TITLE :One Night Stand

GENRE :Romance, Drama

RATING :M

CAST :Wonwoo (GS), Mingyu

DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.

SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .

This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))

.

.

.

.

Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah pukul lima lewat tiga puluh menit.

Sudah lewat setengah jam dari waktu kerja Wonwoo.

Tapi wanita itu tidak juga mengangkat panggilan dariku.

Apa ia benar-benar tidak ingin pergi kencan denganku?

Jadi begitu? Ia ingin membuktikan ucapannya?

Baiklah. Aku juga akan membuktikan ucapanku kalau begitu ceritanya.

Segera saja kubawa mobilku melaju menuju tempat Wonwoo bekerja.

Dan tidak sampai lima belas menit, aku sudah tiba disana.

Langit yang sudah mulai gelap membuat suasana di daerah sana mulai sepi, namun kulihat gedung tempat Wonwoo bekerja masih terang, sehingga aku memutuskan untuk menunggunya selama beberapa saat didalam mobil.

Bisa saja ia tidak menjawab panggilanku karena memang benar-benar sibuk, bukan?

Namun tiba-tiba sesuatu membuatku curiga.

Seorang pria muncul begitu saja dari dalam gedung sambil menarik tangan seorang wanita.

Jika dilihat dari pergerakannya, wanita tersebut seolah enggan mengikuti sang pria. Namun kelihatannya pria itu tetap bersikeras.

Mereka berdua kini sedang berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari mobilku.

Aku masih terus memperhatikan mereka.

Karena sesuatu terasa janggal.

Entahlah, aku seolah tidak asing dengan mereka.

Meskipun aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah sang pria karena ia memakai sebuah topi, tapi wanita itulah yang membuatku penasaran.

Postur tubuhnya, rambut panjang bergelombang yang berwarna hitam..

Wanita itu – Wonwoo!

Aku segera menggenggam erat setir mobil. Tiba-tiba saja amarah merasuk hingga ke ubun-ubun saat melihat Wonwoo dibawa pergi begitu saja oleh pria tidak dikenal itu,terlebih Wonwoo terlihat seolah terpaksa.

Aku segera menginjak pedal gas ketika melihat mobil pria itu, sebuah mobil VW berwarna hitam melaju meninggalkan pelataran gedung.

Kuputuskan untuk mengikuti mereka.

Dengan mengambil jarak aman dibelakang mobil itu,aku tetap membuntuti mereka, berusaha agar aku tidak kehilangan jejak.

Aku tidak tahu kemana arah pria itu akan membawa Wonwoo, karena sepertinya ia akan membawa Wonwoo kedaerah pinggiran kota.

Kulihat tanda penunjuk arah yang mengatakan bahwa kami hampir meninggalkan Seoul.

Shit! Kemana ia akan membawa Wonwoo?!

Kuputuskan untuk menginjak kembali pedal gas, menyusul mobil hitam tersebut.

Kami sudah benar-benar meninggalkan Seoul sekarang.

Dan jalanan mulai lengang. Tidak, bahkan hanya ada kami berdua di jalanan ini.

Aku harus ekstra hati-hati agar ia tidak mengetahui bahwa aku membuntutinya.

Kulihat akhirnya kami sampai pada sebuah kompleks perumahan yang cukup mewah.

Dan ia menghentikan mobilnya didepan sebuah rumah yang paling megah disana.

Ia menarik Wonwoo keluar, dengan sedikit kasar. Karena Wonwoo terus memberontak dan menolak.

Ia bahkan menarik bahu Wonwoo, dan mendorong tubuh calon istriku itu agar ia mau mengikuti perintah pria brengsek ini.

Cukup!

Aku tak tahan lagi!

Akhirnya aku keluar dari mobil yang kuparkirkan beberapa meter dari mobil hitam itu, lalu berjalan cepat, seolah aku sedang dikejar anjing.

"bajingan!" kulayangkan tinjuku yang sedari tadi kutahan tepat keatas hidungnya.

Sedari tadi tanganku mengepal, terlebih saat melihat ia memperlakukan Wonwoo dengan begitu kasar.

Sial! Pria keparat!

Bangsat!

"kyaaa!" Wonwoo berteriak, seiring dengan aku yang melayangkan tinjuku bertubi-tubi.

Diatas pipi, hidung, rahang. Semuanya tidak ada yang terlewat dari kepalan tanganku.

Pria ini, bahkan sudah tersungkur ketanah tanpa sempat memberikan perlawanan berarti padaku.

"Kim Mingyu! Sudah! Stop! Kumohon! Kau bisa membunuhnya!" pekik Wonwoo memilukan melihat aksiku yang brutal.

Akhirnya ia menarik tubuhku, berusaha menjauh dari pria yang sudah bersimbah darah itu.

"Mingyu-yah... hiks, jebal. Hentikan. Kau bisa membunuhnya.." didepanku, Wonwoo menahan kedua lenganku.

Wanita itu menangis. Wajahnya memerah. Bibirnya ia gigit erat.

Membuatku kembali tersadar.

Ah, apa yang telah kulakukan? Aku hilang kendali.

Kutatapi wajah Wonwoo yang memerah. Ia juga terus saja menundukkan kepalanya, seolah takut untuk menatapku.

Akhirnya kuhela nafasku panjang, dan kutarik lembut dagunya.

"jangan gigit bibirmu."

Membuat Wonwoo kembali mendongakkan kepalanya, menatapku.

Wonwoo segera melebarkan matanya, lalu memelukku erat.

"Mingyu-yah! Jebal! Jangan lakukan lagi!" ucapnya sambil terisak.

"wae?" tanyaku dengan suara serak.

"kau membuatku takut."

"kau membuat anak kita takut." Ucapnya lirih.

Isak tangis masih lolos dari belah bibir Wonwoo, membuatku tidak tega.

Akhirnya kubalas pelukannya, lalu kuelus pelan puncak kepalanya.

"maaf. Maafkan aku ."

"aku sangat marah saat melihat ia memperlakukanmu dengan begitu kasar."ucapku pelan.

Ia melepaskan pelukannya, lalu kembali menatapku.

Kemudian beralih menatap kedua tanganku yang masih terkepal. Dan membuka kepalan tanganku dengan lembut, satu persatu.

"nan gwenchana."

"kau yang terluka. Lihat." Ia mengangkat tanganku yang memerah karena telah memukul pria brengsek itu terlalu keras.

"nanti kita obati, ya.." ucap Wonwoo sambil mengelus pelan tanganku, membuatku menganggukkan kepalaku pelan.

"Wonwoo, siapa pria ini sebenarnya?" tanyaku pada Wonwoo.

Pria ini sudah kembali bangun, namun ia masih memegangi hidungnya yang patah akibat pukulanku barusan.

"dia, Wen Junhui." Ucap Wonwoo pelan.

"apa?! Untuk apa ia menemuimu lagi?!" ucapku penuh dengan emosi.

Aku hampir saja menonjoknya lagi, namun Wonwoo menahan tanganku.

"jangan!"

"dia bisa mati jika kau terus memukulinya seperti itu." Ucap Wonwoo kembali menenangkanku.

Kulihat pria brengsek itu, Wen Junhui, kini sedang bersandar pada mobil hitamnya, masih sambil memegangi hidungnya yang berdarah.

Lalu Wonwoo berjalan mendekati pria itu.

Aku hampir saja melarang Wonwoo untuk melakukan hal tersebut, namun kejadian berikutnya membuatku tercengang.

Wonwoo, dengan lututnya sendiri, menendang bagian selangkangan milik Junhui.

Membuat pria itu berteriak sangat keras.

"AAAAAKKHH!"

Ugh! Itu pasti terasa sangat sakit. Terlebih jika dilihat dari betapa putih wajah Junhui seketika.

Bagian selangkanganku saja tiba-tiba terasa ngilu hanya dengan melihatnya.

"itu hukuman untukmu dariku, brengsek."

"tadinya aku ingin melakukan hal yang lebih daripada ini. Tapi sepertinya apa yang calon suamiku berikan padamu sudah lebih dari cukup." Ucap Wonwoo dengan nada tegas, tak terbantahkan.

Lalu ia kembali berjalan mendekatiku, dan melingkarkan lengannya padaku.

"yang harus kau ketahui, Wen Junhui. Pria ini adalah calon suamiku, Kim Mingyu. Dan sebentar lagi kami akan melangsungkan pernikahan."

"jadi jangan pernah kau tunjukkan lagi batang hidungmu yang sudah patah itu kehadapanku atau calon suamiku."

"karena aku akan mematahkannya lagi jika aku melihatmu kembali dihidupku. Dengan tanganku sendiri" tiga kata terakhir yang Wonwoo ucapkan sambil setengah berbisik jujur saja membuatku merasa sedikit ngeri.

Namun aku suka.

Itu artinya wanita ini bisa melindungi dirinya sendiri.

Yah, meskipun aku sama sekali tidak keberatan untuk melindunginya.

"pergilah, Junhui. Berbahagialah dengan Minghao." Itulah kata-kata terakhir Wonwoo sebelum ia akhirnya menggenggam tanganku, dan meninggalkan Junhui begitu saja, masih dengan rasa sakit pada seluruh tubuhnya.

.

.

.

.

Aku tidak sadar kemana Mingyu membawaku, karena saat sadar, aku sudah berada di basement apartemen miliknya.

"Mingyu, ini.."

"malam ini kau tidur disini." Ucapnya tegas.

Aku.. entahlah, aku seolah tidak bisa menolak perintahnya.

Disepanjang perjalanan pun kami tidak membuka pembicaraan sama sekali.

Raut wajahnya juga terlihat keras. Mungkinkah ia marah padaku?

Karena membatalkan janji kencan kita?

Tapi, hey! Itu bukan salahku! Jika saja Junhui tidak berusaha menculiku, aku pasti akan pergi berkencan dengannya!

"tapi, pakaianku.."

"kau bisa memakai milik Minseo. Atau milikku." Ucapnya masih dengan nada serius yang sama.

"tapi pakaian dalamku, Mingyu.." aku masih saja merengek padanya, berusaha mencari alasan agar aku tidak perlu menginap disini malam ini.

Entahlah, aku masih merasa tidak enak padanya. Apalagi setelah kejadian barusan.

"kau tidak perlu menggunakan pakaian dalam malam ini. Kau bisa menghemat milikmu."

Kuputar bola mataku malas. Pria ini, padahal baru beberapa detik yang lalu ia serius sekali sampai aku merasa takut padanya, namun kini ia sudah kembali menjadi mesum Gyu.

"aku serius, Mingyu!" pekikku, yang kemudian membuatku kaget karena ia juga membalas ucapanku dengan nada keras.

"aku juga serius, Wonwoo! Malam ini kau tidak akan kuizinkan pulang!" teriaknya sambil menatap tajam menatapku, membuat nyaliku menciut.

Ternyata ia masih dalam mode marah dan seriusnya. Ternyata aku salah.

Uh, Mingyu yang sedang marah dan serius sangat menyeramkan.

Aku jadi merindukannya yang suka melontarkan lelucon konyol dan ucapan random.

Akhirnya demi menciptakan kedamaian, aku menuruti keinginannya dan diam saja menuju ke apartemennya.

Sesampainya disana, ia segera menarikku kedalam sebuah ruangan dengan pintu bercat coklat, kamar Mingyu.

"mandilah. Aku akan menyiapkan pakaianmu." Perintahnya masih mutlak, sehingga aku hanya menganggukkan kepalaku pelan, mengiyakan ucapannya.

Setelah menghabiskan beberapa saat untuk mandi, aku keluar dan mendapati baju yang sudah Mingyu sediakan untukku.

"pakailah. Lebih baik kau menggunakan itu daripada milik Minseo."

"aku akan mandi dulu."

Lalu ia segera memasuki kamar mandi tanpa menungguku membalas ucapannya.

Baju yang Mingyu pilihkan untukku ternyata cukup nyaman. Itu adalah sebuah kaus berwarna hitam dengan tulisan 'Alexander Wang' diatasnya, serta sebuah celana training.

Kuperhatikan kamar milik Mingyu ini.

Kamar bernuansa minimalis dengan ranjang berukuran king size serta sebuah rak buku yang sangat besar berada disana.

Ada juga sebuah meja belajar dengan kursinya, serta beberapa lemari berisi pakaian.

Ini bukanlah pertama kalinya aku masuk kedalam kamar Mingyu.

Tapi untuk mengangumi kamar ini dan memperhatikan seluruh isinya? Ini yang pertama.

Kulihat rak bukunya itu penuh dengan buku-buku tentang kedokteran. Tentu saja, ia kan seorang dokter.

Namun sesuatu menarik perhatianku disana.

Itu adalah sebuah album foto bersampul coklat yang kelihatannya sudah tua.

Kubuka album tersebut, kemudian melihat seluruh isinya.

Ah! Ternyata itu adalah sebuah album keluarga Kim saat Mingyu masih kecil.

Hahaha.. lihat pria ini, dulu ia hitam sekali!

"hahaha.. tak kusangka, dulu ia ternyata jelek – "

"jadi sekarang aku tampan?"

Tiba-tiba saja Mingyu sudah berada dibelakangku, dan ia bahkan meletakkan dagunya diatas pundakku.

"hei, katakan. Kau bilang dulu aku jelek? Berarti aku yang sekarang tampan?" tanyanya lagi.

Ah, sepertinya kali ini Mingyu yang biasa sudah benar-benar kembali.

"a-ah, kau sudah selesai?"

Ish! Kenapa tiba-tiba suaraku tergagap begitu?!

Pria ini masih berada dibelakangku, aroma sabunnya masih menyengat. Aku bahkan bisa mencium aroma shampoo yang ia gunakan.

"kebiasaanmu ini kenapa tidak pernah berubah?" ucapku.

"eh?" tanyanya bingung.

Aku segera menariknya agar ia duduk di tepi ranjang, dan aku berdiri di belakangnya.

Lalu mulai kegiatanku yang biasa jika ia baru selesai mandi.

Yaitu mengeringkan rambutnya.

"setidaknya keringkan rambutmu sebelum kau keluar dari kamar mandi, Mingyu! Lihat ini! Bajumu jadi basah! Omelku padanya yang hanya dibalas dengan anggukan pelan.

"hm. Hm."

"nah! Sudah selesai!" pekikku senang, kemudian memukul bahunya pelan.

"baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kamar Minseo.

Baru saja ingin beranjak untuk meninggalkan kamar ini, namun tiba-tiba saja Mingyu menarik pergelangan tanganku.

"eits! Siapa bilang kau boleh pergi kesana?" tanyanya. Lalu ia segera menarik tanganku dengan keras, sehingga aku menubruk tubuhnya.

Dasar pria mesum ini tidak pernah berhenti berulah!

Kini ia bahkan mendekap tubuhku, lalu mengangatku dengan mudahnya, dan membawaku keatas ranjangnya begitu saja.

"ya! Ya! Turunkan aku!"

"ish! Kim Mingyu sialan! Dasar pria mesum!" pekikku sambil meronta.

Namun percuma. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya, membuatu kesulitan bernafas.

"Mingyu, lepaskan pelukanmu. Ini sangat sesak. Mingyu!" perintahku, namun ia masih menulikan telinga.

"setidaknya longgarkan pelukanmu." Aku masih memohon, dan akhirnya ia mengabulkan permohonanku.

"permohonan dikabulkan."

"ck." Aku berdecak dengan keras, lalu memukul bahunya keras.

"ish! Suka sekali memukulku! Awas kau ya, nanti jika sudah jadi istriku, akan kuperlakukan dengan kasar jika sedang berada di ranjang!"

Jujur saja, ucapannya itu sangat memalukan hingga membuat wajahku pasti memerah sekarang.

"pria mesum!"

Namun ia terlihat tidak peduli dengan ucapanku barusan, dan malah menarik selimut hingga menutupi tubuh kami berdua.

"nah, sekarang. Ceritakan padaku." Ucapnya.

"ceritakan apa?" tanyaku bingung.

"bagaimana bisa kau berakhir dengan Wen Junhui tadi sore?" tanya Mingyu sambil menatapku dengan wajah penasaran.

Aku bingung, haruskah aku menjelaskan hal ini padanya? Namun aku tahu, sesungguhnya Mingyu juga berhak tahu, apalagi sekarang ia adalah calon suamiku.

"tadi sore ia datang ke butik. Didepan semua temanku, ia berkata bahwa ia ingin mengatakan sesuatu. Tadinya aku tidak ingin menemuinya, namun ia memaksa – "

"ish! Pria brengsek itu! Aku tahu tidak seharusnya aku mengampuni dia!" Mingyu dengan emosi menginterupsi, membuatku segera membungkam mulutnya dengan jari telunjukku.

"dengarkan dulu!"

"ya."

"ia bilang bahwa ia akan berbicara didalam mobilnya saja karena di butik ada banyak orang, terlebih mereka semua mengenali Junhui, sehingga ia merasa tidak nyaman. Aku benar-benar merasa malas, sejujurnya. Namun aku tetap mengikuti kemauannya."

"lalu kemudian ia mengingkari janji. Ia bilang ia hanya akan berbicara di mobil, namun ia malah menjalankan mobilnya, dan membawaku kerumahnya."

"disepanjang perjalanan aku ribut agar ia mau menurunkanku, namun ia tetap bersikeras. Hingga akhirnya, yah. Kau tahu sendiri.. kau muncul, lalu memukulnya. Itu saja.."

Mingyu setengah berbaring menatapku. Ia bahkan kini menyelipkan tangan sebelah kanannya untuk menjadi bantalan kepalaku.

"ia tidak mengatakan apa yang ingin ia katakan padamu?" tanya Mingyu. Namun aku menggeleng untuk menjawabnya.

Yah, karena Junhui memang belum sempat mengatakan maksud dan tujuannya menemuiku.

"rumah tadi, itu rumahnya?"

"ya. Dulu aku sering menghabiskan akhir minggu bermain disana." Ucapku pelan. Aku takut ia marah, namun semua yang kukatakan ini adalah kejujuran.

"lalu, Minghao yang kau sebutkan tadi, siapa dia?"

Kugigit bibirku. Namun karena mengingat Mingyu membenci hal tersebut, akhirnya segera kulepaskan.

"dia.."

"perempuan itu, adalah selingkuhan Junhui. Namanya Xu Minghao. Tadinya ia adalah teman kuliahku. Aku yang mengenalkan Minghao pada Junhui. Mereka berdua sama-sama berasal dari China. Mungkin itu yang membuat mereka menjadi cocok."

"lalu setelah beberapa bulan menjadi dekat, aku akhirnya memergoki mereka."

Mingyu menatapku masih dengan raut penasaran yang sama.

"bercinta di rumah Junhui. Diatas sofa dimana biasa aku dan dia menonton film saat akhir minggu. Mereka mengetahui bahwa aku sudah memergoki mereka. Namun Junhui tidak melakukan apapun. Malah Minghao yang menghampiriku terlebih dulu."

"ia bilang bahwa ternyata ia sudah lama menyukai Junhui, dan rela memberikan semuanya untuk pria brengsek itu. Tadinya aku tidak ingin menyerahkan Junhui pada Minghao. Namun setelah kupikir lagi.. aku tidak akan mau memberikan seluruh milikku untuk pria yang sudah menduakan aku, maka aku memutuskan untuk melepaskannya. Aku membiarkan Junhui bersama dengan Minghao."

"namun entah kenapa setelah beberapa lama, ia malah datang kembali menemuiku."

Setelah kuceritakan masa lalu yang menjijikan itu, Mingyu terdiam.

Namun tangannya tidak berhenti mengelus rambutku sejak tadi.

"hei, sekarang aku yang ingin bertanya padamu." Ucapku, membuat ia segera menatap mataku.

"kenapa, tadi saat kau melihatku dengan Junhui, kau terlihat seperti orang kesetanan?" tanyaku.

Mata Mingyu seolah menerawang. Ia seperti kesulitan menjawabnya.

"entahlah. Mungkin aku memang sedang kerasukan saat itu."

"aku sudah menunggumu sejak pukul lima lewat tiga puluh. Aku tetap menunggumu keluar dari butik, bahkan hingga pukul enam. Lalu saat melihat kau yang ditarik oleh seorang pria membuatku tiba-tiba kesal."

Mingyu memperbaiki posisi tidurnya hingga ia merasa lebih nyaman. Ia kini bahkan mengelus lenganku pelan seiring mulutnya yang bercerita.

"terlebih dengan cara dia menarikmu. Itu.. terlihat kasar. Aku tahu, kau terlihat enggan mengikutinya, namun ia seolah memaksamu. Aku melihatnya saat itu. Aku juga melihat ia membawa mobilnya hingga keluar dari kota Seoul."

"saat itu yang bisa kupikirkan hanyalah bahwa aku harus mengikuti kalian. Pria itu membawamu terlalu jauh. Aku tidak tahu dia siapa, tapi aku tidak mau seseorang yang bukan keluargaku memperlakukan calon pasanganku seperti itu."

"dan... kemarahanku memuncak saat melihat ia menyeretmu untuk memasuki rumah itu. Sungguh, jika ini adalah sebuah komik, kepalaku pasti sudah mengeluarkan asap. Wajahku sudah memerah."

"hahaha, dan hal selanjutnya yang kuingat adalah aku mengincar hidung pria itu dari segala tempat yang ada. Aku sudah berniat untuk menyakitinya dari awal."

Selama menceritakan hal itu, Mingyu tidak juga menatap mataku. Ia terus saja memandang keatas, membuatku tanpa sadar menarik pipinya.

"hei"

"kenapa kau begitu marah?" tanyaku pelan.

Sungguh, aku sendiri tidak mengerti apa yang saat ini kutanyakan, namun satu hal yang pasti, yaitu aku benar-benar penasaran dengan jawabannya.

"entahlah. Aku sendiri tidak mengerti kenapa. Aku hanya.. merasa marah." Jawab Mingyu pelan sambil menatap mataku dalam.

"apa kau.. mungkinkah, cemburu?" tanyaku lagi dengan hati-hati.

Kini Mingyu bahkan lebih intense lagi menatapku.

Uh, aku bahkan seolah tersihir oleh tatapannya tersebut.

"aku juga tidak tahu. Mungkin?" jawabnya terlihat ragu.

Kami terdiam selama beberapa saat, seolah sibuk dengan isi pikiran masing-masing.

Masih berada didalam dekapan Mingyu, aku melamun, hingga panggilannya membuatku tersadar.

"Wonwoo-ya."

"heum?"

"jika aku cemburu, apakah itu hal yang buruk?"

Aku baru sadar. Bahwa ternyata sedari tadi posisi kami sedekat ini.

Hidungku bahkan sudah menempel dengan dagunya. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya yang ia hantarkan padaku lewat pelukan kami.

Dan itu seketika membuat dadaku berdegup kencang.

"Ming- Mingyu. Lepaskan aku." Pintaku pelan.

Namun sepertinya ia belum menyadari keadaan ini, karena ia hanya menatapku dengan tatapan aneh.

"jawab dulu."

Kujilat bibirku karena gugup. Tidak tahu harus mengatakan apa, terlebih dengan posisi kami yang sangat intim ini.

"a-aku tidak tahu... tapi kau adalah calon suamiku. Kecuali kau membenciku, cemburu padaku.. adalah hal yang wajar." Ucapku lirih pada akhirnya. Benar-benar pasrah bahwa ia akan mendengar detak jantungku yang menggila ini.

"uhm, aku tidak benci padamu.. "

"Wonwoo, kalau kau? Apa kau benci padaku?"

Uh, kapan ini akan berakhir?! Aku benar-benar sudah tidak kuat!

Tolong, siapapun! Lepaskan aku dari pelukan makhluk ini!

"aku... tidak." Jawabku, yang kemudian mendatangkan senyum puas di bibirnya.

"bagus, kalau begitu kita berdua tidak saling membenci, bukan?"

"Mingyu, mau sampai kapan kita mengobrol? Ini sudah jam sebelas. Aku sudah sangat mengantuk!" ucapku berpura-pura mengantuk.

"ah, mian. Aku lupa waktu, ya. Baiklah, kau tidurlah dengan nyaman disini." Ucapnya sambill tersenyum tipis, membuatku sedikit merasa tidak enak karena telah berbohong padanya.

"lepaskan pelukanmu. Aku jadi tidak nyaman jika begini."

Ia menatap tubuh kami berdua, serta lengannya yang melingkari tubuhku.

Namun ia malah menyeringai.

"kalau itu, tidak mau. Biar saja tidurmu tidak nyaman. Hehehe..." ucapnya jahil, membuatku tidak jadi merasa bersalah, dan malah jadi kesal.

"ya! Egois!"

"aegy-ah.. appa sangat egois.."

Mingyu bahkan lebih mengeratkan pelukannya setelah aku berkata demikian.

"tidak peduli."

"aegy, appa hanya ingin memelukmu saja, tapi karena kau masih belum keluar dari perut eomma, maka appa juga jadi harus memeluk eomma.."

"alasan!" aku mencubit lengannya, lalu berusaha untuk tidak peduli, dan mencoba untuk benar-benar tidur.

.

.

.

.

"Mingyu. Awas omelette mu gosong."

Tiba-tiba saja kurasakan bahuku yang ditepuk pelan oleh wanita yang berada di belakangku ini.

Aku cepat-cepat mengangkat omelette yang sedang kubuat itu, lalu kuletakkan diatas piring.

"ah, kau sudah bangun?" tanya Wonwoo sambil duduk didepan meja makan.

Aku segera melepas apron yang melekat di tubuhku, lalu duduk dihadapannya.

"apa yang kau lamunkan, Mingyu?" tanya Wonwoo menatapku lekat.

Kualihkan pandanganku dari wajahnya, lalu menggeleng pelan sambil bergumam tidak ada apa-apa.

"maaf ya." Ucapnya pelan.

"untuk apa?"

"selama aku menginap disini selalu kau yang membuatkan sarapan untuk kita. Aku tidak membantu sama sekali." Ucapnya sambil memandangku dengan tatapan tidak enak hati.

"gwenchana. Aku terbiasa memasak sendiri." Balasku, lalu mulai menyendokkan sepotong omelette kedalam mulutku sendiri.

Wonwoo belum juga menyentuh makanannya, padahal aku sudah sengaja membuatkan ia banyak omelette kesukaannya hari ini.

"kenapa tidak dimakan?" tanyaku heran.

Ia hanya tersenyum tipis.

"sedang tidak ingin. Biasanya setiap pagi aku memang selalu mual. Dan kali ini tidak ada pengecualian. Aku cukup meminum teh ini saja." Ungkap Wonwoo, lalu menyesap teh chamomile yang sudah kubuat untuknya.

Kuangkat alisku tinggi-tinggi. Jelas saat kami ingin berkunjung ke rumah orang tua Wonwoo di Changwon saat itu nafsu makan Wonwoo sangat tinggi.

Tapi kenapa sekarang tiba-tiba tidak mau makan sama sekali?

"ya. Kau ini sedang mengandung. Mana boleh hanya minum teh saja. Sebentar, akan kubuatkan susu untukmu."

Aku kemudian beranjak dan menyeduh segelas susu coklat untuknya.

Aku memang tidak tahu apa-apa mengenai ibu hamil. Namun satu yang aku tahu pasti.

Yaitu mereka tidak boleh kelaparan. Ibu dan anaknya.

"cha. Minumlah walau sulit. Aku tidak mau bayiku kenapa-kenapa." Kusodorkan gelas susu tersebut pada Wonwoo, dan kulihat ia mengambilnya dengan malas.

Lalu meminumnya sedikit demi sedikit.

"biasa kapan mualmu mulai hilang?" tanyaku sambil melanjutkan makanku yang tertunda.

"tidak menentu. Terkadang hingga makan siang aku masih merasa mual. Tapi terkadang hanya satu sampai dua jam."

"tapi saat kita akan berangkat ke Changwon, kenapa makanmu banyak sekali waktu itu?" tanyaku heran.

"aku juga tidak tahu. Waktu itu, saat mencium aroma omelette yang kau buat, aku merasa sangat menginginkannya. Tapi sekarang sudah tidak lagi."

Kuanggukan kepalaku mendengarnya.

Ternyata benar, wanita yang sedang hamil itu sangat sensitif dan merepotkan.

"yah, baiklah kalau begitu. Tapi jika nanti kau ingin memakan sesuatu, katakan saja padaku. Akan aku buatkan sebisaku."

Wonwoo terlihat baik-baik saja dengan ucapanku. Ia masih berusaha meminum susunya. Aku tahu ia terlihat sedikit tersiksa, tapi mau bagaimana lagi?

Lalu tanpa sadar tiba-tiba saja mataku beralih memandang ke satu arah.

Suatu tempat yang membuatku tidak bisa tidur dari semalam.

FLASHBACK ON

Tidur Wonwoo benar-benar kelihatan tidak nyaman. Ia terus saja bergerak kekanan dan kekiri.

Wanita itu sesekali bahkan menggumam dalam tidurnya.

Apakah ia sedang mimpi buruk?

Aku jadi terbangun dari tidurku. Padahal baru dua jam yang lalu aku berhasil memejamkan mata.

Ia masih kelihatan gelisah dalam tidurnya, membuatku sedikit tidak tega, namun masih belum tahu apa yang harus kulakukan.

Aku terus mengelus pelan lengannya, berupaya agar membuatnya merasa sedikit nyaman.

Namun hasilnya nihil. Ia masih terus saja bergerak kekanan dan kiri.

Lalu tiba-tiba saja dengan sekejap wanita itu membuatku terkejut.

Ia bergerak mendekatiku, kemudian memeluk tubuhku erat dalam tidurnya.

Ia benar-benar mendekapku, bahkan hingga rasanya aku sulit bergerak.

Namun ia menjadi lebih tenang saat itu.

Ah, kini aku mengerti. Ia terbiasa tidur dengan guling. Dan ia memerlukan sesuatu untuk ia peluk.

Karena aku tidak pernah memakai bantal guling saat tidur, maka kubiarkan saja ia memelukku agar ia tidur dengan nyenyak.

Namun tidak sampai sepuluh menit, ia kembali menggeliat seperti cacing kepanasan.

Ia terus saja menelusupkan tubuhnya agar berada didalam rengkuhan tanganku, memeluk pinggangku dengan erat. Menempelkan wajahnya pada dadaku.

Dengan posisi sedekat ini, membuatku merasakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh kurasakan. Ah, lebih tepatnya belum.

Ya, aku bisa merasakan dada Wonwoo yang terus bergesekan dengan perutku.

Entahlah, rasanya... tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Itu begitu.. lembut, dan kenyal.

Aku sudah pernah merasakan dadanya, bahkan secara langsung. Tapi kenapa aku malah merasa seperti pria mesum saat ini?

Aku berusaha untuk melepaskan pelukannya, namun tetap tidak bisa.

Hingga berpuluh-puluh menit mencoba, dan ia masih dengan pelukannya yang erat, hingga aku menyerah sendiri.

Dan membiarkan bagian tubuh Wonwoo yang terkutuk itu menempel pada tubuhku hingga pagi menjelang.

FLASHBACK OFF.

ah, aku jadi kembali teringat soal semalam. Aku benar-benar kesulitan untuk tidur semalam.

Namun wanita ini kelihatannya biasa saja.

Apa ia sama sekali tidak ingat dengan apa yang sudah ia lakukan semalam?

Ah, aku jadi penasaran. bagaimana miliknya bisa selembut itu? Apa ia benar-benar tidak mengenakan pakaian dalam karena aku menyuruhnya begitu, semalam?

"Wonwoo-ya." Panggilku pelan.

Ia segera mengangkat kepalanya dan menatapku. Ia kini sudah menghabiskan susunya, dan bisa kulihat jejak susu coklat yang tertinggal di sudut bibirnya.

"eum?"

"aku ingin bertanya padamu, tapi dengan satu syarat... kumohon, kau jangan marah." Ucapku dengan wajah panas.

Shit, apa wajahku memerah sekarang?

"hem? Apa itu? Aku tidak akan marah."

"janji?"

"janji."

Kugaruk tengkukku yang tidak gatal, kemudian mulai memilih kosa kata yang pantas.

"semalam, apakah kau... benar-benar tidak mengenakan pakaian dalam?" tanyaku pelan.

Ia kelihatan membisu. Mulutnya sedikit ternganga mendengar pertanyaanku, namun sedetik kemudian ia segera memalingkan wajahnya yang sudah memerah itu.

"ke-kenapa pertanyaanmu seperti itu? Pria mesum!" ucapnya tanpa mau menatapku.

"jawab saja. Kau sudah berjanji, kan?" ucapku.

Ia akhirnya kembali menatapku, lalu menganggukkan kepalanya ringan.

"eoh." Jawabnya lirih.

"ke-kenapa?" tanyaku bodoh.

Ia kelihatan keberatan dengan pertanyaanku itu. Ia segera mengangkat tangannya, bersiap untuk melempariku dengan sendok, namun tak jadi ia lakukan.

"yaish! Bukankah kau yang menyarankannya padaku?! Aku benar-benar tidak punya pakaian dalam! Dan tidak mungkin aku mengenakan pakaian dalam yang sama selama dua hari berturut-turut!" cecarnya ganas.

Baiklah, kali ini aku yang salah.

"uh, baiklah kalau begitu. Maafkan aku." Ucapku mengaku salah.

Ia segera membuang mukanya, kemudian kembali beranjak menuju kamar.

"cepat, Kim Mingyu! Aku tidak mau terlambat! Kau harus mengantarkanku!" teriaknya dari dalam kamar, membuatku menghela nafas panjang.

Wanita dan perintahnya yang mutlak.

.

.

.

.

Uh! Pertanyaan macam apa itu yang ia tanyakan?! Berani sekali ia menanyakan itu pada seorang wanita!

Aku terus kesal jika mengingat kejadian tadi pagi saat di pantry apartemen Mingyu.

Aku bahkan tidak bisa berkonsentrasi menggambar sekarang! Uh! Kim Mingyu sialan!

Namun tiba-tiba aku teringat satu hal.

Aku belum sempat mengobati luka di tangannya semalam.

Ah, sial!

Aku segera menyuruh tuan Song, petugas kebersihan kami agar membeli obat untuk mengobati luka Mingyu di apotek terdekat.

"Wonwoo-ya. Bagaiamana kemarin?" tiba-tiba Jeonghan eonni menepuk bahuku pelan, membuatku tersadar dari lamunanku.

"kemarin? Memangnya kemarin ada apa?" tanyaku bingung.

"ish! Kau sudah lupa? Junhui!" ucapnya kesal.

Aku segera membulatkan mulutku.

Ah, ternyata soal pria busuk itu.

"entahlah eonni, aku sedang tidak ingin membahasnya." Ucapku asal, membuat Jeonghan eonni terlihat kesal.

"ya! Kau ini sudah mulai main rahasia denganku, ya?! Fine! Jika lain kali kau membutuhkan bantuanku, tidak akan kuberikan!" ucapnya kesal.

Aku hanya terkekeh, lalu menangkap pergelangan tangannya saat ia mulai beranjak pergi dari mejaku.

"aigoo, eonni jangan marah, eoh? Lain kali pasti kuceritakan, namun kali ini aku memang sedang tidak mood untuk menceritakannya."

Ia hanya memutar bola matanya malas.

"baiklah. Tapi dengan syarat kau mau menemaniku pergi makan patbingsoo malam ini." Ucap Jeonghan eonni.

"heum? Memangnya Seungcheol oppa kemana? Biasa ia selalu mengikutimu kemanapun kau pergi."

"ia sedang berada di Jepang. Biasa, investor asing." Ucapnya jengah.

Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.

"baiklah, aku akan menemanimu per – "

"annyeong haseyo."

Lagi-lagi, untuk yang kedua kalinya, ucapanku diinterupsi oleh seorang pria.

Suara pria itu juga familiar, sama seperti kemarin.

Namun bedanya aku tidak merasa muak mendengarkan suara pria yang datang kali ini.

Aku malah merasa jantungku seolah meloncat dari tempatnya.

Dan tiba-tiba saja jutaan kupu-kupu seolah terbang didalam perutku, membuatku mual.

"ya! Apa yang sedang kau lakukan disini, Kim Mingyu!"

TBC

Ciyeeeeeeee...

Yang bisa menebak dengan benarr.. uhuyy

Seneng, euy. Kemarin responnya sangat bagus, bikin aku seneng banget. Hehehe

Sesuai janji, aku up chap 6 ini sekarang.

Semoga respon yang diberikan pembaca semakin bagus juga ya, ngga memble.

Happy reading, don't forget to review!

Have a nice weekend, and SEE YOU SOON, GUYS!