TITLE :One Night Stand
GENRE :Romance, Drama
RATING :M
CAST :Wonwoo (GS), Mingyu
DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.
SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .
This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))
.
.
.
.
FLASHBACK ON, FEW MONTHS AGO.
"Kyung, malam ini kau ada waktu?" tanyaku pada kekasihku yang cantik ini.
Dulu saat kami masih kuliah, ia adalah sekarang pun masih tetap seperti itu. Ia kini adalah seorang bidan . orang-orang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sama-sama cantik dan tampan, membuatku merasa sangat senang.
Namun sebenarnya, tidak sedikit juga gosip miring yang menimpa wanita tersebut.
Banyak yang bilang ia adalah simpanan om-om kaya, selingkuhan konglomerat , suka menjajakan dirinya lewat situs dating online, dan masih banyak lagi.
Kupikir itu wajar. Kyulkyung sangat cantik. Dan meskipun berasal dari kalangan keluarga kurang mampu, ia berhasil menyelesaikan masa kuliahnya dengan beasiswa hingga akhirnya bekerja di rumah sakit ini.
Aku memilih untuk menutup telingaku pada rumor-rumor aneh tidak berdasar tersebut. namun hingga suatu hari, muncul sebuah rumor yang mengatakan bahwa ia berpacaran denganku hanya karena menginginkan hartaku saja.
Aku lagi-lagi memilih untuk tidak menggubris rumor itu, namun semakin lama rumornya bertiup semakin kencang, membuatku semakin gerah.
Hingga akhirnya aku sampai pada sebuah keputusan.
Aku akan bertunangan dengan dirinya. Karena itulah, aku berniat untuk mengenalkannya pada kedua orang tuaku.
"eung? Wae?" tanyanya bingung.
Aku hanya tersenyum, kemudian mengecup punggung tangannya.
"aku ingin mengenalkanmu pada kedua orang tuaku. Kau mau?" ucapku padanya dengan wajah berbinar.
Ia kelihatan sangat terkejut, namun kemudian ia tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.
"baiklah. Malam ini aku akan menjemputmu. Kau bersiaplah!" ucapku pada akhirnya dan pergi.
Aku benar-benar senang dan tidak sabar. Hingga akhirnya malam menjelang, dan aku menjemputnya agar kami bertemu dengan kedua orang tuaku.
Ia kelihatan manis. Dengan dress bunga-bunga berwarna kuning yang kubelikan musim panas lalu, kami pergi menemui kedua orang tuaku di kediamanku.
Mendengar aku akan mengenalkan kekasihku pada kedua orangtuaku, membuat mereka sangat bersemangat.
Minseo, ibu, bahkan ayahku menyempatkan diri mereka untuk makan malam di rumah. Padahal biasanya hal itu sangat jarang terjadi.
Appa akan sangat sibuk di rumah sakit, dan eomma akan menemaninya. Hanya Minseo yang biasa menemaniku di rumah sebesar ini.
Setelah sampai, aku membawa Kyulkyung masuk kedalam, dan hal tersebut sukses membuatnya merasa takjub.
Di ruang tamu, kami bertemu dengan seluruh keluargaku. Disana sudah ada appa, eomma, dan Minseo.
Ah, ya. Minseo juga sepertinya mengenal Kyulkyung. Karena Minseo terkadang suka membantu appa untuk mengurus manajemen rumah sakit.
Melihat Kyulkyung, Minseo hanya mengangkat kedua alisnya, tidak terlihat terkesan maupun senang. Dan kupikir itu wajar. Minseo pasti sudah tahu bahwa aku menjalin hubungan dengan gadis ini lewat gosip yang beredar.
"a-annyeong haseyo, Nyonya dan Tuan Kim.." sapa Kyulkyung dengan suara pelan, membuat appa hanya menganggukan kepalanya. Ya, sikap appa memang biasa dingin pada siapa saja, sehingga aku tidak terlalu memusingkannya.
"heum." Namun eommaku hanya berdehem pelan membalas sapaan Kyulkyung. Entahlah, dilihat dari sikapnya, sepertinya eommaku tidak terkesan pada Kyulkyung?
"eomma, appa. Kenalkan, dia Kyulkyung, kekasihku." Ucapku berusaha mencairkan suasana.
"ya. Siapa namamu?" tanya eomma dengan senyumnya yang kelihatan dipaksakan.
"Joo Kyulkyung imnida, bangapseumnida." Ucap Kyulkyung, dan kali ini ia menundukkan tubuhnya.
Eommaku hanya menganggukan kepalanya, sedangkan appa tidak mengatakan apapun.
Aku mengajak Kyulkyung untuk duduk diatas sofa dihadapan orang tuaku. Keadaan disini benar-benar tidak nyaman. Tidak ada satupun yang mau membuka suaranya, bahkan Minseo yang terkenal cerewet dan biasa berperan sebagai penghangat suasana di keluarga kami.
"eomma, appa.. aku mempertemukan kalian dengan Kyulkyung saat ini karena aku ingin meminta restu dari kalian... aku ingin bertunangan dengan Kyulkyung, kumohon izinkan kami." ucapku langsung to the point.
Semua yang ada disana terkejut, tidak terkecuali Kyulkyung sendiri.
Yah, memang. Aku tidak mengatakan apapun padanya sebelumnya.
"mwo?!" tanya eommaku tidak percaya.
"Mwo? Kim Mingyu! Apa kau tahu yang sedang kau bicarakan ini?" bentak appa tiba-tiba, membuatku sedikit terkejut.
Aku masih menggenggam erat tangan Kyulkyung, namun sepertinya eomma melihat aksiku tersebut, dan ia mendengus.
"Joo Kyulkyung-ssi." Panggil eomma membuat Kyulkyung segera menatap eomma dengan wajah berbinar.
"nde, eomoni?" tanya Kyulkyung, merasa senang bahwa mungkin saja ia sudah diterima di keluarga Kim.
"jangan kau pikir aku tidak mengetahui dirimu. Kau adalah anak dari Joo Hankyung, kan? Si pria penjudi yang kini sudah menjadi buronan polisi karena melarikan uang perusahaan Taesan?" ucap eomma dengan suara lantang dan juga tajam, membuat Kyulkyung langsung salah tingkah.
"a-ah.. itu.. bukan begitu, eomoni.."
"bukan begitu apanya?! Ya! Jangan mencoba untuk membodohiku! Aku sudah tahu siapa kau sebenarnya, darimana kau berasal, serta kelakuan jelekmu itu!" eomma tiba-tiba saja mencaci maki Kyulkyung tanpa alasan yang kuketahui jelas.
"eomma!" teriakku memperingatinya karena ia sudah keterlaluan.
"eomma, tenanglah.." kali ini Minseo membantuku untuk bersikap lebih tenang, namun hal tersebut malah membuatnya semakin marah.
"aku sudah mengetahui serba-serbi tentang dirimu sudah sejak lama, namun aku masih membiarkannya, karena kupikir anakku akan meninggalkanmu ketika ia sudah menyadari kejelekanmu. Namun ternyata putraku ini sudah dibutakan rupanya!" lagi-lagi dengan nada tinggi eommaku berucap pada Kyulkyung, membuatku juga tidak kalah emosi.
"eomma! Cukup! Memangnya apa yang eomma ketahui tentang dia?!"
"Mingyu, anakku! Bukalah matamu lebar-lebar! Perempuan ini hanya menginginkan harta kita!" eomma bahkan menunjuk wajah Kyulkyung dengan jari telunjuknya.
Aku mulai lelah dengan segala drama dan omong kosong yang eomma ucapkan, sehingga akhirnya aku beralih pada appa yang sedari tadi hanya diam.
"appa, kau percaya, kan? Kalau Kyulkyung bukan orang seperti itu?" tanyaku memohon pada appa.
Ia tidak juga mengatakan apapun, hanya menghela nafasnya kasar.
"Mingyu. Kau sudah besar. Sudah harus bisa membedakan mana yang baik dan buruk untuk hidupmu."
"maafkan appa, Mingyu. Tapi kau juga tidak mendapatkan restu dari appa." Ucapnya tegas, terkesan mutlak.
Biasanya aku tidak pernah membantah keinginan kedua orang tuaku. Aku akan selalu menuruti perintah mereka seperti anak sulung yang baik dan patuh.
Namun kali ini aku tidak peduli lagi. aku akan mempertahankan apa yang menjadi milikku.
Aku akhirnya menggenggam tangan Kyulkyung, kemudian mengajaknya perrgi dari rumahku.
"Mingyu! Kau mau kemana! Mingyu! Kembali!" teriak eomma seiring dengan kepergianku bersama kekasihku.
Malam itu aku tidak pulang ke rumah. Setelah mengantarkan Kyulkyung sampai ke rumahnya, aku menginap selama beberapa saat di apartemen pribadi milik sahabatku, Seokmin.
Aku sudah menjelaskan semuanya pada pria itu, membuat ia sedikit iba dan mau mengerti perasaanku.
Namun ia hanya membiarkan aku menumpang di tempatnya, tanpa mengatakan apapun soal hubungan kami, sehingga itu membuatku berpikir bahwa ia akan mendukung kami.
Selama di Rumah Sakit aku juga berusaha menghindari Minseo yang selalu ngotot ingin bertemu denganku.
Sesungguhnya ini sulit. Sebagai saudara, aku dan Minseo sangat dekat. Kami akan saling berbagi cerita.
Yah, meskipun memang semenjak aku berpacaran dengan Kyulkyung, hubungan kami jadi agak merenggang.
Aku sama sekali tidak mau menemui satupun anggota keluargaku.
Karena aku sudah memiliki sebuah rencana di otakku.
.
.
.
"ya! Kau gila!" maki Seokmin saat ia mendengarkan rencanaku.
"yah, kau boleh bilang begitu. Aku sama sekali tidak peduli." Ucapku santai di apartemennya.
"tapi aku peduli! Itu masa depanmu, Kim Mingyu! Jangan hancurkan masa depanmu sendiri!" teriak Seokmin penuh dengan emosi.
"aku bahkan akan menanggalkan marga Kim kalau memang itu yang kuperlukan." Ucapku lagi-lagi tegas, seolah aku benar-benar tidak peduli.
"woaah... pria ini.. dia benar-benar sudah dibutakan oleh cinta, rupanya.." Seokmin berdecak kesal menatapku, kemudian kubalas tatapan nya dengan wajah memelas.
"dari semua orang yang kupunya, bisakah, ada satu saja yang mendukungku?" pintaku.
Ia menghela nafasnya. Kemudian menggeleng.
"tidak. Kali ini tidak."
"Kau pergi dari rumah? Oke. Aku akan membiarkanmu tinggal di tempatku."
"kau tidak punya uang karena kabur? Tidak masalah, kau bisa meminjamnya padaku."
"bajumu? Hei! Kita bahkan saling bertukar pakaian dalam dulu saat kuliah."
"tapi sekarang, melihatmu yang akan mengundurkan diri dari rumah sakit ini, lalu pergi kawin lari dengan gadis itu? Tidak. Tidak akan kubiarkan kau. Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan masa depanmu sendiri."
Ucap Seokmin dengan wajah yang benar-benar tegas, membuatku sedikit takut. Ia adalah sahabatku sejak awal kami kuliah.
Dan baru kali ini kulihat ia seserius ini.
"tapi.."
"Mingyu, kau masih muda. Kita masih muda. Apa kau yakin akan menghempaskan semuanya hanya demi cinta?"
" Oke, baiklah. Anggaplah kau mau melakukannya."
"tapi Kyulkyung, gadis itu?"
"apa ia mau?" tanya Seokmin lagi-lagi dengan wajah serius.
"aku memang belum mengatakan hal ini padanya.."
Seokmin tersenyum kecut saat mendengar bahwa aku belum mengatakan pada kyulkyung soal rencana kawin lari ini.
"hmph. Mari kita bertaruh. Aku akan mempertaruhkan apartemen ini. jika ia mau kau ajak kawin lari, aku akan memberikan apartemen ini untukmu agar kau jual. Itu bisa menjadi modal untuk kehidupanmu kelak."
"tapi jika ia menolak? Maka ucapkan selamat tinggal, kau bahkan harus kembali ke rumahmu, dan berbaikan dengan eomma-mu." Ucap Seokmin dengan wajah tegas dan kelihatan sangat yakin.
Aku tidak tahu kenapa, namun ia kelihatan sangat percaya diri. Seolah ia memegang kartu AS dalam kehidupan percintaanku.
"bagaimana?" tanyanya lagi.
"baiklah. Aku terima." Ucapku pada akhirnya.
Well, hidup adalah pilihan, bukan?
Akhirnya keesokan harinya, aku menghampiri Kyulkyung yang sedang bersenda gurau dengan para teman bidannya.
"Kyung, bisa ikut denganku sebentar?" tanyaku pelan, menginterupsi acara tertawanya.
Ia kelihatan ragu, bahkan sedikit berat untuk mengikutiku, namun teman-temannya memaksa agar ia mau mengikutiku.
Setelah sampai di taman Rumah Sakit, aku mengajaknya duduk berdua dibawah pohon yang agak rindang.
"ada apa?" tanyanya singkat.
Ini hanya perasaanku saja, ataukah memang ia berubah menjadi dingin?
Tentu saja. Ia baru dipermalukan oleh keluargaku sedemikian rupa, hanya gadis tidak berotak yang masih akan bersikap baik seolah tidak terjadi apa-apa.
"kau tahu kan, aku mencintaimu?" tanyaku sambil menggenggam erat tangannya.
Ia menatapku, dalam, namun aku seolah tidak bisa membaca tatapan matanya.
Kemudian ia mengangguk.
"apa kau juga merasakan perasaan yang sama denganku?" tanyaku lagi.
Ia menatapku jengah.
"apa kau perlu bertanya hal itu? Kau tahu jawabannya." Ucapnya, membuatku tersenyum.
Ia memang tidak pernah suka jika aku mempertanyakan perasaannya padaku.
"Kyung, aku sudah memikirkan ini matang-matang...tapi.. apakah kau bersedia kawin lari denganku?" tanyaku kembali menatapnya.
Ia terkejut. Dan seketika itu juga ia menghempaskan tanganku.
"m-mwo?! Kawin lari?!" tanyanya tidak percaya.
Aku menganggukan kepalaku pelan, kemudian tersenyum tipis.
"ya. Aku memang belum lama bekerja sebagai Dokter, namun aku masih memiliki sedikit tabungan untuk kehidupan kita. Aku akan bekerja keras. Awalnya memang pasti akan sulit, namun jika bersama, kita pasti bisa melewatinya." ucapku dengan lembut, berusaha meyakinkan gadis tersebut.
"bagaimana? Apa kau mau?" tanyaku kembali meraih tangannya.
Ia diam saja. Wajahnya pucat, dan pelipisnya kelihatan berkeringat. Namun lagi-lagi ia melepaskan tangannya dari genggamanku.
Ia menggigit bibirnya, kemudian menatapku.
"biar aku pikirkan... ini adalah keputusan besar. Aku tidak bisa memutuskan begitu saja. Kuharap kau mengerti.." ucapnya pelan.
Aku tersenyum, kemudian mengelus pelan kepalanya.
"gwenchana. Aku mengerti. Pikirkanlah baik-baik. Aku akan menunggu jawaban darimu. Dan kuharap kau akan menjawab ya." Ucapku padanya sambil mengecup punggung tangannya kembali.
Lalu kami pergi. Aku menuju ruanganku, dan ia menuju ke poli kandungan.
Kemudian sesampainya di apartemen Seokmin, aku berkata pada sahabatku itu bahwa aku sudah mengatakannya pada Kyulkyung, dan ia bilang ia membutuhkan waktu untuk berpikir.
Seokmin hanya menganggukan kepalanya saat itu, namun ia tersenyum aneh, seolah ia sudah tahu jawabannya.
Dan sepertinya dugaan Seokmin benar. Karena semenjak aku mengajak Kyulkyung untuk kawin lari, gadis itu kelihatan seperti menghindariku.
Setiap aku bertemu dengannya secara tidak disengaja, ia selalu kabur menhindariku. Dan meskipun ia tidak kabur, ia selalu berkata bahwa ia masih belum bisa menentukan pilihannya setiap kali kutanya jawabannya.
.
.
.
Sudah hampir beberapa minggu ini aku tidak menemui keluargaku sendiri, hingga suatu hari Minseo datang ke ruanganku dengan tergesa-gesa. Ia menangis, membuatku menjadi sedikit tidak tega.
"o-oppa..." lirihnya.
Sesungguhnya aku masih malas menemui keluargaku setelah apa yang mereka lakukan pada Kyulkyung, namun melihat adik kesayanganku ini menangis, akhirnya pertahananku runtuh juga.
"wae? Kenapa kau menangis?" tanyaku sambil mengelus pelan punggungnya.
Kami sudah duduk diatas sofa yang ada didalam ruanganku, kemudian ia menangis semakin kencang.
"hikss.. oppaa..."
"jangan menangis begitu, aku tidak mengerti.. katakan padaku, ada apa denganmu, eoh?"
Tiba-tiba Minseo memelukku erat. Ia bahkan menenggelamkan wajahnya didadaku.
"tapi janji, oppa jangan marah, ya?" ucapnya pelan. Suaranya bergetar.
Aku hanya bisa menganggukan kepalaku.
"oppa.. aku hamil.." ucap Minseo, membuatku segera menghempaskan tubuhnya, melepaskan pelukan yang ia lakukan.
"mwo?! Bagaimana bisa?! Maksudku, siapa yang melakukannya?!" cecarku pada Minseo, membuat ia kembali menangis.
"hiks.. oppa... jangan marah.. kumohon, aku sangat takut sekarang..."
Aku menghela nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya.
Belum selesai satu masalah, timbul masalah baru.
Kuraih pundak Minseo, kemudian kutatap matanya yang sudah bengkak itu.
"sekarang katakan pada oppa. Sudah berapa lama?" tanyaku pada Minseo yang sibuk menyeka air matanya.
"hiks.. usianya hampir satu bulan." ucap Minseo, kemudian mengelus pelan perutnya.
"kau melakukannya dengan kekasihmu?"
Minseo menggigit bibirnya, kemudian mengangguk.
"kau sudah mengatakan ini padanya?" tanyaku lagi. namun itu segera membuatku kembali naik darah, karena Minseo berkata bahwa ia belum memberi tahu kekasihnya.
"ya! Bagaimana bisa kau merahasiakan ini dari pria itu?! Sekarang juga, cepat temui dia, dan katakan bahwa kau hamil anaknya! pria itu harus bertanggung jawab, atau dia akan rasakan akibatnya!" teriakku penuh emosi pada Minseo, membuat ia sedikit mengkerut ketakutan.
"o-oppa... tapi eomma tidak akan merestui kami.. kau tahu, Minhyuk bukan berasal dari kalangan keluarga berada.." tangis Minseo lagi, seolah menyesali semuanya.
Sepertinya kami kakak beradik mengalami masalah yang sama.
Hubungan yang ditentang hanya karena pasangan kami bukan orang berada.
Membuatku menghela nafas, dan kemudian kembali meraih pundak Minseo.
"ya. Keadaannya sudah jadi begini. Kau tengah hamil. Mau direstui atau tidak, siapa peduli? Kau tetap harus mengatakan ini pada kekasihmu. Tenang saja, oppa akan melindungimu."
Itu benar.
Aku sudah merasakan sakitnya hubungan yang tidak direstui. Aku tidak ingin Minseo juga merasakan hal yang sama.
Dari seluruh orang di dunia ini yang menentang hubungan mereka, aku akan menjadi satu orang tersebut yang selalu mendukungnya.
"oppa.. gomawo.."
"ya.. sekarang temui dia, katakan bahwa kau tengah mengandung anaknya, dan suruh ia bertanggung jawab. Atau aku akan datang dan mematahkan hidungnya."
Setelah mengatakan hal tersebut, Minseo segera pergi. Sepertinya ia menuju tempat kekasihnya berada.
Dan aku disini hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi dirinya.
Namun sepertinya doaku tidak terkabul.
Karena pada malam harinya, Minseo meneleponku sambil menangis tersedu-sedu. Ia memintaku agar pulang ke rumah.
Aku segera membawa mobilku secepatnya menuju kediaman yang sudah kutinggalkan tersebut.
Dan sangat terkejut karena keadaan sangat kacau disana.
"ya! Appa! Berhenti!" teriakku kencang saat melihat appaku tengah mengangkat tangannya tinggi, sedang bersiap memukul seorang pria muda yang usianya tidak lebih tua daripada aku.
Aku segera melerai mereka, dan bisa kulihat diujung ruangan, Minseo yang sedang menangis meraung-raung sambil ditahan tangannya oleh eomma.
"sebenarnya ada apa ini?" tanyaku setelah aku berhasil menjauhkan appa dari pria tersebut.
"tanyakan pada adikmu!" teriak appa penuh emosi.
Dan baru kali ini kulihat appaku marah hingga seperti itu. Ia adalah orang yang tenang, tidak akan menggunakan otot untuk menyelesaikan suatu masalah. Namun sepertinya aku melihat sisi lain dari dirinya hari ini.
"Minseo, ada apa sebenarnya?"
"o-oppa... dia.. dia Minhyuk.." ucap Minseo terbata-bata.
Tiba-tiba pria bernama Minhyuk itu membungkukkan tubuhnya.
"hyung, jwesonghamnida. Aku adalah kekasih Minseo. Dan aku sudah melakukan hal yang tidak sepantasnya."
Aku benar-benar kesal pada ucapan pria ini, sehingga aku menggantikan appa untuk menonjok keras wajahnya, hingga ia mengeluarkan darah.
"oppa!"
"Mingyu!" pekik Minseo dan kedua orang tuaku.
Aku segera meraih kerah lehernya, dan kuangkat tinggi.
"bajingan! Kau sudah merampas masa depan adikku! Kenapa kau malah minta maaf?! Yang harus kau lakukan adalah bertanggung jawab pada hidupnya!" teriakku tepat didepan wajahnya.
Pria ini juga kelihatan kalut. Ia segera menghempaskan tanganku dari kerah bajunya, kemudian beranjak menuju Minseo dan menggenggam tangan adikku itu.
"aku kesini memang ingin meminta restu pada kalian untuk menikahi Minseo. Aku tahu aku bukan pria yang berasal dari kalangan terpandang, tapi aku bisa menjamin bahwa kehidupan Minseo tidak akan menderita! Aku akan berusaha sekuat tenaga menghidupinya dan memabahagiakan ia dan anak kami kelak!" ucap Minhyuk dengan lantang.
Minseo kelihatan takut. Ia memegang erat lengan Minhyuk.
Namun tidak lama kemudian eomma kembali menarik lengan Minseo.
"lepaskan anakku! Pria tidak punya masa depan sepertimu! Apa yang bisa kau janjikan untuk Minseo?!"
"Minseo-ya! Cepat kau gugurkan anakmu itu! Sampai kapanpun eomma tidak akan merestui hubungan kalian!"
"eo-eomma..." cicit Minseo.
Aku terperanjat mendengar ucapan eomma.
Bagaimana mungkin ia tega menyuruh anak gadisnya sendiri menggugurkan kandungan?
Eomma berniat membunuh cucunya? Darah dagingnya sendiri?
"eomma!" pekikku benar-benar marah.
Aku turut berjalan menuju kearah mereka.
"eomma, bagaimana mungkin kau tega? Minseo sedang mengandung cucumu! Itu darah dagingmu!" ucapku pada eomma sambil berusaha kembali tenang walaupun rasanya sulit.
Eomma menatapku dengan raut wajah kalutnya.
"tapi Mingyu! Bayangkan bagaimana nasib Minseo kelak kalau ia menikah dengan pria yang masih belum jelas masa depannya ini?" ucap eomma lagi.
Aku dan eomma terus berdebat mengenai Minseo. Aku yang kukuh mempertahankan kandungannya, dan eomma yang memaksa agar Minseo menggugurkannya.
"STOP! KALIAN BERDUA!" teriak appa membuat kami menoleh.
"baiklah, Minseo tidak perlu menggugurkan kandungannya. Ia juga boleh menikah dengan pria itu. Tapi dengan syarat." Ucap appa tiba-tiba.
Minseo langsung kelihatan senang saat mendengar ucapan appa.
"apa itu appa? Aku akan melakukannya."
"yang pertama, itu berarti Minseo harus merelakkan posisinya di Rumah Sakit sebagai direktur kelak!"
"lalu yang kedua! Mingyu yang akan menggantikan Minseo untuk menduduki jabatan tersebut!"
"dan yang terakhir! Mingyu harus berpisah dengan wanita bernama Kyulkyung itu."
"bagaimana? Apa kalian bersedia?" tanya appa lagi. wajahnya sama sekali tidak berubah.
Masih tetap dingin dan keras seperti biasa.
Dan ultimatum tersebut tentu saja membuat Minseo kembali menangis kencang.
Ia kini bahkan sudah menutupi wajahnya yang kembali memerah karena menangis.
Sungguh, aku sama sekali tidak tega. Terlebih Minseo yang menangis meraung-raung sambil menyebut namaku.
"oppa.. oppaaa..."
Aku menghela nafasku.
Tuhan, dosa apa aku sehingga aku harus terlahir di keluarga ini?
"baiklah. Aku bersedia." Ucapku pada akhirnya.
Membuat Minseo seketika berhenti menangis dan menggelengkan kepalanya.
"oppa, andwe!" Minseo kemudian berlari kearahku dan memelukku erat.
"nan gwenchana.. asalkan kau bahagia. Dan bayi di dalam perutmu itu bisa bertemu appanya." Ucapku sambil mengelus punggungnya.
"ya! Minhyuk! Aku berkorban sebesar ini agar kau bisa bersama dengan Minseo! Awas saja kalau kau tidak membuatnya bahagia! Aku akan mematahkan lehermu!" teriakku pada Minhyuk diseberang sana, membuat pria itu menganggukan kepalanya mantap.
"baiklah kalau begitu. Semua sudah diputuskan. Minseo, kau kembali lah ke kamarmu. Dan kau, anak muda! Bersiaplah! Sebentar lagi kau akan kami nikahkan dengan Minseo!"
"lalu, untuk Mingyu. Mulai besok kau sudah bisa ikut appa untuk pergi rapat dengan direksi Rumah Sakit."
"dan jangan lupakan soal mantan kekasihmu Kyulkyung itu. Janji adalah janji." Ucap appa beranjak pergi menuju kamarnya, membuat kami semua menghela nafas.
"Mingyu.. kenapa kau sampai berbuat seperti ini.." ucap eomma sambil mengelus pelan punggungku.
"nan gwenchana. Eomma pergilah menemani appa." Ucapku, membuat eomma menganggukan kepalanya
Kemudian aku memeluk Minseo sekali lagi, dan berpamitan pulang dengannya.
"eoh? Oppa tidak akan tidur disini?" tanyanya.
Kugelengkan kepalaku pelan.
"tidak. Tinggal dirumah ini hanya bisa membuatku stress. Lebih baik aku pergi."
Dan akhirnya aku benar-benar pergi kembali menuju apartemen Seokmin.
.
.
.
Keesokan harinya, aku segera bergegas menemui Kyulkyung di tempatnya biasa berada, poli kandungan.
Aku ingin berkata padanya bahwa aku tidak bisa mengajaknya kawin lari. Dan bahkan kami harus menyudahi hubungan ini.
Dan aku baru sadar, bahwa aku belum menemui Kyulkyung sudah cukup lama. Mungkin hampir dua minggu?
Lalu kusapa seorang bidan lainnya yang sering kujumpai sedang bersenda gurau dengan Kyulkyung.
"annyeong haseyo, apa kau melihat Kyulkyung?" tanyaku pada bidan tersebut.
"ne, Dokter Kim? Kyulkyung-ssi ? Ia sudah mengundurkan diri sejak dua minggu yang lalu."
"mwo?! Kau jangan bercanda! Ia tidak mengatakan apapun padaku!" ucapku dengan kesal pada bidan tersebut.
Bidan tersebut langsung gelagapan. Sepertinya ia takut salah bicara.
"jwesonghamnida, Dokter Kim. Tapi seperti itulah kenyataannya."
"tapi kenapa ia tidak mengatakannya padaku..." ucapku dengan pelan.
Sungguh, saat ini rasanya hatiku benar-benar seperti diremukkan dengan keras.
"sekali lagi aku minta maaf Dokter Kim, karena sudah lancang. Tapi bolehkah aku bertanya? Apakah anda dan Kyulkyung-ssi benar-benar sudah berpisah?" tanya wanita itu membuatku melotot menatapnya.
"ucapan omong kosong macam apa itu! Siapa yang berani mengatakannya?!" bentakku keras.
"ah, Jwesongio.. tapi.. Kyulkyung-ssi yang mengatakannya."
Sungguh, aku ingin jatuh rasanya. Kyulkyung yang mengatakan hal itu? Apa aku tidak salah?
Aku akhirnya segera pergi dari sana, dan berjalan pulang menuju apartemen Seokmin.
Aku lebih baik pulang. Berada disini pun tidak akan membuatku konsentrasi sama sekali.
Dan untung saja shift-ku akan berakhir dalam tiga puluh menit kedepan. Sehingga tidak terlalu masalah jika aku pergi sekarang.
Aku membawa mobilku dengan kecepatan setan. Aku benar-benar butuh tempat untuk berpikir.
Dan sofa ruang tamu Seokmin cukup ideal untuk dijadikan tempat berpikir.
Aku segera duduk disana, dan menyalakan televisi, meskipun aku tidak menonton acara tersebut.
"ah, kau sudah pulang?" tanya Seokmin yang baru keluar dari kamar mandi. Kebetulan hari ini adalah hari liburnya.
"bagaimana? Ini sudah hampir satu bulan lamanya kau mengajaknya kawin lari. Apa ia masih belum menjawabnya juga?" tanya Seokmin lagi
Aku hanya terdiam. Duduk didepan televisi tanpa memperhatikan isinya sama sekali.
Seokmin duduk disampingku, kemudian meminum cola kalengnya.
Aku menghela nafas menatap sahabatku ini.
"kau menang."
"eoh?" tanyanya bingung.
"soal taruhan itu, kubilang kau menang." Ucapku lagi masih sama lesunya seperti tadi.
"kenapa? Ia menolak ajakanmu?" tanya Seokmin sedikit terkekeh.
"masih lebih baik jika ia menolakku. Ia bahkan kini sudah pergi tanpa memberi tahuku. Dan kau tahu apa? Ia mengatakan pada temannya bahwa hubungan kami sudah berakhir."
Aku kini merebut cola dari tangan Seokmin, kemudian meminumnya hingga habis.
"dari awal ia memang berencana untuk menolak ajakanku." Ucapku setelah meminum habis colanya hingga membuat tenggorokanku terasa seperti terbakar.
"wanita itu, mengundurkan diri dua minggu yang lalu." Ucapku membuat Seokmin kaget.
"mwo? Benarkah? Sudah selama itu dan kau baru tahu sekarang?" tanyanya.
Aku hanya menganggukan kepalaku pelan, kemudian tersenyum kecut.
"kupikir ia benar-benar membutuhkan waktu untuk berpikir. Sehingga aku tidak terlalu menekannya. Namun ternyata dugaanku benar. Ia berubah." Ucapku dengan suara pelan.
Tatapan mataku tertuju pada layar televisi, namun terlihat hampa.
"aku tidak tahu harus bersyukur atau bersedih."
"di satu sisi, aku memang harus mengucapkan kata perpisahan dengannya, namun disisi lain, ternyata ia yang sudah pergi meninggalkanku duluan."
Seokmin hanya menepuk pelan bahuku, berusaha menyemangati.
"sudahlah.. kau anggap saja ini adalah keberuntungan. Dengan begini, kau jadi tidak perlu melihat adegan wanita menangis yang terlalu dramatis, kan? Mungkin kau memang tidak berjodoh dengannya. Masih banyak ikan dilautan, sahabatku." Ucap Seokmin dengan nada ringan.
Kuhela nafasku pelan.
"yah.. mungkin memang ini akhirnya."
"aku selalu mendoakan agar kau mendapat yang terbaik, chingu."
Aku menganggukan kepalaku, kemudian tersenyum.
"yah.. terima kasih.."
Dan aku hanya bisa berharap agar aku tidak bertemu lagi dengannya.
Juga agar aku benar-benar dipertemukan dengan seseorang yang akan mencintaiku dengan tulus. Apapun kondisiku.
TBC
YUHUUUUUUUUU...
Siapa yang dari kemarin-marin penasaran sama masa lalu kiming? Nih udah dijelasin semuanya disini!
Satu chapter full Cuma buat masa lalu kiming! Ckckck, gila ga tuh?
Berarti masa lalu mereka semua udah clear, ya. Tinggal masalah kedepannya aja.
Daaaannn itu berarti beberapa chapter kedepan kita bakal memasuki puncak konflik, dan jatah untuk scene yang lovey dovey nya bakal berkurang. (atau mungkin malah ga ada?)
Biasa aku bisa bikin adegan lovey dovey yang fluffy gitu. Tapi untuk bikin adegan sedih bisa ga ya? Dapet ga ya feel nya?
Aku takut gadapet nih, malah jadi hambar entar..
Dan, ohiya! Bagi para Kyulkyung stan, maafin aku ya. Bukan maksud hati untuk bikin dia jadi antagonis terus, tapi karena aku memang gatau siapa yang harus kujadiin pengganggu hubungan mereka. Maafkan ya sekali lagiiii..
Yah, pokoknya nantikan terus chap selanjutnya yaaa!
