TITLE :One Night Stand

GENRE :Romance, Drama

RATING :M

CAST :Wonwoo (GS), Mingyu

DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.

SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .

This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))

.

.

.

.

Kemarin siang aku sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Dengan diantar oleh Mingyu beserta eomma dan appaku menuju apartemenku.

Mingyu sudah menceritakan semuanya padaku.

Soal kedua keluarga kami yang sudah mengetahui bahwa aku hamil.

Dan juga Junhui yang kini mendekam di penjara.

Aku tentu terkejut saat mendengar bahwa ternyata para orang tua sudah mengetahui kabar kehamilanku.

Kupikir mereka akan memarahiku, namun ternyata tidak.

Dan saat kutanya mengapa pada Mingyu, pria itu berkata bahwa ia sudah menggantikan posisiku untuk dimarahi oleh para orang tua sambil memasang wajah sedikit cemberut, membuatku tertawa.

Lalu kembali ke masalah Junhui.

Yah.. sesungguhnya aku tidak sampai hati jika harus mengirimnya ke penjara hingga bertahun-tahun. Toh, ia melakukan itu semua karena rasa cintanya padaku.

Hanya saja cara pria itu menunjukkan rasa cintanya itu salah.

Aku sempat berdebat dengan Mingyu soal ini semua, namun pria itu bersikeras bahwa Junhui pantas mendapatkan itu.

Ia berkilah bahwa Junhui hampir saja membahayakan keselamatanku dan juga aegy, membuatku tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya menuruti ucapannya saja.

Ah, dan aku juga sudah mendengar semuanya soal Kyulkyung.

Tentang wanita itu yang ternyata sudah mengelabui Mingyu sejak dulu. Bahkan sejak mereka masih menjalin hubungan.

Wanita itu bahkan menjual dirinya sendiri demi uang. Dan Mingyu berkata bahwa ia menyesal dulu sudah berkata tidak sopan pada eommanya karena sudah menghina Kyulkyung. Nyatanya wanita itu memang pantas diperlakukan seperti itu.

Namun satu hal yang tidak kumengerti adalah, darimana ibunya Mingyu mengetahui bahwa Kyulkyung adalah wanita jahat sejak dulu? Mingyu bahkan baru mengetahuinya baru-baru ini.

Namun ya sudahlah, itu semua sudah berakhir.

Kini semuanya sudah berjalan dengan lancar. Dan yang harus kupikirkan sekarang yaitu pernikahanku dengan Mingyu yang akan diadakan dua hari lagi.

Dan siang ini aku dan eomma, serta ibunya Mingyu akan melaksanakan fitting gaun pengantin.

Dan tidak lama kemudian eomma serta ibunya Mingyu sudah tiba di apartemenku.

"halo, Wonwoo sayang.." ucap eomoni sambil memeluk tubuhku erat.

Kubalas pelukannya itu, tidak lupa juga kupeluk eommaku sendiri.

"apa keadaanmu sudah baik-baik saja?" tanya eomma masih menatapku khawatir.

"nan gwenchana, eomma.. ayo kita pergi, ini kesempatan terakhir kita." Ucapku menatap kedua ibu paruh baya tersebut.

Mereka berdua menganggukkan kepala mereka pelan, lalu kami segera masuk kedalam mobil ibunya Mingyu dengan diantarkan supir keluarga Kim.

"bagaimana dengan Mingyu?" tanya eomma padaku.

Sejujurnya aku juga tidak tahu. Aku lupa bertanya padanya.

"ah, anak itu nanti akan melakukan fitting tuxedo dengan ayahnya. Kalian jangan khawatir. Tuan Jeon dan Boohyuk juga, sudah fitting tuxedo, kan?" tanya ibunya Mingyu membalas pertanyaan eomma.

"ya. Mereka sudah melakukannya di butik di daerah Changwon." Ucap eomma.

Di sepanjang perjalanan kami terus mengobrol. Syukurlah, hubungan eomma dan ibunya Mingyu sangat baik, membuatku sangat lega. Ibunya Mingyu juga terkadang tidak sungkan-sungkan bertanya soal keluargaku yang lain.

"eomoni.. bolehkah aku bertanya?" ucapku pelan.

"tentu saja, sayang. Silahkan.."

"anu.. itu.. bagaimana dengan Minseo?" tanyaku lagi.

Ibunya Mingyu hanya menghela nafasnya pelan.

"bagaimana apanya? Aku tidak mengerti maksudmu, Wonwoo-ya.."

"aku ingin mengundang Minseo di acara pernikahan kami. Apakah tidak apa?"

Ibunya Mingyu hanya mengangkat kedua alisnya, merasa bingung dengan pertanyaanku.

"kau ini bicara apa? Minseo itu kan adik iparmu. Tentu saja ia akan berada disana. Hahaha.. kau ini aneh sekali, Wonwoo-ya.."

Menbuatku tersipu malu atas pertanyaanku barusan.

Ibunya Mingyu kembali tersenyum tipis.

"yah, beberapa saat yang lalu, kuakui memang hubungan keluarga kami sedikit merenggang. Aku bahkan pernah dengan teganya hampir menganggap ia bukan lagi anakku. Namun kesalahan seberat apapun, sebesar apapun, seorang ibu mana mungkin tega membuang anaknya sendiri?"

"jadi.. kupikir aku sudah memaafkan semuanya. Lagipula setelah kukenali lebih lanjut, ternyata suaminya tidak terlalu buruk. Ia pria baik yang bertanggung jawab. Sejujurnya aku malah sedikit bersyukur sekarang."

Ucap ibunya Mingyu lagi masih tersenyum memandangku.

"intinya, keluarga kami baik-baik saja sekarang. Malah kebahagiaan kita akan bertambah dengan adanya dirimu dan calon cucu eomma ini. hahaha, aku tidak menyangka. Aku akan mendapatkan dua orang cucu sekaligus.."

Aku dan eomma turut tersenyum. Merasakan juga kebahagiaan yang melingkupi kami.

Dan tidak lama kemudian kami telah tiba di butik yang ditunjuk oleh ibunya Mingyu.

Aku segera mencoba gaun pengantin yang dipilihkan oleh eomma dan ibunya Mingyu, namun setelah hampir mencoba lima gaun, aku merasa lelah.

Karena pasalnya, mereka tidak juga merasa cocok.

Padahal menurutku gaun-gaun itu sangat cantik.

"Wonwoo, ini yang terakhir sayang, eomma berjanji. Cobalah.." ucap eomma sambil memberikanku sebuah gaun dengan potongan sabrina yang akan memperlihatkan pundakku, serta bagian pinggulnya yang melebar.

Juga ada sedikit aksen pita dan berlian biru diatasnya, membuatku langsung jatuh cinta pada gaun ini.

Aku akan memilih gaun ini, tekadku dalam hati. Tidak peduli apakah mereka menyukainya atau tidak.

Dan setelah kucoba gaun tersebut, seorang pegawai wanita yang sedari tadi membantuku berdecak kagum.

"wah, anda sangat cantik, nona.. mari kita tunjukkan pada orang yang berada di luar.." ucap pegawai tersebut sambil membuka tirai fitting room.

Meskipun gaun ini sangat cantik, namun bahannya cukup berat, membuatku sedikit kesulitan berjalan, sehingga aku harus sedikit menunduk jika tidak mau bagian bawah gaunnya terinjak.

"wow, calon istiku sangat cantik.."

Ucap sebuah suara bariton yang sangat familiar di telingaku.

Kuangkat kepalaku, kemudian mendapati pria itu tengah berdiri tepat dihadapanku.

Ya, Kim Mingyu yang sudah berada di hadapanku. Dengan dibalut sebuah tuxedo putihnya dan dasi biru dongker yang berkilauan.

Rambutnya ditata keatas, memperlihatkan dahinya yang –ehm, seksi. Dan juga senyum sumringahnya yang membuat gigi taringnya mencuat keluar membuatku tiba-tiba merasa sangat berdebar-debar.

"ckckck, aku memang tidak salah pilih.." ucapnya lagi. membuatku semakin malu.

Kualihkan kepalaku, menatap kelain arah, membuat ia segera menarik daguku lembut.

"eyy.. kenapa membuang muka begitu, eoh? Tidak mau menatap suamimu yang tampan ini, eoh?" ucapnya konyol, membuatku segera mencubit kecil pinggangnya.

"ish! Appo!" pekiknya.

"lagipula kenapa kau mengatakan hal yang memalukan begitu, eoh?"

Ia hanya mendengus kecil, kemudian melangkah mendekatiku, membuatku harus menengadahkan kepalaku juga mau menatapnya.

"tapi aku tampan, tidak?" bisiknya padaku.

Membuat wajahku lagi-lagi terasa panas.

"euhm?" tanyanya masih berusaha memastikan.

"tampan." Ucapku pendek tanpa nada istimewa sama sekali.

"apa? Aku tidak dengar."

"ish! Tampan."

"ya.. katakan dengan benar. Katakan 'suamiku, kau sangat tampan.' Begitu.."

Kugigit bibirku kesal, membuat ia segera menarik daguku kembali.

"lupa, kalau aku tidak suka kau menggigiti bibirmu?" tanyanya dengan nada tegas.

Ups. Salahku.

Aku segera tersenyum malu-malu, kemudian melingkarkan lenganku di lehernya.

"suamiku yang tampan, jangan marah, ne?"

"ck."

"CUP."

Ia berdecak sambil melirikku kesal.

Namun beberapa detik kemudian segera mengecup bibirku.

"yaish!" ucapku kesal sambil menutupi mulutku. Untung saja para orang tua sedang mencoba gaun mereka masing-masing. Kalau tidak mereka pasti mengomel.

"hahaha.. itu hukuman untukmu. Ya sudah, sekarang bagaimana dengan gaunnya? Kau suka gaun ini?" tanyanya sambil kembali menatapku dari atas kebawah.

Kuanggukan kepalaku antusias, membuat ia juga tersenyum senang.

"baiklah. Kami ambil yang ini."

.

.

.

.

Setelah selesai melakukan fitting baju pengantin, kami berempat – aku, Wonwoo, eommaku, serta eommanya Wonwoo makan siang bersama di sebuah Restaurant China yang terletak tidak jauh dari butik yang baru saja kami sambangi.

Kami sudah duduk didepan meja makan, dan aku baru saja ingin membuka obrolan, tetapi tiba-tiba ponsel eommanya Wonwoo berdering.

"ah, maaf. Aku harus mengangkat panggilan dari suamiku ini. kalian mrngobrollah lebih dulu." Kemudian segera pergi menuju toilet.

Aku seketika jadi teringat sesuatu. Mumpung eommanya Wonwoo tidak berada disini, kupikir ini adalah kesempatan yang bagus untuk bertanya.

"eomma." Panggilku pada eommaku yang sedang menyeruput teh hangatnya.

"eoh?"

"aku ingin bertanya. Bagaimana eomma dulu bisa mengetahui bahwa Kyulkyung adalah wanita yang jahat?" tanyaku pada eomma, membuat eommaku dan juga Wonwoo segera menatapku dengan tatapan terkejut.

Namun tidak sampai beberapa menit, eomma segera mengembalikan raut wajahnya seperti biasa, dan tersenyum lemah.

"sebenarnya eomma juga tidak tahu. Itu semua murni berdasarkan insting." Ucap eommaku membuatku sedikit terkejut.

"a-apa? Jadi dulu eomma hanya asal bicara?" tanyaku bingung.

Namun sepertinya eommaku juga tidak terima jika ia dibilang hanya asal bicara. Eomma langsung mendengus, kemudian melirikku tajam.

"enak saja! Tentu tidak! Asal bicara dan insting itu berbeda, Kim Mingyu!"

"dulu sekali, sebelum kau memperkenalkan wanita itu pada kami, eomma sempat mendengar percakapan para bidan di poli kandungan. Saat itu eomma kebetulan sedang lewat, dan tidak sengaja mendengar ucapan mereka karena mereka menyebutkan namamu. Sebagai seorang ibu, tentu saja aku tertarik untuk mendengar percakapan mereka."

Aku melirik Wonwoo yang masih terdiam di tempat duduknya, dan segera menggenggam erat tangan wanitaku itu, membuat ia menoleh padaku, lalu tersenyum tipis.

"eomma mendengar pembicaraan para bidan, bahwa Joo Kyulkyung itu bukan wanita baik-baik. Mereka berkata bahwa Kyulkyung hanya memanfaatkan dirimu sebagai kekasih. Lalu mereka juga berkata bahwa Kyulkyung diam-diam adalah seorang wanita panggilan. Awalnya aku tentu saja tidak mempercayai itu, kau tau jelas sifatku, bukan?"

"namun aku segera melakukan pengecekan pada latar belakangnya, dan itu membuatku terkejut. Mingyu, apa kau ingat paman Jung?" tanya eomma padaku, namun aku hanya menggelengkan kepalaku karena tidak mengerti sama sekali apa yang eomma tengah bicarakan.

"coba kau ingat sekali lagi. kau pasti tahu dia. Paman Jung, Jung Yunho. Suaminya bibi Kim Jaejoong. Kau ingat?"

Aku mencoba untuk memutar ingatanku, dan segera memekik pelan saat berhasil mengingatnya. Paman Jung Yunho? Ya! Aku ingat dia! Dulu appa dan paman Jung sering mengajakku untuk pergi memancing bersama.

Paman Jung tidak memiliki anak, sehingga ia seringkali mengajakku ataupun Minseo untuk pergi bermain bersama istrinya.

"ya, aku ingat sekarang. Wae?" tanyaku bingung. Apa hubungannya paman Jung dengan Kyulkyung?

"kau pasti ingat kan, paman Jung pernah mendirikan sebuah perusahaan bernama Taesan? Pamanmu itu membangun perusahaannya dimulai dari nol. Ia benar-benar berusaha keras saat itu. Tapi apa kau tahu? Alasan kenapa tiba-tiba perusahaan tersebut bangkrut dan paman Jung tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi?" tanya eomma lagi, membuatku semakin penasaran.

"pamanmu itu mengalami kebangkrutan karena ia ditipu oleh rekan kerjanya sendiri. Ia difitnah telah melakukan pencucian uang oleh kliennya, padahal ia sama sekali tidak pernah melakukan hal itu. Sehingga dengan terpaksa perusahaannya harus disita oleh bank, dan orang yang melakukan penipuan itu melarikan diri dengan membawa kabur uang klien pamanmu."

"yang lebih mengejutkan lagi, ternyata orang yang melakukan hal itu tidak lain dan tidak bukan adalah Joo Hankyung. Ayah dari Joo Kyulkyung." Ucap eomma membuatku semakin bingung dan tidak mengerti.

"tunggu sebentar.. eomma bilang Joo Hankyung pelaku penipuan? Darimana eomma bisa tahu hal itu?" tanyaku menginterupsi cerita eomma.

Eomma menghela nafasnya kencang.

"pamanmu yang bercerita pada appamu. Bahwa ia telah ditipu. Oleh seseorang bernama Joo Hankyung. Dan saat ia melaporkan pria itu ke polisi, semua sudah terlambat. Joo Hankyung sudah melarikan diri entah kemana, meninggalkan keluarganya yang masih berada di Korea."

"dan eomma tidak pernah menyangka bahwa Joo Hankyung yang telah menipu pamanmu adalah Joo Hankyung yang sama dengan ayah mantan kekasihmu itu." Ucap eomma lagi, kali ini sedikit mendengus.

Aku menatap eomma seolah tidak percaya. Ini semua terjadi begitu kebetulan. Seperti cerita dalam novel.

"apa eomma yakin mereka adalah orang yang sama? tidak hanya 1 atau 2 orang bernama Joo Hankyung di Korea ini."

Lagi-lagi eomma memutar bola matanya malas menatapku.

"aku yakin 100%, mereka adalah orang yang sama. Joo Hankyung dikatakan memiliki seorang putri yang ia tinggalkan dulu saat masih kecil. Dan ternyata nama putrinya itu adalah Joo Kyulkyung. Apa kau masih bisa mengelak? Dan semua data diri mereka persis, membuatku semakin yakin."

Aku masih terdiam setelah mendengar ini semua. Kenapa baru sekarang eomma katakan hal ini kepadaku? Kalau saja aku tahu dari awal, aku tentu tidak akan melakukan kesalahan seperti kemarin.

Aku kembali menatap eomma.

"lalu? Bagaimana dengan paman Jung?" tanyaku penasaran. aku kini baru ingat. Terakhir kalinya aku bertemu dengannya adalah lima belas tahun yang lalu. Pantas saja aku melupakan dirinya.

"setelah appamu menjamin paman Jung dari penjara, ia dan istrinya pergi ke Kanada."

"tapi.."

"tapi kenapa?" ucapan eomma yag menggantung membuatku sedikit gemas dan penasaran.

"setelah kejadian itu, keluarga mereka tidak pernah sama lagi. keadaan bibi Kim yang lemah semakin menjadi setelah suaminya masuk penjara, dan meskipun paman Jung sudah keluar dari sel, kondisi kesehatannya tidak juga membaik. Ia akhirnya meninggal tepat satu tahun setelah paman Jung bebas dari tahanan."

"lalu tidak hanya itu.. setelah kematian istrinya, paman Jung seolah berubah. Ia bukan lagi Jung Yunho yang dulu, ia menjadi sangat murung, tidak ada orang yang mengurusnya. Padahal dulu kami tidak keberatan jika ia tinggal bersama kita. Lalu begitu saja, ia menjadi pria penyakitan, dan tidak lama setelah kematian istrinya, pria malang itu turut berpulang."

"hah!"

Wonwoo segera menangkupkan wajahnya dengan kedua tangan mendengarkan ucapan eomma. Padahal ia tidak mengenal paman Jung, namun wanita itu sudah merasa emosional hanya dengan mendengarkan cerita eomma.

Aku segera menariknya kedalam pelukan, lalu mengelus pundaknya secara pelan dan teratur, membuat agar keadaannya membaik. Bisa kudengar isakan pelan Wonwoo, membuatku juga semakin terluka.

Aku terus mengelus punggunggnya, sambil sesekali mengecup lembut puncak kepalanya. Jujur saja, aku tiba-tiba merasa sangat sedih.

Paman Jung dan bibi Kim adalah orang yang sangat baik. Benar-benar baik. Aku dan Minseo sangat menyukai mereka berdua.

Kondisi tubuh bibi Kim yang lemah tidak memungkinkannya untuk memiliki keturunan, namun paman Jung sama sekali tidak terganggu dengan hal itu. Ia juga tidak memilih untuk berpaling pada wanita lain dan meninggalkan istri tercintanya hanya karena ia tidak bisa memberikan keturunan.

Sebagai gantinya, mereka berdua sangat menyayangi anak-anak. Kini aku ingat, tidak jarang mereka berdua memanggilku seperti mereka memanggil anak mereka sendiri.

Membuatku semakin sedih saat mengingat mereka. Bagaimana bisa aku melupakan mereka? Tiba-tiba aku merasa sangat buruk karena telah melupakan orang tua keduaku.

"itulah mengapa kau dan Minseo mungkin tidak mengingat mereka berdua sama sekali."

Eomma kembali menyesap teh nya yang kini sudah mulai dingin dengan pelan, seolah kembali merasa terpuruk karena menceritakan hal yang menyedihkan ini.

"mereka pergi di tanggal yang sama, hanya saja berbeda bulan dan tahun. Bibi Kim menghembuskan nafas terakhirnya di Kanada, sehingga terpaksa ia dimakamkan disana. Lalu beberapa tahun kemudian saat paman Jung juga menjemput ajalnya, ia meminta kepada kami agar dimakamkan disana, disamping istrinya, sehingga kami saat itu membawa jenazahnya pergi ke Kanada untuk dimakamkan berdampingan dengan istrinya."

Isak tangis Wonwoo terdengar semakin jelas. Entahlah, aku tidak tahu apakah ia menangis karena terharu, ataukah memang ia sedang emosional? Tapi yang pasti, kali ini aku juga sedikit larut dalam kesedihan akibat mendengar cerita ini.

Selama beberapa saat kami terdiam, masih dengan Wonwoo yang berada didalam pelukanku, dan juga eomma yang masih menyeruput tehnya sedikit demi sedikit.

Aku seketika jadi merasa kesal. Kesal pada keadaan. Kesal pada Joo Hankyung. Kesal pada Joo Kyulkyung. Namun aku juga mengerti bahwa itu semua sudah terjadi di masa lalu. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya.

Aku bahkan sedikit takjub pada eomma yang masih bisa tenang, padahal mengetahui bahwa putri dari pembunuh sahabat baiknya berada didepan matanya.

Jika saja aku mengetahui hal ini dari dulu, sudah kupastikan aku akan membuat hidup keluarga Joo tidak akan mudah.

Aku kembali mengelus pelan kepala Wonwoo, dan membisikkan kata-kata cinta padanya, sehingga ia bisa sedikit tenang, dan berhenti menangis.

Tidak lama kemudian makanan kami mulai berdatangan, begitu juga dengan eommanya Wonwoo, sehingga kami harus kembali bersikap ceria, dan melupakan apa yang baru saja kami dengar.

.

.

.

.

Dua hari berlalu dengan sangat cepat dan tidak terasa. Tiba-tiba saja aku sudah berada disini, di ruang belakang altar di sebuah gereja tua yang waktu itu aku dan Mingyu inginkan sebagai tempat pernikahan kami.

Aku memandang pantulan tubuhku dicermin, terlihat sempurna dengan riasan natural yang tipis dan juga balutan gaun pengantin berwarna putih dan aksen biru dongker.

Diatas kepalaku juga sudah terdapat sebuah tiara, tidak lupa dengan wedding veil nya.

Aku sedang meremas jariku gugup saat eomma dan appa tiba-tiba masuk kedalam ruangan itu, dan mereka tersenyum menatapku.

Aku segera beranjak, lalu memeluk eommaku dengan erat.

"eomma, aku takut." Ucapku pelan sambil terus mendekap erat tubuh eomma yang selalu terasa hangat.

"gwenchana, chagiya.. semuanya akan baik-baik saja." Ucap eomma dengan lembut.

"aniya. Aku benar-benar gugup. Bagaimana jika ternyata bukan Mingyu orang yang tepat untukku?" ucapku lagi.

Sungguh, rasa gugup dan takut ini muncul begitu saja tanpa kusadari. Padahal tadi pagi, aku bagun dengan perasaan berdebar-debar menyenangkan karena berpikir akan bertemu dengan Mingyu setelah berpisah dengannya selama dua hari.

"ssshhtt.. kalian sudah melangkah sejauh ini. bagaimana mungkin Mingyu bukan orang yang tepat untukmu? Lagipula eomma bisa melihatnya, Mingyu benar-benar mencintaimu, sayang.." ucap eomma sambil terus mengelus pelan punggungku.

Aku terdiam. Sedikit lega, sesungguhnya mendengar ucapan eomma.

"lagipula kau jangan khawatir, Wonwoo. Jika Mingyu tidak membuatmu bahagia, appa yang akan menghajarnya." Ucap appa tiba-tiba, lalu mengelus pelan pundakku.

Aku segera mendongakkan kepalaku, lalu beralih menatap appa.

Appa yang biasanya terlihat galak dan tegas, entah mengapa hari ini terlihat sangat lembut dan penyayang, membuatku sedikit terharu karenanya.

Aku segera beralih memeluk appa, lalu menelusupkan kepalaku di ceruk lehernya.

"aigoo.. putri kecil kebanggaan appa akan segera meninggalkan kami.." ucap appa pelan sambil terus mengelus punggungku.

Aku sedih mendengarnya. Hey! Meskipun aku menikah, aku tetap anak mereka! Tidak mungkin aku meninggalkan mereka begitu saja!

"appa! Aku tetap akan sering mengunjungi kalian! Jarak rumahku hanya beberapa jam dari rumah kalian! Kalian jangan khawatir.." ucapku pelan sambil mengeratkan pelukan pada appa.

Tiba-tiba hatiku semakin sedih. Aku jadi sedikit menyesal. Andai saja aku sering mengunjungi mereka dulu di Changwon.

Tapi semua sudah terlanjur. Tidak akan ada yang bisa diubah. Yang bisa kulakukan hanyalah memperbaiki masa depan.

Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan sering-sering mengunjungi keluargaku di rumah mereka, dan membiarkan anakku kelak dekat dengan harabeoji dan halmeoni nya.

Aku hampir saja menitikkan air mata, namun eomma yang melihat mataku yang memerah segera mencegahnya.

"aigoo! Jangan menangis! Atau riasanmu akan hancur nantinya! Sudah, jangan menangis, sayang.." eomma mengelus pundakku, membuatku mengurungkan niat agar tidak jadi menangis.

Appa kemudian menarik eomma, dan kami bertiga berpelukan dengan erat. Hanya kurang Boohyuk disini, sayang sekali. Namun tidak apa. Kami akan melakukannya lagi nanti bersama dengannya.

Setelah menghabiskan beberapa saat untuk berpelukan, appa akhirnya melepaskan pelukan kami, lalu menatapku dalam.

"cha! Sekarang ayo kita keluar! Calon suamimu sudah tidak sabar menunggu!" ucap appa, membuatku bisa kembali sedikit tersenyum saat mengingat bahwa Mingyu menungguku didepan sana.

Appa menggandeng tanganku menuju altar. Setelah eomma menutupi wajahku dengan wedding veil, kami berjalan beriringan kesana.

Begitu memasuki bagian altar, aku bisa melihat Mingyu berdiri disana. Ia berdiri dengan gagahnya, sambil berbalutkan tuxedo putih dan dasi birunya.

Ia terus menatapku, membuatku sedikit gugup, namun tidak lama kemudian aku bisa melihat gerak bibirnya yang sedikit terkekeh, membuatku jadi mau tidak mau juga ikut tersenyum.

Setelah sampai didepan sana, appa segera menyerahkan tanganku pada Mingyu.

"Mingyu, jaga putriku baik-baik. Sebagai pria, tepat janjimu. Atau kau akan menyesal karena telah berurusan dengaku." Ucap appa dengan suara tegas.

Namun Mingyu malah tersenyum lebar menanggapinya.

"siap, abeoji! Jangan khawatir. Wonwoo pasti bahagia. Aku berani jamin itu." Mingyu berkata dengan penuh percaya dirinya, membuat appa mengangguk, kemudian tersenyum puas.

Kini hanya ada aku, Mingyu, dan juga pendeta didepan podium ini.

Mingyu dengan perlahan membuka wedding veil ku.

Ia tidak berkata apapun, namun matanya tidak juga beranjak dari wajahku. Sambil tersenyum lebar, ia menggerakkan bibirnya tanpa suara.

'cantik' ucapnya, membuatku semakin tersipu.

"baiklah. Mari kita mulai acaranya. Sekarang saya akan bertanya kepada saudara Kim Mingyu, apakah anda bersedia menerima saudari Jeon Wonwoo sebagai istri anda? Disaat susah, disaat senang, sakit, maupun sehat?" tanya sang pendeta sambil memegang sebuah buku kecil ditangannya.

Mingyu kembali menatapku dengan dalam. Wajahnya terlihat sangat serius. Aku bahkan sampai tergugup karena ia memperhatikanku hingga seperti itu.

"ya, saya bersedia." Ucapnya dengan suara mantap dan tegas.

"lalu saudari Jeon Wonwoo, apakah anda bersedia menerima saudara Kim Mingyu sebagai suami anda? Disaat susah, disaat senang, sakit, maupun sehat?" kini sang pendeta berganti bertanya padaku.

Dapat kulihat wajah Mingyu yang menatapku penuh penantian. Ia benar-benar terlihat seperti seorang anak kecil yang tengah menunggu hadiah natalnya, membuatku terkekeh kecil, lalu tersenyum menatap priaku ini.

"ya, saya bersedia." Balasku, membuat Mingyu tersenyum sumringah dengan sangat lebar.

"kini saya nyatakan kalian suami dan istri yang sah dihadapan Tuhan dan para jemaatnya."

"Tuan Kim Mingyu, anda boleh memberikan cincin kepada istri anda." Ucap sang pendeta.

Dengan segera Mingyu merogoh kantung dalam jas nya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru gelap, lalu membukanya.

Disana terdapat cincin pernikahan kami yang ternyata sudah ia persiapkan beberapa minggu yang lalu, membuatku sedikit terharu, karena ternyata Mingyu benar-benar serius merencanakan pernikahan kami.

Ia segera meraih tangan kiriku, lalu mulai bersiap memasukkan cincin tersebut pada jari manisku.

"aku akan memintamu untuk mengenakan cincin ini sekarang, sehingga mulai saat ini, setiap hari, setiap saat, kau akan selalu membawa sebagian dari diriku, cintaku, bersama denganmu." Ucapnya sambil menatap mataku, seolah meminta persetujuan.

Tanpa pikir panjang lagi aku segera menganggukan kepalaku, membuat ia segera memasukan jariku kedalam cincin tersebut.

Lalu kini tiba giliranku. Aku segera meraih cincin yang tersisa didalam kotak tersebut, milik Mingyu.

"dengan cincin ini, aku berjanji mulai sekarang kau tidak akan lagi berjalan sendirian, aku akan berada disampingmu, semoga juga aku selalu menjadi tempat bagimu untuk bersandar, dan menjadi tempatmu untuk kembali pulang." Aku segera memasangkan cincin tersebut pada jari Mingyu.

Mingyu tersenyum memandangku, sehingga aku juga membalas senyumannya.

"sekarang anda boleh mencium istri anda, Tuan Kim Mingyu."

"yeeaaayy!"

"poppo! Poppo!"

"kisseu! Kisseu!" sorak sorai semua teman kami membuat keadaan menjadi sedikit memalukan, namun tidak untuk Mingyu.

Ia malah sedikit menyeringai, lalu menarik pinggangku menuju kearahnya.

"aku mencintaimu."

Tanpa aba-aba lagi, ia segera menempelkan bibirnya pada bibirku. Mengecup dengan pelan, namun secara bertahap ia mulai melumat bibirku. Atas dan bawah.

Merasa diperhatikan oleh sangat banyak orang, membuatku malu. Maka aku segera menepuk bahu Mingyu agar kami segera menyelesaikan ciuman ini.

Mingyu melepaskanku, meskipun wajahnya terlihat tidak rela.

Aku terkekeh, kemudian berbisik padanya "nanti kita lanjutkan. Kau boleh berbuat semaumu." Membuat ia segera berganti menatapku dengan wajah berbinarnya.

.

.

.

.

Aku membuka pintu apartemenku – apartemen kami, dan mempersilahkan Wonwoo untuk masuk.

Meskipun dulu ia sudah seringkali menginap, namun entah mengapa rasanya kali ini aku merasakan perbedaan dengan adanya kehadiran ia disini.

Sekarang, ia adalah nyonya rumah di rumah ini. tempat ini sudah bukan lagi tempatku seorang diri, namun ini juga akan menjadi rumahnya.

Memikirkan aku dan Wonwoo yang akan menghabiskan banyak waktu bersama, membuatku berdebar tidak sabar.

"kau mau mandi?" tanyaku saat melihat Wonwoo yang tengah menghapus make up nya. Kini kami tengah berada didalam kamarku. Design interiornya sudah diubah sedemikian rupa sehingga sekarang kamar ini juga milik Wonwoo.

"eum. Rasanya tubuhku sangat lengket. Aku harus mandi." Ucap Wonwoo sambil terus mengoleskan toner pembersih pada wajahnya.

Aku hanya mengangguk, kemudian turut membuka tuxedoku yang mulai menyesakkan ini.

"kenapa? Kau juga mau mandi?" tanya Wonwoo sambil memandangku lewat cermin.

aku hanya membalas secara sekilas tatapannya, kemudian mengangguk.

"ya, sepertinya. Tubuhku juga rasanya penat." Ucapku terus berusaha membuka dasi.

"kalau begitu mandilah duluan. Sepertinya aku akan sedikit lama membersihkan ini." ucap Wonwoo.

Aku beranjak menuju istriku tersebut, kemudian mengelus pelan pundaknya.

"butuh bantuan?" tanyaku.

"tidak, terima kasih. Aku bisa melakukannya sendiri. Lagipula bantuan apa yang bisa kau berikan? Apa kau bisa mencabut bulu mata palsu ini tanpa menyakiti kelopak mataku?" tanya Wonwoo sedikit meledekku.

Yah, ia memang benar. Aku memang sama sekali tidak tahu menahu soal make up dan cara membersihkannya, tapi setidaknya aku sudah berniat membantu, oke?

"aniya. Hanya saja sanggulmu kelihatan rumit. Kau yakin bisa mengurai rambutmu sendirian?" kusentuh bagian rambut Wonwoo yang sedikit keras akibat hair spray, dan itu benar-benar akan sulit untuk disisir.

Wonwoo terlihat berpikir, kemudian menghela nafasnya pelan.

"baiklah. Kau benar. Aku tidak akan bisa melakukannya sendiri. Kau tidak keberatan menolongku?" tanyanya, membuatku mendengus, tetapi sejurus kemudian tersenyum lebar.

"tentu saja."

Kucabut satu persatu jepit rambut serta karet yang mengikat rambut Wonwoo. Dan dugaanku ternyata benar. Rambut bagian atasnya keras karena hair spray, meskipun bagian bawahnya tidak terlalu.

Selama aku melakukan pekerjaanku, Wonwoo berhenti melakukan kegiatannya. Ia malah asik memperhatikanku lewat cermin, dan tersenyum sendiri.

Aku mengetahui hal tersebut, namun aku hanya membiarkan ia berbuat sesukanya saja. Karena jika aku menggodanya, ia pasti akan segera menghentikan hal itu. Aku senang ia memperhatikanku.

Pekerjaanku telah selesai, kini rambut yang panjang sudah kembali terurai, dengan bagian atas yang mengeras, dan bagian bawah yang sedikit berantakan, membuatku menyisir rambutnya dengan jari.

"rambutmu sangat panjang." Ucapku pelan tanpa sadar.

"eum. Aku suka rambut panjang."

"tidak ingin memotongnya?"

"wae? Kau ingin aku memotongnya?" pertanyaannya seketika membuatku terhenyak.

Bukan begitu, hanya saja aku sedikit heran, apakah ia tidak merasa kepanasan dengan rambut sepanjang itu? Lagipula dengan rambut yang tebal dan panjang begitu, bukankah itu akan sangat menyita waktu saat dibersihkan?

"hahaha, tidak.. hanya bertanya. Memangnya kau tidak kesulitan memiliki rambut sepanjang ini?" tanyaku masih terus menyisir rambutnya lembut.

"tidak. Aku suka. Ah, mungkin suatu saat nanti aku akan memotongnya. Tapi tidak tahu kapan. Hehe."

Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya. Ia sangat menggemaskan.

"kalau kau? Suka dengan perempuan berambut panjang atau pendek?" tanya Wonwoo sambil menatapku dengan raut penasaran lewat cermin.

Aku tersenyum tipis.

"selama gadis itu tidak botak, dan selama rambut itu menempel di kepala wanita yang kucintai, maka panjang atau pendek, aku tidak masalah." Ucapku sambil terus tersenyum.

Sejujurnya, aku sendiri merasa jijik untuk mengatakan hal ini. itu terdengar sangat menjijikan dan cheesy, namun aku sungguhan. Aku benar-benar tidak keberatan apakah Wonwoo memiliki rambut panjang atau pendek.

Aku akan tetap mencintainya, terlepas dari ukuran rambutnya.

"aish. Dasar gombal.."

"hahaha... tapi kau senang kan, aku gombali?"

Ia berdecak, kemudian melanjutkan pekerjaannya, yaitu membersihkan make up.

"sudah, sana cepat mandi. Nanti terlalu malam." Ucapnya, membuatku menganggukkan kepala.

Namun sebelum pergi ke kamar mandi, aku menyempatkan diri untuk mengecup lehernya lembut, membuat ia berjengit kaget, dan segera bersiap untuk memukulku jika aku tidak lari.

"hahaha! Jangan kasar! Kau sudah jadi istriku sekarang!" ucapku sambil tertawa terbahak-bahak menggoda Wonwoo, lalu masuk kedalam kamar mandi.

Lima belas menit kemudian, aku selesai mandi, dan tiba-tiba saja Wonwoo segera berjalan menghampiriku dengan bersemangat, membuatku sedikit terkejut.

"w-wae?"

Ia tersenyum lebar, lalu membalikan tubuhnya padaku.

"keugo. Tolong." Ucapnya.

Aku masih belum mengerti, dan hanya terdiam, namun hal itu rupanya malah membuat Wonwoo jengkel, lalu ia menengokan kepalanya padaku.

"tolong buka resletingku. Aku tidak bisa melakukannya sendirian." Ucapnya.

Aku hanya bisa membulatkan mulutku saat mengerti. Segera tanpa aba-aba, aku langsung menarik resleting gaun Wonwoo yang berada di punggung, membuat gaun tersebut segera jatuh begitu saja.

"kyaaaa!" teriak Wonwoo sambil berusaha menutupi tubuh bagian atasnya yang tiba-tiba terekspos begitu saja.

"kenapa kau langsung membukanya?!" pekik Wonwoo.

Aku jadi bingung. Bukankah tadi ia yang memintaku untuk membuka resleting gaunnya?

"tapi tadi kau bilang untuk membuka resleting gaunmu? Memangnya aku salah?" tanyaku heran.

"ta-tapi setidaknya katakan dulu padaku!" ucap Wonwoo masih dengan suara tergagap.

Aku benar-benar heran dengan wanita ini. padahal barusan ia sendiri yang menyuruhku untuk membuka resleting gaunnya, namun saat aku melakukannya, ia malah kesal padaku.

"ck! Lagipula memangnya kenapa kalau aku tidak mengatakannya dulu padamu? Toh kau kan sudah menjadi istriku sekarang! Apa masalahnya jika aku melihat tubuhmu? Seperti aku tidak pernah melihatnya saja.." ucapku, kini sambil memegang gaunnya yang tengah berada di pinggang.

Yah, perlu kuakui, meskipun terlampau kurus, namun tubuh polos Wonwoo dari belakang sini saja sudah sangat menggoda.

Punggungnya benar-benar putih dan mulus, dan aku rasanya hampir tidak kuasa untuk menahan jari-jariku agar tidak menari diatas sana.

Aku menyeringai. Kembali terpikirkan sebuah rencana untuk mengerjainya lebih lanjut.

Tanpa berucap apa-apa, aku segera memeluk tubuh Wonwoo dari belakang, membuat wanita itu kembali berjengit kaget.

Aku memeluknya dengan sangat erat, bahkan kini tanganku sudah meraih tangannya yang tengah sibuk menutupi kedua buah dadanya.

"gwenchana. Perlihatkan saja padaku.. lagipula bukankah tadi kau bilang aku boleh melakukan sesukaku?" tanyaku sambil terus berusaha untuk menyingkirkan tangan Wonwoo yang berada diatas dadanya.

Namun ia tetap bersikeras, membuatku semakin tertantang untuk melakukannya.

"ha-hajima.." lirihnya. Bisa kulihat dari sini, wajah hingga cuping telinga Wonwoo yang memerah.

"wae? Kau benci padaku? Aku tidak mencintaiku?"

"a-aniya.. aku.. aku belum mandi. Tubuhku masih kotor." Ucapnya dengan suara pelan dan tergagap.

Sungguh, aku benar-benar ingin tertawa kencang rasanya sekarang. Namun aku ingat bahwa aku tengah menggodanya, sehingga aku harus menahan diri untuk tertawa.

"untuk apa mandi, jika nanti akhirnya akan kotor lagi, eum?" aku mulai mengecup ringan leher hingga pundaknya, membuat ia bergerak geli.

"le-lepaskan, Mingyu.." suaranya semakin bergetar, dan tubuhnya juga semakin membungkuk dalam, seolah berusaha untuk membuatku melepaskan pelukanku dari belakang.

"wae? Aku kan suamimu.."

Shit. Ini benar-benar menyenangkan. Aku tidak bisa berhenti menggodanya.

"bu-bukan begitu.. hanya saja.. kumohon, biarkan aku mandi terlebih dahulu.." pinta Wonwoo dengan suara memohon lebih ketara lagi, membuatku segera kelepasan untuk tertawa.

"Hahaha! Baiklah, baiklah. Aku menyerah. Aku akan melepaskanmu. Tapi bersiaplah, setelah ini kau tidak akan kubiarkan lari kemanapun."

"ish! Ternyata kau mengerjaiku! Dasar! Rasakan ini! rasakan!" wonwoo yang mendengarku tertawa terbahak-bahak membalik tubuhnya, kemudian memukuliku bertubi-tubi menggunakan kepalan tangannya yang kecil.

Aku masih terus tertawa saat ia masih berusaha untuk memukulku dengan satu tangannya, sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk menutupi dadanya.

Namun lama kelamaan tangan Wonwoo yang terus menghantam dadaku terasa lumayan sakit juga, sehingga aku menangkap tangannya dengan segera. Tidak tanggung-tanggung, aku juga turut menarik tangannya yang sedang menutupi dadanya, kemudian mengangkatnya keatas.

Wajahnya seketika memerah, saat sadar bahwa kini dadanya terekspos. Ia tentu mencoba untuk memberontak, namun aku terus menggenggam erat tangannya, sehingga ia tidak bisa melepaskannya.

"le-lepaskan!"

"hehe, tidak mau." Ucapku menyebalkan.

Ia berdecak, kemudian terus menggoyangkan tangannya, berusaha untuk melepaskan diri dariku.

Ia terlihat benar-benar menggemaskan jika seperti ini, membuatku tidak tahan lagi, dan hampir saja menyerangnya jika tidak ingat bahwa ia tengah mengandung dua bulan anak kami.

Aku segera memeluk tubuhnya dengan erat, kemudian memejamkan mata, sambil terus mengelus pelan punggung Wonwoo.

"aigoo... aigoo.."

Ia tidak membalas pelukanku, meskipun ia juga tidak memberontak. Namun itu sudah cukup bagus untukku.

Rasanya aku tidak ingin melepaskan pelukannya, namun aku tahu bahwa ia harus pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.

"aku tidak mau melepaskan pelukanmu." Ucapku pelan masih sambil mengelus punggungnya.

"apa perlu aku mandi lagi bersamamu?" tanyaku, kini menatap wajahnya yang menatapku aneh.

"jangan konyol, Kim Mingyu!" kini Wonwoo berganti menatapku dengan tatapan horornya.

"aku serius." Aku segera melepaskan pelukan Wonwoo, lalu bersiap untuk membuka piyamaku, namun Wonwoo segera menahannya.

"aish! Jangan! Kau ini aneh sekali! Memangnya tidak bisa menunggu sampai aku selesai membersihkan tubuh? Kau benar-benar membuatku merinding!" ucap Wonwoo jengkel, lalu menjitak pelan kepalaku, dan pergi kedalam kamar mandi tanpa berkata apa-apa lagi, membuatku terkekeh geli.

.

.

.

.

Huh! Mingyu benar-benar aneh! Ada apa dengannya sebenarnya?

Kenapa ia begitu memaksa, padahal aku sudah bilang bahwa aku tidak mau?!

Semakin dipikir, aku semakin kesal, sehingga aku menggosok tubuhku dengan kasar.

Namun seketika itu juga tiba-tiba aku teringat, bahwa ini adalah malam pertama kami.

Ah! Apakah kami akan melakukan hal yang biasanya para pengantin lakukan di malam pertama mereka?

Tapi... bukankah kami tidak bisa melakukan itu?

Kami bukan pasangan pengantin biasa, kami sudah memiliki aegy. Aku tidak tahu apakah aman bagi kami untuk melakukan hubungan suami istri dengan keadaan aegy yang bahkan masih belum melewati trimester pertamanya.

Aku jadi resah. Perasaan kesalku tiba-tiba saja menguap entah kemana. Tadinya aku ingin menikmati mandi yang berkualitas dengan berendam air hangat, namun itu semua kuurungkan. Aku sudah tidak mood.

Aku segera menyelesaikan acara bebersihku, lalu bersiap untuk mengeringkan tubuh.

Namun tiba-tiba aku kesal sendiri pada diriku. Aku lupa membawa handuk ataupun bathrobe! Ini semua karena tadi aku terburu-buru memasuki kamar mandi tanpa membawa itu.

Aku bingung. Haruskah aku keluar begitu saja dengan tubuh basah kuyup, tanpa ditutupi sehelai benang pun?

Tidak! Tidak! Itu adalah hal paling konyol yang pernah kupikirkan. Itu bisa saja berarti mengundang Mingyu untuk menyantap tubuhku malam ini.

Aku terdiam selama beberapa menit tanpa bisa memikirkan solusi, namun hingga dirasa memuakkan, aku segera memberanikan diri untuk melongokkan kepalaku keluar.

Disana bisa kulihat Mingyu yang sedang memainkan ponselnya diatas ranjang kami.

Aku sedikit tidak enak untuk melakukan hal ini, namun rasanya aku sudah tidak punya pilihan lain.

Lalu segera saja kupanggil Mingyu untuk mendekat

"Ming-Mingyu! Kemarilah!" panggilku, membuat pria itu menoleh menatapku, lalu menyeringai aneh.

"wae? Kau mau mengajakku mandi bersamamu?" tanyanya masih dengan seringaian mengerikan.

Kuharap wajahku tidak memerah sekarang, karena aku memang benar-benar merasa malu. Tingkahku sekarang sudah seperti perempuan nakal yang ingin mengajak kekasihnya bercinta didalam kamar mandi.

"bu-bukan itu, bodoh! Cepat kemari!" panggilku lagi.

Mingyu mendengus malas, namun ia tetap menghampiriku.

"wae?" tanyanya malas.

"tolong ambilkan handukku. Aku lupa membawanya. Ada didalam koper." Ucapku dengan tersenyum semanis mungkin, berharap Mingyu luluh.

Namun yang terjadi malah kebalikannya. Ia malah mengangkat sebelah alisnya, lalu menatapku penuh sangsi.

"kenapa kau tidak langsung keluar saja? Kenapa kau harus mengambil handuk terlebih dulu?" ucapnya membuatku sedikit terkejut. Tidak habis pikir dengan pola pikir mesum pria ini.

Aku memutar bola mataku jengah.

"aku tidak bisa melakukannya, bodoh!"

"kenapa? Ini bukan pertama kalinya aku melihat tubuhmu. Aku bahkan masih ingat dengan jelas bentuknya seperti apa." Ucap Mingyu lagi sambil menggerakan tangannya, seolah memperagakan postur tubuhku.

"a-aniya! Bukan itu! Hanya saja, nanti lantainya basah jika aku keluar tanpa mengeringkan tubuh! Lagipula kenapa, sih?! Aku hanya memintamu untuk mengambilkan handuk, bukan untuk mengambilkan bulan! kenapa kau pelit sekali?!" ucapku sangat kesal.

Mingyu menatapku malas, lalu menghela nafasnya pelan, namun kemudian ia segera berjalan menuju koperku yang masih berisi pakaian milikku.

"baiklah, baiklah! Akan kuambilkan! Tidak perlu marah seperti itu!" ucapnya, lalu memberikan handukku yang berwarna putih dari dalam koper.

Aku segera mengambil handuk tersebut, lalu kembali masuk kedalam kamar mandi, dan menutup pintunya dengan sedikit kencang.

Setelah mengeringkan tubuh dan mengenakan pakaian, aku duduk didepan meja rias, mengoleskan cream malam pada wajahku.

Mingyu sedari tadi diam saja, tidak mengajakku berbicara sama sekali.

Apakah ia marah?

Sepertinya iya.

Ah! Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak perlu marah padanya sampai seperti itu.

Seharusnya aku tidak perlu membanting pintu kamar mandi, tadi.

Seharusnya aku tidak perlu membentaknya. Ini semua salahku.

Aku terus mencuri pandang padanya lewat cermin. Ia masih sama sekali tidak menatapku. Melirik pun tidak!

Aku sedikit sedih dan merasa menyesal.

Akhirnya aku memutuskan untuk meminta maaf padanya terlebih dulu. Mungkin nanti, setelah aku mengoleskan cream ini.

Dan setelah aku selesai mengoleskan cream pada wajah, Mingyu tiba-tiba bangun dari tempatnya, membuatku penasaran.

Ia meraih sebuah handuk kecil berwarna pink, lalu mendekat padaku.

Aku sangar berdebar-debar. Kira-kira apa yang akan pria itu lakukan?

Apa ia akan membekap wajahku dengan handuk tersebut? atau apa?

Ia kini tengah berada tepat dibelakangku, aku terus menatapnya lewat jendela, namun ia tidak juga membalas tatapanku.

Dan tiba-tiba saja tangannya menyentuh kepalaku, membuka lilitan handuk yang kugunakan untuk mengeringkan rambut.

"a-apa yang kau lakukan?" tanyaku pelan.

"mengeringkan rambutmu." Jawabnya dengan mata yang masih belum juga membalas tatapanku.

Tiba-tiba saja aku kesulitan untuk menelan ludah. Bagaimana bisa ia terpikirkan untuk mengeringkan rambutku setelah apa yang sudah kuperbuat padanya?

Ah, aku jadi semakin merasa bersalah.

Ia terus saja mengusak rambutku dengan lembut. Meskipun pria, tapi ia seolah tahu bagaimana caranya melakukan hal ini dengan lembut tanpa menyakiti diriku.

Aku terus terdiam tanpa mengatakan apapun, namun mataku terus tertuju padanya.

Begitupun dengan Mingyu. Mulutnya bungkam seribu bahasa, meskipun tatapannya fokus pada kepalaku.

"maafkan aku." Ucapnya tiba-tiba dengan pelan, membuatku seketika terkejut.

Kutatap matanya lewat cermin, dan akhirnya ia mau membalas tatapanku.

"untuk apa?" tanyaku tidak yakin.

"karena menjadi suami yang selalu membuatmu kesal. Karena tidak peka, dan karena suka sekali menggodamu." Ucapnya lagi, masih dengan tangan yang aktif bekerja mengeringkan rambutku.

Aku tersenyum dalam hati. Bagaimana bisa pria ini menjadi begitu manis?

Astaga, aku bisa diabetes karena kadar kemanisan pria ini!

"begitukah? Kau menyesal menjadi suamiku?" tanyaku padanya.

Ia seketika berhenti. Matanya tajam menatapku.

"apa maksudmu?! Seharusnya itu pertanyaanku! Apakah kau menyesal menjadi istriku? Karena aku tidak akan pernah menyesal menjadi suamimu!"

"kau pasti menginginkan pria yang lebih baik. Yang lebih romantis. Yang tidak suka menggodamu dengan candaan-candaan vulgarnya. Maafkan aku karena aku adalah orang yang seperti ini."

Mata Mingyu sendu saat mengucapkan hal tersebut, membuatku ingin tertawa terbahak-bahak rasanya.

Aku segera bangun, kemudian membalikan tubuhku, lalu menatapnya dalam.

Kulingkarkan lenganku pada lehernya.

"kalau begitu sama saja denganku! aku sama sekali tidak menyesal!"

"meskipun kau bukan pria romantis, meskipun kadang kau tidak peka, dan meskipun kau adalah pria dengan tingkat kemesuman yang akut, tapi aku mencintaimu! Aku memilih untuk menikah denganmu! Karena itu kau!"

Aku tersenyum, lalu menempelkan keningku pada miliknya.

"aku menyukai semuanya dari dirimu. Kau memiliki caramu sendiri untuk bersikap romantis, kau juga perhatian."

Ia mulai membalas tatapanku, dan aku tersenyum karenanya.

Lalu aku mengecup sekilas bibirnya.

"aku tahu jahil adalah sifat alamiahmu. Itu tidak akan bisa diubah, dan aku mengerti. Tidak apa-apa. Aku bahkan bisa jatuh cinta padamu karena kejahilan-kejahilanmu dulu. Hanya saja.. tolong kurangi sedikit kemesumanmu."

Kini Mingyu turut tersenyum, kemudian ia mulai membalas pelukanku. Ia segera melingkarkan tangannya pada pinggangku.

"aku hanya mesum padamu. Kau tahu itu, kan?" ucapnya, lalu membalas kecupanku.

Aku sedikit mendengus, namun kembali tersenyum.

"ya, aku tahu. Tapi jangan terlalu sering. Kau membuatku ngeri."

Ia tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku, lalu segera mengangkat tubuhku dalam gendongannya, lalu berjalan menuju ranjang.

Ia merebahkan tubuhku dengan sangat lembut, seolah aku adalah guci antik berusia ribuan tahun, dan akan pecah jika diperlakukan kasar sedikitpun.

Aku tersenyum, menyamankan posisi didalam rengkuhan tubuh Mingyu.

Ia kini sudah berbaring disebelahku, dengan tangan kanan sebagai bantalan untuk kepalaku. Ia juga terus mengelus kepalaku lembut, membuatku tiba-tiba teringat suatu hal yang membuatku gelisah sejak tadi.

"apakah.. kita akan melakukan 'itu'?" tanyaku takut-takut.

Mingyu melirikku, lalu menyeringai.

"kau mau melakukannya?" tanya Mingyu, membuatku jadi gelagapan.

Aku bukannya tidak mau melakukan itu, biar bagaimanapun, itu adalah kewajibanku sebagai istri, aku harus melakukannya mau tidak mau, suka tidak suka.

"a-aku.. bukannya tidak mau, tapi aegy bagaimana?" ucapku lirih sambil terus mengelus perutku.

Ia turut mengelus lembut perutku, kemudian menunduk untuk mengecupnya sesekali.

"ah, aku lupa.. kita sudah punya aegy."

"kau mau melakukannya? Apakah aman untuk aegy?" tanyaku sambil menatap Mingyu dengan penasaran.

Ia tidak menjawab apapun, hanya tersenyum, lalu kembali menarikku dalam pelukannya.

"tidak apa-apa jika tidak melakukannya. Aku bisa menunggu. Aku jago dalam hal itu." Ucap Mingyu sambil menatapku dalam, lalu mengecup keningku sekali.

"sungguh? Kau tidak akan marah?"

Mingyu mendengus, lalu kembali menarikku kedalam rengkuhannya semakin erat.

"hmph. Kenapa harus marah. Yang sedang kau kandung itu kan anakku juga. Aku tidak tahu harus bagaimana jika sampai terjadi sesuatu pada aegy gara-gara kesalahan kita."

Aku tersenyum senang mendengar jawaban Mingyu. Sungguh, jawaban itu membuatku puas. Ia benar-benar menepati janjinya untuk menjagaku dan aegy dengan baik. Ia tidak memaksakan kehendaknya.

Aku membalas pelukannya dengan turut melingkarkan tanganku pada pinggangnya, lalu mengecup bibirnya cepat.

"eits. Kau nakal." Ucap Mingyu sambil mengerling menggoda.

"itu hadiah untuk appa."

"heum. Benarkah? Kalau begitu boleh appa minta hadiah lagi?"

Aku mengernyit mendengar pertanyaannya, namun aku berusaha untuk menuruti keinginannya.

"hadiah apa?"

"ini." ucapnya cepat, lalu kembali mengecup bibirku. Namun tidak hanya sampai disana, ia kini malah melumat, sedikit menghisap, bibirku bagian atas dan bawahnya dengan penuh hasrat, namun tetap lembut.

Tadinya aku kaget dan mendorongnya untuk berhenti, namun ciumannya yang sangat memabukkan lama-kelamaan membuatku tak ayal merasa nyaman, dan saat rongga dadaku sesak karena membutuhkan nafas, disaat itulah dengan tidak rela nya aku baru menepuk pelan bahu Mingyu untuk melepaskan ciuman kami.

"haaah.. haaa.."

"gomawo. Hadiahnya aku suka." Ucapnya dengan senyum senang, membuat wajahku merona. Kuusakan kepalaku pada dadanya, membuat ia mengelus rambutku pelan.

Lalu dengan suara tenang ia berbisik tepat disebelah telingaku.

"i love you."

Aku sedikit terenyuh mendengarnya. Ini sudah yang kesekian kalinya aku mendengar kata cinta darinya, namun aku belum bosan, dan tidak akan pernah.

Kubalas ucapannya dengan kata-kata cinta pula, lalu ia kembali mengecupi puncak kepalaku.

"tidurlah, hari sudah malam. Kamu pasti lelah."

"ne. Jaljja. Saranghae."

"nado."

Tuhan, aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih padamu atas segala nikmat yang kau berikan. Meski hujan mengguyur hari-hari kehidupanku, namun aku percaya bahwa kelak pelangi akan selalu muncul pada akhirnya.

Dan meskipun aku tahu bahwa tidak selamanya hidup akan selalu berada diatas, dan aku juga yakin bahwa aku pun akan mengalami masa-masa berada di roda bawah, biarkan aku berdoa sekali lagi padamu.

Tolong biarkan aku melewati semua itu bersama dengan pria yang berada disampingku ini. aku akan menemaninya disaat susah dan senangnya, dan kuharap kau-pun akan membiarkan ia melakukan hal yang sama untukku kelak.

Itulah doa ku. Semoga kau tidak keberatan untuk mengabulkannya.

Aku mencintaimu.

FIN.

HUWAAAAAAAAAA...

Akhirnya ff ini tamat jugaaaaa..

Akhirnya dari sekian project aku ada juga yang tamat. Hehehehe

Maaf ya updatenya telat banget. Padahal tadinya aku mau post ini hari kamis,tapi berhubung cerita ini belum selesai, jadi harus kuketik dulu.

Sebenarnya udah selesai darikemarin sih, tapi ilangggg.. jadilah aku harus nulis ulang.. :((

Maafin juga ya kalo endingnya gini doang, mungkin kalian juga ngerasa endingnya ga banget. Antiklimaks gitu, tapi percayalah, aku udah berusaha sebisa mungkin untuk bikin ini jadi menarik dengan mengembalikan kejailan kejailan pasangan absurd satu ini.

Untuk dua project lainnya, maafin aku belum bisa janji kapan bakal apdet. Secepatnya, dan itu pun kalo tuhan menghendaki. Hehe.

Ohya, kabar gembira bagi kalian yang mungkin suka ama cerita ini, niatnya sih aku mau bikin satu chapter tambahan. Prolog gitu. Kalian mau ga? Kalau mau sok bakal aku usahain, meski aku ga janji bakal update cepat, tapi pasti jadi.

Tapi kalo gamau, yaudah bye. Ini perjumpaan terakhir kita pada ff ini. mungkin kita bisa ketemu di project-project lainnya.

Dan khusus chapter ini sengaja aku bikin panjang sesuai keinginan kalian, sebagai permintaan terakhir, semoga kalian suka.

Intinya, terima kasih sudah memberikan banyak cinta dan apresiasi kepada cerita ini, akhirnya kita sampai pada akhir pertemuan, semoga di karya-karya aku yang lainnya kemampuan bercerita dan menulisku jadi lebih baik lagi.

Semoga kelak kalian juga bisa memberikan cinta dan apresiasi yang sama jikalau kita ketemu lagi di lain cerita. Sungguh aku bangga dan senang sama kalian. :)))))))

Untuk semua review, fav, follow, dan para silent reader yang mungkin dari awal udah mengikuti cerita ini, aku benar-benar berterima kasih banyak sama kalian semua. Maafin aku kalo aku jarang balesin komen kalian satu-satu. Tapi serius, apapun komen kalian, itu semua bikin aku selalu semangat buat nulis.

Last, but not least, terima kasih sudah meluangkan waktunya membaca cerita ini dari awal sampe akhir, ngasih komen juga. Sungguh aku bukan apa apa tanpa kalian.

Akhir kata, untuk terakhir kalinya, jangan lupa review, fav, dan follow juga.

SEE YOU GUYS NEXT TIME. I REALLY LOVE YOU GUYS.