Im In Love With A Monster
ChanBaek
M
.
.
.
Dengan langkah riang nan kekanakan, Baekhyun kini terlihat berjalan sendirian dilorong sekolahnya. Setelah Chanyeol berkata akan meminta izin terlebih dahulu pada guru olahraganya, Baekhyun pun hanya mengangguk patuh ketika Chanyeol memintanya pergi duluan. Dengan iming-iming akan menemaninya membolos Baekhyun pun memekik senang dan langsung memeluk lelaki itu.
"Yifan!"
Bola matanya membulat dan dengan segera Baekhyun berlari menghampiri lelaki tinggi yang kini menghentikan langkahnya disebrang sana. Baekhyun tersenyum ketika Yifan tersenyum padanya, dan ia juga membiarkan ketika Yifan menyeka keringat kecil yang ada didahinya.
"Ada apa? Merindukanku?"
Baekhyun tertawa kecil ketika Yifan menariknya kedalam dekapan lelaki tampan itu. Membiarkan lelaki tampan itu mengecup pipinya berkali-kali tanpa berniat protes sedikitpun.
"Aku hanya ingin bertanya"
"Katakan!"
Baekhyun mendorong bahu Yifan dengan perlahan, baru ingat kalau ia sudah berjanji pada Chanyeol, ia tidak akan membiarkan lelaki lain selain kekasihnya itu untuk menyentuhnya.
"Eung...apa semalam kau ada dirumah Chanyeol? Didepan kamar anak itu tepatnya?"
"Kenapa bertanya begitu eung?"
Yifan kembali berniat memeluk Baekhyun, namun dengan sangat lembut Baekhyun menolaknya. Memegangi lengan Yifan sambil tersenyum sangat manis.
Yifan sempat menyerngit bingung karena mendapatkan sebuah penolakan dari Baekhyun. Namun, mengingat anak dihadapannya seperti sudah ditaklukan oleh Park Chanyeol membuat Yifan hanya menyeringai didalam hati. Ia sedikit lega, menurutnya dengan Baekhyun menjadi milik Chanyeol, kelakuan binal Baekhyun bisa saja dikurangi. Mungkin saja.
"Aku tidak ingin Chanyeol salah paham kalau melihat kau memelukku seperti itu"
"Chanyeol?"
"Ne. Ah, kembali kepertanyaanku!"
"Aku dirumah Chanyeol? Tentu saja tidak! Untuk apa aku kerumah si kutu buku itu ketika ia tengah bercinta denganmu!"
"Yifan?"
Yifan membulatkan matanya, menyadari apa yang ia katakan. Ia baru sadar Baekhyun bahkan tidak membahas masalah bercinta, tapi ia dengan bodohnya malah keceplosan seperti itu. Ia merutuk sejadi-jadinya. Sial, drama bodoh yang dibintangi Chanyeol benar-benar membuat kepalanya pening.
"Bagaimana kau tahu kalau semalam aku dan Chanyeol..."
"Hanya menebak."
"Begitu?"
"Ne. Aku harus kembali ke kelas, maaf sayang nanti kita bertemu lagi"
Baekhyun mengangguk dan tersenyum, tak berniat protes ketika Yifan mencuri sebuah kecupan dibibirnya. Ia benar-benar bingung sekarang, jadi sebenarnya yang semalam ia lihat didepan kamar Chanyeol itu Yifan atau bukan.
.
.
.
Kantin terlihat sangat sepi mengingat ini masih jam pelajaran, tak ada satupun orang yang mengunjungi kantin, kecuali Baekhyun tentu saja. Ia kini dengan malas-malasan disalah satu kursi dipojok dengan ponsel ditangannya, mengirimi banyak pesan pada Chanyeol karena anak itu belum juga kelihatan.
"Baekhyun!"
Kepala Baekhyun terangkat, sempat tersenyum karena ia kira yang memanggilnya adalah sang kekasih yang sudah ia tunggu-tunggu kehadirannya. Namun saat menyadari siapa yang memanggilnya, senyumnya luntur dan ia kembali menenggelamkan kepalanya diatas meja.
"Sendirian eum?"
"Jangan ganggu aku!"
"Wah wah, lihatlah siapa yang baru saja menolakku? Kau selalu mengatakan itu tapi kalau aku sudah menyentuhmu kau akan ket-"
"Menjauhlah Bobby!"
"Tidak akan!"
Baekhyun agak terkejut ketika Bobby secara tiba-tiba mengangkat tubuhnya untuk duduk diatas pangkuan lelaki itu. Baekhyun ingin melawan tapi tidak bisa, secepat kilat tangannya dipegangi dengan kuat oleh Bobby.
"Ti-tidak mau! Lepaskan aku bodoh!"
"Tenanglah, aku akan membuatmu menikmati ini sayang"
"Lepaskan aku sialan!"
Baekhyun menutup mulutnya rapat-rapat ketika Bobby menenggelamkan kepalanya dileher Baekhyun, menghisapnya tak sabaran yang membuat Baekhyun ingin marah dan memukul lelaki ini.
Sebelah tangan lelaki itu yang tak digunakan untuk memegangi tangan Baekhyun tergerak untuk melepaskan kancing kemeja Baekhyun satu persatu. Baekhyun masih menutup mulutnya rapat-rapat, berusaha tak mengeluarkan suara-suara aneh karena ia tak ingin Bobby sampai berpikir kalau ia menikmati permainan anak itu.
"Sepertinya kau habis bermain dengan seseorang semalaman"
"..."
"Lihatlah bercak-bercak ini, apa dia benar-benar bernafsu menikmatimu?"
"..."
"Siapa yang melakukannya eum? Kau...Apa kau merelakan tubuhmu pada lelaki tampan lagi?"
"Tentu saja tidak!"
Baekhyun agak tidak terima mendengarnya, memang dulu ia pernah merelakan tubuhnya secara suka rela pada seorang lelaki tampan yang tidak Baekhyun ketahui namanya. Namun sekarang tentu saja tidak, Baekhyun tidak akan membiarkan orang lain menyentuhnya karena ia sudah memiliki Chanyeol.
Baekhyun adalah seseorang dengan tipe Setia. Walaupun tetap saja sulit menghilangkan sikap binalnya, Baekhyun tetaplah Setia. Ia memang menggoda lelaki lain, tak segan bahkan merelakan dirinya berakhir telentang dibawah kukungan lelaki tampan. Tapi kalau Baekhyun sudah bilang 'aku mencintaimu', percayalah kalau ia benar-benar serius. Ia tidak akan main-main dengan perasaannya. Begitupun dengan Chanyeol, Baekhyun sudah mengatakan pada Chanyeol kalau ia mencintai lelaki itu. Jadi, lihat saja nanti, Baekhyun tidak akan main-main dengan Chanyeol. Tapi...kalau hanya untuk menggoda dan juga bermain-main dengan lelaki lain tidak apa kan? Baekhyun benar-benar tidak bisa menghilangkan sifatnya yang nakal seperti itu.
"Jadi siapa yang melakukannya?"
Bobby bertanya sambil tangannya menarik turun resleting celana Baekhyun. Baekhyun pun hanya diam, ia ingin melawan tapi tangannya masih dipegangi dengan erat, ia tak bisa bergerak dan juga tangannya merasa sakit karena cengkeraman Bobby.
"Kekasihku!"
"Kau punya kekasih? Siapa?"
Bobby terawa meremehkan mendengarnya, sedikit tak percaya ada yang benar-benar mau mengikat sebuah hubungan dengan lelaki nakal semacam Baekhyun. Bukannya apa, Bobby jadi bertanya sendiri sekuat apa lelaki itu menahan cemburu karena...tahu sendiri bagaimana kelakuan binal Byun Baekhyun.
"Chanyeol! Park Chanyeol!"
"M-mwo?"
Satu lagi orang yang Baekhyun dapati terkejut setelah ia mengatakan bahwa Chanyeol adalah kekasihnya. Setelah Luhan, kini lelaki bermata sipit dihadapannya pun terlihat tak kalah terkejutnya dari Luhan ketika ia mengatakan bahwa Chanyeol adalah kekasihnya.
"M-maksudmu P-park Chanyeol yang terlihat bodoh itu? Yang selalu terlihat aneh dan berdiam diri dipojokan?"
"Ya memangnya siapa lagi Park Chanyeol disekolah ini?"
Bobby membulatkan matanya terkejut, takut-takut ia menatap mata Baekhyun dan melepaskan tangannya yang mencengkeram erat lengan Baekhyun.
Ia tahu benar siapa Park Chanyeol, jangan mengaku anak malam kalau tidak mengenal Park Chanyeol. Bobby tahu seberapa kasarnya Park Chanyeol, dan kini ia tahu bahwa lelaki yang menutup-nutupi dirinya selama ini ternyata adalah lelaki yang telah membuat banyak sekali bercak-bercak keunguan ditubuh BitchyBaek.
Bobby tahu bagaimana rasanya dipukuli Chanyeol, itu sudah lama sekali ketika ia tak sengaja memakai jalang yang seharusnya menemani Chanyeol malam itu. Sejak saat itu Bobby tahu, Park Chanyeol tidak akan membiarkan orang lain menyentuh apa yang sudah menjadi miliknya. Dan Baekhyun adalah milik Chanyeol sekarang. Bobby meremang tiba-tiba, dengan hati-hati ia turunkan tubuh Baekhyun dari pangkuannya.
"M-maafkan aku Baek. Aku...akan pergi sekarang"
"..."
"Tolong, tolong jangan katakan pada Chanyeol kalau aku melakukan ini padamu!"
"Kenapa?"
"Karena ak-"
"Baekkie?"
Sial. Bobby menelan ludahnya kasar ketika mendapati si lelaki tinggi yang pernah membuatnya babak belur tengah berdiri dengan wajah serius disisinya.
Tanpa banyak berbicara lagi, Bobby segera berlari. Membuat kerutan halus tiba-tiba muncul dikening Baekhyun karena bingung kenapa Bobby bisa sampai berlari ketakutan seperti itu.
"Apa yang terjadi?"
"Hn?"
"Pakaianmu!"
Baekhyun mengedipkan matanya beberapa kali, menyadari bahwa kancing seragamnya tak terkancingi dengan pengait celana yang terbuka.
"Y-yeollie, Baekkie bisa jelaskan"
"..."
"Yeollie~"
Baekhyun membenarkan pakaiannya secepat yang ia bisa ketika menyadari wajah tak bersahabat Chanyeol. Ia pegangi lengan kekar Chanyeol dan langsung menariknya untuk duduk.
"Yeollie sudah meminta izin pada Guru Kang?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan Byun Baekhyun!"
"Yeollie~ maafkan Baekkie~"
"Semalam kau baru saja berjanji padaku dan sek-hmptt!"
"Maaf~"
Baekhyun dengan sangat cepat langsung melompat kedalalm pangkuan Chanyeol, wajahnya ditekuk dengan bibir mengerucut sedih. Menunjukan seberapa menyesalnya ia telah mengecewakan lelaki itu.
Walau Baekhyun sangat yakin 100% bahwa ini adalah kesalahan Bobby, tapi ia akan berbaik hati dan mengaku pada Chanyeol bahwa ini adalah kesalahannya. Ia masih penasaran dengan Bobby yang tiba-tiba saja merasa ketakutan ketika Chanyeol datang. Apa ada yang disembunyikan? Pikir Baekhyun.
"Maafkan Baekkie~"
Baekhyun kembali mengecup bibir kekasihnya berkali-kali. Masih tetap tak mendapat jawaban dari Chanyeol, Baekhyun mengangkat kepalanya. Menatap mata Chanyeol dengan mata berkaca-kaca dan juga bibir yang melengkung sedih.
"Jangan menangis. Maafkan aku"
Chanyeol pun menyerah, ia dekap dengan sangat erat Baekhyun-nya. Membiarkan lelaki manis itu menyamankan posisinya dengn seringai yang tiba-tiba muncul diwajahnya tanpa Chanyeol ketahui. Sebegitu cinta-nya kah Park Chanyeol padanya? Mudah sekali membuat lelaki itu luluh.
"Kumohon dengan sangat padamu Baekkie, jangan ulangi lagi! Aku tidak sanggup melihatnya"
"Ne hiks, maafkan Baekkie~"
"Jangan menangis, aku merasa sangat jahat kalau kau menangis"
Chanyeol menarik dagu Baekhyun dengan perlahan, menghapus air mata buaya yang mengalir dari mata anak itu dan memberikan kecupan lembut dikedua kelopak matanya.
Baekhyun hanya tersenyum, mengangguk dengan sangat menggemaskan dan segera menyandarkan kepalanya dibahu Chanyeol. Tangan kirinya membuat pola abstrak didada Chanyeol dengan tangan kanannya yang menggantung dileher lelaki tampan itu.
"Yeollie~"
"Hn?"
"Baekkie ingin bertanya"
"Katakan"
"Eung, sebenarnya...apa ada sesuatu yang disembunyikan? Baekkie merasa se-"
KriingKringgg
"Bel istirahat baru saja berbunyi Baek"
"Lalu?"
"Mau sampai kapan duduk dipangkuanku seperti ini?"
"Selamanya~"
Cup
"Duduklah, aku akan memesan makanan sebelum antriannya menjadi sangat panjang"
"Ba-"
"Baekhyun!"
Niatnya Chanyeol ingin segera pergi, tapi melihat kehadiran Luhan dan juga kekasihnya ia malah diam. Ia duduk kembali ditempatnya ketika dengan tiba-tiba Baekhyun menarik pergelangan tangannya.
"Luhan dan Sehun boleh bergabung dengan kita kan Yeollie?"
"T-tentu sa-"
"Ah, Yifan! Apa Yifan juga boleh?"
"Satu sekolahpun kalau kau mau juga tak apa sayang"
"Terimakasih"
Kali ini Chanyeol benar-benar bangkit dari duduknya, membalas tatapan bingung dari Sehun tanpa berkata apapun karena Chanyeol sendiri sedang tak ingin membicarakan apapun. Kemudian Yifan, lelaki tinggi yang baru saja sampai setelah Baekhyun meneriakan namanya kini tengah saling berhadapan dengannya. Chanyeol mengabaikan seringaian dari bibir Yifan, memilih berjalan menjauh karena ia harus segera memesan makanan untuk kekasih manisnya.
"Kenapa duduk disana Yifan?"
"Tak apa, aku tidak ingin membuat kekasih barumu salah paham Baek"
"Ah kau benar"
"Tunggu, Baekhyun hyung...dengan Chanyeol hyung?"
"Kau belum tahu? Dasar bocah"
Yifan menyeringai, merangkul bahu Sehun yang kebetulan duduk disebelahnya dan membenarkan hubungan yang terjadi antara Park Chanyeol dan juga Byun Baekhyun.
Lelaki tinggi yang memiliki kulit seputih susu itu membelalakan matanya tak percaya. Luhan sebagai kekasihnya hanya tersenyum mendapati tatapan menggemaskan dari lelaki satu itu, dan ia hanya mengangguk untuk lebih meyakinkan si lelaki Oh.
"T-tapi kan Chanyeol hyung itu seorang play-"
"Aku sangat malas mengantri untuk memesan makanan"
Sehun menghentikan ucapannya dengan mendadak ketika Yifan dengan sangat sengaja memukul bahunya keras sekali. Ia merintih sakit dan kekasih manis yang duduk dihadapannya hanya kembali tertawa.
Yifan melirik Baekhyun dan juga Luhan bergantian, seolah menanyakan adakah diantara kedua lelaki manis itu yang mau memesankan makanan untuknya.
"Ah aku akan meminta Chanyeollie untuk sekalian memesankan makanan kalian"
Baekhyun pun mengeluarkan ponselnya dengan cepat, berdiskusi sebentar dengan Luhan yang terlalu bingung untuk menentukan makanannya, berbeda dengan Sehun dan juga Yifan yang mengatakan 'samakan saja denganmu!' secara cepat.
Melihat Baekhyun yang tengah sibuk bersama Luhan, Yifan pun mendelik tajam pada Sehun. Ia segera menarik lelaki itu mendekat padanya, berbisik dengan serius sambil memperhatikan kalau tidak akan ada yang mendengar ucapannya.
"Jangan sampai membongkar identitas Chanyeol"
"Maafkan aku hyung, kupikir Baekhyun sudah tahu"
"Jangan bahas masalah itu kalau ada Baekhyun disekelilingmu!"
"Aku mengerti"
Yifan hanya mengangguk setelahnya, kembali menepuk bahu Sehun yang dihadiahi tatapan tak suka dari yang paling muda. Ia terlalu sibuk untuk memperdulikan sepupunya itu mendelik padanya, tak berguna.
Sehun adalah satu-satunya sepupu brengsek yang Yifan miliki. Keduanya terlihat akrab untuk beberapa urusan, dan sisanya...jangankan mengobrol, saling lirik saja sepertinya jarang. Sehun sudah mengenal Chanyeol sejak dirinya masih ada di sekolah dasar, teman sepupunya itu adalah lelaki baik yang memiliki senyum lebar.
Ketimbang bermain dengan Yifan, dulu Sehun malah terlihat selalu bermain dengan Chanyeol. Keduanya sangat akrab, bahkan Sehun mengetahui banyak hal mengenai Chanyeol. Kalau Yifan, bahkan Sehun lebih banyak mengetahui kebiasaan buruk daripada baiknya.
Namun, sejak Chanyeol sudah menjadi siswa dari sekolah menengah, persahabatan antara Chanyeol dan juga Sehun merenggang. Chanyeol terlalu sering menghilang ketika Sehun mengajaknya bermain. Dan setelah mengetahui dari Yifan kalau Chanyeol sering bermain di club malam, saat itulah Sehun tidak pernah bertemu lagi dengan hyung bersenyum lebar kesayangannua. Keduanya bahkan baru bertemu kembali secara kebetulan pada saat Sehun mendaftar disekolah ini
"Ne Yeollie~ sungguh tak apa?"
"..."
"Maafkan Baekkie~"
"..."
"Eung, bagaimana kalau Baekkie kesana saja? Baekkie akan membantu Yeollie membawa makanannya"
"..."
"Tidak bisa begitu! Yeollie kan hanya memiliki dua tangan! Baekkie akan kesana sekarang!"
Piiippiiip
Luhan yakin, bahkan Chanyeol belum sempat membalas ucapan Baekhyun yang merengek barusan. Terbukti dari ponsel anak itu yang sudah kembali berbaring naas diatas meja dihadapannya setelah ia menyelesaikan kalimat terakhirnya.
Senyum Baekhyun mengembang, mengabaikan Luhan yang memutar matanya jengah ketika melihat bagaimana kekanakannya sahabatnya yang satu itu.
"Aku akan membantu Chanyeol membawa ma-"
"Hai sayang"
Semua orang dimeja itu membelalakan matanya seketika, kecuali Yifan, Sehun dan juga Baekhyun. Oke, hanya Luhan yang membelalakan mata sebenarnya.
Disana, disamping Baekhyun, Song Mino baru saja datang bersama dengan 4 atau 5 anak buahnya. Tangan lelaki itu dengan tak tahu malu langsung melingkari pinggang Baekhyun ketika anak itu baru saja berdiri dari duduknya.
"Mau kemana?"
"Aku harus membantu Chanyeol, bisa kau menyingkir?"
"Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Kau hanya harus menyingkir sebentar"
"Aku tidak mau manis!
Baekhyun tersenyum dan menggeleng, memegangi tangan Mino dipinggangnya, bermaksud untuk melepaskan pelukan lelaki sexy itu padanya.
Yifan dan Sehun berdecih sekali melihatnya, mengutuk sejadi-jadinya didalam hati pada Mino yang dengan percaya diri memperlakukan kekasih Park Chanyeol sesukanya.
"Kenapa harus membantu lelaki itu? Dia bisa melakukannya sendiri pasti"
"Aku sudah berjanji padanya"
"Tidak perlu sayang, kau disini saja temani aku!"
Mino menarik Baekhyun duduk kembali pada tempatnya, mengabaikan tangan Baekhyun yang sedari tadi terus-terusan berusaha untuk mendorongnya menjauh. Ia tarik Baekhyun makin mendekat dengan tubuhnya, mengecupi pipi hingga rahang anak itu hingga membuat Baekhyun mengaduh tak suka akan perlakuannya.
"J-jangan seperti ini!"
"Wae? Jangan kau pikir karena si pecundang itu sudah menjadi kekasihmu aku akan melepaskanmu dengan mudah"
"S-sunbae...kumohon~"
"Hei ada apa denganmu? Tak biasanya kau menolak ciumanku"
Baekhyun menggeleng berkali-kali, menggerakan kepalanya kesana kemari untuk menghindari Mino yang sangat bernafsu untuk menciumnya.
Ya memang tidak biasanya Baekhyun menolak perlakuan seperti ciuman ataupun godaan-godaan yang diberikan para lelaki untuknya. Namun sekarang Baekhyun benar-benar ingin menolak segalanya, tak tahu kenapa ia hanya tak ingin Chanyeol marah padanya kalau sampai lelaki yang sudah menjadi kekasihnya itu mendapati dirinya tengah disentuh para lelaki tanpa perlawanan. Apalagi Baekhyun sudah berjanji untuk tak membiarkan lelaki lain menyentuhnya, ia jadi benar-benar takut Chanyeol salah paham dan akhirnya malah meninggalkan Baekhyun karena kecewa. Baekhyun sangat tidak ingin, itu adalah mimpi buruk kalau sampai Chanyeol meninggalkannya.
Yifan dan Sehun harusnya membela Baekhyun, mengingat lelaki manis itu adalah teman mereka, namun nyatanya kedua lelaki tampan itu hanya diam. Mereka sudah berniat untuk menghajar Mino, namun anak buah Mino sudah terlebih dulu memegangi bahu mereka dengan sangat erat, menahan dua lelaki tampan itu untuk mengganggu kegiatan yang tengah dilakukan oleh pemimpin mereka.
Luhan?
Wajahnya sangat terkejut, ia panik dan sangat khawatir pada Baekhyun saat ini. Dan kini ia baru saja berpindah duduk disisi Sehun karena lagi, salah seorang anak buah Mino baru saja mendorongnya untuk menjauh dari Baekhyun dan juga si brengsek Mino.
"A-aku tidak bisa seperti ini Sunbae"
"Tenanglah sayang, lakukan seperti biasanya, kau hanya perlu menyambut ciumanku dengan sangat manis"
"T-tidak bisa"
"Kemana jiwa bitchy-mu? Bahkan biasanya kau selalu menggodaku duluan"
Baekhyun meronta, ia sungguh berharap siswa tingkat akhir yang kini terlihat seperti ingin menperkosa-nya ini cepat pergi dan berhenti mengganggunya.
Mino itu memang lebih senior darinya, ia berada di kelas 3 sama dengan Yifan, berbeda dengan dirinya, Chanyeol dan juga Luhan yang masih berada di kelas 2. Dan tentu saja berbeda dengan Sehun yang baru saja ada dikelas 1 beberapa bulan yang lalu.
Sejujurnya, Baekhyun tidaklah begitu menyukai Mino. Memang benar kalau Baekhyun pernah menggoda Mino, tapi itu dulu, saat beberapa kali Baekhyun kalah bermain truth of dare. Baekhyun sangat tidak menyukainya, memang Mino tampan, memiliki tubuh sexy tapi mulutnya tidak. Cara bicara lelaki itu membuat Baekhyun kesal, Mino selalu memanggilnya 'jalang' kapanpun dimanapun sejak malam panas yang mereka lakukan dulu.
Pernah Baekhyun benar-benar marah karena Mino memanggilnya 'jalang' ketika keduanya tengah berada disebuah pusat perbelanjaan. Kalau saja Baekhyun tak kalah main truth or dare, mana mau ia harus kencan seharian dengan lelaki tak yahu diri seperti Mino. Dan, setelah mengakui ia tidak suka dipanggil 'jalang' Mino pun meminta maaf. Memang tidak tulus, tapi setidaknya lelaki itu berhenti memanggilnya 'jalang' ketika mereka bertemu.
"T-tidak mau!"
Baekhyun tak bisa apa-apa, tangannya kini memegangi bahu Mino setelah ia kelelahan memukuli bahu lelaki itu, matanya terpejam erat-erat karena ketakutan yang entah darimana datangnya. Saat Mino mencium bibirnya, semua mata yang ada disana membelalak. Yifan, Sehun, Luhan, bahkan beberapa siswa yang sudah memperhatikan meja mereka sejak tadi.
Bibirnya tertutup rapat-rapat tak berniat melawan ataupun menerima ciuman itu. Ia hanya diam dan masa bodo dengan Mino yang baru saja membuka keseluruhan kancing seragamnya.
"T-tidak.. J-jangan perlakukan aku seperti ini!"
"Diam dan nikmati"
Yifan geram melihatnya, apalagi ketika dengan bodohnya Mino langsung menyerang ceruk leher Baekhyun. Ia sangat yakin kalau lelaki itu baru saja membuat tanda baru pada leher si manis Baekhyun.
Biar bagaimanapun ia masih menyangi Baekhyun sebagai temannya, ia juga masih menghargai Chanyeol sahabatnya yang kini sudah menyandang predikat sebagai kekasih dari lelaki manis bermarga Byun dihadapannya, yang kini tengah mati-matian menahan tangis dan juga desahannya ketika Mino mempermainkan puting susunya.
"BAEKHYUN!"
Semua orang menoleh saat itu juga, termasuk Baekhyun yang tiba-tiba membuka matanya paksa ketika suara penuh amarah milik Chanyeol menggelegar diarea itu. Tubuh Baekhyun sudah sangat lemas tiba-tiba menjadi menegang melihat bagaimana marahnya wajah Chanyeol. Namun, ia makin tak bisa berbuat apapun ketika Mino kini memegang erat kedua pergelangan tangannya dan kembali mencium bibirnya dengan kasar.
Bugh
"Bajingan"
Bugh
Tanpa memperdulikan semua orang yang ada disana, termasuk nampan makanan yang sudah ia jatuhkan dengan penuh rasa kesal, Chanyeol langsung menarik Baekhyun. Tak peduli anak itu terkejut bukan main dan juga mengeluh karena tangannya sakit akibat genggaman Chanyeol.
Chanyeol berusaha tuli, ia marah pada Baekhyun. Ah tidak, ia marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa membuat Baekhyun terhindar dari para lelaki-lelaki sialan itu. Tapi ia juga marah pada kekasih manisnya itu, bagaimana Baekhyun tidak terlihat melawan sama sekali saat si brengsek Song Mino itu melecehkannya.
"Yeollie"
"..."
"Yeollie"
"..."
"Yeo-"
"DIAM!"
Chanyeol tahu, tak seharusnya ia membentak Baekhyun yang kini nampak menyedihkan. Sambil menunduk karena sedikit takut pada Chanyeol yang baru saja membentaknya, lelaki manis itu kembali mengancingi seragamnya yang sedari tadi terbuka, bahkan selama Chanyeol menariknya ia mati-matian memegangi pakaiannya dengan satu tangan agar tubuhnya tidak terekspos.
Chanyeol menggeram, mengusap wajahnya kasar dan dengan tiba-tiba langsung menarik Baekhyun kedalam pelukannya. Dengan sangat erat ia memeluk Baekhyun, mengecup kening dan pucuk kepalanya berkali-kali sambil berujar 'maafkan aku'.
"B-bukan Baekkie yang memulainya hiks. B-baekkie sudah melarang Mino, t-tapi tidak bisa hiks"
"Tak apa, maafkan aku sudah menarikmu dengan kasar"
"Maafkan Baekkie"
"Tak apa sayang. Aku akan menghajar Mino setelah ini"
"J-jangan. Baekkie tidak ingin Yeollie terluka! J-jangan bertarung dengan Mino Sunbae"
"B-baek?"
"Baekkie mohon~ Baekkie tidak ingin melihat Yeollie memiliki luka lebam ditubuh Yeollie~"
"..."
'Aku akan menghajarnya apapun yang terjadi! Tanpa Baekhyun ketahui, kau akan habis ditanganku setelah kau berani menyentuh apa yang sudah menjadi milikku brengsek!'
Chanyeol berpikir sejenak, memandangi wajah memerah Baekhyun dengan mata sedikit berair yang menatapnya dengan sangat memohon. Chanyeol membenarkan letak kacamatanya yang sedikit tak nyaman, berdeham sekali sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum dengan sangat lembut, menenangkan si manis Byun yang kini juga tersenyum dengan wajah kekanakan.
"Aku antar kau kekelas saja bagaimana?"
"Tidak mau~ Baekkie ingin bersama Yeollie saja"
"Ng, baiklah"
Keduanya pun berjalan berdampingan. Bahkan Byun Baekhyun terlihat sangat manja. Lihatlah bagaimana caranya memeluk Chanyeol dan sesekali menghentikan langkahnya yang mau tak mau diikuti Chanyeol hanya karena ia ingin mengecup bibir kekasih tiangnya. Jangan lupakan tawa merdunya, Baekhyun tertawa setelah ia berhasil mencuri kecupan dibibir Chanyeol. Dan Chanyeol saat itu hanya tersenyum, mengusak rambut Baekhyun dan membiarkan anak itu bergelayut manja pada lengannya.
Amarah Chanyeol sudah menguap entah kemana, perasaan ingin memenggal kepala Mino pun sudah sirna entah kemana. Hanya Baekhyun yang tengah bergelayut sambil bersenandung kecil lah yang saat ini sibuk memenuhi kepalanya.
Tapi bukan berarti ia dapat memaafkan Sunbae kurang ajar semacam Mino begitu saja. Ia akan menunggu waktu yang tepat hingga ia akhirnya bisa membalas perbuatan konyol yang sudah dilakukan si brengsek itu kepada kekasihnya. Tunggu saja.
.
.
.
"Aku sudah lama tidak mampir ke atap sekolah"
Kembali senyum Chanyeol terukir ketika melihat Baekhyun yang baru saja melepaskan genggaman tangannya kini tengah berlari dengan gaya kekanakan menghampiri pinggiran pembatas besi. Chanyeol memperhatikannya lamat-lamat, tak melewatkan satupun hal kecil yang dilakukan oleh kekasihnya. Bahkan saat Baekhyun bersin karena debu yang berterbangan ketika ia meniupnya, Chanyeol hanya tersenyum dari tempatnya duduk.
"Tak ada yang berubah disini. Masih sama kotornya seperti dulu"
"Kau dulu sering mampir kesini?"
"Hn, saat Luhan merasa frustasi aku akan menemaninya menghabiskan waktu disini. Tapi itu dulu, saat kami masih kelas satu"
Seperti yang sudah menjadi kebiasaannya, Baekhyun langsung mendudukkan dirinya diatas pangkuan Chanyeol, menyandarkan punggungnya dengan sangat santai pada dada bidang milik kekasihnya. Awalnya Chanyeol terkejut, namun setelahnya ia hanya menghela nafas dibalik senyumnya sebelum ikut melingkarkan tangannya diperut Baekhyun.
"Yeollie?"
"Hn?"
"Apa Yeollie memiliki sesuatu untuk diceritakan?"
"Misalnya?"
"Seperti rahasia Yeollie. Atau...apapun"
"A-aku..i-itu.."
Chanyeol tak tahu kenapa ia bisa sampai menjadi gugup seperti ini. Baekhyun dipangkuannya kini tengah sibuk mempermainkan jemari besar Chanyeol yang memeluk perutnya.
Chanyeol benar-benar tidak tahu mengenai apa yang harus ia ceritakan sekarang. Terkutuklah wahai Baekhyun yang bisa meminta Chanyeol menceritakan hal berbau rahasia seperti itu. Lelaki tinggi itu menghela nafas, dan berpikir sejenak.
Memang biar bagaimanapun Baekhyun pasti akan mengetahui siapa dirinya. Ia juga sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memberitahukan Baekhyun mengenai dirinya. Tapi...apakah harus sekarang?
"Kau ingin mendengarkan ceritaku?"
"Tentu"
"Apa...apa kau berjanji tidak akan marah padaku kalau aku menceritakan rahasiaku?"
"Kenapa memangnya? Yeollie tidak memiliki rahasia serius kan? Seperti...Yeollie pernah memperkosa seseorang? Atau...Yeollie adalah seorang profesional dalam kasus berhubungan seksual?"
'B-bagaimana dia...jawabannya hampir benar. Apa Baekhyun sudah mengetahuinya?'
"B-baek...aku..."
"Sepertinya rahasia Yeollie memang sangat rahasia. Kalau begitu tidak perlu memaksakan diri untuk bercerita, lain kali saja hehe"
"N-ne, lain kali saja. Kalau sudah waktunya akan aku ceritakan"
Hening.
Keduanya hanya diam. Baekhyun bahkan sudah memejamkan matanya, menikmati hembusan angin dan juga hangatnya tubuh Chanyeol yang memeluknya. Chanyeol sendiri hanya diam, memperhatikan kekasih manisnya yang masih memejamkan matanya melalui bahu anak itu.
Dagunya bertopang pada bahu Baekhyun ketika lelaki mungil itu menarik tengkuknya. Chanyeol hanya menurutinya tanpa protes, berusaha maklum dengan tingkah berlebihan yang selalu dilakukan oleh Baekhyun untuk mendapatkan kenyamanan.
"Yeollie?"
"Hn?"
"Apa malam ini Yeollie punya waktu?"
"Kenapa memang?"
"Ayo menginap dirumah Baekkie!"
Daripada sebuah ajakan, ucapan Byun Baekhyun malah terdengar sangat memerintah.
Chanyeol diam sejenak, memikirkan apa ia memiliki kegiatan malam nanti. Ia memikirkan tugas sekolahnya, dan nyatanya ia tidak memiliki tugas yang harus dikerjakan malam ini. Lalu memikirkan Eomma-nya, ia juga tidak memiliki rencana bersama Eomma-nya. Lalu Yifan, tidak ada janji dengan Yifan untuk pergi main malam ini. Sepertinya ia tidak sibuk, kecuali...rencana pembalasan untuk menghabisi Song Mino malam ini.
"Eung, s-sebenarnya aku harus mengantar Eomma kerumah saudara-ku"
"Sungguh?"
"N-ne"
Baekhyun membuka matanya, sedikit kecewa mendengar jawaban Chanyeol. Ia membenarkan posisi duduknya, makin merapatkan diri dengan Chanyeol. Sebenarnya tanpa maksud apapun, ia merasa tidak nyaman karena tubuhnya merosot beberapa waktu lalu. Namun, sepertinya pergerakan itu salah diartikan oleh Chanyeol.
"Tapi...kalau kau ingin aku menginap, sepertinya setelah mengantar Eomma nanti aku bisa langsung kerumahmu. Bagaimana?"
"Sungguh?"
"Tentu saja"
Baekhyun kini nampak sangat antusias, bahkan ia sampai mengangkat kepalanya agar bisa bertatap muka dengan Chanyeol yang baru saja tersenyum padanya.
Oh ayolah, bukan masalah besar untuk menghabisi Song Mino. Jadi Chanyeol pikir, setelah ia berhasil menghajar Mino Sunbae, tak apa kalau ia langsung mampir kerumah Baekhyun. Siapa tahu ia bisa menghabiskan malam panjang lagi bersama kekasih nakalnya.
Lelaki manis yang nampak begembira itu tiba-tiba saja mencium bibir Chanyeol, memegangi tengkuk kekasihnya dengan sedikit susah payah karena posisinya yang masih memunggungi tubuh Chanyeol.
"Kau serius akan menginap?"
"Hn. Kau senang?"
"Ne, Baekkie sangat senang. Nanti malam Baekkie akan merapikan kamar Baekkie, menyiapkan diri juga. Siapa tahu nanti malam Yeollie ingin menghabiskan malam dengan Baekkie lagi"
"Kau ingin?"
"Ne~"
"Baiklah, kita lakukan sepuasmu"
"Sungguh?"
"Ya sayang"
Baekhyun bangkit. Berdiri dihadapan Chanyeol dan langsung memeluk lelakinya. Membenamkan wajah tampan Chanyeol pada perutnya dan dibalas dengan sentuhan telapak tangan Chanyeol dikedua bongkahan kenyal miliknya.
Setelah mengecup perut Baekhyun karena gemas, Chanyeol mengangkat kepalanya. Masih dengan tangan Baekhyun yang melingkari lehernya, dan juga tangannya yang ada dibokong Baekhyun.
Baekhyun tersenyum sangat menggoda padanya, jemari-jemari anak itu ditengkuknya bahkan sudah menggodanya sejak awal. Anak itu mengusap tengkuknya teratur, memainkan helaian rambutnya dengan mata saling bertatap dalam dan penuh maksud. Tak sadar, Chanyeol malah terbawa oleh suasana. Tangannya yang masih menapaki bokong Baekhyun pun ikut mengusapnya perlahan, membuat pola melingkar yang teratur tanpa melepaskan kontak matanya sama sekali.
"Kalau boleh tahu, apa warna celana dalammu hari ini?"
Sungguh, Chanyeol adalah sesuatu yang tak terduga bagi Baekhyun. Baru beberapa hari mereka menjadi sepasang kekasih, tapi Baekhyun sudah berkali-kali dibuat terkejut oleh tingkah Chanyeol yang tidak pernah Baekhyun duga. Bagaimana anak semanis Chanyeol bisa bertindak seperti seorang maniak? Bahkan anak manis itu sempat membuat Baekhyun hampir pingsan karena penisnya. Benarkah Chanyeol semanis yang ia pikir selama ini?
Tapi Baekhyun menyeringai setelahnya, juga membelai wajah Chanyeol dengan sebelah tangannya. Ia makin menghimpitkan jaraknya dengan Chanyeol, mengundang seringai keluar dari bibir sexy milik lelaki tinggi itu dan tak sengaja terlihat oleh Baekhyun.
Membuatku bernafsu saja -Baekhyun
"Eung, Yeollie ingin tahu?"
"Kalau kau tidak keberatan"
"Sebenarnya tidak"
"Jadi..."
"Buka sendiri!"
Chanyeol kembali menyeringai dan Baekhyun menyadarinya, jantung Baekhyun tiba-tiba saja berdetak kencang melihat seringaian Chanyeol. Detak jantungnya membuat dadanya merasa geli, tapi tidak menghilangkan senyum setannya ketika Chanyeol dengan mata masih menatapnya telah berhasil membuka pengait celananya.
"Merah muda?"
"Hn, aku sudah beniat menggodamu sejak pagi, tapi kau terlihat tidak peka. Apa aku terlihat sexy dengan merah muda?"
"Aku baru mengintipnya sayang, bagaimana aku tahu kau terlihat mengaggumkan atau tidak"
"Kalau begitu... Buka saja"
Tangan Chanyeol meraih pengait kecil yang terhubung dengan resleting celana Baekhyun, ia mengalihkan pandangannya dari mata Baekhyun pada resleting ditangannya agar ia tidak terlewatkan moment sedikitpun. Chanyeol menarik turun resleting itu perlahan, sengaja menyentuh milik Baekhyun yang tertutupi oleh celana dalam berwarna merah mudanya, bermaksud menggoda.
Dan saat resleting itu sudah sampai pada ujungnya, celana Baekhyun dengan naas terjatuh dimata kakinya.
"Hmm, apa aku harus membuatnya bangun? Agar kau terlihat makin sexy sayang"
"Yeollie"
"Hn?"
"Aku melihat ada yang bergerak diselangkanganmu. Apa kau tegang hanya karena celana dalam merah muda milikku?"
"Menurutmu bagaimana?"
Dan seringai Baekhyun muncul, begitu juga dengan Chanyeol. Lelaki tampan itu bahkan menjilat bibirnya sensual dengan mata menatap tajam kejantanan Baekhyun yang masih tertutup celana dalam merah mudanya.
TBC
Annyeong~
HAPPY 614 CHANBAEK DAYYYYYYY~
Sorry for typo & late update wkwk
Sebenernya belum mau update sekarang, tapi karena ada yang nagih yaaasudah~ aku update sekarang hehe. Ohiya, sengaja Naena-nya ditunda dulu wkwk
Ditunggui Chap selanjutnya okaiii~ paipai~
Review juseyoooooooo~
