TITLE :One Night Stand
GENRE :Romance, Drama
RATING :M
CAST :Wonwoo (GS), Mingyu
DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.
SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .
This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))
.
.
.
Wonwoo mengerjapkan matanya. Ia kelihatan bingung.
Well, wajar saja. Karena tiba-tiba saja aku masuk kedalam kamarnya, memeluknya seperti orang gila, lalu menyuruhnya untuk menceritakan tentang kisah hidupnya padaku.
"kenapa aku harus?" tanyanya masih dengan mata yang memicing menatapku, tajam.
Aku memainkan poninya yang tersampir ke samping, menutupi dahinya yang mulus.
"bukankah aneh jika seorang calon suami tidak mengetahui apapun tentang istrinya sendiri?" ucapku masih dengan jemari yang terus memainkan poninya yang halus.
Wonwoo tidak mengatakan apapun, tapi aku tahu, ia terus saja mencuri pandang kearahku.
"aku akan menceritakan tentang diriku sebagai balasannya." Ucapku kemudian, berusaha membaca pikirannya.
"kalau begitu call." Ucapnya setuju.
Ia mengangkat tangan sebelah kiriku yang sedari tadi masih menindih perutnya, kemudian beranjak bangun dan meraih ponselnya yang terletak diatas meja nakas.
Wonwoo kembali pada posisinya, yaitu berbaring disisiku, sambil memegang ponselnya dengan kedua tangannya yang lentik.
"ini." ucapnya pelan, menunjukkan sesuatu padaku dari ponselnya.
Aku tak bisa melihat dengan jelas, sehingga kudekatkan tubuhku padanya, dengan posisi setengah berbaring menghadap Wonwoo, dan menyanggah kepalaku dengan tangan sebelah kanan.
Jarakku dengan Wonwoo sudah sangat dekat, namun sepertinya ia tidak menyadarinya.
Aku bahkan bisa mencium aroma shampoo strawberrynya dari atas sini, lalu kuperhatikan fitur wajah calon istriku.
Hidungnya cukup mancung, kulit wajahnya sangat putih dan mulus, serta bibirnya yang tipis dan merah mengkilap membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan dari sana.
Namun kemudian kulirik kembali ponselnya, karena ia sudah menunjukkan sebuah foto padaku.
Sebuah foto keluarga, seperti yang tadi kulihat di apartemennya.
Dengan dua orang lelaki dan dua orang perempuan.
"yang ini ibuku, dan yang ini ayahku." Ucap Wonwoo menunjuk sepasang orang tua yang sedang duduk di bangku.
"dan yang ini adikku. Namanya Jeon Boohyuk." Ia kemudian menunjuk seorang pria muda yang berdiri dibelakang ayahnya.
"yang ini pasti kau." Ucapku sambil menunjuk seorang gadis yang berdiri dibelakang.
"tentu saja. Ini kan foto keluargaku. Lagipula wajahku sama sekali tidak berubah dari dulu." Ucap Wonwoo dengan sedikit terkekeh.
Kuperhatikan dengan lamat gadis didalam foto tersebut.
Tidak juga.
Kulihat ada banyak perubahan didalam sana.
Tinggi wanita ini bertambah cukup banyak dari yang ada di foto. Rambutnya juga jadi lebih indah.
Senyumnya jadi lebih manis.
Yang pasti, gadis itu sudah berevolusi menjadi wanita yang memesona sekarang.
Aku hanya mengulum senyum sambil terus memperhatikan potret diri seorang Jeon Wonwoo dari masa lalu.
"kapan foto ini diambil?" tanyaku penasaran.
"saat aku lulus SMA, dan akan bersiap untuk pindah kuliah ke Seoul."
"hm.." aku hanya menganggukan kepalaku menjawab pertanyaannya.
"tunjukkan lagi." Ucapku kemudian.
Ia segera mendongakkan kepalanya mendengar ucapanku.
"hm?"
"tunjukkan lagi tentang dirimu padaku. Aku mau tahu lebih banyak." Ia kemudian segera membuka galeri foto di ponselnya, dan ada beberapa album foto yang sudah ia kategorikan disana.
Namun kulihat kebanyakan foto yang terdapat disana hanyalah foto tentang design baju. Tapi tidak lama kemudian, mata elangku menangkap sesuatu.
Adalah sebuah folder dengan nama 'sayang' yang kulihat.
Segera saja aku merampas ponsel Wonwoo dari tangannya, dan membuka folder itu tanpa seizinya, membuat Wonwoo terkesiap kaget dan berusaha mengambil kembali ponselnya.
"ya! Jangan lihat itu!"ucapnya sambil menggerakkan tangannya, menggapai tanganku yang sedang menggenggam erat ponselnya erat.
"hey! Tidak perlu disembunyikan! Aku ini calon suamimu! Tidak ada rahasia diantara suami istri!" ucapku masih terus saja mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
Awalnya Wonwoo masih bersikeras, namun akhirnya ia pasrah dan membiarkanku melihat apapun yang ada disana sesukaku.
"heum.. mari kita lihat. Siapa pria bodoh yang sudah meninggalkan wanita disisiku ini, eoh?" ucapku dengan nada sedikit bercanda, membuat ia sedikit mencubit pinggangku.
"akh! Appo!" ringisku.
"sudah cepat lihatnya!" dengus Wonwoo.
Kemudian aku kembali melanjutkan melihat isi folder galeri Wonwoo.
Disana, terdapat sekitar 100 foto, yang sekiranya dipenuhi oleh foto Wonwoo dan seorang pria.
Well, bisa kukatakan, pria ini tidak terlalu buruk. Ia cukup tampan.
Kulitnya putih, tidak sepertiku yang berwarna kecoklatan.
Meskipun aku jauh lebih tinggi, tapi pria ini sudah cukup tinggi jika disandingkan dengan Wonwoo.
Tubuhnya, tidak seperti aku yang memiliki punggung serta pundak yang lebar, tapi ia kelihatan cukup proporsional.
Aku tanpa sadar mendengus melihat sebuah foto selfie Wonwoo dengan pria tersebut.
"siapa namanya?" tanyaku dengan nada sedikit keras, tanpa kusadari.
"Wen Junhui."
"pekerjaannya?" aku terus saja menscroll kebawah, dan terus saja menemukan foto pria itu.
Dia yang sedang menggandeng Wonwoo, sedang memeluk Wonwoo, sedang mencium pipi Wonwoo, bahkan ada beberapa foto yang kulihat ia sedang memangku calon istriku itu!
"ia seorang pengusaha. Batu bara." Ucap Wonwoo singkat.
"wow. Taipan kaya raya."
"kau mencintainya?" tanyaku tanpa basa-basi.
Wonwoo segera menoleh menatapku, dan mengerjapkan matanya bingung.
"apa maksudmu?" tanyanya bingung.
"jawab saja. Apa kau masih mencintainya atau tidak?" ucapku, yang sepertinya tanpa kusadari kelewat dingin.
Ia kemudian kembali memalingkan wajahnya, menatap kearah lain.
Ia menghela nafasnya keras, namun aku masih menunggu jawaban darinya.
"aku…"
"menjalani hubungan dengannya selama dua tahun."
"bohong kalau kubilang aku tidak mencintainya." Ucap Wonwoo dengan lirih.
Aku tidak tahu, ini hanya perasaanku saja atau bagaimana, namun saat kudengar Wonwoo mengatakan hal itu, hatiku rasanya sedikit mencelos, meskipun aku tahu, aku tidak punya hak sama sekali untuk itu.
"tapi.."
"malam itu, saat kulihat ia sedang bersama jalang itu, bercinta.. membuatku seketika menjadi benci kepadanya."
"aku tak tahu kemana perginya cinta yang kami jalin selama dua tahun belakangan ini, namun satu yang ku tahu. yaitu.. saat mengingat Wen Junhui, maka yang muncul adalah pengkhianatan. Kemudian muncul kebencian dan rasa muak. Lalu seterusnya."
"dan satu lagi yang aku tahu. tidak ada lagi rasa cinta yang tersisa untuk Wen Junhui didalam sini." Ucap Wonwoo masih dengan lirih, dan mengelus dadanya.
Ia memandang kearah langit-langit. Bisa kulihat matanya sedikit memerah.
Ia mungkin merasa sedih. Mengalami hal yang begitu menyakitkan dan melupakannya tidak semudah yang Wonwoo katakan. Tapi aku tahu, wanita ini sudah berusaha melewatinya.
Aku kemudian kembali mendekat pada Wonwoo, hingga bahunya sudah menabrak dadaku.
Kembali kuletakkan tangan kiriku diatas perutnya, dan tangan kananku mengelus pelan kepalanya.
"gwenchana. Aku Kim Mingyu disini menemanimu."
"bersama dengan aegy.."
Aku terus saja mengelusi tangan Wonwoo yang terlipat diatas perutnya, kemudian ia menatapku dalam, langsung pada kedua bola mataku.
"heum? Kenapa?" tanyaku lembut.
"giliranmu." Ucapnya.
Aku kemudian terkekeh, menyadari bahwa sudah tiba giliranku untuk bercerita rupanya.
.
.
.
.
aku terus saja menatap mata Mingyu. Matanya tajam. Dan hidungnya mancung.
Tapi aku selalu tidak bisa melewatkan menatap gigi taringnya itu.
Aku suka saat ia melontarkan lelucon, kemudian tertawa. Gigi taringnya menyembul keluar, dan itu terlihat sangat imut dan seksi secara bersamaan menurutku.
Aku jadi berandai-andai.
Kelak akan mengikuti siapakah anak ini?
Aku suka kulit MIngyu yang kecoklatan, karena kulitku terlalu putih. Dan aku juga berharap anak kami kelak akan mewarisi gen tinggi dari Mingyu.
Masih sambil setengah berbaring menghadapku, ia menatap kearah langit-langit. Seperti menerawang.
"euhm.. keluargaku, kau sudah menemuinya.."
"Minseo? Lain kali akan kukenalkan."
"teman-temanku? Kau akan mengenali mereka nanti saat acara pernikahan kita…"
"ah, sepertinya tidak ada yang bisa kuceritakan padamu." Ucap MIngyu tanpa merasa berdosa, membuatku seketika merasa kesal.
"hey! Itu tidak adil! Kau sudah berjanji!"cecarku galak padanya, membuat ia terkekeh.
"tapi memang itu saja. Sisanya tidak ada yang penting, sudah kupastikan, kau tidak akan mau mengenali professor di rumah sakit tempatku bekerja, bukan?" ucap Mingyu masih dengan tawa disela ucapannya.
"ya, setidaknya beritahu aku sesuatu! Ah! Bagaimana biar adil, kau juga menceritakan padaku tentang mantan kekasihmu?" ucapku.
Namun sepertinya itu adalah ucapan yang salah, karena seketika itu juga, bisa kulihat raut wajah Mingyu berubah menjadi tidak menyenangkan.
"mantan.. kekasihku?" ucapnya, yang kemudian kubalas dengan anggukan.
Ia terlihat sedikit menimang, membuatku jadi ragu juga.
Tadinya aku ingin membatalkan saja niatku itu, namun ternyata ia sudah membuka mulutnya untuk bercerita.
"aku.. pernah punya mantan kekasih."
"wanita ini, aku sangat mencintainya." Ucap MIngyu pelan. Aku terus saja menatapi wajahnya, menunggu ia menyelesaikan kalimatnya.
"tapi hubungan kami ditentang oleh kedua orang tuaku." Ucapnya, masih terlihat lirih.
Tanpa sadar, kugerakkan tanganku untuk mengelus pipinya pelan.
"kenapa?" tanyaku.
Ia menatap mataku, kemudian menggeleng.
"aku juga tak tahu. mereka berkata bahwa wanita ini hanya menginginkan hartaku. Tapi itu tidak Mungkin. Aku mengenalnya dengan baik, aku sudah menjalin hubungan dengannya selama tiga tahun. Dan ia bukanlah wanita seperti itu.."
Hatiku terasa seperti dicubit ketika mendengar ucapan Mingyu.
Ternyata bukan hanya aku yang mengalami kegagalan dalam urusan percintaan, namun pria ini juga. keadaan kami sesungguhnya tidak terlalu jauh berbeda.
"aku sudah berusaha sekuat tenaga agar aku bisa mendapatkan restu kedua orang tuaku, namun hasinya tetap nihil. Tadinya aku bahkan berencana untuk kabur dan kawin lari bersama wanita itu, namun karena kejadian yang menimpa Minseo, membuatku mengurungkan niat karena aku tidak akan tega pada kedua orangtua ku untuk memperlakukan mereka seperti itu."
"sehingga ia akhirnya memilih untuk berpisah."
Mingyu kemudian menghela nafasnya panjang. Ia kelihatan sangat menderita.
Aku baru tahu, didalam dirinya yang suka melontarkan lelucon konyol, tersimpan sebuah kenangan yang menyakitkan seperti itu.
Aku mengelus pelan lengannya, berusaha membuatnya nyaman dengan kehadiranku.
"kau masih mencintainya?" tanyaku pelan, berusaha membuat agar ia tidak terbawa emosi.
Ia menatap mataku, tepat di kedua retinanya.
"apakah itu penting sekarang? Sebentar lagi aku akan menjadi suamimu, dan kau akan menjadi istriku."
"apakah persoalan tentang aku yang mencintai wanita lain perlu dibahas?" ucap Mingyu dengan nada datar.
Aku terkejut dengan jawabannya.
Hei! Tentu saja itu penting! Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan seseorang yang tidak menyukaiku dari dalam hatinya!
Terlebih ia masih mencintai wanita lain! Big No No!
Aku lebih baik memilih membesarkan jabang bayi ini sendirian daripada harus menghabiskan sisa hidupku dengan orang seperti itu.
"tentu saja. Kita perlu memperjelas keadaan kau tahu? keadaan seperti itulah yang bisa memiu perselingkuhan dalam sebuah hubungan rumah tangga nantinya!" ucapku sarkastik.
Aku bahkan memukul bahunya, namun tidak terlalu pelan, membuat ia sedikit mendesis.
Namun kemudian pria aneh itu tersenyum.
Ah, tidak. Lebih tepatnya ia menyeringai.
"makanya, sudah kukatakan bukan? cepat buat aku jatuh cinta padamu, dan akan kupastikan aku tidak akan selingkuh darimu seumur hidupku." Ucapnya dengan nada santai, sedikit menggoda.
Aku hanya bisa terdiam, mengedipkan kelopak mataku, kemudian mencubit pipinya keras.
"ish! Pria ini! tidak bisakah kau berbicara serius, sekali saja?!"
Ia meringis kesakitan, kemudian melotot padaku.
"yaish! Memangnya kapan aku bercanda?! Lagipula bukankah kau sudah berjanji tidak akan kasar padaku?!"
"ini keinginan bayimu." Cecarku cepat.
"ya! Anakku tidak mungkin menginginkan aku kesakitan. Ini pasti akal-akalanmu saja, ya kan?!"
Yang benar saja, kami jadi memperdebatkan hal yang sama sekali tidak penting.
"ya! Kembali ke topic! Kumohon Kim Mingyu, mari kita berbicara serius kali ini!" aku bahkan sampai memohon padanya.
Ini sangat jarang terjadi.
Bahkan hampir tidak pernah.
Well, kalian tahu. aku adalah wanita dengan harga diri setinggi langit.
"ish! Sudah kubilang, aku juga sedang tidak bercanda! Memangnya jawaban apa yang kau inginkan? Eoh?!"
"sudah kubilang, bukan? cepat buat aku jatuh cinta!"
"karena aku akan berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padaku!"
.
.
.
.
Wonwoo menghela nafasnya panjang.
Ia kemudian memejamkan matanya dan tiba-tiba saja mengangkat tangannya, menunjuk pintu keluar.
"cepat keluar sekarang juga." Ucapnya dingin.
"eoh? Kau berani mengusirku dirumahku sendiri?" ucapku tidak percaya akan kelakuan wanita ini.
"sebentar lagi ini akan jadi rumahku juga." Woah, benar-benar wanita yang tidak bisa dipercaya.
"tapi nanti, bukan sekarang. Saat ini, akulah pemilik tunggal rumah ini, dan itu termasuk juga kamar ini." ucapku tidak mau kalah.
Entahlah, biasanya aku tidak sekanak-kanakan ini pada siapapun.
Bahkan orang-orang yang mengenalku cenderung berkata bahwa aku adalah orang yang kaku.
Tapi bersama wanita ini, menjadi kekanak-kanakan terasa menyenangkan.
Karena ia selalu memberikan reaksi tidak terduga.
Dan aku selalu menantikan reaksinya.
"ish! Kim Mingyu! Kau benar-benar kekanakan! Cepat pergi sekarang, atau aku akan berkata pada ayah dan ibumu bahwa kau sudah mencoba untuk memperkosaku!" ancam Wonwoo disertai dengan tatapan matanya yang tak kalah tajam.
Aku Tersenyum dalam hati. Wanita ini benar-benar penuh kejutan.
"hmph. Katakan saja, paling mereka akan menikahkan kita minggu depan. Apa kau siap menikah secepat itu?" balasku tanpa menatap wajahnya, seolah aku tidak terbebani dengan ancamannya sama sekali.
Tetapi kemudian wanita itu tidak berkata apapun lagi.
Ia bahkan tidak bergerak sama sekali, hingga tiba-tiba ia beranjak dari kasur dan membawa serta bantal dan selimut.
"ya! Kau mau kemana?!" tanyaku keras, melihat ia berjalan menjauhi kasur yang sedang kutiduri.
"baiklah jika kau tidak mau pergi. Biar aku yang pergi." Ucapnya dingin.
Tapi wanita ini benar-benar tidak bisa diajak santai sedikit.
Aku akhirnya turut beranjak, dan berlari mengejar langkah Wonwoo yang sudah bersiap untuk tidur di ruang tamu.
"ya, ya! Baiklah! Baiklah! Aku pergi! Jadi, cepat kau kembali ke kamarmu!" teriakku, kemudian segera merampas bantal dan selimut yang ia peluk sedari tadi, dan mengembalikan mereka ke tempat asalnya.
Melihat Wonwoo yang masih betah berada di ruang tamu dan belum mengikutiku, aku segera kembali kehadapan wanita itu.
"tunggu apa lagi? Kau mau aku gendong sampai kesana?" tanyaku iseng, membuat ia mendecih dan memutar bola matanya malas.
Akhirnya dengan langkah yang dihentakkan secara sengaja, ia kembali ke kamar Minseo.
Aku baru akan masuk kembali ke kamarnya, namun Wonwoo dengan sigap segera berlari dan mengunci kamar tersebut, membuatku hanya bisa menggedor pintunya kasar.
"yaish! Awas kau, Jeon Wonwoo!"
"yak! Ingat! Besok kita pergi pagi-pagi sekali! jangan sampai kesiangan!"
"kalau besok kau belum bangun juga, aku tidak akan segan-segan membobol kunci ini dan menelanjangimu!"
Tidak ada jawaban dari dalam. Mungkin ia sudah lelah dan malas meladeni ocehan tidak jelasku, sehingga aku memutuskan untuk kembali ke kamarku sendiri.
"selamat malam, Wonwoo-ya. Tidur yang nyenyak."
.
.
.
.
Aku bangun pukul enam. Dan itu termasuk cepat untuk ukuran orang sepertiku yang sangat menyukai tidur.
Terlebih ini adalah akhir pekan. Namun perjanjian yang sudah kubuat dengan ayah dari bayi yang kukandung tidak bisa diingkari begitu saja.
Apalagi setelah kudengar ancamannya yang menjijikan semalam.
Menelanjangiku? Yang benar saja! Kim MIngyu itu benar-benar seorang dokter yang mesum, rupanya.
Namun seperti biasa, rutinitas pagiku pasti diisi dengan perut mual, serta kepala yang terasa seperti dibebani batu besar.
Sehingga setelah membersihkan diri, aku memutuskan untuk membuat segelas teh chamomile panas seperti yang pernah MIngyu buatkan untukku kemarin.
Namun alangkah kagetnya, saat aku tengah berjalan menuju pantry, kulihat siluet tinggi tegap, sedang menggoyang wajannya dengan cekatan, seolah ia adalah seorang master chef.
Sepertinya ia menyadari keberadaanku, karena ia segera membalikan tubuhnya.
Perlu kuakui, ia seperti dewa matahari di mitologi kuno Yunani yang menjelma menjadi manusia dengan wajah orang Korea.
Senyumnya yang lebar ia sunggingkan saat ia melihatku disana, dibelakangnya.
Terlebih tubuhnya yang atletis dan kekar, kini tengah dibalut sebuah apron hitam, membuatku semakin tidak bisa mengalihkan pandangan dari sana.
Well, aku suka pemandangan indah, dan aku dengan jujur akan mengatakan bahwa MIngyu di pagi hari adalah sebuah pemandangan indah.
"oh! Selamat pagi, eomma!" sapanya dengan suara yang kelewat ceria.
"eomma?" tanyaku padanya.
"eum. Uri aegy eomma." Ia menjawab sesaat, namun tanpa menatapku sama sekali, karena ia kembali sibuk dengan wajan panasnya.
"jangan berkata begitu, Mingyu. Bagaimana kalau kau keceplosan dan salah satu keluarga kita mendengar?Kau sendiri kan yang bilang tidak mau mengakui hal itu?" nasehatku padanya.
Aku kemudian duduk di meja makan yang berada dekat dengan pantry.
MIngyu terkekeh, kemudian membalas ucapanku.
"hanya ada kita berdua disini. Apa yang kau takutkan?"
"lagipula kau belum membalas sapaanku."
Aku hanya menghela nafas dan memutar bola mataku jengah, masih tidak mengerti dengan pola tingkah aneh calon suamiku ini.
"yah, selamat pagi Mingyu." Ucapku.
Tidak se-cheesy yang Mingyu ucapkan, namun sepertinya pria itu sudah cukup senang, karena bisa kulihat ia menganggukkan kepalanya.
Tidak lama kemudian, hasil masakan yang ia buat sudah terhidang di meja makan kami.
Dua mangkuk sup sapi, nasi putih, omelette, serta beberapa makanan pendamping khas korea lainnya.
Jujur saja, masakan Mingyu benar-benar terlihat menggugah selera. Penampilannya tidak buruk sama sekali, mengingat ia adalah seorang pria.
Aku menatapi masakannya dengan mata berbinar. Tiba-tiba saja mualku hilang, berganti dengan selera makan di pagi hari yang sudah tidak pernah muncul lagi semenjak kehamilanku beberapa minggu yang lalu.
Mingyu baru saja akan duduk disampingku, namun urung ia lakukan, dan malah kembali ke pantry, dan terlihat sibuk dengan sesuatu.
Ternyata pria itu tengah membuatkan aku satu pot teh chamomile yang tadi aku inginkan.
Aku benar-benar bahagia saat melihat MIngyu membawa pot teh tersebut. Seolah ia adalah dewa ditengah badai besar.
"minum ini dulu, agar mualmu sedikit hilang." Ucapnya pelan.
Segera saja kuteguk teh yang ia tuangkan kedalam cangkirku dengan senang hati, dan kemudian aku menganggukkan kepalaku dengan riang, naik dan turun.
"terima kasih tehnya." Ucapku riang. Aku benar-benar membutuhkan itu. Dan ia datang disaat yang tepat.
"hmm.. kelihatannya enak.." pujiku dengan sepenuh hati saat melihat semua hasil karya pria itu, yang mana berhasil membuat wajahnya sedikit memerah.
Kuambil semangkuk nasi, dan kuberikan pada Mingyu.
"kau tidak makan?" tanyanya dengan nada aneh.
"aku makan."
"setelah kau makan." Ucapku sambil terus mengambilkan beberapa lauk keatas piring Mingyu.
Pria itu mendengus, membuatku segera menatap matanya.
"kau takut aku racuni? Tenang saja, makanan ini aman. Lihat, aku akan memakannya dengan lahap." Ucapnya dengan nada jengkel.
Ck, ternyata pria ini salah paham.
Kuangkat sebelah alisku tinggi-tinggi.
"ya." Panggilku padanya.
"memangnya salah kalau seorang calon istri mengambilkan calon suaminya makanan? Aku tahu, bukan aku yang memasak ini semua. Aku sama sekali tidak bisa memasak."
"tapi setidaknya, biarkan aku melakukan hal kecil ini untukmu, oke? Jangan berprasangak buruk seperti itu padaku, bisa?" ucapku dengan nada sarkastik.
Jujur saja, setelah aku merasa sangat berterima kasih pada pria ini, aku kembali dibuat kesal olehnya.
Namun sepertinya ucapanku cukup mengena di hatinya, karena ia segera menatapku dengan tatapan bersalah.
"ah, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti hatimu.."
Kuangkat tanganku dihadapannya.
"sudah, aku mengerti. Baiklah kalau begitu, ayo cepat kita sarapan." Ucapku mengakhiri suasana tidak enak dipagi hari ini.
Aku tidak pernah memakan nasi saat dipagi hari, sehingga aku hanya mengambil omelette dan sup sapinya saja.
Namun itu saja sudah berhasil membuatku ketagihan.
Aku tidak tahu bagaimana cara Mingyu membuatnya, namun hanya dengan omelette sederhana, entah kenapa rasanya sangat nikmat.
Benar-benar tiada taranya.
Bahkan satu piring omelette tersebut aku yang menghabiskannya.
"apa kau selapar itu, Wonwoo-ya?" tanya MIngyu sambil menatapku dengan pandangan aneh.
Aku benar-benar tidak bisa berhenti menggigiti omelette tersebut. Ini benar-benar nikmat!
Kelak suatu hari nanti, jika kami sudah menikah, omelette akan menjadi menu wajib setiap hari yang harus selalu ada di meja makan kami.
"MIngyu, harus Kuakui, omelette buatanmu benar-benar jjang!" ucapku sambil mengangkat kedua jempolku tinggi-tinggi.
"kau terlalu berlebihan. Ini hanya omelette biasa saja."
"tidak! Ini benar-benar nikmat.."
"Mingyu…" ucapku memanggil namanya dengan nada manja, seolah ber-aegyo.
"ayo buatkan lagi. Untuk bekal perjalanan kita nanti. Eoh?" rengekku padanya, membuat ia mengangkat alisnya tinggi.
"ck ck ck, wanita hamil seharusnya makan sesuatu yang menyehatkan! Kali ini saja kuturuti mau mu, ya! Besok kau harus makan sesuatu yang sehat demi anakku yang berada didalam perutmu!" oceh Mingyu, kemudian segera bersiap untuk membuat banyak omelette lagi untukku.
"eyy.. memangnya ini anaknya saja? Ini anakku juga!" sungutku, entah ia bisa mendengarnya atau tidak.
.
.
.
.
Kulirikkan mataku menatap tadi kuperhatikan gadis ini tidak berhenti mengunyah. Apa ia selapar itu?
"hei, apa kau masih lapar?" tanyaku sambil menatapnya saat lampu merah sedang menyala.
"molla. Tapi rasanya aku tidak bisa berhenti makan." Jawabnya acuh sambil menusuk satu buah lagi omelette yang tadi pagi kubuat.
"Mingyu, perlu kuakui, masakanmu benar-benar hebat." Puji Wonwoo sambil terus menggigiti kecil potongan telurnya.
"benarkah? Baguslah kalau begitu.." ucapku pelan.
Jujur saja, pujian Wonwoo terdengar sangat menyenangkan di telingaku.
Hey! Siapa yang tidak suka dipuji?
"eum! Jika suatu saat nanti rumah sakitmu harus ditutup, ayo kita buat restaurant saja!" ujar Wonwoo sambil terkikik kecil.
Aku hanya menggelengkan kepalaku mendengar celotehannya yang aneh itu.
Satu hal lagi yang kini kukeahui tentang Wonwoo.
Ia dan bayi-nya – ehm,maksudku, bayi kami. Akan menjadi sangat tenang dan dalam mood yang bagus jika diberi makan yang enak.
Well, bukan pekerjaan sulit.
Aku mampu memberikannya dengan mudah, dan aku harus berterima kasih kepada kedua orang tuaku yang selalu meninggalkanku dimasa mudaku sehingga aku harus terbiasa memasak sendiri.
"apakah seenak itu?" ucapku, lalu mencoba untuk mengambil sepotong omelette yang tersisa di kotak makan yang Wonwoo pangku.
"plak!"
Wonwoo memukul tanganku yang sedang berusaha menggapai harta karun wanita tersebut.
"yaish! Itu milikku!" omel Wonwoo, lalu segera menusuk omelette terakhir tersebut, dan memasukkannya kedalam mulutnya.
"ya! Kau ini pelit sekali! lagipula kau pikir memangnya siapa yang membuatnya!?" cecarku padanya, membuat ia memasang tampang tidak peduli.
"eyy.. kau ini perhitungan sekali! lagipula, memangnya anak siapa yang aku beri makan didalam sini?" Wonwoo kemudian menunjuk perutnya yang seolah belum ada tanda kehidupan disana.
"iya! Iya! Aku mengerti! Dasar cerewet!" aku akhirnya mengalah dan kembali menjalankan mobil karena lampu sudah hijau.
"hei, kita sudah sampai di Changwon. Tapi bagaimana jalan menuju rumah keluargamu?" tanyaku, karena aku sama sekali tidak mengetahui daerah Changwon.
"disana, lurus, lalu belok kiri. Sepuluh menit lagi juga sampai." Tunjuk Wonwoo pada sebuah pertigaan jalan.
Aku menganggukkan kepalaku, dan menyuruh Wonwoo menjadi navigator dadakan.
"cha! Rumah dengan gerbang coklat disana! Itu rumahku!" tunjuk Wonwoo dengan bersemangat.
Wanita ini kelihatan sangat senang kembali pulang ke rumah orang tuanya, membuatku sedikit mengulum senyum.
Entahlah, mungkin karena kesibukan pekerjaannya, ia jadi jarang pulang kemari.
Segera setelah aku memarkirkan mobilku di pekarangan rumah Wonwoo, wanita itu segera berhambur keluar tanpa menghiraukan keberadaanku.
"eomma!" teriaknya dengan suara yang sangat kencang.
"aigooyaa.. uri ddal!" sapa nyonya Jeon tidak kalah riang saat menemui anak perempuan mereka.
Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki paruh baya yang jangkung, dan pria muda dengan rambut berwarna abu-abunya.
"appa! Boohyuk-ah!"Wonwoo memeluk mereka satu persatu.
Oke, mungkin wanita ini terlalu mendramatisir, karena ia berlebihan sekali.
Setelah mereka menghabiskan waktu untuk melepas rindu selama beberapa saat, akhirnya ada seseorang yang menyadari kehadiranku.
"eoh? Wonwoo-ya, siapa dia?" tanya nyonya Jeon.
"ah.. benar, aku sampai lupa. Kemarilah, perkenalkan keluargaku!" ucap Wonwoo riang sambil menggoyangkan tangannya, memanggilku.
Aku berjalan perlahan kearah mereka, langkahku sedikit berat seiring dengan tatapan mematikan yang dilayangkan oleh kedua orang pria Jeon ini.
"kalian duduklah, aku akan menyiapkan minuman bersama eomma!" ucap Wonwoo, kemudian pergi begitu saja tanpa mengindahkan kegugupanku.
Kami duduk di ruang tamu rumah Wonwoo.
Dengan urutan duduk yang sangat tidak mengenakkan.
Tuan Jeon, dan seorang pria muda dengan rambut grey yang sepertinya bernama Boohyuk ini duduk berhadapan denganku, dengan melipat tangan mereka didepan dada.
"jadi… siapa kau?" tanya Boohyuk.
"EKHEM!" tuan Jeon berdeham, kemudian menatap mata anaknya tajam.
Well, kini aku tahu darimana Wonwoo mendapatkan mata tajam seperti rubah seperti itu. Tentu saja itu pemberian ayahnya.
"anakku, apa yang kau ucapkan pada tamu kita?" tanyanya dengan nada tegas, membuat Boohyuk sedikit menunduk dan meminta maaf.
Tuan Jeon kemudian kembali menatapku.
"jadi, ada perlu apa kau kemari, dan apa hubunganmu dengan putriku?"
Shit! Kupikir tuan Jeon akan bersikap lebih baik daripada Boohyuk! Namun ternyata, ia bahkan lebih parah daripada putranya itu!
Kukepalkan kedua tanganku yang tengah berada diatas lutut.
Kalau boleh jujur meskipun ini memalukan, aku merasa cukup gugup.
Ini adalah pertama kalinya aku berhadapan dengan keluarga pasanganku! Tentu saja ini perdana, sehingga aku nervous!
Namun aku kembali mendapatkan ketenangan dalam diriku.
Berpuluh-puluh kali aku menghadapi pasien yang nyaris sekarat, dan meregang nyawa, tapi hanya karena ini, aku harus merasa gugup? No way! Itu bukan Kim Mingyu sekali!
Akhirnya aku mampu mengembalikan senyum di bibirku.
"ah, perkenalkan.. namaku – "
"ini dia minumannya!" sapa nyonya Jeon dengan suara lembut, membuatku menoleh pada wanita itu.
Dan dapat kusaksikan Wonwoo yang tengah berdiri dibelakangnya sambil membawa satu buah piring berisi cemilan.
Akhirnya nyonya Jeon duduk disamping tuan Jeon, dan Wonwoo duduk disebelah kiriku.
Aku kembali berdehem untuk menyita kembali perhatian mereka.
"ekhem – perkenalkan, namaku Kim MIngyu.."
"tujuanku kemari adalah.."
Kuraih tangan kanan Wonwoo dengan tangan kiriku, kemudian mengangkatnya agak tinggi, sehingga mereka bertiga bisa melihatnya.
"ingin meminta restu pada kalian, untuk menikahi Wonwoo."
.
.
.
.
Kalau boleh kukatakan, ini adalah salah satu momen paling memalukan yang pernah terjadi dalam hidupku.
Semua anggota keluargaku yang tengah berada disini menatap kami bingung, terutama pada tautan tangan yang tidak MIngyu lepaskan, bahkan setelah aku meronta, meminta untuk dilepaskan.
Kudengar appaku sedikit mendengus.
"hmph! Anak muda, memangnya apa yang kau punya?" tanyanya seolah meremehkan MIngyu.
Aku sesungguhnya tidak mengerti dengan isi pikiran ayahku.
Aku tahu jelas, bahwa dilihat dari perawakannya, Mingyu adalah tipe menantu idaman Nya. Tinggi, jantan, tidak terlihat suka merawat dirinya terlalu berlebihan – ehm, maksudku, tipe pria metroseksual.
Kalian tahu, kan? Maksudku?
Tapi entahlah, mungkin ia hanya ingin menguji Mingyu saja?
"ah, saya memang belum memiliki apapun diusia saya sekarang, tapi.."
Mingyu menghentikan ucapannya seraya ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam kantung jasnya, dan memberikan itu pada appaku.
Saat itu juga, aku bisa melihat dengan jelas kilatan mata Boohyuk yang terlihat kagum, dan anggukan kepala eomma yang terlihat senang.
"woah.. hyung, apa benar kau adalah seorang dokter bedah? Itu sangat keren, hyung!" see? Boohyuk bahkan sudah memanggil pria ini dengan sebutan hyung sekarang, seolah mereka sudah berteman lama.
Namun ada satu hal yang janggal.
Appaku bahkan tidak terlihat terkesan sama sekali.
Dan sepertinya bukan hanya aku yang menyadari hal tersebut, karena eomma juga sadar akan hal itu.
"aigoo.. Yeobo, lihatlah. Kekasih uri Wonwoo adalah seorang dokter bedah! Bukankah itu hebat? " ucap eommaku berusaha menyanjung Mingyu pada appa.
Dan reaksi yang diberikan appaku hanyalah deheman pelan.
"yah... " ucapnya menggantung.
Sungguh, jika dibandingkan dengan sambutan hangat yang diberikan keluarga Mingyu padaku, aku merasa sangat tidak enak pada Mingyu.
Bisa dibilang, appaku benar-benar dingin pada Mingyu. Entah mengapa.
Aku mengencangkan genggaman tanganku pada Mingyu, yang mana segera membuat pria itu menoleh padaku dan tersenyum tipis.
Lalu pria itu menggerakan bibirnya, seolah berkata bahwa ia baik-baik saja.
Aku memicingkan mataku pada appa, berusaha menyampaikan padanya bahwa sikapnya sama sekali jauh dari kata baik.
Dan ia hanya mengalihkan pandangannya dariku, membuatku semakin kesal.
Untungnya eomma dan Boohyuk berhasil membuat keadaan setidaknya menjadi sedikit lebih baik, sehingga Mingyu tidak merasa terlalu diacuhkan, karena mereka berdua benar-benar antusias menyambut kehadiran Mingyu.
Tiba-tiba saja adikku itu mendapatkan sebuah telefon dari pembina klub basketnya, bahwa hari ini akan diadakan latihan untuk menyambut pekan olahraga, sehingga dengan sangat terpaksa, Boohyuk harus pergi meninggalkan kami, hanya aku, MIngyu, eomma dan appaku.
.
.
.
.
Aku tak tahu sejak kapan, namun kini hujan sudah turun sangat deras. Langit yang beberapa jam lalu masih berwarna biru itu pun kini sudah berubah seutuhnya menjadi warna kelabu.
Bahkan petirnya terdengar sangat mengerikan dari sini.
Namun itu belum apa-apa dibandingkan suasana tidak enak yang sedari tadi melingkupi ruang tamu keluarga Wonwoo ini.
"ah, MIngyu. Bagaimana ini? Hujannya sangat deras. Bagaimana kita bias pulang?" Tanya Wonwoo sambil terus memandangi jendela.
Aku turut menatap jendela. Dan saat kulihat kedepan, tanahnya bahkan sudah banjir setinggi mata kaki orang dewasa.
"ah, maklum. Daerah ini memang rendah, jadi jika turun hujan sedikit saja, pasti banjir." Jelas nyonya Jeon padaku, membuatku menganggukkan kepala tanda mengerti.
"oh iya! Bagaimana jika malam ini kalian menginap saja? Besok masih akhir pekan, bukan? Besok barulah kalian pulang ke Seoul!" nyonya Jeon menyampaikan sarannya dengan sangat antusias, membuatku dan juga tuan Jeon menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
"menginap?!" seru tuan Jeon.
"ah, itu tidak perlu, eomoni.. kami bias pulang nanti setelah hujannya sedikit reda. Kami tidak ingin merepotkan kalian.." ucapku penuh dengan nada sungkan.
"eyy.. merepotkan apanya? Kalian adalah anakku, mana mungkin aku merasa kerepotan."
"yeobo, biarkanlah mereka menginap disini, eoh? Kasihan sekali, hujannya tidak tahu kapan berhentinya. Bisa jadi sampai malam. Jadi biarkan saja, oke?" bujuk nyonya Jeon pada suaminya yang hanya dibalas dengan tatapan aneh.
Aku menatap Wonwoo.
Aku tahu, jauh didalam lubuk hatinya, ia sangat ingin menginap di rumah orang tuanya. Namun bukannya aku tidak ingin melakukannya, tapi melihat bagaimana tuan Jeon yang sepertinya tidak menyukaiku, hal itu bukanlah ide yang bagus.
"yasudah. Tapi hanya satu malam." Ucap tuan Jeon tiba-tiba membuatku segera menatapnya.
Dan ia segera pergi dari sana setelah mengatakan hal tersebut.
Ternyata benar perkataan nyonya Jeon. Karena hujannya tidak juga reda, bahkan hampir setelah tiga jam ia menumpahkan air keatas bumi.
"JEDERRRRR!"
"BYAR!"
"PET!"
"kyaaaa!"
"aigooya! Eomma eotohke?"
Sebuah petir yang sangat besar baru saja terjadi. Dan sepertinya petir tersebut menyambar aliran listrik rumah ini, sehingga listriknya mati total.
Nyonya Jeon dan putrinya, Wonwoo, segera saja menjadi heboh.
Sepertinya kedua orang itu tidak menyukai kegelapan, sehingga ia segera merengek pada tuan Jeon untuk melakukan sesuatu.
"appa! Lakukan sesuatu!"
"ne! Yeobo! Cepat perbaiki listriknya, aku takut!" rengek nyonya Jeon dan Wonwoo bersamaan membuat tuan Jeon menghela nafas lelah.
"ya, ya, baiklah!" tuan Jeon kemudian pergi untuk bersiap. Ia menggunakan jas hujannya, mengambil sebuah tangga, serta perkakas lainnya yang sekiranya diperlukan.
Jujur saja, aku merasa sedikit tidak tega pada tuan Jeon. Di usianya yang paruh baya ini, ia harus membetulkan sendiri aliran listrik yang bermasalah, apalagi di cuaca ekstrim seperti ini, yang pasti menjadi dua kali lipat lebih berbahaya.
Akhirnya, sebagai satu-satunya lelaki yang tersisa dirumah ini, aku berinisiaf untuk membantunya.
Bukan karena aku ingin mengambil hatinya agar direstui menikah dengan Wonwoo.
Namun murni karena aku ingin membantunya.
Aku akhirnya beranjak dari dudukku, dan memanggilnya.
"abeoji."
"biarkan aku membantumu."
TBC
Aaahh.. Jeongmal mianheeeee... Aku post ulang chap ini karena kemarin byk yang review kalo kalimatnya susah dimengerti..
Ternyata setelah ku check ulang, banyak kata yg kepotongg... Jadilah harus ku edit lagi dan repost.
Salahku sih ngga double check kemarin.
Pokoknya maaf ya! Lain kali akan kuusahain hal kyk gini ga terjadi lagi. Mian :(((
Aku juga lagi berusaha buat ngejar update ff yg lain, jadi doain ya! Pokoknya begitu ff lain ud selesai kutulis, pasti langsung diupdate kok!
Maaf sebelumnya kalau tulisanku mengecewakan. Makasih udah mau meluangkan waktu untuk membaca.
Review juseyoo
See you on next chapter!
