TITLE : One Night Stand

GENRE : Romance, Drama

RATING : M

CAST : Wonwoo (GS), Mingyu

DISCLAIMER : plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.

SYNOPSIS : Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. MEANIE. GS.

This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))

.

.

.

Lagi – lagi kusandarkan tubuhku pada kursi kerja yang berada di ruanganku.

Menjadi dokter bedah membuatku benar-benar merasa lelah. Tubuh dan pikiran.

Biasanya aku menjalani pekerjaanku dengan nyaman saja, sehingga saat tubuhku terasa lelah, aku hanya perlu melakukan beberapa gerakan relaksasi dan pijatan, maka lelahku akan segera hilang.

Namun kali ini bukan hanya tubuhku. Namun juga pikiranku.

"Mingyu-ya, apa kau sudah siap?" tiba-tiba seorang pria paruh baya berusia sekitar enam puluh tahun masuk kedalam ruanganku tanpa permisi.

Ya, tentu saja orang itu tidak butuh permisi.

Toh, dia adalah ayahku.

Sekaligus kepala rumah sakit tempatku bekerja sekarang.

"bisakah kita lakukan saja lain kali? Aku sangat lelah sekarang. Aku baru saja mengoperasi seorang pasien korban tabrak lari sejak tiga jam yang lalu." Ucapku malas.

Aku tidak berbohong. Aku benar-benar merasa lelah.

Tadi pagi, tiba-tiba saja terjadi kecelakaan, dan korban itu harus segera dioperasi.

Dan sebagai dokter bedah yang cukup handal di rumah sakit ini, aku dipercayakan untuk memimpin jalannya operasi, meskipun dalam usia yang cukup muda.

"an-dwe. Bulan lalu kau sudah mengatakan alasan itu. Carilah alasan lain yang lebih masuk akal." Ucap ayahku tidak peduli, dan malah berjalan mendekati mejaku dan duduk disana.

"abeoji! Aku tidak bercanda! Kau bisa mengecek ke bagian administrasi jika tidak percaya! Ah molla! Pokoknya aku lelah, dan tidak mau mengikuti acara membosankan itu!" aku berujar kesal pada ayahku yang kini sedang menatapku nyalang.

Sepertinya pria tua itu juga jadi kesal akibat ulah kekanak-kanakanku.

"yak! Kau jangan egois! Sebagai calon penerus kepala rumah sakit ini, kau harus mulai berlatih dari sekarang! Dan aku tidak terima alasan apapun! maka sekarang ayo cepat kau bangun dan ikut aku!" teriak ayahku dan menunjuk-nunjuk wajahku dengan jari telunjuknya.

Huh, jika sudah seperti ini, aku hanya bisa mnegikuti kemauannya.

Akhirnya aku pun mengikuti langkah ayahku menuju ruang rapat. Disana terdapat beberapa orang pemegang saham, beberapa dokter yang sudah sangat berpengalaman, serta orang penting lainnya.

Sebenarnya adalah bakatku menjadi seorang dokter, sehingga aku melakukannya dengan senang hati.

Tapi menjadi seorang yang harus mengatur jalannya operasional, bukanlah passion ku sama sekali. sehingga aku sama sekali tidak tertarik untuk menggantikan jabatan ayahku kelak.

Aku terus mengikuti rapat yang benar-benar membosankan dan berjalan alot itu selama hampir dua jam, membuatku menghela nafas jengah.

Waktuku habis begitu saja terbuang sia-sia. Menyebalkan.

Dan saat rapat menjengkelkan itu selesai, aku menjadi orang pertama yang keluar dari sana. Aku tidak peduli apa kata mereka, toh aku memang benar-benar tidak suka berada disana.

Aku kembali berjalan menuju ruanganku, saat kudengar suara panggilan seorang wanita.

"dokter Kim!"

Kubalikkan tubuhku, ah, ternyata yang memanggilku barusan adalah perawat Kang.

"ne, ada apa, perawat Kang?" tanyaku sopan padanya.

Ia segera berlari kecil menghampiriku, dan membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

"cheogi.. nona Minseo sudah menunggu anda di ruangan sejak satu jam yang lalu, dokter Kim." Ucap perawat Kang membuatku membulatkan mataku kaget.

"mwo?! Kenapa tidak beritahu padaku?!" cecarku padanya.

Ia hanya bisa menundukkan kepalanya dalam, tidak berani melawan ucapanku.

"i..itu.. karena.. siapapun tidak boleh mengganggu saat rapat sedang berlangsung, dokter.."ucapnya lirih.

Yah, ia memang paasti tidak bisa melakukan apapun selain mematuhi peraturan, sehingga kali ini aku memilih untuk memaafkannya dan membiarkan ia pergi.

Lalu aku segera berlari menuju ruanganku yang berada di lantai tujuh tersebut.

"CKLEK."

Kubuka pintu ruanganku begitu saja, dan mendapati seorang perempuan yang tengah duduk membelakangiku dan membaca sebuah majalah.

"ya! Kim Minseo! Apa yang sedang kau lakukan disini?!" teriakku kesal padanya.

"haish! Jangan teriak-teriak! Kau membuat kaget bayiku, oppa!" balasnya tak kalah kesal dariku.

Kulirik perut buncitnya yang sudah membesar.

Maklum, adik perempuanku satu-satunya itu tengah mengandung selama 5 bulan, jadi perutnya sudah terlihat besar.

"apa yang kau lakukan disini?" tanyaku setelah aku duduk dihadapannya di sofa.

"eum? Aku? Apakah jika ingin mengunjungi keluarga sendiri harus ada alasnnya?" entahlah, MInseo dulu sangat meyebalkan, namun sekarang dengan keadaan janin dalam perutnya, sifatnya bahkan lebih menjadi-jadi.

"ya, ya. Cepat katakan. Atau lebih baik kau pergi, karena aku lelah." Ucapku mulai memelan karena aku memang sudah benar-benar lelah sekarang.

Bisa kurasakan tak lama kemudian tatapan Minseo berubah menjadi sendu.

"aku baru saja menemui Jihoon-ssi untuk control bulanan. Lalu tiba-tiba saja aku teringat padamu, jadi aku menemuimu disini. Apa aku salah?" tanyanya pelan.

Ugh, itu yang tidak aku sukai dari wanita hamil. Mereka terlalu perasa.

Namun melihat tatapan menyedihkan dari adik perempuanku satu-satunya itu membuatku kembali tidak tega, kemudian menghela nafas dan tersenyum tipis.

"baiklah, kau tidak salah. Nah, sekarang ceritakan padaku bagaimana kabarmu?" tanyaku berusaha mengembalikan moodnya.

Namun sepertinya sia-sia. Wajahnya tetap terlihat murung.

"oppa.. aku tahu."

"kau baru saja mengikuti rapat, kan?" tanyanya telak.

Aku hanya bisa menelan ludah kasar saat mendapati Minseo yang menebak dengan sukses.

Aku hanya tersenyum getir menjawab pertanyaannya.

Dari dulu, insting bisnis anak ini memang lebih kuat dariku, maka dari itulah, sesungguhnya ayahku berencana untuk menurunkan posisi kepala rumah sakit pada Minseo, dan aku menjadi wakilnya saja.

Namun tiba-tiba terjadi hal yang tidak diinginkan, sehingga membuat MInseo tidak bisa menjalankan rencana ayahku itu.

Adikku itu, hamil diluar nikah oleh kekasihnya.

Bukan hanya itu, hubungan mereka bahkan ditentang oleh seluruh keluargaku.

Namun Minseo tetaplah adikku yang menyebalkan. Ia sangat keras kepala, hingga ia lebih memilih untuk hidup sederhana dengan suaminya sekarang, dan mulai membangun keluarganya sendiri.

Tapi apa kalian pikir aku diam saja saat itu?

Tentu saja tidak.

Awalnya aku juga kurang suka pada kekasih adikku ini, aku bahkan sudah melayangkan tinjuku padanya saat mengetahui Minseo hamil. Namun mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur.

Tapi ternyata setelah kukenali lebih lanjut, adik iparku itu adalah orang yang baik, dan aku bisa mempercayakan Minseo padanya, meskipun kedua orang tuaku tetap tidak bisa menerimanya.

Lalu aku dibuat terkejut saat tiba-tiba saja Minseo beranjak mendekatiku, dan memelukku erat.

Ia bahkan menyandarkan pipinya pada bahuku.

"oppa, mianhe.. aku tahu kau tidak suka menjalankannya.."

"karena aku, kau jadi harus melakukan ini.."

"maafkan adikmu yang tidak berguna ini, oppa…" lirihnya, membuatku jadi benar-benar tidak tega.

Kugerakkan tanganku untuk mengelus pelan punggungnya, kemudian kukecupi puncak kepalanya.

"gwenchana… itu bukan salahmu. Ini sudah rencana tuhan.. gwenchana.." hiburku padanya, meski aku yakin bebannya belum terangkat dengan ucapanku padanya.

Ia hanya terdiam, namun aku bisa merasakan anggukan kepalanya yang lemah di dadaku.

"ah! Bagaimana kabar keponakan samchon ini, euhm?" tanyaku sambil mengelus pelan perutnya yang membesar.

Ia kemudian terkekeh, dan turut mengelus perutnya.

"aku baik, samchon… makanku banyak, appa selalu menuruti keinginanku, dan eomma selalu menyanyikan lagu untukku setiap malam.." ucap Minseo dengan menirukan suara anak kecil, membuatku tersenyum senang.

Syukurlah, sepertinya hidup adikku cukup bahagia.

"ah, kau sudah menemui JIhoon-ssi? Bagaimana katanya?" tanyaku padanya, mengingat nama Jihoon-ssi yang tadi Minseo sebutkan itu.

Yah, Lee Jihoon-ssi adalah seorang dokter kandungan yang sangat handal. Perempuan mungil itu bahkan memenangkan predikat sebagai salah satu dokter yang paling menyenangkan menurut polling para pasien.

Aku juga cukup mengenal dirinya, kami bertemu beberapa kali sehingga aku bisa mempercayakan keselamatan dan kesehatan Minseo dan anaknya pada Jihoon-ssi.

"eum.. tadi aku mengambil gambar aegy, oppa mau lihat?" MInseo kemudian mengobrak-abrik isi tas nya, namun sepertinya tidak menemukannya, karena tiba-tiba saja wajahnya berubah panic.

"eottohke? Oppa, sepertinya foto aegy tertinggal di meja Jihoon-ssi." Ucap Minseo setelah mengeluarkan isi barang didalam tasnya.

"aigoo.. bagaimana bisa? Sudah menjadi ibu tapi masih saja ceroboh.." omelku padanya.

"aahh.. oppaa… bagaimana ini?" rajuk MInseo membuatku berdecak kesal.

Akhirnya aku membereskan barang MInseo yang berantakan diatas coffee table, dan berkata bahwa aku akan membantunya mengambilkan foto tersebut ke tempat Jihoon-ssi.

"aku ikut!" teriak MInseo.

"untuk apa? Tunggu saja disini!" balasku padanya.

"aniya! Lagipula aku akan sekalian turun kebawah. Hari sudah sore, aku mau pulang saja." Jawab MInseo, yang kemudian hanya kubalas dengan anggukan kepala.

.

.

.

Sudah beberapa minggu belakangan ini kondisi tubuhku sangat tidak enak. Kepalaku pusing, dan juga perutku selalu terasa mual di pagi hari.

Aku juga lebih sering buang air kecil, baik pagi maupun malam hari.

Aku mulai merasa was-was, karena aku seperti tahu gejala penyakit yang kualami ini. dan kekhawatiranku semakin bertambah saat kudapati kenyataan bahwa aku terlambat datang bulan selama hampir satu bulan lamanya.

Aku mulai merasa panic, kejadian malam itu, kejadian saat satu bulan yang lalu, saat aku melakukan hubungan intim dengan seorang pria tidak dikenal bernama Kim Mingyu, mungkin saja membuahkan hasil.

Karena aku sadar, saat itu kami melakukannya tanpa pengaman sama sekali.

Maka dari itulah, hari ini aku membuat janji temu dengan seorang dokter.

Yah, lebih tepatnya dokter kandungan.

Disinilah aku, berada di depan ruang praktek sahabatku, Lee Jihoon, sahabatku saat SMA, yang sekarang sudah menjadi seorang dokter kandungan.

"Jeon Wonwoo-ssi!" aku pun segera bangun dan memasuki ruangan Jihoon saat mendengar namaku sudah dipanggil.

"Jihoon-ah.." panggilku saat kulihat ia sedang meletakkan stetoskopnya diatas meja.

"eoh? Wonwoo-ya!" pekiknya kaget saat mendapati diriku berada di depan pintu ruangannya.

Ia segera berlari kecil, menghambur dalam pelukanku. Kami segera berpelukan dengan riang. Aku benar-benar merindukan si imut tapi galak ini, Lee Jihoon kesayanganku.

"eoh? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jihoon sambil menatapku penasaran.

"ya! Jalang ini! apa kau akan melakukan check up? Apa kau menikah tanpa mengundang sahabatmu, eoh?!" cecarnya padaku. Benar, kan? Ia sangat galak.

"a-aniya.. bukan begitu.."

"lalu bagaimana lagi? Tidak mungkin kan, kau datang kemari hanya karena rindu padaku?! Pasti terjadi sesuatu padamu! Ayo cepat ceritakan padaku!" ancamnya sambil menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya.

Aku segera menyingkirkan jari yang berada di depan wajahku itu, kemudian menghela nafas lelah.

"aku akan segera menceritakannya padamu, tapi nanti. Setelah kau melakukan check up padaku." Ucapku pelan.

"eoh? Check up? Jadi benar kau sudah menikah?!" JIhoon kembali ribut, membuatku berdecak kesal.

"ish! Sudah kubilang! Ya! Aku memang benar ingin check up, tapi soal menikah, itu sama sekali tidak benar! Aku .. masih lajang." Ucapku memelan pada akhir kalimat.

"mwo? Bagaimana bisa?"

Kuputar bola mataku malas, dan berkata bahwa aku akan menceritakannya saat ia sedang melakukan pekerjaanya dengan baik, yaitu melakukan pemeriksaan pada tubuhku.

.

.

.

"perawat song, aku ingin mengambil barangku yang tertinggal di dalam ruangan Jihoon-ssi." Ucapku pada perawat perempuan yang sedang mendata pasien didepan ruangan Jihoon-ssi.

"ah! Dokter Kim! Ya, silahkan. Tadi dokter Lee berkata padaku, jika anda atau nona Minseo datang untuk mengambil foto bayinya, anda bisa langsung mengambil benda tersebut didalam ruangan dokter Lee. Ada diatas meja kerjanya." Ucap perawat Song, dan langsung kuangguki dengan senyuman.

"MInseo-ya, kau tunggu saja disini. Aku tidak akan lama." Ucapku pada Minseo, dan aku segera masuk kedalam ruangan Jihoon-ssi.

Didalam ruangan Jihoon-ssi sepi, tidak ada orang. Dan aku berjalan menuju meja kerjanya, dan mendapati sebuah foto USG, dengan tulisan nama Minseo pada bagian belakang foto, sehingga aku yakin itu adalah milik MInseo.

Segera saja kuraih foto tersebut dan kumasukkan kedalam saku celanaku.

Aku bersiap untuk meninggalkan tempat tersebut, namun sebuah suara mengganggu indera pendengaranku.

"ya, begitulah ceritanya, Jihoon-ah.. aku tidak tahu harus berkata apapun lagi.. kau adalah orang pertama yang kuberi tahu.." ucap seorang wanita lamat-lamat, namun aku masih bisa mendengar dengan jelas.

Suara wanita itu agak serak dan cenderung berat untuk suara perempuan. Namun aku seolah merasa familiar dengan suara tersebut.

"lalu bagaimana dengan pria itu? Kau sudah memberitahunya?" kali ini kudengar suara Jihoon-ssi.

"bagaimana aku bisa memberitahunya? Aku bahkan hanya tahu nama pria itu. Aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang pria itu."

Aku tahu, tidak seharusnya aku melakukan ini. menguping pembicaraan seseorang adalah hal yang tidak sopan, terlebih mereka adalah wanita yang sedang membicarakan masalah pribadi mereka.

Namun entah kenapa aku merasa sangat penasaran.

Sehingga aku memutuskan untuk sedikit lebih menajamkan pendengaranku untuk mendengar ucapan mereka selanjutnya.

"tapi kau bilang ia adalah seorang dokter? Bagaimana kalau kita mencarinya saja? Aku mungkin bisa membantumu.."

"aniya, tidak perlu.. biar kuatasi sendiri masalah ini. terima kasih atas bantuanmu, Jihoon-ah.. lagipula aku tidak mau merepotkan pria itu." ucap perempuan itu lagi.

Ditilik dari pembicaraannya, sepertinya pasien Jihoon-ssi saat ini mengalami masalah yang serupa dengan Minseo? Hamil luar nikah?

Aku hanya menggelengkan kepalaku, merasa tidak percaya lagi dengan dunia ini.

Zaman sekarang, banyak sekali manusia yang tidak bertanggung jawab macam mereka.

"yak! Mana bisa begitu! Biar bagaimanapun pria itu adalah ayahnya! Dia berhak tahu! kau ini sedang mengandung anaknya, Jeon Wonwoo!"

Kuanggukkan kepalaku saat mendengar ucapan Jihoon-ssi. Biar bagaimanapun, seorang pria berhak tahu saat seorang wanita tengah mengandung darah daging mereka.

Namun satu hal membuatku kembali merasa ganjil.

Nama perempuan itu tadi, Jeon Wonwoo?

Jeon Wonwoo?

Aku mengerutkan kening, merasa tidak asing dengan nama tersebut.

"Jeon…

Wonwoo… ?"

Tiba-tiba saja sekelibat ingatan tentang malam itu, terulang kembali.

Malam panas yang kuhabiskan bersama dengan seorang wanita yang tidak kukenal dekat. Wanita yang malam itu menangis, karena semua kekasihnya meninggalkan dirinya.

Wanita yang membuatku merasa ingin melindunginya saat melihat air matanya itu, Jeon Wonwoo?

Wanita yang pagi itu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun dan hanya meninggalkan secarik kertas diatas meja, Jeon Wonwoo?

Wanita itu, Jeon Wonwoo? Hamil anakku?

Seketika tubuhku menegang. Kukepalkan dengan erat buku-buku jariku, membuat mereka kelihatan memutih.

Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, kuarahkan kakiku menuju sebuah kubikel yang hanya disekelilingi oleh tirai berwarna biru itu, dan kubuka dengan kasar tirai tersebut.

.

.

.

"SRRAAAAKKK!"

Tiba-tiba saja tirai tempat aku sedang diperiksa oleh Jihoon dibuka secara kasar oleh seseorang.

Bajuku yang sedang tersingkap segera saja kututup dengan erat. Aku panic, ada apa gerangan yang terjadi?

Hingga aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Jihoon yang sedang melotot dan meneriaki seorang pria yang membuka tirai tersebut.

"Yak! Kim Mingyu-ssi?! Apa yang kau lakukan disini?! Apa kau tidak punya malu?! Aku sedang bersama dengan pasien saat ini!" marahnya.

Namun aku tidak terlalu memperhatikan emosi Jihoon.

Karena aku sibuk dengan pikiranku sendiri.

Terlebih saat kulihat raut wajah yang sulit kubaca dari pria ini, pria yang saat itu menghabiskan malam panas denganku.

Pria yang kutinggalkan begitu saja.

Pria yang berkata bahwa ia akan menunjukkan bahwa para pria yang meninggalkanku adalah orang bodoh.

Pria itu, ayah dari bayiku.

Pria itu, Kim Mingyu-ssi..?

Aku segera beranjak untuk bangun, saat kudapati dirinya berjalan mendekatiku.

"Jeon Wonwoo-ssi.."

"apa itu benar? Apa kau mengandung anakku?" tanyanya dengan suara pelan, namun tegas dan tak terbantahkan.

Aku menggigit bibirku gugup. Aku memalingkan wajahku untuk menatap wajah Jihoon, berharap bantuan darinya.

Namun percuma, gadis ini masih terlihat berusaha menenangkan emosinya saat MIngyu-ssi tadi menerobos masuk begitu saja saat ia sedang bekerja.

"aku…"

"aku tidak mengharapkan kebohongan, Wonwoo-ssi." Ucapnya lagi.

"lagipula aku sudah mendengar semuanya. Kau tidak bisa berbohong padaku." Ia menatapku langsung pada mataku.

Aku tidak kuat, matanya yang tajam seolah menusuk mataku. Namun aku tahu, jauh dalam lubuk hatiku, aku merasakan perasaan hangat dalam hatiku saat aku kembali bertemu dengan pria ini.

"perbuatan kita saat itu… benarkah kau kini sedang menanggungnya?" tanyanya lagi.

Namun kali ini aku sudah bertekad, aku tidak akan lari lagi.

Saat aku memutuskan untuk tidak mencari pria ini dan mencoba tabah dengan bertekad akan mengurus bayi ini sendirian, Tuhan mengatakan kehendaknya yang lain.

Dengan 1001 caranya, ia kembali mempertemukan aku dengan orang ini.

"eum. Itu benar.. aku.. tengah mengandung anakmu."

"usia nya tiga minggu." Lanjutku lagi.

Ia kelihatan shock, namun dengan cepat kembali menenangkan raut wajahnya.

Ia kemudian beralih dan menatap Jihoon-ssi.

"Jihoon-ssi, terima kasih. Berkat kau, aku jadi mengetahui kenyataan ini. yah, walaupun tanpa disengaja." Ucapnya, membuat Jihoon jadi sedikit tidak enak, dan berakhir menganggukkan kepalanya pelan.

MIngyu-ssi kemudian kembali menatap mataku.

"dan kau, Wonwoo-ssi. Bisakah kita bicarakan hal ini? secara baik-baik, dan berdua saja?" tanyanya.

Namun belum sempat aku menjawab apapun, tiba-tiba saja ia sudah menarik pergelangan tanganku dan menyeretku untuk ikut bersamanya.

.

.

.

"ah! Oppa! Kenapa lama sekali?!" Minseo berlari kearahku saat meihatku keluar dari ruangan Jihoon-ssi.

Ah, aku lupa bahwa anak ini menungguku disini.

Segera saja kuraih foto yang berada didalam saku celanaku dan kuberikan padanya.

"maaf, MInseo-ya. Tapi kau bisa pulang sendiri, kan? Aku masih ada urusan lain yang perlu kukerjakan. Atau kau hubungilah suamimu untuk menjumputmu kemari."

Lalu tanpa ba-bi-bu lagi, segera saja kuseret Wonwoo menuju mobilku, dan memerintahkannya untuk duduk disampingku, di kursi penumpang sebelah kursi kemudi.

"MIngyu-ssi. Kau mau bawa aku kemana?" tanyanya padaku, namun aku tidak menjawabnya.

"MIngyu-ssi, bagaimana dengan mobilku? Aku meninggalkan mobilku disana!"

"aku akan menyuruh orang untuk mengantarkan mobilmu nanti." Ucapku masih dengan suara tenang.

Hingga akhirnya ia hanya menghela nafas panjang, dan memilih untuk diam, menuruti perkataanku.

Sesungguhnya, aku pun tidak tahu akan membawanya kemana. Namun akhirnya kuputuskan untuk membawanya ke apartemenku untuk sementara.

Disana tenang dan sepi, akan menjadi tempat yang paling baik bagi kami untuk membicarakan soal masalah ini lebih lanjut.

Segera setelah aku memarkirkan mobilku, aku menggenggam tangannya, membawanya ke unit apartemenku yang berada di lantai sepuluh.

"sebenarnya kau bawa aku kemana?" tanyanya masih dengan pertanyaan yang sama.

"ini apartemenku. Masuklah." Ucapku padanya setelah aku berhasil membuka password apartemenku.

Kulihat Wonwoo-ssi memperhatikan sekeliling dekorasi apartemenku, dan seketika aku merasa bersyukur. Kemarin baru saja aku membersihkan apartemen ini.

Kalau tidak, ia akan jijik saat melihat tempat khas bujangan yang berantakannya sama seperti gudang.

"duduklah. Aku akan membuatkanmu minuman." Aku mengganti sepatuku menjadi sandal rumah, dan berjalan menuju pantry.

Kubuatkan ia segelas teh chamomile hangat, yang kuyakini bisa membantunya kembali menenangkan pikiran.

Ia menghirup sesaat asap yang berasal dari teh yang kuseduh itu dan menghela nafasnya pelan, terlihat ia menikmati aroma yang menguar.

"jadi… kau benar-benar mengandung anakku?" tanyaku pelan.

Ia segera menatapku dan meletakkan gelasnya diatas coffee table.

"apa pembicaraan dengan Jihoon tadi masih membuatmu tidak percaya?" tanyanya terdengar sedikit kesal.

Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal.

"ah, ani.. hanya saja.. ini terasa sedikit membingungkan."

"baru satu bulan yang lalu, aku bertemu denganmu. tapi kemudian kau pergi entah kemana dan sama sekali tidak meninggalkan jejak."

"lalu sekarang, aku bertemu lagi denganmu. dan kau sedan hamil anakku. Itu.. sedikit agak terburu-buru, bukankah begitu?" ucapku pelan. Kupilih kosa kata sedemikian rupa, sehingga ia tidak merasa tersinggung.

"aku juga tidak tahu kalau ini akan terjadi. Jika saja aku tahu.. aku mungkin akan memilih untuk pulang waktu itu, saat kau mengajakku untuk minum bersama."

Kuangkat sebelah alisku, menyangsikan ucapannya.

"hey, kau bilang kau tidak akan menyesali malam itu?" ucapku padanya, membuat ia sedikit salah tingkah.

"a-aniya… bukannya aku menyesalinya, hanya saja… kau tahu, ini semua terlalu tiba-tiba. Aku yakin sekali kau merasa kerepotan, bukan?" tanyanya dengan menatap mataku langsung.

Kubalas tatapan matanya dengan tegas.

"sama sekali tidak."

"eh?" ia kelihatan bingung dengan jawabanku.

"cepat atau lambat, aku akan segera menikah dan memiliki anak. Dan kelihatannya waktunya sudah tiba bagiku untuk itu."

"maka dari itu, sudah kuputuskan."

"aku akan bertanggung jawab padamu dan anak kita."

.

.

.

Jantungku berdegup dengan kencang saat Mingyu-ssi berkata bahwa ia akan bertanggung jawab padaku.

Apakah ini artinya sebuah pernikahan? Atau hanya sekedar ia akan mengakui bahwa anak ini adalah anaknya, lalu membantu biaya hidup anak ini saja? Aku sedikit bingung.

"M-Mingyu ssi…" panggilku dengan suara lirih, namun ia langsung menatap mataku dengan tajam.

"dan kelihatannya hal pertama yang harus kita lakukan adalah proses pendekatan, bukan begitu, Wonwoo-ya?" ucapnya, membuatku menaikkan sebelah alisku.

"aku tidak mau anak kita kelak merasakan kejanggalan saat mendengar orang tuanya memanggil satu sama lain dengan embel-embel 'ssi' dibelakang nama mereka. Anakku pantas mendapatkan yang terbaik, termasuk salah satunya adalah cinta keluarga." Ucap MIngyu-ssi lagi-lagi dengan lancar dan tanpa hambatan, membuatku kembali merasa ragu.

"ci-cinta keluarga?" tanyaku.

"eoh. Tentu saja. Apa kau mau? Jika anakmu kelak bertanya padamu, apa yang membuatmu mau menikahi ayah, dan kau menjawab 'entahlah, mungkin karena ia sudah menghamiliku dilluar nikah?' tentu saja tidak, bukan? maka dari itu, bersiaplah, Wonwoo-ya."

"eum? Bersiap untuk apa?"

"bersiaplah untuk mengatakan pada anakmu kelak, bahwa kau mau menikahiku karena kau mencintaiku."

Ia kemudian menyunggingkan senyumnya yang terlihat sangat bangga itu, dan kembali meneruskan

"karena aku akan membuatmu jatuh cinta padaku."

TBC

Anyeong yeorobeunn..

Chap ini ku post sebagai rasa bahagia karena momen meanie yang baru aja terjadi VLive tadi.

Mereka satu ranjang bo'! aahh sumprit ya, itu moodbooster bangetttt.. makanya aku jadi semangat buat ngepost dan ngetik chap selanjutnya.

Ohya, terima kasih atas review-review nya kemarinnn.. aku benar-benar senang kalian udah meng-appreciate hasil karyaku yang abal abal ini.

Ada beberapa yang bilang bahwa cara penulisan ff ini sedikit membingungkan, meskipun masih bisa dimengerti. Syukurlah..

Tapi sepertinya aku tetap akan lanjut ddengan cara penulisan seperti ini khusus ff ini.

Yah, pokoknyaa… keep reading and reviewing, guys!

See on next chapter!