Disclaimer : Vocaloid not mine

Len teringat lagi kejadian beberapa jam lalu yang hampir membuatnya menangis.

Hanya hari biasa, Len memasak makan siang untuk Mikuo. Ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk membuatnya.

Tapi tepat saat makanan itu sudah dihidangkan depan Mikuo, pemuda sok ganteng itu menahannya.

'Siapa yang menyuruhmu pergi?'

Sial. Suaranya bagaikan mantra, Len bahkan tak berani melawan. Ia bertanya apa Mikuo membutuhkan hal lain darinya.

Lalu hal itu terjadi.. Mikuo memaksanya untuk makan juga. Len tidak mau, namun sang pangeran menarik dirinya hingga jatuh ke pangkuannya. Pemuda itu menyendok masakan yang masih panas itu dan memasukkannya ke mulut Len.

"Sial sial sial SIAL!!" Rasanya Len ingin menangis. Kenapa Mikuo memperlakukannya sekejam itu? Apa salahnya?

Kata-kata Mikuo yang dingin namun entah-kenapa lembut itu kembali terngiang di kepalanya. 'Len, ambil piringmu. Kau belum makan sejak pagi kan? Apa kau memilih kusuapi?'

Tidak! Itu sama sekali tidak lembut! Len benci itu, ia tahu betul. Pemaksaan kehendak, dikira Len itu apa?

"Cih," Len memeluk lututnya, membiarkan tubuhnya beristirahat di kamar gelap sebelum ia berhadapan lagi dengan Mikuo esok hari.