Disclaimer : Vocaloid not mine
Mikuo terbaring di lantai dingin rumahnya. Kepalanya pusing dan badannya panas.
Tugas akhir kuliah yang ia kerjakan semalaman berdiri dengan indah di meja kerjanya. Ia tersenyum puas, namun tak lama karena rasa nyeri kembali menyerang kepalanya.
Mikuo butuh istirahat.
"Hahh.." Mikuo memaksakan diri untuk bangkit dan mengambil sapu, membersihkan potongan kertas dan tumpahan lem yang mengotori lantai. Lalu ia menuangkan pewangi lantai dan mengepel bersih keramik itu hingga licin. Dalam hitungan menit, ruang kerja Mikuo sudah terlihat apik.
Sebenarnya Mikuo tidak seperti kabar yang tersiar di gosip kampus: anak orang kaya yang manja. Tentu saja Mikuo tahu sumber pemberitaan buruk tentang dirinya. Dan anehnya, ia malah 'menyimpan' bocah itu sebagai koleksi berharga.
...membicarakannya saja sudah membuat Mikuo kepikiran. Apa bocah itu tidur cukup? Apa dia malah membusuk di tempat tidur tanpa ada yang membangunkan? Atau dia terlalu sibuk dengan tugas kuliahnya sampai lupa bahwa kulit pucat itu butuh asupan?
Tanpa berpikir dua kali, Mikuo menekan serangkaian tombol telpon, dan menunggu dering hingga suaranya terhubung ke rumah Len.
"H-halo?"
"Oi Len," panggil Mikuo. Namun ia tak melanjutkan kalimatnya karena mendengar suara aneh dari seberang sana. Len cekukan, deru napas tak terkontrol dan sesekali terdengar bunyi mengutuk nama Mikuo.
Pemuda berambut hijau toska itu mulai khawatir. "Len. Kau kenapa?" katanya. Kalimatnya bagai mantra, memaksa sekaligus menenangkan di telinga Len.
Mikuo memberi waktu Len untuk mengongontrol diri. Setelah angka detik terus bertambah di layar telepon, akhirnya Len menjawab, "akhirnya.. K-kau menelpon,"
Mikuo menaikkan sebelah alis. "Apa aku mengganggu hari liburmu?" tanyanya.
Len tergagap. "T-tentu tidak! Tidak sama sekali!"
Mikuo memang atasannya Len, namun bukan berarti ia tidak mengenal pemuda bersurai kuning itu. Mereka telah bersama selama beberapa tahun, sejak Len kecil hingga saat ini. Walau Len bukan orang terjujur yang pernah ia temui, Mikuo tahu beberapa hal yang pasti.
"Len," panggil Mikuo. "Aku tidak enak badan. Cepat kesini sekarang juga," lanjutnya, dibalas dengan suara Len yang sepertinya terkejut.
"A-aku akan segera kesana!" kata Len sedikit panik, tidak ada nada keberatan saat mengatakannya. Hahaha, imut sekali bocah itu.
"Dan jangan bawa apapun kesini. Cukup bawa tubuhmu saja," lanjut Mikuo sebelum Len memutuskan sambungan.
Mikuo terkekeh, lalu berjalan ke dapur, mengabaikan rasa pusing dan pegal sekujur tubuh. Kalau ia tidak memasak, ia yakin Len tidak akan makan.
Sepertinya Mikuo terlalu memanjakan Len selama ini.
