TITLE :One Night Stand
GENRE :Romance, Drama
RATING :M
CAST :Wonwoo (GS), Mingyu
DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.
SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .
This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))
.
.
.
.
Kulangkahkan kakiku memasuki gedung berwarna coklat dengan desain minimalis ini.
Sebuah butik kelas atas yang namanya cukup terkenal dikalangan para wanita. Tempat Wonwoo bekerja.
Dengan mengulum senyum menghampiri seorang staff perempuan disana.
Ia terlihat sedikit kaget saat melihatku. Kenapa? Apa ia takjub pada ketampananku?
Ah, sudah biasa. Aku ini memang sangat tampan. Hahaha...
"annyeong haseyo, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan ramah sambil terus memperhatikan penampilanku dari atas kebawah.
Well, aku merasa sedikit bersyukur karena sebelum pergi kesini aku menyempatkan diriku untuk membersihkan tubuh dan memakai pakaian yang bersih.
Biasanya jika aku sudah sangat lelah, aku sama sekali tidak akan peduli pada penampilanku.
"ah, ya... aku ingin meminta tolong. Bisakah aku menemui Wonwoo-ssi?" tanyaku tidak kalah ramah pada wanita ini.
Ia menganggukkan kepalanya.
"apakah tuan sudah membuat janji sebelumnya? Atas nama siapa, jika saya boleh tahu?"
Aku kembali tersenyum. Haha, wanita ini akan kaget jika mengetahui kebenarannya.
"ah.. aku harus membuat reservasi dulu sebelumnya jika ingin bertemu dengannya?" tanyaku pura-pura bodoh.
"ah, maaf sekali tuan. Jika anda belum membuat janji dengan Wonwoo-ssi, anda tidak bisa bertemu dengannya, karena jadwal Wonwoo-ssi yang sangat padat." Ucap staff tersebut memasang wajah menyesal.
Aku menganggukkan kepalaku pertanda mengerti.
"kalau begitu, tolong beritahu Wonwoo-ssi bahwa calon suaminya berada disini.." ucapku lagi.
Staff tersebut masih menganggukkan kepalanya hingga beberapa saat kemudian ia baru tersadar.
"ah, baik akan saya – ah! Anda ca-calon suami Wonwoo-ssi? Ah, maafkan saya.."
"mari tuan, akan saya antarkan menuju tempat Wonwoo-ssi." Ucap staff tersebut dengan wajah menahan malu, lalu mengantarkan ku menuju sebuah ruangan dengan pintu berwarna gading.
"TOK TOK TOK"
Staff tersebut membuka pintunya dan mempersilahkan aku masuk. Dan aku bisa mendapati Wonwoo tengah berada disana. Sedang berbincang seru dengan seorang wanita yang waktu itu kutemui juga di bar bersama Wonwoo.
"baiklah, aku akan menemanimu per –"
"annyeong haseyo."
Sapaku dengan suara yang sengaja kubuat sedikit kencang agar mereka menyadari kehadiranku.
Wanita itu, teman Wonwoo, segera menatapku. Namun tidak dengan Wonwoo.
Ia masih membelakangiku, kemudian pelan-pelan membalikan tubuhnya seolah ragu. Dan saat ia menatapku yang tengah berdiri didepan pintu ini, ia segera terperangah.
"ya! Apa yang sedang kau lakukan disini, Kim Mingyu!"
Hahaha, sambutan yang hangat. Khas Wonwoo sekali.
Kulangkahkan kakiku mendekati Wonwoo, dan sepertinya staff yang tadi mengantarkanku itu segera undur diri.
"ah, annyeong haseyo. Saya Kim Mingyu. Kita pernah bertemu sebelumnya. Apakah anda ingat?" tanyaku pada teman Wonwoo ini, lalu mengulurkan tangan sebelah kananku untuk mengajaknya bersalaman.
Ia menatapku sama seperti staff itu. Dari atas hingga kebawah. Lalu ia segera membalas jabatan tanganku.
"ah... benarkah? Saya tidak terlalu mengingatnya, namun sepertinya wajah anda memang tidak asing..."
"ah, aku Yoon Jeonghan, ngomong-ngomong. Sahabatnya Wonwoo. Dan kau adalah..?" wanita bernama Jeonghan ini menatapku dengan raut penasaran.
Ia sesekali melirik kearah Wonwoo yang masih menatapku dengan mulut ternganga, seolah tidak menyangka bahwa aku benar-benar akan menghampirinya disini.
"aku kekasih Wonwoo." Ucapku cepat, takut Wonwoo akan segera mengelak.
Dan Jeonghan kelihatan sangat tertarik dengan ucapanku tersebut.
"omo... benarkah itu?"
"ya! Kau perempuan beruntung! Lepas dari Junhui, segera mendapatkan yang baru! Ckckc, Wonwoo-ya! Kau memang tidak pernah membuatku kecewa!" jeonghan melipat kedua tangannya didepan dada, kemudian sedikit berdecak kagum sambil menatap aku dan Wonwoo.
"ish, itu tidak benar, dia itu.."
"ah, kami bahkan akan segera merencanakan pernikahan dalam waktu dekat."
Aku yakin Wonwoo ingin mengelak ucapanku. Sehingga aku menyelak ucapannya lebih dulu, membuat ia semakin kaget dengan ucapanku.
"ya! Kau ini apa-apaan?!" tanyanya emosi.
Aku hanya memasang tampang tidak peduli padanya, kemudian beralih kembali pada Jeonghan.
"haha, begitulah kenyataannya Jeonghan-ssi."
"ah, Wonwoo-ya. Kapan kau akan selesai bekerja?" tanyaku sambil menatap Wonwoo yang kelihatannya masih sangat kesal padaku.
Ia memanyunkan bibirnya, kemudian melipat kedua tangannya didepan dada.
"sebentar lagi kami akan selesai. Mingyu-ssi, tadinya aku dan Wonwoo berencana untuk makan patbingsoo didekat sini. Kau mau ikut?" ajak Jeonghan padaku.
Sesungguhnya aku sedikit kecewa.
Bukannya apa, tapi sesungguhnya aku menjemput Wonwoo hari ini karena aku ingin mengajaknya berbelanja.
Aku baru sadar, bahwa ia membutuhkan beberapa perlengkapan yang harus ia simpan di rumahku untuk jaga-jaga jika suatu saat nanti ia akan menginap.
"benarkah? Aku akan sangat senang untuk ikut. Tapi apa aku tidak mengganggu kalian?" tanyaku sambil menatap Jeonghan.
Aku tidak mau bertanya hal ini pada Wonwoo, karena tentu jawaban wanita itu jelas.
AKU PENGGANGGU.
"ya, kau mengganggu." Ucap Wonwoo sarkastik.
Tuh kan, sudah kuduga.
"yaish!" Jeonghan segera memukul bahu Wonwoo, kemudian memelototi wanita itu.
"aniya! Tentu saja tidak! Kekasih Wonwoo adalah temanku juga! Kau sangat diperbolehkan ikut, Mingyu-ssi."
"ya! Eonni kenapa mengajak nya ikut?! Kita kan mau bicara empat mata saja!" rengek Wonwoo kesal.
Sepertinya ia benar-benar kesal padaku. Ia bahkan tidak mau aku sampai ikut acara makan dengan temannya.
"Wonwoo-ya. Mingyu-ssi itu kan calon suamimu, kau tidak boleh bersikap seperti itu padanya, oke? Lagipula pembicaraan empat mata kita bisa dilakukan lain waktu. Aku bisa menunggu. Oke?" ucap Jeonghan sambil mengedipkan sebelah matanya pada Wonwoo.
Membuat wanita itu menghela nafas jengah.
"hhh.. baiklah. Kau boleh ikut, Mingyu. Tapi dengan satu syarat." Ucap Wonwoo menatapku dengan tatapan jahil.
Kubalas tatapannya dengan ragu.
Wanita ini, tidak bisakah ia membiarkan aku ikut begitu saja? Kenapa setiap hal yang kulakukan harus dapat imbalannya?
"kau harus membayar semua makanan pesanan kami." Ucap Wonwoo lagi dengan senyum jahil, seolah menang.
Aku menghela nafas lega.
Jadi hanya itu permintaannya?
Huh, siapa takut.
"call!"
"assa! Kajja, eonni!"
Kuangkat alisku bingung. Emosi wanita hamil benar-benar cepat sekali berubah.
Kini bahkan Wonwoo sudah menarik tangan Jeonghan, dan ia terlihat sangat bersemangat. Padahal baru beberapa menit yang lalu ia terlihat kesal.
Tapi aku senang melihatnya tertawa seperti itu.
.
.
.
.
"um, jadi aku pesan satu Haemul Pajeon, Japchae, Honey Chicken, satu porsi mandoo, dan juga Melon Patbingsoo."
Bisa kurasakan tatapan Jeonghan eonni dan juga Mingyu yang menatapku takjub. Lebih tepatnya heran.
"ah, kau mau apa, eonni?" tanyaku pada Jeonghan eonni.
"ah, aku akan makan berdua denganmu saja." Ucap Jeonghan eonni, lalu menutup buku menu yang sedari tadi masih ia pegang.
"andwe! Itu semua milikku! Eonni pesanlah jika eonni mau!"
"ya, eonni tenang saja. Mingyu yang akan membayarnya. Tidak usah takut! Uangnya itu sangat banyak!" ucapku sambil menatap Mingyu jahil.
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya, namun tidak mengatakan apa-apa.
"ya! Kau ini gila?! Makanmu banyak sekali? Apa kau sedang hamil?" tanya Jeonghan eonni sarkastik, kemudian menatap Mingyu tajam.
Mingyu yang ditatap seperti itu langsung gelagapan, membuatku juga jadi agak panik.
"a-aniya! Eonni ini apa-apaan,sih?! Mana mungkin aku hamil, kan?! Aku hanya sangat lapar, eonni! Tadi siang aku belum sempat makan siang!" ucapku cepat, berusaha agar membuat Jeonghan eonni tidak curiga.
Dan untunglah, Jeonghan eonni percaya pada ucapanku. Ia segera menganggukkan kepalanya pelan, kemudian kembali memesan makanan untuknya sendiri.
"kalau kau, Mingyu?" tanyaku pada Mingyu yang sedari tadi masih belum menyebutkan pesanannya.
"ah, aku akan pesan satu Kimchi ramyun saja." Ucap Mingyu sambil menatap pelayan yang sedang mencatat pesanan kami.
Apa? Pria itu mau makan ramyun? Tidak! Tidak! Tidak akan kubiarkan!
"ya! Tidak! Kau tidak boleh makan ramyun! Ah, tolong ganti pesanannya dengan satu porsi bibimbap." Aku mengoreksi pesanan Mingyu pada pelayan tersebut, yang kemudian dibalas tatapan tajam oleh Mingyu.
"ya, kenapa aku tidak boleh makan ramyun? Kau saja memesan sesukamu, kenapa aku tidak boleh?" tanya Mingyu seperti anak kecil yang sedang merajuk.
"heol, Kim Mingyu! Kau itu dokter! Kenapa memilih makanan yang baik untukmu saja kau tidak bisa?"
Mingyu berdecak menatapku.
"kau sendiri, kenapa memesan makanan sebanyak itu? Memangnya bisa kau habiskan?! Pokoknya aku tidak akan mau jika kau menyuruhku untuk menghabiskannya!"
Sepertinya Mingyu benar-benar ingin membalas dendamnya padaku karena ia tidak bisa makan ramyun kali ini.
Namun aku tidak kehabisan akal.
Meja kami yang berbentuk lingkaran memudahkanku untuk mendekat kearah Mingyu, lalu aku menutupi mulutku, dan berbisik padanya.
"anakmu yang menginginkan ini. kami sangat lapar, appa."
Membuat Mingyu seketika terdiam, kemudian menatapku dengan tatapan menyebalkan miliknya.
Ia kembali berdecak, namun kali ini dengan suara yang lebih kecil.
Lalu membalas bisikanku.
"yasudah, kali ini kau kumaafkan. Tapi setelah ini, jangan harap kau akan lolos dari ocehanku."
Membuatku memekik senang, dan hampir saja memeluk lengannya, jika saja aku tidak ingat bahwa masih ada Jeonghan eonni disini.
Tidak lama kemudian, satu persatu makanan kami tiba, dan Jeonghan eonni membuka mulutnya untuk bertanya pada Mingyu.
"Mingyu-ssi, aku mengingatmu sekarang. Kau adalah orang yang Wonwoo temui di bar beberapa saat yang lalu, bukan?" tanya Jeonghan sambil menyantap makanan pesanannya.
Mingyu hanya menganggukkan kepalanya pelan "ya, itu benar. Wae?"
Jeonghan eonni seolah tersenyum puas. Ia melirik kearahku, lalu menjulurkan lidahnya sedikit.
"bagaimana bisa kalian jadi sepasang kekasih? Berminat menceritakannya padaku?" tanya Jeonghan eonni.
Mingyu sedikit gelagapan mendapat pertanyaan seperti itu oleh Jeonghan eonni. Dibawah meja makan, Mingyu dengan sengaja menyenggol lenganku, seolah meminta bantuan.
"ah, cheogi.. setelah bertemu di bar malam itu, kami kembali bertemu di rumah sakit tanpa sengaja. Dan kebetulan sekali, ternyata Wonwoo adalah sahabat SMA Jihoon-ssi. Dan sejak saat itulah kami menjadi dekat." Ucap Mingyu, padahal aku baru mau membantunya menjawab pertanyaan Jeonghan eonni.
"ah, benarkah? Ya! Kenapa kau tidak pernah cerita padaku kau sudah memiliki kekasih?! Kau benar-benar sudah tidak menganggapku teman, ya?!" oceh Jeonghan eonni sambil melotot kearahku, membuatku sedikit mencibir.
"bukan begitu, eonni! Aku ingin menceritakannya padamu, namun waktunya selalu belum tepat!"
"ah! Alasan saja! Si kecil Jihoon juga! Kenapa ia tidak bicara padaku kalau ia mencomblangkan pasangan ini?! awas kalian, ya!"
Jeonghan eonni menusuk honey chicken milikku dengan ganas, kemudian melahapnya.
Kami terus saja berbincang, hingga makanan milik Jeonghan eonni dan Mingyu sudah habis, namun tidak dengan milikku.
Entahlah, biasanya aku paling benci pada orang yang suka membuang-buang makanan. Namun kali ini aku sendirilah yang melakukannya.
Semua makananku tidak ada yang habis, namun aku sudah merasa muak untuk menghabiskannya.
Mungkinkah ini efek dari bayiku?
Ahh! Menyebalkan!
Lalu dengan sedikit senyum malu-malu, kugeser sedikit demi sedikit piring makananku kehadapan Mingyu.
"mingyu... aku kenyang." Ucapku sambil memasang wajah polos dan sedikit menarik lengan kemejanya.
Ia hanya mendengus.
"lalu?"
"habiskan."
"tidak mau. Memangnya aku tong sampah pribadi milikmu? Kau habiskan sendiri makanan yang kau pesan. Makanya jadi orang jangan rakus, Jeon Wonwoo." Ucap Mingyu menasehatiku.
Namun cara dia menasehatiku sedikit menusuk, membuatku agak sakit hati mendengarnya.
Kugebrak meja makan dihadapanku dengan keras, membuat perhatian orang-orang yang berada disana tertuju padaku, termasuk Mingyu.
"ya! Memangnya jika tidak kenyang aku akan membuang makanan ini?! lagipula jika tidak mau kau bilang saja baik-baik! Tidak perlu berkata menyakitkan begitu!" ucapku keras sambil menatap matanya dengan nyalang.
Mingyu juga membalas tatapanku. Namun tatapannya lebih seperti.. ehm, apa ya?
Mungkin kaget, bingung, dan sedikit... takut?
Saat sadar bahwa Mingyu tidak juga mengatakan apapun dan perhatian orang-orang yang tertuju padaku, membuatku tiba-tiba sedih dan malu.
Lalu tanpa kusadar setetes air mata jatuh menuju pipiku. Disusul tetesan lainnya.
Aku menangis!
For god sake!
Untuk apa aku menangis hanya karena hal seperti ini?! shit! Ini sangat memalukan!
Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tetap tidak bisa menghentikan air mataku ini.
Aku hanya merasa bahwa hatiku sangat sakit dan sedih.
"uukhh.. hiks. Hiks."
tangisanku semakin menjadi, membuatku merasa selain sedih, aku juga merasa malu. Hingga akhirnya kututup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
"yah, kau kenapa? Kenapa menangis hanya karena hal seperti ini? kau sedang datang bulan?" tanya Jeonghan eonni pelan. Ia juga tidak mau menjadi pusat perhatian karena hal ini.
Ia terus saja mengelus lenganku agar aku berhenti menangis, namun tetap tidak bisa.
Hingga akhirnya kurasakan Mingyu yang tiba-tiba menarikku kearahnya dan memelukku dari samping.
Ia kemudian mengelus punggungku, dan berbisik pelan di telingaku.
"maaf, maaf. Maafkan aku ya, sudah berkata kasar padamu. Sudah, jangan menangis lagi. baik-baik, jika kau sudah kenyang tidak apa. Makanannya bisa kita bawa pulang untuk besok, oke?" ucap Mingyu dengan suara pelan, namun dengan nada gentle, membuatku sedikit terenyuh.
Ia terus saja mengelus punggungku, seiring dengan isakan tangisku yang masih belum reda.
"jebal, jangan menangis lagi. aku minta maaf, oke? Aku mengaku salah. Aku akan mengabulkan keinginanmu sebagai gantinya." Mingyu masih terus saja membujukku, dan bujukannya yang terakhir membuatku berhasil terpancing.
Aku mulai menghentikan tangisku dan kembali menatap wajah Mingyu.
"kau akan menuruti keinginanku?" tanyaku ragu.
"eoh." Jawabnya dengan menganggukkan kepalanya bersemangat.
"apapun?"
"apapun."
"baiklah kalau begitu. Kau kumaafkan. Tapi jika lain kali kau berkata hal yang menyakitkan lagi, aku benar-benar tidak akan mau menikah denganmu." Ancamku padanya.
"yagsog." Mingyu menyodorkan jari kelingkingnya untuk ia kaitkan padaku, namun aku pura-pura tidak peduli dan malah mengalihkan pandanganku kearah lain.
"pelayan, tolong take away makanan ini." ucapku setelah memanggil seorang pelayan yang berada disana.
"baik."
Dan dapat kusaksikan Mingyu yang menggelengkan kepalany heran melihat tingkahku, namun aku tidak peduli.
.
.
.
.
Aku sudah mengantarkan Wonwoo sampai kedepan apartemennya, dan baru saja wanita itu bersiap untuk keluar, namun ia mengurungkan niatnya.
"Kim Mingyu, ikut aku." Perintahnya terdengar mutlak.
"eoh? Kenapa?" tanyaku heran.
"sudah, cepat ikut saja, jangan banyak tanya. Cepat parkirkan mobilmu disana."
Akupun mengiuti perintahnya tanpa bertanya lagi.
Hari ini Wonwoo benar-benar sangat sensitif, dan aku tidak berani mengganggunya.
Sesampainya di apartemen Wonwoo, wanita itu menghilang begitu saja kekamarnya, sedangkan ia menyuruhku duduk di ruang tamu.
Sudah kukatakan, bukan? Bahwa aku menyukai apartemen Wonwoo?
Dan aku masih menyukainya hingga kini. Ini adalah kunjungan keduaku, namun belum hentinya tempat ini membuatku merasa nyaman.
Lalu tidak lama kemudian Wonwoo keluar dari dalam kamarnya dengan pakaian yang sudah berganti menjadi kaus berwarna hitam dan celana pendek yang – ehm, benar-benar pendek.
Celana itu bahkan hanya bisa menutupi hingga pangkal pahanya.
Membuatku sedikit kesulitan meneguk saliva.
Hey! Aku ini pria normal, oke?!
"kemarilah." Ucap Wonwoo sambil menepuk sofa disisinya.
Aku mengangkat alisku heran, namun tetap menjalankan perintahnya.
Setelah kududukan bokongku disana, ia segera menarik tanganku.
"aku belum sempat mengobati ini kemarin." Ucapnya dan mulai membuka obat yang ia ambil dari dalam kotak P3K.
Apa? Jadi ia menyuruhku kemari hanya karena ingin mengobati bekas lukaku yang bahkan sudah tidak terasa sakit itu?
Hahaha.
Well, wanita ini benar-benar tidak terduga.
Namun aku tahu, didalam hatiku terasa hangat saat mendapati wanita ini sedang mengoleskan salep penghilang nyeri pada punggung tanganku.
"cha! Sudah selesai!" tiba-tiba pekikan riang Wonwoo membuyarkan lamunanku.
Melihatnya tersenyum senang sambil menatap hasil karya yang ia buat diatas tanganku tidak terasa terlalu buruk.
Meskipun ia memperban tanganku untuk hal yang tidak perlu, tapi aku berusaha untuk menghargai usahanya.
"terima kasih." Ucapku dengan lembut. Tulus.
Ia menganggukkan kepalanya sambil terus menyunggingkan senyum. Meskipun tidak menatapku karena sedang membereskan kotak P3K, tapi aku tahu. Bahwa moodnya sudah kembali membaik.
"kau sudah membaik?" tanyaku masih terus menatapnya.
"hm? Memangnya aku kenapa?" tanyanya bingung.
"tadi kau menangis. Lalu terlihat badmood. Kau bahkan tidak berbicara apapun selama di mobil tadi." Ucapku lagi.
Ia hanya membulatkan mulutnya, lalu mengangguk kecil.
"ya, aku memang kesal padamu tadi. Tapi sepertinya sekarang sudah lebih baik?" ucap Wonwoo membalas tatapanku, namun ia sendiri terlihat ragu.
"Wonwoo-ya. Besok pagi kau akan kujemput untuk berangkat bekerja. Dan sorenya kita akan menemui Jihoon-ssi untuk melakukan check up."
Ia lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya dan berkata oke.
"jangan lupa bawa beberapa baju ganti. Pakaian dalam, baju tidur, serta pakaian untuk bekerja besok paginya." Tambahku lagi.
Kali ini ia menatapku dengan bingung.
"untuk apa?"
"kau akan menginap di tempatku besok."
Ia terlihat tidak setuju dengan ucapanku, karena ia segera menatap mataku nyalang.
"kenapa harus?!"
Aku hanya memutar bola mataku malas.
Mulai lagi Wonwoo dalam mode menyebalkannya.
"kita akan melakukan sesuatu, besok. Jadi kau harus bersiap."
"melakukan apa? Ya, Kim Mingyu! Jangan berani-beraninya ya kau!" pekik Wonwoo membuatku menatapnya jengah.
"sudahlah, kau ikuti saja kata-kataku kali ini, oke? Aku jamin kau tidak akan menyesal." Ucapku berusaha meyakinkannya.
Namun wanita ini hanya menatapku tanpa mengatakan apapun.
Tiba-tiba saja suasana di ruang tamu ini terasa hening. Aku tidak mengerti kenapa, tapi mata tajam Wonwoo tidak juga beralih dari wajahku.
Aku malu mengakui ini, namun aku cukup gugup dipandangi seperti ini olehnya.
"ke-kenapa?" tanyaku. Aish! Suaraku bahkan sedikit tergagap.
Ia lalu mendekatkan posisi duduknya padaku, masih dengan mata yang menatapku dalam, seolah berusaha membaca pikiranku.
"ya, Kim Mingyu." Panggilnya dengan nada yang sama sekali tidak pantas diucapkan oleh seorang calon istri pada calon suaminya.
"eoh?! Wae?"
"aku jadi teringat saat kemarin... saat kau mengamuk karena Wen Junhui."
DEG.
Jantungku tiba-tiba saja melakukan squad jump dari tempatnya. Apa yang wanita ini coba katakan?!
"kemarin malam aku tidak menyadarinya saat kau bicara, tapi... apa kau benar-benar cemburu pada Junhui?" tanya Wonwoo dengan nada serius.
Ah, sial! Mulut ini terlalu banyak bicara! Rutukku dalam hati.
Aku berusaha mencari jawaban terbaik.
Kualihkan pandanganku melihat seluruh dekorasi ruang tamu apartemen Wonwoo.
"ya, cepat jawab."
Kulirik Wonwoo dengan tatapan jengah.
"hey, jangan besar kepala dulu! Aku mengatakannya seperti itu kemarin karena tidak menemukan kalimat yang pas!"
"lagipula pria mana yang tidak marah saat melihat calon istrinya sedang diculik oleh mantan kekasih wanita tersebut?" akhirnya aku bisa mengatakan kalimat sanggahan pada Wonwoo.
Awalnya ia menatapku dengan sangsi, namun akhirnya wanita itu mencibir.
"cih! Alasan saja! Aku bahkan masih ingat dengan jelas kau bilang kau tidak membenciku! Tidak benci itu sama saja dengan suka, kan?!" oceh Wonwoo lagi.
Wanita ini benar-benar keras kepala dan pantang menyerah, membuatku cukup kesulitan.
"yaa... kau bilang juga kau tidak membenciku, jadi apa itu berarti kau juga menyukaiku?"
Aku benar-benar dibuat gelagapan oleh wanita ini. huh, lihat saja! Lain kali aku akan membalas perbuatanmu ini.
Setelah aku berucap seperti itu, ia segera memalingkan wajahnya, dan melirikku dengan tatapan malas.
"huh! Kau ini selalu mengelak! Sudahlah, aku lelah! Pulang sana!" usir Wonwoo padaku, membuatku cukup kaget.
Apa?! Ia mengusirku begitu saja?! Wanita ini! awas dia besok di apartemenku! Kupastikan, akan kubalas perbuatannya!
"ish! Wanita barbar! Yasudah aku pulang! Ini, simpan makananmu! Besok siang kau harus makan-makanan bergizi! Aku tidak mau anakku malnutrisi karena memiliki ibu seperti dirimu!" cecarku padanya karena merasa kesal.
Kemudian aku sedikit membanting paper bag berisi makanan yang dibungkus tadi keatas coffee table milik Wonwoo, membuat wanita itu menjerit.
"yaaa!"
Membuatku sedikit terkekeh, merasa senang bisa membalas sedikit perbuatannya, lalu tanpa peduli lagi, aku keluar dari sana dan pulang menuju apartemenku.
.
.
.
.
Hari ini aku sangat kesal.
Kalian tahu kenapa?
Tentu saja ini semua karena Kim Mingyu, pria mesum dan aneh dan tidak jelas itu.
Semalam jelas-jelas ia bilang bahwa ia akan mengantarkanku ke butik paginya.
Tapi sudah kutunggu hingga pukul delapan lewat lima belas menit, pria itu belum muncul juga.
Akhirnya ia mengangkat panggilanku setelah hampir dua puluh lima kali missed calls.
Dan suaranya yang terdengar serak benar-benar membuat pagiku terasa sangat buruk.
Ternyata pria itu lupa bahwa ia mempunyai janji denganku! ia bahkan baru bangun tidur saat aku berhasil menghubunginya.
Membuat egoku yang merasa terluka segera menutup panggilang tersebut dan menaiki taksi menuju butik.
Dan barusan, tiga puluh menit sebelum waktu bekerjaku habis, ia tiba-tiba berkata bahwa aku harus pergi ke rumah sakit sendiri, dan ia akan bertemu denganku disana. Di ruang praktek Jihoon.
Sungguh, jika anak yang ku kandung sekarang bukanlah milik Mingyu, aku sama sekali tidak mau berurusan dengan pria itu.
Lagi-lagi aku memesan taksi untuk mengantarkanku menuju rumah sakit.
Lihat saja, aku benar-benar akan membuat perhitungan dengan pria ini nanti.
Aku masih bersungut-sungut kesal saat sadar bahwa aku ternyata sudah berada didepan ruangan Jihoon.
Namun aku masih belum melihat batang hidung si pria hitam itu.
Jika ia membatalkan juga janjinya kali ini, aku benar-benar akan membatalkan rencana pernikahan kami.
"Jeon Wonwoo-ssi." Panggil seorang suster yang berkata bahwa aku sudah bisa masuk kedalam ruang praktek Jihoon.
Aku menganggukkan kepalaku pelan. Namun dengan langkah berat aku masuk kedalam sana.
"CKLEK."
"ya! Kenapa lama sekali, eoh?! Aku sudah berjamur menunggumu disini!" ucap seorang pria.
Tinggi, bertubuh tegap, berkulit gelap. Dengan setelan putih membalut tubuhnya.
Pria itu, Kim Mingyu!
Ternyata ia menungguku disini sedari tadi!
Membuatku segera mendengus dan membuang wajah dari hadapannya.
"ya... kau kenapa lagi, heum?" tanyanya saat melihatku yang terlihat kesal.
"Wonwoo eonni pasti kesal padamu karena tidak menemanimu,oppa. Itu wajar. Aku juga kesal jika Minhyuk tidak bisa menemaniku check up." Ucap seorang perempuan dengan nada lembut yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Kualihkan pandanganku, mencari sosok perempuan tersebut, namun tak kunjung menemukannya.
Hingga akhirnya Jihoon menyibak tirai yang menutupi sebuah kubikel, dan kudapati seorang calon ibu dengan perut besar sedang berusaha untuk bangun disana.
Mingyu dengan cekatan segera bergegas untuk membantu calon ibu tersebut. ia menggenggam tangannya erat, lalu mendorong punggungnya agar perempuan tersebut bisa duduk.
Seketika, aku tidak tahu kenapa. Benar-benar tidak tahu.
Aku merasa kesal.
Terlebih saat melihat Mingyu yang begitu baik membantu perempuan itu memakai sandalnya.
Hey! Ia bahkan tidak pernah melakukan itu untukku!
Apalagi setelah kulihat, perempuan itu masih terlihat sangat muda. Ia juga cantik.
Rambut coklat panjangnya menutupi hingga punggung. Kulitnya sangat mulus. Matanya juga besar.
Tidak seperti mataku yang sipit dan tajam ini. huh!
Seumur hidupku, aku baru menjalani hubungan dengan pria sebanyak empat kali.
Aku belum sempat merasakan cemburu , terlebih saat mereka sudah lebih dulu meninggalkanku.
Namun apa yang sekarang kurasakan jelas. Aku tahu pasti.
Rasanya sama menyakitkan saat aku melihat Boohyuk yang lebih dimanja karena ia anak lelaki satu-satunya di keluarga kami.
Dan perasaan itu, adalah rasa cemburu.
Lagi-lagi aku tidak mengerti kenapa aku harus merasakan hal tersebut pada Mingyu.
Namun yang sekarang kuinginkan hanyalah mencakar wajah pria mesum ini.
Terlebih saat mendengar alunan lembut suara calon ibu muda ini.
"annyeong haseyo, Kim Minseo imnida."
Yah, namanya pun bagus untuk ukuran seorang perempuan. Kim Minseo, katanya. Tidak sepertiku yang seperti nama lelaki. Nama perempuan ini Kim Minseo..
"Kim Minseo?!" pekikku tiba-tiba.
Saat sadar bahwa perempuan ini adalah Minseo, rasanya aku ingin menenggelamkan diriku kedalam sebuah sumur.
"Kim Minseo, adiknya Mingyu?!" tanyaku dengan sangsi sekali lagi.
Namun hal itu malah mengundang raut bingung dari Minseo dan Mingyu.
"ne, eonni."
"kenapa?" tanya Mingyu.
Aku menepuk dahiku. Cukup keras.
Astaga, ya Tuhan! Minseo adalah adik Mingyu. Rasanya aku ingin menenggelamkan diriku kedalam sumur jika mengingat apa yang baru saja kupikirkan ini.
"a-aniya.." ucapku berusaha terlihat biasa saja.
"eonni, aku benar-benar senang akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Oppa selalu menceritakan tentangmu padaku, dan sepertinya oppaku suka padamu." Ucap Minseo dengan nada yang, ehm – terdengar lembut.
Aku segera menatap Minseo dan Mingyu bergantian.
"Mingyu suka bercerita tentangku?" tanyaku lagi.
"ya! Kenapa kau berkata seperti itu padanya?! Ia bisa besar kepala! Lihat!" ucap Mingyu sambil mencubiti pipiku, membuatku merasa sangat kesal pada pria jangkung ini.
"ya! Sakit!"
"EKHEM!"
"keluarga Kim, bisa kita lakukan check up nya sekarang? Aku masih punya beberapa pasien, jika kalian lupa.." astaga, aku bahkan melupakan Jihoon yang masih berada disana.
"aigoo, mianhe, Jihoonie. Cha! Ayo kita periksa!" ucapku riang pada Jihoon, takut ia marah padaku.
Aku diantar untuk berbaring diatas brangkar, dan itu membuatku sangat berdebar-debar!
Kalian tahu kenapa?
Karena, selain ini adalah check up pertama kehamilanku, kini Mingyu sedang menggenggam erat tanganku.
Tadi ia menggenggam tanganku karena aku sedikit kesulitan untuk berbaring. Namun hingga kini, pria itu belum juga melepaskan tangannya.
Ia memperhatikan dengan seksama penjelasan Jihoon, dan sesekali bertanya mengenai kondisiku.
Aku sama sekali tidak mengerti, jadi kuserahkan semuanya pada pria ini. ia adalah ahlinya, bukan?
Dan setelah beberapa tanya jawab, aku diperbolehkan kembali bangun.
Well, aku benar-benar merasa bersalah karena sudah merasa cemburu pada pria ini.
Karena ternyata ia juga melakukan hal yang sama padaku, seperti ia memperlakukan Minseo.
Bahkan lebih.
Ia menggenggam erat tanganku, dan merengkuh pinggangku, membuat kerja jantungku benar-benar dua kali lipat lebih keras daripada biasanya.
"jadi begitu, kau mengerti, Wonwoo?" tanya Jihoon padaku.
Sungguh, aku sama sekali tidak memperhatikan apapun yang Jihoon ucapkan tadi, sehingga aku hanya bengong menatap sahabatku itu.
"aish! Kau ini! makanya dengarkan orang berbicara!" Jihoon baru saja mau memarahiku, sebelum Mingyu berkata bahwa ia mengerti, dan akan mengurusku dengan baik.
Saat ini, aku benar-benar bahagia.
Kekesalanku tadi pagi seolah menguap entah kemana sekarang.
.
.
.
.
Syukurlah, keadaan kandungan Wonwoo baik-baik saja.
Dan yang perlu kulakukan hanyalah rajin mencekokinya suplemen vitamin saja agar nafsu makannya bertambah.
Kulirik kesamping, Minseo dan Wonwoo yang sedang asyik berbincang.
Kelihatannya mereka berdua cukup cocok, membuatku sedikit lega.
"ah, eonni, kau benar-benar persis seperti apa yang Mingyu oppa ceritakan." Ucap Minseo.
Ah! Anak ini! sudah kukatakan agar tidak mengatakannya pada Wonwoo!
"heum? Memangnya apa saja yang ia katakan tentangku?" tanya Wonwoo sambil terus menyuapi es krim kedalam mulutnya.
"banyak, eonni. Tapi satu hal yang pasti. Oppaku benar-benar menyukaimu!" pekik Minseo seolah ia terdengar senang.
Wonwoo tiba-tiba saja terdiam. Ia berhenti menyuapi es krim kedalam mulutnya, membuatku sedikit khawatir.
"ya, Wonwoo? Kau kenapa?"
Ia masih terus saja terdiam, hingga tiba-tiba menyenggol lenganku berkali-kali, lalu menggodaku dengan senyumnya yang terlihat sangat jahil.
"eyyy... kau bilang tidak suka padaku, eoh?" ucapnya sambil terus menyikut lenganku.
Membuatku jadi sedikit malu.
"y-ya! Bukan begitu! Aish! Sudahlah!"
Wonwoo hanya tertawa terbahak-bahak bersama Minseo, membuatku sedikit mendengus.
"Minseo, kalau begitu.. kau mengetahui rahasia kami?" tanya Wonwoo tiba-tiba kembali serius.
Minseo menatap mataku, membuat Wonwoo jadi melakukan hal yang sama.
"ne, eonni."
"maafkan aku, Wonwoo-ya." Ucapku tiba-tiba.
Wonwoo segera menatap wajahku dengan raut penasaran.
"aku menceritakan soal kita pada Minseo. Saat itu, di hari aku tahu bahwa kau mengandung anakku, aku menghubungi Minseo. Aku membutuhkan saran darinya. Sehingga aku memberitahunya." Aku benar-benar meminta maaf pada Wonwoo.
Sama seperti Wonwoo yang memiliki satu orang yang mengetahui rahasia ini, akupun begitu.
"maafkan kami, eonni. Aku dan Mingyu oppa sangat dekat. Bahkan dulu orang pertama yang mengetahui aku hamil diluar nikah adalah Mingyu oppa. Tapi eonni tidak perlu khawatir, aku tidak akan menceritakannya pada siapapun." Ucap Minseo juga berusaha meminta maaf pada Wonwoo.
Wonwoo diam saja, hingga akhirnya ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"baiklah. Kalian aku maafkan."
"yeeay! Gomawo, eonni!" pekik Minseo riang.
"ah, tapi sebelumnya boleh aku tahu kenapa Minseo bisa berada di ruang praktek Jihoon tadi?" tanya Wonwoo lagi.
Kuhela nafasku sebelum menjawab pertanyaannya.
"kebetulan hari ini memang jadwal Minseo untuk check up. Jadi kupikir sekalian saja."
"aku akan berpura-pura mengantarkan Minseo check up, sambil menunggumu check up juga." Ucapku.
"tapi kenapa?" tanyanya lagi, seolah terlihat bingung.
"kau pikir, kenapa seorang dokter bedah yang single mau menemani seorang wanita yang bukan siapa-siapanya pergi check up kandungan? kecuali wanita itu mengandung anak sang dokter, tidak akan ada dokter yang mau melakukannya, kecuali ia melakukan itu untuk keluarganya sendiri." Jawabku lagi. dan sepertinya kali ini Wonwoo mengerti penjelasanku.
Ia hanya menganggukkan kepalanya sambil membulatkan mulutnya. Sebenarnya aku sedikit tidak tega melakukan ini padanya.
"bersabarlah. Nanti saat kau resmi jadi istriku, aku akan mengantarkanmu terang-terangan ke poli kandungan."
Dan itu sukses membuat Minseo memekik senang.
"kyaaa! Oppa, kau sangat gentle! Ah! Kuharap Minhyuk oppa juga seperti dirimu!" ucapnya sambil mengacungkan dua jempolnya padaku.
Tiba-tiba saja ponsel Minseo berbunyi, dan ia berkata bahwa ia harus segera undur diri karena suaminya sudah menjemputnya.
Hingga menyisakan aku dan Wonwoo berdua disini.
Dan tiba-tiba suasana menjadi canggung.
Wonwoo menggaruk dagunya pelan, kemudian berdeham.
"ehem, jadi.. kita pulang sekarang?" tanyanya padaku.
Kulihat jam yang sudah menunjukan pukul delapan malam. Sudah terlalu malam jika ingin membawanya berbelanja. Hingga akhirnya kuputuskan untuk mengajaknya pergi lain kali saja.
"kau bawa baju gantimu?" tanyaku.
Dia menganggukkan kepala mengiyakan.
"baiklah. Ayo kita pulang." Ucapku, kemudian beranjak dari kursi.
"kemana?" tanyanya.
"tentu saja apartemenku."
Dan bisa kulihat seketika pipi Wonwoo yang merona entah karena apa.
TBC
Halooo..
Author abal-abal ini balik lagi membawa kelanjutan cerita yang gak jelas rimbanya ini..
Sepertinya sampai minggu ini dan minggu depan update masih aman, aku udah menyelesaikan beberapa chap selanjutnya. Tinggal post doang.
Masalahnyaaaaa...
Hari senin besok aku udah mulai ngampus, dan jadwal tuh padet, det, det. Kayak busway jakarta jam pulang kantor.
Aku gak yakin bisa up tepat waktu. Tapi tetep diusahain, kok. Tenangg...
Oiya, kemarin ada yang nanyain ff sebelah yg kimingnya jadi pedopil ya?
Maapin ya, belom sempet ku update teruss..
Udah jadi, sih.. tapi masih mengumpulkan bahan (?)
Intinya, makasih banyak buat smua yg udah mau nyempetin baca, apalagi komen. Duh, kucinta kalian.
At last but not least, keep reading & reviewing!
And have a nice weekend!
