Chapter 15
.
.
Mamori membuka pintu kamar saat dia terbangun di pagi hari. Dengan berjalan menyeret kakinya hati-hati, Mamori berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air. Cukup sulit baginya untuk mengambil gelas di dapur dan kembali lagi ke meja makan untuk menuangkan air. Tapi Mamori berusaha untuk melakukannya sendiri.
Mamori duduk dan meminum airnya. Pintu apartemen terbuka dan Mamori menoleh, mendapati Suzuna muncul dari sana.
"Oh.. kamu sudah bangun Mamo-Nee," sahut Suzuna.
Mamori tersenyum. "Dari mana?"
"Aku sebenarnya ingin ke supermarket, tapi kata pemilik apartemen, supermarket terdekat ada di dekat stasiun. Akhirnya aku ke toko roti membeli susu dan kue sus."
"Terima kasih Suzuna. Aku memang lapar sekali."
Suzuna meletakkan makanannya di meja. Dia lalu duduk berhadapan dengan Mamori sambil ikut menikmati sarapan pagi mereka. Tidak ada obrolan disana. Karena Suzuna menyadari, kalau Mamori tengah larut dalam pikirannya sendiri.
"Apa yang kau pikirkan pagi-pagi seperti ini?" tanya Suzuna.
Mamori terhenti dan menoleh melihat ke Suzuna. Tidak sadar bahwa dirinya tertangkap basah. "Kenapa?"
"Aku tanya, apa yang kau pikirkan pagi-pagi seperti ini, Mamo-Nee?" ulangnya lagi.
"Oh.. bukan apa-apa."
"Orang tidak akan melamun tanpa alasan."
Mamori menghela napas. Memang ada banyak hal yang dia pikirkan saat ini. "Aku tidak ingin berbohong lagi."
Suzuna menatap Mamori. Sudah jelas dia tahu apa yang dibicarakannya.
"Aku tidak ingin mengekang kebebasannya, Suzuna," lanjutnya.
"Tapi kau mencintainya. Bagaimana kalau kau katakan dulu perasaanmu?" usul Suzuna.
Mamori menggeleng. "Aku tidak mau menambah penyesalanku. Dia tidak akan mungkin balas perasaanku."
Suzuna terdiam membayangkan kejadian dulu. Saat dia bertanya kepada Hiruma tentang alasannya ingin menikahi Mamori. Saat Suzuna melihat betapa cemasnya Hiruma saat Mamori di rumah sakit. Dan juga saat semalam Hiruma meminta Suzuna untuk menjaganya. Dari itu semua, Suzuna percaya bahwa Hiruma juga pasti mencintai Mamori. Tapi dia masih tidak yakin, karena Suzuna sendiri belum memastikannya.
"Aku ingin pergi dari sini," sahut Mamori dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa memang?"
"Kalau aku melihat wajahnya, aku hanya semakin tidak ingin melepaskannya," jawab Mamori. "Aku tidak sanggup lagi Suzuna. Kenapa semua ini terjadi kepadaku?" sesalnya sudah meneteskan air mata.
Suzuna mendekatkan kursinya dan merangkul Mamori. Melihat air mata yang selama ini ditanggungnya. Suzuna mengerti, selama ini Mamori selalu menahan kesedihannya. Suzuna telah melihat beberapa kali Mamori kehilangan orang yang dicintainya. Saat orangtuanya meninggal pun, Mamori selalu berusaha tegar. Tapi Suzuna tahu, Mamori selalu menangis setiap malam.
.
.
Bukan Hiruma Youichi kalau dia tidak bisa mengingat angka sandi apartemen Mamori yang tekannya kemarin. Hiruma membuka pintu dan menutupnya kembali. Hari sudah sore namun lampu di dalam ruangan gelap. Hiruma lalu menyalakannya sambil bertanya-tanya kemana Mamori atau pun Suzuna. Karena dia yakin sekarang ini hanya ada dia sendiri di dalam sini.
Hiruma membuka kamar untuk memastikan lalu menutupnya kembali karena tidak melihat siapapun. Setelah itu dia duduk dan menyalakan televisi. Hiruma meraih ponselnya lalu menghubungi Mamori, namun ponselnya tidak aktif. Setelah itu dia menghubungi Suzuna. Nada sambung terdengar, namun tidak juga dijawab olehnya. Hiruma berusaha tenang sambil melihat berita di televisi. Hiruma hanya tidak habis pikir kemana mereka pergi mengingat kondisi Mamori yang seperti itu, ditambah hari yang sebentar lagi sudah hampir gelap.
Hiruma mencoba menelepon Suzuna lagi namun hasilnya sama. Dengan kesal Hiruma lalu membanting ponselnya ke sofa.
.
.
Suzuna melihat layar ponselnya diam-diam saat Mamori tengah duduk dan memandangi halaman belakang dari jendela. Di tahu pasti kenapa orang ini terus meneleponnya. Dia juga tahu, karena inilah Mamori pasti mematikan ponselnya.
"Kau lapar Mamo-Nee?" tanya Suzuna membuat Mamori menoleh ke arahnya. Dia melihat Mamori menggeleng dan tersenyum, lalu kembali memandangi luar lagi.
"Kalau begitu aku keluar ya. Kamu istirahat saja."
"Ya. Terima kasih suzuna," jawabnya dan menangguk.
Suzuna lalu keluar kamar dan mendapati Sena yang baru pulang. "Oh... Kau sudah pulang?" sambutnya tersenyum, lalu memeluk Sena.
"Ya," balas Sena sambil mengecup pipi Suzuna. "Ada siapa di dalam? Aku melihat ada sepatu lain di rak."
"Oh.. itu," ragu Suzuna. "Ada Mamo-Nee."
"Mamo-Nee?" ujar Sena. "Ada apa memang?"
"Sudah," jawab Suzuna sambil mendorong Sena agar masuk ke kamar mereka. "Aku akan ceritakan nanti. Sekarang mandi dulu dan ganti baju."
Sena terpaksa menuruti kemauan Suzuna dan masuk ke dalam kamar sendirian. Sena mulai membuka jaket dan bajunya saat ponsel di dalam kantung jaket berdering. Sena melihat nama yang tertera disana dan ragu ingin menjawabnya. Akhirnya setelah bimbang beberapa detik, Sena pun menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Hiruma-san?" sapa Sena.
"Dimana istrimu?" tanya Hiruma langsung.
Di situasi seperti ini, Sena tahu kalau dia harus berpikir dengan cepat. Dia memang tidak mengerti situasi yang terjadi, dan tidak tahu dia harus memihak kepada siapa.
"Suzuna? Kenapa kamu mencarinya, Hiruma-san?" tanya Sena lagi, mengulur waktu.
"Katakan saja, dimana! Tidak perlu banyak tanya."
Sena menghela napas. "Sebenarnya apa yang terjadi? Suzuna tadi meneleponku dia bersama dengan Mamo-Nee," jawabnya, berhasil menemukan sebuah peralihan.
"Dimana mereka?"
"Aku akan memberitahumu kalau kamu mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi," balas Sena.
"Harusnya dari awal kau tanya istrimu, pendek. Aku tidak akan mengatakannya."
Sena menoleh melihat Suzuna masuk ke kamar. "Kalau begitu aku juga tidak akan mengatakannya, Hiruma-san."
Suzuna langsung melihat ke Sena dan mereka saling berpandangan. Suzuna lalu menggeleng, sementara Sena mengangguk mengerti.
"Keh sialan!" Hiruma lalu menutup teleponnya.
Sena menghela napas dan meletakkan ponselnya. Dia lalu menghadap Suzuna dan bertolak pinggang "Aku sudah menolongmu. Jadi sekarang, jelaskan apa yang terjadi?"
.
.
Sena terdiam sambil mencerna semua yang diceritakan Suzuna. Dari awal sampai akhir, Suzuna menceritakan semuanya. Dan akhirnya terjawab sudah pertanyaan yang selama ini mengganjal di kepalanya. Yaitu, bagaimana Mamori dan Hiruma, yang selama ini Sena tahu mereka tidak pernah saling berhubungan, bisa tiba-tiba saja menikah. Dari awal Sena sangat ingin menanyakannya, namun dia selalu diam dan membiarkan saja semuanya.
"Aku mengerti kenapa kamu merahasiakannya Suzuna," sahut Sena. "Tapi kenapa kamu juga merahasiakannya dariku?" kesalnya. "Kamu istriku. Dan Mamo-Nee sudah seperti kakakku."
"Tidak ada jalan lain. Mamo-Nee yang memintanya."
Sena menghela napas lagi. "Jadi sekarang Mamo-Nee keguguran?" tanya Sena dan Suzuna mengangguk. "Lalu kenapa dia menghindari Hiruma-san? Bukannya lebih baik kalau dia berterus terang jadi mereka bisa segera bercerai?"
Kali ini Suzuna yang menghela napas. "Seandainya saja semudah itu."
"Dari awal juga sudah rumit, Suzuna. Jadi apa salahnya bilang."
"Mamo-Nee mencintai You-Nii," sahut Suzuna, membuat Sena terdiam.
"Kalau begitu katakan saja padanya."
Suzuna memasang wajah kesal. "Kamu sama sekali tidak membantu. Kenapa kamu pikir semuanya bisa semudah itu?" protesnya.
"Oke... aku tidak paham. Semua ini cuma masalah mau mengatakannya atau tidak, ya kan?" ungkap Sena. "Mamo-Nee tinggal bilang tentang perasaannya. Hiruma-san pasti akan senang mendengarnya."
Suzuna mengernyitkan dahi.
"Apa kamu tidak melihatnya Suzuna, bagaimana Hiruma-san saat di rumah sakit waktu itu?"
Suzuna berpikir. Dia juga sebenarnya sependapat dengan Sena.
"Laki-laki tidak akan secemas itu kalau dia bukan wanita yang dicintainya," jelas Sena.
"Apa menurutmu juga begitu?" tanya Suzuna memastikan. Sena mengangguk yakin. "Aku juga berpikir seperti ini. You-Nii juga pasti mencintainya. Tapi aju tidak yakin."
"Kalau begitu pastikan semuanya," ujarnya, menggenggap kedua tangan Suzuna. "Bukannya dari dulu itu impianmu untuk menyatukan mereka?" tambahnya tersenyum.
Suzuna lalu balas tersenyum. "Aku akan temui You-Nii besok."
.
.
Suzuna tiba di kafe lima menit sebelum perjanjiannya dengan Hiruma. Suzuna keluar rumah diam-diam tanpa sepengetahuan Mamori. Melihat kondisi Mamori yang sudah membaik, Suzuna tahu dia bisa meninggalkan Mamori sebentar. Mamori pasti bisa mengurus dirinya sendiri. Suzuna pun sudah membuatkan sarapan sebelumnya. Jadi sekarang, dia bisa dengan tenang menemui Hiruma setelah tadi dia diantar Sena yang akan berangkat latihan.
Minuman hangat Suzuna sudah datang. Dia lalu melihat jam tangannya. Sudah sepuluh menit lewat dari waktu perjanjian mereka. Suzuna lalu melihat ke pintu kafe yang terbuka dan melihat Hiruma dengan jaket putih dan celana hitamnya.
Suzuna tersenyum walaupun Hiruma memasang wajah kesal saat melihatnya.
"Dimana dia?" tanya Hiruma.
"Sabar. Kita bicara dulu, oke?" jawabnya. Suzuna melihat wajah frustasi Hiruma. Bahkan terlihat kalau Hiruma tidak tidur semalaman. "Maafkan aku."
Hiruma kesal dan rasanya ingin memaki siapapun sekarang. Dia tidak tidur semalam. Setelah Suzuna mengirimkan pesan untuk bertemu hari ini, Hiruma terus berada di apartemen Mamori sambil berpikir apa yang salah darinya. Kenapa Mamori menghindarinya.
"Pertama-tama, aku mau bilang kalau Mamo-Nee keguguran."
Hiruma terdiam mendengarnya. Jadi Mamori sudah tahu. Semuanya sekarang jelas. Kenapa Mamori memghindarinya selama ini.
"Jadi dia sudah tahu semuanya? karena alasan itu dia tidak ingin menemuiku? Karena dia ingin bercerai dariku?"
"Tunggu," sela Suzuna mencerna perkataan Hiruma. "Jadi kau sudah tahu kalau Mamo-Nee keguguran?"
"Bagaimana mungkin aku tidak tahu? Aku suaminya. Dokter yang bilang padaku, bodoh."
"Lalu kenapa kau diam saja?" tekannya. "Bukannya kamu bisa bebas dari pernikahan kalian kalau langsung mengatakannya."
Hiruma tidak menjawab apa-apa.
"Kenapa You-Nii? Kenapa kau tidak bilang?"
"Aku tidak bisa mengatakannya," sahut Hiruma.
Suzuna tersenyum. Dia sudah mendapatkan jawabannya. "Oke. Kau tidak perlu mengatakan padaku. Tapi katakan saja semuanya pada Mamo-Nee."
Hiruma menatap mata Suzuna. Berusaha mencerna apa maksud dari ucapkannya.
Suzuna tersenyum lagi kepada Hiruma. "Kau mengerti, You-Nii? Katakan semua kepadanya. Kau akan menyesal jika tidak mengikuti kata-kataku."
"Jadi dia bukan menghindariku karena ingin bercerai dariku?" tanya Hiruma memastikan.
Suzuna menggeleng meyakinkan Hiruma. "Dia tidak akan melakukannya."
Seolah ada angin berhembus, Hiruma bisa bernapas lega. "Dimana dia?"
"0421. Itu nomor sandi rumahku," jawab Suzuna.
Tanpa berpikir lagi Hiruma beranjak dari kursinya dan meninggalkan Suzuna.
.
.
Mamori menyerup cokelat hangatnya walau tetap fokus pada buku yang dibacanya. Dua jam lalu dia keluar kamar dan mendapati rumah yang kosong. Entah kemana perginya Suzuna. Akhirnya Mamori sarapan sendiri. Karena tidak ada teman bicara, Mamori akhirnya kembali ke dalam kamar setelah mengambil satu buku untuk menemaninya.
Mamori mendengar suara pintu depan terbuka. Dia lalu menyerup cokelatnya lagi sebelum menutup bukunya. Perlahan Mamori bangun dari kursi hendak menghampiri Suzuna, namun pintu kamar Mamori langsung terbuka.
"Kamu dari mana sa-" Suara Mamori terhenti saat melihat orang yang membuka pintunya dan masuk ke dalam. Seolah waktu terhenti, Mamori hanya bisa memandangi Hiruma yang menghampirinya.
Hiruma melihat Mamori. Rasa rindu dan cemasnya sudah terbayarkan saat melihat Mamori yang baik-baik saja. Hiruma melangkah pasti menghampiri Mamori dan memeluknya. Hiruma memeluknya, merasakan keberadaan Mamori di dalam pelukannya.
"Aku sudah bilang padamu, jangan pernah membuatku seperti ini lagi, bodoh," lirihnya di telinga Mamori. Hiruma semakin mengeratkan pelukannya sambil mengelus rambut Mamori. Rasanya dia bisa bernapas lega kembali.
Mamori yang sedari tadi terhenti saat Hiruma tiba-tiba memeluknya, akhirnya membalas pelukannya. Jantungnya bergemuruh kencang. Matanya sudah berlinang kala mendapati Hiruma yang memeluknya. Mamori sama sekali tidak bisa mengatur emosinya.
"Jangan hilang dari pandanganku lagi, kau paham?" ujar Hiruma lagi, mengecup kepala Mamori.
Mamori mengangguk-angguk. Tidak bisa mengeluarkan suaranya karena air mata yang menetes dari matanya.
Hiruma melepaskan pelukannya. Sekarang dia menempatkan telapak tangannya di pipi Mamori dan menghapus air matanya. Hiruma melihat ke kedua bola mata Mamori lama, mencoba untuk berani mengeluarkan apa yang selama ini ingin dia katakan.
"Kau mau hidup selamanya bersamaku?" tanya Hiruma.
Mamori hanya membisu, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Air mata tergenang lagi dan Mamori menganggukan kepalanya. "Aku mencintaimu Hiruma, sampai rasanya sesakit ini," ucap Mamori terbata-bata.
Hiruma memeluk Mamori lagi dan menenangkannya. "Aku yang mencintaimu. Harusnya kukatakan itu dari dulu," balasnya tersenyum lega.
.
.
Mamori tersenyum memandangi Hiruma, melihatnya yang tidur seperti bayi sambil merangkul pinggangnya. Mamori membelai rambut Hiruma. Dia masih tidak menyangka bahwa laki-laki ini mencintainya, dan sekarang Mamori bisa memiliki Hiruma seutuhnya.
Mamori menoleh saat mendengar pintu kamar diketuk dan terdengar suara Suzuna yang memanggilnya. Perlahan Mamori memindahkan tangan Hiruma dan bangun dengan hati-hati. Di lalu membuka pintu kamar dan keluar.
"Mana You-Nii?"
"Masih tidur," jawab Mamori.
"Aku membelikannya makanan. Kelihatannya dia belum makan dari pagi."
"Sepertinya," ujar Mamori. "Dia juga sepertinya tidak tidur semalam."
"Kalau begitu aku taruh makanannya di meja. Makanlah kalau dia sudah bangun nanti," ujar Suzuna.
"Terima kasih Suzuna," sahut Mamori. "Terima kasih untuk segalanya." Mamori lalu merangkul Suzuna.
"Kalau begitu aku mau ke toko dulu," sahut Suzuna.
Mamori lalu kembali ke dalam. Mamori mendekat ke tempat tidur saat Hiruma bergerak dan bangun dari tidurnya.
Hiruma menarik tangan Mamori lembut sehingga membuatnya terduduk di hadapan Hiruma. Hiruma lalu memeluknya lagi. "Aku sudah bilang padamu jangan hilang dari pandanganku lagi."
"Aku tidak mungkin terus-terusan berada di sebelahmu, Hiruma. Yang benar saja," protes Mamori.
"Salahmu yang membuatku seperti ini."
Mamori tertawa. "Jadi sekarang, kamu mau tidur lagi atau makan siang?"
"Aku mau pulang," sahut Hiruma, sambil mencium wangi tubuh Mamori di lehernya.
"Pulang ke Tokyo atau ke Fukuoka?"
"Kemana saja asal bersamamu."
"Sekarang kamu sudah bersamaku."
"Tapi aku tidak mau melakukannya disini," jawab Hiruma.
Mamori tersenyum. "Melakukan apa?" tanyanya.
"Aku sudah menahannya sejak kita menikah. Kau tahu betapa menderitanya aku?"
"Bukannya waktu di Seoul kamu melakukannya dengan wanita itu?"
Hiruma terhenti mendengar perkataan Mamori dan melepaskan pelukannya. "Darimana kau bisa berpikiran seperti itu, heh?"
"Yaah... ada saja yang membuatku berpikir seperti itu," jawabnya mengangkat bahu.
Hiruma mengernyitkan dahinya. Kesal bagaimana Mamori bisa menuduhnya seperti itu. "Aku bahkan tidak pernah melakukannya lagi sejak terakhir bersamamu di hotel waktu itu."
Mamori tersenyum mendengar itu. "Ya ya. Aku percaya."
"Kau sama sekali tidak percaya," balas Hiruma. "Aku menderita selama ini dan kau sama sekali tidak percaya."
Mamori tertawa melihat Hiruma yang mengeluh. Dia lalu melingkarkan lengannya di pinggang Hiruma dan meletakkan kepala di dadanya. Mamori mendengar jantung Hiruma yang berdetak kencang. Mamori tersenyum. "Oh Tuhan. Aku masih tidak percaya bisa memelukmu sesukaku seperti ini."
"Harusnya itu kata-kataku, bodoh." Hiruma memeluk Mamori dan mencium ujung kepalanya.
.
.
To Be Continue
.
.
Hai... sesuai janji, saya akan update saat ada 30 orang yang me-review chapter sebelumnya. Terima kasih untuk dukungan kalian :D Benar-benar 30 pas ya (ternyata dibilang akan update cepat, silent readers pun langsung pada review XD)
Oh ya... satu lagi yang mengganjal pikiran saya. Mengenai rated fic ini. Awalnya saya membuat rated M karena di fic yang saya buat sebelum lenyap itu saya buat dengan rated M. Cuma untuk fic yang saya tulis ulang ini, rasanya saya tidak bisa membuat fic M yang saya janjikan itu.
Tapi untuk mengenai keseluruhan cerita, saya rasa materi bahasa di fic ini juga kurang cocok untuk rated T. Tapi kalau diberi rated M, saya takut ada pembaca yang kecewa karena tidak adanya konten mature disini.
Oke saya jadi mulai bingung (lagi-lagi)
Karena itu saya minta pendapat kalian. Apa tetap rated M dengan penjelasan tanpa Mature Content atau rated T dengan peringatan?
So guys, ditunggu jawabannya di review yaa :D (semoga banyak pula komentar kalian seperti chapter sebelumnya)
Salam : De
