TITLE :One Night Stand

GENRE :Romance, Drama

RATING :M

CAST :Wonwoo (GS), Mingyu

DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.

SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .

This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))

.

.

.

.

Pagi tadi aku bangun dengan perasaan tidak enak yang benar-benar menyebalkan.

Morning sickness yang biasa kualami entah mengapa hari ini menjadi sangat parah. Untuk sekedar menyikat gigiku saja rasanya aku tidak mampu karena mual.

Sesungguhnya perutku terasa sangat lapar, namun aku tidak kuasa untuk makan karena merasa sangat mual.

Dan aku juga baru ingat. Semalam, setelah Mingyu pulang dari apartemenku, aku sama sekali tidak makan malam.

Ah, mengingat pria itu, aku jadi kembali merasa marah.

Kupikir ia berbeda dari semua pria yang pernah muncul di hidupku. Namun ternyata sama saja.

Aku benar-benar seorang yang bodoh karena sempat percaya padanya.

Namun biarkanlah. Yang sudah terjadi maka terjadilah.

Yang harus kupikirkan sekarang adalah bagaimana caranya agar aku bisa mengatakan kepada kedua orangtuaku bahwa aku ingin membatalkan pernikahan ini.

Aku baru saja memikirkan bagaimana caranya, namun pucuk dicinta, ulam pun tiba.

Eommaku tiba-tiba saja menelepon.

"Wonwoo-ya! Kenapa kemarin kau tidak jadi datang ke butik?! Eomma sudah menunggumu disana hampir dua jam! Kenapa juga ponselmu dan Mingyu tidak bisa dihubungi?!" pekik eomma langsung ketika aku mengangkat panggilan darinya.

Seketika membuat kepalaku terasa sangat pening akibat mendengar teriakkannya.

"eomma, mianhe.. kemarin aku tidak bisa pergi ke butik.."

"eomma..." panggilku lirih.

"wae?" tanya eomma meskipun masih dengan nada kesal, namun ia sudah tidak lagi berteriak.

"aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi tidak disini. Tidak di telepon. Eomma bisa temui aku?" pintaku masih dengan nada memohon, membuat eomma menghela nafasnya kencang di seberang sana.

"baiklah. Eomma akan menemuimu."

"terima kasih eomma, tolong temui aku di cafe seberang butikku, ya?" ucapku lagi, kemudian segera menyudahi pembicaraan kami karena aku harus segera bersiap pergi kesana.

Hari ini aku sengaja meminta izin cuti satu hari kepada Jeonghan eonni dengan alasan sakit.

Yah, meskipun itu tidak benar, namun juga tidak sepenuhnya salah.

Yang sakit adalah perutku, kepalaku, terlebih hatiku. Ini semua gara-gara si bajingan Kim Mingyu.

Sepanjang perjalanan aku ragu, apakah aku benar-benar harus mengatakan ini pada eomma?

Ya, anggaplah aku benar-benar mengatakannya, dan kami batal menikah. Namun bagaimana dengan nasib anak ini?

Cepat atau lambat masalah kehamilanku pasti ketahuan karena perutku yang membesar. Dan saat anak itu lahir, siapa yang harus kusebut sebagai ayah dari anak ini jika keluargaku bertanya?

Aku benar-benar pusing.

Atau jika aku menekan perasaan dan keegoisanku, dan tetap menikahi Mingyu demi anak ini, mungkinkah itu?

Tidak, tidak. Segera kutepis pemikiran konyol tersebut.

Sudah jelas-jelas Mingyu sama sekali tidak punya perasaan apapun padaku. Ia masih sangat mencintai mantan kekasihnya, aku bisa menilai itu dari sikapnya sejak seminggu yang lalu.

Ia hanya berbuat baik kepadaku selama ini karena rasa tanggung jawabnya akan bayi yang aku kandung sekarang.

Dan jika kembali mengingat bahwa ternyata Mingyu sama sekali tidak menganggapku apa-apa setelah yang kami lewati hampir satu bulan ini, membuat dadaku rasanya seperti ditusuk.

Rasanya menyedihkan, ingin menangis, ingin marah, ingin mengumpat. Tapi pada siapa?

Tidak ada yang bisa disalahkan disini.

Dari awal seharusnya aku tidak pernah membiarkan ia mencoba untuk bertanggung jawab pada bayi ini.

Ah, tidak. Bahkan seharusnya dulu aku tidak pernah menerima ajakannya minum saat di bar.

Menyadari bahwa air mataku kembali menetes, membuatku sekarang mengerti.

Bahwa waktu yang kuhabiskan selama hampir satu bulan bersamanya ini sudah membawaku pada sebuah perasaan tidak berarti bernama cinta.

Yah, aku dengan berat hati mengaku kalah.

Karena aku sadar bahwa aku mencintai Kim Mingyu. Meskipun pria itu tidak akan pernah membalas perasaanku sampai kapanpun.

Aku kembali marah. Padahal kemarin aku sudah bertekad tidak akan menangis karena pria manapun. Namun baru selang satu hari, aku sudah kembali menangisi pria itu.

Dengan tenggorokan tercekat dan perut yang terasa mual, aku hampir tidak kuat lagi meneruskan perjalanan ini.

Aku bahkan menepikan mobilku sesaat di bahu jalan karena tidak terlalu kuat mengendarainya. Namun setelah beristirahat selama beberapa menit, aku bisa kembali membawanya sampai ke tempat tujuan.

Sesampainya disana, aku melihat eomma yang sudah meminum es jeruknya, sedang melihat kearah jalanan sambil tersenyum.

Ah, aku jadi merasa bersalah.

Bagaimana perasaannya jika aku bilang aku ingin membatalkan pernikahan yang sudah ia atur sedemikian rupa ini?

Namun aku tidak bisa mundur lagi. maka aku membulatkan tekad, dan berjalan dengan perlahan menuju tempat duduk eomma.

"eomma." Panggilku pelan, kemudian segera duduk diseberang eomma.

"eoh. Kau sudah datang."

"ya! Kenapa wajahmu pucat sekali, eoh?" tanya eomma dengan suara panik.

Aku hanya tersenyum canggung. Mualku belum hilang sepenuhnya. Bahkan melihat es jeruk yang sedang diseruput oleh eomma membuatku ingin muntah.

"ne. Aku sedikit flu sejak kemarin.." ucapku pelan.

"eomma.."

"waee?" tanya eomma lagi dengan tidak sabar.

"aku ingin mengatakan sesuatu. Namun tolong eomma jangan marah. Terlebih appa. Tolong beritahu appa bahwa aku melakukan ini semua demi kebaikan." Ucapku membuat eomma semakin tidak sabar.

"ish! Kau ini kenapa? Bicara seolah kau akan pergi jauh saja!" eomma mendumal, membuatku segera menghela nafas panjang, kemudian meraih tangan eomma agar kugenggam.

"eomma. Aku ingin membatalkan pernikahanku dengan Mingyu." Ucapku tiba-tiba membuat eomma tersentak kaget.

"wae?! Apa kalian baru saja bertengkar? Minggu lalu kalian baik-baik saja, bukan? Ia masih memasak untuk kita minggu lalu. Kenapa? Katakan alasannya pada eomma.." tanya eomma awalnya dengan nada kaget.

Namun melihat wajahku yang terlihat menyedihkan, eomma segera melembutkan kembali suaranya.

"aniya.. kupikir kami tidak cocok. Itu saja.. yah, memang ada sedikit kendala. Namun eomma tidak perlu mengetahuinya."

Eomma menggerakan jarinya sambil terus menggenggam tanganku, kemudian tersenyum lembut.

"Wonwoo sayang, perasaan yang kau alami ini wajar. Itu namanya marriage blues. Dulu eomma juga merasakannya saat bersama dengan appamu. Terlebih kalian masih sangat muda, dan harus menikah secepat ini."

Kugelengkan kepalaku.

Tidak, aku bukan merasakan perasaan seperti itu. Ini lebih nyata. Yang kurasakan lebih menyakitkan.

"tidak, eomma.. bukan begitu. Ini sungguhan.. aku benar-benar tidak bisa menikah dengan Mingyu." Rengekku lagi.

Masih dengan raut wajah yang sama, eomma kembali bertanya padaku mengapa alasannya.

Namun lagi-lagi aku kembali berkata bahwa aku tidak bisa menjelaskannya.

"kalau kau tidak mau mengatakan alasannya, maka eomma tidak bisa membantumu, sayang.."

"sekarang jujurlah pada eomma, ada apa sebenarnya? Sehingga eomma bisa memikirkan perasaanmu dan membantumu nantinya. Oke?" bujuk eomma.

Kugigit bibirku kencang.

Apa yang harus kukatakan pada eomma sekarang?

Haruskah aku jujur dan bilang bahwa Mingyu sebenarnya masih mencintai mantan kekasihnya?

Atau apa?

"aku..."

"dari awal aku tidak pernah mencintai Mingyu.." ucapku pada akhirnya.

Kupejamkan mataku saat mengatakannya.

Terasa sakit, memang. Aku berbohong. Namun tidak apa. Ini semua demi kebaikan hidupku dan anakku kelak.

Eomma menghela nafasnya, seolah menyangsikan ucapanku.

"benarkah?"

"tapi kenapa jika aku melihat kalian berdua, kalian seolah benar-benar sedang dimabuk cinta? Terlebih Mingyu. Wonwoo sayang, tidak bisakah kamu belajar untuk mencintai Mingyu? Eomma bisa melihatnya. Mingyu tulus mencintaimu. Ia juga sepertinya bisa menerima keadaanmu apa adanya. Dan mencari lelaki seperti itu tidak akan mudah.."

"jadi jangan sampai kehilangan pria seperti Mingyu.." ucap eomma lagi.

Aku meringis mendengarnya.

Yah, eomma benar. Mingyu memainkan perannya dengan baik.

Dan sepertinya ia adalah tipe pria yang akan mencintai wanitanya sepenuh hati, apapun keadaan wanita itu.

Namun sayangnya aku tidak cukup beruntung untuk menjadi wanita tersebut.

"aku adalah orang paling jahat jika terus membiarkan ia bersamaku, eomma. Biarkan Mingyu bahagia bersama dengan orang yang akan mencintainya. Karena aku tidak akan pernah bisa memberikan itu untuknya."

"eomma, kumohon.. mengertilah perasaanku."

Aku masih menggenggam erat tangan eomma, namun tiba-tiba eomma melepaskan tangannya dari genggamanku.

"eomma tidak mengerti, Wonwoo. Semua yang kau ucapkan terdengar seperti kebohongan oleh eomma. Katakan alasan yang lebih masuk akal, dan eomma akan benar-benar berusaha membantumu." Eomma bersikeras agar aku berkata yang sebenarnya.

Apakah eomma tahu bahwa aku tengah berbohong?

"tapi itu kebenarannya. Tidak ada lagi!" pekikku sedikit tertahan karena mulai merasa gelisah.

Eomma menghela nafasnya, kemudian segera mengambil tas tangannya.

"eomma tidak tahu, Wonwoo. Apakah eomma bisa membantumu atau tidak. Kau mengerti betul appamu. Karena kau terdengar tidak masuk akal bagiku."

Sejurus kemudian eomma pergi setelah mengatakan hal tersebut, membuatku rasanya benar-benar ingin menangis.

Namun tidak ingin terlihat konyol jika aku menangis disini, maka aku segera bergegas untuk pergi.

Aku sedang fokus mengorek tasku untuk mencari dimana kunci mobilku.

Hingga seseorang tiba-tiba membekap mulut dan hidungku, lalu semuanya terasa gelap...

.

.

.

.

DUA HARI KEMUDIAN.

Aku mencoba. Dan ini sudah hampir ke-50 kalinya aku terus mencoba untuk menghubungi Wonwoo.

Namun tidak bisa.

Meskipun saat itu ia bilang bahwa ia ingin mengakhiri hubungan kami, aku tentu tidak akan menuruti ucapannya begitu saja.

Sepertinya ia memblok nomorku dari ponselnya setelah dua hari yang lalu ia berbicara padaku lewat telepon saat didepan apartemennya.

Aku bahkan juga tidak bisa mengiriminya pesan lewat sosial media.

Kejadiannya baru dua hari yang lalu, dan sekarang aku benar-benar kehilangan kontak dengan wanita itu.

Wonwoo benar-benar bergerak cepat.

Aku bahkan sempat mendatangi apartemennya lagi sejak kemarin dan tadi pagi, namun hasilnya nihil.

Lampunya mati. Apakah ia sedang pergi?

Ataukah memang ia sedang berusaha untuk menghindariku?

Kugaruk kasar kepalaku karena frustasi.

Bahkan demamku yang semenjak kemarin semakin parah tidak kupedulikan lagi.

Sekarang yang terpenting adalah agar aku bisa menghubungi Wonwoo.

Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak mau ini berakhir begitu saja seperti yang ia ucapkan.

Soal bayi dan tanggung jawab itu hanya alasan.

Yang sebenarnya adalah, karena aku memang sudah benar-benar merasa nyaman berada didekatnya.

Sekarang aku bahkan tidak bisa membayangkan jika harus bangun tidur di pagi hari tanpa ada Wonwoo disampingku.

aku benar-benar frustasi dan marah.

Jika saja, jika saja saat itu Kyulkyung tidak kembali dan membuat semuanya menjadi kacau seperti ini.

Ah, tidak. Ini semua salahku.

Jika saja saat itu aku tidak menggubris Kylkyung dan tetap setia pada Wonwoo, ini semua tidak akan terjadi.

Aku menjambak rambutku kasar setelah mengingat bahwa seminggu lagi pernikahan kami akan dilaksanakan, namun keadaannya malah menjadi kacau seperti ini.

Eomma bilang padaku bahwa semua persiapan sudah selesai, hanya tinggal pakaian pernikahanku saja.

Namun aku jadi kembali merasa bersalah jika teringat.

Saat itu aku memarahi Wonwoo karena ia meneleponku untuk mengajak fitting baju.

Kenapa? Kenapa?!

Dan ditengah kegalauan yang sedang terjadi, ponselku berbunyi, dan menampilkan nama nyonya Jeon sebagai sang penelepon.

"yeoboseyo, eomoni?" seketika aku merasa lega. Aku baru teringat. Kenapa tidak dari kemarin saja kucoba untuk menghubungi eommanya Wonwoo?

"Mingyu-ya.. apa kau sedang sibuk?" tanya Nyonya Jeon membuatku sedikit tersenyum.

"aniya, eomoni. Silahkan bicara.."

"Mingyu-ya.. eomma ingin bertanya padamu.. sebenarnya apa yang terjadi diantara kau dan Wonwoo? Apa kalian bertengkar?" pertanyaan Nyonya Jeon kali ini benar-benar tepat.

"ah.. memangnya kenapa, kalau aku boleh tahu, eomoni?" tanyaku masih berusaha sopan.

"Wonwoo... dua hari yang lalu ia merengek ingin membatalkan pernikahan kalian.. namun eomma bilang tidak akan mengizinkannya."

Apa? Jadi Wonwoo serius ingin membatalkan pernikahan ini? ia sudah bicara pada eommanya.

Apa yang ia katakan? Apakah ia sudah mengatakannya pada appanya?

"lalu sekarang eomma tidak bisa menghubunginya.. apa ia sedang bersamamu, sekarang? Apa kalian sudah berbaikan?" tanya Nyonya Jeon lagi dengan nada khawatir.

Dan ucapan Nyonya Jeon seketika juga membuatku khawatir. Dadaku mencelos saat itu juga.

Wonwoo bahkan tidak bisa dihubungi oleh eommanya, sebenarnya ada apa dengan wanita ini?

Kuhela nafasku, kemudian memutuskan untuk mengatakan kejadian antara aku dan Wonwoo.

"eomoni, sebelumnya aku minta maaf karena tidak bisa menjaga Wonwoo dengan baik. Yah, kami memang sempat bertengkar beberapa hari yang lalu. Namun itu semua akibat kesalah pahaman, aku berani bersumpah. Dan sejak dua hari yang lalu aku tidak bisa menghubungi Wonwoo, sehingga aku tidak tahu ada dimana Wonwoo saat ini." ucapku dengan pelan namun tegas, berusaha agar Nyonya Jeon tidak panik.

"namun eomoni jangan khawatir, aku akan berusaha mencari keberadaan Wonwoo."

Aku segera memfokuskan telingaku pada perkataan Nyonya Jeon selanjutnya.

Ia bilang terkahir bertemu dengan Wonwoo di cafe dekat butik, lalu sejak saat itu, Wonwoo tidak bisa lagi dihubungi.

Membuatku segera meluncur ke cafe tersebut, berharap masih ada sedikit jejak yang tertinggal tentang dimana keberadaan Wonwoo.

Sesampainya disana, langit yang sudah sore membuat keadaan menjadi sedikit gelap.

Namun aku masih bisa melihat dengan jelas, terdapat sebuah mobil sedan putih yang terparkir didepan cafe tersebut.

Dan tidak perlu memastikan dua kali bagiku untuk mengetahui bahwa itu adalah mobil Wonwoo.

Segera saja aku masuk kedalam cafe tersebut, lalu menanyakan seorang pelayan tentang mobil tersebut.

"ah, permisi. Bisa saya bertanya, siapa pemilik mobil sedan di depan itu?" tanyaku pada seorang kasir.

Kasir perempuan itu langsung berdecak.

"kami juga tidak tahu, tuan. Sudah dua hari mobil itu terus diparkirkan didepan cafe kami tanpa kejelasan siapa pemiliknya. Kami berusaha bertanya pada orang di sekitar sini, namun tidak ada yang mengenali mobil tersebut."

Jantungku seolah berhenti berdetak mengetahui kenyataan ini.

Sudah dua hari, dan Wonwoo meletakkan mobilnya disini begitu saja setelah bertemu dengan eommanya?

Sebenarnya apa yang terjadi?

"apakah didepan sana terdapat kamera CCTV? Bolehkah aku melihatnya?" tanyaku tiba-tiba saat teringat soal rekaman kamera yang mungkin saja bisa membantu.

Kasir tersebut mengernyit mendengar pertanyaanku.

"disana terdapat kamera CCTV, tapi jika boleh tahu, ada urusan apa? Apakah anda polisi?"

Aku berdecak kesal mendengar pertanyaan kasir ini, namun aku memang harus menjelaskan keadaannya pada orang ini.

"begini, sepertinya aku mengenali pemilik mobil tersebut. namun sudah dua hari pemilik mobil tersebut menghilang. Dan ada seseorang yang berkata padaku bahwa pemilik mobil itu terlihat terakhir kali di cafe ini."

"jadi aku akan memeriksa apakah terjadi sesuatu yang mencurigakan padanya."

Ucapku dengan cepat, membuat kasir tersebut segera menganggukan kepalanya dan mengizinkanku untuk melihat rekaman CCTV yang terdapat didepan cafe dua hari yang lalu.

"kejadiannya sekitar pukul dua siang, menurut informasi yang kumiliki.." ucapku saat aku mulai melihat rekaman tersebut.

Ternyata dugaanku benar.

Disana aku melihat Wonwoo yang memarkirkan mobilnya disana, kemudian masuk kedalam cafe. Lalu tidak lama kemudian Nyonya Jeon keluar seorang diri dari sana. Dan disusul oleh Wonwoo lima menit kemudian.

Wanita itu sedang menunduk mencari sesuatu didalam tasnya, saat aku menangkap seseorang yang tiba-tiba menyentuh bahu Wonwoo, lalu terlihat seperti membungkam wajahnya menggunakan kain.

Tiba-tiba saja Wonwoo terlihat lemas di rekaman tersebut. sepertinya ia dibius. Membuatku segera merasa sangat marah.

"ah! Tuan! Sepertinya si pemilik mobil di bius! Tuan, ini kasus penculikan!" pekik kasir itu kepadaku. Ia terlihat sangat kaget, begitupun aku.

Siapa yang beraninya melakukan hal tersebut pada calon istriku?!

Wonwoo yang sudah tidak sadarkan diri terlihat diseret oleh pria yang mengenakan topi tersebut. namun dibawa kemana, aku tidak tahu karena jangkauan kameranya yang terbatas.

"bisakah kau perbesar wajah si pembius?" pintaku padanya.

Rekamannya sudah di perbesar, namun wajah si penculik masih belum terlihat jelas karena ia mengenakan sebuah topi.

Namun entah mengapa aku merasa seperti dejavu. aku seolah merasa seperti pernah mengalami hal ini.

Namun dimana?

Dan disaaat aku mencoba untuk memutar otak, tiba-tiba saja ingatanku kembali pada beberapa waktu lalu disaat Junhui mencoba untuk menculik paksa Wonwoo.

"JUNHUI! BRENGSEK!" teriakku penuh emosi ketika menyadari bahwa orang didalam rekaman CCTV itu adalah orang yang sama dengan yang pernah kupatahkan hidungnya dulu.

Aku segera pergi dari sana, setelah mengucapkan terima kasih sebelumnya pada kasir tersebut.

Kubawa mobilku dengan kecepatan penuh menuju kediaman Junhui berada. Aku sudah menghubungi polisi, dan melaporkan hal ini sebagai kasus penculikan.

Namun aku tidak bisa diam saja. Aku harus turut pergi kesana dan memastikan bahwa Wonwoo baik-baik saja.

Disepanjang perjalanan aku berpikir, lagi-lagi kenapa aku semarah ini saat mengetahui bahwa Junhui membawa pergi Wonwoo?

Kenapa juga aku harus merasa tidak rela jika pernikahan ini dibatalkan? Bukankah seharusnya aku merasa senang? Dengan begitu aku terbebas.

Tapi terbebas dari apa?

Justru didalam hatiku yang paling mendasar, aku sama sekali tidak keberatan untuk bertanggung jawab penuh akan hidup Wonwoo dan calon anak kami kelak.

Masih terus memacu kecepatan mobil seperti orang gila, kini aku menyadari suatu hal.

Bahwa sepertinya aku sudah jatuh cinta pada wanita ini.

Setelah mengakui perasaan tersebut, entah kenapa hatiku terasa lega. Tidak ada lagi beban, karena kini aku mengerti.

Bahwa aku harus memperjuangkan Wonwoo dan calon anak kami kelak.

Aku terus berdoa agar ia dan anak kami baik-baik saja.

Aku bahkan bersumpah akan melakukan, memberikan apapun yang Wonwoo inginkan jika ia bisa kembali dengan selamat tanpa kurang satupun.

Sesuai taruhan yang kami lakukan dulu, aku sebagai pihak yang kalah akan memberikan apapun yang Wonwoo inginkan.

Dan aku tidak sabar untuk segera memberikan hal tersebut padanya.

.

.

.

.

Aku masih berada di ruangan ini sejak dua hari yang lalu. Ruangan menyebalkan yang selalu membuatku ingin kabur karenanya.

Yah, ruangan ini adalah kamar tidur Junhui.

Pria brengsek itu tidak henti-hentinya mengganggu hidupku.

Ia bahkan kini dengan berani dan terang-terangannya menculikku dan menahanku disini.

"bagaimana? Apakah tiket dan paspornya sudah kau urus semua?" tanya Junhui yang sedang berbicara di telepon.

"ya. Pastikan tidak ada yang mengetahui hal ini. aku dan Wonwoo akan pergi jauh dari Korea untuk waktu yang lama." Ucapnya lagi, membuatku segera bergidik ngeri.

Apakah itu benar? Ia akan membawaku pergi keluar negeri?

Ah, sial!

Ini tidak boleh terjadi! Aku harus segera pergi dari sini!

Namun aku kembali meringis saat merasakan pergelangan tanganku yang lecet akibat ikatan talinya yang terlalu kuat.

Bagaimana ini? apakah ini benar-benar akan menjadi akhir antara aku dan Mingyu?

Apakah aku tidak bisa lagi bertemu dengan pria itu?

Lalu keluargaku, bagaimana?

Sial, Wen Junhui! Lepaskan aku!

Ingin berteriak rasanya, namun juga percuma karena mulutku yang masih tertutup sempurna oleh selotip besar berwarna hitam.

Junhui hanya akan membuka ikatan taliku dan selotip di bibirku ketika akan pergi ke toilet dan makan.

Aku terus menggeliat, membuat Junhui menyadari kegiatanku, dan menutup sambungan teleponnya.

"ada apa, sayang? Kau ingin ke toilet?" tanya Junhui mendekat.

Namun seiring dengan ia yang mendekat, aku terus menggeliatkan tubuhku menjauhinya.

Kini aku bahkan sudah berada diujung kasurnya yang besar, namun ia terus saja bergerak mendekat, membuatku merasa sangat jijik.

Dan juga takut.

"HMMPPPFFFHH! HHMPPHH!"

"wae? Kau haus?" Junhui menyodorkan segelas air putih, namun aku terus memalingkan wajahku darinya, membuat pria itu sepertinya sedikit kesal, lalu menjambak rambutku hingga kepalau menengadah keatas.

"dengar! Aku sudah berlaku begitu baik padamu, namun kau terus saja membantah dan membangkang."

"hah! Tidak apa. Akan kubiarkan kau membangkang untuk terakhir kalinya. Karena besok kita akan pergi ke suatu tempat yang sangat jauh, dimana kau tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti perkataanku, dan menjadi pendampingku yang penurut."

Junhui mengucapkan hal tersebut, kemudian tertawa dengan puas seolah ia adalah pemeran antagonis dalam sebuah drama.

Ia beranjak semakin dekat dengan tubuhku, kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajahku.

Ia terus mengecupi pipiku, kemudian turun terus menuju rahang, membuatku semakin menggeliat tidak suka.

"HMPPHHH! PPFFFFF!"

"jangan membantah, sayang. Atau aku akan bermain kasar malam ini." ucap Junhui dengan nada santai, kemudian mulai membuka kancing baju bagian atasku satu persatu.

Aku berusaha dengan sekuat tenaga menghindarinya. Menggerakan tubuhku, sehingga aku membelakanginya.

Namun tenaganya bukan tandinganku, terlebih dengan kondisi lemah seperti ini.

Sehingga aku mulai bisa merasakan tubuhku yang terkena tiupan angin dingin dari pendingin ruangan, karena seluruh kancingku sudah berhasil ia buka semuanya.

Aku semakin meronta, menggerakkan kakiku kesana kemari, berusaha agar setidaknya ia terkena tendangan kakiku, namun hasilnya tetap saja nihil.

Ia bahkan kini juga mengekang kakiku dengan cara mendudukinya, sehingga ia kini tengah berada diatas tubuhku dengan posisi duduk.

Ciumannya semakin merembet turun menuju leher, dan kini ia tengah memainkan lidahnya disekitar tulang selangka.

Aku bisa merasakan lidahnya yang basah bergerak disana.

Dan rasanya menjijikan.

Benar-benar menjijikan.

Aku tidak pernah membayangkan akan diperlakukan seperti ini oleh pria manapun.

Ia melakukannya dengan cara yang sangat kurang ajar, membuat hatiku terasa sakit.

Sangat jauh berbeda dengan Mingyu ketika kami melakukan hal itu untuk pertama kalinya.

Aku jadi teringat dengan Mingyu.

Tuhan, jika saja aku punya kesempatan terakhir untuk bisa bertemu dengan pria itu.

Aku akan mengatakan padanya bahwa aku mencintainya.

Kini tangan Junhui sudah bermain diatas dadaku, membuatku memejamkan mata erat. Air mataku meleleh.

Didalam hatiku aku hanya berdoa pada Tuhan agar anakku didalam perut ini baik-baik saja.

Agar ini semua berakhir dengan cepat.

Agar aku bisa bertemu lagi dengan Mingyu untuk terakhir kalinya, meskipun hanya lewat telepon. Karena aku akan berkata bahwa aku sangat mencintainya, dan aku menyesal.

Baru saja kurasakan hembusan nafas Junhui diatas dadaku, tiba-tiba terdengar suara ricuh dilantai bawah rumah ini.

"DRAP DRAP DRAP."

Suara itu terdengar seperti langkah kaki terburu-buru orang yang sedang menaiki tangga.

"BRUK!"

"menyerahlah, tuan Wen Junhhui, anda sudah terkepung!" teriak beberapa orang pria yang mengenakan seragam polisi. Mereka bahkan sudah mengacungkan senjata mereka kehadapan Junhui, membuat pria itu segera menolehkan kepalanya.

"BAJINGAN KAU, JUNHUI!"

"BRUK!"

Tiba-tiba seorang pria menyeruak diantara para polisi tersebut.

Pria yang sedari tadi kusebutkan namanya didalam hati.

Kim Mingyu, pria itu datang.

"BRUK!"

"KURANG AJAR KAU BANGSAT! BERANINYA MENCULIK CALON ISTRIKU!"

Mingyu untuk kedua kalinya terlihat seperti orang kalut yang mengamuk.

Ia segera berlari menuju Junhui, kemudian menarik kerah baju pria itu dan melayangkan tinjunya tepat diatas rahang Junhui.

Baru saja ia akan kembali memukuli Junhui, namun para polisi sudah menahan tangannya.

"tenanglah, tuan Kim Mingyu! Biar kami yang mengurus masalah ini!"

"tuan Wen Junhui, anda kami tahan atas tuduhan penculikan dan percobaan pemerkosaan." Ucap seorang polisi yang tengah memegang kedua lengan Junhui dibalik punggung pria itu.

Junhui tidak mengatakan apapun, ia hanya melirik tajam kearah Mingyu, kemudian segera diseret keluar oleh para polisi.

Aku melihat Mingyu yang masih bernafas dengan terengah-engah.

Punggung tangannya lagi-lagi terluka karena memukul Junhui, membuatku sedikit meringis.

Kemudian ia beranjak menaiki kasur tempatku berada, kemudian segera melepaskan ikatan tangan serta selotip di mulutku.

Aku baru saja akan menyebut namanya, namun tiba-tiba saja ia sudah memelukku erat.

"Wonwoo-ya!"

"syukurlah, kau selamat.."

Ia kemudian melepaskan pelukannya, kemudian menggoyangkan tubuhku kekanan dan kiri, berusaha melihat apakah tubuhku terluka atau tidak.

"aku baik-baik saja, hanya pergelangan tanganku sedikit lecet karena talinya.." ucapku pelan.

Mingyu kembali mengumpat melihat kondisi tanganku yang memerah dan kulit yang sedikit terkelupas itu.

"sudah, aku tidak apa-apa.." ucapku sambil menyentuh lembut pipinya.

Tuhan, aku tahu kau sangat baik.

Karenanya kau mengabulkan doaku yang sudah putus asa ini.

Aku benar-benar berterima kasih karena bisa bertemu lagi dengan pria ini. sungguh, aku berterima kasih.

Kupeluk tubuh Mingyu dengan erat, mencoba melampiaskan semuanya.

Berusaha memberitahunya bahwa aku sudah berhasil menjalani dua hari yang berat ini dengan baik-baik saja.

Mingyu sedikit terdiam, namun tidak lama kemudian ia segera membalas pelukanku dan mengusap punggungku.

"sudah, sudah.. kau aman bersamaku sekarang.."

"Wonwoo, berjanjilah padaku. Kau tidak akan pergi lagi.."

Aku melepaskan pelukanku, kemudian menatap matanya dalam.

"aku juga akan berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku bersumpah." Ucapnya lagi, membuat hatiku seketika menghangat.

Ah, sesuai janjiku padamu, Tuhan. Aku akan mangatakan pada pria ini bahwa aku mencintainya.

Baru saja aku akan membuka mulut, namun tiba-tiba saja pandanganku kabur.

Kepalaku terasa berputar.

Dan tubuhku terasa sangat ringan.

Lalu semuanya gelap, tepat setelah aku mendengar teriakan Mingyu yang memanggil namaku kencang.

TBC

HOLA HOLAA

Chap kemarin kubuat mereka berdua ribut dan misah, tapi aku gakuat misahin mereka lama-lama.

Kasian euy sama baby-nya wonu.

Sebenernya masih mau ngehukum kiming sih, tapi udah lah. Cukup kayaknya. Kasian juga tu si item.

Hahaha tapi aku puas banget bisa ngeluarin abang jun lagi disini.

Maapin aku ya bangjun. Kamu dinistain. Padahal ga salah apa-apa..

Trus di chap kemarin juga banyak yang malah balik jadi kesel ama wonu. Plis jangan. Wonu itu korban disini. Coba bayangin kalo kalian yang ada di posisi dia. Hehe.

Dan aku juga mo minta maaf kalo seandainya caraku bikin mereka baikan itu rada maksa, tapi kuharap kalian suka dengan comeback nya babang jun, jadi couple kita bisa nyatu lagi.

Terima kasih karena kalian ud mau nyempetin baca, fav, follow, komen karyaku yang masih amburadul ini.

Last but not least, i would really appreciate you guys' comments, because it really make me feel happy.

Have a nice weekend everybody!