicaraan mereka. "Maksud anda, saya pindah tugas?"
"Ya," jawab kepala editornya. "Saya menawarkan kepadamu kesempatan ini, mengingat suamimu ada di Tokyo. Bukankah lebih baik kalau lebih dekat."
Mamori berusaha mencerna jawaban secepat mungkin. Kalau mereka memang nikah sungguhan, Mamori akan senang dengan tawaran itu. Tapi karena pernikahan terpaksanya ini, Mamori sama sekali tidak butuh untuk pindah ke cabang pusat di Kanto. Dan seandainya Mamori menolak, apa alasan yang tepat yang harus dia katakan.
"Yah... memang jabatanmu sebagai revisi disana. Tapi kurasa bisa satu wilayah dengan suamimu tinggal, tawaran ini bisa dipertimbangkan."
"Apa saya harus menjawab sekarang?" tanya Mamori.
"Ya. Saya akan menghubungi kantor pusat kalau kau mau. Jadi mereka tidak perlu mencari orang baru."
Mamori masih memikirkan jawabannya.
"Tapi kau bisa mulai kerja sekitar dua minggu lagi kalau menerima tawaran ini. Tidak perlu terburu-buru karena bagian revisi disana masih harus bekerja sampai majalah edisi bulan depan terbit."
"Saya terima tawarannya," jawab Mamori yakin, tidak perlu berpikir dua kali. Dengan keputusannya ini, dia bisa kembali ke rumahnya di Tokyo dan lebih mudah bertemu teman-temannya lagi.
"Oke. Bagus. Saya akan segera menelepon kantor pusat," sahut kepala editornya. "Kau bisa kembali ke mejamu dan selesaikan tugas untuk edisi bulan depan."
"Baik. Terima kasih. Saya permisi."
.
.
Hiruma selesai mandi dan bersantai di sofa sambil bermain laptopnya. Sesekali dia melihat ke ponselnya mengharapkan telepon dari Mamori yang berkata akan meneleponnya lagi nanti. Tapi hasilnya nihil. Yang ada hanya dua pesan dari dua orang wanita yang mengajaknya keluar nanti malam.
Hiruma sudah sering menerima pesan seperti ini saat dia pulang dari Korea. Bahkan walau mereka tahu Hiruma telah menikah, mereka tetap mengajaknya keluar walaupun selalu Hiruma abaikan. Entah bagaimana pandangan mereka terhadap Hiruma sampai-sampai mereka tetap mengajak lelaki yang baru saja menikah. Apa sebegitu buruknya citra Hiruma di mata mereka tentang pernikahan yang dijalankannya ini. Walau begitu, sebisa mungkin Hiruma ingin berubah dan tidak mau kembali ke kehidupan bebasnya.
Pintu kamar Hiruma terbuka dan muncul Furukawa disana.
"Yo, Kapten!" sapa Furukawa. "Mau ikut aku dan Papa Bear makan di luar?"
"Hiruma menggeleng sebagai jawaban. Namun, Furukawa malah menjatuhkan dirinya santai duduk di samping Hiruma dan melihat apa yang sedang dikerjakannya.
"Bagaimana kabar istri cantikmu?" tanya Furukawa. "Kudengar dari yang lain, kalau dia tinggal di luar kota?"
"Hmm," jawabnya singkat.
"Waahh...," sahut Furukawa. "Bagaimana kau bisa hidup jauh dari istrimu, Hiruma? Dan lagi, bagaimana istrimu bisa seyakin itu kamu tidak akan akan selingkuh dan meninggalkanmu sendirian disini?" lanjutnya tertawa.
Hiruma belum sempat menjawab, namun pintu kamar kembali terbuka dan muncul Walker.
"Kenapa kalian pada datang ke kamarku, heh?" Akhirnya Hiruma melontarkan protesnya. "Kau pikir ini toilet taman kau bisa keluar masuk sesukamu!"
"Kenapa kau disini Furukawa?" tanya Walker dalam bahasa Inggrisnya.
"Aku mau mengajaknya makan," jawabnya sambil menunjuk Hiruma. "Setelah itu aku baru mau ke tempatmu."
Walker mengangguk-angguk. "Oh ya Hiruma," sahutnya. "Bisa kau ke kamarku? Komputerku rusak entah kenapa."
"Cih," gerutunya. "Apa hobi kalian ini mengganggu orang?"
"Ayolah," bujuknya. "Aku tidak tahu harus minta tolong siapa lagi."
"Keh."
Mereka bertiga lalu meninggalkan kamar Hiruma tanpa menyadari beberapa saat kemudian ada telepon masuk di ponsel Hiruma dari seseorang yang ditunggunya.
"Kau harus ganti hardisk-nya. Kalau dibiarkan saja nanti malah komputermu mati total," ujar Hiruma setelah lima belas menit mengutak-atik komputer Papa Bear.
"Bisa kau betulkan?" tanya Walker.
Hiruma menatap kesal ke Walker. "Kau pikir aku kurang kerjaan!"
"Kau bisa minta tolong petugas asrama untuk membawanya ke reparasi komputer, Papa Bear,"sahut Furukawa, menyelesaikan ucapan Hiruma.
"Oh, oke," balas Walker. "Kalau begitu ayo kita keluar. Aku akan mentraktirmu Hiruma."
.
.
Mamori memilah-milah ide yang berhasil dikumpulkan oleh asistern editornya tentang hal yang akan ditulis mereka mengenai fashion. Mamori bertanggung jawab sebagai editor bagian fashion di majalahnya, sedangkan Haruna adalah editor bagian kecantikan.
Sembari pikirannya sibuk, ponsel di atas meja tetap berusaha menghubungi seseorang yang dari tadi belum juga menjawab teleponnya.
"Sepuluh menit kita akan rapat dengan wakil redaksi. Siapkan semua materi yang diperlukan," perintah kepala editor saat keluar dari ruangannya. "Dan... matikan ponsel selama rapat."
.
.
Waktu belum menunjukan jam tujuh pagi, saat pelatih membuka gerbang dan berjalan ke lapangan. Dia mulai menghitung atlet-atletnya yang sudah melakukan peregangan di lapangan.
"Heh Hiruma," tegur pelatih saat melihat satu sosok yang semestinya tidak ada disana. "Kenapa kau disini?"
"Selamat pagi pelatih," sahut atlet-atlet yang lainnya sambil membungkukkan badan, terkecuali Hiruma.
"Selamat pagi," jawab pelatih. Dia lalu mengembalikan pembicaraan ke Hiruma. "Cutimu kan masih seminggu lagi karena kau minta nambah."
"Aku bosan. Jadi mending aku disini menyemangati kekalahan kemarin," jawab Hiruma.
Pelatih menatapnya curiga sambil berpikir. "Kau tidak akan minta yang macam-macam kan untuk mengganti cutimu itu?" selidiknya. "Ini keinginanmu sendiri yang ingin datang latihan. Kalau kau mulai latihan di hari pertama minggu ini, itu artinya kau harus tetap datang latihan sampai hari pertandingan."
"Berisik sekali kau pelatih," sahut Hiruma. "Aku cuma ingin ikut latihan hati ini saja. Aku tetap dalam cutiku."
Pelatih menghela napas. "Kau pikir ini klub nenek moyangmu."
Pelatih melihat ke jam tangannya yang masih ada tiga puluh menit lagi sampai waktu latihan dimulai. Dia melihat ke arah dua orang asistennya yang baru datang bersama tiga orang petugas peralatan yang akan bersiap mengeluarkan barang-barang yang akan dipakai untuk latihan hari ini dari gudang.
"Oh ya Hiruma, kau sudah menonton pertandingan kita kemarin?" tanyanya saat menerima buku catatan dari asisten pelatihnya.
Hiruma menganggukan kepala.
"Ada yang mau kudiskusikan. Ikut aku," ajaknya menuju kursi panjang.
.
.
"Kau mau membawa pekerjaan itu ke rumah?" tanya Haruna, saat melihat Mamori memasukan tumpukan kertas referensi ke dalam kotak.
"Hm," jawab Mamori mengiyakan. "Karena besok siang aku ada wawancara dengan desainer Sasaki Mio. Aku berencana tidak akan ke kantor paginya. Dan manager mengizinkanku."
Haruna mengangguk-angguk sambil memandangi kotak besar itu. "Apa mau kubantu? Sepertinya itu berat sekali."
"Tidak perlu, Haruna-san. Aku akan naik bis."
"Karena kamu naik bis. Bagaimana kalau nanti bisnya penuh?" balasnya.
"Aku bisa menaruhnya di bawah. Tenang saja, aku pernah melakukannya. "Mamori lalu tersenyum untuk meyakinkannya. Dia lalu mengangkat kotak besar itu. Tidak terlalu berat memang karena ada lubang di kedua sisi atasnya, jadi Mamori bisa menjinjingnya di depan tubuhnya. "Kalau begitu sampai besok sore Haruna-san."
"Ya. Hati-hati Mamori."
Mamori menaiki lift menuju ke lobi di kantornya. Dia menyapa dan tersenyum kepada karyawan lain yang juga hendak pulang. Beruntungnya gedung kantor empat lantainya ini tidak terlalu jauh dari halte bis, jadi Mamori tidak perlu capek-capek membawa kotak ini lama-lama.
Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya bis yang akan ditumpangi Mamoro tiba. Bis tidak terlalu penuh sore ini, begitu pun dengan penumpang yang akan naik. Sehingga Mamori bisa bernapas lega dan duduk di kursinya sambil memangku kotak di atasnya.
Bis sudah melewati dua halte dan akhirnya sampai ke halte tujuan Mamori. Langit sudah hampir tenggelam saat Mamori menyusuri jalan menuju apartemennya. Seharusnya tidak sampai sepuluh menit yang ditempuh untuk mencapai apartemennya. Tapi karena sekarang barang bawaannya tidak seperti biasanya, butuh setidaknya lima belas menit.
Dari kejauhan Mamori melihat bangunan apartemennya, hanya beberapa meter lagi, Mamori lalu mempercepat langkahnya. Dia melihat ibu pemilik apartemen berjalan bersama anak laki-lakinya di depan rumah yang baru turun dari tangga. Mamori lalu menyapa ibu dua anak tersebut dengan senyumannya saat mereka berpapasan.
Mamori mulai menapaki anak tangga pertamanya. Dengan hati-hati dia mengangkat kakinya karena sepatu hak lima senti dan rok berwarna peach selututnya, ditambah kotak besar di depannya, membuat Mamori kesulitan untuk memperhatikan langkahnya. Lima anak tangga berhasil dilaluinya. Selanjutnya, dengan sangat tidak terduga, tapakan sepatu Mamori meleset dari anak tangga. Kaki kanannya tergelincir dan dia kehilangan keseimbangan. Belum sempat tangannya melepaskan kotak untuk berpegangan, punggungnya membentur pegangan tangga kencang, membuatnya goyah dan jatuh berguling di tangga bersama barang bawaannya.
"Anezaki-san!" teriak ibu, menoleh saat mendengar suara di belakangnya. Dia lalu berlari melihat Mamori yang sudah tergeletak di bawah tangga dengan darah yang mengalir dari kepala dan kakinya. "Cepat naik Ririto, bilang Papa untuk cepat mengeluarkan mobil!"
.
.
"Awas Hiruma-san!"
Tidak sempat Hiruma menghindar, bola amefuto mendarat tepat di pinggir kepala sebelah kirinya.
Sang petugas peralatan yang melempar bola itu memasang wajah ketakutan saat melihat Hiruma yang melotot kepadanya.
"Apa kau tidak bisa beres-beres dengan benar!?" kesalnya.
Petugas itu hanya menyengir pasrah. Walaupun bukan salah dia sepenuhnya. Karena tadi dia sedang mengoper bola kepada petugas lainnya untuk dimasukan ke dalam keranjang. Dan akibat waktu yang tidak tepat, Hiruma lewat di depannya.
"Ck!" kesalnya. Hiruma lalu kembali berjalan menuju ruang ganti sambil memegangi kepalanya. Hiruma lalu mendapati tangannya yang basah. Dia lalu melihat darah di telapak tangannya. Ujunh bola tadi ternyata kena ke belakang telinganya tepat ke bagian luka jahitan yang diterimamya beberapa bulan lalu.
Geramannya pun semakin menjadi. Dia lalu membuka pintu ruang ganti.
"Ada apa Hiruma?" tanya Walker kekesalan Hiruma.
Hituma tidak menjawab dan menuju ke lokernya.
"Oh. Kau berdarah Kapten!" seru Furukawa.
"Aku tahu, berisik!"
"Cepat kau ke ruang kesehatan. Kalau jam segini dokternya masih ada," saran Furukawa.
"Tidak perlu." Hirum lalu memgambil tas besarnya dan langsung berjalan keluar.
.
.
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil :
Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya sampaikan mengenai review kalian. Tapi karena update saya lama, saya jadi lupa ingin membalas apa.
Sekali lagi terima kasih semuanyaaa :D
Cerits ini sudah sampai klimax-nya. Seperti sebentar lagi akan berakhir. Sepertinya...
Okay guys, review-nya jangan lupa. Tulis komentar apapun tentang chapter ini XD
Salam : De
