I'm In Love With A Monster

ChanBaek

M

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.55 dimana artinya bel tanda pelajaran berakhir harusnya berbunyi sekitar 5 menit lagi. Sejak bel pelajaran ke-7 tadi tidak ada satupun guru yang masuk ke ruang kelas. Memakan gaji buta, itulah yang beberapa murid pikiran terkait ketidakhadiran guru mereka.

Suasananya sangat ramai, beberapa orang memilih untuk berkumpul dan berbincang, beberapa orang lagi memilih untuk berdandan dan merapikan diri sebelum mereka pulang, beberapa lainnya hanya diam dan bergelut dengan dunianya sendiri, dan salah seorang diantara banyak siswa itu malah memilih berlari dengan terburu-buru memasuki kelas yang bukan miliknya.

"Chanyeol"

Lelaki yang dipanggil namanya itu mengangkat kepalanya, melepaskan sebelah earphone-nya dan tersenyum pada lelaki manis yang baru saja menyerukan namanya diambang pintu sana. Ya, itu Baekhyun, sudah lengkap dengan tas sekolahnya yang menandakan kalau lelaki itu sudah siap untuk pulang.

"Permisi tuan-tuan, aku ingin masuk"

Baekhyun berucap dengan sangat menggemaskan, berusaha meminta jalan pada gerombolan laki-laki yang tengah berkumpul didepan pintu sambil membahas hal yang Baekhyun sendiri tidak tahu apa.

"Masuk kemana manis? Bagaimana kalau kau saja yang kami masuki?"

"Eung?"

Baekhyun menatap gerombolan lelaki itu dengan menggemaskan. Mode sok polos andalannya nampaknya akan ia gunakan kali ini. Sepertinya menggoda lelaki-lelaki didepannya ini tidak masalah, hitung-hitung sebuah hiburan karena kepalanya tadi sempat dibuat pusing oleh materi dari Yoon Ssaem.

"Memasuki apa?"

Baekhyun masih berada dalam mode sok polosnya, matanya mengedip beberapa kali sebelum ia melangkah untuk masuk kedalam kerumunan lelaki didepannya.

"Tentu saja ini"

"Eunghh"

Salah seorang diantara lelaki itu berdiri dihadapan Baekhyun, menghabiskan jarak antara dirinya dan juga Baekhyun hingga tangannya dapat meremat bokong Baekhyun dengan keras. Beberapa lelaki lainnya mengikuti kemudian, meremat bokongnya secara bergantian yang mana membuat Baekhyun memejamkan matanya.

"Eunghh, memangnya bokong Baekkiehh bisa dimasuki?"

"Kalau kau buka celanamu kami akan memasukimu"

"T-tapi B-baekkie malu ahh"

Baekhyun melenguh tertahan saat itu, seseorang diantara lelaki yang meremat bokongnya baru saja menampar pipi bokongnnya dan memberikan sensasi tersendiri untuknya. Tubuhnya sedikit melemas karena merasa nikmat, tak lama ia pun memutuskan untuk menumpukan tangannya disalah satu meja yang ada didekatnya, menungging dan membiarkan para lelaki dibelakang sana masih bermain dengan bokongnya.

Ia menggerakan bokong berisinya beberapa kali, membuat beberapa diantara lelaki itu menijilat bibirnya refleks dan langsung memegangi pinggang Baekhyun, bergerak maju mundur menabrakkan kejantanannya dengan bokong Baekhyun yang masih terbungkus celana.

Baekhyun melenguh kembali, dirinya pun malah ikut-ikutan memaju mundurkan tubuhnya ketika para lelaki itu bergerak secara bergantian dibelakang sana.

Beberapa orang yang melihatnya hanya memutar matanya jengah, bersikap seolah-olah tidak melihat apa yang sedang dilakukan oleh sekumpulan lelaki itu. Tak berbeda jauh dengan Chanyeol yang kini pun hanya menatap datar wajah Baekhyun yang sangat menggoda itu dari bangkunnya. Oh, kebetulah wajah Baekhyun tepat menghadap kearahnya, dan kalau lelaki Byun itu membuka matanya pasti ia akan langsung mendapati Chanyeol tengah menatapnya.

"Akan jauh lebih nikmat kalau kau membuka celanamu manis"

"A-aku malu eungghhh. Kapan-kapan saj- Chanyeol"

Benarkan, tepat ketika Baekhyun membuka matanya wajah Chanyeol lah yang pertama kali ia lihat. Wajah tampan berkacamata yang tidak menunjukkan ekspresi apapun. Baekhyun pun segera bangkit dari posisi menunggingnya, mendorong dan mengabaikan panggilan kumpulan lelaki itu dan segera menghampiri Chanyeol yang masih berwajah datar.

"Yeollie~"

"..."

"Maafkan aku~"

"..."

"Yeollie~ Jangan marah. Tadi itu aku lupa kalau aku ingin menghampirimu"

"..."

Chanyeol tak menyahutinya sama sekali dan membuat Baekhyun agak kesal, lelaki manis itu mendekat dan nekat duduk diatas meja Chanyeol. Kakinya ia buka dan melingkar pada tubuh Chanyeol, membuat jarak keduanya menjadi dekat dengan wajah Chanyeol yang dihadapkan dengan perut Baekhyun.

Tangan lelaki manis itu terangkat dan menangkup wajah lelaki tampan itu, memaksa Chanyeol untuk menatap wajahnya yang menggemaskan itu merajuk. Dan Chanyeol pun menatapnya, masih dengan tanpa ekspresi memang, tapi setidaknya akan lebih mudah bagi Baekhyun untuk membujuk Chanyeol ketika lelaki itu sudah menatapnya.

"Jangan marah ne"

"..."

"Habisnya tadi kepalaku sangat pusing Yeollie~ Guru Yoon memberikan banyak sekali materi. Jadi kupikir tak ada salahnya untuk ber-"

"Jangan ulangi lagi Baek."

"Yeollie~"

"A-aku memang bukan siapa-siapa u-untukmu Baek, n-namun kumohon j-jangan ulangi p-perbuatan yang barusan. A-aku sungguh tak sanggup melihatnya"

"Kau tergoda? Kenapa kau tidak bergabung saja tadi? Kalau kau yang bergabung pasti aku akan dengan senang hati membuka celanaku untukmu"

Wajah Chanyeol memerah, sebegitu optimiskah Baekhyun untuk menunjukkan tubuh indahnya pada Chanyeol. Lelaki tampan itu menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk membuang pikiran anehnya sebelum ia kembali menatap Baekhyun, kali ini dengan sebuah senyum tampan yang jujur Baekhyun sukai.

"K-kalau aku bergabung, aku tidak akan membiarkanmu membuka c-celanamu d-didepan banyak orang Baek"

"Eung, aku tersipu mendengarnya Yeollie~"

Memang Chanyeol bukan siapa-siapa untuk Baekhyun, ia menyadarinya. Namun jujur Chanyeol sangat menyukai Baekhyun, tak peduli dengan kekurangan dan juga kelebihan anak itu, termasuk sikap nakal yang dimilik oleh Baekhyun. Salahkah kalau Chanyeol melarang Baekhyun bersikap menggoda seperti tadi pada lelaki lain? Jujur Chanyeol cemburu melihatnya, Baekhyun yang selalu bersikap santai dan menggoda para lelaki lain selain dirinya selalu sukses membuatnya marah.

Baekhyun baru saja hendak menarik kepala Chanyeol untuk ia peluk kalau saja lelaki itu tidak berbicara terlebih dahulu dan membuat Baekhyun mau tak mau mengurungkan niat terselubungnya dibalik memeluk kepala Chanyeol.

"Jadi, a-ada apa kau mencariku?"

"Ah, benar. Jadi... apa malam ini kau ada waktu Yeollie?"

"Untuk?"

"Guru Yoon memberikanku banyak sekali tugas karena tadi aku tertidur di jam pelajarannya. Awalnya kupikir tugasnya mudah, tapi setelah kubaca tak ada satupun diantara pertanyaannya yang aku mengerti"

"Lalu?"

Ah, Chanyeol tahu benar kemana arah pembicaraan ini. Ingatkan ia kalau ia adalah salah satu murid terpandai disekolahnya. Bukannya sombong, tapi kan memang seperti itu kenyataannya, walaupun ia terlihat aneh ia bisa membuktikan kalau ia bisa menjadi lebih baik daripada yang lainnya. So, kita kembali ke Baekhyun yang nampaknya hendak melontarkan keinginannya.

"Kau kan pintar, bisa tidak kalau... kau bantu aku mengerjakan tugasku?"

"..."

"A-ah, maksudnya mengajariku. Kau gurunya dan aku muridnya. Bagaimana? Kumohon~"

Chanyeol sempat terdiam untuk beberapa saat, matanya mendapati wajah memohon Baekhyun yang sangat menggemaskan. Membuatnya akhirnya memilih untuk tersenyum dan mengangguk daripada membuat orang yang ia sukai kecewa.

Baekhyun bertepuk tangan kecil setelahnya, memberikan sebuah kecupan dipipi Chanyeol dengan cepat tanpa memperdulikan Chanyeol yang tiba-tiba saja menjadi gugup.

"Kalau begitu aku akan kerumahmu malam ini."

"B-boleh, t-tapi bagaimana kalau aku saja yang kerumahmu besok pagi? Sepertinya malam ini aku tidak bisa"

"Kenapa? Kau tidak ingin aku kerumahmu?"

"T-tidak Baek, aku ada acara d-dengan keluargaku malam ini. A-aku janji akan datang pagi-pagi sekali kerumahmu besok. Lagipula besok kita libur, jadi waktu untuk belajarnya pun akan lebih lama. B-bagaimana?"

"Ah, kau benar. Jangan sampai lupa ne! Aku akan mengingatkanmu terus-terusan!"

Chanyeol mengangguk setelahnya, entah dibisiki setan apa ia melingkarkan tangannya dipinggang Baekhyun. Menarik tubuh lelaki manis yang sudah ia sukai sejak setahun terakhir itu untuk mendekat hingga ia bisa menyadarkan kepalanya di perut Baekhyun.

Baekhyun?

Oh jangan tanyakan setan cantik yang satu itu, matanya berbinar dan dengan sangat lembut ia mengusak kepala Chanyeol, makin mengeratkan pelukan keduanya dengan kakinya yang makin melingkar sengat erat ditubuh Chanyeol.

.

.

.

20.00

"Club?"

"Ne eomma"

Wanita paruh baya yang tengah mencuci piring itu hanya mengangkat bahunya acuh dan tak berniat melirik anak lelakinya yang super tampan itu tengah sibuk bolak-balik dibelakangnya.

Tampan?

Ya Chanyeol kan memang sangat tampan. Dalam keadaan apapun ia selalu terlihat tampan. Disekolah, walaupun ia selalu berpenampilan seperti kutu buku ia juga terlihat tampan dan menggemaskan dibalik kacamatanya. Dan sekarang, dengan jeans dan juga kaos yang sudah dibalut dengan leather jacket membuatnya seribu kali terlihat makin tampan, oh jangan lupakan kacamata hitam yang sudah bertengger dihidungnya yang mancung.

"Apa yang kau cari?"

"Obat perangsang yang kemarin kutaruh dikulkas, apa eomma melihatnya?"

"YAK! PARK CHANYEOL! SUDAH EOMMA KATAKAN JANGAN PERNAH MAIN-MAIN DENGAN OBAT PERANGSANG!"

"Ayolah eomma, aku sudah berniat menggunakannya malam ini!"

"Terserah saja!"

"Eomma lihat tidak?"

Eomma Park hanya menggeleng, kembali pada cucian piringnya setelah sebelumnya sempat menoleh kearah anaknya yang juga masih sibuk dengan urusannya.

"Apa yang botolnya berwarna hijau?" Chanyeol menggumam dan masih tetap mencarinya, takut-takut terselip dibalik sayur-sayuran eomma-nya

"Yang dibotolnya terdapat gambar jeruk?" Chanyeol mengangguk dan sekarang berusaha mencari di laci-laci kecil yang ada didapurnya.

"Tadi saat Kate ahjumma mampir kesini, eomma memberikannya itu"

Damn.

Saat itu juga Chanyeol membulatkan matanya, melepaskan kacamata hitamnya untuk menunjukkan kepada sang Eomma bagaimana ia benar-benar terkejut dengan mata bulatnya. Ia menatap eomma-nya yang kini hanya tersenyum santai seolah tak melakukan kesalahan apapun. Dihampirinya sang eomma masih dengan mata yang membulat tak percaya dengan apa yang tadi eomma-nya ucapkan. Ia tak habis pikir dan benar-benar tak percaya, padahal biasanya hal seperti ini tidak pernah terjadi. Sudah sangat sering Chanyeol menyimpan koleksi obat perangsangnya didalam kulkas dan eomma-nya nampak biasa saja karena wanita itu pun sudah sangat hafal dengan tingkah anaknya.

"Sungguh?"

"Ne, eomma tidak melihatnya. Eomma hanya melihat gambar jeruk dibotolnya"

"Sungguh, seberapa banyak eomma memberinya?"

"Tentu saja satu gelas hehe"

"Ya tuhan, semoga saja Kate Ahjumma diberi kemudahan dalam menyelesaikan urusannya"

Eomma Park mengAmini didalam hati mendengar ucapan Chanyeol, tadi siang ia benar-benar tidak tahu kalau air yang ia kira air limun itu adalah obat perangsang. Salahkan saja Chanyeol yang membeli obat perangsang dengan merek tak terkenal. Apalagi dengan botol hijau tinggi dan juga gambar-gambar jeruk sebagai hiasan.

"Kalau begitu aku berangkat sekarang saja eomma."

"Hati-hati! Jangan pulang terlalu malam, jangan minum terlalu banyak, dan yang paling penting jangan sampai membuat para wanita atau lelaki manis pingsan karena kau gagahi"

"Aku tidak bisa berjanji untuk yang terakhir"

Mata eomma Park membulat mendengar ucapan Chanyeol, namun setelahnya ia hanya menghela nafas dan kembali pada kegiatan awalnya mencuci piring. Toh walaupun ia berkomat-kamit sampai mulutnya berbusa karena menceramahi Chanyeol untuk tidak membuat anak orang sampai pingsan karena digagahi anak nakal itu tidak akan pernah mendengarkan. Chanyeol pasti tetap akan membuat wanita dan lelaki manis yang menjadi partner sex-nya kewalahan sampai akhirnya pingsan.

Ini semua berawal sejak Chanyeol masih berada disekolah menengah, semuanya terjadi begitu saja sampai anak itu mengadu kepada eomma-nya kalau ia baru saja menonton film dewasa. Eomma Park tentu saja cukup terkejut mendengarnya, tapi wanita itu tetap berpikir positif dan menganggap kalau itu adalah hal wajar mengingat Chanyeol adalah anak remaja yang hormonya tengah bergejolak.

Namun seiring berjalannya waktu, tidak seperti teman-temannya yang lain Chanyeol malah terus ketagihan untuk menonton dan bahkan melakukan adegan-adegan yang ia tonton didalm film-nya. Eomma Park sangat marah kala itu, ia mengurung Chanyeol selama beberapa hari didalam kamarnya tanpa fasilitas. Ia berharap dengan begini Chanyeol akan jera dan menyadari bahwa anak seusianya tidak dan belum pantas melakukan hal-hal seperti itu.

Bukannya jera, setelah eomma Park membebaskannya Chanyeol langsung menghilang. Berbekal sebuah mobil pemberian eomma-nya ia yang usianya baru menginjak 16 tahun itu bersembunyi dan menghabiskan waktunya di Club malam. Sedikit mengherankan memang, karena pada dasarnya anak dibawah umur bahkan tidak diperbolehkan memasuki Club malam. Beruntunglah ia memiliki tubuh tinggi dan juga suaranya yang berat, dengan begitu tidak ada yang mencurigai kalau ia bahkan masih 16 tahun.

Eomma Park merasa menyerah dengan kelakuan Chanyeol, dan pada akhirnya pun ia memutuskan untuk diam saja dan memperhatikan. Ia terlalu menyayangi anaknya itu, ia hanya akan terus berdoa kepada tuhan semoga ada keajaiban yang bisa mengubah anaknya.

.

.

.

Jadi, pada intinya itu Park Chanyeol adalah seorang maniak. Monster, begitu para pengunjung Club malam memanggilnya. Ia bisa menarik perhatian banyak orang hanya dengan mengedipkan sebelah matanya. Tubuh tegap, mata bulat, hidung mancung dan bibirnya yang tebal sukses membuat setiap orang rela melakukan apapun untuk bisa bersetubuh dengan Park Chanyeol.

"Kau sudah membuat list? Berapa orang yang akan kau gagahi malam ini?

"Hmm, aku sedang tidak tertarik"

"Aneh, tak biasanya. Jangan bilang ini karena... Baekhyun?"

Chanyeol hanya menyeringai, menarik kedua wanita disisinya untuk makin mendekat dengan matanya yang hanya bisa memberi tatapan mengejek kearah Yifan disebrangnya. Yifan, ya dia Wu Yifan. Si pemain basket paling tampan dan juga paling terkenal disekolahnya. Mereka berteman, bersahabat malahan.

"Kau serius menyukai anak itu?"

"Memangnya kenapa?"

"Kenapa kau malah berpura-pura menjadi pecundang kalau kau menyukainya. Cobalah menarik perhatiannya. Sangat mudah untuk mendekati lelaki sepertinya"

"Aku punya cara sendiri untuk menarik perhatiannya"

"Dengan menjadi bodoh seperti itu?"

Chanyeol pun hanya terkekeh, menenggak minumannya dan memilih untuk bersandar pada kepala sofa dibelakangnya. Membiarkan para jalang yang sedari tadi menggerayangi tubuhnya melakukan apapun sesukanya. Ia harusnya menggagahi beberapa wanita ataupun lelaki malam ini, namun membayangkan Baekhyun yang akan mendesah dibawah kuasa dirinya sepertinya lebih menyenangkan daripada mendengar desahan dari para rekan-rekan sex-nya.

.

.

.

"Aku harus pakai yang mana? Ya tuhan, kenapa semua pakaian ini terlihat membosankan?"

Ini sudah dua jam sejak Baekhyun membombardir isi lemarinya, ia membuang kesembarang arah pakaian-pakaian yang sebelumnya tersusun rapi didalam lemari. Ditangannya kini ada dua buah hot pants dengan warna berbeda. Ia menimang-nimang celana pendek itu sejenak sebelum akhirnya membuangnya kesembarang arah juga.

Ia merasa frustasi sekarang, ia belum mengenakan pakaian apapun dan kini tubuhnya pun hanya tertutupi oleh bathrobe. Ia menggigit kukunya, melirik seluruh pakaian yang bertaburan dilantai kamarnya dan membuat kepalanya terasa makin pening. Apalagi beberapa menit yang lalu Chanyeol baru saja mengatakan kalau ia akan segera sampai kerumahnya. Pagi ini benar-benar membuat kepalanya terasa ingin pecah.

"Sudahlah, tak usah berpakaian saja"

Ia memunguti pakaiannya satu persatu, memasukannya dengan sembarang kedalam lemari dan menguncinya. Dia berdiri didepan cermin besar yang ada dikamarnya, mengusak sendiri rambutnya hingga terkesan berantakan, mengendurkan tali bathrobe-nya dan menariknya sedikit hingga menampilkan bahunya.

Ting...Tong

Baekhyun bisa mendengar bel pintu rumahnya baru saja berbunyi dari dalam kamar, dengan cepat ia berlari keluar dari kamarnya dan menghentikan ahjumma yang hendak membukakan pintu.

"Ahjumma, biar aku saja yang membukanya hehe"

"Hyunnie, apa yang terjadi denganmu?"

"A-aku... orang yang kusuka datang untuk berkunjung"

"Dan penampilanmu?"

"Eum, apa aku sudah nampak menggoda?"

"Yaampun, kau sangat menggoda Hyunnie. Sudah sana buka pintunya, ahjumma akan membuatkan kalian minum"

"Tidak perlu ahjumma, aku yang akan melayaninya hari ini hehe"

Kembali dengan tergesa Baekhyun meninggalkan Kim ahjumma, tak lupa menyempatkan diri untuk menarik bathrobe dibahunya sebelum ia membukakan pintu. Helaan nafasnya terdengar cukup gugup ketika hendak menarik gagang pintunya, dan ia melirik ponselnya yang baru saja bergetar menandakan pesan masuk dari Chanyeol.

Cklek

"Pagi Baek-"

Belum sempat Chanyeol menyelesaikan sapaan-nya matanya sudah membulat dengan mulutnya yang sedikit terbuka, mata bulatnya yang ditutupi kacamata itu menilik dengan teliti lelaki cantik jelmaan iblis didepannya tanpa melewatkan apapun.

Bathrobe putihnya nampak melorot dengan bahunya yang sedikit terlihat, kaki putih dan mulusnya yang terlihat karena bathrobe-nya hanya menutupi sampai lututnya, dan jangan lupakan sebuah sandal dengan kepala anjing yang membuat Chanyeol secara tak sadar tersenyum.

"Ayo masuk"

"N-ne"

Baekhyun menyeretnya, menggenggam tangan besar Chanyeol dengan erat agar lelaki itu mengikutinya. Senyumnya mengembang dengan sangat manis hingga Kim ahjumma yang kebetulan melihatnya pun ikut tersenyum dan menghampirinya.

"Ahjumma"

"Wah Hyunnie, jadi ini kekasihmu?"

"A-ahjumma~ Yeollie belum menjadi kekasih Baekkie, tapi... dia manis kan? hehe"

"B-baek"

"Yeollie, kenalkan ini Kim ahjumma, dia bekerja dirumah ini tetapi aku sudah menganggapnya seperti eomma-ku sendiri hehe. Ya kan ahjumma?"

Kim ahjumma hanya mengangguk, mencubit pipi Baekhyun dengan gemas dan tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Chanyeol menunduk, memberikan salam dengan sopan pada wanita paruh baya yang ia perkirakan usianya sekitar 45 tahunan.

"A-aku Park Chanyeol"

"Park Chanyeol? Seperti kenal"

"Apa ada yang salah ahjumma?"

Baekhyun bertanya hati-hati ketika mendapati wajah penuh tanda tanya dari wanita paruh baya dihadapannya. Tersenyum sangat manis pada wanita itu dengan tangan yang menuntun tangan Chanyeol melingkari pinggangnya.

"A-ah tidak hehe"

"Eum, kalau begitu aku dan Chanyeol akan ke kamar dulu ya ahjumma"

Baekhyun dan Chanyeol pun berlalu dengan yang lebih pendek memilih untuk bergelayut manja dilengan Chanyeol yang tertutupi oleh Hoodie abu-abunya. Meninggalkan Kim ahjumma yang masih berpikir dan bergelut dengan pikirannya sendiri.

"Seperti pernah melihatnya"

.

.

.

Dugh

Baekhyun menarik Chanyeol, menarik lengan lelaki itu hingga saat ini posisinya terlihat seperti Chanyeol yang tengah memenjarakan Baekhyun didalam pelukannya. Mata keduanya bertemu, tentu dengan tatapan bingung milik Chanyeol dan tatapan polos penuh makna dari Baekhyun.

"Jadi Seonsaengnim..."

"B-baek, k-kita selesaikan tugasmu dulu bagaimana?"

"Lalu?"

"S-setelah selesai k-kau bisa melakukan apapun"

"Melakukan apapun padamu?"

"I-itu..."

"Deal"

Baekhyun mendorong Chanyeol dan berjalan mendahului lelaki itu, mencari tumpukan tugasnya yang sudah ia siapkan sejak tadi. Ia melempar buku-buku itu beserta dirinya sendiri keatas ranjang, ia tersenyum dan mengajak Chanyeol untuk segera mengikutinya.

Ia tidak peduli dengan bathrobenya yang baru saja tersingkap dan memamerkan pahanya yang dengan jelas kini dapat dilihat oleh Chanyeol. Baekhyun tak berniat sama sekali untuk membenarkan letak bathrobenya, daripada membenarkan ia akan lebih memilih untuk menyingkapnya lebih besar lagi.

"Seonsaengnim~ kemarilah~"

Chanyeol menelan ludahnya kasar saat itu, dengan perlahan ia merangkak menaiki ranjang Baekhyun dan duduk berhadapan dengan lelaki manis itu. Ditengah-tengah keduanya kini terdapat tumpukan besar tugas-tugas sialan milik Baekhyun yang diberikan oleh Guru Yoon kemarin.

"Ini tugasnya Ssaem"

Chanyeol melirik kertas yang diberikan Baekhyun sejenak sebelum ia mengambilnya, memperhatikan dan menelaah apa-apa saja pertanyaan didalamnya. Setelah selesai membacanya ia tersenyum, mengambil salah satu buku Baekhyun dan mulai membolak-balikan kertas itu dengan perlahan.

Ia menjelaskan dengan sangat telaten walau pada kenyataannya Baekhyun sering kali melamun dan mengabaikannya. Lelaki manis itu malah sibuk menatapi bagaimana bibir Chanyeol bergerak-gerak ketika berceloteh panjang lebar.

Satu demi satu pertanyaan didalam buku Baekhyun terjawab, Baekhyun memekik senang ketika mengetahui kalau tugasnya akan selesai sebentar lagi.

"Aku tidak mengerti!"

Chanyeol yang tengah mengoceh panjang lebar itu menghela nafasnya, memejamkan matanya dan melontarkan sebuah senyum kepada Baekhyun yang kini menopang wajahnya dengan kedua tangan.

"Dibagian mana?"

"Ini, yang ini!"

Baekhyun menunjuk, sembari mengubah posisi duduknya yang malah duduk diatas pangkuan Chanyeol dengan punggungnya yang bersandar pada dada bidang lelaki tinggi itu. Chanyeol terkejut tentu saja, tapi ia berusaha untuk tetap bersikap biasa saja. Ah, mulai sekarang sepertinya Chanyeol harus belajar untuk memaklumi kebiasaan Baekhyun yang satu ini.

"Dengarkan baik-baik, aku akan menerangkan dan menuliskan jawabannya o-oke? Lagipula ini soal terakhir"

Baekhyun mengangguk imut, tak peduli dengan apa yang Chanyeol ucapkan secara berbelit-belit dan panjang lebar. Ia hanya tersenyum dan menikmati bagaimana hangatnya dada Chanyeol pada punggungnya yang hanya terlapisi kain tipis bathrobe.

"Selesai"

"Benarkah?"

Chanyeol mengangguk dengan antusias, bibirnya mengukir senyum tampan yang membuat Baekhyun merasakan ada ratusan kupu-kupu meledak didalam perutnya.

"Jadi..."

Baekhyun menyeringai, memaksa tangan Chanyeol untuk melepaskan bukunya dan menuntun tangan besar itu untuk bermain-main diatas pahanya yang terekspos. Mengajari tangan Chanyeol dengan tangan mungilnya yang ada dipunggung tangan Chanyeol, mengajari lelaki itu mengusap-usap kulit pahanya yang putih menggoda itu dengan gerakan perlahan.

Chanyeol tak menolaknya, ia menelan ludahnya kasar beberapa kali ketika Baekhyun bergerak-gerak tak nyaman diatas pangkuannya. Membuat kejantanannya yang diduduki Baekhyun merasa sedikit sakit.

"Ayo bersenang-senang Yeollie~"

Chanyeol memejamkan matanya, dengan ragu-ragu mengecupi bahu Baekhyun yang tak tertutupi bathrobe dengan lembut dan dalam hingga menimbulkan bunyi 'cup' yang khas. Baekhyun tersenyum penuh kemenangan dan segera menarik makin turun bathrobe-nya hingga Chanyeol yang hampir kehilangan kewarasan itu bisa dengan mudah mendaratkan bibir tebalnya dibahu Baekhyun.

Kedua tangan Chanyeol dibawah sana masih bergerak naik turun mulai bergerak tak beraturan dipaha dalam Baekhyun. Dan ketika tangannya masuk terlalu jauh kedalam bathrobe Baekhyun. Satu hal yang Chanyeol ketahui, Baekhyun tidak mengenakan celana dalam.

"Eungghh, aku tidak berpakaian Yeollieehh~"

TBC

Holaaaa~

Aku bingung mau cuap-cuap apa hehe.

Review Juseyoooooooooo~ :*