TITLE :One Night Stand

GENRE :Romance, Drama

RATING :M

CAST :Wonwoo (GS), Mingyu

DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.

SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .

This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))

.

.

.

.

Aku pulang ke apartemen dengan rasa sesak di dada.

Segera kulempar tasku ke sembarang arah, lalu kujatuhkan tubuhku diatas kasur.

Sedari tadi, sepanjang perjalanan aku terus menahan tangis.

Tidak, aku bahkan sudah menahannya sejak masih berada di apartemen pria brengsek itu.

Tubuhku yang kini menelungkup, membuat dadaku semakin terasa berat.

Namun aku tidak peduli lagi, yang kuinginkan sekarang hanyalah menangis, menyesali semuanya, mengeluarkan seluruh rasa kesal, marah, dan sedih yang sedari tadi menggumpal didalam hati.

Air mataku benar-benar turun membasahi bantal yang kugunakan untuk menutupi wajah.

Aku tahu, tidak seharusnya aku menangis seperti ini. bagaimanapun, yang salah disini adalah Mingyu. Seharusnya dia lah yang merasakan penyesalan, dan bukan aku.

Tapi kenapa? Hatiku seolah tidak bisa diajak berkompromi. Aku benar-benar marah. Aku sangat sedih.

Ketika mengingat saat Mingyu yang tengah berbaring berdua bersama mantan kekasihnya diatas ranjang apartemennya membuatku muak.

Ini adalah pertama kalinya aku menangis tersedu-sedu seperti ini hanya karena seorang pria.

Dulu bahkan saat Junhui menduakan akupun, aku tidak seperti ini. aku masih bisa bersikap tegar dan dewasa.

Tapi sekarang? Kenapa gara-gara pria jahat itu, aku malah membuang tenagaku sendiri?

Sungguh, aku tidak mau lagi merasakannya. Biarlah ini adalah tangisan pertama dan terakhirku untuk seorang lelaki.

Karena kelak di masa depan, aku bertekad. Tidak akan ada lagi Jeon Wonwoo yang menguraikan air mata hanya karena seorang lelaki.

Setelah hampir menangis selama dua jam, aku merasa lelah.

Meskipun belum beranjak dari tempat tidur, tapi setidaknya aku sudah tidak menangis.

Aku masih terdiam memperhatikan langit sore yang mulai berwarna jingga kebiruan. Alangkah indahnya pemandangan sore ini, pikirku.

Sempat terbersit di pikiranku untuk pergi.

Jauh dari tempat ini.

Jauh dari Seoul.

Jauh dari Korea.

Jauh dari Kim Mingyu.

Tapi kemana? Seluruh hidupku, keluargaku, teman-temanku. Semuanya berada disini.

Apakah hanya karena kesalahan satu orang pria bajingan, aku harus membuang hidupku yang begitu berharga? Tidak, terima kasih.

Aku kemudian memutuskan untuk mandi, untuk menyegarkan pikiranku kembali.

Tidak sampai setengah jam kemudian, aku sudah selesai mandi. Aku baru saja akan kembali tidur, namun kemudian kudengar pintu depan apartemenku di ketuk dengan kencang.

"TOK TOK TOK"

Aku beranjak kedepan, namun masih belum mau membuka pintunya.

Aku takut kalau Mingyu yang datang.

Namun itu bisa saja eomma, bukan?

Kuputuskan untuk tetap mendiamkan orang yang berada disana, meskipun ia terus mengetuk dengan tidak sabar.

"TOK TOK TOK"

"Wonwoo! Jeon Wonwo! Kumohon buka pintunya!"

"Wonwoo! Aku tahu kau ada didalam! Wonwoo! Kumohon biarkan aku menjelaskan semuanya padamu!"

Ternyata dugaanku benar. Itu Kim sialan Mingyu.

Aku terus berdiri didepan pintu. Tanpa ada niatan untuk membukanya. Maupun menggubris teriakannya.

"Wonwoo! Aku tahu kau mendengarku! Aku tahu kau ada didalam! Kumohon berikan aku kesempatan untuk menjelaskan!"

Teriak Mingyu lagi masih dengan ketukan di pintu apartemenku.

Aku melipat dadaku, mendengus kencang pada kelakuannya ini.

Huh! Setelah apa yang ia lakukan padaku, beraninya ia menampakan wajahnya di hadapanku?!

Lihat saja, aku tidak akan membuka pintu itu!

Mari kita buktikan, seberapa kuat kesungguhanmu untuk mendapatkan permintaan maaf dariku.

"Wonwoo! Kumohon! Jangan seperti ini! aku mengaku salah! Ya, kau benar. Aku jahat. Aku tidak pantas dimaafkan. Tapi kumohon berikan aku satu kesempatan terakhir untuk menjelaskan!"

"Wonwoo!"

Tidak lama kemudian ponselku berbunyi. Sialnya aku meletakkan ponselku yang masih terdapat didalam tas di ruang tamu. Dan setelah kulihat, ternyata itu Mingyu yang mencoba untuk menghubungiku.

"Wonwoo! Aku mendengar suara ponselmu! Aku tahu kau ada didalam! Kumohon buka pintunya!"

Teriak Mingyu lagi.

Aku tidak peduli. Bahkan jika ia terus menggedor pintu apartemenku hingga rusak, biarkan saja.

Aku juga tidak peduli lagi pada teriakannya yang mungkin akan mengganggu tetangga sebelah.

Aku bahkan berharap salah satu tetanggaku keluar dari rumah mereka, lalu berteriak memarahi Mingyu karena sudah berbuat onar di kediaman orang lain.

Aku terlalu marah untuk bisa memaafkan Mingyu semudah ini.

Hatiku masih dipenuhi oleh rasa kesal dan marah.

Aku juga masih sedih mengingat perlakuannya beberapa hari kebelakang ini terhadapku.

Aku tahu semua orang bisa khilaf dan berbuat salah, namun apa yang ia lakukan sudah sedikit keterlaluan menurutku.

Ia menjilat ludahnya sendiri yang berkata bahwa ia akan menikahiku dan membuatku bahagia.

Dan bodohnya aku sempat percaya pada ucapan berbisanya itu.

Apakah aku tidak memiliki hak untuk merasa sakit hati dan ingin menghukumnya?

Aku bahkan ingin melakukan hal yang lebih dari pada ini.

Aku ingin menemuinya, lalu menampar wajahnya, menendang selangkangannya, hingga wajahnya memutih kesakitan.

Namun itu semua belum cukup.

Aku akui, aku tipe wanita penyimpan kekesalan yang cukup mengerikan.

Atas semua pengkhianatan yang ia lakukan, rasanya semua keinginan jahatku padanya bahkan rasanya belum cukup.

Tidak pernah sekalipun aku punya pemikiran untuk kembali pada pria manapun yang pernah menjadi bagian masa laluku.

Karena aku ingat. Aku tahu. Sekarang aku sudah memiliki Mingyu di sisiku.

Tapi kenapa ia malah membalas semua perlakuanku dengan cara seperti ini?

Aku akhirnya memilih untuk tetap mendiamkannya, dan pergi ke kamar tanpa sedikitpun niat untuk menggubris pria itu.

Sepuluh menit, ketukan pintu apartemenku masih terdengar.

Dua puluh menit, ketukannya sudah melemah. Ia juga sudah tidak berteriak lagi.

Lima menit kemudian, suaranya sudah benar-benar menghilang.

Lagi-lagi aku mendengus kencang.

Ternyata hanya segitu niatnya untuk meminta maaf padaku?

Aku sedikit bersyukur tadi aku tidak membuka pintu untuknya.

Namun sepuluh menit setelah ketenangan kudapatkan, pintu apartemenku kembali diketuk secara brutal.

"TOK TOK TOK TOK TOK"

Apa? Ternyata ia belum pergi dari sana?

"Wonwoo! Kumohon jangan seperti ini! aku berjanji akan mengikuti semua ucapanmu! Aku akan menuruti keinginanmu! Hanya saja berikan aku satu kesempatan terakhir untuk menjelaskan semuanya padamu!"

"aku bersumpah! Demi apapun, ini semua hanya kesalah pahaman! Wonwoo!"

"Wonwoo! Buka pintunya!"

"Wonwoo! buka pintunya atau aku benar-benar akan mendobrak pintu sialan ini!"

Mingyu mulai menendang pintuku secara kasar, membuatku sedikit panik.

Hey! Apa yang ia lakukan?!

Segera saja kusambar ponselku, lalu menekan deretan angka yang sialnya sudah kuhafal entah sejak kapan – nomor telepon Mingyu.

Tidak sampai dering pertama, Mingyu segera mengangkat telepon dariku.

.

.

.

.

Tadinya aku ingin mengumpat, mendengar ponselku yang berbunyi. Namun setelah melihat id caller sang penelepon, batinku segera menghela nafas lega.

Itu adalah Wonwoo.

Kenapa ia malah memilih untuk meneleponku, dan tidak membuka pintu sialan ini saja?

Setelah aku mengetuk pintu dan berteriak layaknya orang gila didepan pintu apartemennya selama 35 menit, ia baru mau menggubrisku.

Itupun lewat ponsel.

Meskipun kurang puas, namun itu merupakan suatu hal yang harus disyukuri, hingga aku segera mengangkat panggilan Wonwoo setelah dering pertama.

"yeob – "

"kita langsung saja." Aku baru saja ingin mengucapka sepatah kata, namun ia segera menginterupsinya dengan kasar.

Bisa kudengar suara Wonwoo yang sedikit parau dan serak, tidak seperti biasanya.

Apakah ia habis menangis?

Oh shit, ini semua salahku, karena sudah membuatnya menangis.

Sungguh, rasa penyesalanku bahkan semakin menjadi-jadi.

Aku bersumpah, jika saja terjadi sesuatu pada Wonwoo dan bayi kami, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.

"Wonwoo-ya.." panggilku lirih.

"Mingyu. Aku sudah tahu semuanya. Mulai dari kau yang berbohong padaku, sampai saat ini. kau yang lebih memilih mantan kekasihmu."

Deg. Apa maksudnya?

"apa maksudmu? Aku tidak menger – "

"diam! Biarkan aku yang bicara! Aku tahu minggu lalu, saat aku mengajakmu untuk fitting gaun pernikahan kita, kau berbohong padaku. Kau bilang kau sibuk. Tapi sebenarnya kau malah jalan berdua dengan wanita jalang itu, kan?"

Shit! Darimana ia bisa tahu hal ini?!

"lalu tadi siang, saat aku meneleponmu dan menanyakan kabarmu. Kau bilang kau tidak apa-apa. Tapi saat aku mengajakmu untuk pergi, kau kemudian baru mengakui bahwa kau sedang sakit dan tidak ingin diganggu."

"tapi aku memang sakit! Kau bisa keluar saat ini, dan mengecek suhu tubuhku jika tidak percaya." Ucapku penuh frustasi berusaha meyakinkan Wonwoo.

"tidak perlu. Toh aku sudah tidak peduli lagi. tapi apa kau tahu? Hal yang membuatku sedih itu adalah tingkahmu. Beberapa kali aku meneleponmu sejak kemarin, aku selalu mendapati nada bicaramu yang terdengar kesal padaku."

"tidak terkecuali tadi siang. Aku menanyakan kabarmu, dan kau menjawabnya dengan ketus, bahwa kau bisa mengurus dirimu sendiri. Tapi apa? Kenyataannya kau malah berduaan dengan wanita itu. Mengingat posisiku sebagai calon istrimu, bisakah kau mengatakannya padaku saja jika kau memang sedang sakit dan ingin bermanja?"

Kumohon, jangan katakan seperti itu. Kau membuatku terdengar buruk, meskipun memang itu kenyataannya.

"menilik kebelakang, bagaimana kau lebih memilih untuk diurus oleh wanita itu daripada aku yang calon istrimu, membuatku bisa menyimpulkan, Mingyu."

"kau masih mencintai mantan kekasihmu itu, dan lebih memilih dia daripada aku."

Tidak! Kumohon jangan bicara seperti itu! Kau sangat berharga bagiku! Kau, dan anak kita adalah prioritas hidupku sekarang!

"tidak, Wonwoo.. kau salah, aku – "

"aku belum selesai bicara. Mingyu, aku tidak menyalahkanmu atas semua hal yang kau lakukan. Cinta adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan, dan aku mengerti itu. Aku bisa mengerti dengan jelas bahwa kau masih mencintai wanita itu."

"hanya saja.. Mingyu, kau sudah menghancurkan hatiku. Diriku. Masa depanku. Dan juga kepercayaanku padamu."

Tidak! Demi Tuhan! Jangan yang itu! Kumohon jangan pergi dariku! Aku tahu aku egois, tapi aku benar-benar tidak ingin kau pergi dari sisiku.

"kau benar-benar sudah kehilangan semuanya, dan tidak ada jalan lagi untuk kembali. Mingyu, aku ingin hubungan kita benar-benar berakhir."

Sungguh, hatiku terasa seperti ditusuk ribuan jarum.

Wonwoo mengatakannya sedemikian rupa, membuat hatiku terasa sangat sakit.

Aku bahkan kini berpikir jika aku berdiri di posisinya. Bagaimana jika itu aku?

Aku sudah pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang Wonwoo lakukan saat ini.

"toh, pada dasarnya hubungan kita hanya dialasi oleh rasa tanggung jawabmu atas bayi ini, kan? Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengurus anak ini dengan baik dan penuh cinta kasih. Meskipun aku tidak bisa berjanji bahwa kau akan bisa melihat anak ini tumbuh besar, namun aku bersumpah akan mengurusnya sebaik yang aku bisa."

"Mingyu, ini adalah yang terakhir kalinya kita bicara. Aku benar-benar menginginkan hubungan kita agar berakhir. Dan kumohon, jangan pernah muncul lagi didalam hidupku maupun keluargaku. Baik sekarang atau dimasa depan. Selamat tinggal."

"Wonwoo! Aku belum bicara! Biarkan aku menjelaskan semuanya padamu – "

"TUT"

Panggilan tersebut disudahi begitu saja oleh Wonwoo tanpa sempat aku mengucapkan satu patah katapun.

Aku bahkan belum sempat bilang padanya bahwa aku menyesal. Benar-benar menyesal.

Aku belum sempat bilang bahwa ini semua hanyalah kesalah pahaman.

Ia benar-benar memutuskan semuanya sendiri.

Dan, apa itu tadi katanya? Ia bilang ia akan mengurus anak itu seorang diri?

Hmph! Aku bersumpah, tidak akan membiarkan itu terjadi!

Aku bertekad bahwa aku akan melihat anak itu dilahirkan dengan selamat, menyaksikan nya berjalan untuk yang pertama kali, memanggilku 'appa', mengantarkannya pada hari pertama sekolah, dan terus menemaninya bahkan hingga ia harus meninggalkan keluarga karena ia ingin membentuk keluarganya sendiri.

Meskipun aku tahu Wonwoo tidak akan membiarkanku dengan mudah, mengingat betapa keras kepalanya ia, namun aku tidak peduli.

Aku akan terus berusaha mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku.

Wonwoo dan anak kami, mereka adalah keluargaku.

Hanya aku yang boleh menjadi suami dari seorang Jeon Wonwoo.

Dan hanya aku yang boleh dipanggil 'appa' oleh anak yang sedang Wonwoo kandung.

Meskipun aku tahu perjalanan ini akan sulit dan memerlukan banyak tenaga dan waktu, namun aku tidak peduli.

Aku benar-benar tidak akan melepaskan mereka.

Jika Wonwoo mempunyai keinginan untuk kabur dan pergi dariku, maka silahkan.

Aku tidak akan melarangnya.

Karena aku akan segera mengikutinya kemanapun dia berada.

Hingga dia tidak memiliki tempat untuk pergi kemanapun lagi tanpa aku disisinya.

Kepalaku semakin berdenyut kencang akibat teriakan-teriakan yang kulakukan barusan.

Kemudian aku memutuskan untuk pulang dan kembali beristirahat, setelah aku mengirimkan sebuah pesan berisi permintaan maaf menuju ponsel Wonwoo.

Meski aku tahu, itu semua tidak akan berarti apapun baginya.

TBC

Annyeongggg

Sesuai perkiraanku, semua warga marah-marah akibat baca chapter kemarin, wkwkwkwk

Sepertinya chapter ini rada sedikit jika dibandingin sama beberapa chapter sebelumnya ya. Soalnya chap ini kubagi dua.

Tadinya mau kujadiin satu, tapi totalnya nyaris 6k, daripada kalian mumet liatnya, dan malah jadi males duluan, jadi lebih baik ini kubagi dua chap.

Kupotong di bagian yang ga bikin terlalu tegang kok. Hehehe

Chap selanjutnya juga bakal ku post ga terlalu lama setelah chap ini update. Maksimal banget enam hari kemudian lah. Hehe. Sabar ya gaez.

Maaf juga ya kalo ini ga sesuai ama ekspektasi. Banyak yang mau si kiming dikasi pelajaran dulu sebelum wonu maafin dia lagi. aku juga maunya gitu, tapi aku teh orangnya suka ga tegaan gitu kalo harus misahin dua sejoli dimabuk asmara :((

Ohiya, dan juga, selamat hari raya idul adha bagi yang merayakan!

Jangan lupa fav, foll, dan review. Sungguh kalian penyemangat ku untuk melanjutkan ff absurd nan gajelas ini.

Ciao bella!