TITLE :One Night Stand
GENRE :Romance, Drama
RATING :M
CAST :Wonwoo (GS), Mingyu
DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.
SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .
This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))
.
.
.
.
Sudah satu minggu aku tidak pernah bertemu lagi dengan Mingyu, bahkan hanya untuk sekedar menelepon.
Ia bahkan sudah tidak pernah lagi mengirimiku pesan pada siang hari hanya untuk mengingatkan soal makan siang.
Padahal dulu ia selalu melakukannya secara rutin.
Ia juga tidak pernah lagi menjemputku di sore hari di butik dengan alasan banyak pasien.
Dan juga, kemarin saat aku mengajaknya untuk fitting baju pernikahan kami, ia bilang padaku bahwa ia tidak bisa karena harus mengoperasi seorang pasien yang terkena komplikasi.
Dan aku baru sadar, ia jadi berubah sejak saat itu.
Saat ada seorang wanita yang menghampiri kami di restaurant, dan ia tiba-tiba berkata bahwa ia masih mencintai Mingyu.
Sebenarnya siapa wanita itu?
Apakah itu mantan kekasihnya yang pernah Mingyu ceritakan padaku? Mantan kekasih yang sangat ia cintai itu?
FLASHBACK ON
"Aku... masih mencintaimu.." ucap wanita itu.
aku mendengarnya dengan jelas, dan itu tidak mungkin salah.
Apa ia bilang? Mencintai? Siapa? Kim Mingyu?
Dan kulirik Mingyu yang masih terdiam di tempatnya, tidak mengatakan apapun juga berbuat apapun.
Dan tiba-tiba saja tanpa diundang wanita itu mendudukan bokongnya tepat di kursi sebelah Mingyu, lalu menjulurkan tangannya padaku.
"Joo Kyulkyung imnida."
"Jeon Wonwoo." Ucapku singkat sambil menyentuh uluran tangannya.
"ah, aku adalah mantan kekasih Mingyu oppa. Apa aku boleh tahu siapa dirimu?" tanya wanita bernama Kyulkyung itu lagi.
Apa? Lancang sekali ia menanyakan statusku dengan Mingyu? Memangnya wanita ini siapa? Toh, ia hanya mantan kekasihnya.
Hey! Aku adalah calon istrinya! Tidak seharusnya kau bersikap sombong seperti itu!
"aku –"
"ah! Kyulkyung! Ada apa kau kemari?" tanya Mingyu tiba-tiba tanpa sempat aku menjelaskan siapa diriku.
Apakah aku tidak salah?
Sepertinya barusan Mingyu seolah menghalangiku untuk berkata bahwa aku adalah calon istrinya.
Kenapa? Apa ia takut? Apa ia tidak mau ketahuan oleh mantan kekasihnya bahwa ia sebentar lagi akan menikah? Apa ia berencana untuk kembali pada mantan kekasihnya itu?
"hehe.. aku kesini karena aku berencana untuk kembali bekerja di Seoul. Beberapa bulan kemarin ini aku bekerja di Shanghai karena temanku mengajakku. Tapi aku tidak betah, jadi aku segera kembali kesini."
"lagipula... aku baru sadar bahwa aku merindukanmu. Aku masih mencintaimu, Mingyu oppa."
"maafkan aku karena sudah pergi sebelum menjawab pertanyaanmu dulu. Aku menyesal."
Kutatap Mingyu yang masih terdiam tanpa berkata apa-apa. Namun dilihat dari sinar matanya, aku seolah menemukan sesuatu.
Apa ya?
Mungkin sama seperti, kau yang bertemu kembali dengan kakakmu yang baru pulang dari wajib militer, dan kau sangat ingin memeluknya karena terlalu rindu?
Perasaan seperti itu?
Jujur, sesungguhnya aku kesal.
Hey! Memangnya ini acara curhat pribadi kalian?! Aku masih ada disini! Heloooo?! Akhirnya kuputuskan untuk pergi saja dari sini.
Aku berdeham, kemudian bangkit berdiri.
"Mingyu, apakah aku mengganggu kalian? Kalau begitu, aku undur diri dulu." Ucapku dan berjalan begitu saja.
Aku sudah keluar dari dalam restaurant saat mendengar Mingyu berteriak memanggil namaku.
Namun aku tidak peduli lagi, dan ia sudah terlambat.
Karena saat ia sudah keluar dari restaurant dengan nafas terengah-engah, aku sudah masuk kedalam sebuah taxi yang baru saja kupanggil.
Begitu saja, aku meninggalkan dia sore itu. Dan sejak saat itu, semuanya berubah.
.
.
.
.
Sedari tadi tanganku tidak lepas dari ponsel yang akhir-akhir ini tidak pernah berhenti kugenggam.
Wanita itu, Kyulkyung. Ia kembali lagi.
Untuk apa? Dan kenapa?
Disaat aku hampir melupakan semuanya, dan disaat aku hampir berbahagia menjalankan hidupku yang baru dengan calon keluarga baruku, wanita itu kembali lagi dan dengan mudahnya mengobrak-abrik isi hatiku yang sudah selama tujuh bulan ini berhasil kutata ulang.
Dengan mudahnya wanita itu berkata bahwa ia merindukanku.
Dengan entengnya ia bilang bahwa ia masih mencintaiku.
Tuhan, apakah ia tahu berapa banyak minuman keras yang harus kutenggak untuk melupakan sosoknya?
Dan sekarang, dari 100 orang yang wajahnya paling tidak ingin kutemui, ia malah muncul kembali.
Terlebih disaat yang tidak tepat. Saat aku sedang bersama Wonwoo.
Sepertinya Wonwoo kini tahu bahwa Kyulkyung adalah mantan kekasihku, mengingat Kyulkyung sempat mengatakannya pada Wonwoo saat itu.
Ah, aku jadi merasa bersalah pada wanita itu.
Pasalnya bahkan hingga kini aku belum sempat menghubunginya dan mengatakan apapun tentang Kyulkyung.
Namun kenapa wanita itu tidak berusaha meminta penjelasanku?
Apakah ia tidak peduli sama sekali?
Tapi tetap saja, sepertinya yang salah disini adalah aku. Pernah sekali ia menghubungiku untuk mengajakku fitting baju pernikahan kami.
Tapi aku malah menolaknya dengan berbohong kalau aku memiliki pasien saat itu.
Padahal kenyataannya saat itu aku malah bertemu dengan Kyulkyung yang katanya ingin memberitahuku alasan kenapa ia tiba-tiba pergi dulu.
Sungguh, setiap malam aku selalu teringat Wonwoo dan bayi kami, namun aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri.
Bahwa aku sangat, amat senang menemui Kyulkyung kembali di kehidupanku.
Aku seolah melupakan apa saja yang sudah terjadi selama 7 bulan kebelakang ini.
Rasanya seperti aku kembali menjadi Kim Mingyu bodoh yang akan melakukan semuanya hanya demi cinta.
Sungguh, demi Tuhan.
Aku benar-benar bahagia saat ini. terlebih saat mengingat saat Kyulkyung yang menggenggam tanganku saat kami bertemu kemarin.
Aku jadi berpikir untuk kembali padanya.
Mungkinkah itu?
.
.
.
.
Sepuluh hari lagi adalah hari pernikahan kami, namun aku dan Mingyu sama sekali belum mengukur baju pengantin kami.
Hingga akhirnya aku benar-benar harus menekan egoku, lalu kutekan angka-angka nomor telepon Mingyu dengan lancar.
Entah kenapa tanpa kusadari aku sudah menghafal nomor ponsel pria itu diluar kepala.
Dan ia segera mengangkatnya pada deringan kedua.
"yeoboseyo? Mingyu?" ucapku setelah hampir satu minggu lebih tidak berbicara dengannya.
"heum? Wae?" balas Mingyu. Suara pria itu terdengar lemah dan sedikit serak.
Apakah ia sakit?
"Mingyu? Kau kenapa? Apa kau sakit?"
Ia hanya bergumam, namun masih bisa kudengar suaranya yang lirih, berkata bahwa ia baik-baik saja padaku.
"serius, Mingyu! Apa kau sakit?" tanyaku lagi. kali ini sedikit agak memaksa.
"sudah kukatakan padamu, aku baik-baik saja."
"lagipula kenapa meneleponku?" kini ia balik bertanya dengan nada suara sedikit kesal.
Aku seketika terdiam mendengar pertanyaannya. Apakah aku salah karena menghubungi calon suamiku sendiri?
Apakah aku salah karena mengkhawatirkan keadaan calon suamiku sendiri?
"ah, aku.. ingin bertanya padamu, apakah kau memiliki waktu untuk pergi ke butik? Kita harus segera mengukur baju pernikahan kita..." ucapku dengan pelan.
Tiba-tiba aku jadi ragu untuk mengatakannya pada pria ini.
Aku takut ia marah lagi tanpa sebab.
Ia tidak kunjung menjawab, namun malah terdengar helaan nafas yang cukup kencang.
"haaaaaaaah..."
"sepertinya aku tidak bisa."
"Selain aku sibuk, kau benar. Aku sedang tidak enak badan. Sepertinya aku demam." Ucapnya dengan suara yang benar-benar lemah.
Membuatku jadi maklum jika ia sedikit kesal. Mungkin ia sedang sangat lelah.
"ah.. baiklah kalau begitu. Semoga kau cepat sembuh.." ucapku lagi.
"ya.. sudah ya, kututup teleponnya."
"TUT"
Ia menyudahi panggilan kami begitu saja, membuatku semakin khawatir.
Ia tinggal sendirian di apartemen. Apakah ia bisa mengurus dirinya dengan baik?
Apa ia makan dengan teratur? Apakah ia punya obat penurun demam?
Akhirnya aku bertekad untuk menyelesaikan pekerjaanku hari ini dengan cepat, dan berencana untuk menemui Mingyu di apartemennya.
Dan syukurlah pekerjaanku bisa selesai dengan lancar dan cepat, tentu saja karena dibantu oleh Seungkwan, sehingga aku bisa segera pergi menuju apotek dan apartemen Mingyu untuk mengecek keadaan pria itu.
Sesampainya disana, kulihat lampu depan apartemen Mingyu yang menyala, menandakan bahwa pria itu ada di tempatnya, membuatku tersenyum sumringah.
Selama menginap beberapa kali membuatku mengetahui password apartemen Mingyu.
Itu adalah tanggal lahirnya. Sehingga aku segera menekan tombol tersebut, dan masuk ke apartemen Mingyu begitu saja.
Kulihat ruang tamu Mingyu yang kosong, tidak ada siapapun disana, di dapur pun pria itu tak ada, membuatku yakin bahwa pria itu kini tengah berada di kamarnya.
Sehingga kubawa diriku masuk kedalam kamarnya.
Dan jantungku seolah berhenti berdetak saat melihat Mingyu, pria itu, tengah merebahkan dirinya diatas ranjang dengan seorang wanita yang tidak asing juga turut berbaring disampingnya, dengan tangan Mingyu sebagai bantalan kepala wanita tersebut.
"BRUK."
Tanganku lemas. Bahkan hanya untuk sekedar menggenggam kantung obat yang kubawa pun rasanya tak sanggup, membuat mereka berdua menolehkan kepala mereka dan menatapku dengan raut kaget.
"Won-Wonwoo ya.." ucap Mingyu terbata-bata. Ia segera menarik tangannya dan beranjak bangun, menghampiri diriku.
"i-ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan.. kami tidak melakukan apa-apa." Ucapnya membela diri.
Seiring dengan langkah Mingyu yang terus maju kedepan, aku juga turut melangkahkan diriku mundur kebelakang, seolah menjauhi dirinya.
Ia hampir saja menyentuh bahuku, namun segera kuhempaskan tangannya dari sana.
Seketika aku merasa jijik.
Jijik dengan apa yang baru saja kulihat.
Jijik dengan Mingyu yang terus berusaha menggapai tangannya meraih tubuhku.
Jijik pada perasaan khawatir yang sempat kurasakan mengingat kondisinya yang tengah sakit.
Jijik pada perempuan jalang yang berdiri di belakang Mingyu dengan raut wajah seolah puas.
Jijik pada kenyataan bahwa kami sebentar lagi akan menikah.
Dan jijik saat mengingat bahwa aku tengah mengandung anak pria ini.
"Wonwoo-ya.." ucapnya terus berjalan mendekat, membuatku benar-benar marah dan berteriak.
"STOP! JANGAN DEKATI AKU!"
Membuat ia seketika menghentikan langkahnya.
Sungguh, rasanya mataku sudah sangat berat dan berair. Aku tidak kuat lagi. aku ingin menangis.
Namun tidak!
Aku adalah Jeon Wonwoo! Aku tidak boleh menangis! Terlebih didepan kedua makhluk menjijikan ini!
"Mingyu.." panggilku pelan, membuat pria itu seketika menatapku dengan tatapan matanya yang terlihat sayu.
Sepertinya ia memang benar-benar sakit.
Tapi aku tidak peduli lagi.
Pengkhianatannya sudah terlalu parah.
"kamu pria bajingan." Ucapku lagi, membuat ia menganga mendengar ucapanku itu.
Aku menghela nafas, kemudian sedikit menyeka ujung mataku yang basah karena air mata yang tak kuasa kutahan.
"Wonwoo! Kumohon dengarkan penjelasanku! Ini semua salah paham! Ini tidak seperti kelihatannya!" Mingyu berusaha menjelaskan keadaannya, namun aku tidak peduli lagi.
Ia juga kembali berjalan mendekatiku, membuatku berteriak lagi.
"KUBILANG BERHENTI DISANA! JANGAN DEKATI AKU, BRENGSEK!"
Membuat ia kembali terdiam di tempatnya.
"salah paham? tidak sepertinya kelihatannya? Memang kau pikir bagaimana kau terlihat barusan? Kalian jelas-jelas terlihat seperti dua orang yang baru saja berbuat zinah!"
"Wonwoo.."
"BERHENTI MEMANGGIL NAMAKU DENGAN MULUTMU YANG KOTOR ITU!"
"kau juga berbohong padaku. Kau bilang apa dulu? Ingin menunjukan bahwa pria-pria itu bodoh karena sudah meninggalkanku? Hah! Yang kau lakukan adalah menunjukan padaku bahwa aku adalah orang tolol karena sempat percaya pada ucapanmu!"
"Wonwoo-ya.." Mingyu masih saja terus menatap mataku, membuatku semakin marah padanya.
"jika saja aku bisa melaporkanmu atas tindakan kekerasan yang kau lakukan dulu pada Junhui.."
"hmph! Apa bedanya kau dengan Junhui? Kau bahkan lebih parah! Definisi bajingan yang sesungguhnya!"
"yah, tapi... selamat, Kim Mingyu. Atas keberhasilanmu."
Kulirik Kyulkyung yang masih berdiri diambang pintu kamar Mingyu.
"Kyulkyung-ssi." Panggilku, membuat ia tiba-tiba tergagap.
"n-ne?!"
"selamat karena sudah berhasil menjadi seorang wanita jalang perusak hubungan orang."
"selamat kuucapkan karena telah berhasil membuat seorang anak tidak berdosa jadi tidak bisa bertemu dengan ayahnya."
"Wonwoo!" Pekik Mingyu ketika aku mengatakan hal tersebut.
Aku tersenyum kali ini menatap Mingyu.
Sungguh, aku benar-benar memberikan senyum terbaikku yang bahkan sepertinya belum pernah kutunjukkan padanya.
"selamat, Kim Mingyu. Karena sudah berhasil terbebas dari belengguku."
"pernikahannya... kita batalkan saja."
Ucapku final, kemudian segera melangkah cepat meninggalkan tempat tersebut, tanpa memperdulikan teriakan-teriakan Mingyu yang masih memanggil namaku.
.
.
.
.
Kepalaku sungguh berdenyut kencang saat ini.
Hari ini aku izin tidak ke Rumah Sakit karena memang kondisi tubuhku yang sedang tidak fit. Padahal aku tidak pernah mengundang Kyulkyung untuk datang ke apartemenku, namun wanita ini tiba-tiba sudah berada disini.
Bagaimana caranya ia bisa masuk?
Sepertinya itulah yang harus kusesali.
Selama bertahun-tahun, bahkan sejak aku masih berpacaran dengannya, aku tidak pernah mengganti password-ku. Baik itu ponsel, kartu debit, serta yang lainnya. Semua kombinasi angkanya sama. yaitu tanggal lahirku.
Dan karena itulah ia jadi bisa memasuki apartemenku bahkan tanpa kuundang.
Tepat setelah Wonwoo meneleponku pada siang harinya.
Ia membawa seporsi bubur yang ia beli, membuatku sesungguhnya saat itu merasa bersyukur. Aku sedang tidak kuat jika harus memasak sendiri. Dan setelah memakan bubur dan meminum obat, aku langsung jatuh tertidur.
Dan setelah hampir dua jam tertidur, aku akhirnya terbangun.
Dan menemukan Kyulkyung yang juga sedang berbaring disampingku dengan menggunakan tanganku sebagai bantalnya.
Lalu kejadian selanjutnya kalian tahu. Wonwoo datang, dan yah...
Bencana itu terjadi.
Sumpah, demi apapun. Aku tidak mengira ini akan terjadi.
Aku juga tidak pernah berkeinginan agar hal seperti ini terjadi.
Mungkin beberapa saat yang lalu aku sempat berpikir untuk kembali pada Kyulkyung.
Namun sekarang, saat keinginanku sudah dikabulkan oleh Tuhan, kenapa rasanya jadi seperti ini?
Aku tidak mau. Lebih tepatnya tidak rela.
Dadaku mencelos, jantungku seperti diremat saat ia bilang bahwa ia akan membatalkan pernikahan kami.
Aku tidak apa jika ia menghinaku terus-terusan.
Aku tidak masalah jika ia menyebutku bajingan, brengsek, penipu, atau apapun itu.
Tapi jangan yang satu itu.
Jangan tinggalkan aku dan pergi begitu saja.
Saat itu aku bersumpah bahwa aku akan menunjukkan padanya bahwa ia adalah wanita yang berharga.
Ia memang berharga. Tapi kenapa jadi seperti ini?
Ucapanku, tidak ada satupun yang bisa kutepati.
Aku bahkan hanya bisa menambah luka di hatinya akibat hal ini.
Dan apa ia bilang barusan?
Aku tidak akan bisa bertemu dengan anakku?
Aaarggghhh! Ini semua bisa membuatku gila!
Tiba-tiba saja kurasakan punggungku yang dielus pelan. Kualihkan kepalaku, dan mendapati Kyulkyung yang tengah melakukannya.
"sudahlah... semuanya akan baik-baik saja.." ucapnya enteng, membuatku tiba-tiba naik darah.
"baik-baik saja?!"
"baik-baik saja, katamu?!" teriakku tepat didepan wajahnya.
"seharusnya kau sadar! Ini semua salahmu! Salahmu dan tingkah semaumu itu!" ucapku kasar.
"andai saja kau tidak perlu datang dan tidur disampingku, ini semua tidak akan terjadi! Wonwoo tidak akan pergi! Calon istriku tidak akan pergi! Anakku... tidak akan pergi..."
Sungguh, aku lemas setelah berteriak. Terlebih karena memang kondisi tubuhku yang belum sembuh benar.
Kepalaku kini kembali berputar, dan aku butuh penyanggah agar aku tidak jatuh.
Aku segera berpegangan erat pada tembok, membuat Kyulkyung memekik kencang.
"Mingyu!" dan menggenggam erat lenganku.
Namun aku segera menghempaskan tangannya, kemudian berdecak.
"Kyulkyung. Sudah cukup sandiwaranya." Ucapku tegas, meskipun aku masih memijat pelipisku yang terasa sakit.
"a-apa maksudmu?"
"aku sudah tahu semuanya. Semuanya, dari awal sampai akhir."
"apa maksudmu?! Aku tidak mengerti! Katakan dengan jelas!" teriak Kyulkyung dengan wajah memerah, membuatku melotot padanya karena kesal.
"kubilang aku sudah tahu! Bahwa dari dulu kau hanya memanfaatkanku, brengsek!"
FLASHBACK ON
"Mingyu, ada hal yang tidak bisa disampaikan pada orang lain. Orang tersebut harus melihat dengan mata kepalanya sendiri. Namun melihatmu yang begitu terbutakan oleh cinta, kami bisa apa?" ucap Seokmin padaku saat Chan berkunjung ke ruanganku beberapa saat yang lalu.
"lagipula, apakah itu penting sekarang? Sebentar lagi kau akan menikah. Dan sudah seharusnya kau melupakan wanita tersebut."
Aku hanya terdiam, masih memikirkan ucapan mereka.
Namun tiba-tiba Chan mendengus, kemudian ia berkata,
"aku tidak begitu setuju padamu, Seokmin Hyung. Terkadang ada beberapa orang yang begitu buta sehingga tidak bisa melihat kenyataan dengan mata kepalanya sendiri."
"orang itu, harus dibantu untuk melihat. Karena itulah..."
Chan tiba-tiba mengeluarkan ponselnya, dan mengotak-atik sesuatu, hingga terdengar sebuah suara percakapan.
Dan aku merasa kaget saat mendengar isi dari percakapan tersebut, karena aku mengenal suara yang tengah berbicara di rekaman itu.
"kyung, bagaimana? Apa kau mau ikut malam ini?" tanya seorang perempuan yang tidak kukenali suaranya.
"memang berapa bayarannya?" namun kali ini aku tahu jelas milik siapa suara ini.
Ya, ini adalah suara Kyulkyung.
"yang pasti mahal, karena ia bukan tamu sembarangan. Kau tahu? Ia bahkan baru saja membelikan istri keduanya sebuah gedung di Gangnam. Waah.. kantungnya pasti tebal!"
"hmmm.. baiklah! Aku ikut!"
"eits, tapi bagaimana dengan Mingyu? Bukankah biasanya ia akan mengajakmu kencan jika malam minggu seperti ini?"
"hahaha! Itu mudah! Aku tinggal mengatakan padanya kalau aku ada part time job saat ini. lagipula aku tidak berbohong! Ini memang part time job, kan?"
"hahaha! Dasar kau, wanita jalang.. ohiya, apa kau masih punya pil kontrasepsi? Milikku habis dan aku belum sempat membelinya."
"eyy.. dasar.. memangnya kenapa kau tidak memakai kondom saja?"
Sungguh, hatiku terasa dicubit saat mendengar mereka tengah membicarakan hal tersebut.
Aku bukan orang tolol. Hanya dengan mendengarkan percakapan seperti ini, aku mengerti apa yang akan mereka lakukan dengan 'Part Time Job' tersebut.
"ya! Kau seperti tidak mengerti saja! Para pria itu bahkan tidak mau mengeluarkan sperma mereka diluar! Apalagi jika harus membungkus penis mereka sendiri dengan karet silikon? Bisa-bisa mereka tidak jadi membayar kita!"
"yah.. kau benar. Karena itulah, aku selalu menyediakan pil kontrasepsi didalam dompetku. Untuk jaga-jaga."
"benarkah? Apa Mingyu mengetahuinya?"
"ia pernah sekali menemukan pil ini didalam dompetku, tapi aku bilang bahwa ini adalah vitamin, karena aku sedang kurang darah. Dan ia percaya begitu saja.."
"Kyung, apa aku boleh bertanya?"
"wae?"
"apa kau benar-benar mencintai Mingyu?"
"memangnya kenapa? Aku mencintainya atau tidak, itu tidak penting. Yang terpenting adalah ia mencintaiku, dan mau mengeluarkan dompetnya dengan mudah jika sedang bersama denganku. terlebih wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang seksi. Aku benar-benar dapat jackpot!"
"lalu kalau begitu kenapa kau masih mau mengerjakan pekerjaan haram ini?"
"karena... terkadang aku bosan pada Mingyu, dan membutuhkan pelampiasan? Ya, kau tahu? Mingyu sama sekali belum pernah menyentuhku, padahal aku sudah sering menggodanya! Ia kira aku adalah gadis perawan baik-baik, yang ingin menjaga keperawanannya! Haha! Ia tidak tahu saja!"
"ckckc, Kyulkyung.. aku tidak habis pikir dengan caramu berpikir.. yah, semoga kau tidak kena karma nantinya.."
"TUT"
Kami semua terdiam setelah mendengar rekaman tersebut.
Tanganku bahkan sedikit bergetar. Jadi begitukah kenyataannya selama ini?
Aku sama sekali tidak habis pikir. Wanita ini bisa membodohiku dengan mudah.
"darimana kau dapatkan ini?" tanya Seokmin pada Chan.
Chan terlihat melirikku, dan menimang-nimang jawabannya.
"Setelah aku pergi ke London, aku mengganti seluruh nomor ponselku agar lebih efisien ternyata ada seseorang yang mengirimkan pesan rekaman ini pada nomorku yang lama, membuatku baru bisa membukanya dua minggu yang lalu, saat aku bersiap untuk pulang ke Korea."
"namun sepertinya ini adalah rekaman lama, mengingat kau yang masih suka mengajak wanita itu kencan."
"siapa yang mengirimkannya padamu?" tanyaku pada akhirnya.
Aku penasaran siapa orang yang mengirimkan rekaman tersebut pada Chan, dan bukan padaku?
Jika ia memiliki dendam pada Kyulkyung, mengirimkan rekaman itu padaku akan membuat balas dendamnya jadi lebih mudah tercapai, bukan?
"maaf hyung, namun ini diberikan oleh seorang temanku yang juga mengetahui bahwa aku tidak menyukai Kyulkyung. Temanku memiliki teman yang bernasib sama sepertimu. Ia dimanfaatkan. Lalu mereka bertekad untuk membalas dendam pada wanita itu, dengan cara mengirimkan rekaman ini padaku. Mereka berharap agar aku segera memberikannya padamu, namun mereka tidak tahu kalau ternyata aku sudah pergi ke London saat itu."
Kami semua terdiam lagi. aku masih berusaha memastikan diriku bahwa ini bukanlah mimpi.
"lalu kenapa sekarang kau berikan rekaman itu padaku?"
Chan hanya tersenyum, kemudian menghela nafasnya panjang.
"aku memang tidak mengenal calon istrimu kelak. Namun sepertinya aku lebih baik berada di pihaknya daripada wanita jalang itu."
"apa maksudmu?"
"kau kelihatannya masih mengharapkan Kyulkyung, Hyung. Aku berani bersumpah, jika saja wanita itu kembali ke kehidupanmu, maka bisa dipastikan sepertinya kau akan kembali padanya. Maka dari itulah, meskipun sudah terlambat, aku lebih baik memberi tahu hal ini padamu, daripada tidak sama sekali. Agar kau tidak salah jalan."
"berhati-hatilah, hyung. Ia wanita yang licik."
FLASHBACK OFF.
"aku sudah tahu semuanya sekarang.." ucapku pelan. Kami masih berada pada posisi yang sama sejak tadi.
"Kyulkyung, aku memaafkanmu atas semua yang sudah kau lakukan padaku. Namun cukup sampai disini. Kelakuanmu hari ini sudah membuat keluargaku terpecah belah, dan apa itu masih belum cukup?"
Aku menatap matanya yang sudah memerah dan berair. Ia terus saja menundukkan kepalanya, tidak berani menatapku.
"Mingyu oppa.."
"sudah cukup. Kau pergilah. Dan jangan pernah muncul lagi dalam kehidupanku. Untuk selama-lamanya. Karena jika kau masih bersikeras untuk berada disini, maka aku yang akan menghancurkan hidupmu."
"hingga kau bahkan harus merangkak untuk bisa hidup.."
"CEPAT PERGI!" teriakku padanya, membuat ia segera menyambar tasnya yang berada di ruang tamu dan segera lari terbirit-birit.
Aku segera mengusap wajahku yang dipenuhi peluh.
Tuhan, kenapa jadi seperti ini?
Wonwoo... bagaimana dengan nasib wanita itu?
TBC
Haii semuahhh
Akhirnya aku balik bawain chapter lanjutan dari ff absurd ini. semoga kalian suka yah!
Tadinya aku bingung, siapa yang mau dibikin dua-duanya aja deh!
Hehehe
Jujur, aku sendiri sebagai penulis cerita ini gedhek banget ama kiming.
Ada gitu ya, cowo setolol itu di dunia ini?
Yah, semoga di real life gaada ya. Amin.
Maaf ya ming, tapi ini tuntutan peran. Maafin aku karena udah nistain kamu : ((
Wonu sayang jugaa.. maafin aku yahh.. adu kamu kasian banget deh. Kuy kita cari cowo lain aja yang lebih mantep dari om kiming. Yang lebih kaya, lebih ganteng, lebih seksoy pastinya.
Sama om siwon mau ga? Baru pulang tuh dia dari wamil. Kayaknya enag. Hehe.
Laluuu.. dengan updatenya chapter ini, berarti ff ini sudah menuju tamat yah. Meskipun masih belom kok, tenang aja. Masih ada beberapa chapter kedepan.
DAH AH UNEK UNEKNYA SAMPE SINI AJA.
Don't forget to review, as always. Because my writing mood is depend on you guys' review.
And have a nice weekend!
See you next chapter!
