TITLE :One Night Stand
GENRE :Romance, Drama
RATING :M
CAST :Wonwoo (GS), Mingyu
DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.
SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .
This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))
.
.
.
.
Nafasku terengah-engah, setelah berlari dan mendorong brangkar yang ditiduri Wonwoo sepanjang lorong UGD Rumah Sakit terdekat dari kediaman Junhui.
Tadi saat aku sudah berhasil melepaskan ikatan Wonwoo, wanita itu tiba-tiba saja pingsan, membuatku menjadi sangat panik. Untung saja masih ada beberapa anggota kepolisian yang segera membantuku untuk memanggil ambulans.
Kini aku tengah duduk menanti hasil pemeriksaan dokter. Aku sudah mengabari keluarga Jeon tentang hal ini. dan mereka sangat terkejut.
Terlebih Nyonya Jeon. Dan kini mereka tengah dalam perjalanan menuju kemari.
Aku sangat berdebar-debar.
Bagaimana keadaan Wonwoo?
Keadaan anakku?
Apakah mereka baik-baik saja?
Sungguh, aku bersumpah. Jika salah satu dari mereka dalam kondisi tidak sehat sedikit saja, aku akan membunuh Junhui dengan tanganku sendiri.
Dan disaat aku sedang menjambak rambutku frustasi, tiba-tiba terdengar suara teriakkan seorang pria yang memanggil namaku.
"Mingyu!"
Ternyata itu Tuan Jeon beserta keluarganya yang sudah datang.
Namun tidak hanya mereka. Tetapi turut juga keluargaku.
"Wonwoo... bagaimana keadaan Wonwoo?" tanya Nyonya Jeon dengan raut wajah sangat khawatir, ia bahkan mencengkeram erat lenganku.
"ia sedang diperiksa oleh dokter, eomoni. Jangan khawatir.. mari kita berdoa demi kebaikan Wonwoo." Ucapku pelan sambil terus mengelus pelan lengannya.
"bagaimana bisa... ia diculik? Siapa pria bajingan yang beraninya melakukan itu pada putriku?!" tanya Tuan Jeon dengan nada emosi yang terdengar jelas.
Ia kini bahkan mengepalkan erat tangannya, membuatku sedikit ngeri melihat kepalan tangannya yang sepertinya lebih besar daripada milikku.
Junhui pasti sekarat jika dipukul oleh tangan besar itu.
"abeoji tenanglah, pelakunya sudah ditangkap polisi. Ia adalah mantan kekasih Wonwoo. Namanya Wen Junhui." Ucapku membuat Nyonya Jeon sangat kaget.
"Wen Junhui?!"
"kenapa, yeobo? Kau mengenalnya?" tanya Tuan Jeon pada istrinya.
Nyonya Jeon menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya.
"aniya.. dulu pria itu pernah bertemu denganku sekali saat mereka masih berpacaran. Dan kelihatannya ia adalah orang yang baik. Aku hanya tidak menyangka ia bisa melakukan hal ini.." ucap Nyonya Jeon dengan tangan yang masih mencengkeram erat lengan suaminya.
Takut ia terjatuh jika tidak berpegangan.
"Mingyu, tapi bagaimana keadaan Wonwoo sekarang?" kini appaku yang bertanya.
Yah, sepertinya keluargaku juga cukup khawatir. Terlebih eomma. Sedari tadi ia tidak berhenti menggigiti kukunya.
Kebiasaan jelek jika eomma sedang gugup atau khawatir.
"ia sedang diperiksa, appa. Jika nanti Wonwoo sudah sadar dan cukup sehat, aku akan memindahkannya ke Rumah Sakit kita."
"ya, lakukan itu. Pastikan ia mendapatkan perawatan terbaik."
Aku menganggukan kepalaku lega mendengarnya.
Sepertinya keluargaku benar-benar tulus menyayangi Wonwoo, dan sudah menganggapnya sebagai anak mereka sendiri.
Membuatku kembali merasa bersalah.
Kenapa dengan tololnya aku bisa, hampir saja melepaskan Wonwoo?
Shit!
Demi Tuhan, aku kembali bersumpah. Meskipun Wonwoo menangis dan merengek untuk membatalkan pernikahan ini, aku tidak akan menuruti keinginannya.
Aku tetap akan membuat ia menjadi istriku, apapun yang terjadi. Aku tidak peduli meskipun aku bersikap egois dan seenaknya.
Hanya ini cara satu-satunya untuk mendapatkan permintaan maafnya.
Dan aku juga tidak peduli meskipun ia belum mencintaiku atau apa.
Karena aku akan membuat ia benar-benar mencintaiku, sehingga ia tidak akan pernah pergi lagi kemanapun.
"anda keluarga dari Nyonya Jeon Wonwoo?" tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD, membuatku segera mengangguk cepat.
"saya calon suaminya, dok." Ucapku.
Dokter itu segera menghela nafas dan tersenyum.
"syukurlah, keadaan Nyonya Wonwoo baik-baik saja meskipun kondisinya masih belum terlalu stabil. Ia hanya shock dan sedikit kekurangan gizi. Terlebih dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Mungkin saja Nyonya Wonwoo akan mengalami sedikit trauma setelah ini. hanya pastikan bahwa ia selalu merasa nyaman."
"ah, dan saya sarankan untuk lebih memperhatikan keadaan calon bayi yang sedang dikandung oleh Nyonya Wonwoo. Saya takut anak itu mengalami malnutrisi mengingat gizi yang diasup Nyonya Wonwoo sedikit kurang." Ucap dokter itu lagi membuat kami semua menghela nafas lega karena mengetahui bahwa kondisi Wonwoo baik-baik saja.
Namun tidak lama setelah dokter itu pergi, tiba-tiba saja Tuan Jeon mengatakan sesuatu yang membuatku menjadi kembali gugup.
"tadi, dokter itu bilang apa? Calon bayi? Apakah ia tidak salah periksa? Memangnya Wonwoo hamil?" tanya Tuan Jeon pada istrinya.
Dan ia segera menatapku tajam.
"Kim Mingyu! Jelaskan ini sekarang juga!" teriaknya emosi ditengah-tengah lorong UGD, membuat Nyonya Jeon segera mengelus punggung suaminya agar pria itu kembali tenang.
Aku tidak punya pilihan lain. Aku juga tidak bisa mundur.
Sehingga satu-satunya yang bisa kulakukan hanya mencoba untuk menjadi pria jantan dan mengakui semuanya.
"maafkan aku, abeoji! Ini semua salahku! Wonwoo sama sekali tidak bersalah dalam hal ini!" ucapku kencang dan tegas, lalu membungkukkan tubuhku sedalam-dalamnya.
"aku... Wonwoo.. memang tengah mengandung anak kami. Usianya kini sudah hampir dua bulan." ucapku masih terus membungkuk.
"mwo?!"
"Kim Mingyu!" pekik eomma dan appaku kaget karena mendengar hal ini.
Appa, eomma. Maafkan aku.
Anak-anak kalian memang manusia payah yang durhaka karena selalu membuat kedua orang tuanya bersedih.
Tiba-tiba saja Tuan Jeon mencengkeram erat kerah kemeja yang kugunakan, membuatku sedikit tercekik.
Ia juga mengangkat tinggi tangannya yang terkepal, seolah siap untuk menghajarku menggunakan tinju itu.
"KAUU..."
"BRENGSEK KAU!"
"BRUK!"
"kyaaa!"
Nyonya Jeon dan eommaku segera memekik setelah melihatku dihempaskan begitu saja kelantai oleh Tuan Jeon. Mereka juga membantuku untuk berdiri.
Dan Nyonya Jeon segera berusaha untuk membuat suaminya kembali tenang.
"yeobo, tenanglah.. kumohon.. ini adalah Rumah Sakit. Jangan membuat kericuhan disini.." ucapnya sambil terus mengelus pelan pundak Tuan Jeon.
"jadi itulah kenapa kau mau menikahi putriku?! Karena kau sudah menghamilinya lebih dulu!?" tanya Tuan Jeon penuh dengan emosi.
Aku kini sudah kembali berdiri tegak. Tadinya aku masih menundukkan kepala, tidak berani menatap Tuan Jeon.
Namun aku seketika tersadar. Bahwa bukan itu yang ia inginkan. Bukan juga apa yang kuinginkan.
Aku ingin menghadapi mereka dengan tegas dan berani, mengatakan yang sebenarnya apa yang kurasakan.
"sekali lagi aku minta maaf. Tapi ya, itu benar. Awalnya aku ingin menikahi Wonwoo tentu saja karena ia sudah mengandung anakku."
"kami sengaja tidak memberitahu ini kepada kalian karena aku yang memintanya begitu. Aku tidak mau ia menjadi sasaran kemarahan kalian jika mengetahui ini. itulah mengapa aku seolah terburu-buru menikahinya. Cukup aku yang kalian hina dan teriaki. Wonwoo tidak pantas mendapatkan ini."
"aku tahu aku terkesan mengada-ada, namun aku juga berusaha untuk tidak berbohong pada kalian. Tapi setelah hampir satu bulan mengenal Wonwoo dan juga keluarga Jeon, aku mulai merasa menyayanginya. Kini alasan utamaku untuk menikahinya bukan hanya karena anak kami yang berada didalam perutnya. Tapi karena aku juga sudah mencintainya."
"istriku tidak bisa kalau bukan Wonwoo. Aku.. aku tidak bisa membayangkan jika harus bangun di pagi hari tanpa Wonwoo disampingku. Wonwoo dan anak kami.. sudah menjadi prioritas utama dalam hidupku."
Ucapku masih sambil membalas tatapan mata Tuan Jeon yang tajam.
Aku tidak boleh merasa gentar. Ini semua kesalahanku dari awal.
"tapi... kenapa kau tidak memberitahukannya pada kami sejak awal?" tanya Nyonya Jeon terdengar kecewa, membuatku kembali merasa bersalah pada keluarga ini.
"itu.. maafkan aku, eomoni. Tapi itu adalah ideku semuanya."
"eomma dan appa, aku juga minta maaf. Aku sengaja tidak mengatakan ini pada kalian semua karena aku memikirkan bagaimana perasaan kalian jika mengetahui bahwa anak lelaki kalian sudah menghamili anak gadis orang lain. Aku sungguh benar-benar minta maaf. Kupikir setelah menikahi Wonwoo, maka semua masalah akan beres. Namun ternyata dugaanku salah."
Tuan Jeon mendengus keras, kemudian ia berkacak pinggang.
"ya! Kau memikirkan perasaan kedua orang tuamu, tapi tidak memikirkan bagaimana perasaan kami dan Wonwoo!"
"memangnya kau pikir perasaan orang tua anak gadis itu tidak terluka jika mengetahui anak perempuan mereka dihamili oleh seorang pria tanpa ada hubungan apa-apa?!" ucap Tuan Jeon lagi dengan nada emosinya.
Aku tahu, ia benar. Dan aku sejujurnya memang tidak memikirkan hingga kesana.
Dan aku merasa aku pantas dihukum.
"karena itulah, abeoji. Aku benar-benar minta maaf. Aku pantas dihukum. Aku tahu tidak seharusnya aku dimaafkan dengan mudah. Namun aku bersumpah, aku akan membuat Wonwoo bahagia seumur hidupnya sebagai ungkapan permintaan maafku."
Tuan Jeon kembali memelototkan matanya, membuatku kesulitan menelan ludah.
Ia kemudian berjalan merangsek kearahku.
Dan kembali mencengkeram erat kerah kemejaku, namun kali ini tanpa kepalan tangannya yang melayang diudara.
"ya! Jika kau ingin membuatnya bahagia, lakukan karena kau memang ingin melakukannya! Bukan karena kau ingin meminta maaf! Kami dan Wonwoo tidak membutuhkan permintaan maafmu! Kami hanya butuh bukti dari ucapanmu!" teriak Tuan Jeon tepat dihadapanku, membuatku sedikit terbengong kaget.
Aku segera menganggukan kepalaku kencang, membuat Tuan Jeon segera melepasan tangannya.
"aku bersumpah, abeoji! Kau bisa pegang kata-kataku! Ucapku dengan mantap.
Tiba-tiba appa juga memegang tangan Tuan Jeon.
"ya, Woohyun-ah.. sebagai orang tua Mingyu, aku juga minta maaf akibat kelakuan tidak pantas yang telah ia lakukan. Tapi sesuai dengan ucapan Mingyu barusan, aku akan memastikan bahwa anak ini akan membahagiakan putrimu seumur hidupnya."
"aku bersumpah atas nama pertemanan kita." Ucapnya lagi.
Membuatku benar-benar terharu.
Pasalnya, ini adalah kali pertama dalam kehidupan dewasaku appa melakukan sesuatu yang sangat berarti untukku.
Tuan Jeon menghela nafasnya panjang, kemudian menepuk pelan bahu appa.
"ya, hanya pastikan anakmu benar-benar membahagiakan putriku. Atau aku akan mengejarnya hingga keujung dunia dengan membawa senapan milikku." Ucap Tuan Jeon lagi, membuat appa terkekeh, kemudian sedikit memukul punggungku keras.
"ya! Kau dengar itu, tidak!? Bahagiakan Wonwoo, atau aku juga akan mengejarmu keujung dunia dengan membawa suntikan sebesar ini!" ucap appa sambil menyodorkan lengannya padaku, berusaha menirukan besarnya suntikan yang ia punya.
"ne, appa, eomma, abeoji, eomoni! Aku bersumpah akan membahagiakan Wonwoo!" ucapku penuh semangat, lalu sekali lagi membungkukkan tubuhku dalam.
.
.
.
.
Kepalaku terasa berat saat aku berhasil membuka kedua mataku.
Bau obat-obatan yang menyengat juga segera menyeruak kedalam hidung, membuatku sedikit berjengit.
Sepertinya aku sudah dibawa ke Rumah Sakit. Aku ingat, kemarin saat Mingyu berusaha menyelamatkanku, aku pingsan.
Dan setelah mengedarkan pandangan menuju keseluruh ruangan, aku bisa mendapati Mingyu yang tengah tertidur diatas sofa.
Kepalanya bahkan terantuk-antuk kebawah karena tidak ia sanggah, membuatku merasa sedikit iba.
Dan saat kepalanya terantuk dengan kencang, kesadaran Mingyu kembali, lalu menatapku dengan mata sayunya yang merah.
"ooh! Wonwoo-ya! Kau sudah sadar!" ucapnya dengan nada senang, kemudian berjalan menuju brangkarku.
Ia kemudian tersenyum menatapku, dan mengelus kepalaku pelan, membuatku seketika merasa gugup.
Aku berusaha memalingkan wajahku darinya, namun ia malah menahan wajahku agar terus menatapnya.
"apa kau haus?" tanyanya lembut, membuatku menganggukan kepala setelah mengingat bahwa aku belum minum sejak satu hari kemarin.
Ia segera membantuku untuk bangun dan duduk. Dengan menyanggah punggungku dengan bantal, kemudian menyuapi gelas berisi air kedalam mulutku.
"cha.." ucapnya sambil menempelkan bibir gelas pada bibirku.
Aku minum sedikit demi sedikit, membuat tenggorokanku kembali lega setelah disiram air.
Setelah air didalam gelas habis, ia kembali meletakkannya diatas meja, lalu menatapku, masih dengan senyum yang tidak pernah luntur dari wajahnya.
"mau tidur lagi? ayo kubantu.."
Aku segera menahan tangannya yang ingin kembali menarik bantal dari punggungku.
"aniya. Aku mau duduk saja. Kepalaku pusing terlalu lama tidur." Ucapku pelan, membuatnya menganggukan kepala pelan.
Aku masih dalam posisi duduk dan diam saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Mataku juga tidak hentinya memandangi jendela, seolah pemandangan sore diluar terlihat sangat menarik.
Mingyu kemudian menyeret sebuah bangku, lalu duduk disampingku.
Tangannya tidak pernah lepas menggenggam tanganku yang masih terdapat selang infus diatasnya.
Aku menoleh kearah Mingyu, membuat pria itu juga menatapku dalam.
Kemarin saat aku masih diculik oleh Junhui, aku bersumpah pada Tuhan jika aku kembali dipertemukan dengan orang ini, aku akan mengatakan bahwa aku mencintainya.
Dan kelihatannya sudah tiba bagiku untuk memenuhi sumpahku itu.
"Mingyu – "
"Wonwoo, aku – "
Ucap kami berbarengan, namun aku mempersilahkan ia untuk bicara lebih dulu.
Ia menghela nafasnya, kemudian sedikit menunduk.
"aku minta maaf soal apa yang terjadi seminggu yang lalu. Juga kemarin saat aku memarahimu di apartemenku. Dan saat kau melihatku dengan Kyulkyung."
"sungguh, itu semua hanya salah paham. Aku benar-benar tidak melakukan apapun dengannya. Siang itu, setelah kau meneleponku, tiba-tiba saja ia datang dan membawakan aku obat dan makanan. Aku tidak tahu darimana ia tahu bahwa aku sedang sakit. Tapi aku hanya menuruti keinginannya untuk makan dan minum obat tersebut, kemudian benar-benar jatuh tertidur. Lalu saat tersadar, aku menemui ia tengah tertidur disampingku, dan yah.. kau memergoki kami. Itu saja.."
Bisa kurasakan Mingyu yang terus mengelus tanganku dengan lembut. Seolah berusaha menyampaikan semua perasaannya lewat sentuhan tersebut.
"aku juga ingin minta maaf karena sudah membuatmu melakukan semua persiapan pernikahan kita sendirian tanpa ada campur tangan dariku."
"dan penyesalanku yang terbesar adalah.. aku lengah, sehingga Junhui bisa menculikmu saat itu. Aku benar-benar minta maaf.."
Mingyu terus berkata bahwa ia menyesal.
Yah, keputusannya cukup tepat. Aku memang menginginkan permintaan maaf dari mulutnya setelah apa yang ia lalui bersama Kyulkyung kemarin.
Jujur saja, kemarin aku benar-benar sakit hati saat melihatnya dengan Kyulkyung.
Aku ingin tahu kenapa ia melakukan hal itu, namun tidak sanggup juga mendengarnya.
"aku juga sudah tahu bahwa kau sudah berkata pada eomoni untuk membatalkan pernikahan kita. Tapi maaf.. aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku tahu aku egois dan seenaknya setelah apa yang kulakukan padamu. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja. Maaf Wonwoo-ya, tapi pernikahan kita tetap akan dilangsungkan beberapa hari lagi." ucapnya, membuatku sedikit kaget.
"tapi... kenapa? Bukankah kau masih mencintai Kyulkyung?" tanyaku pelan, berusaha melepaskan genggaman tangannya pada tanganku.
Ia menggeleng, lalu kembali mengeratkan tangannya pada milikku.
"tidak, ternyata aku salah. Itu semua bukan cinta. Itu hanya sisa-sisa rasa penyesalan yang tertinggal karena kami belum menyelesaikan masalah kami dengan baik. Namun sekarang setelah aku mengetahui semuanya, dan masalah kami sudah selesai.. aku menyadari suatu hal."
"orang yang aku cintai sekarang adalah kamu, Wonwoo-ya. Kau dan aegy, sudah membuatku jatuh cinta.."
Ucap Mingyu, kemudian mengelus perutku dengan menggunakan sebelah tangannya yang menganggur.
"kau ingat taruhan kita dulu? Soal siapa yang bisa membuat siapa jatuh cinta terlebih dulu? Aku mengaku kalah. Kau menang. Jadi kau bisa meminta apapun yang kau inginkan, dan aku akan mengabulkannya." Ucap Mingyu lagi.
Kali ini benar-benar membuatku terharu.
Aku bahkan bisa merasakan air mataku yang jatuh perlahan.
Kulepaskan tangannya yang masih bertengger di tanganku untuk menghapus jejak air mata yang tertinggal.
Aku benar-benar menangis sekarang. Tapi rasanya berbeda.
Aku tidak keberatan jika Mingyu melihatku menangis sekarang.
Aku benar-benar terharu dan merasa senang.
Kemudian kugelengkan kepalaku.
"aniya.. bukan kau yang kalah. Tapi aku.. sebelum kau mencintaiku, aku sudah mencintaimu lebih dulu.. jadi aku yang kalah..." ucapku pelan, membuat ia seketika terdiam.
"be-benarkah itu?" tanyanya seolah tidak percaya.
"Mingyu.. kemarin aku bersumpah pada Tuhan, bahwa jika aku mempunyai sekali lagi kesempatan untuk bertemu denganmu, aku akan mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu. Lalu Tuhan mengabulkan doaku. Jadi.. Mingyu, aku benar-benar mencintaimu."
Ucapku dengan suara sedikit serak.
Mingyu diam saja tidak membalas, namun tidak lama kemudian ia segera beranjak dari kursinya, lalu berdiri untuk memelukku erat.
"aku juga mencintaimu. Maaf karena aku terlambat menyadarinya." Ucapnya lirih.
Aku mengangguk, kemudian berusaha menelusupkan kepalaku kedalam ceruk lehernya.
"aku yang kalah, jadi.. kau bisa mengucapkan keinginanmu.." ucapku pelan masih sambil memeluk tubuhnya.
Ia kemudian melepaskan pelukan kami, lalu mengecup keningku perlahan.
"setelah kuingat-ingat, aku juga punya satu hutang padamu. Kau ingat dulu saat kita ingin pergi ke Changwon untuk melamarmu? Aku pernah berkata bahwa aku akan mengabulkan apapun keinginanmu, bukan?"
"jadi sepertinya kita impas. Kau bisa mengabulkan satu keinginanku, dan aku akan mengabulkan satu keinginanmu." Ucap Mingyu lagi, membuatku terkekeh, lalu menganggukan kepalaku pelan.
"dimulai dari kau. Ayo, ucapkan permintaanmu." Ucapku padanya.
Ia keliahatan tengah berpikir, tapi tidak lama kemudian ia tersenyum lebar.
"aku tahu."
"permintaanku adalah.. agar kau mau menikah denganku, lalu membesarkan aegy bersama, memberikan adik untuk aegy, dan menua bersamaku. Itu permintaanku." Ucap Mingyu membuatku mencubit pipinya pelan karena gemas.
"eeyy.. kenapa sifat mesummu tidak pernah hilang, eoh? Aku bahkan belum melahirkan aegy, tapi sudah minta adik.."
Ia tertawa, membuatku juga turut tertawa.
"baiklah. Aku akan menuruti permintaanmu. Tapi soal adik untuk aegy.. mari kita lihat saja nanti.."
Mingyu menganggukan kepalanya perlahan.
"cha, sekarang ucapkan permintaanmu!" ucapnya.
Aku tersenyum, kemudian mengecup pipinya lembut.
"permintaanku adalah.. kau harus menjadi seorang appa yang baik untuk aegy, dan suami yang baik untukku. Itu saja."
Mingyu terdiam. Membuatku sedikit berpikir bahwa ia keberatan dengan permintaanku, namun tiba-tiba ia mengangkat tangannya dalam posisi hormat.
"siap, Nyonya Kim!"
Kemudian kami tertawa setelah berhasil mengatakan perasaan kami masing-masing, yang mana membuat hatiku terasa legat dan hangat.
.
.
.
.
setelah mengantarkan Wonwoo dan memastikan ia dirawat dengan baik di Rumah Sakit milik keluarga Kim, aku segera bergegas pergi menuju kantor polisi untuk memberikan keterangan.
Beberapa saat yang lalu pihak kepolisian meneleponku untuk meminta kesaksian, dan aku akan dengan senang hati melakukannya.
Aku ingin Junhui dihukum dengan cukup berat.
Pasalnya Wonwoo sampai harus dirawat di Rumah Sakit akibat kelakuannya itu.
Lalu hanya dalam waktu satu jam aku sudah tiba di kantor polisi tempat Junhui berada.
"annyeong haseyo.." ucapku pelan saat memasuki kantor tersebut.
Dapat kulihat disana Junhui yang sudah masuk kedalam sebuah sel yang juga diisi oleh beberapa orang pria bertampang seram.
"ah, annyeong haseyo, tuan Kim Mingyu. Mari duduk." Ucap seorang polisi, lalu menyuruhku untuk duduk dihadapannya.
"terima kasih sudah mau datang. Anda benar-benar membantu pekerjaan kami. Jadi, bisa kita mulai?" tanya polisi tersebut, membuatku menganggukan kepalaku pelan, sambil terus berusaha mencuri pandang kepada Junhui yang masih menundukkan kepalanya.
"jadi.. bagaimana anda bisa tahu bahwa Tuan Wen Junhui menculik nona Jeon Wonwoo?" tanya polisi itu.
"ibunya Wonwoo bercerita kepadaku bahwa ia tidak bisa menghubungi Wonwoo dalam waktu dua hari terakhir. Sebelumnya, aku ingin memberi tahu anda bahwa aku adalah calon suami Wonwoo. Dan kami kebetulan tengah bertengkar saat Junhui melakukan aksi penculikannya, sehingga aku tidak mengetahui hal tersebut."
Ucapku terus menjelaskan, sambil polisi tersebut mengetikkan sesuatu di komputernya.
"namun setelah mendapatkan kabar bahwa Wonwoo menghilang, aku mencari tahu dimana ia terakhir berada, dan menemukan rekaman CCTV di pintu depan sebuah cafe dekat butik Wonwoo bekerja."
Polisi itu manganggukan kepalanya, lalu bertanya,
"apakah anda tahu ada hubungan apa antara pelaku dengan korban?"
Kembali kulirik Junhui yang masih belum beranjak dari posisinya.
"ya. Mereka adalah mantan kekasih."
"Junhui dan Wonwoo merupakan sepasang kekasih sejak dua tahun yang lalu. Namun mereka harus berpisah karena saat itu Wonwoo memergoki Junhui tengah berselingkuh. Tidak hanya itu, sesungguhnya Junhui sudah mencoba untuk melakukan penculikan ini hampir satu bulan yang lalu. Namun saat itu aku berhasil menggagalkannya."
Polisi tersebut seolah terkejut mendengar hal ini. ia menatapku dalam.
"apakah anda serius? Anda memiliki bukti bahwa Tuan Junhui mencoba untuk menculik korban sejak satu bulan yang lalu?"
Aku mendengus, kemudian menatap polisi itu dengan dalam juga.
"anda bisa bertanya kepada rekan kerja korban di butik jika tidak percaya. Junhui bahkan menghampiri Wonwoo di butiknya. Di depan teman-temannya, ia mengajak Wonwoo untuk pergi."
Polisi itu kembali mengetik. Kemudian tersenyum padaku.
"baiklah kalau begitu. Kami akan memproses masalah ini berdasarkan hukum yang berlaku. Terima kasih atas bantuannya, Tuan Kim Mingyu. Kami akan mengabari anda lagi secepatnya." Ucapnya, lalu aku sedikit menundukkan kepalaku.
"ah, sebelumnya, bolehkah aku menemui Junhui? Ada yang ingin kusampaikan padanya." Tanyaku pada polisi tersebut, kemudian segera diiyakan olehnya.
Aku berjalan dengan pelan menuju sel tempat Junhui berada.
Pria itu kelihatan kacau.
Jujur saja, ia terlihat menyedihkan.
Namun itu semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang Wonwoo rasakan kemarin.
"kita bertemu lagi." ucapku padanya, membuat ia mengangkat kepalanya, kemudian menatapku nyalang.
"sial! Brengsek kau! Apa yang kau lakukan, hah?! Kau sudah menggagalkan rencanaku!" teriaknya penuh emosi dengan nafas terengah-engah.
Aku membalas tatapannya tanpa gentar.
Pria ini benar-benar tidak patut dikasihani.
Ia bahkan sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan.
"sudah kubilang, jangan pernah muncul lagi dihadapanku. Dan juga Wonwoo. Tapi kenapa kau tidak mau dengar?"
"aaahhh! Diam kau!" teriaknya lagi.
Kini aku turut berjongkok untuk menyamakan tinggi wajahku dengannya yang sedang duduk.
"kau tahu, seharusnya kau tidak perlu melakukan ini dari awal. Karena Wonwoo tidak akan kembali padamu." Ucapku lagi, membuat ia benar-benar melotot menatapku.
"hmph! Apa yang kau ketahui?! Wonwoo dan aku, kami saling mencintai! Dan akan terus begitu, karena aku akan kembali merebutnya darimu nanti!" ucapnya masih dengan nada penuh emosi, membuatku menghela nafas panjang.
"kalau kau mencintainya, kenapa kau khianati dia dulu?" tanyaku pelan, membuat ia segera mengalihkan pandangannya.
"aku sudah tahu semuanya. Wonwoo sudah mengatakannya padaku. Kau tahu? Sesungguhnya aku harus berterima kasih padamu karena sudah mengkhianati Wonwoo dulu."
"berkat kau, Wonwoo jadi stress dan pergi ke bar. Lalu di bar itulah aku bisa bertemu dengannya. Dan ia bercerita padaku tentang bagaimana kekasih yang ia cintai menkhianatinya dan malah berselingkuh di belakangnya dengan teman yang ia percayai."
Ucapku dengan suara tegas.
Kini Junhui sudah tidak lagi melotot. Namun ia masih menatapku dalam.
"lagipula kau seharusnya belajar mengikhlaskan apa yang bukan menjadi milikmu."
"dengar. Meskipun kemarin aku tidak datang, dan kau berhasil membawa pergi Wonwoo, aku tidak yakin bahwa kau akan tetap mencintainya sama seperti dulu. Wonwoo, sekarang wanita itu tengah mengandung anak kami."
Kuhela nafasku kembali sebelum mengatakan hal ini.
"kecuali kau benar-benar tulus mencintai Wonwoo, apa kau tidak masalah dengan keadaannya yang tengah mengandung darah daging orang lain?" tanyaku lagi.
Kini raut wajah Junhui membuatku sedikit iba padanya.
Ia terdiam dengan tatapan mata kosong.
"sudah kubilang, kau telah melakukan hal yang tidak berguna."
Kemudian aku kembali berdiri dan merapikan pakaianku.
"yah, tapi bagaimanapun kau telah melakukan kesalahan, Wen Junhui. Renungkanlah kesalahanmu didalam sel ini. lalu beberapa tahun lagi setelah kau keluar dari sini, kuharap kau bisa menjalani hidupmu dengan benar.." ucapku lagi, lalu benar-benar pergi dari sana.
Meninggalkan Junhui yang masih terdiam, shock dengan kenyataan yang baru saja kupaparkan padanya.
Aku membawa mobilku kembali menuju Rumah Sakit untuk menemui Wonwoo.
Meskipun ini adalah hari liburku, namun aku tetap harus pergi kesana untuk menemui Wonwoo.
Untung saja jalanan tidak seramai tadi, sehingga hanya membutuhkan waktu 40 menit bagiku untuk sampai kesana.
"CKLEK"
"eoh? Kau datang? Darimana saja?" tanya Wonwoo sambil mengalihkan pandangannya menatapku.
Aku berjalan mendekati brangkarnya.
Ia kini sedang menggambar sesuatu diatas buku sketsanya. Kelihatan seperti sebuah gaun pengantin.
Dan aku tiba-tiba kembali merasa bersalah jika mengingatnya.
"kenapa kau menggambar? Nanti kepalamu pusing lagi.." ucapku sambil berusaha untuk meraih pensil di tangannya, namun ia mengelak.
"aku bosan, Mingyu.. biarkan aku melakukan ini oke?" ucapnya memohon, membuatku sedikit tidak tega.
"maafkan aku.." ucapku pelan sambil terus memperhatikan desain gaun yang sedang ia buat.
"eum? Untuk apa?" tanyanya menatapku polos.
"karena aku, kita tidak sempat melakukan fitting gaun. Kau jadi tidak bisa menggunakan gaun yang kau inginkan. Maaf, karena waktu yang terbatas, kita hanya bisa menyewa gaun yang sudah jadi. Aku tahu kau kecewa.." ucapku lagi.
Namun ia tiba-tiba terkekeh, membuatku bingung.
"hahaha, sok tahu.." ucapnya pelan, lalu mencubit pipiku.
"kata siapa aku kecewa? Tidak. Aku biasa saja. Apa kau pikir karena aku adalah seorang designer, itu berarti aku harus mengenakan gaun rancanganku sendiri di pesta pernikahanku?"
"hmph, jangan konyol, Kim Mingyu. Kau kenal aku, kan?" tanyanya sambil terus mengeratkan cubitannya di pipiku.
"aku sama sekali tidak keberatan jika harus menikah dengan gaun sewaan. Lagipula di zaman seperti ini, untuk apa kita membuat baju pengantin khusus untuk kita sendiri? Toh, kita hanya akan memakainya satu kali seumur hidup. Kecuali kau memiliki uang yang sangat banyak, maka, ya.." ucapnya lagi sambil mengangkat bahu.
Aku berusaha melepaskan cubitannya di pipiku.
"lagipula kenapa kau berpikiran bahwa aku ingin mengenakan gaun ini? apa kau tahu? Aku melakukan ini karena aku bosan. Dan, yah.. sebenarnya aku memang mendesain gaun ini untuk Jeonghan eonni yang akan menikah dua bulan lagi."
Aku terus menatap Wonwoo yang masih tersenyum sambil mengelus sayang desain yang ia buat diatas kertas.
Sungguh, itu adalah sebuah gaun yang sangat cantik.
Wonwoo pasti terlihat menakjubkan jika mengenakan itu.
"tapi bukankah kau bilang kau punya ide tentang konsep pernikahan kita?" tanyaku pelan.
Ia kembali menatapku lalu berdecak.
"apakah itu penting sekarang?"
"ya.. jika kita ingin menuruti keinginanku untuk menikah dengan konsep, apa itu berarti kau rela pernikahan kita diundur lagi, setidaknya hingga satu bulan kedepan?" tanya Wonwoo sambil menatapku jahil, membuatku segera menggelengkan kepala.
"maka dari itu, Mingyu.. kau jangan terlalu memikirkan soal itu. Karena itu sama sekali tidak penting." Ucapnya, kemudian terkekeh, membuatku tersenyum.
Wonwoo dan jalan pikirannya yang tidak pernah berhenti membuatku terpana.
"ya. Baiklah kalau begitu."
Ia kemudian meletakkan buku sketsa dan pensilnya diatas meja nakas, kemudian menatapku sambil mengerjapkan matanya imut.
"aku mau tidur." Ucapnya pelan.
Kuangkat sebelah alisku.
"lalu? Tidur saja. Aku tidak memegangi matamu." Ucapku tidak mengerti.
Ia segera memanyunkan bibirnya, kemudian memukul perutku pelan.
"ish! Kau sama sekali tidak berubah! Masih saja tidak peka! Bantu aku! Angkat bantal ini dari punggungku!" ucapnya kesal, membuatku terkekeh saat sadar.
"ah.. mian, mian.." kemudian membantunya untuk berbaring.
"haaah.. " Wonwoo menghela nafasnya lega setelah berhasil membaringkan tubuhnya.
"kau tidak lelah?" tanyanya pelan.
"heum?"
"kau baru pulang dari kantor polisi, kan? Apa kau tidak lelah?" ucapnya lagi.
Kugelengkan kepalaku pelan.
Ia tersenyum mendengar ucapanku, kemudian menarik tanganku agar mendekat padanya.
"kalau begitu.. appa, temani aku dan aegy disini."
Aku mendengus pelan, namun segera kembali tersenyum.
"ish.. eomma kenapa manja sekali, eoh?" ucapku, kemudian menaikkan tubuhku agar turut berbaring di atas brangkar Wonwoo, disamping wanita itu.
Untung saja brangkar Wonwoo cukup besar, mengingat ia yang memang dirawat di ruang VVIP.
Kuletakkan tanganku diatas perutnya, kemudian kuelus pelan.
"kamu benar-benar kurus untuk ukuran wanita yang sedang mengandung dua bulan.." ucapku.
Ia menganggukan kepalanya.
"ya. Aku tahu itu."
Kucubit pelan pipinya yang kembali tirus setelah berhasil menggembul beberapa waktu lalu.
"huh. Kau lihat saja. Tidak lama lagi aku akan membuat berat badanmu bertambah. Bersiaplah.."
Wonwoo tertawa mendengar ucapanku.
"hahaha.. nanti kau tidak suka lagi padaku, jika aku gemuk?" ucapnya pelan, sambil memejamkan matanya.
Sepertinya ia benar-benar mengantuk saat ini.
Kukecup pelan pipinya, dan kudekatkan bibirku pada telinganya.
"tidak mungkin. Aku mencintaimu." Bisikku padanya.
Membuat ia sedikit berbalik menghadapku, lalu memeluk tubuhku.
"aku juga."
Membuat hatiku benar-benar terasa hangat saat mendengarnya.
"aku lebih mencintaimu." Ucapku, entah ia mendengarnya atau tidak, karena bisa kurasakan helaan nafasnya yang sudah teratur.
"selamat tidur, mimpi yang indah. Appa menyayangi kalian.."
TBC
Haaaiii...
Ada yang kangen sama ff abal-abal nan absurd ini?
Jujur aku kangen kalian, tapi baru bisa update ini sekarangg.. kuliah juga lagi sibuk-sibuknya, pokoknya hectic : ((
Aku gatau ini kabar gembira atau kabar menyedihkan untuk kalian, tp chapter depan sepertinya akan menjadi last chapter bagi ff ini.
Hahah, aku juga minta maaf. Padahal ini projek paling terakhir yang kubuat, tapi malah selesai paling pertama.
Aku juga lagi pengen buat cerita oneshot gitu, tapi belum selesai. Pokoknya nanti kalau udah gak terlalu sibuk aku bakalan langsung post begitu series ini selesai.
Akhir kata, terima kasih karena kalian udah mau meluangkan waktu untuk membaca karya absurdku yang masih amburadul ini, terima kasih juga yang udah review, fav, dan following.
Sungguh, kalian adalah penyemangat disela-sela kesibukan duniawi yang tiada habisnya.
Tapi kuharap review kali ini ga melorot lagi kayak kemarin ya, karena dalam kurun waktu yang tidak terlalu jauh, kita bakalan berpisah : ((
Last butnot least, review juseyoo and have a nice weekend!
SEE YOU ON THE NEXT CHAPTER FELLAS!
