((WTH GW NULIS APAAN ITU DI CHAPTER SEBELUMNYA?!!Original ideanya sebenernya bikin Witch AU.. tapi entah kenapa situasi di kamar mandi dan kehujanan itu sangat.. 'sesuatu' sampe tangan ini auto nulis yang aneh-aneh.. Oh well, no prob lah #kickedIntinya chapter ini untuk membayar kebelokan di chapter sebelumnya. Enjoy!))
Disclaimer : Vocaloid bukan punya gw
-Kalau mereka hidup di dunia sihir-
Mikuo menaruh sehelai handuk di kepala Len dan membantu bocah itu
mengeringkan rambutnya. "Sudah kubilang kau tidak usah datang hari ini. Cuaca sedang buruk,"
Len menggembungkan pipi, membiarkan sang tuan mengacak2 rambutnya yang basah kehujanan.
Mikuo menghela napas lalu memberikan Len secangkir teh hangat dengan asap yang masih mengepul indah. "Minum ini,"
Len mengangguk berterima kasih dan langsung menyeruput cairan pahit masuk ke kerongkongannya. Aromanya memang sangat menyegarkan, sangat membantu tubuhnya rileks dan menghangat. Mikuo sepertinya senang melihatnya menurut, lalu duduk di sofa sebelahnya dan melanjutkan pekerjaan kantor yang tertunda.
Sudah lama Len tidak melihat Mikuo mengenakan kacamata.. sial, kenapa tuan muda itu keliatan berkilauan di matanya?
...tunggu. Apa?
"FUUUSH" Len menyemburkan cairan di mulutnya itu ke sembarang arah.
Mikuo menatapnya garang. "Hei bocah, kau mengotori karpetk--"
"Diam, bodoh! Ini semua salahmu!" teriak Len mengelap mulut dengan lengannya. "Aku tau kau pasti memasukkan love potion ke minuman ini untuk mempermalukanku, kan? Cih, harusnya aku ingat kau adalah seorang penyihir licik," tuduh Len dengan yakin, kemudian berdiri untuk meninggalkan ruangan.
Mikuo menaikkan sebelah alis. "Ha?"
Langkah Len terhenti untuk menyeringai. "Masih mencoba menipuku? Maaf, sepertinya kau gagal, Hatsune Mikuo. Aku juga penyihir high class, jadi kau tidak bisa mencuci otakku semudah itu hahaha!" tawanya puas..-
..-atau lebih tepatnya ia bicara terlalu banyak.
Kini ia melihat Mikuo menaruh pekerjaannya di meja lalu berjalan mendekatinya, baru terasa keringat dingin mengalir dan ludah yang sulit ditelan.
"Aa- erm.. Mikuo- maksudku-"
Ucapannya berganti pekikan ngeri ketika Mikuo memerangkap tubuhnya dengan dinding.
"Love potion, katamu? Kalau begitu.. bagaimana kalau kau memberitahuku cara menghilangkan efeknya?" bisik Mikuo sambil menyeringai lebar.
Len yakin Mikuo sudah tahu jawabannya- ia yakin! Mikuo-senpai lebih pintar darinya- hanya saja si bodoh itu berusaha memancingnya untuk memohon- sial!
Hidup dipaksa melayani seorang tuan muda yang seenaknya sendiri.. dingin dan suka bersikap aneh.. bahkan kini memutar takdir cintanya menjadi seburuk ini, ugh.. Len sudah tak tahan lagi.
..namun hati kecilnya berkata bahwa dimanja sesekali oleh sang es tidak terlalu buruk.
"CUUUTTT," teriak Gumiya dari microphone, seiring dengan bunyi kamera dan lampu layar yang dimatikan.
Mikuo menyingkirkan tangannya dari dinding dan berjalan ke backstage, mengambil minum. Sementara Len masih merasakan napasnya tercekat. Kakinya lemas dan ia jatuh terduduk di lantai.
Sial. Len hampir lupa kalau mereka sedang shooting untuk club drama universitas- hei jangan salahkan dirinya! Ini salah penulis skenario yang entah kenapa begitu mirip dengan pengalamannya sendiri dengan Mikuo hingga ia terbawa suasana.
"Gila kau Len," kata Gumiya menghampiri sambil menawarkan minum. "Kau menghayati peran sekali! Bagaimana caranya membuat wajah merah merona seperti itu di acting? Kau harus mengajariku kapan-kapan!" puji pemuda rumput itu, namun lebih terdengar seperti ejekan di telinga Len.
"Berisik kau, Gum. Setidaknya aku berkontribusi, tidak seperti kau yang duduk pegang toa sambil teriak kat kat kakkakat~" kata Len, yang pastinya langsung bersambung dengan adu sumpah serapah dengan Gumiya.
Sudah lama sejak Len berhenti bekerja menjadi pelayan Mikuo. Tidak ada lagi pergi ke rumah Mikuo saat pulang sekolah atau pulang kampus, bahkan saat hari libur. Ia bisa lebih bebas jalan-jalan bersama temannya yang lain dan beristirahat sesuka hati.
Kebebasan.. itu memang yang sejak dulu diinginkan Len. Namun bagai kisah Cinderella, sang putri tidak puas hanya sekedar menatapakkan kaki keluar dari rumah sang ibu tiri. Gadis cantik nan mandiri itu butuh lebih dari sekedar kebebasan.. atau malah lebih tepatnya, ia tak pernah butuh kebebasan.
Ia dan gadis itu sama, sayangnya Len tak pernah menyadarinya. Untungnya, perasaan itu berjalan natural bagaikan insting dan sang putri mempunyai seorang pangeran yang terus memberikan perhatian padanya.
"Whuaa semua, lihat lihat! Salju pertama!" teriak para gadis yang berdiri dekat jendela lorong. Sontak seluruh perhatian anak club drama terarah pada jendela, menikmati keindahan serepihan kristal itu perlahan mengisi lapangan coklat kehijauan.
"Salju, hm? Jadi sepertinya kita akan menginap di kampus?" kata Gumiya menatap pakaian yang dipakainya saat ini.
"Bodoh, malah sebaiknya kau cepat2 pulang sebelum makin tebal," balas Len sambil mengambil ranselnya dan menaruhnya di punggung. "Gum kau naik kereta kan? Bareng ga?" tanyanya, namun Gumiya malah memasang senyum aneh di wajahnya.
"Ah gomen Len, sepertinya hari ini tidak bisa bareng," tolaknya. "Karena Mikuo-sama pasti tak menginjinkan orang ketiga di jok mobilnya," lanjutnya.
"He? Apa maksud- HUWAAH MIKUO?!" Teriak Len kaget ketika merasa sepasang tangan yang dingin menyentuh lehernya. Siapa lagi kalau bukan sang pangeran kampus..- atau lebih tepatnya alumni yang masih sulit berpisah dengan gedung tua itu.
"Len. Kursi mobil disebelahku dingin," kata Mikuo.
Len mendecih. "Tutupi saja dengan selimut atau tas besarmu," balasnya.
"Kau tau itu tak sehangat badanmu, kan?" kata Mikuo lagi, kini dengan senyum penuh kemenangan.
Dan sejak kapan Len bisa menolak suara yang bagai mantra di telinganya itu? Ia seharusnya sudah tahu bahwa ia melakukan ini bukan untuk melayani keinginan Mikuo sebagai bawahannya, tapi untuk mendapat perhatian khusus dari sang pangeran.
".. terserah kau saja, Mik.." kata Len sembari mengekor Mikuo ke tempat parkir.
Jadi siapa yang pelayan dan siapa yang menjadi tuan? Mah, tak ada yang peduli, yang penting adalah sang Cinderella sudah menemukan pangerannya.
-end-
...KOK GW KASIHAN SAMA GUMIYA NYA?! SEDIH BANGET KAYAK ORANG KETIGA CINTA TAK TERBALASKAN #KICKEDAnyway saya tadinya berniat mengakhiri cerita pake ending angsty macem pake berantem lah terus putus terus pas natal tiba2 jadian lagi.. Buttt saya lagi ga niat nulis angst so yeaahh jadilah begini.Gomen kalo plotnya kesannya buru2.. keuber deadline event hahaha.oh well. Arigatou~ *bow*