TITLE :One Night Stand
GENRE :Romance, Drama
RATING :M
CAST :Wonwoo (GS), Mingyu
DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.
SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .
This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))
.
.
.
.
Sedari tadi aku berusaha memijat kepalaku yang berdenyut kencang.
Tiba-tiba saja sekumpulan para istri pejabat datang tadi siang, lalu memintaku untuk mendesign sebuah dress untuk mereka semua.
Lalu juga terjadi masalah pada supplier, karena para pekerja mereka sedang melakukan aksi demo kerja.
Namun yang paling membuatku stress adalah, pernikahanku dengan Mingyu yang tinggal satu bulan lagi, namun aku masih belum mempersiapkan apapun.
Eomma berkata malam ini ia akan datang ke Seoul, dan menginap di tempatku selama beberapa saat demi mengurus kebutuhan pernikahanku.
Namun aku benar-benar sibuk saat ini.
Bisakah pernikahannya diundur saja?
Tentu saja tidak. Aku bisa digantung appa nanti.
Dengan menghela nafas berat, aku menjatuhkan bokongku keras diatas kursi kerjaku.
"wae, Wonwoo-ya? Kau kelihatan stress? Apa karena perkumpulan nyonya Han tadi siang?" tanya Jeonghan eonni yang tadi sedang mendesign dress miliknya, lalu menatapku heran.
"yah, tidak.. ah, ya.. bisa juga.." ucapku tidak jelas sambil terus mengorek laci mejaku, mencari sesuatu entah apa itu.
"hm? Wae? Tidak biasanya kau begini.. kau mau bercerita padaku?" tanya Jeonghan eonni dengan lembut.
Aku menyerah.
Tanganku sudah sampai pada ujung laci, namun sepertinya aku tidak juga mendapatkan apapun yang kucari, jadi ya sudahlah.
"eonni, sebenarnya.."
Aku menggeser kursi kerjaku yang memang terdapat roda, sehingga memudahkanku untuk bergerak, lalu beranjak menuju kehadapan Jeonghan eonni.
"sebenarnya aku... bulan depan akan menikah."
Bisikku pada Jeonghan eonni, membuat ia seketika menganga.
"mwo?! Menikah?! Dengan siapa?!" pekiknya kencang, membuat semua orang yang berada disana menatapku heran.
"ssst! Eonni! Kecilkan suaramu!"
"ish! Tentu saja dengan Mingyu!" ucapku kembali dengan suara berbisik.
"mingyu? Mingyu siap – ah! Kim Mingyu?! Ya! Kau jadi menikah dengannya? Kupikir hubungan kalian tidak akan bertahap sampai kesana.." ucap Jeonghan eonni asal, dan sejujurnya itu membuatku kesal.
"ya! Dia serius! Kemarin orang tua kami baru saja bertemu, dan sudah diputuskan, pernikahan kami akan dilangsungkan satu bulan dari sekarang!"
Ia masih menatapku tidak percaya, membuatku gemas padanya, hingga membuatku menceritakan semuanya padanya.
Soal orang tua kami yang bertemu kemarin, dan ibu Mingyu yang menginginkan aku untuk menikahi putranya bulan depan, serta ayahku dan tuan Kim yang ternyata bersahabat, sehingga ia menyetujui percepatan pernikahanku dengan Mingyu.
"ckckck, Wonwoo-ya! Tak kusangka, ternyata kau akan mendahului ku menikah! Yaaaa..! chukkae!" ucap Jeonghan eonni dengan raut wajah jahil, namun juga ia kelihatan senang.
Aku tahu dia tulus saat mengucapkannya.
"gomawoyo, eonni. Tapi.. dengan keadaan butik kita yang sedang ramai seperti ini, aku mana bisa meninggalkannya dan malah pergi keluyuran mengurus kebutuhan pernikahan?" tanyaku bingung.
Ia juga kelihatan bingung, namun tidak lama kemudian ia menjetikkan jarinya, tepat setelah Seungkwan memberikan kami berdua dua gelas teh hangat.
"aku ada ide!"
"Wonwoo-ya, bagaimana jika proyek nyonya Han kali ini, biar Seungkwan yang mengerjakannya?" tiba-tiba saja Jeonghan eonni mengeluarkan idenya dengan lugas, membuatku kembali menatapnya aneh.
"ta-tapi eonni, bagaimana bisa.."
"tentu saja, kau juga tetap harus membimbingnya! Tapi setidaknya dengan adanya Seungkwan, kau masih memiliki sedikit waktu luang agar bisa mengurus keperluanmu itu! Lagipula tidak ada salahnya! Sudah saatnya Seungkwan mempelajari hal seperti ini. tentu aku juga akan membantunya. Bagaimana? Kau mau?" kau mau, Seungkwan?" tanya Jeonghan eonni pada Seungkwan yang ternyata sedari tadi masih berdiri didekat kami.
Sepertinya ia shock karena mendengar namanya disebut-sebut.
Wajah Seungkwan memerah. Ia terlihat sangat tertarik, namun seolah segan padaku.
Ah, astaga. Anak ini.. bagaimana aku bisa menolaknya.
"yah, baiklah. Aku oke. Bagaimana denganmu, Seungkwan? Tapi itu berarti tanggung jawabmu menjadi sama besarnya sepertiku. Dan apabila terjadi sebuah kesalahan, maka kau harus sudah siap menanggung uang gajimu bulan ini dipotong." Ucapku padanya.
Kalimat terakhirku bukan hanya agar membuat ia takut. Namun itu memang kenyataan. Ada beberapa kasus yang menyebabkan gaji seorang designer harus dipotong karena sang klien tidak puas pada hasilnya dan minta ganti rugi.
Seungkwan langsung menganggukkan kepalanya semangat. Ia seperti sudah sangat siap dengan resiko pekerjaan ini, membuatku semakin menyukainya.
"aku siap, eonni." Ucapnya riang.
"baiklah kalau begitu. Semua beres, kan?" ucap Jeonghan eonni dengan senyum sumringah, membuatku beranjak dari kursi, lalu memeluknya. Tidak lupa juga aku memeluk hoobae gembulku itu.
.
.
.
.
Aku menepikan mobilku kearah pinggir, saat menemukan seorang wanita dengan rambut hitam panjang sedang berdiri di trotoar.
Tidak lama kemudian ia masuk kedalam mobilku, lalu duduk di sampingku, di bangku kemudi.
"lama menunggu?" tanyaku sambil menatapnya dari samping.
Ia tidak memperhatikanku dan terus memasang seat beltnya.
"ya, cukup lama hingga rasanya anakmu ini ingin meronta keluar." Ucap wanita disisiku dengan agak ketus.
Tapi aku malah terkekeh mendengar ucapannya.
"hei,jangan berlebihan seperti itu. Aku hanya terlambat lima belas menit. Itu karena bensinku habis. Maaf, oke? Aegy masih betah di perut eomma, kan?" ucapku dengan nada santai sambil mengelus perut ramping calon istriku itu.
"nanti kita terlambat, Gyu. Beruntung pemilik toko kartu undangan itu adalah tetangga ibuku, sehingga ia mau menutup tokonya lebih lama dari biasanya. Jika kita tetap datang terlambat, itu tidak sopan!" Wonwoo memukul pelan tanganku yang sedari tadi masih bertengger di perutnya, membuaku mengangkat tanganku.
"ya, ya. Aku minta maaf. Aku akan membawa mobilku lebih cepat."
Setelah itu, Wonwoo tidak mengatakan apapun lagi, dan memilih untuk sibuk dengan ponselnya.
Dan lima belas menit kemudian kami sampai ke daerah Gangnam, didepan sebuah toko kartu undangan yang Wonwoo sebutkan sebelumnya.
"ini tokonya?" tanyaku, membuat ia mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"ya. Benar. Ayo kita masuk." Ucap Wonwoo, lalu kami memasuki toko tersebut.
"annyeong haseyo." Sapa Wonwoo saat melihat seorang wanita paruh baya disana.
"ah, kamu Wonwoo?" tanya wanita tersebut.
Wonwoo menganggukan kepalanya, lalu memperkenalkan dirinya. Ia juga tidak lupa memperkenalkan diriku sebagai calon suaminya.
Membuatu merasa aneh saat ia mengatakan hal tersebut.
"model seperti apa yang kamu inginkan?" kemudian wanita tersebut membawakan kami bertumpuk-tumpuk kartu undangan yang sangat indah.
Bisa kulihat mata Wonwoo segera berbinar karenanya, dan ia terlihat sangat bersemangat.
Wanita tersebut menjejerkan semua kartu yang ia bawa, dan semuanya terlihat menarik.
Namun sesuatu menangkap mataku.
"yang ini – "
"ini – "
Aku dan Wonwoo tanpa sengaja menyentuh sebuah kartu yang sama disaat yang bersamaan, membuat ia mengangkat alisnya, lalu tersenyum tipis.
Itu adalah sebuah kartu dengan background berwarna cream yang sangat cantik, dihias dengan tulisan berwarna biru dongker dan sedikit aksen emas diatasnya, lalu disimpul dengan sebuah pita besar berbahan renda berwarna senada.
"yang ini bagus." Ucap Wonwoo melihat undangan yang sedang kupegang tersebut.
"ya, ini bagus. Bagaimana kalau yang ini saja? Simple dan terlihat elegant." Ucapku sambil menyodorkan kartu tersebut ke arahnya.
Ia mengambil kartu tersebut, lalu tersenyum sumringah kemudian.
"baiklah, yang ini saja. Lagipula aku sudah terpikirkan design baju pengantin kita." Ucapnya dengan nada riang.
Aku ikut tersenyum, lalu menyerahkan kartu tersebut pada wanita itu.
"kami ambil yang ini." ucapku, membuat wanita tersebut tersenyum.
"wah, kalian pasangan yang serasi. Biasanya membutuhkan waktu minimal satu jam hanya untuk menentukan kartu yang akan dipilih bagi para pasangan. Tapi kalian hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit sudah bisa menentukannya." Puji wanita tersebut, membuat Wonwoo sedikit merona.
Kami kembali kedalam mobil setelah berhasil mengurus tentang kartu undangan. Waktu masih menunjukkan pukul lima sore, masih terlalu siang bagi kami untuk pulang.
"bagaimana selanjutnya?" tanyaku.
"um, bagaimana kalau kita survey gedung acara?"
"itu ibuku yang akan melakukannya. Dia bilang dia punya kenalan yang mempunyai gedung yang bagus dan indah. Jadi biarkan saja."
Wonwoo menganggukkan kepalanya mendengar ucapanku.
Hingga tiba-tiba terbersit sebuah ide didalam kepalaku.
"bagaimana kalau kita survey tempat untuk acara pemberkatan saja? Ayo kita cari gereja yang bagus di daerah sini." Ucapku, membuat ia mengangguk dengan semangat.
Lalu setelah hampir satu jam berkeliling, kami menemukan satu tempat yang menurut kami sangat strategis.
Letaknya hanya satu jam dari pusat kota, design interior gereja tersebut juga sangat indah.
Dengan kaca mozaik warna-warni diatasnya, lalu podium yang tinggi untuk kami berdiri disana nanti. Dan juga gereja tersebut memiliki sebidang halaman yang sangat indah. Kami bisa menggunakan halaman tersebut untuk acara.
"Miingyu, aku suka. Disini saja, oke?" ucap Wonwoo menatapku sambil memasang wajah memohon.
Namun kubalas tatapannya dengan wajah biasa saja, malah terkesan tidak suka. Aku sengaja, aku ingin menggodanya.
"aaahh... wae? Kau tidak suka?" tanya Wonwoo lagi.
Lagi-lagi aku hanya menggelengkan kepala, lalu memasang wajah seolah tidak tertarik sama sekali.
"mingyu! Yaaah.. disini saja, eoh?"
"oke? Mingyu-yah!"
Ia mulai menarik-narik kecil lengan kemejaku, lalu memasang wajahnya seimut mungkin.
Oh, god! Mungkinkah ia sedang beraegyo saat ini?
Jika iya, maka ambil saja nyawaku!
Wonwoo terus saja merengek, membuatku tidak tahan lagi untuk tertawa. Hingga aku kelepasan dan tertawa terbahak-bahak.
"HAHAHAHA!"
"yaa! Kau mengerjaiku?!" pekik Wonwoo tidak terima. Ia memukul dadaku, dan mencubit pinggangku.
"hahahah.."
"berhenti tertawa, kau dasar pria aneh!"
Wonwoo terus saja memukuli dadaku. Meskipun cukup terasa sakit, tapi aku seolah tidak bisa berhenti tertawa.
Hingga akhirnya aku bisa kembali menguasai diriku, aku menangkap tangannya yang terus menumbuk dadaku.
"hup!"
"ya! Lepaskan aku!" ia meronta, namun itu malah membuatku semakin mengeratkan peganganku padanya.
"shireo."
"yaaa! Lepass!"
"shi-reo."
"cup."
Tiba-tiba saja kukecup pipinya, membuat ia seketika terdiam dari gerakan merontanya itu.
Mulutnya sedikit ternganga, seolah tidak percaya.
Membuatu sekali lagi mengecup pipi satunya lagi.
"cup"
Aku tahu wajah Wonwoo memerah, namun ia segera menundukkan kepalanya, karena tidak bisa bergerak akibat aku yang masih terus menahan pergelangan tangannya.
"me-mesum!"
"apanya yang mesum? Aku kan hanya mengecup pipimu."
Wonwoo masih belum mau juga menatap wajahku, hingga aku menarik dagunya pelan untuk mengangkat kepalanya yang masih tertunduk.
"lihat aku."
"kita akan menikah. Disini." Ucapku pelan, tepat dihadapan nya.
Dan aku tidak tahu kenapa, tapi wajah Wonwoo benar-benar merah seperti kepiting rebus.
.
.
.
.
Aku tidak berani menatap Mingyu sejak ia mencium pipiku tadi. Dan aku hanya bisa berpura-pura mengalihkan pandanganku menuju jendela.
Entahlah, tidak biasanya aku seperti ini. namun kali ini aku merasa sangat malu saat berhadapan dengannya.
Jantungku seolah tidak bisa diajak kompromi. Ia loncat begitu saja kapanpun aku melihat Mingyu. Menyebalkan.
Dan pria disampingku ini, ia kelihatan biasa saja. Malah ia sedang bersenandung mengikuti irama di music player.
"Wonwoo, mau ke apartemenku malam ini? aku ingin memasak pasta." Ucap Mingyu tiba-tiba, membuatku menatapnya.
Apa? Pasta? Aaaaahh! Aku mau!
Aku tersenyum sumringah menatap wajahnya, dan baru saja ingin menjawab pertanyaan Mingyu, aku seketika teringat bahwa malam ini eomma akan menginap di tempatku.
Kembali kuhapus senyumku itu, kemudian mendengus pelan.
"aku tidak bisa." Ucapku pendek.
"wae? Apa kau sibuk?" tanyanya. Ia kelihatan sangat penasaran.
"eommaku akan menginap malam ini. sepertinya besok ia dan ibumu akan sibuk mengurus keperluan pernikahan kita." Jelasku padanya.
Ia hanya menganggukan kepalanya, dan tiba-tiba ia memekik kencang.
"ah! Bagaimana kalau aku memasak ditempatmu saja? Mumpung ada eomoni, jadi ia juga bisa ikut makan!" ucapnya dengan riang.
Deg, deg, deg.
Lagi-lagi jantungku berdegup tidak tahu aturan saat melihat pria aneh ini tersenyum lebar sambil memamerkan gigi taringnya yang panjang itu.
"huh! Bilang saja kau mau pamer kemampuan pada eommaku, ya kan?!"
"HAHAHAHA!" mingyu tertawa menanggapi ucapanku.
"ya! Idemu itu bagus sekali! Aku bisa sekalian pamer pada calon ibu mertua! Yaa.. Jeon Wonwoo, kau sangat pintar! Hahahaha.." ucapnya yang diselingi tawa yang menggelegar, membuatku hanya berdecih pelan.
"assa! Kalau begitu, sudah diputuskan! Aku akan memasak ditempatmu! Cha! Sekarang mari kita pergi ke supermarket!" dan pria aneh itu tiba-tiba saja sudah membawa mobilnya menuju supermarket terdekat.
Mingyu yang memilih semua bahan. Ia hanya bertanya padaku, apa yang kuinginkan. Dan saat kubilang aku mau carbonara pasta, ia hanya tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
Ia memilih bahan dengan sangat baik. Ia bahkan tahu apa saja yang ia perlukan, tanpa perlu mencari resepnya dari internet.
Ckckck, sebenarnya dia ini pria macam apa, sih?
Lalu saat kami sedang berjalan beriringan mendorong troli, ia tiba-tiba saja bertanya padaku.
"Wonwoo-ya, ibumu akan menginap?" tanyanya sambil melihat-lihat rak berisi saus.
"eum. Bukankah sudah kukatakan padamu?"
"morning sickness mu bagaimana?"
"bagaimana apanya? Tentu saja – "
Astaga! Aku lupa! Sama sekali lupa! Lupa kalau aku kini memiliki penyakit bawaan akibat bayi ini!
Astaga! Astaga! Bagaimana ini?
"sebagai seorang ibu yang pernah melahirkan dua kali, ia tidak mungkin tidak mengerti gejala seperti itu. Kalaupun tidak, minimal ia pasti mengkhawatirkan keadaanmu, dan memaksa agar kau check up ke dokter. Itu bisa lebih bahaya lagi, bukan?" ucap Mingyu.
Kini pria itu sedang menatapku dengan serius. Ia bahkan telah meletakkan saus cream yang sedari tadi digenggamnya.
"Mingyu! Kau benar! Aku sama sekali tidak terpikirkan soal ini! bagaimana ini?!" tanyaku panik padanya.
Ia menghela nafasnya pelan, kemudian menggaruk pelipisnya. Sepertinya ia juga bingung.
"sepertinya menginap di tempatku adalah pilihan terbaik"
"tapi eommaku mana mungkin mengizinkannya, kan?!" ucapku sedikit ketus karena panik.
"hey, tenanglah. Kita pikirkan ini bersama-sama, oke?"
Aahh.. aku jadi merasa bersalah telah membentaknya barusan. Pasalnya kini pria itu malah mengelus pelan kepalaku sambil menyungginkan senyum tipisnya.
Aku benar-benar bingung saat ini, sehingga tiba-tiba saja melintas di otakku yang nista, saat melihat tubuh Mingyu yang begitu besar dan kekar. Bahunya juga lebar. Pasti nyaman bersandar disana.
Dan kalian tahu apa? Tubuh sialanku ini tiba-tiba saja bergerak tanpa kuperintahkan!
Aku bergerak mendekati Mingyu, kemudian kedua tanganku melingkari perutnya, dan tiba-tiba saja pipiku sudah bergesekan dengan dadanya.
Aku merutuki kebodohanku ini. namun dugaanku ternyata benar. Tubuh Mingyu benar-benar nyaman. Begitu lebar juga hangat.
Meskipun sebenarnya tidak rela meninggalkan kenyamanan yang diberikan tubuh Mingyu, namun aku masih memikirkan harga diriku, sehingga aku segera menarik tubuhku dari sana.
Namun tiba-tiba ia kembali menarik tubuhku agar tetap menempel pada tubuhnya.
"wae? Pelukan bisa menghilangkan stress." Ucapnya tanpa ragu, kemudian mengelusi punggungku.
"ta-tapi..."
"kau ini, kenapa harga dirimu tinggi sekali, sih? Sesekali membiarkan kata hatimu yang bekerja itu baik. Lagipula memangnya kenapa kalau kau memelukku? Seperti tidak pernah saja.. kau itu sudah sangat sering memelukku!" ucapnya kali ini mengelus rambutku.
Aku benar-benar segera menarik tubuhku darinya akibat ucapan Mingyu barusan.
"kapan aku pernah memelukmu?!" tanyaku tidak terima, dan membuat ia mendengus kencang.
"hmph, kau mana mungkin sadar. Kau kan memelukku hanya saat kau tidur! Dasar, memangnya aku ini gulingmu, apa? Apalagi kejadian waktu itu, kau memelukku sampai aku tidak bisa tidur!"
"ka-kapan..."
"yah, sangkal saja terus. Yang pasti, tubuhmu itu selalu berdekapan denganku kalau kau tidur!" ucapnya benar-benar membuatku malu.
"ya! Bisakah kau mengatakannya dengan cara yang lebih baik? Kau membuatku seolah kelihatan sangat jalang."
Aku kesal pada pria ini, sehingga aku memilih untuk berjalan didepannya, namun pria ini segera menarik kembali tanganku.
"hey, mana mungkin aku mau menikahi wanita jalang, kan? Kenapa berpikiran seperti itu? Yasudah, aku minta maaf jika ucapanku keterlaluan. Ayo kita pikirkan jalan keluar dari masalahmu itu."
Membuatku kembali luluh dan akhirnya mengikuti ucapannya.
Kami akhirnya pulang ke apartemenku, dan menemui eommaku yang sedang menonton televisi disana.
Eomma sangat senang saat melihat Mingyu, terlebih saat mengetahui bahwa pria itu akan memasak disini.
"waah.. Gyu, kamu benar-benar calon suami idaman. Andai saja eomoni dua puluh tahun lebih muda, pasti eomoni akan merebutmu dari Wonwoo." Ucap eommaku, membuat Mingyu tertawa keras dan mengerlingkan matanya padaku.
"ish! Eomma tidak tahu saja, Mingyu itu pria aneh!" ucapku tidak terima karena eomma kelihatan sangat menyukai Mingyu.
"aneh bagaimana maksudmu?"
"aneh.. bagaimana.. ya, pokoknya aneh!"
"hahaha!" tawa Mingyu terdengar, bahkan saat ia sedang berada di dapur, dan kami di ruang tamu.
"tuh, kan! Lihat caranya tertawa!"
"ya.. sudah, sudah! Kalian ini! sudah mau menikah, masih saja seperti anak kecil!" ucap eomma berusaha melerai perdebatan konyol dan absurd kami.
"Wonwoo-ya.. kelihatannya eomma tidak jadi menginap di tempatmu. Tadi appa bilang ia juga akan kemari, sehingga kami akan menyewa hotel didekat sini saja." Tiba-tiba ucapan eomma membuatku benar-benar senang.
Tidak, tidak. Aku bukannya senang ibuku tidak jadi menginap, hanya saja keadaannya bisa menjadi sangat gawat jika ia mengetahui soal morning sicknessku.
Aku berusaha menutupi senyumku yang ingin merekah ini.
"benarkah? Padahal aku sudah senang eomma akan menginap.." ucapku dengan nada lesu yang dibuat-buat.
"hah! Bohong! Sebenarnya kau pasti senang, bukan? Eomma tidak jadi menginap? Kau ingin bermesraan dengan Mingyu, kan?"
Ucapan eomma sukses membuat wajahku memerah. Yah, meskipun tidak sepenuhnya ucapannya itu benar..
"aniya! Eomma kenapa bicara seperti itu? Ish!"
"makanan datang.." mingyu tiba-tiba datang diantara perdebatan kami, membuatku sesungguhnya merasa agak lega.
"woah.. makanannya sudah datang!" ucapku dengan riang dan bertepuk tangan kecil, membuat Mingyu menatapku aneh karena telah bersikap berlebihan.
"kau ini kenapa?" tanya Mingyu.
"aish, sudah lupakan saja."
"Mingyu-ya, nanti bisakah kamu mengantarkan eomma ke hotel yang ada didepan sana itu? Appanya Wonwoo akan segera kesana." Ucap eommaku pada Mingyu yang mulai menyendokkan pasta keatas piring.
"eoh? Abeoji akan datang? Kenapa tidak kemari dulu?" tanya Mingyu heran. Sebenarnya aku juga heran. Kenapa tidak kemari dulu menemuiku?
"nanti malam ia baru akan datang. Kalau kemari dulu, kami takut mengganggu Wonwoo. Besok pagi ia harus bekerja. Jadi appanya Wonwoo akan langsung ke hotel."
Ucap eomma menjelaskan, membuat Mingyu serta aku hanya bisa menganggukan kepala kami pelan.
"baiklah kalau begitu."
.
.
.
.
Sudah seminggu ini aku dan Wonwoo disibukkan dengan kegiatan mengurus kebutuhan pernikahan kami. Meskipun sebenarnya keluarga Wonwoo tidak keberatan jika aku tidak terlalu membantu karena aku sibuk, namun aku tetap saja merasa tidak enak.
Ini adalah pernikahanku sendiri. Bagaimana mungkin aku tidak melakukan apapun dan hanya menerima beresnya saja.
Kurang dari tiga minggu lagi pernikahan kami akan digelar. Dan undagan sudah disebar kemarin, membuat banyak sekali rekan kerjaku, baik di Rumah Sakit maupun teman sekolah tiba-tiba menghubungiku dan memberikan ucapan selamat.
Mereka tidak menyangka bahwa aku akan menikah secepat itu. Terlebih rekan kerjaku. Mereka bahkan tidak pernah melihatku bersama dengan wanita manapun, membuatku hanya bisa tertawa sungkan.
"hei, doker Kim! Woahh... chukkae, tak kusangka kau benar-benar akan menikah!" ucap Seokmin dengan tawanya yang lebar.
Aku ikut terkekeh. Yah, ini semua berkat bantuannya juga.
"TOK TOK TOK"
"Dokter Kim, ada yang ingin bertemu." Ucap seorang suster yang tiba-tiba membuka pintu ruanganku.
"siapa?" tanyaku bingung. Pasalnya aku sama sekali tidak memiliki janji temu hari ini.
"ia bilang ia adalah teman kuliah Dokter Kim. Namanya.. Lee Chan, kalau tidak salah."
Aku menatap Seokmin, kemudian tersenyum lebar, sama seperti pria itu yang juga tersenyum sumringah.
"cepat suruh dia masuk!" ucapku membuat suster tersebut menganggukan kepalanya.
"annyeong." Ucap seorang pria bertubuh atletis itu.
"Woaahh.. Chaniiie! Ucap Seokmin, kemudian memeluk magnae di dalam geng kami waktu kuliah dulu.
"hyungdeul, apa kabar?" tanya Chan sopan. Dari dulu ia adalah seorang magnae yang sopan, membuat kami sangat menyukainya.
"ah, Seokmin hyung. Selamat atas pernikahanmu. Maaf aku tidak bisa datang. Saat itu aku masih mengerjakan thesisku." Ucapnya kembali memeluk Seokmin, memberi ucapan selamat atas pernikahan sahabatku itu.
"yah, tidak apa-apa. Aku tahu kau sibuk. Dasar. Bagaimana London?" tanya Seokmin membuat Chan tersenyum malu-malu.
"sangat hebat. Sebentar lagi aku akan kembali menetap di Korea. Ah! Mingyu hyung! Bagaimana denganmu? Waah.. kau sudah menjadi dokter hebat sekarang.." Chan kemudian beralih padaku, dan turut memelukku.
Kami semua kini sudah duduk di sofa yang disediakan di ruanganku, merasa sangat gembira karena kedatangan magnae kami yang berasal dari London.
"ya! Kebetulan sekali kau pulang! Apa kau tahu? Tiga minggu lagi Mingyu akan menikah!" ucap Seokmin dengan sangat gembira, membuat Chan juga menatapku dengan tatapan tidak percayanya.
"woah! Benarkah itu, hyung? Selamat!" ucap Chan, menjulurkan tangannya, berusaha mengajakku untuk bersalaman.
"yah.. terima kasih. Maaf, aku sedang tidak memiliki undangan saat ini. tapi aku sangat mengharapkan kehadiranmu disana." Ucapku sedikit menyesal.
Aku memang tidak menyangka bahwa Chan akan pulang ke Korea secepat ini, sehingga aku tidak menyiapkan undangan tersebut untuknya.
"dan siapa wanita beruntung tersebut? apakah masih sama? kau masih menjalin hubungan dengannya?" tanya Chan seketika membuatku dan Seokmin terdiam.
Chan pergi ke London untuk meneruskan kuliah kedokterannya disana, sehingga ia tidak mengetahui apa yang sudah terjadi selama beberapa saat belakangan ini.
Seokmin menggaruk tengkuknya canggung, namun aku hanya tersenyum.
"bukan. Aku sudah tidak menjalin hubungan lagi dengannya. Sudah lama sekali." Ucapku, membuat Chan turut terdiam.
Namun tidak lama kemudian ia menganggukan kepalanya.
"syukurlah. Kupikir kau akan terus terikat dengan wanita itu seumur hidupmu." Ucapnya seolah merasa sangat lega, membuatku menatapnya heran.
"memangnya kenapa? Dari suaramu, kau seperti tidak menyukainya." Tanyaku heran.
Chan menghela nafasnya, kemudian tersenyum.
"memangnya kapan aku pernah menyukainya? Dari dulu aku tidak pernah menyukai wanita itu. Namun dulu aku masih berusaha bersikap biasa saja karena dia adalah kekasihmu. Aku berusaha untuk bersikap sopan. Tapi karena sekarang kau sudah berpisah dengannya, maka aku hanya bisa berucap syukur." Ucapnya lagi dengan lugas.
"ya, kan? Seokmin Hyung?"
"a-ah.. nde.." ucap Seokmin terbata-bata. Ia kelihatan ragu, membuatku semakin penasaran.
"ada apa dengan kalian ini? cepat katakan padaku." Paksaku, membuat Chan sedikit mendengus pelan.
"hyung.. siapapun yang melihat wanita itu, pasti tahu kalau ia hanya mengincar hartamu saja. Tapi sepertinya kau cukup dibutakan oleh cinta karena hanya kau satu-satunya yang tidak bisa melihat hal tersebut." ucap Chan lagi.
Sedari tadi Seokmin masih membungkam mulutnya, membuatku kini beralih bertanya padanya.
"kenapa kalian bisa berpikiran seperti itu? Kenapa baru sekarang kau katakan padaku? Seokmin, kau mengetahui rahasiaku sudah lama. Kenapa kau tidak mengatakan apapun?"
Tanyaku penuh dengan keputus asaan.
Hingga akhirnya Seokmin menghela nafasnya.
"Mingyu, ada hal yang tidak bisa disampaikan pada orang lain. Orang tersebut harus melihat dengan mata kepalanya sendiri. Namun melihatmu yang begitu terbutakan oleh cinta, kami bisa apa?"
"lagipula, apakah itu penting sekarang? Sebentar lagi kau akan menikah. Dan sudah seharusnya kau melupakan wanita tersebut." ucapnya dengan suara pelan, namun terkesan tegas, membuatku seketika nge-blank.
Akhirnya setelah bercakap-cakap sebentar, Seokmin dan Chan undur diri dari hadapanku karena mereka masih punya urusan masing-masing.
Namun ternyata tidak semudah itu untuk kembali berpikiran normal.
Aku yang tadinya hampir melupakan wanita itu, kini harus kembali terkenang.
Aku... jadi ingin bertemu dengan wanita itu.
.
.
.
.
Aku tersenyum sumringah saat mendapati Mingyu sudah berjalan kearahku.
Meskipun terlambat setengah jam dari janji temu kami, namun tidak apa. Aku mengerti ia sibuk.
Wajahnya benar-benar kelihatan lelah, membuatku sedikit tidak tega.
"Mingyu, kau baik-baik saja?" tanyaku padanya yang berwajah sangat lesu.
Ia tidak menyadari ucapanku, sampai aku menggerakkan tanganku didepan wajahnya.
"eoh? Wae?" tanyanya kelihatan seperti orang ling-lung.
"kau kenapa? Kau kelihatan sangat lelah." Ucapku pelan.
Kuelus pelan lengannya, berusaha agar setidaknya ia kembali merasa bersemangat.
"aniya. Nan gwenchana. Aku hanya sedikit stress karena pasien." Ucapnya pelan, kemudian tersenyum.
Namun aku tahu. Senyumnya itu dipaksakan. Tidak seperti senyumnya yang biasa, yang akan membuat daerah sekitar matanya jadi berkerut.
Senyumnya kali inil... terasa hambar.
Namun aku memilih untuk sedikit membiarkan pria ini. mungkin ia memang benar-benar stress karena pekerjaannya.
"baiklah. Tapi kalau kau membutuhkan teman curhat, kau bisa datang padaku." Ucapku akhirnya, membuat ia menatapku dalam.
"ya. Terima kasih."
Aku turut tersenyum, kemudian memanggil pelayan untuk mencatat pesanan kami, sebelum tiba-tiba terdengar pekikan seorang wanita mengganggu indera pendengaranku.
"Mingyu!"
Tiba-tiba saja kulihat seorang wanita berjalan kearah kami. Wanita itu datang dari arah belakang Mingyu, sehingga pria itu tidak bisa melihatnya langsung.
Wanita itu tiba-tiba sudah berada disamping calon suamiku, lalu menepuk pundaknya pelan.
"Mingyu-ya! Bagaimana kabarmu?" tanya wanita tersebut.
Kupikir wanita itu adalah rekan kerja Mingyu di rumah sakit tempatnya bekerja, atau setidaknya teman sekolah pria itu.
Namun melihat dari reaksi yang diberikannya, sepertinya dugaanku salah.
Pria itu, Mingyu, menatap wanita yang baru datang itu dengan tatapan tidak percaya, seolah ia baru saja melihat hantu datang dari dasar bumi. Mulutnya sedikit ternganga.
Dan bisa kudengar suara pria itu yang seolah berbisik
"K-Kamu.."
"apa kau merindukanku? Aku sangat merindukanmu, Mingyu-ya.."
"manhi bogoshipeoso."
"aku selalu mencarimu."
"aku.. masih mencintaimu."
Dadaku bergemuruh saat itu juga. Badai besar akan menggoncang kapal kami yang bahkan belum berlabuh.
TBC
Annyeonggg...
Dalam beberapa jam kedepan kita bakal ngerayain hari jadi negara ibu pertiwi, sooo...
Selamat hari kemerdekaan, fellas! Might this momentum bring you the fighting spirit!
Hahahaha, dan juga selamat datang di chapter baru kehidupan percintaan meanie yang penuh lika liku.
Dengan masuknya kita ke chap ini, berarti kita hampir sampai pada klimaks cerita. Aku gak tahu apa cerita ini menghibur kalian atau ngga, tapi setidaknya aku udh mencoba sebisaku.
Dan aku berterima kasih banget sama komenan, fav, following yang udah semua readers kasih ke aku sebagai apresiasi.
Sengaja ku post chap ini sekarang untuk ngerayain HUT RI. (gada hubungannya boy).
Dan rencananya bakal ku post chap selanjutnya weekend nanti kalo review chap ini memuaskan. Hehehe.
So don't forget to review, and have a nice holiday!
