Im In Love With A Monster

ChanBaek

M

*Dari awal itu niatnya pas bikin ff ini tuh pengennya hampir semua chapter naena *mesum amat wkwk. Aku udah kasih tau juga kan didepan kalo ini NOT CHILDREN area? Intinya, kalo misalkan gasuka sama Ff ini...di close aja tab-nya ya bebs~

Dan buat semua readers-ku sayang, I Love Uuuuuuuuuuuu :*:*:* *

.

.

.

04.33

Tubuh tak berbusana itu bergerak perlahan, tangannya dengan hati-hati memegangi kepala lelaki yang lebih mungil darinya. Ia menarik tangannya yabg terasa pegal setelah hampir semalaman dijadikan bantal oleh kekasihnya.

Masih dengan menopang kepala Baekhyun, ia meraih bantal terdekat dan meletakannya dibawah kepala anak itu. Ia turunkan kepala Baekhyun perlahan-lahan agar tak membangunkan tidur kekasih manisnya itu.

Chanyeol tersenyum setelahnya. Memandangi wajah damai Baekhyun yang sangat menggemaskan ketika tertidur seperti ini. Anak itu terlihat sangat polos krtika tertidur, berbeda dengan ketika anak itu telah membuka matanya dan menunjukkan bagaimana sempurnanya Byun Baekhyun. Kelakuan binalnya, kata-kata penuh godaan yang selalu dilontarkan, sampai tatapan sayu yang akhir-akhir ini sering Chanyeol dapati benar-benar lenyap ketika Baekhyun tengah tertidur.

"Bahkan saat tertidur pun kau tetap bisa membuatku jatuh cinta Baek"

Masih tetap mengaggumi sang kekasih, Chanyeol menarik selimut yang semalaman mereka gunakan hingga menutupi leher kekasihnya. Dan karena Ac dikamar Baekhyun yang dinginnya terasa semakin menusuk, Chanyeol memilih memunguti dan sesegera mungkin memakai pakaiannya.

Kalau saja sang Eomma tidak menelepon dan memintanya segera pulang, Chanyeol pasti tidak ingin melepaskan pelukannya pada Baekhyun. Tapi karena Eomma Park memaksa sambil meneriakinya ia mau tak mau pun harus menurutinya.

Ia hela nafasnya sekali, mendekatkan wajah pada kekasihnya hanya untuk mengaggumi sejenak bagaimana wajah menggemaskan Baekhyun.

Dan kecupan singkat melayang hanya untuk si manis Byun. Tak merasa puas dengan satu kecupan, Chanyeol pun malah mengulanginya beberapa kali. Sedikit menjilat bibir Baekhyun dan kembali dilanjutkan dengan aksi mengecup pipi gembil anak itu.

Baekhyun sama sekali tak tersadar, ia masih setia memejamkan matanya dan hanya melenguh kecil ketika tak sengaja Chanyeol menggigit bibirnya.

"Kita bertemu nanti disekolah"

Ia melompat turun dari ranjang Baekhyun, masih sedikit tak rela karena ia harus meninggalkan kekasihnya walau hanya untuk sebentar.

.

.

.

CKLEK

"Wah, lihatlah betapa jalangnya dirimu ahjumma"

Tiba-tiba saja Chanyeol menyeringai, menatap penuh rasa remeh pada Yebin yang baru saja pulang dan menutup pintu. Sepertinya wanita itu baru menyelesaikan pesta pagi butanya.

"Apa yang kau lakukan dirumahku? Ah, aku tahu. Kau menyetubuhi si jalang itu lagi kan?"

"Ng, tentu saja! Kenapa? Iri?"

"Cih, anak-anak menjijikan!"

"Lihatlah siapa yang lebih menjijikan disini?"

Chanyeol sungguh menyukai sensasi bagaimana menggoda Yebin. Ibu tiri kekasihnya itu akan nampak sangat kesal tetapi tidak akan pernah berani bertindak. Sungguh lucu.

Masih dengan seringai tampannya, Chanyeol kini mendekat. Ia mengeratkan sejenak jaket denimnya, bersiul sekali sambil menatap Yebin dari atas kebawah.

"Kau boleh juga"

"..."

"Mau main ke ranjang bersamaku?"

"Sialan! Menjauh dariku brengsek!"

"Wow, ibu mertua yang kejam. Aku ini calon menantumu ahjumma"

"Aku tidak akan membiarkannya! Aku tidak akan membiarkan si jalang itu dan juga dirimu bersama! Aku tidak akan membiarkan kalian ber-"

Ucapannya terhenti, mata Yebin membelalak dan tubuhnya terasa seperti jelly dalam sekejap. Chanyeol baru saja meraih pinggangnya, lelaki itu bahkan memeluk pinggangnya erat.

"Kau cantik, tapi terlalu menyebalkan"

Dan Chanyeol menelusuri wajah Yebin dengan jarinya. Matanya meneliti dengan seksama wajah Yebin, masih membiarkan bagaimana wanita itu terpesona padanya.

Chanyeol tahu Yebin itu cantik, bahkan diusianya yang sudah menginjak kepala tiga, Chanyeol pikir wanita ini masih memiliki bentuk tubuh yang indah.

"Kau sungguh tidak mengenalku ahjumma?"

"A-aku..."

"Baiklah, lupakan saja!"

Yebin benar-benar kagum saat ini. Ia baru saja mengetahui kalau lelaki yang selalu ia panggil korban Baekhyun, kali ini sangatlah tampan. Ia saja sampai terpesona dan tak bisa berkutik sama sekali didalam kuasa Chanyeol.

Wajah tampan Chanyeol sangatlah dekat dengannya, sebelah tangan lelaki itu masih memeluk pinggangnya erat dengan jemari-jemari yang menyusuri wajahnya lembut.

"Kau ingin aku meninggalkan Baekhyun?"

"N-ne"

Yebin seolah-olah terhipnotis dengan mata indah itu. Rasanya mengaggumkan bisa menyaksikan bagaimana wajah tampan itu hanya berjarak 5 cm dihadapannya.

"Jangan mimpi. Aku tidak akan pernah melepaskan Baekhyun apapun yang terjadi!"

"..."

"Jangan mengganggu kami! Urusi saja urusanmu sendiri! Aku yakin kalau kau memiliki banyak hal yang bisa dilakukan ketimbang menggangguku dan juga Baekhyun"

Chanyeol menempelkan keningnya dengan Yebin. Dan kali ini kedua tangannya malah melingkar dipinggang ramping wanita itu. Chanyeol menyeringai dan tertawa sendiri menyaksikan bagaimana Yebin terlihat bodoh dan tidak sama sekali bisa menolak pesonannya.

Ia raih kembali dagu Yebin, mendekatkan wajahnya perlahan yang langsung membuat wanita itu memejamkan matanya. Tangan Yebin melingkari leher Chanyeol tiba-tiba, mulai memiringkan sedikit kepalanya saat wajah mereka semakin mendekat.

Chanyeol benar-benar tidak bisa berhenti tertawa menang didalam hatinya menyaksikan bagaimana bodohnya Yebin yang sudah terbawa suasana. Dan saat bibir wanita itu hampir menyentuhnya, dengan cepat Chanyeol menjauhkan diri.

"Cih, ada-ada saja"

Ia berlalu, mengabaikan bagaimana terkejutnya Yebin dibelakang sana. Ia tak bisa berhenti tertawa, masih tak percaya kalau ibu tiri kekasihnya juga menginginkannya.

Dibelakang sana Yebin merutuk, menghentak-hentakkan kakinya kesal dengan wajah memerah marah yang khas. Matanya memancarkan aura kebencian, dengan pemikiran jahat yang tak akan pernah habis dikepalannya.

"Aku akan membalasmu sial! Kalian berdua akan menerima akibatnya!"

.

.

.

KringggKringggg

Baekhyun membuka matanya ketika alarm-nya berdering. Ia eratkan selimutnya dan bersiap-siap kembali memejamkan matanya kembali setelah berhasil mematikan alarm sialannya.

"Chanyeollie?"

Tapi matanya membulat sedetik kemuadian. Ia bahkan langsung duduk diatas ranjangnya. Matanya melirik kesekitarnya, mencari keberadaan sang kekasih. Ia tak mendapati Chanyeol dimanapun, bahkan pakaian lelaki itu yang semalam berserakan diatas lantai kamarnya sudah menghilang.

"C-chanyeollie...apa Chanyeol marah padaku? Apa ia merasa kecewa karena semalam?"

Sebenarnya Baekhyun sedikit panik, apalagi Chanyeol meninggalkannya begitu saja. Ia raih ponselnya, namun tetap tidak ada kabar sama sekali dari kekasih tiangnya itu.

"Hiks, dia kecewa padaku?"

.

.

.

Setelah merasa cukup puas dengan penampilannya Baekhyun tersenyum. Ia kecup bayangannya sendiri dicermin sebelum ia berbalik pergi meninggalkan kamarnya. Ia gendong tas-nya asal, tanpa memperdulikan kalau isinya bisa saja berjatuhan.

Awalnya ia berniat mengambil susu Strawberry di kulkas dan meminumnya untuk sarapan. Tapi saat melihat Yebin sudah terlebih dahulu berada diruang makan membuatnya kesal dan akhirnya urung.

Ia melewati wanita itu, memilih membenarkan letak tas-nya ketimbang melirik wanita yang tengah sibuk dengan roti isinya.

"Wah wah, lihatlah siapa yang baru saja ditinggalkan. Menyedihkan sekali"

"..."

"Setelah menyetubuhimu, dia pergi. Bagaimana rasanya?"

"..."

"Nasibmu menyedihkan sekali Baekhyun. Selalu ditinggalkan"

Baekhyun memutar matanya jengah, sedikit terpancing dan kini ia malah memandangi wanita itu dengan tangan dilipat diperutnya.

"Yak! Chanyeol tidak meninggalkanku sial!"

"Oh, sungguh? Bahkan aku melihatnya pulang"

"I-itu...tidak! Tidak! Jangan bicara lagi!"

"Ish ish, menyedihkan sekali~"

Lelaki manis itu berusaha bersabar mendengar ocehan menyebalkan ibu tirinya. Ia jadi takut kalau Chanyeol benar-benar akan meninggalkannya. Apalagi mengingat semalam ia telah membuat lelaki itu kecewa.

"Aku tahu kalau kalian tidak akan bisa bersama. Jangan memaksakan dirimu Byun. Menyerah saja, pasrahkan nasibmu dan biarkan aku yang berkuasa"

"..."

"Ah ngomong-ngomong, kemarin pengacara Kim meneleponku. Dia menanyakan kabarmu..."

"..."

" ..Lalu kubilang kalau kau baik-baik saja, tetapi kau belum memiliki seseorang untuk dinikahi. Oh lihatlah, bukankah sudah jelas kalau semua harta ayahmu akan jatuh ketanganku?"

"..."

"Menyerah saja Baekhyun. Lelaki yang katanya kekasihmu itu tidak akan bisa me-"

"Terserah!"

Masih berusaha tak peduli Baekhyun pun meninggalkan ibu tirinya. Ia berjalan dengan banyak pikiran yang berkecamuk. Bahkan saat ia sampai didalam mobilnya ia masih tidak fokus. Antara Chanyeol dan juga Yebin yang mengganggu masa depannya adalah hal-hal yang membuat kepalanya pening.

DrrtDrrt

"Kim ahjussi, ada apa?"

Baekhyun memulainya. Ia juga mulai menyalakan mesin mobilnya. Ia mengendari mobilnya perlahan, tak peduli kalau ia akan memakan waktu cukup banyak kalau mengendarai mobil selambat ini. Bahkan ini masih sangat pagi untuk berangkat sekolah, jadi tidak mungkin terlambat walau Baekhyun mengendarainya hanya 5 km/jam.

"Aku baik-baik saja. Ahjussi bagaimana? Minseok ahjussi juga apa kabar?"

Baekhyun tersenyum mendengar tawa diseberang sana. Ia mengabaikan eraphone-nya karena lebih memilih menyalakan speaker diponselnya. Ah, ia merindukan suara orang tua ini.

"Kami baru saja menambah jumlah anggota keluarga kami. Kau harus main Baek, disini sangat ramai karena si kembar"

"Ne ahjussi aku akan main kerumahmu kalau ada waktu. Si kembar? Pasti mereka manis sekali~"

"Mereka sangat manis. Tak berbeda jauh denganmu. Tunggu, aku akan mengirimkan fotonya"

"Aku menunggu"

Baekhyun dapat mendengar Jongdae memekik disebrang sana, memanggil anak-anaknya dan hanya terdengar tawa-tawa khas anak kecil ditelinga Baekhyun. Ah, lelaki itu mengangkat Anak kembar. Baekhyun tersenyum sendiri membayangkannya.

Saat ponselnya bergetar Baekhyun menoleh, mendapati pesan bergambar yang dikirim oleh Jongdae. Ia membukanya, mendapati anak lelaki dan juga perempuan yang nampak manis dengan lelehan makanan dimulut mereka.

"Maaf kalau keduanya nampak berantakan. Mike dan Jenny memang selalu bermain dengan makanan mereka"

"Tak apa ahjussi, mereka nampak sangat menggemaskan"

"Ohiya Baekhyun, aku punya beberapa hal yang harus disampaikan mengingat waktumu hanya tinggal sebulan sebelum semuanya jatuh ketangan Yebin"

"Masalah itu..."

"Apa kau sudah menemukan seseorang? Kalau belum, sebaiknya kau bergegas. Carilah seseorang yang bisa melanjutkan perusahaan ayahmu Baek, akan ada beberapa seleksi sebelum ia bisa meneruskan perusahaan ayahmu. Carilah, walau hanya berpura-pura"

"A-ahjussi"

"Kalau seandainya...maafkan aku mengatakan ini. Tapi seandainya Yebin yang memenangkan seluruh milik ayahmu, apa yang akan kau lakukan?"

Baekhyun tercekat nafasnya sendiri. Bahkan tak bisa berpikir untuk menjawab pertanyaan Jongdae. Ia sungguh belum mempersiapkan segalanya, kemungkinan Yebin yang memenangkan ini semua hingga rencana wanita itu yang akan mengusirnya tak pernah sungguh-sungguh Baekhyun pikirkan.

Ia ingin menangis. Ia sudah memiliki Chanyeol, tapi apa Chanyeol sungguh-sungguh akan menikahinya? Lelaki itu sudah berjanji padanya, bahkan diawal hari jadi mereka.

"Baek?"

"N-ne ahjussi"

"Kalau...kalau semua hal buruk itu terjadi, kau tenang saja. Aku dan Minseok sudah sepakat akan menerimamu dikeluarga kami. Kami membuka pintu rumah kami untukmu, kau tidak perlu bingung karena aku dan Minseok sudah pernah bilang kalau kami menganggapmu seperti anak kami sendiri"

"Hiks a-ahjussi"

"Hmm Baek, aku harus menutup teleponnya. Minseok memintaku memandikan Jenny dan Mike. Baik-baiklah disekolah dan jaga kesehatanmu!"

"N-ne. Hiks t-terimakasih"

Dan sambungan keduanya terputus. Setelah mengapus air matanya yang meleleh, ia berusaha fokus pada mobilnya. Jalanan masih agak sepi hingga Baekhyun bisa menaikan kecepatan mobilnya secara drastis.

Sungguh, pikirannya semakin kacau saat ini. Entah ia harus berterimakasih atau mengutuk Jongdae yang sudah mengingatkan masalahnya bersama Yebin.

.

.

.

Setibanya di sekolah, Baekhyun tetap tidak peduli pada sekelilingnya. Ia mencari Chanyeol, dan mengabaikan tatapan bingung yang dilontarkan beberapa orang padanya.

Ia berjalan cepat menyusuri koridor, berniat menghampiri Chanyeol dikelasnya tetapi nihil. Ia hanya mendapati tas serta jaket Chanyeol yang tersampir dikursi lelaki tinggi itu.

Dan mau tak mau Baekhyun pun kembali harus mencari keberadaan Chanyeol. Matanya memanas dan tanpa berpikir panjang ia langsung berlari menghampiri Chanyeol yang baru saja keluar dari toilet.

Chanyeol masih tak sadar dan malah sibuk dengan almamaternya yang basah. Ia mengelap bajunya terus menerus, tak menyadari bagaimana Baekhyun berlari cepat kearahnya.

"CHANYEOL"

BRUK

Baekhyun menerjangnya. Ia memeluk Chanyeol seerat yang ia bisa. Membuat lelaki tinggi itu membelalakan mata terkejut dan langsung melingkarkan tangannya ditubuh Baekhyun refleks.

"Hiks"

"B-baekhyun?"

Rasa bingung mendominasi Chanyeol. Ia melirik penuh rasa khawatir kekasih manisnya yang kini menangis sesegukan dipelukannya. Chanyeol tak tahu apa sebabnya, tapi ia tetap membalas pelukan kekasihnya dengan erat.

"Hiks maafkan Baekkie"

"B-baek"

"B-baekkie berjanji tidak akan hiks mengecewakan Yeollie lagi hiks. B-baekkie hiks, j-jangan tinggalkan Baekkie"

"B-baek, ada apa? K-kenapa menangis?"

Chanyeol melepaskan Baekhyun dan memegangi bahunya. Ia pandangi wajah memerah anak itu dengan sedikit air mata yang mengalir.

"Jangan hiks j-jangan tinggalkan Baekkie hiks"

Chanyeol tahu. Baekhyun pasti berpikir macam-macam karena ketika anak itu bangun tidak mendapati keberadaannya. Baekhyun bahkan berpikir Chanyeol meninggalkannya. Anak itu sampai menangis dan Chanyeol jadi merasa bodoh karena tidak mengabari Baekhyun sama sekali.

Tadi itu ia lupa. Ia harus mendengarkan ocehan panjang lebar Eomma-nya karena ia tidak pulang dan tidak memberikan kabar sama sekali pada wanita itu. Ia sudah berniat menelepon Baekhyun, tetapi Eomma-nya terus saja mengoceh dan tak memberikan kesempatan sedikitpun.

"Aku t-tidak akan m-meninggalkanmu sayang. Ta-tadi pagi E-eommaku menelepon dan memintaku pulang secepatnya. A-aku tidak akan meninggalkanmu! Tenang saja"

"Janji?"

"N-ne. Aku berjanji"

"Aku mencintaimu!"

"Aku j-juga Baek. Sangat s-sangat mencintaimu"

"Poppo dulu!"

Baekhyun memejamkan matanya, memajukan wajahnya kehadapan Chanyeol yang mana membuat kekasih tiangnya gemas sendiri. Chanyeol tersenyum, mencubit pipi Baekhyun sejenak sebelum akhirnya menghadiahkan sebuah kecupan dipipi Baekhyun.

"Bibir Baekkie?"

Tak butuh waktu lama bagi Baekhyun untuk bersikap begitu bitchy. Ia sudah terbiasa seperti itu. Lagipula ia melakukannya dengan Chanyeol. Chanyeol itu kekasihnya, miliknya juga. Jadi apa salahnya? Chanyeol pun nampak tidak keberatan sama sekali.

Keduanya mempertemukan bibir mereka. Chanyeol niatnya hanya ingin mengecup kilat dan menghentikannya, mengingat ini ditempat terbuka yang siapa saja bisa melihat. Namun sepertinya Baekhyun memiliki pemikiran sendiri. Tangannya malah melingkari leher Chanyeol, menahan tengkuk lelaki itu dan ia memulai untuk melumat bibir si tiang terlebih dahulu.

Keduanya terlibat dalam aksi saling melumat untuk waktu yang cukup lama. Beruntung tak ada satupun orang melihatnya. Chanyeol adalah orang pertama yang melepaskan bibirnya, mengecup leher dan juga bibir kekasihnya saat dilihatnya Baekhyun sudah berniat protes.

"Aku tidak ingin ada yang melihatnya"

Baekhyun merona sendiri. Ketika Chanyeol berbisik, rasanya benar-benar berbeda. Tak ada rentetan kalimat gugup seperti yang biasa lelaki itu lakukan. Baekhyun menyukainya, terdengar begitu seksi dan berhasrat.

"A-ayo aku antar ke kelasmu"

"Ne~"

"Kau...t-tidak marah padaku kan?"

"Hmm, tentu saja tidak. Kenapa ha-"

"Park Chanyeol!"

Keduanya menoleh, mendapati seorang gadis bertubuh tinggi dengan rambut sebahu berlari kearah mereka. Senyumnya mengembang, juga melambaikan tangannya hingga sampai dihadapan Chanyeol dan juga Baekhyun.

"S-sooyoung S-sunbae? A-ada apa?"

"Channie~"

Sial, pertama kali mendengarnya saja Baekhyun ingin muntah. Ia tak suka ini, Baekhyun tak akan membiarkan gadis yang memang lebih tinggi darinya itu memanggil kekasihnya sok manja seperti tadi.

"Yak! Ahjumma"

"Eoh? BitcyBaek?"

"Haishh"

"Apa yang kau lakukan bersama Channie-ku huh? Kau menggodanya?"

"Dia. Lelaki ini. Park Chanyeol. Adalah. Kekasihku!"

Baekhyun menarik Chanyeol mendekat padanya, berusaha mengklaim lelaki itu dengan maju selangkah hingga ia jadi semakin dekat Sooyoung. Matanya mendelik keji, dengan tangannya yang menggenggam tangan Chanyeol erat.

"Masa bodo! Channie~"

Tapi Sooyoung mengabaikannya. Gadis itu memutar matanya jengah dan melepaskan secara kasar tangan Baekhyun dari Chanyeol. Gadis itu menarik Chanyeol mendekat padanya, membuat Baekhyun yang secara tak sengaja tertabrak tubuh besar Chanyeol harus mundur selangkah lagi.

"YAK! JANGAN PANG-"

"Ssst, jangan b-berteriak seperti itu B-baek"

Mata Baekhyun kembali mendelik tajam, menatap nyalang kekasihnya yang seolah-olah baru saja membela gadis sialan dihadapan mereka. Hell, Chanyeol bahkan terlihat seperti bukan kekasihnya sekarang. Haishh.

"Jadi S-sunbae, k-kenapa mencariku?"

"Yeol-"

"Channie~ aku butuh bantuanmu~"

"Chanyeollie! Kau bilang ingin mengantarku ke-"

"B-bantuan apa S-sunbae?"

Rasanya baru beberapa menit yang lalu ia dan juga Chanyeol berjanji untuk saling mencintai. Tapi kenapa saat ini Baekhyun merasa kalau Chanyeol baru saja mengingkari janjinya?

Memang lelaki itu hanya berbincang ringan bersama Sunbae mereka. Tapi kenapa sampai mengabaikannya? Memotong ucapannya dan membuat Baekhyun merasa kesal sendiri.

Anak manis itu sudah tak suka pada Sooyoung sejak gadis itu muncul secara tiba-tiba dihadapan mereka. Ditambah panggilan menjijikan yang diberikan gadis itu untuk kekasih tiangnya. Bolehkah Baekhyun membunuh seseorang?

"Aku memiliki tugas rumah~ tapi aku belum mengerjakannya~"

"L-lalu?"

"Bantu aku eum? Bantu aku ya Channie sayang~"

Dan Baekhyun mengingat-ingat apakah ia membawa gunting didalam tas-nya. Apa-apaan si Sooyoung itu? Berani-beraninya ia memeluk Chanyeol seenaknya.

Hei ahjumma! Chanyeol itu hanya milik Byun Baekhyun! Jangan berani-beraninya menyentuh lelaki itu.

Rasanya ingin menjambak rambut kecoklatan yang dimiliki Sooyoung. Bagaimana bisa? Sungguh, Sooyoung membuat mood-nya semakin hancur hari ini.

Ditambah, Chanyeol sama sekali tak nampak menolak Sooyoung yang memeluknya. Lelaki tinggi itu hanya diam, nampak sedikit gugup tapi sama sekali tidak berniat melepaskan pelukan Sooyoung padanya.

"Kau mau membantuku kan sayang?"

"Hmm, a-aku...b-baiklah"

"Sungguh? Wah, kau baik sekali Channie sayang~ aku mencintaimu"

CUP

Rasanya seperti baru saja sebuah bom meledak disisi jantungnya. Baekhyun tak percaya dengan apa yang ia lihat. Walau hanya pipi, tapi sungguh itu menyakitkan. Melihat kekasihmu sendiri dicium orang lain rasanya seperti jantungnya ditusuki ribuan jarum.

"Ini"

"Hn?"

"Aku akan mengambilnya pulang sekolah nanti. Sampai jumpa Channie sayang~"

"N-ne Sunbae. S-sampai jumpa"

Chanyeol tersenyum singkat, membalas lambaian tangan Sunbae-nya yang sudah berlari menjauh lagi. Ia melirik buku tulis Sooyoung ditangannya, tersenyum lagi hingga akhirnya ia menyadari kalau masih ada kekasih manisnya disana.

"Puas?"

"B-baekkie. A-aku...a-aku ha-"

"Masa bodo!"

Baekhyun langsung menjauh ketika Chanyeol berusaha menggapai tangannya. Ia kesal, dan tak mau tahu kalau Chanyeol marah juga padanya setelah ini.

Hey, hanya Baekhyun yang boleh marah! Kekasihnya...apa bisa disebut berselingkuh? Katakanlah seperti itu. Chanyeol tak marah, tak juga menolak saat seorang gadis memeluk dan mencium pipinya sembarangan. Bagaimana Baekhyun tidak kesal?

"B-baek aku bisa j-jelaskan sayang"

"Jelaskan saja pada tembok!"

"Sayang"

"Cih"

Dan Baekhyun meninggalkannya. Dengan wajah tak bersahabat dan juga langkah kakinya yang lebar-lebar. Ia menabrak siapapun yang menghalangi jalannya. Ia juga tak peduli pada Chanyeol yang terus mengoceh panjang lebar dibelakangnya.

"B-baekhyun, aku tidak bermaksud me- sayang berhenti dulu"

Sulit sekali mengejar Baekhyun. Bahkan Chanyeol sudah tak peduli pada orang-orang yang melihatnya bingung. Ia juga lupa kalau ia harus berpura-pura gagap. Ia harus mendapatkan Baekhyun, membujuk anak itu agar tidak salah paham.

Hell, mana mungkin Chanyeol tergoda dengan tubuh triplek Sooyoung. Gadis itu memang tinggi dan cantik, tapi tidak akan pernah bisa membuat Chanyeol tergoda.

"Baekhyun! Berhentilah sayang, a-aku harus bicara padamu!"

"Pergi sana! Urusi saja Sunbae-mu!"

"B-baek, ini hanya salah paham sayang"

"Terserah"

Baekhyun memutuskan berlari. Ia ingin cepat-cepat pergi dari Chanyeol karena ia kesal sekali dengan lelaki itu. Ia cemburu jelas saja, seseorang selain dirinya mencium Park Chanyeol. Brengsek.

"Jangan biarkan Chanyeol masuk! Dia berniat memperkosaku!"

"M-mwo? Tapikan dia kekasihmu Baek"

"Ck, pokoknya tidak boleh! Kuberi hadiah kalau kalian berdua bisa menghentikannya"

"Apapun untukmu Princess~"

"Terimakasih tampan~"

Baekhyun melayangkan flying kiss-nya yang langsung disambut dengan berlebihan oleh Namjoon dan juga Hanbin. Kedua lelaki itu tersenyum aneh, menyempatkan diri untuk melirik bokong Baekhyun sebelum berbalik dan tersenyum lagi dengan sangat mesum.

"Dia bilang hadiah tadi"

"Kita pinta saja satu ronde"

"Ide bagus"

Keduanya saling lirik dan menyeringai, bersalaman sejenak sebelum mata Hanbin mendapati Chanyeol yang tengah mendekat. Ia menyeringai, menepuk bahu Namjoon dan menunjuk Chanyeol dengan jari telunjuknya.

"Baek-"

"Mau kemana?"

"B-bisakah aku...aku harus menemui Baekhyun"

"Baekhyun bilang, kau ingin memperkosanya. Benar? Wah, berani sekali"

Namjoon menyeringai dan mendekat kearah Chanyeol. Awalnya Chanyeol menyerngit bingung, namun mengingat bagaimana binal-nya Baekhyun, ia tahu kalau anak itu sudah mengarang cerita.

Ia mundur selangkah, sedikit risih ketika Namjoon menatapnya penuh selidik disertai seringaian. Ia mencuri sebuah kesempatan untuk melirik kedalam kelas Baekhyun. Dan ia mendapati kekasihnya, tengah mengobrol dan duduk manis bersama Luhan.

"A-aku..."

"Kami saja belum pernah mencicipi Baekhyun. Dan kau ingin memperkosanya?"

"I-itu..."

"Kami tahu kau kekasihnya, tapi kau pikir kau bisa sebebas itu menikmati Princess kami?"

"T-tidak seperti itu...tolong biarkan aku menemui Baekhyun. Aku...ada banyak hal yang perlu dibica-"

"Pergi saja sana!"

Hanbin mendorong bahunya, matanya melotot dan Chanyeol kesal sekali melihatnya. Ia ingin langsung menerobos dan menyeret Baekhyun agar ia bisa menyelesaikan masalahnya. Tapi mana bisa, terlebih ia masih berada disekolah. Ia harus bersikap baik kalau tidak mau kedoknya terbongkar.

"Atau...kami akan memukulimu!"

"T-tidak"

"Sekarang pergi! Baekhyun juga tidak ingin menemuimu!"

"T-tapi ak- b-baiklah aku akan pergi sekarang"

Chanyeol berpura-pura takut saat Namjoon mengepalkan tangan dan bersiap memukulnya. Wajahnya memelas, ia membenarkan sejenak kacamatanya sebelum pergi.

Ia sempatkan diri untuk melirik Baekhyun lagi, dan entah kebetulan atau bagaimana anak itu juga tengah melihat kearahnya. Anak itu menatapnya datar, mungkin masih marah gara-gara mendapati Sooyoung menciumnya.

Chanyeol pergi. Namjoon dan juga Hanbin melakulan high five dan segera menghampiri Baekhyun setelah yakin Chanyeol tidak akan kembali. Senyum keduanya nampak lebar, membuat beberapa orang sempat kaget ketika melihatnya.

"Apa yang kalian la-"

"Kami sudah mengusir Park Chanyeol, princess"

"Sungguh?"

"Tunggu. Baek seb-"

"Diam dulu Lulu~"

Sebenarnya agak kesal karena ucapannya terus-terusan dipotong. Luhan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini. Sejak datang ke kelas, Baekhyun nampak bad mood dan itu sangatlah menyebalkan.

Luhan penasaran, apalagi ketika Namjoon dan juga Hanbin datang. Membuat rasa penasarannya menjadi berkali-kali lipat. Ia ingin bertanya, tapi Namjoon sudah menyela untuk buka suara terlebih dahulu.

"Hmm...hadiah kami?"

"Oh iya. Jadi kalian ingin apa?"

"Eung... Sa-"

"Tapi jangan ke ranjang ya. Aku sedang tidak enak badan"

"Padahal kami ingin. Tapi kalau kau sedang sakit yasudah"

Baekhyun bangkit dari duduknya dan tersenyum. Ia nampak sangat menggemaskan ketika mendekati Namjoon dan juga Hanbin. Senyum kekanakan yang khas muncul dibibirnya. Membuat dua lelaki dihadapannya gemas dan merasa ingin cepat-cepat membawa lelaki manis itu ke ranjang.

CUP

CUP

"Aku hanya bisa memberikan itu~ tak apa kan?"

"N-ne"

Kedua lelaki itu mematung ditempatnya. Keduanya saling melirik kompak sebelum akhirnya menyentuh bibir mereka masing-masing. Senyum konyol-nya nampak beberapa detik kemudian, membuat Baekhyun dihadapan mereka hanya tertawa dengan Luhan yang memutar matanya jengah.

Sahabat Baekhyun yang satu itu nampak malas, padahal awalnya ia merasa penasaran kenapa bisa Namjoon dan Hanbin menghampirinya dan juga Baekhyun dengan senyum konyol. Tapi saat melihat Baekhyun mencium bibir dua lelaki itu, tak perlu dijelaskan lagi. Luhan tahu kalau Baekhyun pasti baru saja meminta bantuan dua lelaki itu. Hell, apa anak itu juga mengiming-imingi hadiah? Dasar binal.

"Baek?"

"Chanyeol menyelingkuhi-ku"

"Hn? Aku...tidak salah dengar kan?"

"Tidak!"

"Hell, spesies seperti Chanyeol bisa berselingkuh?"

"YAK! Dia itu tampan walau penampilannya begitu! Jangan macam-macam Luhan! Siapa saja bisa jatuh cinta padanya kalau ia memperbaiki penampilannya!"

"Oke oke, aku percaya saja padamu"

"Haishh"

Baekhyun menenggelamkan kepalanya dimeja saat itu juga. Hari ini rasanya akan terus berjalan dengan buruk. Mood-nya sudah hancur sejak tadi pagi. Entah apa yang akan ia lakukan sampai akhir hari ini.

Luhan disisinya bahkan seolah tak peduli. Anak itu hanya tersenyum mengejek sambil terus menatap Baekhyun.

"Memangnya Chanyeol-mu itu kenapa?"

"Hn?"

"Kenapa kau bisa bilang dia berselingkuh"

"Dia tidak marah saat Sooyoung sialan memeluknya. Dan ia malah tersenyum ketika si nenek sihir itu mencium pipinya. Ishh, aku kesal sekali! Lu, kau bawa pisau?"

"Pisau?"

"Aku ingin membunuh seseorang"

Dan tawa Luhan pecah. Ia sampai memukul meja dihadapannya karena tak sanggup menahan tawanya. Sungguh, sedangkal itukah pikiran Baekhyun? Kalau Park Chanyeol tersenyum hanya karena dicium pipinya bisa dikatakan berselingkuh, bagaimana dengan Baekhyun sendiri? Bahkan anak itu mencium bibir dua lelaki dengan enteng.

"Kalau Chanyeol seperti itu kau bilang berselingkuh, bagaimana denganmu? Kau bahkan mencium bibir Hanbin dan juga Namjoon. Mungkin saja, kalau kau tidak sedang pusing kau pasti akan melayani mereka di ranjang. Hell, siapa sebenarnya yang bisa dibilang berselingkuh?"

Air mata terlihat menitik disudut mata Luhan. Anak itu masih kesulitan menahan tawanya walau ia tahu Baekhyun sudah sangat kesal dengan wajah memerah itu.

Baekhyun merajuk. Bibirnya ia poutkan dengan mata menatap kesal sahabatnya. Wajahnya memerah menahan kesal, dan ia masih diam hingga tawa lepas Luhan berhenti dengan sendirinya.

"Sahabat macam apa kau ini hah?"

"Aku?"

"Haishh, aku sedang penuh duka dan kau malah tertawa!"

"Penuh duka? Ayolah Baek, Chanyeol tidak selingkuh! Mungkin ia hanya sedikit bangga kalau lelaki jelek sep- oke, dia tampan sesuai perkataanmu!"

Luhan mengangkat tangannya untuk melindungi diri. Ia bukannya ingin menjatuhkan, tapi itu hanya bercanda. Saat Baekhyun sudah memasang pose untuk memukulnya, akhirnya Luhan pun urung untuk mengatakan kalau Chanyeol itu jelek.

"Menjelekan kekasihku sekali lagi, kupastikan Sehun akan menyetubuhiku malam ini!"

"YAK! TEGA SEKALI PADA SAHABATMU BYUN! Haishh"

.

.

.

"Yebin masih sering mengganggumu?"

"Hn? Bukan sering lagi. Tiap kami bertemu, mulutnya itu selalu saja mengoceh. Haishh, aku bisa gila"

"Baek,"

"Hn?"

"Bagaimana...kalau kau pindah saja kerumahku? Baba dan Mama pasti akan sangat senang"

"Lu,"

Baekhyun memiringkan tubuhnya, menatap lekat-lekat sahabatnya yang kini tengah memenuhi mulutnya dengan daging. Baekhyun agak terkejut ketika mendapati sahabatnya terlihat menggemaskan dengan mulut penuh dan menggembung. Tapi setelahnya ia hanya berdeham dan tersenyum.

"Terimakasih tawarannya. Tapi aku menolak!"

"Kenhammapa?"

"Telan dulu ishh!"

"M-maaf. Kenapa? Yebin tidak akan mengganggumu lagi ka-"

"Lu, itu rumahku! Ah, maksudku itu rumah keluargaku! Dan apapun yang terjadi, itu akan tetap menjadi rumah keluargaku!"

"Intinya?"

"Aku tidak akan pindah kemanapun!"

"Oke. Kalau ada apa-apa, rumahku selalu terbuka untuk jalang sepertimu"

"Haishh, terimakasih jalang"

"No problem"

Luhan mengendikan bahu setelahnya, ia ingin mengabaikan Baekhyun dan fokus saja pada makanannya. Ia tak mau Baekhyun marah padanya karena ia terlalu memaksa lelaki itu.

Sebenarnya tak tega pada Baekhyun. Anak itu selalu nampak frustasi ketika sudah membicarakan masalahnya dengan Yebin. Tapi Luhan bisa apa? Baekhyun selalu marah-marah ketika Luhan berusaha memberikan saran.

Akhir-akhir ini Luhan memang tidak lagi mendapati Baekhyun menangis. Ia senang, karena mungkin Baekhyun tak melakukan perdebatan sengit dengan ibu tirinya yang membuat anak itu sampai menangis.

Mungkin karena Park Chanyeol juga, menurut Luhan. Sebenarnya tak tahu juga, apa keberadaan lelaki nerd itu yang membuat sahabatnya bisa memikirkan hal lain ketimbang menggoda orang atau berdebat dengan ibu tirinya.

Luhan banyak berharap dengan Chanyeol. Ia tahu kalau Baekhyun sangatlah mencintai lelaki itu. Ia tidak bohong, ia sahabat Baekhyun sejak kecil. Ia tahu kalau Baekhyun akan sangat serius kalau ia sudah mencintai sesuatu.

Dan Chanyeol, Luhan berdoa semoga Chanyeol bisa menjadi yang terbaik untuk Baekhyun. Semoga lelaki yang sebenarnya tampan itu bisa melindungi Baekhyun dan selalu bersama Baekhyun kedepannya. Apapun yang terjadi. Amin.

"Baek, ayo ke kelas. Jam istirahat akan berakhir 10 menit lagi"

"Ayo"

"Kita tidak akan mampir kemana-mana kan? Seperti...ke kelas Taeyong atau Mingyu?"

"Tidak"

"Kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa"

"Sungguh? kau tidak ingin mencoba menggoda adik kelas?"

"Lu, aku sedang malas!"

"Oke, kita ke kelas sekarang"

"Hn"

Dan Luhan memilih untuk memegangi lengan Baekhyun. Takut anak itu kabur katanya. Keduanya berjalan berdampingan, dengan wajah penuh pikiran Baekhyun yang entah kenapa tetap terlihat menggemaskan.

Beberapa orang menyapa mereka, bahkan segerombolan adik kelas lelaki yang baru saja menyelesaikan pelajaran olahraga mereka.

Namun Baekhyun mengabaikan, ia tetap berjalan dengan wajah bad mood. Bahkan ia tak peduli pada Luhan yang sempat tertinggal dibelakang karena harus membalas semua sapaan orang-orang.

"Aku...melihat kekasihmu!"

"Hn"

"Sungguh Baek!"

"Masa bodo! Aku sedang marah padanya"

"Sungguh?"

Baekhyun memutar matanya jengah tanpa Luhan ketahui. Tapi Luhan tersenyum, ia kembali menyamakan langkahnya dengan Baekhyun dan memaksa anak itu menghentikan langkahnya.

Luhan melambai penuh semangat pada Chanyeol yang masih berdiri disebrang lapangan. Lekaki itu membalasnya gugup, melirik Baekhyun kemudian yang memang masih nampak merajuk.

Mood-nya benar-benar hancur. Dan ia berjanji akan menempatkan hari Selasa sebagai hari sial-nya. Ia akan menghilangkan hari itu dari nama-nama hari kalau bisa.

"BAEKHYUNNIE!"

"Haishh, dia memalukan Baek!"

"Dia kekasihku bodoh!"

Baekhyun melirik Chanyeol malas walau didalam hatinya ia tengah memekik senang. Yaampun, ia sangat merindukan kekasih raksasa-nya itu.

Ia ingin tersenyum, berlari dan segera menerjang tubuh tinggi yang kini tengah berjalan menghampirinya.

"B-baekkie sayang. Aku...ak-"

DUK

"CHANYEOLLIE!"

Baekhyun berlari cepat, menyingkirkan dengan kasar tangan Luhan yang sebelumnya merangkul bahunya. Tanpa peduli pada terik matahari siang itu, Baekhyun segera berlari ketengah lapangan, menghampiri Chanyeol yang tengah berdiri disana sambil memegangi keningnya.

"Kau tidak apa-apa? Yeollie tidak kenapa-kenapa? Apa sakit? Apa terluka? Apa. Apa tidak me- Katakan pada Baekkie apa yang sakit. Kat- YAK! SIAPA YANG MELAKUKANNYA HAH?"

Semua orang disana meringsut mundur, para hoobae tampan yang tadinya asik berkumpul dibawah ring basket segera kabur dan menghilang ketika mata tajam Baekhyun menatapnya lekat.

Baekhyun geram. Apa-apaan? Wajah tampan kekasihnya ditimpuk dengan bola basket. Bagaimana kalau wajah Chanyeol kehilangan sedikit ketampanannya? Haishh.

Merasa panik, Baekhyun menangkup wajah Chanyeol. Ia menyerngit, membayangkan bagaimana sakitnya wajah Chanyeol yang kini memerah.

"K-kacamata..."

"Apa kau baik-baik saja?"

"Kacamataku retak B-baek"

"Park Chanyeol! Aku bertanya padamu sayang. Apa kau baik-baik saja?"

"A-aku baik-baik saja"

"Haishh, kita obati hidungmu! Hidungmu berdarah"

"B-baekkie"

"Hn?"

"Kau...tidak marah? Aku...yang tadi pagi itu...m-maafkan aku. A-aku tidak bermaksud seperti itu. A-aku hanya ingin bersikap baik pada Sooyoung sunbae. A-aku...j-jangan salah paham sayang"

"..."

"Aku...m-maafkan aku"

"Kau tidak menyukai nenek sihir itu kan?"

"T-tentu saja tidak. Aku hanya ingin berbuat ba-"

"Kita obati lukamu dulu. Setelah itu kita cari bedebah yang sudah melukai wajah tampan kekasihku ini!"

.

.

.

Baekhyun membawa Chanyeol ke ruang perawatan karena ia merasa sangat khawatir pada setitik darah di batang hidung kekasihnya. Ia mencari antiseptik, bergerak cepat karena tak ingin Chanyeol yang sudah ia paksa berbaring di ranjang menunggu terlalu lama.

Baekhyuh berlari tergesa menuju Chanyeol ketika ia menemukan apa yang ia cari. Tanpa ragu-ragu ia langsung naik ke ranjang dan duduk diatas perut Chanyeol. Tangannya dengan cekatan membuka tutup botol dan menuangkan cairannya sedikit ke kapas sebelum ia oleskan pada hidung kekasihnya.

"B-baek"

"Sakit?"

"Sedikit"

"Tahan sebentar sayang!"

"Tapi Baek, kenapa sampai naik ke atas tub-"

"Selesai"

Senyum kecil mengembang dibibir Baekhyun. Setelah memberikan kecupan manis dihidung Chanyeol, ia meletakan botol antiseptik dan juga bekas kapas-nya di nakas.

"Sudah tidak sakit kan Yeollie?"

cupupcup

Baekhyun mengecup lagi hidung Chanyeol, disertai kening, pipi dan juga bibir lelaki tampan itu. Diperlakukan seperti itu oleh kekasihnya, Chanyeol hanya diam. Agak terkejut tapi tetap membiarkan Baekhyun yang kini malah merebahkan diri diatas tubuhnya.

"B-baek"

"Aku merindukanmu~"

"..."

"Kau tidak merindukanku?"

"A-aku...aku juga merindukanmu"

Dan pelukan Baekhyun pada Chanyeol semakin ia nyamankan. Senyumnya mengembang dan ia memilih untuk memejamkan matanya. Ia rindu memeluk Chanyeol seperti ini walau semalam ia baru saja berpelukan seperti ini.

Debaran halus jantung Chanyeol terdengar jelas ditelinga Baekhyun, membuatnya semakin nyaman hingga rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya.

Chanyeol yang melirik kekasihnya sudah memejamkan mata dengan senyum manis khas hanya bisa tersenyum. Ia ikut memejamkan matanya kemudian, mengusap-usap kepala Baekhyun dengan sebelah tangan sedangkan tangan sebelahnya balas memeluk tubuh mungil diatasnya.

"Kelas akan dimulai 5 menit lagi Baby. Tak ingin kembali ke kelas?"

"Tidak. Baekkie ingin disini saja bersama Yeollie"

"Membolos?"

"Tentu saja"

"Baiklah. Apapun untukmu sayang"

.

.

.

"LUHAN! Haishh"

"Baek, tidak perlu berteriak. Dasar bodoh!"

"Kau dimana sekarang?"

"Bersama Sehunnie~"

"Dimana? Kenapa setiap hari kau dan si tampan itu sel-"

"Jangan panggil kekasihku dengan sebutan itu. Kau sudah punya kekasih yang bisa kau panggil 'si tampan' kapanpun kau mau"

"Haishh, hanya bercanda"

Baekhyun tahu kalau sahabatnya itu pasti tengah merutuk habis-habisan disebrang telepon. Baekhyun bahkan bisa membayangkan bagaimana jeleknya wajah Luhan ketika menggerutu. Oh, bolehkah Baekhyun tertawa sekarang?

"Lupakan. Oh Baek, Chanyeol tidak bersamamu?"

"Tidak. Aku harus menunggunya sampai jam 10 nanti. Ia harus mengantar Eomma-nya belanja bahan makanan"

"Jadi kau bermain solo sambil menunggu si tiang datang?"

"Aku. Tidak! Aku baru selesai mandi"

"Oh"

"Hn"

Sambil tetap mengeringkan rambutnya, Baekhyun memilih untuk duduk dikursi depan kacanya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri penuh senyum dan melirik ponselnya diatas meja yang masih terhubung dengan Luhan.

Baekhyun tak ingin memulai pembicaraan karena ia harus mengeringkan rambutnya. Lagipula sepertinya Luhan juga tengah sibuk berbincang dengan Sehun. Baekhyun bisa mendengarnya, walau agak samar tapi ia tetap tahu kalau Luhan baru saja merengek disana.

"Baek"

"Hn?"

"Kau...sungguh Chanyeol bilang mengantar Eomma-nya?"

"Hn, dia yang bilang padaku sepulang sekolah tadi"

"Aku mel- tidak lupakan saja. Aku pasti salah orang"

"Lu, ada apa?"

"Tidak ada."

"Tunggu, kenapa berisik sekali? Kau dan Sehun memangnya kencan kemana?"

"Aku...Club malam dekat apartemen Sehun"

"Anak nakal! Kau itu masih kecil Luhan, jangan main ke tem-"

"Yayaya, jangan bicara seperti orang dewasa Byun. Sadarlah, siapa diantara kita yang bahkan pernah menganggap Club malam adalah rumahnya"

"Haishh, itukan dulu!"

Baekhyun berdecak kesal pada ponselnya. Sebenarnya ingin menjambak rambut Luhan, tapi karena ia hanya terhubung melalui telepon, apalagi yang bisa ia lakukan selain mengutuk ponselnya sendiri untuk melampiasakan kekesalan.

"Sungguh Baek, kau sudah menghubungi Chanyeol dan bertanya apakah ia sudah pulang dari mengantar Eomma-nya?"

"Kenapa sedari tadi kau membicarakan Chanyeollie-ku? Kau ti-"

"Tidak Baekhyun, Tidak! Jangan aneh-aneh!"

"Habisnya kau mencurigakan. Jangan salahkan ak-"

"Aku...sebenarnya aku melihat seseorang seperti Chanyeol. Ah, hanya mirip Baek. Kau jangan khawatir oke"

"Aku tahu. Tidak mungkin Chanyeollie-ku main ke- ah, Yebin mengirim pesan padaku. Tunggu sebentar Lu"

Tangannya yang sudah terlatih bergerak cepat meraih ponselnya. Tanpa mematikan sambungan teleponnya dengan Luhan, jemarinya bergerak cepat untuk membuka pesan yang dikirim Yebin.

Sebenarnya agak kaget dan curiga. Mengingat Yebin dan dirinya tidaklah dekat tetapi tiba-tiba wanita itu mengirimi-nya pesan. Bahkan walau sudah hidup bersama selama 2 tahun, tak pernah sama sekali ia dan Yebin berkirim pesan. Ah, tidak juga sebenarnya. Karena nyatanya dalam beberapa keadaan menyebalkan yang bersangkutan dengan warisan ayahnya, Yebin selalu berusaha menghubunginya lewat telepon.

Ada 3 pesan foto yang Baekhyun dapati ketika ia membuka chatroom-nya. Ia menyerngit bingung, tapi tetap membuka foto yang dikirimkan Yebin untuknya karena penasaran.

"Yebin mengirim foto, Lu"

"Foto apa?"

"Entah, sepertinya wanita itu ingin pamer padaku kalau ia tengah main ke Club ma- tunggu"

"Ada apa Baek?"

Mata Baekhyun membulat tiba-tiba, bahkan ia mengabaikan Luhan. Jemarinya yang lentik itu dengan cepat menggeser layar ponselnya hingga menampilkan foto-foto lainnya.

Jantungnya berdegup cepat dan rasanya ingin meledak. Bahkan Luhan yang sedari tadi menerikainya ditelepon ia acuhkan dan sibuk menatap dengan teliti foto diponselnya.

"Byun?"

"..."

"Jangan menakut-nakuti Baek! Katakan padaku ada apa?"

"..."

"BA-"

"Katakan sekali lagi padaku. Kau dimana?"

"Aku? Kan aku sudah bilang kalau aku dan Sehunnie mampir ke club malam didekat apertemennya"

"Kau mengenakan kaos merah? Dan sedang berdiri sendirian di dekat bar?"

"Yak! Kau sebenarnya dimana Baek? Bagaimana bisa tahu kalau ak-"

"Diam disana!"

Setelah mengatakannya, tanpa babibu lagi Baekhyun segera meninggalkan kamar. Ia bahkan tak peduli kalau ia masih mengenakan piyama kelincinya dengan sandal tidur berkepala anjing kesayangannya.

Baekhyun berlari tergesa, menyalakan mobilnya sesegera mungkin dan mengendarainya cepat. Ia bahkan tak peduli kalau ia akan kena tilang setelah ini.

.

.

.

"Luhan"

"Ne?"

"Ayo pulang"

"Kenapa cepat sek-"

"Aku sudah me-"

"Sehunnie"

"Hn?"

"Apa...apa lelaki yang disana itu...P-park Chanyeol?"

Luhan tahu kalau kekasihnya berusaha tidak terlihat terkejut. Saat Sehun berdeham sekali dan meliriknya ragu, Luhan tahu kalau apa yang ia pikirkan adalah benar adanya. Ia tahu, lelaki diujung sana yang tengah dikelilingi banyak gadis adalah kekasih dari sahabatnya.

Rasa kesal mendominasi Luhan. Ia baru saja menggulung lengan bajunya dan hendak melabrak Chanyeol sialan itu, tapi Sehun yang menahan lengannya membuat Luhan tak bisa lagi bergerak walau hanya selangkah.

Apa-apaan dengan yang Chanyeol lakukan? Kenapa bisa lelaki itu berada di Club malam seperti ini? Apa si tiang bodoh itu membohongi Baekhyun? Atau sebenarnya Baekhyun sudah tahu dan disini hanya ialah satu-satunya orang yang tidak mengetahui kalau Chanyeol itu ternyata...brengsek?

"Jangan ikut campur. Kumohon"

"Tapi Hunnie, itu Chanyeol. Haishh, apa-apaan dengan bergaya seolah-olah ia adalah playboy seperti itu?"

"Lu, ada yang perlu aku jelaskan padamu mengenai...Chanyeol"

Sehun menarik Luhan untuk semakin dekat padanya. Wajahnya nampak serius, tapi tetap terlihat tenang seperti sebelumnya.

"Oh, apa selama ini kau sudah tahu? Kenapa tidak memberitahuku Hunnie~ hanya aku yang tidak tahu disini. Haishh"

"Maafkan aku sayang. Tapi aku benar-benar tak bisa menceritakan siapa Chanyeol sebenarnya kemarin. Dan...ah, kau bukan satu-satunya. Faktanya, bahkan sampai detik ini Baekhyun hyung tidak mengetahui bagaimana kelakukan Chanyeol sebenarnya"

"Brengsek. Lepaskan aku!"

"Mau ap-"

"Aku akan menghajar si brengsek itu!"

"Tidak tidak. Lulu, dengarkan aku!"

Lagi, kali ini bahkan Sehun sampai memeluk pinggang Luhan agar anak itu tidak memberontak dan berniat menghajar Chanyeol lagi. Hell, Sehun mana rela kalau tangan kekasihnya menyentuh orang lain. Lagipula, Sehun hanya tak ingin kalau nantinya Luhan malah merengek sakit setelah berhasil memukul Chanyeol dengan tangan ranting-nya.

"..."

"Kumohon jangan ikut campur masalah ini. Kita tidak memiliki hak apapun un-"

"Baekhyun sahabatku sejak lama dan aku tidak memiliki hak?"

"Tidak seperti itu sayang. Dengarkan dulu"

"..."

"Biar begitu, walau kelihatannya sangat brengsek, aku tahu Chanyeol hyung sangatlah mencintai Baekhyun hyung. Ia sedikit-sedikit mengubah sikapnya yang brengsek itu karena Baekhyun hyung. Chanyeol hyung akan memberitahu Baekhyun hyung secepatnya sayang. Jadi, berikan dia kesempatan. Kita lihat saja, saat semuanya tidak berjalan sesuai rencana, barulah kita bisa ikut bertindak"

"Mana bisa begitu? Aku mana bisa diam saja saat Baekhyun dibohongi seperti ini?"

"Aku tahu kau sangat menyayangi Baekhyun hyung. Tapi sungguh, aku yakin Baekhyun hyung tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui kalau kekasihnya itu brengsek"

Sehun mengecup pipi Luhan sekali, membuat emosi lelaki rusa itu sedikit reda karena diperlakukan lembut oleh kekasihnya. Kedua lelaki itu saling tatap, dengan tangan Sehun yang sampai saat ini masih setia memeluk pinggang Luhan.

"Tapi memang Baekhyun tidak mengetahuinya Hunnie~"

"Gaya bercinta seorang amatir dengan playboy itu berbeda. Aku yakin, Baekhyun hyung pasti bisa membedakannya. Walaupun ia tidak tahu seberapa brengseknya Chanyeol, setidaknya ia pasti menanam rasa curiga pada kekasihnya itu"

"Tap-"

"Percayalah padaku sayang. Aku bersumpah kalau Chanyeol hyung tidak akan memiliki niatan untuk mempermainkan Baekhyun hyung"

"Baiklah baiklah. Aku percaya padamu. Tapi, kalau sampai Chanyeol main-main dengan Baekhyun, jangan larang aku untuk memenggal kepalanya"

"Yak! Kalau kau memenggal kepala Chanyeol hyung, kau bisa masuk penjara sayang. Lalu, kalau kau masuk penjara, bagaimana nasib rudal-ku?"

"Haishh, dasar mesum!"

Dan tamparan lembut Luhan hadiahkan dipipi kekasihnya ketika tiba-tiba Sehun menyentuh kejantanannya sendiri dengan sebelah tangan. Tapi lelaki yang usianya lebih muda darinya itu malah tersenyum sangat tampan dan memberikannya lagi sebuah kecupan dipipi.

.

.

.

Dengan langkah terburu, lelaki yang tubuhnya terbalut piyama biru kekanakan itu memasuki Club malam yang nampak ramai. Baekhyun bahkan tak peduli pada sendal berkepala anjingnya dan juga penutup mata yang masih tersampir dikepalanya.

Wajahnya nampak kesal, dengan mata menatap lamat-lamat kesana kemari ketika ia benar-benar sudah ada didalam sana.

Dentuman keras khas dunia malam menyambutnya. Baekhyun tetap tak peduli, musik memekakan telinga ini bukanlah hal baru untuknya.

Matanya masih melirik kesana kemari, mencari keberadaan Luhan dan juga...Chanyeol.

"Haishh"

Tadi saat Yebin mengiriminya foto, awalnya Baekhyun bahkan hanya berpikir kalau orang didalam foto itu hanya sekedar mirip dengan Chanyeol. Awalnya juga ia tidak mau peduli, namun saat menyadari kalau lelaki yang memiliki lesung pipi tunggal itu benar-benar sama persis dengan kekasihnya, Baekhyun tahu kalau itu memanglah Chanyeol.

Kini Baekhyun sudah ada disini. Ia sendiri tidak tahu harus bereaksi seperti apa seandainya ia benar-benar menemukan Chanyeol ditempat ini. Entah harus marah atau memutuskan hubungan mereka sepihak nantinya. Baekhyun masih bingung, tapi ia tidak bohong kalau ia benar-benar kesal sekarang.

Ia berkacak pinggang ditengah keramaian, orang-orang yang menabraknya, hingga beberapa orang yang menggodanya Baekhyun abaikan. Ia masih mencari keberadaan kekasihnya yang sampai saat ini belum ia temukan.

"Ah, Lu- kalau itu Luhan, berarti..."

Baekhyun menunjuk Luhan didepannya, tapi kemudian mengingat sesuatu. Ia cepat-cepat berbalik, meneliti satu persatu sofa-sofa besar dipojokan hingga akhirnya ia menemukan apa yang ia cari. Sama persis dengan foto yang dikirim Yebin tadi.

Giginya bergemeletuk, dengan wajah yang rasanya memanas karena kesal. Dengan amarah yang menyelimuti, Baekhyun tergesa menghampiri salah satu sofa dipojok. Ia tak peduli pada beberapa gadis disana yang mengerubungi kekasihnya, bahkan ia tak peduli pada seseorang yang ia yakini adalah Yifan.

Byur

Minuman berwarna biru itu melayang dan membasahi wajah tampan yang kini menunjukkan ekspresi terkejut. Tangannya terkepal dan baru saja hendak menghajar orang yang berani menyiramnya sebelum ia sadar siapa orang itu.

Mata Chanyeol membulat, bahkan ia langsung mendorong jauh-jauh gadis yang sedari tadi menggerayangi tubuhnya.

"B-baekhyunnie"

"Cih, masih berani memanggilku seperti itu?"

"B-baek, aku...a-aku bisa jelaskan ini semua sayang"

"Tidak ada yang perlu dijelaskan Park! Kau. MEM-BO-HO-NGI-KU! Brengsek!"

"Baek ak- Baekkie. Tunggu aku sayang, aku bisa je- Baek! Baekhyun! Haishh"

TBC

Annyeong~

Selamat datang yaaaaa buat readers baru~ ah, buat readers sekaliaaaaannnn~ unchh aku gemes deh, pengen cium kalian semua satu-satu wkwk

Makasihnya buat yang udah meluangkan waktu buat baca ff ini. Mohon maaf kalo masih banyak kekurangannya termasuk Typo hehe.

Saranghae~

Review Juseyooooooooooo~