Disclaimer : Vocaloid bukan punya gw.

Mikuo menaruh sehelai handuk di kepala Len dan membantu bocah itu mengeringkan rambutnya. "Sudah kubilang kau tidak usah datang hari ini. Cuaca sedang buruk,"

Len menunduk diam di kamar mandi Mikuo, membiarkan sang tuan mengacak2 rambutnya yang basah kehujanan. Mikuo menghela napas lalu memberikan Len baju kering yang agak kebesaran. "Pakai itu, aku akan mengantarmu ke rumah," katanya, lalu berjalan keluar untuk mengambil kunci mobil.

Spontan Len mendongak dan menggenggam lengan baju Mikuo, memaksanya untuk berhenti.

Mikuo menoleh ke belakang, membuat Len menyadari betapa berbedanya penampilan Mikuo dari saat pertama kali mereka berkenalan di sekolah dasar hingga tuan muda itu menjadi orang dewasa berjas hitam yang tampan dan jakung, sedangkan ia sendiri hanya pelayan dan menjadi seorang yang kecil..lemah...

Tak berguna.

"Len," panggilan itu membuat pikiran Len kembali ke dunia nyata. Mikuo berbalik badan dan berlutut, kini menyamakan tingginya dengan mata pemuda berambut kuning itu. "Kau bersikap aneh hari ini. Apa yang kau pikirkan?"

Len menggigit bibir bawahnya sambil mendecih kesal. "Aku sudah susah payah datang ke sini, sekarang kau malah menyuruhku pulang? Aku tahu kau punya segalanya.. kendaraan pribadi, waktu, uang, segalanya. Jadi kau bisa berbuat seenaknya?"

Mikuo diam menatap mata Len yang sedikit memerah. Ia sudah mengenal anak itu sejak lama hingga ia tahu maksud yang ingin disampaikan Len sebenarnya.

'Jangan tinggalkan aku, bodoh,'

Mikuo tertawa dalam hati. Walau sudah kuliah, Len masih bersikap seperti bocah. Terlalu emosional, overthinking, tidak bisa jujur akan perasaannya, bisanya mengeluh dan berbicara di belakang namun ketakutan saat berhadapan langsung dengannya. Benar-benar bocah.

..tapi Mikuo tak keberatan sih.

"Jadi-" kata Mikuo. "Kau kesini untuk sesuatu yang.. 'menyenangkan'?" lanjutnya dengan seringai lebar.

Len awalnya tak mengerti, kemudian otaknya mulai bekerja normal dan menyadari tempat dan keadaannya saat ini : duduk di kamar mandi dengan mengenakan baju kebesaran, mengekspos sebagian kulit tubuhnya.

"B-bukan begitu bodoh!" Len melompat berdiri dan berjalan keluar kamar, namun Mikuo menghalangi jalan dengan tubuhnya. Len mulai gugup menyadari betapa Mikuo mendominasi keadaan saat ini.

Len berjalan mundur, namun Mikuo menangkap tangannya, tetap diam dan menatap iris biru pemuda berambut kuning itu, seolah menghisap jiwa dari tubuh mungil itu. "Ma-maksudku..- a-aku baru ingat harus mengerjakan tugas kampus di rumah.. j-jadi.. tolong lepaskan aku-" bisiknya pelan.

Ah, lihat wajah semerah apel itu.

Mikuo mendekatkan bibirnya ke leher pucat itu, begitu menikmati tubuh Len yang bergetar sambil membisikkan sumpah serapah yang berlawanan dengan deru napas erotis dari mulutnya.

Hari itu kamar mandi Mikuo tidak sepi, namun Len terus meyakinkan dirinya kalau ia melakukan semua ini karena terpaksa untuk melayani keinginan tuannya. Karena.. sudah menjadi tugas seorang pelayan untuk memanjakan sang master, bukan?