TITLE :One Night Stand

GENRE :Romance, Drama

RATING :M

CAST :Wonwoo (GS), Mingyu

DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.

SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .

This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))

.

.

.

.

Aku sedang menunggu Mingyu menyelesaikan kegiatan bebersih malam harinya.

Lagi-lagi aku duduk diatas ranjang miliknya dan membuka album foto masa kecilnya yang sudah cukup usang itu.

Hahaha.. perlu kukatakan, puberty really hit Mingyu hard.

pasalnya dulu pria ini benar-benar... apa, ya?

Ehm, maaf eomoni.

Tapi ia kelihatan seperti anak terlantar.

Lihat perbedaan kulitnya dan Minseo. Mereka seperti dua anak yang tertukar.

Aku juga tidak mengerti darimana Mingyu mendapatkan kulit hitamnya, padahal jika kulihat tuan Kim juga tidak memiliki kulit seperti itu.

Namun semua yang melekat pada diri Mingyu berubah, tentu saja.

Kini ia pria dewasa yang benar-benar – ehm, tampan. Ia juga tinggi, dan memiliki tubuh yang sangat atletis.

Namun tetap saja kulitnya masih hitam.

"kenapa kau senang sekali membuka album lamaku?" tanya Mingyu tiba-tiba. Ia kini sudah berada dihadapanku.

Aku berdecak malas menatapnya.

"semua buku yang punya itu tentang kedokteran. Bukannya relaks, aku malah jadi pusing jika membacanya." Jawabku, membuat ia hanya membulatkan mulutnya, membenarkan opiniku.

"cha."

Tiba-tiba saja tangannya menyodorkan selembar handuk padaku, memasang senyum sumringah terbaiknya, membuatku menatapnya bingung.

"apa ini?" tanyaku.

Ia kembali menyodorkan handuknya padaku, kemudian duduk membelakangiku, dan menunjuk kepalanya menggunakan jari telunjuk.

"keringkan rambutku." Ucapnya dengan santai.

Apa? Pria ini benar-benar.

Aku menggenggam handuknya dengan gemas, kemudian menyeringai senang karena tiba-tiba terpikirkan sebuah cara untuk menjahilinya.

Kurentangkan handuknya, kemudian dari belakang kubekap seluruh kepala Mingyu menggunakan handuk tersebut.

Persis seperti penculik yang ingin membius korbannya.

"UUMMMMFF! UMPHHH! HUUFFF!"

"HAHAHAHAHAHA..."

Akhirnya tidak sekian lama, aku melepaskan handuk tersebut dari wajahnya, membuat ia bernafas terengah-engah.

"HAHAHAHA.."

"YAISH! KAU MAU MEMBUNUHKU, HAH?!" teriaknya kesal, tapi itu malah membuatku tertawa semakin keras.

"hahahahahaah..."

Mingyu sudah beranjak dari posisinya, kini ia berdiri sambil bertolak pinggang didepanku, masih menatapku yang tertawa puas dengan tajam.

"awas, kau ya..."

"BRUK!"

Mingyu tiba-tiba saja menjatuhkan tubuhnya tepat diatas tubuhku, meskipun ia masih menahannya dengan kedua tangan.

"RASAKAN INI! RASAKAN!"

"kyaaaaa! Hahahaha, Mingyu! Lepaskan! Lepaskan!"

"hahahahah! Aaaah! Mingyu! Jebal, hentikan!"

Lalu menggelitiki tubuhku dengan kedua tangannya.

Ia terus saja melakukannya, padahal aku sudah meringkuk seperti anak bayi. Namun ia tidak menyerah.

Ia menjulurkan tangannya kesepanjang punggung, pinggang, perut, dan tidak luput juga leherku.

"aahhh! Mingyu, hentikan!" ucapku memohon padanya.

"huh! Tidak akan! Kau harus rasakan akibatnya karena sudah mempermainkan Kim Mingyu!" dan kembali menggelitiki tubuhku.

"hahaha..."

Aku terus tertawa, hingga bahkan nafasku tersengal akibat pria ini. aku kelelahan.

Dan sepertinya ia juga begitu.

"haaah.. haah.." aku masih berusaha menstabilkan nafasku, saat ia menyanggah kepalanya dengan sebelah tangan dan berbaring menatapku.

"aegy baik-baik saja?" tanya Mingyu tiba-tiba sambil mengelus pelan perutku.

"hampir mati karena kelakuan konyol ayahnya." Ucapku, lalu mendengus kesal.

Ia terkekeh, kemudian mengelus kepalaku.

"hm, mian."

Aku beranjak bangun dari posisiku, lalu meraih handuk yang tadi Mingyu hempaskan begitu saja.

Lalu menarik tangan Mingyu agar pria itu juga bangun.

"cepat kemari, aku akan mengeringkan rambutmu."

Dan ia menuruti perkataanku begitu saja, jinak. Seperti anak anjing.

"Wonwoo." Panggilnya tiba-tiba saat aku masih mengeringkan rambutnya.

"hm?"

"apa kau sudah siap?" tanyanya.

"untuk?"

"tentu saja menikah denganku."

Kugigit bibirku tanpa sepengetahuannya. Jujur saja, pertanyaannya itu membuatku gugup.

"siap ataupun tidak, pada akhirnya aku tetap harus menikah denganmu." Ucapku pada akhirnya.

"cha. Selesai." Kutepuk bahunya beberapa kali agar menandakan bahwa aku selesai mengeringkan rambutnya.

Ia lalu berbalik menghadap wajahku.

"tapi bukankah lebih cepat lebih baik? Apa kau mau mengenakan gaun pengantinmu dengan perut yang sudah terlihat membesar?"

Lagi-lagi pertanyaannya membuatku sedikit gugup.

Hingga aku hanya bisa menundukkan kepalaku, tanpa berani menjawabnya.

"minggu depan,"

"ayo kita persiapkan seluruh kebutuhan pernikahan kita. Aku akan membantumu, tapi karena aku juga agak sibuk, aku akan meminta bantuan para ibu."

"kau mau?" tanyanya dengan nada lembut sambil mengelus pelan tanganku.

Kini aku sudah tidak gugup lagi. aku juga sudah berani menatap wajahnya.

Sambil tersenyum, kuanggukan kepalaku menjawab pertanyaannya kali ini.

"aku mau."

.

.

.

.

Aku sudah pernah memikirkan ini sebelumnya.

Menikahi Wonwoo bukanlah hal yang buruk. Terlebih saat ia sedang mengandung darah dagingku.

Sehingga tidak ada salahnya jika aku melakukan ini lebih cepat.

Sekarang yang perlu kulakukan hanyalah mempersiapkan seluruh kebutuhan pernikahan kami.

Kira-kira apa saja yang perlu dipersiapkan?

"yo! Dokter Kim!" pucuk dicinta, ulam pun tiba.

Lee Seokmin, sahabatku sejak masa kuliah yang baru saja menikahi kekasihnya tiba-tiba saja datang ke ruanganku.

Ah, ia adalah seorang dokter anak.

"ah, ada apa? Tumben sekali datang mengunjungiku." Ucapku saat berjumpa dengannya.

Sejujurnya aku sangat senang bertemu dengannya. Pasalnya, ia baru saja kembali dari cuti panjangnya karena melakukan honeymoon.

"ya... sepertinya kau tidak senang bertemu denganku?" tanya Seokmin sambil memasang wajah agak tersinggung, namun tetap konyol miliknya.

Aku segera terkekeh, kemudian beranjak dari kursiku, lalu memeluknya.

"mian, aku hanya bercanda. Bagaimana bulan madumu? Menyenangkan?" tanyaku setelah kami melepas rindu.

Ia sudah duduk di kursi yang disediakan didepan mejaku, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantung jas dokternya.

"cha. Hadiah perjalanan kami." Ucapnya sambil mendorong benda tersebut kehadapanku.

"apa ini?" ucapku bingung, juga tertarik melihat hadiah yang ia berikan untukku.

Sebuah kotak berwarna silver dengan pita berwarna merah, membuatku membuka bungkus kado tersebut dengan bersemangat.

Dan kulihat disana terdapat berbagai macam bungkus dedaunan kering yang dikemas dengan cantik menggunakan kain warna-warni.

Aku mengangkat alis, merasa bingung dengan benda-benda ini.

"apa ini?" tanyaku sambil mengangkat satu bungkus berkain kuning.

"ah, ini semua teh, Dokter Kim." Ucap Seokmin.

Yah, ia memang suka memanggilku dokter Kim jika sedang berada di rumah sakit. Tadinya kupikir ia tidak perlu melakukan hal tersebut, mengingat kami adalah sahabat lama. Namun ia menolak dengan alasan profesionalitas.

"mari kujelaskan. Yang berbungkus kuning ini adalah teh Chrysantemum, yang berwarna merah itu Rosella, yang ungu Lavender, sedangkan yang putih Jasmine, lalu yang hijau ini Greentea, yang biru ini Mint, dan abu-abu itu Earl grey." Ucap Seokmin satu persatu, persis dengan seorang sales yang sedang menjelaskan barang dagangannya.

Aku mengikuti gerakannya, memperhatikan satu-persatu kantung teh tersebut, membuatku tiba-tiba tersenyum sumringah.

Wonwoo akan suka ini. Ini akan membantunya menghilangkan morning sicknessnya.

Namun aku jadi bingung sendiri setelahnya.

Kenapa aku tiba-tiba saja teringat akan wanita itu?

Ah, sudahlah. Berhenti memikirkan wanita itu.

"lalu yang ini?" tanyaku sambil mengangkat sebuah kantung yang disimpan terpisah dari kantung lainnya. Kantung tersebut dikemas menggunakan sebuah kain satin berwarna hitam.

Bungkusnya juga lebih besar daripada yang lain.

"ah, itu..."

Seokmin seketika menyeringai aneh. Wajahnya sudah aneh, lalu ditambah dengan seringaiannya yang mirip kuda kalau menurutku, membuatku semakin bergidik.

Ia mendekatkan tubuhnya padaku, kemudian berbisik.

"ini adalah obat kuat."

"mwo?!" pekikku kaget.

"ya! Jangan munafik begitu! Kau ini kan pria dewasa! Memang apa salahnya sesekali mencoba hal seperti ini? ramuan ini benar-benar recommended, Mingyu-ya! Aku bahkan membeli beberapa kantung untuk diriku sendiri! Terlebih ini adalah minuman herbal murni!"

Shit, apakah setelah pulang dari bulan madunya ia berencana untuk menjadi seorang sales? Karena dari caranya berbicara, ia terdengar sangat meyakinkan.

"hah.. apa-apaan kau ini... ya sudahlah, terima kasih atas hadiahnya. Suatu saat nanti akan aku coba pemberianmu itu." Ucapku, kemudian kembali menutup kotak hadiah tersebut.

Ya, aku akan mencobanya nanti. Tapi sembilan bulan lagi. setelah Wonwoo melahirkan anak pertama kami.

"hahaha.. aku berani jamin, pasanganmu nanti pasti akan minta ampun jika kau sudah meminum ramuan ini!" ia tertawa lebar, membuatku jadi ikut tersenyum, karena aku senang bisa bertemu kembali dengan sahabat konyolku ini.

"eum, Seokmin. Aku ingin bertanya padamu." Ucapku kembali serius.

Aku harus kembali pada topik pembicaraan awal. Ini sangat penting.

"dulu, saat kau ingin menikahi Jisoo, apa yang harus kau persiapkan terlebih dulu?" tanyaku sambil menatap matanya dalam.

Membuat ia seketika ternganga.

"mwo?! Kau mau menikah?! Dengan siapa? Aku hanya meninggalkanmu selama satu bulan, dan kau tiba-tiba berkata ingin menikahi seseorang? Apa yang terjadi, Mingyu?!" tanyanya dengan raut wajah penasaran dan juga khawatir.

"eishh.. bukan begitu. Ah, aku... sedang dekat dengan seorang wanita, dan aku berencana untuk menikahinya." Aku berusaha menjelaskannya pada Seokmin dengan berusaha terlihat biasa saja, namun entah apa aku bisa melakukannya atau tidak.

"tapi kenapa tiba-tiba sekali? Dulu sebelum aku cuti kau bahkan tidak sedang dekat dengan siapa-siapa, bukan? Kenapa sekarang bilang mau menikah?" tanyanya lagi. ia masih penasaran, namun aku tidak bisa menjawab rasa ingin tahunya itu.

Karena janji yang kubuat dengan Wonwoo.

Maafkan aku, Seok. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengatakannya padamu.

"itu.. maaf, aku tidak bisa mengatakannya padamu. Tapi aku serius. Suatu hari nanti jika saatnya tepat, aku akan memberitahumu semuanya." Ucapku.

Ia menghela nafasnya, berusaha mengerti keadaanku.

Meskipun kami sahabat dekat, namun ia tidak pernah ingin melewati batas privasi kami masing-masing. Ia akan menungguku menceritakan kegelisahanku, dan tidak akan memaksaku untuk bercerita.

"tapi apa kau yakin kali ini? maksudku, apa orang tuamu – "

"mereka sudah bertemu dengan calonku, dan mereka menyetujuinya. Ibuku malah kelihatan menyukai calonku." Ucapku menginterupsi ucapannya.

Aku megerti bahwa ia masih mengkhawatirkan diriku setelah apa yang kualami dulu.

Well, aku tidak menutupinya dari Seokmin kala itu. Aku benar-benar menceritakan semuanya. Soal aku yang patah hati, aku yang ingin kawin lari, juga soal mantan kekasihku yang kemudian pergi meninggalkanku.

"lalu kau sendiri bagaimana? Kau sudah memantapkan hatimu? Kau yakin ini yang terbaik? Kau tidak melakukannya karena ingin melakukan pelarian, bukan?" tanya Seokmin lagi. kini raut wajah konyolnya benar-benar sudah hilang entah kemana.

"kau tahu, Mingyu. Pernikahan bukan hal main-main. Dan jika kau melakukannya hanya karena menginginkan sebuah pelarian, maka lupakan saja. Lebih baik kau tidak perlu menikah." Seokmin berusaha menasehatiku, membuatku tiba-tiba termenung.

Alasan utamaku menikahi Wonwoo, adalah tentu saja karena wanita itu sedang mengandung anakku.

Lalu, alasan kedua... mungkinkah karena aku mulai merasa nyaman dengannya? Aku jarang bergaul dengan para wanita kecuali suster rumah sakit, namun dengan Wonwoo, walaupun baru mengenalnya selama beberapa minggu, tapi aku tahu bahwa aku sangat nyaman berada disisinya.

Yang ketiga.. keluargaku menyukainya, dan menemukan pasangan yang disukai oleh keluargamu itu tentu tidak mudah. Mantan kekasihku, contohnya.

Dan yang terakhir. Aku.. entah kenapa aku merasa sangat marah saat melihatnya diperlakukan dengan buruk oleh Junhui saat itu, membuatku sampai pada satu keputusan. Aku ingin melindunginya.

Setelah termenung beberapa saat, aku dengan mantap kembali menatap mata Seokmin, karena aku kini sudah tahu.

"ya. Aku yakin. Dan aku ingin menikahi wanita ini bukan karena ingin melarikan diri." Ucapku dengan tegas, membuat Seokmin kembali menghela nafasnya, namun kemudian tersenyum.

"baiklah kalau begitu. Karena sepertinya kau serius, maka aku juga harus membantumu."

Aku bersorak dalam hati setelah bisa meyakinkan sahabat partner in crimeku ini.

"pertama yang kau perlukan itu adalah mental. Mental untuk menghadapi bahtera rumah tangga. Mental untuk mensugesti dirimu, bahwa kau bukan lagi bujangan. Dan juga mental untuk selalu melindungi dan menafkahi keluargamu."

Ucap Seokmin dengan nada serius, membuatku juga mendengarkannya dengan serius.

Lalu aku menganggukkan kepalaku, merasa sudah memiliki mental tersebut.

"lalu yang selanjutnya adalah, kau harus mempertemukan kedua keluarga kalian. Lalu melamar calon istrimu secara resmi, dan membicarakan tanggal baik bagi kalian."

Aku mulai mencatat kedalam sebuah kertas memo kecil hal apa saja yang harus kulakukan untuk mempersiapkan ini semua.

"lalu setelah kedua keluarga kalian setuju, barulah kau bisa mengurus hal lainnya mengenai resepsi pernikahan, menyebarkan undangan, menyewa gedung, dan melakukan pemberkatan di gereja."

Lagi-lagi aku mencatat semua ucapan Seokmin diatas kertas dengan seksama sambil menganggukkan kepalaku, seolah aku mengerti.

"dan jangan lupa catatkan pernikahanmu di pencatatan sipil."

"yah, tapi kau bisa minta bantuan ibu dan calon mertuamu. Kau tahu, kita sangat sibuk, bukan? Dulu saja saking sibuknya, yang bisa kulakukan untuk mempersiapkan pernikahanku sendiri hanyalah fitting tuxedo." Ucapnya, lalu terkekeh. Membuatku juga tertawa.

Ah, terima kasih Seokmin. Sungguh, suatu saat nanti aku akan membalas jasamu.

.

.

.

.

Tadi siang Mingyu mengirimiku sebuah pesan agar kami bertemu di cafe dekat butikku jika aku sudah selesai bekerja.

Namun sudah hampir tiga puluh menit aku menunggu disini, ia tidak muncul juga.

Kualihkan pandanganku melihat sekeliling, lalu mendapati orang yang sedari tadi kutunggu sedang melambaikan tangannya padaku didepan pintu cafe tersebut.

"ah, mian aku agak terlambat. Tadi macet sekali." Ucapnya, lalu duduk dihadapanku."

"ck, kau ini. yasudah kalau begitu, kau mau minum apa?" tanyaku agak ketus padanya, namun hanya dibalas dengan senyum tipis oleh pria itu, membuatku sedikit merasa tidak enak.

"ah, aku pesan satu gelas frapuccino." Ucap Mingyu pada seorang pelayan.

"lalu? Kenapa kau menyuruhku kemari?" tanyaku padanya.

Mingyu masih mengenakan pakaian yang ia gunakan tadi pagi.

Kemeja berwarna cream dengan celana bahan berwarna hitam. Namun kini kemejanya ia gulung hingga siku, dan ia membuka dua kancing teratasnya.

Membuatnya benar-benar kelihatan seperti hot daddy.

"kau sudah selesai bekerja, kan?" tanyanya, dan aku hanya menganggukan kepalaku untuk menjawabnya.

"besok adalah tanggal merah, dan lusa sudah weekend. Jadi kita mempunyai long weekend minggu ini. aku berencana untuk mempertemukan kedua orang tua kita lusa." Ucap Mingyu tiba-tiba, membuatku menyemburkan jus jeruk yang sedang kuseruput.

"prrrufft!"

"kau gila, Mingyu? Kenapa secepat itu?!" ocehku padanya.

Ia hanya berdecak, kemudian menatapku malas.

"kau lupa pembicaraan kita semalam? Nah, kupikir akan lebih baik jika melakukannya sekarang karena ini adalah kesempatan bagus! Kapan lagi kita bisa punya waktu libur tiga hari?" tanya Mingyu menatapku serius.

Ah, benar juga. Aku hampir lupa.

Akhirnya aku ikut menganggukkan kepalaku, menyetujui idenya itu.

"huft! Baiklah! Baiklah! Aku setuju!" namun aku masih menggembungkan pipiku, merasa kesal dengan pria dihadapanku ini, lalu mengalihkan pandanganku darinya.

"nanti malam ayo kita hubungi orang tua kita masing-masing untuk memberi tahu hal ini." ucap Mingyu sambil mulai menyeruput frapucinnonya.

Kami kemudian melanjutkan pembicaraan di cafe sore itu hingga malam menjelang, dan Mingyu mengantarkanku pulang ke apartemenku sendiri.

Setelah selesai membersihkan tubuh, aku teringat akan ucapan Mingyu untuk mengatakan kepada orang tuaku agar mengadakan pertemuan dengan kedua orang tua Mingyu.

Segera saja kusambar ponselku, lalu menekan tombol kontak eomma.

"yeoboseyo, eomma?" sapaku saat eomma mengangkat panggilanku.

"ne? Ada apa, Wonwoo-ya?"

Aku seketika gugup saat ingin mengatakan ini pada eomma. Sungguh, aku bahkan kini sedang berjalan mondar-mandir didalam kamar saking gugupnya.

"eomma... lusa nanti, eomma dan appa ada acara tidak?" tanyaku pada akhirnya.

"eum? Sepertinya tidak ada. Waeyo?" tanya eomma masih dengan suara lembut seperti biasanya.

"ah, eomma... keugo.. apa eomma keberatan untuk mengadakan pertemuan dengan keluarga Mingyu lusa nanti?"

"hm? Memangnya ada apa?"

Kuhela nafasku panjang

"aniya, hanya saja.. Mingyu bilang mau mengadakan acara lamaran resmi." Ucapku dengan suara pelan.

Eomma tidak kunjung menjawab, membuatku berpikir bahwa eomma sudah menutup panggilannya.

"yeoboseyo? Eomma?"

"KYAAA! YEOBO! ANAK KITA MAU DILAMAR! AH! KEMARILAH, BOOHYUK-AH! NOONA-MU AKAN SEGERA MENIKAH! YEOBO! CEPAT KEMARI!"

Uh, tiba-tiba saja eomma berteriak kencang, membuatku harus menjauhkan ponselku dari telinga.

Dan lagi, kenapa eommaku bertingkah seperti itu? Memalukan sekali...

"yeoboseyo? Noona! Benarkah itu? Kau dan Mingyu hyung akan segera menikah? Woaaah.. itu bagus sekali, noona! Kita punya keluarga dokter!" kini kudengar suara Boohyuk yang berbicara. Sepertinya seluruh keluargaku mengerubungi eomma karena teriakannya barusan.

"yaish! Kau ini! cepat berikan pada eomma!"

"ne, Wonwoo –"

"yeoboseyo."

Tiba-tiba suara appa menginterupsi panggilan eomma. Suara berat nya seketika membuatku semakin gugup.

"wonwoo. Appa tidak akan melarangmu untuk menemui Mingyu. Keluarga Jeon juga akan menerima lamarannya dengan tangan terbuka."

"tapi, dengan satu syarat. Mingyu dan keluarganya harus datang kemari jika memang serius berniat ingin melamarmu."

Ucap appa tiba-tiba, terdengar mutlak dan tidak ingin dibantah. Seketika itu juga rahangku seperti ingin jatuh.

"keundae, appa – "

"tidak ada tapi-tapian. Memang seperti itulah tradisinya. Keluarga pria harus datang ke rumah keluarga wanita. Appa juga dulu seperti itu saat ingin melamar eomma-mu."

"bilang pada Mingyu bahwa ini adalah syarat dari appa. Sudah, appa tutup teleponnya."

"TUT."

Aarrrggghhhhh...!

Tidak bisakah ini dibuat menjadi semudah mungkin? Tradisi macam apa pula itu? Ini tahun 2017!

Ah.. tapi aku tahu, appa sama sekali tidak bisa dibantah, sehingga mengikuti keinginannya hanyalah satu-satunya jalan.

Segera saja kuhubungi Mingyu, dan syukurlah tidak memakan waktu lama baginya untuk mengangkat panggilanku.

"Mingyu!"

"aish.. tidak bisakah kau berucap dengan lembut? Wae?"

"Mingyu.. eottohkae?" tanyaku padanya dengan suara bingung.

"waeee?" mingyu seolah penasaran.

"apakah kau sudah menghubungi orang tuamu?"

"heum? Belum. Aku baru saja mau menghubungi mereka setelah ini."

"Mingyu, bagaimana ini... appaku.. ia mengajukan sebuah syarat jika kau ingin mempertemukan orang tua kita.."

"Mingyu, bagaimana ini... appaku.. ia mengajukan sebuah syarat jika kau ingin mempertemukan orang tua kita.."

"apa itu syaratnya?" suara Mingyu berubah kembali menjadi tenang dan agak dalam.

Sepertinya sisi seriusnya sedang muncul.

"appa bilang, bahwa kau dan keluargamu harus datang kerumah keluargaku di Changwon jika ingin bertemu. Bagaimana ini?" tanyaku masih dengan suara khas orang bingung, malah cenderung seperti rengekan.

"apanya yang bagaimana? Yasudah jika seperti itu. Lagipula bukankah memang sudah tradisinya keluarga pria yang menghampiri keluarga wanita? Kenapa bingung seperti itu? Aku hanya perlu membawa kedua orangtuaku, memberikan beberapa seserahan, dan bilang bahwa aku ingin menikahimu, kan?"

"jangan panik, Wonwoo-ya. Lagipula aku sudah mengira hal ini akan terjadi mengingat sifat abeoji yang keras."

Ucap Mingyu tidak terdengar panik sama sekali. Ia malah terdengar santai dan sangat tenang.

"kau.. tidak masalah?" tanyaku ragu.

"masalah kenapa? Aku sama sekali tidak merasa terbebani. Hanya saja aku belum mengatakannya pada kedua orangtuaku, sehingga kita hanya bisa berharap bahwa jadwal mereka cukup luang untuk pergi ke Changwon menemui keluargamu."

Sungguh, aku kini sedang menghela nafas panjang yang sangat lega.

Syukurlah, Mingyu tidak merasa keberatan untuk melakukan keinginan appaku. Membuatku jadi tersenyum dibalik ponsel ini.

"baiklah kalau begitu. Terima kasih." Ucapku pada akhirnya.

"ya. Dan tidak perlu berterima kasih. Ini sudah seharusnya. Sudahlah, kututup dulu. Aku harus menghubungi orang tuaku. Bye."

Mingyu segera menutup panggilannya, membuatku kembali menunggu dalam penantian yang mendebarkan.

Namun lima belas menit kemudian Mingyu kembali menghubungiku dengan membawa kabar gembira, yaitu bahwa keluarganya mempunyai jadwal kosong saat itu dan tidak keberatan pergi ke Changwon untuk menemui keluargaku.

Membuatku bersorak gembira entah kenapa, tanpa kusadari.

.

.

.

.

Untuk kedua kalinya aku mengendarai mobilku menuju kampung halaman Wonwoo, Changwon.

Didalam mobilku kini aku pergi berdua dengan Wonwoo dari Seoul. Sedangkan kedua orangtuaku mengikuti kami di belakang dengan diantarkan supir.

Syukurlah aku masih mengiingat jalannya, sehingga tidak terlalu sulit bagiku untuk menjadi guide bagi mereka.

Disampingku duduk Wonwoo yang sedari tadi tidak hentinya tersenyum. Ia kelihatan sangat senang hari ini. ia bahkan menggoyangkan kepalanya mengikuti irama lagu.

"merasa senang hari ini?" tanyaku sambil sesekali melirik kearahnya.

Ia segera mengalihkan pandangannya menatapku, lalu mengangguk semangat.

"eoh! Kau tahu, hari ini aku senang sekali! Selain karena ingin bertemu dengan orang tuaku, hari ini aegy menjadi anak yang baik! Hari ini aku sama sekali tidak merasa mual! Aahh! Jotaa!" wonwoo mengelus perut rampingnya, membuatku ikut tersenyum lalu juga mengikuti gerakannya untuk mengelus juga perut Wonwoo.

"heum... hari ini aegy tidak nakal? Bagus sekali, appa sangat bangga."

"ne appa, hari ini aegy menjadi anak baik. Dan anak baik harus dapat hadiah kan, appa?" ucap Wonwoo dengan nada menggemaskan, seolah ia adalah anak kecil.

Aku tertawa mendengar suaranya itu, kemudian mencubit pipinya yang mulai gembul itu pelan.

"aigooo... bukankah itu keinginan eomma?" tanyaku masih sambil mencubit pelan pipinya.

"aish, appo..." Wonwoo mengaduh kesakitan, lalu melepaskan tanganku dari pipinya, lalu meletakkannya diatas perutnya.

"geurae, appa akan memberikan hadiah. Apa yang kalian inginkan?" aku mengalihkan pandanganku menatap Wonwoo sambil tersenyum.

"kalian?" tanyanya bingung.

"heum. Eomma dan aegy. Kalian. Apa yang kalian inginkan? Appa akan mengabulkan semuanya." Lagi-lagi aku kembali mengelus pelan perut Wonwoo, membuat ia berjingkat kesenangan, lalu bertepuk tangan pelan.

"huwaa! Benarkah itu? Janji?"

"janji." Kulilitkan jari kelingkingku padanya.

"aegy! Apa yang kita inginkan.. heum...? perhiasan, baju baru, atau.. rumah baru?" tanya Wonwoo sambil memasang pose berpikir.

Membuatku seketika jadi teringat pemikiranku beberapa saat yang lalu.

"Wonwoo-ya."

"heum?"

"soal rumah, aku sempat memikirkannya. Kelak jika kita sudah menikah nanti, kupikir ada baiknya jika kita tinggal di apartemenku dulu untuk sementara sampai aku bisa menemukan rumah yang tepat untuk keluarga kita tinggali. Apa kau keberatan?" tanyaku dengan suara lembut. Aku takut ia keberatan.

Ia tidak kunjung menjawab, membuatku lagi-lagi menatapnya dalam, lalu kaget.

Ternyata ia sedari tadi memperhatikanku. Sambil tersenyum tipis.

Ah, cantiknya.

"nan gwenchana. Aku akan mengikuti semua ucapan suamiku. Asalkan ada tempat yang layak bagiku dan anakku tinggal, aku baik-baik saja."

Ia mengatakan hal tersebut sambil terus memainkan jemari tangan kiriku,membuatku semakin gemas saja pada wanita ini.

Segera kuusak pucuk kepalanya, membuat ia sedikit protes, namun aku tidak peduli, dan kembali mencubit pipinya.

"cha! Kita sampai!" pekikku senang saat berhasil tiba di depan rumah Wonwoo tanpa bantuan wanita itu.

Kedua orang tuaku segera keluar dari mobil, lalu eomma sedikit terperangah saat melihat keadaan rumah keluarga Jeon yang masih dipenuhi dengan pepohonan dan tanaman.

Ia menyukai tanaman.

"huwaa.. Wonwoo sayang, rumahmu sangat indah! Lihat, banyak sekali tanaman. Yeobo! Kenapa kita tidak bisa membuat rumah seperti ini?" tanya eomma pada appa yang hanya menggelengkan kepalanya maklum.

"kita kan tinggal di Seoul, yeobo. Tidak ada lahan seluas itu untuk membuat kebun seperti ini." ucap appa dengan suara nya yang, ehm, sudah biasa menghadapi kelakuan aneh eommaku.

"tapi yeobo.."

"ah, ayo kita masuk kedalam, eomoni dan abeoji.." ucap Wonwoo menyudahi perdebatan konyol kedua orang tuaku.

"eomma, appa.. aku dan keluarga Kim sudah datang.." ucap Wonwoo sambil membuka pintu pagar rumahnya, yang kemudian disambut oleh nyonya Jeon dengan senyum sumringahnya.

"aigoo.. kalian sudah datang? Maaf karena harus membuat kalian datang jauh-jauh dari Seoul. Silahkan masuk." Ucap Nyonya Jeon ramah, membuat kedua orangtuaku kelihatannya cukup senang.

Setelah mereka duduk, dan Wonwoo serta Nyonya Jeon pergi kebelakang untuk mengambilkan minum, tuan Jeon kini datang menghampiri kami.

"annyeong haseyo.." sapanya masih dengan nada tegas yang sama.

"Annyeong hase –"

"ya! Jeon Woohyun!" pekik appaku tiba-tiba sambil menunjuk tuan Jeon menggunakan jari telunjuknya.

"neo... Kim Minjae?!" teriakan tuan Jeon tidak kalah nyaring dari milik appa.

Kemudian appa beranjak dari duduknya, lalu menghampiri tuan Jeon.

Ia kemudian segera merangkul, bahkan memeluk tuan Jeon, membuatku dan eomma merasa kaget serta bingung.

"yaa... bagaimana kabarmu, eoh? Setelah hampir tiga puluh tahun tidak bertemu, kau masih tidak berubah?!" ucap appa.

Baru kali ini kudengar ia bicara se-tidak formal ini pada orang yang baru ditemuinya. Dan aku cukup kaget.

Tuan Jeon juga terus saja menepuk bahu appa, pria tua itu terlihat senang, seolah ia bertemu kembali dengan teman masa kecilnya yang sudah lama hilang.

Tidak lama kemudian Tuan Jeon melihatku.

"ternyata Mingyu itu anakmu?! Woah.. tak kusangka, kita akan jadi besan!" ucap tuan Jeon dengan nada senang. Dari tadi juga senyum tidak hilang dari wajahnya.

"tak kusangka juga Wonwoo itu putrimu! Yah.. meskipun wajah kalian memang agak mirip, sih.."

Segera saja kuhampiri mereka berdua, dan kubungkukan tubuhku menyapa tuan Jeon.

"annyeong haseyo, abeoji.."

Dan tak kusangka, tuan Jeon dengan ringannya segera memelukku.

"ya,ya. Menantuku, aku senang sekali hari ini."

"ah, jwesonghamnida. Tapi darimana abeoji bisa mengenal appaku?" tanyaku ragu.

Segera setelah Wonwoo dan nyonya Jeon datang membawakan minuman dan bergabung bersama kami, tuan Jeon segera bercerita tentang masa lalunya.

"sebenarnya kami adalah teman masa SMA. Dari dulu ayahmu itu sudah penggila biologi, tidak salah ia selalu dijuluki Dokter Kim." Ucap tuan Jeon membuat appa menganggukan kepalanya pelan sambil tersenyum.

"sedangkan appamu ini, Wonwoo-ya. Dia adalah orang yang maniak keadilan. Dia paling benci pada sesuatu yang berjalan dengan tidak semestinya. Aku bahkan pernah dijambak olehnya hingga rambutku rontok hanya karena aku memarkirkan sepedaku diatas rumput."

"hahaha.. itu sudah jadi masa lalu, chingu-ya..."

Jujur saja, aku benar-benar senang melihat appa dan Tuan Jeon bertemu kembali seperti saat ini. mereka benar-benar menunjukkan sisi yang jarang diperlihatkan pada siapapun.

"lalu, maksud tujuan kami kemari adalah.. kami ingin melamar putri sulung kalian, Jeon Wonwoo. Untuk dinikahkan dengan putra sulung kami, Kim Mingyu." Ucap eomma setelah euforia dari reuni tidak terduga itu mereda.

Appa hanya menganggukkan kepalanya seolah membenarkan ucapan eomma.

Kulihat tuan Jeon juga turut tersenyum sambil menggenggam erat tangan istrinya.

"baiklah kalau begitu. Kurasa semuanya sudah bisa diatur. Kita hanya tinggal mencari tanggal yang bagus untuk mereka, bukan?" ucap tuan Jeon.

Tapi tidak lama kemudian eomma tersenyum malu-malu, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kertasnya.

"ah, soal itu.. maafkan aku atas kelancanganku ini. tapi.. aku sudah pernah bertanya pada seorang ahli yang mampu membaca aura, dan setelah dihitung, ternyata hari baik bagi Mingyu dan Wonwoo jatuh pada tanggal ini."

Ucap eomma pelan, malu-malu sambil menyodorkan selembar kertas dengan sederet tanggal diatasnya.

"itu satu bulan dari sekarang. Yeobo, kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tanya appa pada eomma.

Eomma hanya menggaruk bingung dagunya, ia kelihatan salah tingkah.

"habisnya aku penasaran sekali. Aku benar-benar menyukai Wonwoo. Aku ingin ia segera menjadi menantuku."

Aku hanya mengulum senyum.

Entah ini sebuah kesialan atau keberuntungan. Tapi menikahi Wonwoo dalam kurun waktu satu bulan tidak terdengar terlalu buruk.

"tapi apa kalian siap menikah secepat itu?" kali ini nyonya Jeon yang membuka suaranya menatap kami berdua.

Aku kemudian mengalihkan pandanganku menuju Wonwoo. Ia tersenyum meskipun tidak berani menatapku. Lalu dengan segera kugenggam erat tangannya.

"kami siap."

Semua orang tua yang berada disana segera menghela nafas mereka lega, lalu tersenyum.

Appa tiba-tiba bertepuk tangan dan berdiri.

"kalau begitu sudah ditetapkan. Kita akan mengadakan pesta pernikahan Wonwoo dan Mingyu satu bulan dari sekarang."

"ah, aku sudah tidak sabar melakukannya. Wonwoo eomma, ayo kita persiapkan pernikahan kedua anak kita bersama, ne?

Ucap eommaku sambil tertawa dan menatap nyonya Jeon yang dibalas dengan senyum merekah serta anggukan kepala.

Ah, aku akan menikahi Wonwoo satu bulan lagi.

Kenapa rasanya jantungku jadi berdebar-debar begini?

Aku jadi tidak sabar.

TBC

Haihai..

Here goes the next chap of this absurd and unknow fanfiction made by me..

Hampir satu minggu sejak chapter sebelumnya di post ya? Atau belum satu minggu? Tapi kenapa rasanya lama banget ya aku pengen post ini?

Aku selalu bacain review-review kalian yang unik, lucu, dan bikin tambah semangat, meskipun aku gabisa balesin satu-satu. Maafin yaaahh..

Soalnya post ini juga kukerjain disela-sela waktu senggang kuliah yang pas baru baca jadwalnya aja udah 'njelimet sendiri...

Anyway, tinggal beberapa jam lagi menuju weekend, sooo.. have a very nice weekend, and don't forget to review, my good fellas!