Dark

All character belong to Naruto

Naruto © Masashi Kishimoto

1999

Dark by Putpit

29 Juni 2013

Rate: T - M

Sasuke - Her

Langit menyuguhkan parade kemerlap bintang-bintang yang indah malam ini. Tapi, keindahan itu rupanya dihiraukan oleh makhluk yang tengah asyik menyantap mangsanya di sudut jalan yang gelap. Rambutnya yang berwarna biru dongker tersembunyi dibalik rambut kecoklatan si mangsa. Dia membenamkan kepalanya dalam-dalam di lekukan leher si mangsa untuk menuntaskan segala hasrat lapar yang menggelora.

Si mangsa bukannya berteriak kesakitan atau meronta, namun justru mendesah dan mengeratkan cengkeramannya pada bahu predator. Ia seakan mendapat kegembiraan tanpa ujung yang menggelitik seluruh syarafnya. Begitu nikmat dan memabukan!

Selang beberapa menit kemudian, makhluk predator itu melepaskan taring yang menempel di leher ringkih buruannya. Dia pun mengusap mulutnya yang terbalut 'makanan sedap' menggunakan punggung tangan kanan sedangkan tangan lain menopang tubuh mangsa yang lunglai. Dia menatap lekat kedua mata si mangsa. Perlahan, mata predator yang semula hitam berubah menjadi merah darah.

"Lupakan kejadian malam ini. Pulanglah lalu perban lehermu," perintah makhluk itu pelan.

Mangsa yang merupakan sosok wanita cantik hanya mengangguk paham. Ia memegang lehernya yang terdapat dua luka kecil lalu berjalan pergi. Sesaat kemudian, giliran sang predator yang lenyap dalam hitungan detik.

-Dark-

"Hei, jangan terburu-buru Ino! Kalau kau terus menarikku seperti ini, pergelangan tanganku sakit," keluh Sakura pada teman pirang di hadapannya.

"Aku tidak mau membuang waktu, Sakura. Ayo!" omel Ino tak sabar.

"Kita bukan mau bertemu Presiden atau Pejabat. Kita hanya bertemu cowok yang menolongku. Lagipula, bukan jaminan seratus persen jika tebakanmu benar," kata Sakura sambil merengut.

"Ck, aku yakin yang menolongmu adalah Uchiha Sasuke, Sakura. Siapa lagi cowok berambut biru tua, tinggi, dan tampan yang bisa kau temui di Chidori Club. Asal kau tahu, Uchiha Sasuke adalah pemilik club ini loh. Astaga, kau benar-benar beruntung bisa bertemu dengannya!" cerocos Ino penuh semangat.

Sakura akhirnya hanya memutar kedua bola matanya bosan. Bila sudah membicarakan seputar lelaki, maka ocehan Ino tak akan pernah putus. Lebih baik ia memilih diam daripada membuat pita suaranya kelelahan akibat beradu mulut dengan sang sahabat.

Sakura dan Ino melangkah cepat menuju kantor Sasuke yang terletak di lantai dua. Tanpa keduanya sadari, seseorang yang tengah mereka bicarakan telah menunggu dalam diam di kursi besarnya. Bahkan ketika dua gadis tersebut masuk ke dalam club, sang pemuda sudah bisa merasakan aura mereka. Apalagi satu gadis itu. Gadis istimewa dengan segala daya pikatnya.

Suara ketukan pintu terdengar kala sang pemuda membayangkan gadis itu. Sambil menampilkan seringai tipis pemuda itu berujar, "Masuk."

Beberapa detik kemudian, daun pintu terbuka dan memperlihatkan dua sosok gadis berdiri kaku di ambang pintu. "Permisi. Apa kami mengganggu?" tanya gadis berambut pirang. Mata aquamarine-nya bertubrukan dengan mata hitam Sasuke.

"Tidak," jawab Sasuke tetap duduk di kursinya.

Dengan langkah pelan, dua gadis tersebut masuk ke kantor lalu duduk di kursi di hadapan Sasuke.

"Ada perlu apa?" tanya Sasuke datar seraya melemparkan pandangannya pada gadis berambut pirang.

Gadis itu sontak tersenyum salah tingkah. "Eh, bukan aku. Tapi, sahabatku. Ayo cepat bicara, Sakura!" ujarnya memukul pundak gadis di sebelahnya.

Gadis lain yang memiliki rambut berwarna merah muda dan mata hijau zamrud menghela nafas lalu mengulurkan tangan kanannya ke depan Sasuke. "Sebelum itu, aku mau berkenalan dulu. Namaku Haruno Sakura," ucapnya acuh tak acuh.

"Uchiha Sasuke," balas Sasuke tanpa meraih tangan Sakura.

Sakura langsung menarik tangannya menjauh. Ia memandang intens ke Sasuke. "Em, terima kasih atas pertolonganmu kemarin. Sewaktu aku cerita tentangmu pada temanku yang cerewet ini, dia langsung bisa menebak namamu. Aku tidak mau berhutang budi, makanya aku kesini," ucap Sakura panjang lebar.

Sasuke menampilkan wajah stoic-nya sambil membalas tatapan tajam Sakura. "Hn, lalu?"

Sakura yang jengah akhirnya mengalihkan kedua emerald-nya dari Sasuke. Ia pun berkata, "Ya, aku ingin membalas kebaikanmu Uchiha-san. Apa yang bisa kulakukan untukmu?" Jeda sejenak sebelum Sakura kembali menambahkan, "Oh ya, permintaannya yang wajar ya. Jangan seperti malam kemarin!"

Uchiha Sasuke hanya mengangkat kedua alisnya. Sebuah seringai tipis singgah di bibirnya. "Apa yang mau kau tawarkan padaku?"

"Bagaimana kalau kutraktir makan malam?"

"Hn," jawab Sasuke sambil sedikit menahan nafas. Ia berusaha menekan sifat kelamnya sekuat mungkin agar dia tidak menerkam gadis di hadapannya.

Sakura mengernyit saat mendengar ucapan Sasuke. Raut kebingungan tercetak di wajah cantiknya. "Hn itu artinya iya atau tidak?" tanyanya kemudian.

"Ya," sahut Sasuke singkat.

"Baiklah, kita bertemu di Restaurant Akimichi jam tujuh malam. Terima kasih," ucap Sakura seraya menarik tangan Ino yang sedari tadi duduk diam memandang Sasuke.

Sang gadis musim semi membungkuk sekilas kemudian berjalan keluar sambil menyeret lengan Ino.

"Oh, iya. Namaku Yamanaka Ino, senang bisa bertemu denganmu Sasuke-kun. Bye," timpal Ino melambaikan tangan dan tersenyum senang.

Selepas keduanya meninggalkan ruangan, Sasuke langsung pergi berburu. Padahal baru dua jam yang lalu ia makan, tapi gara-gara kehadiran perempuan itu, rasa laparnya kembali memuncak.

Perempuan berambut merah muda yang seolah memiliki magnet hingga menarik hasratnya begitu kuat.

-Dark-

Hari berganti begitu cepat. Tiba-tiba saja Sasuke sudah berada satu meja makan bersama Sakura. Dengan mengenakan kemeja hitam, celana panjang hitam, serta jaket panjang berkerah tinggi yang juga berwarna hitam, penampilan Sasuke benar-benar terlihat misterius.

Seorang pelayan wanita menghampiri keduanya seraya menyodorkan dua buku menu. Ia berdiri diam. Pandangannya terkunci pada pesona Sasuke yang memikat. Bila satu suara jutek tidak menginterupsi kekagumannya, mungkin pelayan wanita itu sudah menganga begitu lebar karena terlalu intens menatap Sasuke.

"Saya pesan beef steak dan orange juice."

"Baik," sahut si pelayan wanita sambil mencatat pesanan Sakura.

"Apa yang mau kau pesan Uchiha-san?" tanya Sakura pada Sasuke.

"Sasuke," jawab Sasuke datar.

Sakura meletakan buku menunya di meja. "Apa?" sahutnya bingung.

"Panggil saja aku seperti temanmu memanggilku."

Sakura mengerutkan kening, namun beberapa detik kemudian dia mengangguk. "Baiklah, Uchiha-eh maksudku, Sasuke-san," katanya pelan.

"San?" ujar Sasuke sembari menurunkan buku menu dari depan wajahnya.

Kedua alis Sakura bertemu tanda bingung. Rambutnya yang dikuncir ponytail bergoyang pelan saat tangan kanannya bergerak menyanggah dagu. "Ada yang salah?" tanyanya heran.

"Bukankah teman pirangmu itu memanggilku Sasuke-kun?" ujar Sasuke dengan nada datar dan wajah angkuh.

Mulut Sakura terbuka seraya menganguk-angguk pelan. "Oh. Ya, Sasuke-kun."

Sasuke sedikit menarik sudut bibirnya. "Itu lebih baik."

"Em, permisi," sela sebuah suara.

Sakura menoleh ke kanan dan tersenyum tipis. "Maaf membuatmu menunggu," kata Sakura pada pelayan yang berdiri dengan tampang bosan. Ia pun mengalihkan pandangannya pada Sasuke. "Jadi, apa yang mau kau pesan Sasuke-kun?" tanyanya pada lelaki di hadapannya.

"Air putih," jawab Sasuke pendek.

"Are you kidding with me?" ujar Sakura dengan nada mengejek.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya, 'Memang apa yang salah?'

"Aku mengajakmu makan, bukan minum. Kalau hanya air putih, di rumahku juga ada. Pesanlah makanan atau mau aku yang pesankan?" kata Sakura panjang lebar.

"Hn," kata Sasuke.

"Hn itu iya atau tidak?"

"Terserah."

Sakura pun memutar kepalanya menghadap si pelayan wanita. "Baiklah, aku pesan dua steak beef dan dua oran-"

Belum sempat Sakura menyelesaikan pesanannya, Sasuke menyela, "Aku tidak suka manis."

Sakura sontak menoleh ke arah Sasuke. "Tadi katanya terserah," ucapnya sebal sambil mengerucutkan bibir. Ia pun kembali berkata, "Jadi, kalau Sasuke-kun tidak suka manis, bagaimana kalau kupesankan jus tomat?"

"Hn."

"Hei, aku bukan paranormal yang bisa mengerti dua kata yang menjadi ciri khasmu itu. Kalau menjawab itu iya atau tidak, jangan 'hn' doang," omel Sakura.

"Ya," ucap Sasuke akhirnya.

"Itu lebih baik," komentar Sakura. Ia pun menoleh ke pelayan wanita dan hendak mengucapkan pesanannya, namun disela terlebih dahulu oleh sang pelayan.

"Saya harap pesanannya sudah benar-benar ditentukan agar kalian tidak kembali berdebat."

Sakura tersenyum kikuk. Ia merasa tak enak hati karena terlalu banyak menyita waktu sang pelayan. "Sekali lagi, aku minta maaf. Kali ini kami tidak akan bertele-tele lagi."

"Begitu saja mengacuhkan keberadaanku, memangnya aku patung hah," batin si pelayan.

Sasuke yang bisa mendengar isi pikiran manusia hanya mendengus kecil. Beberapa menit kemudian, si pelayan pergi dengan makian tak jelas dalam hatinya.

Hening. Sasuke maupun Sakura diliputi keheningan yang canggung. Akhirnya, karena tidak tahan, Sakura pun berujar, "Sasuke-kun, kau memakai pakaian serba hitam seakan mau ke pemakaman saja."

"Aku suka hitam," tanggap Sasuke singkat.

"Apa kau sakit? Kenapa pakai jaket dengan kerah tinggi seperti itu sih?"

"Cuacanya dingin."

"Oh ya, Sasuke-kun. Kau dapat salam dari sahabatku, Ino. Kata Ino, kau punya banyak penggemar. Itu benar?"

"Hn."

"Apa dari kecil kau sudah irit bicara, Sasuke-kun?"

"Hn."

"Kau butuh pinjaman bank kata supaya kas ucapanmu tidak melulu hn dan hn," saran Sakura. Ia pun menutup obrolan karena hidangan pesanannya telah datang.

-Dark-

Sasuke dan Sakura keluar dari restaurant secara bersamaan. Keduanya berdiri berhadapan di depan restaurant hendak berpisah jalan.

"Selamat malam, Sasuke-kun. Sampai jumpa," ucap Sakura sambil membungkuk sopan.

"Hn. Kuantar pulang."

"Tidak usah. Kita kan berbeda arah. Aku bisa naik kereta kok," tolak Sakura halus.

"Kuantar sampai stasiun," kata Sasuke mencoba penawaran baru.

"Baiklah," ucap Sakura.

Keduanya lantas berjalan beriringan. Sampai di suatu zebra cross, Sakura tiba-tiba berlari panik. Ia menghampiri anak kecil yang jatuh terduduk di tengah jalan. Lampu penyeberangan yang kala itu berwarna merah dihiraukan olehnya. Ia langsung mengangkat tubuh si anak dan memapahnya menuju bahu jalan.

Bunyi klakson truk yang menggema spontan mengagetkan Sakura. Ia pun mendorong anak dalam pegangannya. Saat Sakura hendak berlari menghindar, truk sudah berada begitu dekat dengannya.

TIIN TIIN TIIIIIN

Bukannya terjadi hal yang mengerikan, tapi kehangatan justru mendekap Sakura. Ia pun mendongak dan mendapati sepasang iris merah darah yang tengah menatapnya.

"Sasuke-kun," ucap Sakura.

"Ceroboh," kata Sasuke sambil melepas pelukannya. Ia mengalihkan pandangannya dari leher jenjang Sakura.

"Sekali lagi, aku berhutang budi padamu. Terima kasih."

"Hn."

"Terima kasih kak," ucap satu suara lain.

Sasuke dan Sakura langsung menoleh ke samping kanan dan melihat anak lelaki kecil tersenyum manis. Dia adalah anak yang telah ditolong Sakura tadi. "Sama-sama adik. Lain kali hati-hati ya," kata Sakura perhatian.

"Hm, aku juga ingin bisa punya gerak cepat seperti kakak. Terima kasih," ujar anak tersebut sambil memeluk Sasuke singkat

"Hn"

"Aku pulang dul ya kak. Mama pasti khawatir nungguin aku. Dah," pamit anak tersebut.

"Hati-hati!" seru Sakura mengingatkan.

Ia pun mengalihkan tatapannya pada Sasuke. "Eh, memang apa yang kamu lakukan Sasuke-kun?" tanyanya penasaran seraya melihat punggung sang anak yang berjalan menjauh.

"Tidak ada," jawab Sasuke melangkah pergi.

"Tunggu, Sasuke-kun!"

Perempuan itu berbeda. Entah mengapa, Sasuke begitu tergiur pada aroma tubuhnya. Irama denyut nadinya menghipnotis. Seolah merangsang gigi taring Sasuke untuk muncul dan mencicipi apa yang mengalir dalam pembuluh aorta tersebut. Sasuke menginginkan darah perempuan itu untuk menghapus dahaga buasnya. Mengenyangkannya.

Tapi, perempuan itu memang berbeda. Sasuke tidak bisa mempengaruhinya. Bahkan memenjarakannya dalam pesona mematikannya. Perempuan itu mempunyai perlindungan khusus. Ia sungguh berbeda.

Hari sudah semakin gelap saat Sasuke dan Sakura berjalan dalam diam. Sasuke sibuk menahan gejolak laparnya sedangkan Sakura menatap jalanan dengan mata yang menerawang. Sasuke tidak bisa membaca isi pikiran perempuan itu karena aksesnya ditutup oleh kalung yang melingkar di lehernya.

"Kumohon, jangan bunuh aku!" pekik sebuah suara dari kejauhan. Sontak dua orang yang sedari tadi membisu itu menoleh ke sumber suara yang berada di hadapan mereka.

Kondisi jalanan yang gelap menyulitkan pandangan Sakura, ia pun harus menyipitkan mata untuk mempertajam penglihatannya. Sedangkan Sasuke, ia tak perlu melakukan hal itu, karena hanya melihat sekilas ia sudah bisa memahami kejadian yang ada di depannya.

"Ayo pergi!" ajak Sasuke seraya membalikan badan.

"Tidak bisa. Ada wanita yang tengah diancam, aku harus menolongnya," tolak Sakura lalu berlari ke depan.

DOORR DOORR DOORR

Serentetan suara tembakan yang terdengar sekejap menghentikan langkah Sakura. Ia berdiri mematung sepuluh meter dari Sasuke. Sepersekian detik kemudian, sebuah peluru meluncur cepat melewati samping kanan Sakura.

Pikiran Sakura membeku. Ia pun langsung memutar tubuh sembari berseru, "Sasuke-kun!"

DUK

Tiba-tiba Sasuke sudah berdiri tepat di belakang Sakura. Hingga tanpa sengaja, dahi Sakura berbenturan dengan dada bidang miliknya. "Keras kepala," komentar Sasuke seraya mengangkat tubuh Sakura.

"Eh," kata Sakura kaget.

"Kalau kau takut, pejamkan matamu," ucap Sasuke saat beban tubuh Sakura sudah ditopang dengan kedua lengannya kuat.

"Tapi, bagaimana dengan wanita yang menjerit itu?" tanya Sakura khawatir.

"Sebentar lagi pasti ada polisi yang datang," jawab Sasuke pelan.

Sakura hanya bisa menghela nafas singkat lalu menutup mata. Ia pun mengalungkan kedua lengan mungilnya pada leher Sasuke.

Tak mau membuang waktu, Sasuke pun mengeratkan gendongannya dan berlari. Larinya sangat kencang layaknya angin. Tubuh Sakura ibarat kapas yang begitu ringan.

Lima menit kemudian, keduanya telah sampai di depan rumah Sakura. Secara perlahan, Sasuke menurunkan tubuh Sakura agar ia dapat berdiri tegap.

"Kita sudah sampai," kata Sasuke.

Kelopak mata Sakura terbuka sedikit demi sedikit. Ketika emerald-nya telah terbuka sepenuhnya, ia mengerjap kaget. "Loh, kita sudah ada di depan rumahku. Bagaimana bisa?"

"Aku pergi dulu," ucap Sasuke seraya berbalik.

"Tunggu," cegah Sakura seraya menahan lengan Sasuke.

Mau tak mau, Sasuke kembali menggerakan tubuhnya menghadap Sakura. "Ini sudah malam. Masuklah lalu tidur," kata Sasuke.

Sakura menggeleng keras. Iris hijau zamrudnya menatap lekat ke iris onyx Sasuke. "Jelaskan padaku," kata Sakura pelan.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya seolah berkata, 'Apa yang mau dijelaskan?'

Sakura maju satu langkah supaya bisa lebih dekat dengan Sasuke. "Pertama, jarak tempat kita semula ke rumahku itu sekitar sepuluh kilometer. Mana mungkin kamu bisa menggendongku kesini hanya dalam sekejap saja? Lagipula, darimana kau tahu tempat tinggalku? Kedua, kau menyelamatkanku tanpa luka sedikit pun. Bagaimana bisa? Padahal truk yang akan menabrakku itu hanya berada satu meter dariku." Sederetan ucapan kecurigaan terlontar dari mulut Sakura. Beberapa detik kemudian, ia kembali berkata, "Oh ya, aku sampai lupa. Di hari kau menolongku dari penjambret, aku melihat kau sekedar merentangkan tangan dan si penjambret langsung pingsan. Lalu, aku juga sempat mendengar kau menyebut namaku. Padahal kan kita belum berkenalan."

Sasuke memejamkan mata sejenak. "Kau sungguh ingin tahu?" tantangnya.

"Tentu saja. Jelaskan semuanya," balas Sakura tegas.

Sasuke melepaskan pegangan Sakura dari lengannya lalu berkata, "Lepaskan kalungmu lebih dulu, baru akan kujelaskan."

"Kalungku?" ucap Sakura bingung.

"Hn."

Sakura menggenggam kalung bermata berlian biru miliknya. Ia memejamkan mata, menimbang apakah ia akan menurut atau tidak. Namun karena di dorong rasa penasaran, Sakura akhirnya melepaskan kalung yang melingkar di lehernya kemudian menyimpannya di saku celana. "Nah, ayo cepat jelaskan!" tuntut Sakura.

Tanpa Sakura sadari, sebuah seringai tipis muncul di bibir Sasuke.


000


Untuk beberapa guest, ini respon dariku^^

Fivani-chan: Makasih sudah review. Baca terus chapternya, nanti hubungan SasuSaku perlahan terjalin. Hm, yang benar itu reinkarnasi bukan rengkranasi

yui: Makasih sudah review. Maaf, chapter kemarin sebenarnya aku minder karena words-nya cuma seribu. Hehehe, chapter ini sudah lebih banyak kok

'triple' SasuSaku luv: Wee, tiga sekaligus. Makasih review2nya. Sasuke dan Sakura sama-sama keren kok nanti^^

Yuki-chan: Iya, Sasuke vampir. Pemeran utama memang dua karakter itu, jadi chapter2 selanjutnya pasti banyak SasuSaku kok. Thank you for your review^^

cheryxsasuke: makasih sudah review yah. janji nggak bakalan discontinue kok. Aku sudah punya kerangka ceritanya ^^ tapi, maaf nggak bisa update cepat karena terhalang WB dll ^^


Space untuk bacot author

Aku nulis chapter ini sewaktu Twilight: New Moon tayang di salah satu tv XD

Tapi, mendadak WB dan berhenti sebentar :P

Bagaimana tanggapannya tentang chapter ini, minna? Mohon kritik dan saran yah ^^

Next: Sakura - Fact

See you

Oh ya, terima kasih pada:

hamster-pink, tohko ohmiya, Uchiha Shesura-chan, uchihaharuno susi, Dark Courriel, hanazono yuri, Fivani-chan, yui, 'triple' SasuSaku luv, Yuki-chan, white moon uchiha, Ryukaza Gami, milkyways99, cheryxsasuke, Fuyu no MiyuHana

Sekian dan…

REVIEW

P

L

E

A

S

E