TITLE :One Night Stand
GENRE :Romance, Drama
RATING :M
CAST :Wonwoo (GS), Mingyu
DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.
SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .
This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))
.
.
.
.
Tuan Jeon menatap mataku dengan matanya yang tajam.
Ia terus saja menlihatku mulai dari atas kepala hingga bawah kaki.
Kenapa? apa ada yang salah denganku?
Hei, hanya karena aku berpakaian seperti pria metroseksual hari ini, bukan berarti aku tidak bisa melakukan hal yang berbahaya.
Ah, dan satu lagi yang perlu diingat.
Yang menyuruhku menggunakan pakaian ini tadi pagi adalah Wonwoo.
Ia menerobos masuk kedalam kamarku, mengobrak-abrik isi lemariku, kemudian dengan sesuka hatinya mengeluarkan pakaian yang menurutnya harus kukenakan kesini.
Yah, sebuah celana bahan berwarna khaki dan kemeja putih, disertai dengan blazer berwarna biru dongker adalah baju pilihan Wonwoo.
Jadi jangan salahkan caraku berpakaian, karena wanita itulah yang melakukannya.
Wonwoo menghampiriku, kemudian bertanya dengan suara pelan.
"apakah kau yakin?" tanyanya dengan raut wajah benar-benar sangsi.
Aku terkekeh. Sedikit tersinggung, sejujurnya.
Baik, mari kita buktikan.
"ehm. Sangat yakin. Bisa minta tolong pinjamkan aku satu buah jas hujan juga?" pintaku padanya, yang kemudian segera diangguki oleh wanita itu.
Tidak lama kemudian, ia datang dengan sepasang jas hujan berwarna kuning ditangannya.
"aigoo.. nak Mingyu, eomoni jadi merasa tidak enak hati padamu. Padahal kau tamu, tapi harus melakukan hal ini.." ucap nyonya Jeon padaku.
Aku hanya tersenyum, menanggapi ucapannya, dan berkata bahwa aku sama sekali tidak keberatan melakukan ini untuk mereka.
Akhirnya tanpa banyak bicara lagi, tuan Jeon segera pergi keluar, dan membuatku harus mengikutinya.
Ternyata petir menyambar beberapa saluran listrik yang berada di atap rumah Wonwoo, sehingga kami harus menaiki atap tersebut untuk menaikinya.
Tuan Jeon sudah mulai menaiki tangga tersebut menuju atap rumahnya.
Dan kalian tahu apa? Tangganya menjadi sangat licin karena hujan lebat yang sedang terjadi, membuatku mengeratkan pegangan sekuat-kuatnya.
Aku menaiki tangga tersebut setelah tuan Jeon, dan kulihat ia sudah mulai memperbaiki beberapa jaringan yang korslet.
Tidak sampai sepuluh menit, aliran listrik kembali menyala. Dapat kusaksikan lampu rumah yang kembali terang benderang, membuat tuan Jeon, dan tentu juga aku, merasa sangat puas.
Aku mempersilahkan tuan Jeon untuk turun lebih dulu, namun karena tangga yang sangat licin tersebut, tuan Jeon hampir saja jatuh dari atap rumahnya jika saja aku tidak sigap dan segera menarik pergelangan tangannya.
"ABEOJI AWAS!" teriakku penuh dengan kekagetan.
Bisa kurasakan dengan jelas, tangan besar milik tuan Jeon yang bergetar. Entah karena kedinginan akibat hujan, ataukah karena ia shock, bahwa ia nyaris sekarat.
Ia menatap mataku dalam. Wajahnya memutih, pucat pasi.
Bibirnya sedikit membiru. Ia bahkan tidak bisa mengucapkan apa-apa saking kagetnya.
Aku juga sama berdebarnya dengan orang ini. rasanya jantungku hampir loncat keluar jika aku terlambat sedikit saja.
Akhirnya setelah membantu tuan Jeon kembali pada posisi yang aman untuk menuruni tangga dengan selamat, aku turut menuruni tangga tersebut setelahnya.
Tuan Jeon masih keliahatan benar-benar shock, karena bisa kulihat dengan jelas, langkah kakinya yang gontai dan sedikit oleng.
Kami berdua masuk kedalam rumah, dan segera disambut oleh kedua wanita yang sedari tadi menunggu kami.
"yeobo! Ada apa? Tadi kudengar MIngyu berteriak." Tanya nyonya Jeon dengan nada khawatir.
"Mingyu-ya, ada apa?" tanya Wonwoo padaku, karena tuan Jeon tidak kunjung menjawab, dan malah meneruskan perjalanan menuju kamarnya.
"ah, itu – "
"Wonwoo! Cepat suruh Mingyu mandi dengan air hangat di kamarmu! Dan berikan ia pakaian milik Boohyuk!"
Baru saja aku ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada mereka, namun teriakan tuan Jeon yang menggelegar sudah terdengar dari dalam kamar, membuat kami hanya bisa terdiam dan menuruti perintah pria tua itu.
.
.
.
.
"ini." kuberikan sepasang baju hangat milik adikku, Boohyuk. Serta tak lupa juga handuk dan pakaian dalam.
Mingyu yang masih berada didalam kamar mandi menjulurkan tangannya, menggapai pakaian yang sedang kuberikan.
"ah, gomawo." Ucapnya dari balik pintu.
Tidak lama kemudian, MIngyu keluar setelah membasuh tubuhnya dengan air hangat.
Baju Boohyuk terlihat sedikit kekecilan di tubuh MIngyu, namun masih terlihat lebih baik daripada ia harus mengenakan baju ayahku yang sangat kebesaran.
Rambutnya yang lebat dan tebal menjuntai turun kebawah karena basah, dan aku segera mengambil handuk, lalu menyuruhnya untuk duduk dilantai, saat aku memposisikan diriku ditepi ranjang.
"ehm? Kenapa?" tanyanya heran.
"sudah, menurut saja."
Lagi-lagi, untuk kedua kalinya, aku melakukan hal ini pada Mingyu.
Mengeringkan rambutnya yang basah.
Kuseka terus bagian kepalanya dengan handuk yang tadi ia gunakan, hingga tak sadar bahwa gerakanku yang sedikit terlalu kasar membuatnya kesakitan.
"ya, pelan sedikit. Kau ini kasar sekali." ucapnya mengaduh.
"ups. Mian. Hehe." Ucapku.
Kalian mau tahu rahasiaku?
Sebenarnya aku memiliki sebuah hair dryer didalam lemari pakaianku, namun aku sengaja lebih memilih menggunakan handuk ini.
Entahlah, rasanya lebih menyenangkan saja jika melakukannya dengan tanganmu sendiri.
Suasana didalam kamar begitu hening, hanya ada suara usakkan rambut Mingyu yang bersentuhan dengan handuk.
Kami tenggelam dengan pikiran masing-masing, namun tiba-tiba pria aneh itu terkekeh.
"hmph.."
"wae?" tanyaku.
Aku sudah selesai mengeringkan rambutnya, dan kini beralih menyisir rambut lebat Mingyu menggunakan jari-jari tanganku.
"bagaimana ini? sepertinya appamu tidak menyukaiku."
"tapi kelihatannya anak perempuannya sudah sangat siap menjadi istriku." Ucapnya tiba-tiba, membuatku mengerutkan kening karena tidak mengerti dengan ucapannya.
"apa maksud – "
"yaish!" pekikku padanya, kemudian memukuli bahunya saat mengerti isi pembicaraan pria aneh itu.
"ya! Percaya diri sekali, eoh? Memangnya siapa yang mau menikah denganmu?!" ocehku tidak terima dengan perkataannya.
"eyy.. tentu saja kau. Memangnya siapa lagi yang sedang mengandung anakku, heum?" ucapnya menggodaku.
Aku mendelik mendengar ucapannya, segera saja kucubit dengan kencang pinggangya itu.
"ya! Appo!" ringisnya sambil terus mengelus pinggangnya.
Kulirik dengan tajam pria itu, kemudian kucubit lagi kedua pipinya yang sedikit gembul.
"itu hukuman untukmu! Kenapa mulutmu ini bawel sekali, eoh?! Kalau saja keluargaku sampai tahu kenyataan bahwa aku hamil duluan, aku pastikan, kau akan menjadi santapan empuk senapan milik appaku." Ucapku sambil berbisik, namun penuh dengan penekanan.
Ia berusaha melepaskan kedua tanganku dari pipinya dengan sekuat tenaga, namun aku msih terus saja mencubiti pipinya.
Namun saat kulihat pipinya yang sudah memerah, membuatku jadi tidak tega dan akhirnya melepaskan cubitanku.
"hmfh! Ah! Hahaha! Mian! Aku terlalu keras, ya?" aku meminta maaf padanya, namun sambil tertawa.
Ia terus saja merengut sambil mengelus kedua pipinya.
Aku terus meminta maaf, namun tidak juga digubris.
Kelihatannya ia benar-benar marah padaku.
Yah, wajar saja. Karena pipinya memang benar-benar memerah, membuatku tak ayal jadi merasa tidak enak.
"yaaah.. Mingyu, maafkan aku, ne?" ucapku, namun ia tetap tidak menjawab, bahkan kini mengalihkan pandangannya dariku.
"aahh.. MIngyu, eoh?" aku bahkan sedikit ber-aegyo saat ini!
Aku tidak menyerah, dan terus saja meminta maaf padanya.
Hingga akhirnya aku dengan sedikit memaksa, menarik kedua tangannya yang sedang mengelus pipinya itu, lalu meletakkan kedua telapak tanganku di pipinya.
Kuusap dengan lembut kedua belah pipinya. Aku bahkan sempat meniup sebentar telapak tanganku sebelum mengusap, agar memberikan kehangatan lebih.
"uunchh.. pria besar ini merajuk, eoh?"
"sakit, ya?"
"maaf ya.."
Perlu ditekankan sekali lagi! AKU BER-AEGYO!
Ah, sudahlah. Jangan ditanya dimana letak harga diriku saat ini. karena tadi saat aku bertekad untuk meminta maaf padanya, aku sudah meletakkan harga diriku didasar jurang.
Dengan gerakan memutar aku terus saja mengelus pipinya, membuat ia terdiam. Dan tidak melakukan apapun terhadap tanganku yang berada di pipinya.
Dilihat dari jarak sedekat ini, ia benar-benar tampan. Meskipun aku tahu bahwa ia tampan, tapi tak kubayangkan bahwa ia ternyata memiliki sisi lain yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Ia menatap mataku, dan pikirannya seolah focus pada gerakan tanganku di pipinya.
Ia terlihat jinak, namun juga sedikit angkuh, dan jahil tentunya. Persis seperti kucing.
Dan aku suka kucing.
.
.
.
.
deg. deg.
shit, apakah itu suara jantungku?
Jantungku benar-benar berdegup dengan sangat kencang. Kuharap Wonwoo tidak bisa merasakannya.
Terutama saat tadi ia meletakan tangannya diatas pipiku.
Apakah ini karena reaksi sentuhan Wonwoo, ataukah pergerakan yang telapak tangan Wonwoo lakukan?
Kenapa pipiku terasa panas? Kuharap wajahku tidak memerah.
Kuperhatikan lamat-lamat perempuan yang lebih pendek dariku beberapa cm ini.
Aku tahu ia cantik, namun saat ini aku merasa kecantikannya bertambah berkali-kali lipat.
Apakah karena factor kandungan?
Aku pernah membaca sebuah artikel tentang ibu yang sedang hamil akan terlihat lebih mengeluarkan aura. Apakah itu benar?
Yah, sepertinya. Karena rasanya aku tidak bisa menahan diri untuk menarik sudut bibirku keatas.
Kutangkupkan tangan Wonwoo yang sedang berada diatas pipiku.
"sudah cukup." Ucapku pelan.
"eh?"
"sudah tidak sakit lagi?" tanyanya lembut.
Aku mengalihkan pandanganku, tak kuasa menahan senyuman jika terus menatapi wajah manis perempuan ini.
"tidak."
Bisa kudengar helaan nafas Wonwoo. Entahlah, kenapa ia sepertinya terlihat kecewa?
"ey.. kamu masih marah, eoh? Maafkan aku , ya? Aku kan hanya bercanda.." ucap Wonwoo benar-benar dengan suara yang mengalun.
Deg.
Lagi-lagi jantungku dibuat seakan meloncat keluar.
Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah, aku mendengarnya memanggilku dengan sebutan 'aku-kamu' seperti itu.
Seolah kami sudah dekat.
Tapi aku tidak keberatan.
"tidak, aku –"
"EKHEM!"
Baru saja akan mengatakan pada Wonwoo bahwa aku sudah tidak marah padanya, namun tiba-tiba tuan Jeon sudah berada di depan pintu kamar Wonwoo entah sejak kapan.
Aku segera gelagapan, dan dengan panic kuletakkan tangan Wonwoo yang sedari tadi sedang kugenggam.
"kalian berdua, ikut aku." Ucap tuan Jeon mutlak, membuat kami wajib menuruti ucapannya.
Kami kembali duduk berkumpul di ruang keluarga.
Hujan masih turun, namun tidak sederas barusan.
Aku duduk berhadapan dengan tuan Jeon, sedangkan Wonwoo disisiku.
"ehem! Jadi maksud kedatanganmu kemari adalah, ingin menikahi Wonwoo-ku? Begitu?" ucap tuan Jeon dengan nada yang sangat tegas.
Tuan Jeon adalah mantan kepala kepolisian, sehingga ia terbiasa untuk bersikap tegas, dimanapun, kapanpun, pada siapapun.
Dan aku tidak boleh menjadi orang yang lembek untuk menghadapi orang seperti tuan Jeon.
"ye, anda benar. Saya kemari karena ingin meminta restu dari tuan dan nyonya Jeon sebagai orang tua Wonwoo." Ucapku tak kalah tegas.
Mataku menatap lurus pada tuan Jeon yang juga memandangiku dengan matanya yang tajam.
Setelah beberapa menit penuh penantian yang menyesakkan, akhirnya tuan Jeon kembali berucap, yang mana segera mendatangkan sorak senang dari nyonya Jeon.
"baiklah. Jaga putriku baik-baik." ucapnya.
Tadinya aku tidak percaya pada ucapannya, namun saat nyonya Jeon berkata pada Wonwoo bahwa sebentar lagi ia akan menikah, barulah aku sadar.
Aku sudah berhasil mendapatkan restu tuan Jeon.
"appa, terima kasih." Ucap Wonwoo pelan. Ia menundukkan kepalanya, berusaha memberi hormat.
"terima kasih banyak, abeoji. Saya berjanji akan menjaga Wonwoo." Ucapku turut memberi hormat.
"heum."
"kau tahu? tadinya aku tidak ingin merestui kalian, namun setelah kejadian barusan, aku akhirnya tahu bahwa Mingyu adalah orang yang cakap untuk menjadi calon suamimu." Ucap tuan Jeon membuatku menggaruk tengkukku sungkan.
"ah, tidak seperti itu, abeoji. Membantu sesama adalah tugas setiap manusia." Ujarku berusaha merendah.
"heum? Kejadian apa, yeobo?" tanya nyonya Jeon penasaran.
Tuan Jeon menatap istrinya, kemudian menghela nafas.
"kau tahu? kau hampir menjadi janda karena kehilangan suamimu."
"yeobo! Kau ini bicara apa!" protes nyonya Jeon akan ucapan suaminya yang kurang menyenangkan.
"aku serius. Jika bukan karena MIngyu, aku pasti sudah duduk dihadapan malaikat pencabut nyawa sekarang." Tuan Jeon kembali melanjutkan ucapannya.
"memangnya tadi appa kenapa?" kini Wonwoo yang penasaran. Ia bahkan menatapku heran.
"tadi ayah terpeleset dan hampir saja jatuh dari atap. Jika Mingyu terlambat sedikit saja menarik appa, maka Wonwoo harus menikah dengan dihadiri wali."
Nyonya Jeon segera menutup mulutnya karena kaget akan hal ini.
Ia segera menghambur dan memeluk suaminya erat.
"aigoo! Yeobo! Untunglah kau selamat! Aigooya! Aku tidak tahu harus bagaimana jika kau sampai meninggalkanku!"
"Mingyu! Eomma sangat berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan appanya Wonwoo! Astaga! Jika saja saat itu tidak ada MIngyu! Aku tidak tahu lagi harus bagaimana."
Aku hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan nyonya Jeon.
Wanita paruh baya itu masih terus saja memeluk suaminya dengan sangat erat, seolah ia takut kehilangan.
Tuan Jeon yang sedari tadi terlihat keras pun akhirnya menunjukkan sisi lembutnya.
Ia mengelus dengan pelan punggung nyonya Jeon tanpa henti, dan berkata dengan lembut bahwa sekarang ia baik-baik saja.
Kedua manusia ini, saling mencintai dengan dalam.
Kulirik Wonwoo yang sedari tadi duduk disisiku. Ia diam saja, namun aku tahu dari raut wajahnya, ia merasa sangat lega dan bersyukur.
Membuatku juga jadi ingin merasakannya.
Mencintai, dan dicintai dengan dalam…
.
.
.
.
Aku masih menemani Mingyu duduk di bangku teras taman belakang rumahku.
Hujannya sudah berhenti , namun karena itulah cuaca menjadi sangat dingin.
Angin berhembus dengan kencang, dan terkadang membuat dedaunan yang basah bergoyang, membasahi tubuh kami pula.
"Wonwoo, cuacanya dingin. Masuklah." Ucap MIngyu padaku yang masih asik melihat langit Changwon yang sangat indah, tidak seperti di Seoul yang penuh dengan polusi.
"tidak, aku masih betah begini."
"lagipula kau sendiri bagaimana? Bukankah kau lebih kedinginan? Pakaianmu itu tipis." Ucapku berusaha menasehatinya.
Mingyu hanya menatap kebawah, memperhatikan pakaiannya, kemudian tetawa.
"haha, tapi aku ini lelaki." Ucapnya random.
Aku tidak mengerti.
"hah? Lelaki atau perempuan, bukankah sama saja? Kau bisa merasakan kedinginan jika menggunakan pakaian tipis. Alasanmu itu aneh sekali." ucapku sambil sedikit mengejeknya.
Kemudian aku teringat kejadian tadi sore, saat appaku bercerita bahwa Mingyu telah menyelamatkan nyawanya.
"um, mingyu-ya…" panggilku pelan.
Ia segera menolehkan kepalanya padaku, dan mengangkat kedua alisnya, seolah ia sangat penasaran akan ucapanku.
"tadi sore… terima kasih." Ucapku sambil menundukkan kepala.
Entahlah, aku hanya malu. Aku tak kuasa menatap matanya.
"untuk apa?" tanyanya dengan nada heran.
"ya, tentu saja karena sudah menyelamatkan appaku. Sungguh, aku sangat berterima kasih padamu akan itu."
Kuangkat kepalaku, dan kudapati Mingyu yang tersenyum menatapku, dan mengulas senyum tipis.
"ya, sama-sama."
"meskipun kau tidak perlu berterima kasih padaku karena sudah menyelamatkan keluaragaku sendiri." Ucapnya lagi.
Kuangkat alisku karena tidak mengerti ucapannya.
"hei, sekarang keluargamu adalah keuargaku juga, bukan? sebentar lagi kita akan menjadi sebuah keluarga."
Ah, ternyata itu maksud ucapannya..
Aku akhirnya tersenyum dan menganggukan kepalaku.
Udara dingin terus saja berhembus, sehingga akupun menggosokkan kedua telapak tanganku.
"dingin?" tanya Mingyu yang melihat aksiku ini.
Ku anggukan kepalaku pelan, dan tersenyum malu.
Lalu tiba-tiba saja pria ini menarik kedua tanganku, sehingga tubuhku menabrak dadanya.
Dan ia memasukan kedua tanganku kedalam saku hoodie yang ia kenakan.
Dengan tubuhku yang menempel pada tubuhnya, membuat ia dengan mudah mengelus pelan punggung serta pundakku.
"lebih baik?" tanyanya.
Kugigit bibirku saat mendengarnya menanyakan hal tersebut.
Astaga! Aku bisa mati Karena serangan jantung mendadak akibat perlakuan pria ini!
Kalau boleh jujur, jantungku berdebar tidak karuan. Dan karena tidak ingin MIngyu mendengar degup jantungku, segera saja kutarik tubuhku dari tubuhnya.
"ya, jangan coba mengambil kesempatan, tuan mesum." Ucapku.
Ia menatapku dengan aneh, kemudian terkekeh.
"eoh? Mengambil kesempatan apanya? Toh, lagipula kau istriku." Ucapnya dengan santai, dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"masih calon, kalau kau lupa."
Ia kembali menyeringai. Aku bahkan bisa melihat gigi taringnya dari sini.
Dan menurutku, itu terlihat sangat lucu.
"apa bedanya? Pada akhirnya kau akan menjadi istriku." Ucapnya lagi, bahkan tanpa menatap wajahku.
Aku mendengus. Pria ini sepertinya sedikit besar kepala karena aku telah bersikap baik padanya hari ini.
"tidak juga. Bagaimana jika aku memutuskan untuk tidak menikahimu?" ucapku menantangnya, membuat ia segera menatap mataku.
Dengan agak tajam.
Dan tiba-tiba saja ia menarik daguku. Meskipun tidak keras, namun membuatku cukup terkejut.
"tidak akan kubiarkan itu terjadi."
"akan kupastikan kau menjadi istriku. Anak-anakku akan memiliki ayah dan ibunya dengan lengkap."
Ucap MIngyu dengan nada pelan, namun tegas dan terkesan mutlak, tidak mau dibantah.
Aku hanya terdiam menatapnya, seolah semua energiku terserap hanya karena ia menatap mataku dengan dalam.
"cup."
Tiba-tiba saja Mingyu mengecup pelan bibirku.
Hanya sekejap. Hanya sekilas.
Namun cukup untuk membuat peredaran darahku berhenti hingga di pipi.
Bisa kurasakan pipiku memanas. Wajahku pasti semerah tomat sekarang.
"kau masih ingat taruhan kita dulu?"
"soal siapa yang lebih dulu mencintai siapa?"
"sebaiknya kau bersiap dari sekarang, karena aku sudah tahu apa yang kuinginkan."
"Wonwoo-ya. You better be ready, because I will make you in love with me deeply. For real."
.
.
.
.
Kami kini sedang dalam perjalanan kembali menuju Seoul. Perjalanan akan memakan waktu kurang lebih beberapa jam, jadi kami memutuskan untuk pergi lebih pagi.
Kulirik kesamping, Wonwoo yang sedang menatapi jendela, melihat pemandangan.
Entahlah, sejak kejadian semalam, wanita itu jadi sedikit lebih aneh padaku.
Malam kemarin, ia segera berlari ke kamarnya setelah aku mengatakan hal itu padanya.
Bahkan tadi pagi, saat kami sarapan bersama keluarga Jeon, ia tetap tidak membuka suaranya.
Ia bahkan terkesan tidak ingin menatapku, karena ia selalu mengalihkan pandangannya dariku.
Hingga saat ini.
"Wonwoo-ya. " panggilku pelan.
"hm. " ia hanya menjawab dengan seadanya, masih tidak mau menatapku.
"lihat aku. "
Namun ia masih bersikeras menatap kearah lain, membuatku memaksa menarik dagunya agar ia mau melihat wajahku.
Ia menatapku dengan tatapan.. Entahlah, aku tidak bisa menjelaskan nya.
Yang pasti, aku belum pernah melihat Wonwoo dengan raut wajah seperti itu sebelumnya.
"kau kenapa, euhm? " tanyaku lembut, takut salah bicara.
Aku takut aku melakukan sebuah kesalahan yang tidak kusadari, dan membuat ia marah.
Kalian ingat? Wanita hamil itu sensitif.
"nan gwenchana. " kemudian kembali mengalihkan pandangannya, namun lagi-lagi aku menarik dagunya kembali.
"tatap aku saat aku sedang berbicara. " ucapku tegas.
Membuat ia segera menatapku kembali, masih dengan raut wajah yang sama.
"kau berubah sejak semalam. Apa aku melakukan sebuah kesalahan? " tanyaku padanya.
Beruntung saat ini lampu lalu lintas sedang merah, sehingga aku bisa bicara dengannya lebih leluasa.
"aninde."
"lalu? Kenapa kau seperti ini? Terdiam membisu."
Kuhela nafasku panjang. Kemudian kuelus pelan bahunya.
"kau tahu? Aku sama seperti lelaki lainnya yang penuh dengan ketidak pekaan, jadi akan lebih baik bagiku jika kau memarahiku dan mengomel jika aku melakukan sebuah kesalahan. Aku akan mendengarkan"
"kumohon jangan diam seperti ini, karena kau membuatku bingung."
Wonwoo terlihat bingung sekarang.
Ia terus saja menggigiti bibirnya, membuatku menarik dagunya pelan.
"jangan gigiti bibirmu. Aku tidak suka."
Ia mengerling padaku, kemudian menjilat sesaat bibirnya yang agak terlihat kering.
"i-itu... Karena candaanmu semalam." ucap Wonwoo pelan.
Dan ia tidak juga menatap mataku.
"hey, lihat aku. "
Wonwoo mengangkat kepalanya, dan menatapku tepat di mata.
"kapan aku bercanda? Aku serius saat mengatakannya." ucapku dengan nada tegas.
Tapi wanita itu malah memutar bola matanya, dan mendengus pelan.
"Kim Mingyu dan lelucon konyolnya." ucap Wonwoo sarkastik.
Kugenggam setir mobil dengan erat. Kemudian ikut mendengus.
Namun kali ini dengan keras.
"hmph."
"terserah jika kau tidak percaya."
"just wait and see."
Akhirnya setelah perdebatan kecil tersebut, aku memutuskan untuk membiarkan Wonwoo berbuat sesuka hatinya.
Kusetel music player yang terdapat di mobilku, dan bisa kudengar lamat-lamat suara Wonwoo yang bersenandung kecil.
Membuatku tersenyum tipis tanpa ia ketahui.
Aku menghentikan mobilku tepat didepan apartemen Wonwoo. Dan wanita itu segera bergegas untuk keluar dari mobil.
Namun tepat sebelum ia keluar dari mobil, kutarik lengannya.
"besok malam, bersiaplah." ucapku tiba-tiba, membuat ia mengangkat kedua alisnya bingung.
"wae? "
"aku akan mengajakmu kencan. Dandan yang cantik." ucapku lagi.
Ia menyeringai, kemudian melepaskan cekalan tanganku pada lengannya.
"memangnya aku sudah bilang mau kencan denganmu?" ucapnya menantangku.
Kulepaskan seat belt yang membelenggu tubuhku, kemudian mendekat pada tubuh Wonwoo yang masih berada di tempatnya.
"tentu saja kau harus mau. Karena kalau tidak... Aku akan menarikmu, lalu mengurungmu didalam kamar apartemenku." Ucapku pelan dan sedikit berbisik, lalu dengan sengaja meniup lembut cuping telinganya, membuat ia sedikit tersentak kaget.
Ah! Apakah aku tidak salah lihat?
Wajah Wonwoo sudah memerah sekarang!
Aigoo! Aku berhasil menggodanya! Hahaha! Ini terasa sangat menyenangkan!
"yaish! Pria mesum! Menjauh dariku!" pekiknya, kemudian mendorong dadaku kencang.
Aku tertawa terbahak-bahak akibat kelakuan aneh gadis ini.
"yaaa.. apanya yang mesum? Aku hanya berkata bahwa aku akan mengurungmu dikamarku. Apakah jangan-jangan kau sudah berpikir kita akan melakukan hal yang tidak-tidak?"
Sungguh, bibirku tidak bisa berhenti tersenyum sekarang.
Shit, ini benar-benar menyenangkan, dan aku tidak bisa berhenti!
Aku seperti kecanduan.
Ya, kecanduan menjahili Jeon Wonwoo.
Ah, kalau seperti ini ceritanya, aku jadi tidak sabar ingin menikahi wanita ini.
Kembali kudekatkan tubuhku padanya, lalu dengan gerakan lembut kuelus pelan perutnya.
"aegy-ah.. ternyata eomma adalah orang yang sangat nakal, eoh? Jangan jadi orang seperti eomma ya!" ucapku pada anak kami yang segera dibalas dengan pelototan mata tajam Wonwoo.
Ia segera menyingkirkan tanganku dari perutnya.
"ish! Apa yang kau katakan pada anakku!"
Ia kemudian turut mengelus perutnya persis seperti yang aku lakukan sebelumnya.
"aniyaa.. aegy, yang nakal adalah appamu. Jangan jadi manusia tidak berguna sepertinya, arrachi?" ucap Wonwoo dengan menggunakan nada seolah ia adalah anak kecil.
Membuatku lagi-lagi tertawa terbahak-bahak.
"hahaha! Yah! Lihat saja nanti! Aku berani bertaruh, anak ini pasti akan mengidolakan aku kelak!"
Wonwoo terlihat semakin kesal. Ia kemudian mencubit pinggangku dengan keras, membuatku mengaduh dengan kencang.
"yaish! Ya! Ya! Appo! Lepaskan, Jeon Wonwoo!" teriakku.
Ia kemudian melepaskan cubitannya, dan segera meraih tas nya.
"huh! Sudah, terserah kau saja! Meladeni ucapan konyolmu itu tidak akan ada habisnya!"
Ia kemudian pergi begitu saja memasuki apartemennya, tanpa memedulikan aku yang masih mengaduh sakit didalam mobil.
.
.
.
.
Huh! Benar-benar Kim Mingyu itu!
Ia sama sekali tidak punya sisi serius sama sekali!
Oke, ia punya.
Tapi kenapa ia tidak pernah memperlihatkannya padaku?
Selalu saja menjadi orang yang jahil jika sedang berhadapan denganku!
Ah! Sudah! Aku muak dengan pria itu!
Lebih baik kuselesaikan design gaun yang diminta nyonya Han untuk acara ulang tahun pernikahannya nanti.
"Wonwoo dan Jeonghan eonni." Panggil Seungkwan padaku dan Jeonghan, membuat kami berdua yang sedak asik dengan design kami mengalihkan pandangan menuju hoobae kami yang gembul ini.
"menurut kalian, mana yang lebih bagus? Pink atau kuning?" tanya Seungkwan sambil mengangkat tinggi dua buah dress minimalis yang cantik di tangan kanan dan kirinya.
"untuk apa?" tanya Jeonghan eonni. Ia mulai melupakan designnya dan fokus sepenuhnya pada ucapan Seungkwan.
"ehm, jadi aku.." Seungkwan dengan nada malu-malu dan wajahnya yang merah merona mulai menjelaskan, membuatku jadi agak tertarik.
"Hansol akan mengajakku berkencan malam ini. Tapi aku bingung dengan pakaian yang harus kukenakan. Bisakah kalian memberikan saran?" ucap Seungkwan malu-malu.
Kulihat Jeonghan eonni menyeringai.
Yah, ia patut merasa berhasil. Karena pasalnya, Seungkwan hoobae kami kini bisa bertemu dengan kekasih hatinya sekarang berkat bantuan Jeonghan eonni.
Wanita itulah yang mengenalkan Hansol pada Seungkwan.
"dua-dua nya bagus, tapi kemana kau akan pergi sebelumnya? Jangan sampai salah kostum." Ucap Jeonghan eonni menyarankan, membuatku menganggukkan kepala setuju.
"um, aku tak tahu. Hansol tidak memberitahunya padaku."
Ah, aku merasa sangat kasihan padanya, sehingga aku bertekad untuk membantunya.
Aku bergegas menuju lemari pakaian yang tersimpan dibelakang ruangan, kemudian mengambil sesuatu dari sana.
"ini. Pakai ini saja." Ucapku sambil memberikan sebuah dress putih yang baru saja selesai kurampungkan.
Seungkwan terlihat terkejut saat melihatku memberikan dress ini padanya.
"t-tapi eonni.. kau bahkan menghabiskan waktu dua minggu hanya untuk mendesign dress ini, mana boleh kau memberikannya begitu saja padaku." Ucap Seungkwan dengan nada tidak enak hati.
Aku terkekeh.
"ya! aku membuat dress ini hanya untuk membunuh waktu luang. Dress ini tidak ada yang memiliki. Jadi ini untukmu. Anggap saja ini ucapan selamat dariku karena sudah berhasil menggaet si Hansol yang kau kagumi itu." Ucapku sambil memaksa agar Seungkwan mau mengambil dress tersebut.
Akhirnya dengan ragu-ragu ia mengambil dress tersebut.
"tapi eonni, ini sangat cantik.. bagaimana bisa.."
"justru karena itu sangat cantik, makanya kuberikan padamu. Semoga berhasil. Ini kencan pertamamu, bukan?" ucapku.
Aku benar-benar tulus memberikan itu padanya. Aku memang sengaja membuat dress itu, karena jika suatu saat aku membutuhkan pakaian yang layak,aku sudahmemilikinya.
Namun memberikannya pada Seungkwan membuatku sama sekali tidak keberatan. Ia adalah juniorku. Dan ia juga anak yang baik.
Seungkwan segera berlari memelukku. Ia bahkan menubrukkan tubuhnya pada tubuhku, membuatku seketika oleng keseimbangannya.
"kyaa! Eonni! Aku sangat berterima kasih! Sungguh, aku benar-benar berterima kasih padamu!"
Dan ugh, ia memelukku dengan sangat erat, hingga membuatku sesak nafas.
"uh, Seungkwan-ah.. sudah, kau membuatku sesak nafas." Aku berusaha melepaskan pelukannya, namun gadis ini masih saja memelukku dengan erat.
"eonni..jeongmal gomawo, heum?"
Aku terkekeh.
"iya, sama-sama. sudah sana pergi sebelum aku – "
"annyeong haseyo."
Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria yang menginterupsi acara kami.
Suara ini, aku kenal dengan jelas.
Sangat jelas, hingga terasa menyebalkan.
Hingga terasa muak.
Akupun menolehkan kepalaku demi melihat pria itu.
Ternyata dugaanku benar, pria itu datang ke tempatku bekerja.
Ugh! Untuk apa ia sampai datang kemari?
"mau apa kau kemari?" tanyaku ketus padanya.
Namun ia tanpa tahu malu tersenyum lebar.
Bahkan ia kini tengah berjalan menuju kearahku, lalu berdiri tepat dihadapanku.
"tentu saja bertemu denganmu."
"apa kau lupa padaku?"
TBC
HAYOOOOO
Siapa coba yang nyamperin Wonwoo ampe ke kantornya?
Coba boleh ditebak guys?
Yang bisa nebak dengan benar dapat hadiah ketjup basah dari author *iyuwwhhh
Gak deng.
Kalo ada 10 review yang menebak dengan benar, aku janji bakalan up chap selanjutnya hari sabtu.
Sooo...
SEE YOU VERY SOON FELLAS!
