TITLE :One Night Stand – sequel
'after birth'
GENRE :Romance, Drama
RATING :M
CAST :Wonwoo (GS), Mingyu
DISCLAIMER :plot cerita murni milik saya, jika ada kesamaan latar, cerita, itu hanya sebuah kebetulan.
SYNOPSIS :Wonwoo yang baru putus dari kekasihnya yang brengsek menghabiskan malam di bar. Tadinya ia hanya ingin mabuk, tapi setelah bertemu pria baru itu, malam yang ia habiskan… malah membara. .
This is Genderswitch. If you don't like any of 'Genderswitch', please just close the tab and live your life happily, just like the way you like it :))
.
.
.
.
Kulangkahkan kakiku gontai.
Hari ini adalah hari minggu, hari dimana semua orang bisa bersantai dan bermalas-malasan.
Tapi tidak denganku.
Sebagai dokter bedah yang cukup handal, aku cukup sering harus merelakan waktu liburku untuk datang ke rumah sakit dan melakukan operasi dadakan seperti saat ini.
Pasien yang kali ini kutangani adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun yang mengalami kecelakaan. Taxi yang ditumpanginya menabrak sebuah truk, membuat taxi tersebut oleng, lalu menabrak kaca toko di pinggir jalan.
Bagian ulu hati hingga perutnya cukup banyak tertancap kaca, membuat nyawanya cukup terancam. Terlebih ia bukan lagi seseorang yang masih muda dan kuat.
Operasi baru selesai setengah jam yang lalu, dan kini aku sedang duduk diruanganku, mengosongkan pikiran setelah melihat darah yang bersimbah begitu banyak.
Aku jadi teringat saat Wonwoo melahirkan anak kami.
Saat itu, aku masih mengingat nya dengan jelas. Remasan tangan Wonwoo yang ia lakukan padaku.
Tak lupa juga kukunya yang tajam menancap di kulitku.
Ia kelihatan sangat menderita. Well, begitu pula aku.
Aku adalah seorang dokter bedah.
Dan dengan Wonwoo yang melahirkan secara normal membuatku tidak ada gunanya berada disana. Tapi aku adalah suaminya, sehingga aku ingin berada disana mendampingi moment hidup mati istriku itu.
Dan itu adalah pertama kalinya dalam hidup aku melihat orang yang dalam keadaan normal, maksudku, terjaga penuh, mengeluarkan begitu banyak darah dari tubuhnya.
Ah, sudahlah. Kenapa aku tiba-tiba jadi teringat seperti ini.
Lebih baik aku pulang, mandi, lalu melanjutkan kegiatanku sebelumnya dengan Wonwoo-ku yang manis.
Hanya dalam tiga puluh menit aku membawa mobilku sampai di rumah kami yang baru kami tempati selama dua bulan itu.
Biasa memerlukan waktu bagiku minimal empat puluh lima menit untuk sampai, dan satu jam jika jalan sedang macet.
Kubawa tubuhku menuju satu-satunya tempat dimana istriku pasti berada.
"yeobo." Tanpa suara apapun tiba-tiba aku memeluk nya dari belakang, melingkarkan kedua lenganku di perutnya yang sudah menyusut kembali ke ukuran semula.
"aih! Kkamjagiya!" pekiknya pelan karena kaget.
Ia segera menolehkan kepalanya, lalu menatapku tajam.
"aahhh.. wae? Kenapa memelototiku seperti itu, heum?" semakin kueratkan pelukanku, dan kukecupi lehernya yang sedikit terekspos.
"kau membuatku kaget, Mingyu!" oceh Wonwoo masih dengan suara pelan, takut suara sekecil apapun akan membangunkan Kim Minwoo, jagoan sulung kami.
Meskipun belum puas memeluk Wonwoo, namun aku segera melepaskan pelukanku.
Dan beralih mengelus pelan pipi putih mulus Minwoo yang seperti bakpao.
Aku tersenyum melihat anak ini.
Jelas-jelas ia adalah perpaduan antara aku dan Wonwoo.
Kulit putihnya pemberian dari Wonwoo, dan aku bersyukur karena itu. Fyuh.
Hidungnya sepertinya juga milik Wonwoo.
Tapi kata orang-orang, mata, bibir, serta tinggi badan anak ini merupakan pemberian dariku.
Dengan panjang 52 cm saat lahir, itu adalah ukuran cukup tinggi untuk anak bayi yang baru lahir.
Aku benar-benar suka mencium Minwoo. Pipinya yang chubby benar-benar membuatku gemas.
Aku juga sangat menyukai aromanya ketika selesai mandi, dan itu berkat Wonwoo yang rajin memberikan Minwoo lotion serta bedak.
"yeobo aku ingin mencium Minwoo." Rengekku masih terus mengelus gemas pipi Minwoo.
Wonwoo hanya menatapku malas, kemudian menarik tanganku dari pipi Minwoo.
"nanti dia terbangun, gyu.." ucap Wonwoo pelan.
"tapi aku merindukannya." Ucapku lagi.
Wonwoo kemudian tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menghela nafasnya.
Lalu kemudian,
"CUP"
Membuatku sangat kaget karena tiba-tiba saja Wonwoo mengecup bibirku.
"kau tidak merindukanku?" tanyanya pelan dengan wajah merona parah, membuatku juga sedikit terdiam karena kaget.
Tidak biasanya ia melakukan ini duluan. Biasa harus selalu aku duluan yang mencuri ciuman darinya.
Namun sekarang? Apakah aku tidak sedang bermimpi? Jika ini memang mimpi, tolong jangan bangunkan aku.
"appa, cepat mandi. Tubuhmu bau obat-obatan. Aku tidak suka." Ucap Wonwoo masih dengan wajah memerah, dan aku segera mengikuti perintahnya tanpa mengelak apapun.
Setelah menghabiskan waktu 15 menit untuk mandi, aku dibuat terkejut lagi dengan kelakuan Wonwoo.
Ia tiba-tiba sudah berdiri dihadapanku, memegang sebuah handuk, lalu menarik tanganku.
"semenjak Minwoo lahir kita jadi jarang melakukan ini." ucapnya dibelakangku sambil terus mengusak rambutku dengan handuk, berusaha mengeringkannya.
"ya.. cukup lama hingga aku rindu." Akhirnya aku membalas ucapannya.
Ia terkekeh. Wonwoo terus mengeringkan rambutku sambil bersenandung kecil, membuat hatiku benar-benar terasa hangat.
"kamu sudah mandi?" tanyaku.
"sudah. Tadi saat kamu pergi." Jawabnya masih bersemangat mengusak rambutku.
"cha! Selesai!"
Wonwoo baru saja mau berdiri dan meletakkan handuknya, namun aku segera menahan pergerakan wanitaku itu, lalu segera membanting tubuhnya pelan diatas ranjang.
Beruntung kamar Minwoo dan kami terletak terpisah, meskipun masih dihubungkan dengan sebuah connecting door. Tapi setidaknya suara yang kami timbulkan tidak akan terlalu mengganggunya.
"kyaa! Mingyu!"
Segera kurampas handuk yang masih ia genggam, lalu kubuang ke sembarang arah.
"aku benar-benar merindukanmu."
.
.
.
.
Aku baru saja ingin beranjak bangun dari ranjang, tapi tiba-tiba Mingyu kembali menarik tanganku untuk berbaring disampingnya.
"cepat kesini. Aku sudah lama tidak memelukmu seperti ini." ucapnya sambil melingkarkan tangannya pada pinggang dan perutku.
Sejujurnya, aku juga merindukan saat seperti ini. pelukan Mingyu, terlebih saat ia baru selesai mandi adalah yang terbaik.
Tubuhnya yang besar memberikan kehangatan lebih. Aku juga suka menghirup aromanya yang maskulin.
"besok Jisoo bilang akan kemari dan ia mau meminjam Minwoo." Ucapku mulai membuka pembicaraan diantara kami.
"heum? Untuk apa?" tanya Mingyu penasaran.
"usia kandungannya sudah menginjak bulan ketujuh, sebentar lagi ia akan melahirkan. Jadi ia ingin meminjam Minwoo sebagai ajang latihan." Jawabku pada Mingyu yang dibalas tatapan ragu olehnya.
"hey, memangnya anakku boneka? Bisa dipinjam begitu saja?" tanyanya seperti sedikit keberatan.
Aku menepuk dadanya pelan sambil terkekeh.
"tidak apa. Ini sangat penting bagi mereka. Aku juga akan berada disana untuk mengawasi, kau jangan khawatir. Lagipula kau lupa pada apa yang sudah Seokmin lakukan untuk kita?" ucapku sedikit menasehatinya, membuat ia sedikit mencebikkan bibirnya.
"cup"
Lagi-lagi kukecup pelan bibirnya.
"jangan cemberut begitu, Minwoo appa. Kau itu sudah jelek. Kalau cemberut begitu tambah jelek. Hehehe.."
Dan itu sukses membuat Mingyu semakin cemberut.
Berada didalam dekapan Mingyu membuatku benar-benar nyaman. Aku terus saja mengelusi pipi serta dagunya yang sedikit tajam karena jenggot tipis yang lupa ia cukur.
"ini menyebalkan sekali." Ucapku terus menyentuh dagunya, merasa terganggu dengan sensasi tajam disana. Padahal biasa jika aku bermanja dengannya, seluruh wajahnya halus tanpa bulu-bulu tipis.
"aku akan mencukurnya besok."
"jangan lupa."
Ia menganggukkan kepala mengiyakan perkataanku.
Lalu seiring dengan tangannya yang mengelus lembut punggungku, ia memanggil namaku.
"Wonwoo-ya."
"heum?"
"semenjak kita menikah, kita belum pernah bulan madu, bukan?" tanya Mingyu tiba-tiba.
Aku segera mengangkat kepalaku menatapnya.
"hm.. memangnya kenapa?"
"mau melakukannya?" tanyanya lagi.
Aku membulatkan mataku kaget. Hey, wanita mana yang tidak mau diajak bulan madu oleh suaminya tercinta?
Namun aku baru ingat. Bahwa suamiku ini adalah manusia yang sibuk.
"huh, memangnya kau bisa? Hari minggu ini saja kau tetap harus pergi ke rumah sakit." Aku mendumal kesal, karena memang itu kenyataannya.
Ia terkekeh, kemudian kini tangannya beralih mengelus rambutku.
"aku belum mengambil jatah cutiku tahun ini. sepertinya kita bisa pergi berlibur. Yah, untuk sepuluh hari? Bagaimana? Kau mau?" tanyanya sangat menggoda sambil mengangkat kedua alisnya.
"mau! Aku mau!" pekikku bersemangat.
"kemana kau mau pergi?"
Aku memasang pose berpikir.
"usia Minwoo baru tiga bulan. dan kemana sebaiknya kita mengajak anak sekecil itu pergi berlibur?" tanyaku padanya.
Ia menatap mataku dalam, kemudian mengecup keningku cepat.
"eropa bagaimana? Disana sedang musim semi. Sepertinya bagus untuk berjalan-jalan. Terlebih disana tidak terlalu banyak polusi. Kita bisa membawa Minwoo berjalan santai ditaman sore hari." Ucap Mingyu pelan, membuatku benar-benar bersemangat saat membayangkan suasana sejuk dan indah di daerah eropa sana.
"sepertinya bagus. Aku mau, gyu.." rengekku padanya, membuat ia terkekeh.
"baiklah. Aku akan segera mengurusnya nanti. Eropa, kami datang!"
Kami terus bersenda gurau diatas ranjang seperti ini, berbincang, membicarakan hal ringan yang terjadi setiap hari di keadaan sekitar.
Masih dengan Mingyu yang mendekap erat tubuhku, ia tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya padaku, lalu mengecup bibirku.
Dan tidak membutuhkan waktu lama untuk kecupan berubah menjadi lumatan. Dan tautan bibir kami berevolusi menjadi sangat bergairah, panas, dan.. menuntut.
Aku menepuk bahu Mingyu, berusaha memberitahu bahwa aku juga butuh bernafas.
Dan ia segera melepaskan bibirnya, lalu menatap mataku dalam.
"aku sangat merindukanmu."
.
.
.
.
"hmph, bagaimana bisa kau merindukanku? Setiap hari kau menemuiku." Ucap Wonwoo sambil terkekeh kecil, membuatku sedikit mendengus.
"aku serius. Aku benar-benar rindu ini." ucapku kembali mengecup keningnya.
"ini dan ini, juga yang ini." lalu beralih menuju mata, pipi, dan bibirnya.
"tidak lupa juga yang ini dan ini." kini leher dan tulang selangkanya.
"ini." kukecup pelan dadanya yang masih terbalut pakaian.
"disini." Perutnya.
"dan yang terakhir.. disini." Dan bagian pangkal pahanya. Kewanitaannya.
Membuat ia segera memekik pelan dan refleks menutup rapat parahnya.
"me-mesum!"
Aku mendengus, lalu kembali memeluk tubuhnya dari belakang.
"mesum kenapa? Aku kan suamimu. Aku menginginkanmu." Bisikku tepat pada cuping telinganya.
"aku benar-benar menginginkanmu, sampai terkadang aku bermimpi tentang kamu. Kita, yang melakukan hal itu." Ucapku lagi padanya.
"ka-kau mimpi basah?!" tanya Wonwoo setengah tidak percaya. Ia kini bahkan menatapku sedikit horor.
Namun apakah aku salah? Sepertinya tidak, kupikir aku adalah pria normal yang belum menuntaskan gairahnya selama beberapa bulan terakhir.
Terlebih disisiku ini aku memiliki seorang istri yang cantik dan sangat mempesona. Jadi adalah hal wajar jika aku memimpikannya. Bukan hal tabu, kan?
"ya. Memangnya kenapa?" tanyaku sambil memandangnya heran.
Aku bisa melihat Wonwoo benar-benar kelihatan malu sekarang.
Dari belakang aku bahkan bisa melihat cuping telinganya yang memerah.
"ming-mingyu.." ucapnya tertahan.
"kamu tidak kasihan padaku? Aku sudah menahan gejolak alam ini semenjak..."
"semenjak apa, ya? Semenjak pertama kali mengetahui kamu hamil anakku? Kamu mengandung selama sembilan bulan, lalu sekarang Minwoo berusia tiga bulan, itu berarti.. 12 bulan! woah! Daebak!"
Aku bahkan merasa terkejut sendiri saat menyadari bahwa aku sama sekali belum menuntaskan hasratku ini selama 12 bulan terakhir.
"eoh? Ayolah.. " aku terus merengek pada Wonwoo, bahkan menarik piyamanya, membuat ia sedikit risih.
Hingga akhirnya ia membalikan tubuhnya menatapku. Tapi dengan tatapan tajam miliknya, membuatku seketika menyerah karena berpikir ia tidak akan memberikannya untukku.
"cup. Cup."
Namun tiba-tiba ia mengecup bibirku. Dua kali. Dan tersenyum lembut. Lalu ia juga mendekat kearahku, lalu membisikkan sesuatu.
"mau kubuatkan obat kuat yang dulu Seokmin berikan untukmu?" tanyanya pelan, membuatku segera membalik keadaan.
Kutindih tubuh Wonwoo, meski aku masih menahan tubuhku dengan tangan.
Dan kukecupi lehernya, sambil menggumamkan bahwa aku tidak memerlukan obat tersebut.
"aku bisa membuatmu menjerit minta ampun tanpa perlu menggunakan obat apapun."
Wonwoo kembali merona, ia bahkan sedikit terkekeh, lalu menepuk pelan dadaku.
Aku mulai melumati bibirnya. Bergantian atas dan bawah, menciptakan bunyi decakan khas pertautan bibir kami.
Bahkan aku sedikit memaksa untuk menyusupkan lidahku kedalam mulutnya, berusaha menggapai seluruh rongga mulut Wonwoo yang selalu terasa seperti strawberry akibat obat kumur yang ia gunakan.
Namun tiba-tiba saja Wonwoo membalik keadaan.
Ia menggenggam erat piyama yang kugunakan dibagian pundaknya, lalu menggulingkan tubuh kami berdua, membuat ia kini tengah berada diatas tubuhku. Menduduki perutku.
"haaah.. haahh.." nafasnya terengah-engah akibat ciuman panas kami barusan, membuatku menyeringai.
Pemandangan yang saat ini sedang kulihat sungguh indah.
Dengan penampakan wajah Wonwoo yang memerah, juga dadanya yang naik turun karena mencoba untuk menstablikan nafasnya, membuatku benar-benar merasa tidak sabar untuk segera bergumul dengan wanita kesayanganku itu.
"whoaa.. setelah sekian lama tidak melakukannya, kau mau Woman on Top?" tanyaku berusaha menggoda Wonwoo.
Biasanya ia paling tidak suka dengan pertanyaan vulgar macam ini, namun sekarang reaksinya malah membuatku tercengang.
Ia kembali menundukkan tubuhnya, lalu berbisik tepat didepan cuping telingaku.
"kasihan suamiku yang malang.. jadi aku berinisiatif untuk memberikannya hadiah.." bisik Wonwoo dengan nada sensual.
Shit! Dimana ia mempelajari hal itu? Apakah Jeonghan yang mengajarinya?
Tapi kalau itu benar, aku harus berterima kasih pada wanita itu.
Karena aku cukup menyukai Wonwoo yang agresif seperti ini.
"hadiah apa?" tanyaku masih diam saja dibawah Wonwoo.
Wanita itu hanya menyeringai, lalu menggigit bibirnya kecil. Dan kali ini aku tidak keberatan ia menggigit bibirnya.
Lalu tangan Wonwoo dengan pelan bergerak untuk membuka kancing piyama miliknya sendiri, membuatku sedikit tercengang.
Setelah berhasil terbuka seluruhnya, ia kemudian melemparkan piyama tersebut ke sembarang arah, dengan menyisakan sebuah bra hitam tipis miliknya sebagai penutup tubuh bagian atas.
Aku kesulitan meneguk ludahku.
Wonwoo benar-benar panas! Terlebih aku yang memandangnya dari bawah sini.
Aku tahu ia memang baru saja melahirkan, namun itulah yang membuat ia semakin terlihat menggairahkan.
Ukuran dadanya masih belum kembali ke ukuran normal, masih besar karena terdapat ASI didalamnya.
Lalu aura keibuan Wonwoo yang membuatku entah mengapa semakin jatuh terperosok kedalam pesona ibu dari anakku itu.
"kamu benar-benar indah.." ucapku lirih, lalu mengangkat tanganku untuk menyentuh dadanya.
"eits! Tidak boleh!"
Namun Wonwoo tiba-tiba saja mengangkat kedua tanganku keatas kepala, lalu menahannya.
Ia kembali menundukkan tubuhnya, lalu berucap tepat didepan wajahku.
"sebagai hadiah karena suamiku bisa menahan hasratnya selama 12 bulan, maka aku akan memberikanmu pelayanan spesial. " ucap Wonwoo masih dengan nada suara yang sedikit mendesah-desah, membuat sesuatu dibawah sana semakin tidak karuan.
"kamu tidak perlu melakukan apapun, biar aku yang melayanimu sampai kau puas." Ucap Wonwoo lagi, membuatku sedikit memicingkan mata.
Tanpa banyak bicara, ia melepaskan tanganku sesaat, berdiri, lalu membuka celana piyamanya, hingga ia benar-benar hanya tinggal mengenakan pakaian dalam saja, lalu kembali menduduki perutku.
Namun kini posisi duduknya sedikit turun kebawah, atau lebih tepatnya ia menduduki kejantananku.
"sshh.." aku tidak sengaja mendesis saat merasakan gesekan tubuh yang diciptakan oleh Wonwoo yang mengenai kejantananku.
"kau menyukainya?" tanya Wonwoo.
Ia kelihatan senang, sehingga aku bertekad untuk membiarkan ia melakukan apapun yang ia inginkan.
Aku hanya berdeham menjawab pertanyaannya, lalu ia kembali mengecupi seluruh permukaan wajahku.
Mulai dari kelopak mata, pipi, hidung, sampai bibir. Tidak ada yang terlewat.
Lalu turun menuju rahangku, kemudian berhenti di leher.
"aku pernah melihat seorang suster yang menatapmu aneh." Ucap Wonwoo tiba-tiba.
"aneh bagaimana?" tanyaku.
"ya aneh. Tidak sepantasnya. Ia seperti melihat seorang bujangan yang bisa bebas didekati oleh siapa saja. Padahal kau sudah memiliki anak dan istri." Ucapnya lagi, membuatku masih belum mengerti.
"lalu?"
"aku tidak suka!"
Aku menghela nafas, sekarang aku mengerti duduk permasalahannya.
"lalu aku harus bagaimana supaya ia tidak menatapku seperti itu lagi dan agar kau puas?" tanyaku dengan nada suara jengah.
Wonwoo kelihatan tengah berpikir, kemudian tersenyum menatapku saat ia sudah mendapatkan ide.
"aku akan memberikan tanda. Sehingga siapapun bisa tahu bahwa kau sudah ada yang punya." Ucapnya tersenyum senang.
"hm? Tanda apa lagi? aku selalu memakai cincin kawinku setiap hari." Tanyaku penasaran dengan ide gila Wonwoo ini.
Tanpa mengatakan sepatah kata apapun lagi, ia kembali menundukkan tubuhnya, lalu mengecup leherku.
Tidak hanya mengecup, tapi juga menjilat, menggigit, dan bahkan sedikit menghisap.
"CUP"
"cha! Sekarang sudah ada tandanya! Kau milikku!" pekik Wonwoo dengan girang, membuatku merasa geli setengah mati.
Hahaha! Jadi ini 'tanda' yang ia maksud?
Aku tertawa geli, kemudian merengkuh pinggang Wonwoo yang masih berada diatasku.
"sudah? Satu saja tandanya? Tidak mau memberikan tanda di tempat lain lagi?" tanyaku menggoda Wonwoo.
Ia menggelengkan kepalanya pelan sambil terus tersenyum.
"sudah cukup. Jika terlalu banyak nanti kau tidak bisa menutupinya."
Aku menarik tangan Wonwoo, sehingga kini dadanya sudah jatuh menimpa dadaku sendiri.
Kuelus pelan punggungnya.
"untuk apa ditutupi? Kau sudah capek-capek membuat tanda itu untukku, bukankah percuma saja jika akhirnya ditutupi? Aku tidak akan menutupinya. Aku bahkan akan dengan bangga menunjukkannya pada orang-orang kalau itu adalah kissmark yang istriku buat."
Namun ucapanku sepertinya malah membuat Wonwoo malu, karena wanita itu kini malah merona wajahnya, memukul dadaku pelan.
"aish! Kau ini! kalau seperti itu aku yang malu! Sudah, kau mau melakukannya atau tidak?" Wonwoo kembali dalam mode seriusnya, yang membuatku segera menganggukan kepalaku tegas.
Ia segera membuka kancing piyamaku dengan gerakan cepat, seolah tidak sabar, lalu melepaskannya.
Lagi-lagi Wonwoo kembali menyeringai.
Ia menjalankan jari-jarinya disepanjang putingku, membuatku sedikit geli.
"akh, itu geli.. Wonwoo.."
"hehe.. ini sangat menggemaskan.." ucapnya sambil terkekeh dan terus memainkan putingku.
"huh, awas kau ya.. lain kali akan kubalas perbuatanmu ini.."
Wonwoo mengecup sekilas putingku, lalu ciumannya turun terus menuju perut.
"kenapa badanmu bisa secoklat ini?"tanya Wonwoo saat menyentuh otot perutku sekilas.
Aku tersenyum geli mendengar pertanyaannya.
"waktu muda aku suka bermain ke pantai."
Wonwoo mendengus.
"hmph! Alasan! Sejak kecil kau sudah hitam!" ujar Wonwoo sambil mendengus kecil, namun bibirnya masih terus menyusuri sepanjang perutku hingga kebawah.
"aku mendapatkan warna kulit ini dari harabeoji. Kau memang tidak pernah melihatnya, namun ia benar-benar definisi dari orang pantai. Warna kulitnya sangat coklat. Aku dulu bahkan sering mengejeknya karena warna kulitnya menurun padaku."
"hm.."
Bisa kurasakan Wonwoo diam saja. Rupanya ia sudah sampai pada karet celana piyamaku, membuatku tersenyum tipis tanpa ia ketahui.
"kau malu membukanya? Biar aku buka sendiri kalau begitu.." aku baru saja akan menarik karet celanaku, namun gerakan tanganku tiba-tiba dihentikan oleh Wonwoo.
"stop! Biar aku yang melakukannya! Kau cukup diam saja!"
Aku menuruti perkataan Wonwoo, namun wanita itu tidak segera membuka celanaku, tapi malah menjulurkan tangannya menuju keatas organ vitalku langsung, dan mengelusnya secara perlahan.
.
.
.
.
Kuelus pelan alat reproduksi milik suamiku ini.
Miliknya sudah menggembung besar, apalagi setelah kuelus terus seperti ini.
Diluar celananya, aku bisa merasakan sesuatu bergerak, seolah kejantanan itu berdenyut akibat rangsangan yang tanganku lakukan.
Aku berusaha menutupi senyumanku, tidak mau kalau Mingyu tahu bahwa ternyata aku sedang mengerjainya saat ini.
"sshhh.." ia mendesis sambil menutup matanya erat, membuatku merasa sangat geli dan tidak tahan untuk tertawa.
"bagaimana rasanya? Enak?" tanyaku pelan.
Ia membuka matanya, kemudian menatapku sayu.
"berhenti menggodaku, Wonwoo-ya.." ucapnya lirih.
Aku sedikit menyeringai.
"aku tidak menggodamu.. aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan. Sudah lama aku tidak berjumpa dengan Kim junior ini, dan aku ingin menyapanya terlebih dulu." Ucapku dengan nada jenaka, masih terus mengelus kejantanan suamiku.
Kini aku bahkan sedikit menusuk organ tersebut dengan jari telunjukku, seolah gemas.
"kau boleh menyapanya, memanjakannya, memainkannya sesuka hatimu, tapi untuk sekarang tolong lepaskan celanaku ini. rasanya menyakitkan karena sesak.." mohon Mingyu membuatku sedikit tidak tega.
Akhirnya aku mengikuti permintaannya dan membuka celananya dalam satu tarikan.
Bahkan celana dalamnya juga turut kulepas, hingga batang besar yang sudah menegang itu segera mengacung tinggi dihadapanku.
"seingatku dulu tidak sebesar ini.." ucapku masih terus mengelus dengan gemas. Bahkan kini Mingyu menggigit bibir bawahnya, seolah terlihat sangat frustasi akibat apa yang tengah kulakukan.
Segera aku menundukkan tubuhku, mendekatkan wajahku dengan batang yang terus membesar ini.
Kugenggam erat, lalu kutiup ujungnya, membuat Mingyu tanpa sengaja mendesah tertahan.
"emh.."
"wae? Kau tidak suka?" tanyaku sedikit menggodanya.
Ia hanya menggelengkan kepalanya lemah, membuatku semakin bersemangat untuk menjatuhkan harga diri pria ini.
Kujilat dengan tempo lambat ujung kejantanan Mingyu, membuat ia mengeratkan pegangannya pada seprai ranjang kami.
Namun mulutnya masih enggan mengeluarkan sepatah katapun, sehingga aku semakin berinisiatif untuk melakukannya dengan lebih ganas.
Aku mulai memasukkan batang kejantanan Mingyu kedalam mulutku seutuhnya.
Bahkan baru setengah yang masuk, namun tenggorokanku sudah terasa sangat penuh bahkan hingga ke pangkal.
Mingyu menggeram rendah, seolah menjadi tanda bagiku untuk menggerakan mulutku. Keatas dan kebawah. Secara teratur.
Mingyu kini bahkan meletakkan tangannya di sisi kepalaku, seolah membantu menggerakkan kepalaku agar bergerak lebih cepat.
"sshh.. Wonwoo.."
"aish.."
Melihat Mingyu yang seolah sangat tersiksa, membuatku bergerak semakin cepat.
Karena jujur aku sedikit tidak tega padanya, dan aku ingin ia segera mendapatkan pelepasannya yang sudah ia nanti-nantikan selama 12 bulan terakhir.
Aku turut menggenggam sisa batang kejantanan Mingyu yang tidak muat semua kedalam mulutku.
Tidak luput juga terkadang aku memainkan kedua bola kembarnya dengan gemas.
Mingyu semakin gencar menaik turunkan kepalaku, berharap dengan cara tersebut aku bisa menggerakkan kepalaku lebih cepat.
Hampir 15 menit aku mengoral kejantanannya, dan batang tersebut juga seolah membesar dua kali lipat dibanding sebelumnya didalam mulutku.
"Wonwoo-yahh.. akuuhh.."
"akh, aku keluar.."
Tidak lama setelah mengatakannya, sperma Mingyu keluar didalam mulutku sangat banyak, bahkan hingga meluber keluar dari ujung bibirku yang tidak mampu menampung semuanya.
Itu bahkan belum semua. Terkadang kejantanannya yang masih setengah menegang sedikit menyemprotkan sisa-sisa sperma yang masih belum tuntas ia keluarkan.
Aku menenggak sedikit sperma milik Mingyu, yang jujur saja, membuatku merasa sangat menyesal.
Bau nya aneh, konsistensinya seperti lendir ingus, dan rasanya yang tidak karuan membuatku sangat tidak menyukainya.
Sumpah, ini adalah kali pertama dan terakhir aku akan membiarkan Mingyu mengeluarkan spermanya didalam mulutku.
Setelah membersihkan mulutku, kulihat Mingyu yang masih berusaha menstabilkan nafasnya kembali.
Batangnya sudah sedikit lemas, namun masih besar, sehingga aku memutuskan untuk berbaring disampingnya diatas ranjang.
Kututupi tubuhnya dengan selimut, lalu tersenyum manis.
"sudah puas, kan? Cukup untuk hari ini kalau begitu." Ucapku tepat disampingnya, membuat Mingyu segera melotot menatapku.
"apa maksudmu?"
"kau sudah mendapatkan pelepasanmu, bukan? Maka pekerjaanku sudah selesai.." ucapku dengan enteng, dan mulai menyelimuti diriku sendiri juga hingga ke leher.
Namun Mingyu segera menyibak selimut tersebut.
"mwo?! Tentu saja tidak seperti itu! Itu baru appetizer saja! Aku belum puas! Berikan aku main course nya!" pekik Mingyu sedikit emosi.
Aku memutar bola mataku malas mendengar ucapannya.
"ya! Memangnya aku makanan?! Lagipula, lihat itu! Junior mu saja sudah lemas begitu, kau tidak kasihan padanya jika terlalu diforsir seperti itu?" ucapku sedikit kesal.
Mingyu mendengus pelan, lalu menyeringai tepat dihadapanku.
"apa? Kau meremehkanku? Ckck, keputusan yang salah, nyonya Kim."
"BRUK!"
"kyaa! Mingyu! Menyingkir dari tubuhku!"
Tiba-tiba saja Mingyu memutar tubuhnya, sehingga ia kini menindih tubuhku.
"mau bertaruh? Dalam waktu lima menit, aku bisa membuat Kim junior ini bangun kembali. Jika aku berhasil, maka kau harus bersedia melayaniku hingga berapa kalipun yang kuinginkan. Namun jika gagal, maka baiklah. Kita akan segera tidur setelah ini." ucap Mingyu sambil terus menyeringai diatas tubuhku.
Namun pada dasarnya memang aku ini wanita yang tidak suka diremehkan, maka aku menerima saja taruhannya itu.
Toh, kalau boleh jujur, sesungguhnya bahan taruhan itu tidak terlalu buruk. Aku tidak kehilangan apapun dari sana.
"call!"
"call."
Tidak sampai lima detik kemudian, Mingyu tiba-tiba saja mencium bibirku kembali dengan ganas.
Tangannya juga mulai bergerak masuk, menyelinap kedalam braku yang tipis, sehingga kain itu sekarang tidak lagi ada gunanya karena Mingyu sudah membuatnya terangkat.
Bosan dengan bibirku, ciuman Mingyu turun menuju dadaku.
Dadaku setelah melahirkan memang menjadi lebih besar ukurannya, dan mungkin itu juga yang membuat Mingyu saat ini menjilati putingku dengan gemas.
"akh! Jangan!" pekikku kencang saat kurasakan Mingyu yang hampir menghisap putingku.
"wae?" tanya Mingyu dengan kesal karena kegiatannya diganggu.
"ini milik Minwoo. Nanti dia kelaparan." Ucapku sambil menarik dadaku yang masih berada didalam mulut Mingyu.
"hanya sedikit, eomma.. tidak bolehkan aku merasakannya? Sedikit, sajaaaa.." rengek Mingyu, namun aku tetap pada pendirianku.
"an-dwe. Anakmu itu nafsu makannya tinggi sekali, dan jika ia kelaparan sedikit saja, tangisannya benar-benar kencang seperti badai. Aku tidak mau ia kelaparan. Apa kau tega?" ucapku lagi, yang mana langsung membuat Mingyu menciut.
"baiklah. Itu milik Minwoo. Untuk sekarang."
Dan Mingyu kembali fokus pada bibirku, meski kini tangannya beralih turun menuju kewanitaannku.
Ia mengelus dengan pelan diluar celana dalamku, membuatku sedikit menggeliat.
Posisi Mingyu yang tengah berada diatasku membuat posisi kami menjadi benar-benar intim.
Kejantanannya yang sepertinya mulai mengeras kembali terus menggesek bagian pangkal pahaku, membuatku bergerak gelisah.
Dan sepertinya ia menyadari hal tersebut, karena ia malah semakin menggesekkan miliknya pada tubuhku.
Tidak lama kemudian, alarm ponsel Mingyu berbunyi. Artinya sudah lima menit. Mingyu segera beranjak dari tubuhku, lalu mematikan alarmnya.
"lihatlah, sudah lima menit dan buktikan sendiri betapa jantannya suamimu ini." ucap Mingyu dengan bangga.
Kulirik sekilas kejantanannya yang sudah kembali menegang dan mengacung tegak.
Oke, baiklah. Aku kalah. Aku akhirnya memasrahkan diri pada Kim Mingyu dan entah apa yang ia lakukan padaku nantinya.
.
.
.
.
"aaakkhh.."
"haaaahh.. haaah.."
"jebal, lebih cepat.."
"euhm.."
"ming-Mingyu! Akh, aku hampir sampai!"
"ooh, aku juga! Ayo keluarkan bersama!"
Setelah beberapa kali tusukan dan dorongan, aku akhirnya sampai pada pelepasanku yang kedua malam ini.
Sedangkan Wonwoo? Entahlah, aku tidak bisa menghitungnya lagi sejak kami memulai sesi sungguhan percintaan kami.
Masih sambil bernafas dengan terengah-engah, aku mulai mengeluarkan kejantananku perlahan, meskipun ia masih sedikit mengeluarkan cairan putih kental.
Wonwoo kembali mendesah kecil setelah aku berhasil mengeluarkan seluruh milikku dari tubuhnya.
Bagian kewanitaan Wonwoo benar-benar basah, sehingga aku berinisiatif untuk meraih tissue yang ada di meja nakas, lalu mengelap bagian tubuh istriku itu dengan lembut.
"aaakhh.. pelan-pelan, Gyu.." lirihnya sambil memejamkan mata.
Aku hanya tersenyum tipis mendengar ucapannya. Malam ini aku merasa benar-benar bahagia.
Bukan hanya karena akhirnya aku bisa menuntaskan hasratku lagi setelah 12 bulan, tetapi juga karena Wonwoo kelihatan sama sekali tidak menyesal melakukannya denganku. ia bahkan malah terlihat puas.
Setelah selesai membersihkan kewanitaannya, aku segera mengikuti Wonwoo untuk berbaring disisinya, kemudian menarik selimut hingga dada.
"bagaimana? Kau suka?" tanyaku sambil terus memperhatikannya.
Wonwoo hanya terdiam tidak menjawab, namun dari wajahnya yang memerah malu aku sudah bisa tahu jawabannya tanpa perlu ia sebutkan.
"mau lagi?" tanyaku iseng, membuat ia segera memicingkan matanya tajam menatapku.
"ani. Aku lelah. Kita lanjutkan saja lain kali." Ucapnya, lalu berbaring menyamping, membelakangi diriku.
Aku hanya terkekeh geli melihat tingkahnya. Sejujurnya aku juga tidak akan tega. Wanita itu sudah seharian penuh mengurus keluarga dan anak kami, lalu pada malam harinya ia masih harus melayaniku, membuatku sedikit tidak tega.
Aku mengelus rambutnya pelan, namun tiba-tiba Wonwoo membalikkan tubuhnya, dan menatapku penuh binar.
Ah, aku tahu tatapan itu. Ia biasa menatapku seperti itu jika sedang menginginkan sesuatu.
"Mingyu." Ucapnya sambil tersenyum manis, membuatku mendengus kecil.
"hemh."
"kau ingat pembicaraan kita sebulan yang lalu?" tanya Wonwoo masih dengan binar dan semangat yang sama.
"sebulan yang lalu? Yang mana?" tanyaku bingung, dan Wonwoo segera menatapku tajam.
"ish! Yang itu!"
"yang mana, cintaku?"
Wonwoo seketika mencebikkan bibirnya, membuatku tertawa geli, lalu segera memeluknya erat.
"iya, aku ingat, sayang. Mana mungkin aku lupa.." ucapku masih terus mengelus pelan kepalanya sambil memeluk erat tubuhnya.
"hehehe.. minggu depan Minwoo sudah berusia empat bulan, aku sudah boleh mengajaknya pergi ke butik, kan? Aku sangat merindukan butik beserta orang-orangnya, Mingyu.." ucap Wonwoo sambil tersenyum senang karena ternyata aku mengingat pembicaraan kami sebulan yang lalu.
Yah, sebulan yang lalu memang Wonwoo pernah berkata padaku bahwa ia ingin sekali mengajak Minwoo pergi bermain ke butik sesekali untuk berkunjung.
Namun saat itu aku masih belum mengizinkannya, dengan alasan bahwa Minwoo masih terlalu kecil, sehingga aku berkata pada Wonwoo agar menunggu hingga bulan depan jika ia memang benar-benar mau mengajak Minwoo pergi kesana.
"hmm... baiklah. Tapi jangan terlalu lama. Jangan sampai lupa waktu, terlebih melupakan Minwoo dan aku, mengerti?" ucapku akhirnya memberi izin.
Wonwoo segera memekik girang. Ia langsung memeluk erat tubuhku, dan mencium pipiku berkali-kali.
"yeeeeey.. gomawo, Mingyu-ya! Kau tenang saja, aku pasti akan pulang tepat waktu, kok!"
Aku mengangguk, merasa senang dengan ucapan Wonwoo.
Namun satu hal mengganggu pemikiranku.
"Wonwoo-ya."
"heum?"
"apa kamu punya pikiran untuk kembali bekerja di butik?" tanyaku sambil menatapnya dalam.
Ia membalas tatapanku, namun tidak lama kemudian segera tersenyum tipis.
"tentu saja aku pernah berpikiran seperti itu. Tapi tidak untuk waktu dekat. Setidaknya tidak sampai Minwoo bisa berjalan dan berbicara. Ini adalah momen terpenting dalam hidupnya, dan aku tidak mau melewatkan masa itu hanya karena sibuk merancang pakaian orang lain." Ucap Wonwoo membuatku sedikit terharu.
"tapi apa kau akan mengizinkanku? Aku juga tidak akan memaksakan kehendakku jika kau tidak mengizinkanku. Aku akan menjadi istri yang baik di rumah jika kau mau aku begitu." Wonwoo kembali berkata, namun kali ini ucapannya membuatku terkekeh geli, sekaligus gemas.
Kudekap erat tubuhnya sambil menciumi pucuk kepalanya
"tentu saja aku akan mengizinkanmu jika kau memang benar-benar menginginkannya. Namun aku sangat setuju dengan ucapanmu. Aku mau kau tidak meninggalkan Minwoo disaat ia masih sekecil ini. setidaknya sampai ia masuk ke taman kanak-kanak."
"aku tidak akan melarangmu untuk bekerja, karena aku tahu kau berbakat, dan kau mencintai pekerjaanmu, tapi sekali lagi kukatakan, bahwa aku tidak mau kau sampai melalaikan tugasmu sebagai ibu dan istri yang baik."
Wonwoo menganggukan kepalanya mendengarkan ucapanku, lalu kembali menghambur kedalam pelukanku.
"siap, bos! Perintahmu adalah mutlak!"
"hahaha, dasar kau.. ayo kemari, kita tidur. Besok Minwoo akan bangun dengan tangisan sekencang badainya, dan aku ingin kita sudah segar saat itu."
Aku kembali merapatkan pelukan kami, kembali menghirup aroma tubuh Wonwoo yang kusukai, serta sedikit jejak bau percintaan kami yang tertinggal, lalu berusaha menutup mata setelah mengecup bibir Wonwoo lembut.
"aku cinta kamu." Ucapku pelan sebelum benar-benar jatuh kealam bawah sadar, dan masih bisa kurasakan pergerakan pelan Wonwoo yang turut membalas ciumanku.
"aku juga."
FIN.
Bener bener fin guys. Hehehehehe
Saatnya lanjut ke proyek selanjutnya, meski aku gatau kapaaan..
Kehidupan kampus lagi sibuk-sibuknya, dan aku bahkan gabisa janji untuk ngepos proyek yang masih ongoing.
Tapi aku pasti bakalan kangen sama karakter kiming dan wonu disini.
Mungkin, cuma mungkin. Suatu saat nanti aku bakalan bikin cerita oneshot tentang mereka yang ga perlu memeras otak untuk ditulis. Aku suka nulis cerita yang manis-manis. Hehehe
Jadiiiii mohon maaf banget kalo banyak proyek aku hg belum clear, dan terkesan discontinue, karena seriusan aku bener2 ga sempet untuk nulis cerita itu. Ff ini aja sebenernya udah rampung dari waktu yang lumayan lama, tapi aku baru sempet ngapdet sekarang.
Terima kasih sekali lagi kepada para pembaca, baik yang memberikan review, yang cuma nongol buat baca, yang udah fav atau follow, terima kasih udah memberikan banyak cinta untuk ff abal-abal ini yang sama sekali ga menarik. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi di lain waktu, lain cerita, atau mungkin ceritaku juga yang berbeda tokoh. We never know, dude.
Aku juga berterima kasih sama segala apresiasi yang udah kalian tunjukan. Kepada semua pembaca yang selalu komenannya aku baca disela-sela waktu istirahat ngampus.
Maafin gabisa nyebutin nama kalian satu persatu disini, but trust me guys. I know every single person who ever give my writings a review, and i thank you a lot.
Akhir kata, sampai jumpa, have a nice weekend, have a nice life, my good fellas!
