Im In Love With A Monster

ChanBaek

M

( Chap 5 - 6 )

.

.

.

"Buka semuanya saja ne? Jangan ditutupi seperti ini"

"B-baek, bukannya aku tidak ingin melihatmu naked. Hanya saja...aku masih belum sanggup. Aku takut kelepasan"

"Memangnya kenapa kalau kau kelepasan? Aku malah senang"

"B-baek"

"Ayolah Yeollie~ kau tidak ingin melihat milikku?"

Chanyeol hanya bisa menelan ludahnya kasar saat ini. Beberapa detik yang lalu tanpa memberikan peringatan apapun Baekhyun langsung membuka bathrobe-nya, membuat Chanyeol yang saat itu tengah memangku anak itu hanya memejamkan matanya yang kembali dihadiahi pout menggemaskan dari kekasih barunya.

Sekali lagi ditegaskan, bukannya Chanyeol tidak ingin melihatnya. Ia hanya takut membuat anak itu pingsan nantinya, Chanyeol bukannya orang yang akan puas hanya dengan satu atau dua ronde. Bagaimana kalau Baekhyun sampai pingsan dan saat sadar anak itu langsung membencinya? Chanyeol hanya tak ingin hal itu terjadi.

Kini Chanyeol sudah membuka matanya kembali walau pada kenyataannya ia masih merasa was-was pada Baekhyun yang kapan saja bisa melepaskan bathrobe yang kini hanya melilit dipinggangnya. Berterimakasihlah pada otak cemerlang Chanyeol yang berinisiatif untuk melilitkan bathrobe itu dipinggang Baekhyun.

"Yeollie~ satu ronde saja~"

"A-aku..."

"Aku benar-benar ingin melakukannya denganmu~"

"B-baek"

"Berapa ronde pun akan aku layani kalau begitu. Kau mau berapa ronde? Aku akan terus membuka pahaku untukmu Yeollie~ ayo lakukan~"

"Kau yakin? Berapa ronde pun?"

"Ne ne ne!"

Harusnya Baekhyun tak berkata seperti itu, jangan membuat Chanyeol berpikir yang aneh-aneh dengan perkataan itu. Dengan sekuat tenaga Chanyeol melawan gairahnya, biasanya ia tidak pernah terpengaruh pada rengekan partner sex-nya. Di club pun biasanya ia langsung menyerang mangsanya tanpa peduli apa mereka akan pingsan nantinya atau tidak. Karena apa? Karena Chanyeol tak mau tahu, lagipula Chanyeol tidak mengenal jalang-jalang itu. namun ini Baekhyun, ia mengaku ia menyukai anak itu mana tega ia sampai membuat anak itu pingsan.

"T-tapi Baek ak-"

"Ah sudahlah, lupakan saja! Anggap aku tidak pernah memintamu bercinta!"

Baekhyun kembali merajuk, ia telungkupkan tubuhnya dengan kepala yang ditenggelamkan didalam bantal. Bibirnya tanpa Chanyeol ketahui telah mengutuknya dengan brutal.

"Aku sudah menjatuhkan harga diriku tapi dia tetap tidak mau. Arghhh, aku marah. Dasar Park Chanyeol menyebalkan!"

Chanyeol yang melihatnya menghela nafas, ia lelah melihat Baekhyun yang sudah berkali-kali merajuk seperti ini. Memang ketika merajuk Baekhyun terlihat sangat menggemaskan, namun jika setiap hal selalu membuat anak itu merajuk Chanyeol juga bisa merasa lelah.

Dengan perlahan Chanyeol mengusak rambut Baekhyun yang sudah sedikit berantakan. Dikecupnya pucuk kepala itu dengan penuh perasaan. Tak mendapat respon dari Baekhyun Chanyeol malah mengecup punggung Baekhyun yang memang tak tetutupi karena bathrobe-nya hanya menutupi bokong dan juga penisnya didepan sana.

Sekali Chanyeol melakukannya tetap tidak mendapatkan respon apapun. Beberapa kali melakukannya pun Baekhyun masih tetap tak bergerak.

Chanyeol merasa sedikit ragu ketika ia naik dan menindih tubuh Baekhyun, ia menggunakan lututnya untuk bertumpu pada sisi kanan kiri tubuh Baekhyun. Dikecupnya perpotongan leher kekasih manisnya hingga menimbulkan sebuah lenguhan kecil dari bibir anak itu.

Chanyeol kembali mengecupi punggung Baekhyun, terus turun kebawah hingga kini ia sibuk mengecupi pinggang kekasih manisnya, hendak saja ia kembali ingin mengecupi perpotongan leher Baekhyun tapi anak itu malah berbalik dengan senyum lebar dibibirnya.

"Kau menyukainya?"

"Ne~"

Yang paling tinggi diantara keduanya hanya tersenyum, dicubitnya hidung Baekhyun hingga menimbulkan sedikit warna kemerahan dipucuk hidungnya sebelum akhirnya Chanyeol kembali melepaskan hoodie-nya.

"Aku senang kau sudah tidak gugup padaku"

"Kau yang memintaku agar tidak gugup"

Kali ini dengan cuma-cuma pun Chanyeol langsung melepaskan kaosnya. Membuat Baekhyun merona malu ketika melihat tubuh Chanyeol yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya kalau ternyata Chanyeol memiliki tubuh yang...bagaimana mengatakannya? Terlalu menggairahkan.

"C-chanyeol"

"Kenapa sekarang jadi kau yang gugup?"

"A-aku tidak!"

Wajah Baekhyun merona, Chanyeol membuang kaosnya kesembarang arah dan langsung mendekatkan wajahnya dengan Baekhyun, dapat ia lihat rona kemerahan yang menghiasi pipi bulat milik Baekhyun. Gemas, ia kecup berkali-kali pipi itu hingga menimbulkan gelak tawa dari Baekhyun.

"Baekkie"

"Hn?"

"Boleh aku... B-bibirmu..."

"Tentu saja boleh! Tak perlu meminta, lalukan apapun padaku. Aku milikmu dan aku membebaskanmu melakukan apapun padaku Yeoliie"

Baekhyun menyentuh wajah kekasihnya, bibirnya ia poutkan seolah menantang Chanyeol. Chanyeol yang melihatnya hanya tersenyum tampan sebelum akhirnya tanpa meminta lagi ia langsung melahap bibir Baekhyun, menciumnya tanpa ragu-ragu lagi karena ia memang sudah biasa mencium seaeorang. Baekhyun yang mendapatkan serangan tiba-tiba itu tertawa didalam ciumannya, tangannya kembali menekan kepala Chanyeol untuk memperdalam ciumannya sebelum ia menyadari sesuatu dan langsung menarik kepala Chanyeol agar ia bisa bertatapan dengan kekasihnya.

"Darimana kau belajar ciuman seperti itu?"

Sial. Chanyeol melupakan fakta kalau Baekhyun mengenalnya sebagai anak pendiam dan polos. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, berusaha memikirkan alasan yang masuk akal agar kekasih manisnya tidak marah dan merasa dibohongi.

"K-kau tahu? A-aku juga laki-laki Baekkie"

"Ne, tapi... Itu terasa sangat profesional Yeollie"

"K-kau tidak menyukainya?"

"Tentu saja aku suka! Aku hanya penasaran hehe. Ayo cium Baekkie lagi eungg~"

Beruntunglah Baekhyun tidak memperpanjang masalah ini lagi, untuk kedepannya sepertinya Chanyeol akan berakting seolah-olah ia tidak tahu saja pikirnya.

Setelah puas membuat bibir tipis itu menebal dengan nafas tak beraturan yang keluar dari rongga mulut si mungil Baekhyun, Chanyeol kembali mengecupi wajah Baekhyun, turun ke pemukaan leher Baekhyun hingga nipple anak itu yang sudah mengang sejak ciuman panas yang diberikan Chanyeol.

"A-akuhh menyukai ketika bibirmu ahh menyentuhkunghh Yeolliehh~"

Baekhyun tidak bohong dengan ucapannya, ia benar-benar merasa puas ketika bibir Chanyeol terus-terusan memberikannya kenikmatan. Ketika Chanyeol yang melakukannya ia merasa berbeda, benar-benar merasa nikmat melebihi para lelaki yang sebelumnya juga pernah menyetubuhinya.

Dengan tak tahu diri Chanyeol menghisap puting yang sudah merah dan basah itu sangat kuat, menggesekan giginya dan sesekali menariknya keatas dengan mengigitnya hingga membuat Baekhyun menggelinjang merasakan nikmat sampai dadanya ikut membusung. Dengan tangannya yang menganggur Chanyeol memainkan puting Baekhyun yang satunya, memijat dan sesekali memilin pucuknya yang makin membuat Baekhyun mendesah putus asa. Ia bahkan sudah mendesah putus asa hanya karena Chanyeol menggoda putingnya, apalagi kalau sampai Chanyeol melesakan penisnya didalam lubangnya nanti? Mungkin Baekhyun akan tahu bagaimana rasanya menangis sambil mendesah kenikmatan.

"A-ahh n-nikmat sekalihlnghh Yeolliehh nghh"

Chanyeol tersenyum mendengarnya, ia senang mendengarkan desahan-desahan yang keluar dari mulut Baekhyun. Membuatnya makin bergairah dan terpancing untuk terus membuat kekasih manisnya itu mendesah frustasi sampai suaranya hilang.

DrrtDrrt

Chanyeol yang melihat ponselnya menyala dan menunjukan panggilan masuk dari eomma-nya segera menghentikan kegiatannya yang langsung diberikan tatapan sayu penuh tanda tanya dari kekasihnya.

"Lagi Yeol, lagi~"

"Eomma-ku menelfon sayang"

"Bohong! Ayo lagi~ aku tidak tahan~"

Chanyeol meraih ponselnya, menunjukan padanya kalau eomma-nya benar-benar menelponya. Baekhyun yang melihatnya hanya mempoutkan bibirnya dan langsung diberikan kecupan kilat oleh Chanyeol.

"Tapi aku ingin lagi Yeollie~ putingku, putingku ingin lagi!"

"Setelah aku meng-"

"Aku ingin sekarang hiks"

Chanyeol membulatkan matanya mendengar isakan Baekhyun, walaupun tak ada air mata yang keluar dari mata anak itu Chanyeol tahu benar kalau anak itu benar-benar tidak tahan dengan hasratnya.

"Usahakan jangan mendesah oke?"

"Ne~

Baekhyun tersenyum senang dan Chanyeol tak bisa berbohong kalau Baekhyun benar-benar menggemaskan. Tangannya yang tidak memegang ponselnya kembali memilin puting Baekhyun dengan kuat, membuat Baekhyun memejamkan matanya menahan nikmat. Chanyeol yang melihat bagaimana frustasinya Baekhyun menahan desahannya hanya bisa menyeringai kecil dan makin bernafsu untuk memilin benda kecil itu.

"Ne eomma?"

"..."

"Naga tampan? Maksud eomma Yi-"

Chanyeol segera menghentikan ucapannya dan melirik Baekhyun, ia baru ingat kalau Baekhyun mengenal Yifan. Bisa mati mencari alasan ia kalau sampai Baekhyun mengetahui ia mengenal Yifan.

"Yeolhh, itu sunguh mhh E-eomma-mu? A-anhh? B-bisa kudengar juga?"

Mendengar ucapan Baekhyun ia menjadi sedikit terkejut, ia bahkan hanya bisa mengangguk dengan penuh keraguab. Awalnya Chanyeol ragu, ia takut eomma-nya malah membicarakan yang tidak-tidak dan Baekhyun yang bingung malah banyak bertanya yang tidak-tidak.

"Yeol? Park Chanyeol, kau disana?"

"Ne eomma"

"Kau dimana memangnya?"

"Aku... Dirumah temanku"

"Teman? Kau tidak izin pada eomma kalau kau ingin keluar rumah. Kau tidak sedang menidu-"

"Aku akan pulang secepatnya, bye eomma"

Dengan cepat Chanyeol mematikan ponselnya, sedikit menghela nafasnya lega karena bisa memotong omongan eomma-nya yang menjerumus.

"Teman?"

Chanyeol menoleh, tangannya sudah berhenti memilin puting Baekhyun sejak beberapa detik yang lalu. Chanyeol dapat melihat wajah Baekhyun yang sedikit tak besahabat, mata anak itu nampak tajam dengan tatapan yang menusuk.

"A-ah itu..."

"Kau sudah mengulum putingku dan berjanji akan menikahiku tapi kau masih bilang aku hanya temanmu?"

"B-baek, maafkan aku.. Aku lupa"

"Begini saja kau melupakanku, apalagi nanti?"

"Baek sungguh maafkan aku"

"Lupakan saja"

Baekhyun merajuk lagi, ditarik selimut tebal miliknya dan menutupinya sampai kepala, membuat Chanyeol yang melihatnya lagi-lagi menghela nafas dan memilih mengalah untuk kali ini. Tak beberapa lama kepalanya nampak, ia menurunkan sedikit selimutnya sampai ke dada. Wajahnya sedikit merajuk namun ada sedikit raut marah disana.

"Pulanglah! Kau ingin pulang kan?"

"B-baek"

"Aku marah padamu!"

"Sungguh, aku tidak sengaja tadi. Aku akan mengatakan pada eomma-ku nanti"

"Tidak perlu! Lebih baik kau pulang sekarang!"

"B-baiklah, aku akan pulang sekarang kalau itu memang mau-mu"

Chanyeol mengambil kaos dan hoodie-nya, memakainya dengan cepat. Ia melirik Baekhyun sejenak, menyempatkan untuk mencium bibir dan juga pipi anak itu sebelum ia melenggang dari kamar luas milik kekasihnya.

Chanyeol sesekali menoleh kebelakang ketika ia menuruni tangga, berharap Baekhyun akan ada dibelakangnya dan mencegahnya pulang. Namun sampai ia tiba dihadapan pintu utama pun anak itu tak terlihat sama sekali keberadaannya. Yang terlihat malah Yebin yang tiba-tiba saja muncul sambil menyeringai.

"Wah, kau ingin pulang? Apa yang dilakukan si jalang Baekhyun hingga anak baik-baik sepertimu bisa terjebak bersamanya?"

Chanyeol yang baru saja hendak menarik pintu utama keluarga Byun urung, ia berbalik dan segera membungkuk pada Yebin.

"Selamat siang... Ahjumma"

Ia menyeringai mengatakannya, ditariklah kacamatanya, diacak sedikit tataan rambutnya yang membuatnya ratusan kali terlihat lebih tampan, itulah sosok Park Chanyeol yang sebenarnya.

Chanyeol menatap wanita itu, ia mengetahui wanita itu. Beberapa kali Chanyeol melihatnya di Club. Meskipun Chanyeol mengetahuinya ia tak pernah tahu siapa nama wanita itu. Ia juga tidak tahu kalau ternyata wanita itu adalah ibu tiri dari kekasihnya.

"Jauhi Baekhyun!"

"Ne?"

"Aku akan memberikanmu apapun kalau kau mau menjauhi anak itu!"

"Termasuk dirimu?"

Chanyeol tak serius mengatakannya, biarpun wanita didepannya terlihat sexy dan menarik Chanyeol tak akan benar-benar menginginkannya. Apa jadinya Baekhyun kalau sampai Chanyeol malah berselingkuh dengan wanita ini? Chanyeol tak sanggup membayangkannya.

"Maksudmu?"

"Serahkan dirimu padaku dan aku akan melepaskan Baekhyun!"

"Sinting! Kau pikir kau siapa hah?"

"Kau tidak mengenalku?"

Chanyeol bertanya sambil terus menunjukan seringainya, ia maju mendekat pada Yebin yang malah membuat wanita itu terkejut.

Hell, Chanyeol sering melihat wanita itu berada dilantai dansa klub malam yang sering ia kunjungi. Tapi, bagaimana bisa wanita itu tidak mengetahui siapa dirinya. Ayolah, bahkan pengunjung setia klub malam dari luar kota banyak yang mengenalnya. Park Chanyeol, si monster yang bisa mendapatkan apapun hanya dengan mengedipkan sebelah matanya.

"Serius kau tidak mengenalku?"

"Yak! Menjauhlah dariku anak nakal! Kau sama saja menjijikannya dengan si jalang itu!"

"Jaga bicaramu! Aku tidak suka bibirmu menyebut nama Baekhyun diiringi dengan kata-kata jalang seperti itu! Tak pernahkah kau bercermin?!"

"Y-yak!"

"Kau habis ditanganku kalau kau berani mengulanginya!"

Wajah tampan yang sebelumnya hanya menunjukan seringaian kini mengeras, ditatapnya penuh amarah wanita yang saat ini nampak takut karena gertakannya. Setelah tak mendengarkan argumen apapun dari wanita itu Chanyeol pergi, membanting pintu berukiran rumit itu hingga membuat Yebin kaget.

.

.

.

"Eomma~"

Tak sampai satu jam setelah menggoes sepedanya dengan kecepatan penuh Chanyeol tiba dirumahnya. Tampa basa-basi lagi ia langsung menghampiri kulkas eomma-nya dan mengambil sebotol air mineral karena tenggorokannya sudah sangat kering.

"Eomma?"

Ia masih belum mendapati eomma-nya, ia dapat melihat beberapa piring makanan yang ia tebak baru saja selesai dimasak oleh eomma-nya, sedikit berjaga-jaga ia mengambil sepotong cumi goreng tepung secepat kilat. Dikelilinginya rumah besar kesayangan appa-nya sambil sesekali melirik kesegala arah mencari eomma-nya.

"Kau coba hubungi saja lagi sayang, anak nakal itu tadi bilang padaku akan segera pulang. Tapi sam-"

"Eomma"

"YAAK! Kau mengejutkan eomma Park Chanyeol!"

"Eomma sedang apa berbincang dengan Yifan ditaman belakang rumah? Kalian tidak..."

"Sudah sudah, eomma akan pergi. Yifan sudah kering berjam-jam menunggumu. Kau darimana saja hah?

"Aku... Aku tadi dari rumah kekasihku"

Eomma Park dan jug Yifan yang mendengarnya hanya membulatkan matanya terkejut. Kedua orang itu saling bertatapan sejenak sebelum akhirnya Chanyeol memaksakan diri untuk duduk diantara eomma-nya dan juga Yifan.

"K-kau punya kekasih sayang?"

Chanyeol mengangguk dan Yifan hanya bisa bertepuk tangan masih dengan perasaan tidak percaya.

"Kau serius?"

"Hn, tadi bahkan aku hampir bercinta dengannya kalau saja eomma tidak meneleponku"

"Lalu kenapa kau pulang?"

"Dia menyuruhku pulang"

"Baik sekali kekasihmu Yeol, kapan-kapan ajak kerumah. Eomma ingin ber-"

"Dia menyuruhku pulang karena saat eomma menelepon tadi aku mengatakan pada eomma kalau ia hanya temanku. Dan saat ini ia tengah merajuk"

Eomma Park yang baru saja reda dari rasa terkejutnya kembali terkejut. Sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Chanyeol. Tapi sudahlah, setelah diingat-ingat ia juga dulu pernah marah pada suaminya karena pada jaman mereka masih pacaran tuan Park pernah mengatakan ia adalah temannya pada seluruh pegawai Park Corp.

"Siapa suruh kau berkata begitu."

"Yak! Aku hanya tidak ingin eomma sh-"

"Tunggu Yeol, apa... Kekasihmu itu..."

"Byun Baekhyun" Chanyeol menyeringai mengatakannya, membuat Yifan makin menunjukkan ekspresi tak percayanya yang sangat menggelikan.

"Yifan, kau mengenal kekasihnya?

Yifan yang saat itu juga terkejut hanya mengangguk, ia sangat mengenal Baekhyun malahan, baik luar ataupun dalam.

"Dia teman satu sekolah kami ahjumma"

"Benarkah?"

"Sudahlah, eomma bilang ingin pergi?"

"Tidak, eomma masih penasaran dengan kekasihmu!"

"Nanti saja penasarannya! Besok akan aku bawa Baekhyun kerumah agar eomma tidak penasaran"

"Janji?"

"Demi gigi Yifan, aku bersumpah eomma!"

Yifan yang baru saja disebut-sebut langsung membelalakan matanya, tangannya yang sedang santai itu langsung terangkat dengan sedirinya untuk memukul kepala sahabatnya. Chanyeol yang merasa tidak terima pun tak tinggal diam, dipukulnya balik kepala Yifan hingga terjadilah aksi saling pukul antara keduanya. Eomma Park yang melihat perkelahian kecil itu hanya tersenyum, ia sudah biasa melihat perkelahian itu bahkan sejak Chanyeol dan Yifan masih berada disekolah dasar, keduanya sudah sering saling memukul seperti itu.

"Jangan terlalu lama mengobrolnya! Eomma menunggu kalian diruang makan!"

"Siap Eomma!/Ne ahjumma!"

.

.

.

Chanyeol ingin marah kenapa hari libur sangat cepat berlalu, tapi ia harus marah pada siapa? Lupakan saja Yeol, setidaknya disekolah kau masih bisa bertemu kekasihmu yang nampak murung dikursinya. Ia dapat melihat Luhan disebelah Baekhyun yang malah terlihat seperti memceramahi kekasihnya. Chanyeol tidak mengetahui apa yang mereka bicarakan karena kini ia hanya berdiri didepan kelas kekasihnya.

Tepat beberapa menit kemudian matanya bertemu dengan mata Baekhyun, wajah Baekhyun yang sebelumnya murung tiba-tiba saja tersenyum dan lambaian tangannya pun tersampaikan. Chanyeol yang melihatnya hanya balas tersenyum dan setelahnya mengedarkan pandangannya kearah lain. Ia dapat melihat Baekhyun dengan tergesa keluar dari dalam kelasnya, ia juga tidak bohong kalau ia mendengar jeritan mengutuk yang keluar dari mulut Luhan yang pasti dilontarkan untuk Baekhyun.

"Chanyeollie!"

Tanpa mengatakan hal-hal lain Baekhyun segera menenggelamkan dirinya pada Chanyeol. Memeluk lelaki itu dengan erat sambil sesekali menggumam maaf. Chanyeol yang tadi sangat terkejut kini hanya tersenyum dan menarik bahu Baekhyun agar keduanya bisa berhadapan.

"Maafkan aku"

"Untuk?"

"Waktu itu...aku sangat kekanakan dan malah mengusirmu. Maafkan aku"

"Tak apa, seharusnya aku yang minta maaf padamu"

"Yeollie~"

Kembali lagi Baekhyun menghambur pada pelukan Chanyeol dan dibalas dengan senang hati oleh Chanyeol. Beberapa orang memperhatikan keduanya dengan bingung, namun tak sedikit pula yang nampak tak peduli karena mereka tahu apa yang dilakukan Byun Baekhyun adalah hal yang tidak penting.

"Baekkie?"

"Hn?"

"Apa sepulang sekolah ini kau ada acara?"

"Tidak ada, memangnya kenapa?"

"Eomma-ku mengundangmu untuk makan malam. Kau...bersedia hadir?"

"Tentu!"

Baekhyun memekik senang, senyumnya melebar dan Chanyeol lagi-lagi hanya bisa tersenyum melihat bagaimana kekasih mungilnya terlihat sangat menggemaskan.

"Tapi Yeollie,"

"Hn?"

"Apa...aku boleh menginap dirumahmu?"

"Tentu saja boleh. Eomma akan sangat senang kalau ada tamu berkunjung"

"Tapi aku ingin tidurnya bersamamu"

"A-ah tentu saja"

"Tapi lagi..."

"Kenapa?"

"Apa kalau kita bercinta eomma-mu akan marah?"

"A-ah itu..."

Baekhyun nampak menundukan kepalanya, wajahnya nampak sedih bahkan sebelum Chanyeol sempat menyelesaikan ucapannya. Lelaki tinggi yang pandai bermain musik itu hanya tersenyum, mengusak rambut kekasihnya perlahan sebelum mengangkat wajah kekasihnya dengan lembut.

"Kau ingin bercinta?"

"Hn. Sejak kemarin aku ingin"

Nada suaranya nampak sangat sedih, seolah-olah kalau Chanyeol menolaknya Baekhyun bisa menangis saat itu juga.

"Kupikir, selama kita tidak melakukannya ditaman milik eomma-ku tidak apa"

Kini Baekhyun benar-benar berani menatap mata Chanyeol, senyumnya mengembang. Senyum menawan yang selalu anak itu tunjukan ketika ia merasa bahagia, Chanyeol sangat menyukai senyuman itu, setelah bibir dan bokong Baekhyun tentu saja.

"Aku mencintaimu!"

Cup

"Heol, Byun Baekhyun baru saja mencium Park Chanyeol dibibir!"

.

.

.

Setelah aksi berbaikan yang dilakukan tadi pagi, Chanyeol dan Baekhyun benar-benar menghabiskan seharian waktu mereka disekolah. Bahkan saat istirahat tiba, Baekhyun dengan tidak tahu diri malah mengabaikan Luhan yang mana tepat ketika ia pergi kutukan beruntun langsung saja lolos dari mulut mungil sahabat rusanya.

Bel pulang baru saja berbunyi beberapa detik yang lalu, siapapun nampak sibuk dan juga menunjukkan wajah bergembira mereka karena jam-jam terkutuk yang menjebak mereka didalam neraka berkedok sekolah ini akhirnya selesai.

"CHANYEOL!"

Si tinggi yang tengah merapikan buku-bukunya itu menoleh, mendapati pria manis keturunan china dengan rambut coklat madu yang sering dipanggil 'rusa' tengah berlari kearahnya dengan tangan terangkat tinggi-tinggi.

"L-luhan-ssi"

"Ya tuhan, kau mau pulang?"

"Ne"

Luhan mengangguk, sedikit susah payah bernafas karena ia naru saja berlari sekitar 10 meter dari kelasnya menuju kelas Chanyeol.

"Boleh aku bertanya?"

"T-tentu"

Chanyeol tak tahu apa yang membuat Luhan bisa sampai rela-rela berlari hanya untuk menemuinya. Ia tak dekat dengan anak ini, walaupun ia sahabat Baekhyun sampai saat ini pun yang Chanyeol ketahui hanya Luhan yang berasal dari China itu adalah kekasihnya Oh Sehun. Hanya itu yang ia tahu.

Setelah berpikir sejenak sambil menunggu Luhan yang nafasnya masih belum beraturan Chanyeol akhirnya memiliki paragraf yang ia percayai sebagai alasan kenapa Luhan menemuinya. Pasti anak ini ingin membicarakan Baekhyun kan?

"Kau serius memiliki hu- kalian pacaran?"

Chanyeol sedikit ragu mendengarnya, namun fakta kalau Luhan bahkan mengetahui hubungannya dengan Baekhyun, sepertinya Baekhyun pun sudah bercerita pada sahabatnya ini. Haruskah Chanyeol membocorkan hubungannya dengan Baekhyun juga?

"Eung...n-ne"

"Bagus"

Wajahnya nampak tak bersahabat, terbukti dari raut khawatir yang langsung terpatri diwajah Luhan ketika Chanyeol baru saja menyelesaikan ucapannya.

"Kau menyukainya?"

"T-tentu"

"Kau akan menerimanya apa adanya?"

"Tentu"

"Kau tidak akan meninggalkannya sekalipun ia adalah anak nakal yang sewaktu-waktu bisa membuat masalah?"

"Tentu. Tunggu, t-tapi kenapa kau bertanya seperti itu?"

Luhan menghela nafasnya. Ia melirik sekitarnya, memastikan bahwa tidak akan ada yang mendengar perbincangannya. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum berbicara, masih menunjukan wajah khawatirnya namun terlihat sedikit lembut karena ada sedikit senyum sebelumnya.

"Kau tahu kalau aku sahabatnya? Bahkan sudah terjadi saat kami masih sangat kecil." Chanyeol mengangguk mendengarnya, membuat Luhan melanjutkan pembicaraannya.

"Aku sangat menyayangi Baekhyun, dia satu-satunya orang yang percaya padaku saat semua orang bilang aku telah membunuh anjing nenek-ku"

Bolehkah Chanyeol tersenyum sekarang? Ia ingin terbahak, tapi karena Luhan terlalu terbawa dengan suasana hatinya ia pun urung dan memilih untuk memperhatikan saja karena ia juga tahu, Luhan tidak jauh berbeda dengan Baekhyun. Anak itu pasti akan merajuk kalau Chanyeol mentertawainya.

"Jadi, kumohon padamu. Jaga Baekhyun, jangan permainkan sahabatku itu. Dan yang paling penting, jangan sampai kau meninggalkan sahabatku itu hanya karena ibu tirinya yang memintamu meninggalkannya. Kau akan habis ditanganku Park"

"T-tentu saja aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak akan meninggalkan Baekhyun"

"Bagus. Sepertinya kau memang baik. Kau tahu? Dibalik tawa sialan yang selalu terlontar dari mulut Baekhyun itu, sebenarnya ia menyimpan banyaaaaaakkk sekali cobaan. Ia sangat kesepian, Ibu tirinya dirumah benar-benar memperlakukannya seperti seorang pembantu, walau berkali-kali Baekhyun melawannya dan mengancam ibu tirinya, tetap saja wanita itu akan mengancamnya balik. Untuk itu, kumohon padamu...Bantu aku untuk melindungi Baekhyun. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Aku tak ingin melihat Baekhyun menangis lagi"

Jujur Chanyeol tertegun mendengarnya, seperti itukah kehidupan kekasihnya yang binal? Sebegitu rumit? Chanyeol bahkan tak tahu kalau Baekhyun yang setiap harinya gemar mengumbar senyum tawa dan aurat itu ternyata sering menangis dihadapan sahabatnya. Chanyeol tak tega mendengarnya, anak manis yang sudah ia cintai sejak setahun terakhir itu tenyata sangat rapuh. Chanyeol bersumpah pada dirinya kalau ia akan melindungi Baekhyun apapun yang terjadi, ia akan berusaha agar tidak membuat Baekhyun merasa kesepian lagi.

"Aku tidak memaksamu untuk selalu 24 jam ada disisinya, aku hanya minta kau hadir ketika ia membutuhkan. Ia tak memiliki siapa-siapa lagi selain aku dan sekarang mungkin ditambah dirimu."

"Aku akan berusaha un-"

"YAK! Kenapa kalian berdua bermain dibelakangku? Chanyeollie? Kau menyelingkuhiku? Dengan rusa sialan ini?"

"B-baek aku tidak me-"

"Jaga mulutmu sialan! Aku tidak tertarik pada kekasih tiangmu yang bodoh ini!"

"Chanyeollie-ku tidak bodoh Lu! Dasar jalang!"

Baekhyun yang baru saja hadir dalam percakapan itu nampak tak terima dengan ucapan Luhan, tak tahukah lelaki China itu kalau kekasihnya adalah juara olimpiade sains nasional? Terkutuklah wahai Luhan yang buta informasi itu.

Dengan tangannya yang memeluk Chanyeol secara protektif Baekhyun mempoutkan bibirnya, membuat Luhan yang memang belum beranjak dari tempatnya hanya memandang anak itu jengah.

"Demi Penis Sehun, aku tidak melakukan apapun pada kekasihmu Baek!"

"Benarkah Yeollie? Lulu tidak menggodamu kan?"

"T-tidak Baek, dia hanya menanyakan sesuatu"

"Apa?"

"I-itu..."

"Aku bertanya apakah ia ingin membeli pengaman untuk bercinta denganmu atau tidak. Tapi ternyata tidak, yasudah"

"Yeollie?"

Chanyeol membulatkan matanya tak tanggung-tanggung, Baekhyun yang ada didalam dekapannya kini menatapnya penuh rasa penasaran dengan wajah menggemaskan. Apa-apaan dengan yang dikatakan Luhan barusan? Tidak bisakah lelaki itu mencari alasan yang lebih masuk akal lagi? Matilah kau Luhan sayang.

"Kenapa tidak bilang padaku kalau kau ing-"

"A-aku t-tidak... J-jangan dengarkan Luhan B-baek"

"Terserah kalian saja, aku akan pergi sekarang. Sehun sudah menungguku lagian"

Baekhyun mengangkat bahunya acuh ketika Luhan pergi, memilih untuk bergelayut manja pada Chanyeol yang kini wajahnya sedikit dibuat-buat terkejut karena masih mengingat ucapan Luhan. Sesungguhnya ia tidak terkejut, namun membayangkan dirinya akan menggunakan benda laknat itu bersama Baekhyun suatu saat nanti membuatnya menyeringai sendiri didalam hati.

"Kau jadi mengajakku kerumahmu?"

"A-ah, t-tentu saja"

"Berapa kali kukatakan untuk berhenti gugup seperti itu?"

"M-maafkan aku.. A-ayo pulang"

"Ne"

"Tunggu!"

Baekhyun sedikit mengangkat kepalanya yang sebelumnya bersandar pada lengan Chanyeol, ditatapnya bingung sang kekasih yang hanya diam ditempatnya.

"Bukannya tadi pagi kau membawa mobilmu Baekkie?"

"Oh, aku lupa hehe"

"Kalau kau ikut pulang bersamaku naik bus, mobilmu bagaimana?"

"Hmm, akan kutinggal disini saja. Lagipula aku ingin naik bus bersamamu."

"Sungguh? Bus sangat ramai di jam seperti ini Baek, kau tak akan kebagian tempat duduk dan akhirnya kau harus berdesak-desakan"

"Tak apa kalau berdesakan denganmu. Pasti menyenangkan"

"Jangan pikirkan macam-macam. Ayo pulang sebelum ketinggalan bus"

Baekhyun kembali mengangguk, menyandarkan kembali kepalanya pada dada Chanyeol dengan tangan Chanyeol yang barusan ia paksa untuk memeluk pinggangnya.

Keduanya berjalan berdampingan tanpa memperdulikan tatapan menyelidik dari beberapa siswa disana. Senyum Baekhyun yang mengembang dengan sangat manis hanya bisa membuat Chanyeol tersenyum senang tanpa niat bersuara.

.

.

.

Tak sampai memakan waktu lama hingga keduanya sampai di pemberhentian bus yang jaraknya tak jauh dari sekolah mereka. Sudah hampir 5 menit keduanya berdiri dibawah halte yang hanya ada mereka berdua disana. Melihat suasana yang sepi membuat Baekhyun terus-terusan berusaha untuk mencuri kecupan dari Chanyeol, namun lelaki tinggi yang katanya masih punya malu itu menolaknya perlahan dengan senyumnya yang mana membuat Baekhyun kesal dan akhirnya hanya mempoutkan bibir sexy kesayangannya.

"Kau bilang tidak ingin membuatku merajuk lagi, tapi sekarang?"

"Ini tempat umum Baekkie, siapa yang tahu kalau seseorang bisa saja muncul secara tiba-tiba nanti?"

"Aku kan hanya ingin bibirmu! Tak akan lama"

"Yakin?"

"Ck"

Tepat ketika bus besar yang sedari tadi mereka tunggu tiba, Baekhyun langsung meninggalkan Chanyeol yang meneriakinya agar tidak jauh-jauh karena saat itu bus benar-benar penuh.

Beruntunglah ketika pintu bus itu tertutup Chanyeol bisa langsung menggapai tangan Baekhyun dan menariknya. Chanyeol memeluk pinggang anak itu, mengurungnya antara dinding bus dengan dirinya. Baekhyun ingin tersenyum tapi ia menahannya dan masih keukeuh dengan wajah merajuknya walau kenyataannya ia tetap menyandarkan kepalanya pada dada Chanyeol.

Tak ada yang bisa melihat Baekhyun sekarang. Orang-orang disisi Chanyeol yang memunggungi mereka, tubuh besar Chanyeol juga menenggelamkan Baekhyun yang manis dan menggemaskan itu dibalik tubuhnya.

"Kita akan melakukannya nanti malam. Jangan merajuk seperti ini Baekkie"

Baekhyun tak menjawabnya, wajahnya masih dibenamkan dibalik dada Chanyeol. Ia menyeringai tanpa sepengetahuan Chanyeol ketika mendengar bisikan lelaki itu ditelingannya.

Tangannya mencengkeram lengan Chanyeol dan akhirnya menyerah untuk bersandar lebih lama didada yang sialnya terasa nyaman milik kekasihnya.

"Baek~"

"Terserah"

Baekhyun menatapnya malas, berdecak sekali sebelum ia akhirnya berbalik untuk memunggungi Chanyeol. Tangannya ia lipat didepan dadanya dengan seringai manis yang lagi ia tunjukan tanpa sepengetahuan Chanyeol.

"Ah, tali sepatuku"

Terkutuklah wahai kalian iblis yang bersemayam ditubuh Baekhyun.

Lelaki manis itu sedikit menungging dan mendorong tubuhnya sedikit kebelakang hingga bokongnya dengan sengaja menabrak milik Chanyeol dengan keras.

Chanyeol dibelakang sana hanya membulatkan matanya terkejut, memperhatikan bokong Baekhyun yang menempel pada tubuh bagian depannya karena anak itu nampak sibuk membenarkan tali sepatunya.

Kenapa anak itu tidak berjongkok saja, pikir Chanyeol. Mengingat tempat ini sangat sempit seharusnya Baekhyun mengerti dan berjongkok, daripada ia menungging seperti ini. Selain makan tempat, posisinya saat ini sepertinya membuat kejantanan Chanyeol merasa terganggu dan derdenyut nyeri.

"Ck, sulit sekali mengikatnya"

Persetan, bahkan tali sepatunya sama sekali tak lepas. Keduanya masih terikat dengan rapi tanpa ada tanda-tanda kendur ataupun ingin lepas. Itu semua hanya akal-akalan Byun Baekhyun ahar bisa mengerjai Chanyeol.

Kini kedua tangan mungil Baekhyun yang sebelumnya hanya berayun dibawah sana ia sandarkan pada dinding besi didepannya. Masih menungging dan malah memaju mundurkan tubuhnya secara perlahan, yang mana makin membuat Chanyeol frustasi dibelakang sana karena ia mulai merasa celananya menjadi sesak.

"Baekkie!"

Baekhyun mengabaikan panggilan itu, masih tetap maju mundur dengan tangannya yang bertumpu ia kembali menyeringai, bersorak dalam hatinya ketika tangan Chanyeol mulai membelai lembut bokongnya dibelakang sana.

"Baekkie, kau kenapa?"

"A-ah aku..."

Baekhyun sedikit terkejut ketika Chanyeol menariknya untuk berdiri tegak dan saling berhadapan. Wajahnya memerah memperhatikan Chanyeol yang entah kenapa terasa begitu tampan saat ini.

"Kau sakit?"

"An- ngg, ne~ Baekkie mual~"

"Mual?"

"Hn, Baekkie mual Yeollie~"

"Sini, biar aku mengusap perutmu. Itu akan membuatmu jadi lebih baik. Nanti saat sampai dirumahku baru kau minum obat!"

Awalnya Baekhyun hanya berniat menjadikan 'mual' sebagai alasan agar Chanyeol tidak memarahinya karena menggodanya ditempat ramai seperti ini. Namun mendengar penawaran baik hati dan menguntungkan dari lelaki itu tentu saja Baekhyun tidak akan menolak.

Ia pun dengan senang hati berbalik kembali memunggungi Chanyeol, dapat ia rasakan lelaki dibelakangnya melangkah mendekat padanya hingga tubuh belakang Baekhyun bisa merasakan lagi bagaimana tubuh Bagian depan Chanyeol dengan sangat jelas.

Baekhyun memejamkan matanya sambil mengigit bibirnya ketika tangan besar Chanyeol melingkar dipinggangnya dan membuka 2 kancing seragamnya.

Baekhyun merinding, apalagi saat dagu Chanyeol bersandar dibahunya ketika lelaki tinggi itu melirik tangannya dibalik seragam Baekhyun.

"Apa kau mual gara-gara naik bus?"

"Entah"

"Besok-besok aku tidak akan memperbolehkanmu naik bus lagi!"

"Ani~ bukan gara-gara bus Yeollie~ pasti karena ac dikelasku tadi"

"Sungguh"

Baekhyun bergumam kecil dan matanya kembali terpejam ketika tangan dingin Chanyeol menyapa permukaan perutnya. Membuatnya merinding namun juga nyaman.

"Maaf membuatmu terkejut. Apa aku hentikan saja? Kau merinding Baekkie"

"A-ani, lanjutkan saja. Kau ingin aku muntah disini?"

Tentu saja Chanyeol tak ingin kekasihnya muntah ditempat umum, ia pun kembali mengusap perut Baekhyun. Menggerakan tangannya naik turun tanpa mengetahui seberapa merahnya wajah Baekhyun menahan geli dan juga nikmat.

Baekhyun membuka satu kancingnya lagi tanpa Chanyeol ketahui, membuat tangan Chanyeol makin leluasa bergerak naik turun diperut Baekhyun yang makin membuat Baekhyun ingin mendesah karena satu tangan Chanyeol terus bergerak naik hingga dadanya.

Satu lagi kancingnya terbuka. Chanyeol yang melakukannya hanya bersikap santai sambil tetap mengusap perut Baekhyun dengan satu tangannya sedangkan tangan yang lain malah bermain-main didada Baekhyun mencari puting anak itu untuk dimainkan.

"Apa aku harus minta izin untuk ini?"

Baekhyun menggeleng, sedikit mengangkat kepalanya ketika salah satu pucuk putingnya baru saja dicubit dengan kuat oleh Chanyeol. Ingin rasanya mendesah bebas, namun ia juga masih punya malu ngomong-ngomong.

Chanyeol bahkan tak lagi mengusap perut Baekhyun, selain tangannya yang sibuk bermain dengan puting Baekhyun, kini tangan satunya malah berusaha menurunkan resleting celana Baekhyun setelah sebelumnya ia menekan kejantanan Baekhyun dari luar celananya.

"Kau menginginkan ini kan?"

Baekhyun hanya bisa mengangguk, tak berani menyingkirkan tangannya yang membekap mulutnya sendiri karena ia takut desahannya akan lolos.

Putingnya kini benar-benar menegang dan celananya pun juga mulai terasa sesak setelah Chanyeol sempat meremas dan kembali menaikan resleting celananya.

Kini kedua tangan lelaki tinggi itu malah memilih untuk bermain dengan puting susu Baekhyun, menekan atau bahkan menjepitnya keras diantata ibu jari dan telunjuknya sambil tak lupa ia menggerakan ibu jari dan telunjuknya seolah-olah memerah susu.

Kaki Baekhyun lemas, ingin ia segera berbaring dan membiarkan Chanyeol menjelajah tubuhnya lebih jauh lagi. Ia sudah tak sabar untuk berbaring diatas ranjang Chanyeol dengan lelaki tinggi itu diatasnya.

"C-chanyeolhh!"

"Jangan mendesah Baekkie. Nanti ada yang mendengarnya!"

"Milik Baekkie menegang"

"Kau pikir milikku tidak?"

"Ayo lakukan~"

"Tunggu sebentar lagi"

Kembali lagi Baekhyun mempoutkan bibirnya, ia singkirkan tangan Chanyeol dari putingnya. Ia pasang kembali kancing kemejanya dan segera memaksa untuk bertukar posisi dengan kekasihnya.

Chanyeol terkejut tentu saja, apalgi ketika Baekhyun tiba-tiba saja langsung memeluknya dari belakang. Tangan anak itu memeluk erat pinggangnya dan kemudian membelai kejantanan Chanyeol yang memang sudah sedikit menegang.

Belaian lembut Baekhyun kini berubah menjadi remasan perlahan. Chanyeol yang sangat terkejut dengan tindakan kekasihnya matanya membulat, ia lepaskan tangan Baekhyun dari kejantanannya dan segera berbalik menatap marah pada Baekhyun yang kini hanya tersenyum menang. Jadi, ini ajang balas dendam? Pikir Chanyeol dan membiarkan Baekhyun yang masih tersenyum menang untuk kembali membelakanginya. Namun kini Baekhyun telah maju selangkah dan berdiri diantara ahjumma dan seorang lelaki berseragam sekolah yang tak Chanyeol kenal.

"Satu halte lagi dan bersiaplah akan pembalasanku Baek!"

Dan lagi, Baekhyun hanya tersenyum setelah akhirnya ia bisa meremas kejantanan Chanyeol hingga penis yang mungkin sangat besar itu menegang.

Semoga malam ini keberuntungan berpihak padamu lagi Baek!

TBC

preview Chap 7

"P-panjang sekalihh~"

"A-apa sakit Baekkie?"

"Anihhh~ B-baekkie menyukainyaahh~ Baekkie menyukai nhh penis Yeollie~"

"S-sempithh sekali B-baek"

Segitu dulu aja wkwk. Sisanya ada di Chap 7 yeayy!

.

.

Annyeong~

Pertama, HAPPY BAEKKIE DAY~

Kedua, maafkan untuk Typo yang ada. Aku udah berusaha buat ngoreksi setiap katanya. Tapi kalo tetep ada, maafkan akuuuu~

Ini beneran Chapter 5 - 6 sekaligus, ini pertama kalinya aku update FF pake cara doubleupdate... Mian kalau terlalu panjang, namanya juga gabungan kan hehe. Kenapa digabung? Hmm, aku pengen cepet-cepet update naena-nya ChanBaek aja wkwk, ga enak sama kalian yang udah rajin nagihin naena soalnya hehe^^

Hmm, kemarin ada yang bilang ceritanya kurang panjang, banyak juga yang bilang pengen buruburu ChanBaek naena, dan lebih banyak juga yang bilang kalau TBC kemarin itu mengganggu wkwk... Maaf, aku sengaja buat TBC yang gantung hehe.

Aku ga sanggup buat nahan part naena-nya ChanBaek lebih lama lagi wkwk. So, Chap depan naena, Oke^^

Oh, buat yang pengen baca Pwp, sama naena-nya ChanBaek...bisalah lirik ke FF aku yang sebelah. 'Baek's Special Gift' aku baru aja bikin FF itu, selesai ketik langsung aku publish hehe^^

Review Juseyooo~ I Love You~ Muachh :*