TITLE : One Night Stand
GENRE : Romance, Drama
RATING : M
CAST : Wonwoo (GS), Mingyu
DISCLAIMER : plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.
SYNOPSIS : Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. MEANIE. GS.
This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))
.
.
.
Tiba-tiba saja tenggorokanku terasa gatal, membuatku terbatuk hebat.
"uhukk! Uhuk!"
Mingyu-ssi segera menyodorkanku gelas teh yang tadi ia buat dan segera kuminum hingga tersisa setengah.
"tidak perlu kaget begitu, Wonwoo-ya.." ucapnya santai, membuatku menatapnya nyalang.
"jatuh cinta padamu, MIngyu-ssi? Hmph, yang benar saja?" tanyaku dengan nada sedikit meremehkannya.
"kenapa, Wonwoo-ya? Kelihatannya kau sangsi sekali pada ucapanku? Ah, apa mungkin kau tidak menyukai ideku ini?" tanyanya, membuatku memutar bola mataku kesal.
Pria ini, kenapa percaya diri sekali? jika saja aku sedang tidak mengandung anaknya, dan kami sedang membicarakan masa depan kami serta jabang bayi ini, aku pasti akan segera pergi dari sini.
"bagaimana kalau, biar adil.."
"kau juga berusaha agar aku juga bisa jatuh cinta padamu?"
"yah, meskipun aku yakin, pasti kau duluan yang terpesona padaku, sih.." ucapnya lagi-lagi dengan nada yakin, membuatku jengkel.
Uh, sepertinya ia mulai mengibarkan bendera perang? Baiklah, akan kulayani dengan baik kemauannya kalau begitu.
"deal."
"euhm?"
"baiklah, aku setuju akan idemu itu. Tapi biar lebih seru, bagaimana kalau kita bertaruh? Siapa yang lebih dulu jatuh cinta pada siapa? Otte?" tawarku padanya.
"lalu balasannya?" tanyanya mulai tertarik.
"yang kalah harus mengikuti kemauan yang menang, tentu saja." Ucapku dengan mantap, membuatnya terlihat sedikit menyeringai.
"call!" ia kemudian menyalurkan tangan sebelah kanannya, dan mengajakku untuk bersalaman.
"jadi, sekarang.. apa kita resmi menjadi sepasang kekasih?" tanyaku kembali mempertanyakan hubungan kami.
Boleh saja kami bertaruh, namun status hubungan dan nasib anak ini tetap harus menjadi prioritas.
"untuk sekarang, ya." Jawabnya singkat. Mingyu-ssi berkata sambil menggaruk dagunya.
"tapi dalam beberapa bulan kedepan, kau harus bersedia. Mau tidak mau, suka tidak suka." Ucapnya kembali.
Aku menaikkan sebelah alisku mempertanyakan ucapannya yang menggantung.
"bersedia untuk apa?"
"menjadi istriku, tentu saja."
"sudah kubilang, aku adalah pria bertanggung jawab. Dan aku akan mempertanggung jawabkan anak itu bahkan sebelum perutmu terlihat membesar."
Aku hanya terdiam mendengarkan ucapannya.
Ternyata ini maksud dari kata-katanya soal bertanggung jawab.
Ia akan menikahiku, dan aku tahu, jauh dalam lubuk hatiku, aku merasa lega.
"baiklah kalau begitu. Tapi untuk sekarang, aku harus pulang. Hari sudah malam, dan besok aku harus pergi bekerja pagi-pagi buta." Ucapku mulai bersiap untuk pulang.
"eung? Memangnya apa pekerjaanmu?" tanyanya.
"aku sudah pernah menceritakannya padamu. Aku adalah seorang fashion desainer." Ucapku dengan malas.
Kulihat ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian berdecak pelan.
"menginap saja. Ini sudah jam sepuluh malam. Besok pagi-pagi sekali, aku akan mengantarkanmu ke tempatmu bekerja." Ucapnya dengan santai, seolah itu bukanlah hal yang aneh sama sekali.
"ya! Apa-apaan kau ini? menyuruh seorang wanita lajang menginap di tempat seorang pria dewasa? Mau ditaruh dimana mukaku?" cecarku padanya.
Ia hanya memperhatikan wajahku, kemudian terkekeh keras.
"hahaha! Kau aneh sekali! wanita lajang apanya? Ya! Aku harap kau ingat mulai sekarang! Jika ada pria yang bertanya, apakah kau single? Kau harus berkata padanya, bahwa kau sudah memiliki kekasih, yaitu aku! Kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih sekarang! Lagipula bukankah kau yang barusan menginginkan status tersebut?" ucapnya sambil diiringi dengan tawa yang cukup kencang, membuatku sedikit malu karena aku baru menyadari bahwa perkataanku memang cukup bodoh barusan.
"lagipula kenapa berlebihan sekali? apa kau lupa? Kita bahkan sudah berbuat yang 'tidak-tidak'! buktinya, didalam perutmu sudah terdapat darah dagingku, bukan? aku bahkan masih mengingat dengan jelas bagaimana bentuk tubuhmu itu, Wonwoo-ya" ucap pria konyol ini sambil menggerakkan kedua jari telunjuknya, berusaha menggodaku.
Tak bisa kupungkiri, wajahku pasti memerah sekarang. Ia sudah berhasil menggodaku!
"lagipula kau tenang saja, kita tidak akan tidur satu kamar. Kau akan tidur di kamar adik perempuanku, kau juga bisa meminjam beberapa pakaiannya." Kali ini, setelah tawanya sedikit mereda, ia kembali berkata untuk menenangkan pikiranku.
Dan setelah beberapa perdebatan kecil lainnya, aku mengalah dan memilih untuk menuruti perkataannya.
Setelah ia mengantarkanku pada sebuah kamar bercat dinding berwarna kuning muda, barulah aku yakin bahwa ini adalah kamar seorang perempuan.
Aku segera membersihkan tubuhku dan meminjam sebuah piyama yang terletak didalam lemari yang ada disana.
Dan baru saja aku akan memejamkan mataku, tiba-tiba saja kudengar pintu diketuk.
.
.
.
"Wonwoo-ya.. bisa buka pintunya sebentar?"
Ucapku sambil terus mengetuk pintu kamar tempat Wonwoo menginap malam ini.
Tidak lama kemudian, wanita itu muncul, membuka pintu kamar begitu saja, dan membuatku sedikit kaget akan penampilan malam wanita ini.
Aku baru sadar bahwa aku terus saja memperhatikan tubuhnya, setelah ia menggerakkan tangannya tepat didepan wajahku.
"Mingyu-ssi? Apa yang ingin kau katakan? Cepatlah, sudah malam. Aku lelah." Ucapnya, kemudian mempersilahkan aku untuk masuk kedalam kamar Minseo jika ia menginap disini.
"eum, Wonwoo-ya. Kapan kau akan menyelesaikan pekerjaanmu besok?" tanyaku padanya sambil duduk ditepi ranjang.
"um. Mungkin sekitar pukul lima, entahlah? Memangnya kenapa?"
"aniya, besok aku akan memperkenalkanmu pada kedua orang tuaku. Kau bisa, kan?" tanyaku lagi, langsung membuat ia membelalakan matanya.
"se-secepat itu?"
"lebih cepat lebih baik. lagipula aku tidak mau orang tuaku tahu bahwa aku menikahimu karena kau sudah hamil lebih dulu. Sudah cukup orang tuaku mendapati kenyataan bahwa adikku hamil diluar nikah, aku tidak ingin menambah kesedihan mereka dengan mengetahui bahwa anak lelaki mereka adalah seorang brengsek yang menghamili anak perawan orang lain." Ucapku, tapi malah mengundang dengusan dari Wonwoo.
"bukankah kenyataanya memang begitu?"
"yaish!"
"tapi setidaknya aku berusaha untuk bertanggung jawab!"
"baiklah. Aku akan menyelesaikan urusanku tepat pukul lima, dan kau harus menjemputku."
"baiklah. Ah, dan satu lagi. Ada baiknya jika kita menyamakan cerita dari sekarang." Ucapku, dan ia terlihat hanya menganggukkan kepalanya menyetujui ucapanku.
"ada lagi?" ucapnya.
Aku berpikir keras, lalu muncullah satu buah pemikiran yang mengganjal yang sedari tadi ingin kukatakan.
"ya! Pakaian apa itu?! Setidaknya jika sedang bertamu, pakailah sesuatu yang lebih sopan!" cecarku padanya saat melihat penampilannya ini.
Wanita ini hanya mengenakan sebuah gaun malam terusan sepanjang paha berwarna pink dengan bahan satin.
Ia kemudian menundukkan kepalanya, menatap tubuhnya.
"ya! Hanya ini pakaian yang adikmu punya! Lagipula memangnya kenapa? aku kan kekasihmu, sekarang?!" ia malah balik memarahiku, membuatku sedikit kesal padanya.
"ish! Tapi aku bisa melihat puting susumu dengan jelas! Lihat itu! Itu! Tercetak jelas sekali! apa kau sengaja tidak memakai bra, eoh?!" ocehku panjang lebar, namun ia hanya balas menatapiku dengan jengah.
"lalu kenapa? bukankah kau sendiri yang bilang, kau sudah pernah melihat keseluruhan tubuhku? Kenapa hanya melihat cetakan putingku saja kau sudah seheboh ini? dasar pria aneh.." ia memutar bola matanya malas.
Membuatku menjadi mempunyai sebuah ide untuk mengerjainya.
Segera saja dalam satu gerakan, kudorong tubuhnya, kemudian kutindih, meski aku masih menahan bobot tubuhku dengan kedua tanganku sendiri.
"tapi aku adalah pria normal, sayang.. apa kau tidak takut bahwa aku mungkin saja memberikan aegy seorang adik, bahkan sebelum ia dilahirkan?" ucapku sambil sedikit berbisik, dengan sengaja meniup-niup pelan telinganya.
"yak! Turun kau! Dasar pria mesum! Ish! Kim Mingyu!" Wonwoo mulai memukuli pelan dadaku, memerintahkan agar aku turun dari tubuhnya.
"dan satu hal lagi, kau harus berhenti memanggil calon suamimu Mingyu-ssi, atau Kim Mingyu. Itu tidak sopan, oke? Aku akan menghukummu jika aku mendengarnya sekali lagi."
Sekali lagi, aku menyeringai. Dan kukecup pelan lehernya sebelum aku benar-benar beranjak dari tubuhnya.
Kemudian setelah aku mengucapkan selamat malam dan menutup pintu kamar, aku benar-benar pergi dari sana, dengan hati yang benar-benar senang.
Sepertinya menikahi Jeon Wonwoo bukan ide buruk sama sekali, karena menggodanya akan menjadi hobi baruku.
.
.
.
Disepanjang perjalanan, aku sama sekali tidak mengatakan apapun, bahkan saat Mingyu bertanya padaku. Aku hanya menjawab pertanyaannya sesingkat mungkin.
"ya! Apa kau masih marah padaku soal semalam?" tanyanya, dan aku hanya mendengus sebagai jawaban.
Sesungguhnya aku sudah tidak semarah itu, hanya saja aku sengaja.
Aku ingin memberikan pelajaran pada pria jahil ini, ia harus merasakan akibatnya.
"yaaa.. aku minta maaf, oke? Aku kan hanya bercanda? Lagipula itu juga untuk mengakrabkan diri kita, bukankah begitu? Suatu hubungan akan terasa membosankan jika kita terlalu serius."
Kulirik sedikit pria itu, dan dengan sengaja aku berdecak dengan keras, dan langsung membuatnya menggenggam tanganku, membuatku sedikit kaget.
"eeyy.. jangan marah lagi, oke? Eomma tidak boleh marah-marah pada appa, nanti aegy sedih, arrachi?" ucapnya sambil menirukan suara anak kecil.
Apakah aku harus jujur sekarang?
Baiklah, aku jujur.
Jantungku sangat berdebar-debar saat ia berkata demikian. Entahlah, aku hanya… merasa senang diperlakukan seperti itu.
Apakah itu efek dari bayi ini? ahh molla!
"hmph, appa apanya.. kelakuannya tidak lebih dari seorang anak kecil." Ucapku sambil terus berusaha terlihat kesal, meskipun sejujurnya aku sudah tidak kesal sama sekali.
"eyy.. bukankah itu bagus? Kau jadi punya dua bayi? Hehehe.." ucapnya meskipun sesekali masih mempehatikan jalanan.
"menyebalkan."
Ia terdiam. Namun tidak lama kemudian bisa kudengar dengusannya.
"geurae, sekarang kau boleh bilang aku menyebalkan, tapi lihat saja nanti, kau akan berkata bahwa kau cinta mati padaku."
"aegy.. kau harus jadi saksi saat eomma mengatakan hal itu pada appa, ya?" ucapnya sambil mengelus pelan perutku yang masih rata tersebut.
"aniya.. aegy, kau yang harus jadi saksi, saat appamu ini bertingkah bahwa ia tergila-gila pada eomma, ya?" ucapku, yang entah mengapa malah membalas ucapannya.
Dan sadar bahwa kemarahanku sudah sedikit mereda, Mingyu tertawa.
Jenis tawa lepas, yang entah mengapa membuatku turut mengulum senyuman.
Kupikir tidak akan sulit jatuh cinta pada pria bernama Kim MIngyu ini.
Dan aku menantikan saat itu.
.
.
.
Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah pukul lima. Itu berarti shift kerjaku untuk hari ini sudah berakhir.
Begitu pula dengan Wonwoo. Wanita itu baru saja mengirim pesan padaku bahwa ia sudah selesai dan ia memintaku untuk menjemputnya.
Setelah merapikan beberapa kertas data milik pasien yang berserakan di mejaku, akupun pergi untuk menjemput Wonwoo.
Saat makan siang tadi, aku sempat bertukar pesan dengan Wonwoo.
Bukannya apa, kami hanya berusaha untuk menyamakan cerita.
Aku tahu ibu dan ayahku. Mereka bukanlah tipe orang yang akan mempercayai sesuatu begitu saja.
Maka dari itu, sebuah persiapan akan sangat diperlukan untuk menghadapi mereka berdua.
Kini aku telah sampai pada sebuah gedung minimalis berwarna cokelat. Tempat kerja Wonwoo.
Kukirimkan pesan padanya bahwa aku telah sampai, dan tidak lama kemudian ia keluar dari gedung tersebut.
Dengan penampilan berbeda dari tadi pagi, yang sesungguhnya – uhm, membuatku terkejut.
"annyeong, Mingyu-ssi." Ucapnya saat ia memasuki kursi penumpang disampingku.
Aku masih memperhatikannya.
Uh, bahkan dari kursiku aku bisa mencium harum parfumnya.
Sadar bahwa aku terus saja memperhatikannya tanpa berkata apapun, ia menggoyangkan tangannya tepat didepan wajahku.
"helooo.. kau baik?" tanyanya.
Membuatku langsung mendengus dan mengalihkan wajahku.
"euhm. Aku baik."
Kemudian aku segera melajukan mobilku menuju tempat perjanjian temu kami.
Tidak ada yang membuka pembicaraan. Kulirik kesamping, ternyata calon istriku itu sedang asyik dengan ponselnya sendiri, sehingga aku berinisiatif untuk mengajaknya mengobrol.
"uhm. Penampilanmu berbeda."
Wonwoo sepertinya menyadari ucapanku. Ia kemudian menoleh dan menunduk kebawah, memperhatikan apakah ada yang salah dengan pakaiannya?
"tidak juga. Apanya yang berbeda? Aku biasa seperti ini." ucapnya bingung.
"tadi pagi kau tidak pakai ini." jelasku lagi.
Bisa kulihat ia sedikit mendengus dan memutar bola matanya.
"lalu kenapa? aku bekerja di tempat fashion, bukan masalah besar bagiku untuk berganti pakaian."
"lagipula aku akan bertemu dengan orang tuamu, apakah aku harus menggunakan kaus dan celana pendek saja?" tambahnya lagi, masih dengan nada santai.
Aku yang sedari tadi masih sibuk memperhatikan jalanan, segera menoleh setelah mendengar ucapannya.
"kenapa repot seperti itu? Kau hanya bertemu dengan ayah dan ibuku, bukan presiden Negara ini." ucapku lagi.
Pasalnya, pakaiannya sekarang yang berupa dress sederhana berwarna krem itu membuatnya terlihat benar-benar formal.
Yah, meskipun aku tidak dapat memungkiri bahwa ia terlihat sangat cantik dengan pakaian itu, tapi tetap saja. Bukankah itu sedikit berlebihan?
Ia kembali berdecak.
"ck, Mingyu! Kau tidak mengerti. Bagi seorang wanita, bertemu dengan calon mertua itu sangat penting! First impression adalah segalanya! Lalu apa kau mau, bayi ini tidak punya ayah karena orang tuamu tidak merestui kita? Huh? Kau mau itu?" cerocosnya dengan cepat.
Wonwoo adalah orang yang cukup bawel. Aku sekarang mengerti itu.
Tapi mendengar ucapannya barusan, membuatku tidak bisa menahan senyuman.
Aku bahkan mulai terkikik karena alasannya. Jadi karena itukah?
Karena ia ingin bertemu dengan orang tuaku? Calon mertuanya?
Kalau begitu, aku tidak keberatan ia berdandan sangat cantik. karena ia harus menjadi istriku.
"hahaha, jadi karena itu? Astaga.. Jeon Wonwoo, kupikir ada apa…" ucapku sambil terus terkekeh.
Ia lagi-lagi hanya memutar bola matanya malas, kemudian membalas ucapanku.
"lalu kau sendiri bagaimana? Apa kau berencana untuk menemui orang tuaku hanya dengan kaus oblong dan celana training serta sandal jepit?"
"karena orang tuaku bukan presiden?" cecarnya.
Aku menyeringai.
Ah, Jeon Wonwoo ini benar-benar penuh kejutan.
"eeyyy.. tentu saja tidak. Mana mungkin begitu."
"kau sudah secantik ini hanya untuk bertemu dengan orang tuaku, mana mungkin aku berdandan asal-asalan saat ingin bertemu harabeoji dan halmeoni-nya aegy? Euhm?" ucapku lembut, membuat Wonwoo sepertinya sedikit menghela napas lega.
"pakaian apa yang kau inginkan untuk aku pakai saat kita bertemu orang tuamu nanti? Kau bisa katakan padaku, dan aku akan mencarinya di butik. Oh! Atau kau bahkan bisa menyiapkannya sendiri karena kau bekerja di bidang fashion. Kau tahu ukuranku, bukan?"
Ia hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkahku yang konyol, namun tidak lama kemudian menyeringai.
"benarkah? Kau akan memakai apapun yang kuminta?" ucapnya.
"euhm. Tentu saja. Ibu dari anakku yang memintanya, tidak akan kubiarkan ia kecewa."
Ia hanya memicingkan matanya saat aku berkata demikian , yang membuatku segera tertawa terbahak-bahak.
"call. Kau sudah mengatakannya, bukan? kau harus menepatinya."
"aegy-yaa.. appa sudah berjanji, dan jika ia melanggar janjinya, hukuman apa yang harus kita berikan untuknya?" Wonwoo memasang pose berpikir sambil terus mengelus perutnya yang masih ramping itu.
"ah! Bagaimana kalau kita suruh ia tidur di kamar mandi selama satu bulan? Itu ide yang bagus, aegy-yaa.. hahaha..."
Sejak pembicaraan random itu, aku dan Wonwoo terus saja berbincang. Sesekali aku melontarkan lelucon konyolku padanya, dan dibalas dengan tatapan aneh, meskipun tidak jarang pula ia ikut tertawa dan turut meladeni ocehan tidak jelas milikku.
Hingga akhirnya kami sampai di sebuah restaurant bintang lima di daerah Gangnam, tempat janji temu kami.
Aku berjalan sdikit lebih didepan daripada Wonwoo, namun saat kurasakan ia semakin tertinggal jauh di belakangku, aku segera menoleh padanya.
Ia terlihat sedikit gugup. Wajahnya merona merah. Ia juga sesekali menggigiti bibirnya, membuatku sedikit mengulum senyuman.
Wanita ini,
Benar-benar penuh kejutan.
Akhirnya kuputuskan untuk kembali jalan kebelakang, menghampiri Wonwoo, kemudian menggenggam tangannya, membuat ia membelalakkan matanya kaget.
"e-eoh? Wae?" tanyanya bingung.
"aniya. Hanya ingin menggandeng tangan calon istriku. Apa itu aneh?" ucapku santai, kemudian kembali berjalan disisinya.
Bisa kurasakan tangannya yang sedikit basah. Mungkinkah ia berkeringat karena gugup?
Akhirnya kudekatkan wajahku pada telinganya dan berkata bahwa,
"tidak apa-apa. Jangan khawatir. Aku disini."
.
.
.
.
Didepan sana, kulihat sepasang orang tua berusia paruh baya melambaikan tangannya kearah kami.
Apakah mereka orang tua Mingyu?
Sepertinya ya, karena jika diperhatikan, sang pria paruh baya sangat mirip dengan Mingyu.
Tubuhnya tinggi dan besar, rambutnya juga lebat meskipun sudah dihiasi beberapa helai berwarna kelabu. Namun aku yakin, saat ia muda ia pasti sangat tampan.
Mingyu kemudian melepaskan genggamannya pada tanganku, dan beralih memeluk dan mencium pipi wanita paruh baya dihadapan kami.
Ia juga sedikit membungkukkan tubuhnya pada sang pria. Dan setelah selesai, ia kembali ke sisiku.
"eomoni, abeoji. Ini adalah orang yang kuceritakan saat itu. Dia adalah kekasihku. Sayangku, perkenalkan dirimu." Ucap Mingyu dengan nada lembut padaku.
Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya sekarang.
Sudah dipastikan, aku harus menjadikan ini bahan lelucon nanti.
"a-annyeong haseyo, nama saya Jeon Wonwoo. Saya lahir dan besar di daerah Changwon, namun pindah ke Seoul untuk meneruskan kuliah, hingga sekarang bekerja di sebuah butik di daerah Cheongdamdong." Ucapku memperkenalkan diriku dengan gugup.
Sungguh, ini adalah pertama kali dalam hidupku bertemu dengan kedua orang tua kekasihku. Ini benar-benar membuatku gugup dan nervous.
Padahal aku tidak segugup ini jika harus melakukan presentasi tentang pakaian baruku didepan semua desainer ternama lainnya.
Tapi kali ini, aku benar-benar berdebar! Telapak tanganku rasanya sampai basah karena keringat.
Kemudian nyonya Kim, eomma-nya Mingyu, menyuruhku untuk duduk dihadapannya.
"aigoo.. anakku sudah mempunyai kekasih, rupanya. Ah, anakku! Kau sangat pintar! Mencari kekasih secantik ini tidak akan mudah!" puji nyonya Kim padaku.
Aku mengucapkan terima kasih dengan pelan. Aku terus menundukkan kepalaku, masih merasa malu. Namun bisa kurasakan tatapan kedua orang tua Mingyu masih menatapku dengan penuh minat.
"Mingyu-ya, dimana kau dapatkan wanita secantik Wonwoo-ssi? Dia sangat mirip dengan ibumu waktu muda." Ucap tuan Kim, membuat Mingyu terkekeh pelan.
Akhirnya kami memulai acara makan malam kami, dan sambil diselingi dengan obrolan ringan.
"Wonwoo-ya, bagaimana awal kalian bisa berpacaran? Ceritakan pada eomoni." Ucap nyonya Kim, membuatku meneguk ludahku dengan susah payah.
Sudah kuduga ini akan terjadi, namun tetap saja, aku merasa sulit untuk mengatakannya.
"ah, apa abeoji tahu Lee Jihoon-ssi?" tanya Mingyu pada tuan Kim.
"eum."
"jadi, Lee Jihoon-ssi adalah sahabat Wonwoo saat SMA, dan beberapa bulan yang lalu saat Wonwoo menemui Jihoon-ssi, aku bertemu dengannya. Dari sanalah kami mulai berkenalan dan dekat." Ucap MIngyu dengan lancar.
Nyonya Kim terlihat tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan puas. Sedari tadi ia terus saja menanyaiku tentang fashion wanita. Entahlah, mungkin Ia tertarik pada pekerjaanku?
"Wonwoo-ssi, apa yang kau sukai dari Mingyu kami?" kali ini tuan Kim yang bertanya padaku.
Lagi-lagi kugigit bibirku dalam.
Aku tak memperkirakan akan muncul pertanyaan seperti ini, sehingga aku tidak mempersiapkan jawabannya.
Kulirik Mingyu, namun ia terlihat diam saja, dan malah membalas tatapanku, seolah ia juga turut penasaran akan jawabannya.
Kemudian aku mulai menghela nafas, dan memperhatikan Mingyu dengan seksama.
"pada awalnya, aku mengaguminya, tentu saja karena ia tampan."
"namun kemudian setelah kukenali lebih lanjut, Mingyu-ssi adalah orang yang bertanggung jawab. Ia juga pria yang menepati janjinya."
Kemudian kuketuk pelan daguku, dan kembali memutar otak.
"lalu, yang membuatku nyaman bersamanya? Eum… mungkin selera humornya? Entahlah, terkadang ia bisa menjadi sangat jahil, kemudian berubah menjadi pria yang lembut. Namun lelucon Mingyu-ssi lah yang selalu membuatku tertawa." Ucapku tanpa sadar tersenyum dan terus menatap wajah MIngyu.
Dan kemudian aku kembali tersadar akibat suara tawa nyonya Kim.
"ah, kalian berdua saling mencintai, rupanya.." ucap nyonya Kim membuatku mengangkat satu alisku dengan bingung.
"anak kami terus saja menatapmu saat kau sedang berbicara tadi. Jika kami tidak ada disini, ia pasti sudah membawamu pergi ke tempat persembunyiannya. Wonwoo-ssi. Berhati-hatilah pada pria mesum ini." ucap tuan Kim membuatku tertawa.
Yah, jenis tawa sungkan, karena ia tidak tahu saja, bahwa aku sebenarnya sudah mengandung cucu mereka. Karena pria mesum itu.
Bisa kudengar dengusan Mingyu, namun yang membuatku kaget adalah, tiba-tiba saja ia menggenggam tanganku dibawah meja makan kami.
Ia sedikit mendekat padaku, dan berbisik,
"terima kasih atas pujiannya."
Yang kuyakini pipiku segera memerah karenanya.
.
.
.
.
Kuhela nafasku lega. Karena sepertinya kedua orang tuaku cukup menyukai Wonwoo.
Melihat bagaimana antusiasnya eommaku saat mengajak Wonwoo mengobrol, dan appaku yang terkadang melontarkan beberapa pertanyaan pada Wonwoo, yang itu berarti ia peduli.
Wonwoo juga mulai kelihatan nyaman bersama mereka, meski pada awalnya ia sangat kaku dan gugup, namun wanita itu sekarang terlihat lebih relaks.
Satu hal yang kusuka dari Wonwoo adalah, ia mudah membawa dirinya.
Karena kini kulihat ia sedang menyendokkan sayur keatas piring appaku, yang sudah pasti mendapat nilai lebih di mata mereka.
Aku terus memperhatikan mereka bertiga asyik berbincang, meskipun sesekali aku turut mengobrol.
Namun entahlah, aku masih betah seperti ini. hanya memperhatikan mereka terlihat akrab, membuat hatiku terasa menghangat. Aku juga masih sedikit berdebar akibat ucapan tidak terduga wanita itu saat appaku bertanya apa yang ia sukai dari diriku.
Sungguh, kami tidak mengira ia akan bertanya hal itu.
Jadi bisa dipastikan, bahwa jawaban itu adalah murni dari pemikiran Wonwoo sendiri.
Dan setelah kami selesai makan, aku akhirnya mengucapkan inti dari pertemuan kami kali ini.
Kugenggam tangan Wonwoo yang berada di bawah meja makan, kemudian kuangkat keatas, memperlihatkan kepada kedua orang tuaku.
"eomoni, abeoji. Sebenarnya aku meminta kalian kemari karena.. aku ingin meminta restu dari kalian. Aku ingin menikahi Wonwoo. Aku mohon berikan restu kalian." Ucapku langsung, tanpa ba-bi-bu.
Wonwoo sendiri bahkan terlihat terkejut.
Ia seketika segera menatapku dengan aneh, namun kuhiraukan saja tatapannya itu.
Kedua orang tuaku terlihat terkejut, namun ayahku bisa mengembalikan raut tenangnya dengan cepat.
"kenapa terburu-buru?" tanya appaku.
Dengan berusaha terlihat mantap, kukatakan jawabanku dengan tegas.
"jika kita sudah merasa menemukan orang yang tepat, untuk apa ditunda lagi? Lagipula, usiaku sudah lebih dari cukup untuk membina sebuah keluarga sendiri."
Appaku diam saja, namun ia terlihat menganggukkan kepalanya pelan.
Eommaku hanya terkekeh. Bisa kulihat ia mengelus pelan tangan appa.
"yeobo, apa kau tega memisahkan kedua orang yang saling mencintai ini, euhm? Bagaimana ini? aku sangat menyukai Wonwoo. Aku ingin ia menjadi menantuku." Ucap eomma, membuat Wonwoo sedikit terkejut.
Appaku diam saja, namun kemudian ia menghela nafasnya pelan.
"baiklah. Kalian mendapatkan restu kami." Ucap appa dengan suara tegas, namun lembut. Membuat eomma memekik senang dan memeluk appa.
"aahh! Terima kasih, yeobo! Aku sangat menginginkan menantu perempuan! Ah! Wonwoo-ya, mulai sekarang, panggil aku eomoni, arrachi? Kita harus sering menghabiskan waktu bersama!" ucap eomma dengan girang, membuat Wonwoo terkekeh dan mengangguk senang.
"kalau begitu, aku akan segera meminta restu dari kedua orang tua Wonwoo, dan kemudian menikahinya." Ucapku lagi.
Eomma memukul bahuku pelan.
"eyy.. anak ini, sebegitu tidak sabar nya kah, kau? Ingin cepat-cepat mempunyai istri yang cantik seperti Wonwoo, eoh?" yang kemudian kubalas dengan senyuman malu-malu.
"ya, baiklah kalau begitu, kami tunggu kabar baiknya, Mingyu!" ucap appa.
"yeobo, ayo kita pulang. Sudah malam." Ajak appa pada eomma.
Meski pada awalnya terlihat malas, namun akhirnya eomma menuruti perintah appa. Mereka pergi, namun sebelum itu, eomma bangkit dan memeluk, serta menciumi pipi Wonwoo.
"aigooo.. Wonwoo-ya, sebentar lagi kamu akan menjadi menantu eomma! Ah, tidak sabar sekali rasanya!"
Aku tertawa melihat interaksi eommaku dengan Wonwoo. Entahlah, sepertinya ia sangat menyukai Wonwoo.
Aku merasa lega dan bersyukur, untunglah hubungan kami direstui.
Karena kalau tidak, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk bertanggung jawab pada Wonwoo.
"kita pulang juga?" tanya Wonwoo padaku, yang kemudian kubalas dengan anggukan.
Di perjalanan pulang, baik aku maupun Wonwoo sama sekali tidak ada yang membuka suara, namun bisa kudengar lamat-lamat wanita itu bersenandung sambil melihat kearah jendela.
Sepertinya moodnya sedang senang saat ini.
"Wonwoo-ya." Panggilku.
"eum?"
"kapan kau bisa mempertemukanku dengan kedua orang tuamu?" tanyaku tiba-tiba, membuat Ia segera memalingkan wajahnya dan menatapku kaget.
"orang tuamu di Changwon?" tanyaku.
Ia segera menganggukan kepalanya.
"keberatan jika malam ini kau menginap lagi di apartemenku?" ucapku pelan masih sambil focus menyetir.
"untuk apa?"
"besok adalah akhir pekan. Bagaimana jika kita pergi ke Changwon untuk menemui kedua orang tuamu? Kupikir itu adalah waktu yang paling baik. kita akan pergi menggunakan mobil pagi-pagi sekali." usulku padanya.
Ia telihat ragu, namun tidak lama kemudian ia menganggukkan kepalanya, menyetujui ajakanku.
"baiklah. Tapi sebelumnya aku harus pulang ke apartemenku terlebih dulu untuk mengambil pakaian. Kau keberatan?" tanyanya padaku.
"tentu saja tidak."
Maka kini kubawa mobilku menuju apartemen Wonwoo.
Dan setelah sampai, aku tidak hentinya berdecak kagum pada design interior apartemen wanita ini.
Meskipun tidak seluas milikku, namun apartemen Wonwoo terasa sangat nyaman.
Ruangannya rapi, hangat, dan harum. Aku bisa mencium aroma Jeon Wonwoo disini. Dinding apartemennya juga dipenuhi dengan pigura foto serta piagam.
Kudapati sebuah foto usang, dengan empat orang didalamnya, dua perempuan, dan dua laki-laki.
Aku bisa mengenali salah satu dari mereka. Ia adalah Jeon Wonwoo. Namun dalam versi gadis kecil.
Ia terlihat sangat mungil. Namun satu yang tidak berubah, yaitu tatapan matanya yang tajam.
"ayo kita pergi." Ucap Wonwoo. Tiba-tiba saja ia sudah berada dibelakangku, dengan membawa sebuah koper kecil di tangan kanannya.
"ah! Sudah selesai?" tanyaku, kemudian segera meraih kopernya.
"ah! Biar aku saja!" protes Wonwoo saat kurampas kopernya.
"ibu dari anakku tidak boleh kelelahan." Ucapku final, dan ia tidak membantah lagi, meskipun lamat-lamat aku bisa mendengarnya berkata bahwa aku berlebihan, namun aku tidak peduli. Aku hanya mengulum senyum tipis.
.
.
.
.
Kami sudah kembali ke apartemen Mingyu, dan aku kembali tidur di kamar bernuansa kuning ini lagi.
Kata MIngyu, ini kamar adiknya, Kim Minseo.
Ah, aku belum berkenalan dengannya. Mungkin lain kali.
Aku berganti pakaian menjadi piyama berbahan satin berwarna ungu favoritku. Dan tepat setelah aku selesai, Mingyu mengetuk pintu kamarku lagi.
"ada apa?" tanyaku sambil sedikit menyembulkan kepalaku didepan pintu.
Kudapati pria itu sedang berdiri disana, mengenakan kaus lengan panjang berwarna putihnya dengan motif garis-garis.
Rambutnya sedikit basah, dan itu membuatnya terlihat – ehm,seksi.
"keberatan jika aku masuk?" tanyanya, dan aku segera membukakan pintu untuknya.
Aku kembali duduk diatas ranjang, dan ia mengikuti gerakanku, yaitu duduk diatas ranjang disisiku.
Kembali kuperhatikan rambutnya. Itu benar-benar masih basah. Ia bisa masuk angin jika tertidur dengan keadaan rambut seperti itu.
Segera saja tanpa berkata apapun lagi, aku beranjak dari kasur dan mengambil handukku.
"bisakah kau menghadap kesana?" tunjukku pada tembok.
Ia hanya menatapku dengan bingung, namun tetap menjalankan perintahku.
"begini?" tanyanya.
"yap. Sebentar."
Aku bersimpuh tepat dibelakangnya, berusaha mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk yang kubawa.
"apa kau baru saja mandi?" tanyaku masih dengan menggerakan tanganku mengeringkan rambutnya.
"euhm. Wae?" tanyanya.
"kau bisa masuk angin! Kau ini dokter, tapi kenapa kesehatan sendiri saja tidak diperhatikan?" ocehku padanya.
"tak apa. Aku sudah terbiasa."
Aku sedikit menjambak rambutnya karena kesal dengan jawaban yang ia berikan. Ia mengaduh kesakitan, namun aku tidak peduli.
"ish! Kau ini!"
Namun tidak lama kemudian ia terkekeh.
"aku bisa menyelesaikannya dengan cepat jika kau punya hair dryer." Ucapku pelan. Meskipun pria, tapi Mingyu termasuk orang yang memiliki rambut lebat dan tebal. Membuatku sedikit kesulitan saat mengeringkan rambutnya.
"tak apa. Begini lebih romantis." Ucapnya diselingi dengan kekehan, membuatku kembali sedikit menjambak rambutnya.
"ish! Kau ini kasar sekali! memangnya mau, nanti kuperlakukan kasar jika kau sudah jadi istriku?" ucapnya kembali dengan perkataan random.
"cha! Sudah selesai. nah, kembalilah ke kamarmu." Ucapku.
"kau mengusirku?"
"memangnya bukan itu tujuanmu kemari? Menyuruhku mengeringkan rambutmu?"
Ia terlihat memutar bola matanya kesal, dan segera melempar handuk yang kupegang ke sembarang arah.
Kemudian menarik lenganku, hingga aku terjatuh tepat disisinya diatas ranjang.
"nah, begini lebih baik." ucapnya sambil menyunggingkan senyum tipis.
"ish! Mau apa kau sebenarnya? Mau berbuat mesum? Keluar sana!" ucapku dengan sedikit berteriak dan mendorong dadanya .
Ia diam saja, namun seketika aku mendengarnya berdecak, dan saat itu juga aku merasakan kedua pergelangan tanganku digenggam olehnya dengan satu tangan, dan ia meletakkannya diatas perutku.
Ia juga menindih kakiku dengan kakinya, seolah ia sedang mendekapku didalam tidurnya.
"eomma tidak boleh kasar pada appa. Nanti aegy sedih.." ucapnya dengan nada yang dibuat-buat.
"ish! Mingyu! Kau itu berat! Cepat turun!"
"an-dwe. Sebelum eomma berjanji tidak akan kasar lagi pada appa."
"aahhh! Mingyu! Berat! Cepat turun!" rengekku padanya seperti anak kecil.
"tidak akan. Ayo, cepat berjanji pada appa." Ucapnya masih dengan nada menyebalkan yang sama.
"baiklah, baiklah. Aku berjanji tidak akan kasar lagi. Ayo, cepat turun appa…" akhirnya aku menyerah dan menuruti keinginannya.
Namun ia tidak melepaskan tanganku, dan hanya menurunkan kakinya dari tubuhku.
"tanganmu?" tanyaku.
"aku kan sedang memeluk eomma dan aegy. Tidak boleh?" aku hanya mendengus kemudian memutar bola mataku malas. Akan lebih cepat jika aku tidak menggubris ucapan aneh pria ini.
"jadi? Apa maksudmu kemari?" tanyaku lagi pada akhirnya.
"eum.. apa ya?"
"apa kau kemari hanya karena ingin mengganggu tidurku saja?" tanyaku ketus, yang kemudian dibalas dengan tawanya.
"hahaha.. tentu saja tidak. Aku kemari karena ingin.."
"eum. Wonwoo-ya, sebagai calon suami istri, tidak ada salahnya jika kita saling mengetahui satu sama lain. Dan maksud tujuanku kemari adalah, aku ingin bertanya padamu." Ucap Mingyu, kini nada suaranya serius, membuatku juga meladeninya dengan serius.
"tanya apa?"
"siapa dirimu?"
"calon istriku, ceritakan tentang dirimu."
TBC
Aku lagi seneng, makanya aku post sekarang nih! Hehehee…
Akhirnya, setelah sekian lama, masa trainingku akan segera berakhir besok! Kyaaa gasabar banget!
Dan setelah itu aku bakalan libur selama kurang lebih dua minggu, jadi doain aja idenya lancar car car!
Jadi aku bisa fast update!
Oiya, banyak banget yang rikues supaya momen meanie yang satu ranjang kemarin agar dimasukin ke ff ini.
Dan.. voila! Aku udah coba buat bikinin, tapi kalo jadinya maksa, maafkan yah!
Lagi ga pengen banyak cincong, jadiii.. just enjoy my writing, and keep reviewing yah, Karena review di chap kemarin mulai melorot nih!
Terima kasih sudah meluangkan waktunya membaca karyaku yang amburadul ini.
See you on next chap!
