Dark

All character belong to Naruto

Naruto © Masashi Kishimoto

1999

Dark by Putpit

21 Juli 2013

Rate: T-M

Warning! Blood! Maybe rush!

Sakura - Fact

Bias cahaya kekuningan menerobos masuk melalui jendela bening dengan leluasa. Mengusik tidur seorang gadis hingga membuatnya menggeliat pelan.

"Ah, tolong tutup tirainya Ma! Aku sebentar lagi turun kok,"gumam gadis tersebut seraya menutup wajah kantuknya dengan bantal.

"Ini sudah siang Sakura," kata sebuah serak nan serak.

Gadis yang dipanggil Sakura itu masih bergelung dalam selimut malas. Namun, beberapa detik kemudian ia terperanjat duduk kala menyadari bahwa suara yang didengarnya bukan milik sang Mama.

"Eh," ucapnya kikuk.

Seorang lelaki berambut hitam dikuncir satu duduk di kursi di sebelah kanan ranjang Sakura. Mata sayunya memandang Sakura secara intens. "Kenapa kau melepas kalungmu?" tanyanya dengan nada yang sedikit tinggi.

"Hei, kenapa kau terdengar marah Shika?" sahut Sakura tajam. Kesadarannya masih belum penuh, jadi ia sedikit kaget saat Shikamaru langsung melontarkan pertanyaan padanya.

"Kenapa kau melepas kalungmu?" ulang Shikamaru menurunkan nada suaranya.

"Aku hanya tidak ingin memakainya waktu tidur," kelit Sakura.

"Lalu, dimana kalungmu sekarang?"

Sakura meraba celananya dan mendapati bahwa tidak ada lubang kantung disana. Ia sontak memperhatikan lebih teliti dan menyadari bila ia telah berganti pakaian. 'Kapan aku ganti baju?' batinnya heran.

"Sakura," panggil Shikamaru yang menuntut jawaban.

Sakura termenung sejenak. Dia mencoba mengingat kejadian semalam, dimana dia melepaskan kalung pemberian Shikamaru sebagai persyaratan agar Sasuke mau menjawab semua pertannyaan. Namun, ketika Sakura mencoba menggali lebih dalam ingatannya, yang ada ialah kekosongan dan kebingungan. "Sebenarnya, apa yang terjadi padaku semalam Shika?" Sakura malah balik bertanya.

Shikamaru menghela nafas pendek kemudian berkata, "Jawab dulu pertanyaanku Sakura."

Sakura memutar kedua bola matanya kesal. Dia dengan cepat turun dari ranjang lalu berjalan ke keranjang pakaian kotor yang terletak di pojok kiri kamar. Dia menggeledah benda plastik tersebut dan mengambil celana jeans warna hitam. Sakura merogoh kedua saku celana dan perlahan dia mengeluarkan kalung emas putih dari saku sebelah kanan.

"Ini dia," ucap Sakura seraya menggantungkan kalungnya di depan wajah.

Shikamaru menghembuskan nafas lega. "Jangan pernah melepasnya walau hanya sedetik!" perintahnya sambil beranjak dari kursi.

"Hah, jangan suka mengaturku Tuan Nara," balas Sakura acuh.

"Aku ingin kau menjaga barangmu dengan baik Nona Haruno," ujar Shikamaru ketika telah berada di hadapan Sakura.

"Terserahlah," kata Sakura mengalah. Ia pun mengansurkan kalung dalam pegangannya ke Shikamaru. Ia berbalik lalu menyibak rambutnya ke samping. Tak sampai satu menit, kalung bertatahkan berlian biru itu kembali bertengger di leher putihnya.

"Jadi, apa kau tahu yang terjadi padaku semalam Shika?" tanya sang gadis musim semi sambil memutar badan.

"Aku menemukanmu pingsan di depan rumah," jawab Shikamaru.

"Pingsan?" gumam Sakura.

"Ya. Kedua orang tuamu sangat khawatir sampai menyuruhku menginap disini."

Sakura kembali mengingat dengan keras. Ia menyusun serpihan-serpihan ingatan tentang kejadian tadi malam, tapi tak kunjung utuh. Hal terakhir yang ia simpan dalam memory ialah Sasuke yang menyuruhnya melepas kalung. Dan setelah itu, ia pun lupa.

Tanpa sadar, Sakura menggigit bibir bagian bawahnya dan spontan pekikan tertahan meluncur. "Aww."

Perih. Itulah yang Sakura rasakan saat permukaan giginya menekan pelan bibirnya. Ia refleks mengulum bibirnya ke dalam dan indera pengecapnya pun mengenali rasa asin darah.

"Bibirmu sudah luka sejak tadi malam. Hentikan menggigitinya atau malah bertambah parah!" kata Shikamaru sembari menyodorkan sapu tangan warna coklat pada Sakura.

"Eh, terima kasih," balas Sakura menerima sapu tangan tersebut lalu menempelkannya pada bibirnya yang terluka.

Diam. Keadaan itu begitu mendominasi. Hanya bunyi mesin AC yang terdengar lembut menyelingi nuansa di kamar berukuran sedang tersebut.

'Apa yang sebenarnya terjadi?' batin Sakura. Ada penggalan ingatan yang hilang dan tidak bisa ia temukan.

"Arrgghh," geram Sakura seraya mengacak rambut merah mudahnya hingga menjadi semakin kusut saja.

"Sakura!" seru satu suara nyaring.

Sang gadis musim semi yang merasa namanya dipanggil sontak mengedarkan pandangannya ke arah pintu dan ia langsung mendapat pelukan hangat dari gadis lain berambut pirang.

"Ino," bisik Sakura di balik punggung sang sahabat.

"Aku dapat kabar kalau kau pingsang semalam. Apa yang terjadi? Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?" Sederetan kalimat dilontarkan Ino saat ia merenggangkan dekapannya.

Sakura sekedar tersenyum tipis lalu menjawab, "Kau terlalu berlebihan. Aku hanya kelelahan."

Ino menatap Sakura lekat. Mencoba celah rahasia disana. Tapi, Sakura buru-buru menambahkan tanda peace menggunakan dua jarinya pertanda bahwa memang kebenaran yang ia kemukakan. Akhirnya, Ino percaya dan mengangguk singkat. Ia menatap Sakura dari atas hingga bawah. "Kau terlihat sangat berantakan. Bagaimana kalau kita jalan-jalan? Sudah lama juga kita tidak ke salon atau berbelanja bersama," kata Ino.

"Ide yang bagus," sahut Sakura. Pikirannya sungguh kacau dan jalan-jalan merupakan jalan keluar terbaik baginya.

-Dark-

Lima jam Sakura berkeliling mall , tapi hanya satu kantong plastik yang ia bawa. Sedangkan sang sahabat, Yamanaka Ino telah menenteng setidaknya sepuluh kantong yang berisi berbagai barang belanjaan. Mulai dari dress, sepatu, hingga peralatan make up.

Merasa kaki sudah meraung lelah dan minta diistirahatkan, akhirnya dua gadis tersebut singgah di salah satu restaurant sekaligus mengisi perut yang kelaparan.

"Mungkin saja kau mengalami ganguan ingatan Sakura," kata Ino selepas memesan makanan.

"Entahlah, apa aku harus ke dokter untuk memeriksanya?" tanya Sakura seraya menopang dagu dengan sebelah tangan.

Ino mengedikan bahu sekilas. "Boleh juga. Apa kau mau kuantarkan ke dokter jiwa?"

"Pig, aku bukan orang gila," sungut Sakura sebal.

"Mungkin saja kau mengalami indikasi menjadi gila Sakura," goda Ino mengerling jahil.

"Kalau aku gila, kenapa kau mau berteman denganku? Berarti kau itu lebih dari gila, pig!" ejek Sakura sengit.

Ino tertawa keras. "Jangan marah dong! Aku hanya bercanda forehead."

"Candaanmu tidak lucu pig," sahut Sakura sinis.

"Sudahlah, daripada membahas gila dan sebagainya, aku ingin bertanya tentang luka di bibirmu Sakura."

Sakura menghembuskan nafas lemah. "Aku tidak tahu. Aku tidak ingat apapun kecuali Sasuke yang mengantarkanku sampai depan rumah. Kami mengobrol singkat dan setelah itu semuanya memusingkan bagiku."

"Mungkinkah Sasuke menciummu dengan ganas hingga berdarah Sakura?" terka Ino asal.

"Mulai sok tahu lagi. Hah, dasar pig! Percuma cerita padamu," kata Sakura lesu.

"Walaupun begitu, aku tetap sahabatmu yang terbaik Sakura," kata Ino membanggakan diri.

"Iya," sahut Sakura tersenyum manis.

Setidaknya, dengan mengobrol pada Ino, Sakura jadi bisa nyaman walau sejenak. Sahabat memang sangat berarti.

-Dark-

Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam saat Sakura telah berada di dalam taksi. Ia sudah diwanti-wanti oleh kedua orang tuanya agar pergi maupun pulang malam dengan hati-hati. Banyak kejahatan yang mengincar di malam hari, jadi Sakura harus terus waspada pada situasi.

Pikiran Sakura melayang. Ia masih belum bisa mengeyahkan kebingungannya. Bisa-bisanya Sakura pingsan di depan rumah dan Sasuke bahkan menghilang begitu saja. Memang tidak ada barang yang hilang, hanya satu luka kecil di bibir yang menimbulkan berbagai dugaan.

Dddrrtt ddrrrtt

Getaran ponsel membuyarkan lamunan Sakura. Ia mengambil benda berbentuk segi panjang tersebut di saku celana sebelah kanan, melihat layarnya sejenak, lalu menekan tombol berwarna hijau.

"Halo Shika. Ada apa?"

"Dimana kamu sekarang?"

Sakura mengernyitkan kedua alisnya. "Aku sedang dalam perjalanan pulang naik taksi. Jangan bilang kau menelepon hanya mau mengecek keadaanku!"

"Merepotkan. Tapi, itulah faktanya."

Helaan nafas tercipta dari mulut Sakura. "Lima belas menit yang lalu Mama menelepon lalu sekarang giliran kamu. Astaga, aku bukan anak kecil yang harus setiap saat diawasi! Bye."

Bip

Dan berakhirlah percakapan diantara keduanya. Baru saja, Sakura hendak memasukan ponselnya ke saku, dahinya tiba-tiba membentur keras kursi sopir di depannya.

"Aw, kenapa rem mendadak Pak?" tanya Sakura agak gondok.

"Maaf Mbak, saya tidak sengaja menabrak seseorang barusan," jawab sang sopir terdengar panik.

Sakura langsung turun dari taksi bersama sang sopir. Ia terkejut kala melihat seseorang tergeletak tak bergerak di tanah di depan taksi. Ia pun menghampiri orang tersebut untuk mengecek kondisinya.

Aneh. Jika orang tertabrak pasti memaki-maki kesakitan atau mengeluarkan darah di bagian-bagian tertentu tubuhnya. Namun, orang di hadapan Sakura justru seperti tertidur. Wajahnya sangat pucat dan ekspresinya begitu tenang.

"Tuan, apa kau baik-baik saja?" tanya Sakura sambil menyentuh pipi tirus korban.

"Aku baik-baik saja jika kau mau memberikan sedikit darahmu padaku," jawab si korban nyaris berbisik.

"Apa?" ujar Sakura bingung. Ia menoleh ke sopir taksi di samping kanannya dan sang sopir hanya mengedik tak tahu.

"Berikan darahmu padaku Nona," ucap si korban langsung menerjang Sakura hingga dia terjungkal ke belakang.

Raut wajah Sakura mengeras. Ia melihat lelaki bertampang mengerikan itu meringis kesakitan setelah menyentuh Sakura. Dua taring muncul dari mulutnya yang membuka lebar.

Ketika lelaki itu bangkit dan hendak menyerang Sakura lagi, tiba-tiba hadir lelaki lain berambut biru dongker berdiri gagah melindungi Sakura. Ia menusukan tangannya tepat di dada si penyerang lalu mengeluarkan jantung dari sana.

"Sasuke," panggil Sakura yang nanar melihat si penyerang mati seketika.

"Tetap di belakangku," perintah Sasuke.

Beberapa menit kemudian, sosok-sosok mengerikan lain muncul dari kegelapan. Mereka mengitari Sakura dan Sasuke dengan pandangan buas. Detik berikutnya, belasan makhluk itu menyerang serempak. Sasuke melawan balik. Ia menendang, mematahkan kepala, bahkan mencabut jantung si lawan dengan mudah.

"Sasuke," kata Sakura khawatir. Pertarungan yang terjadi memang nampak seimbang. Tapi, jika Sasuke harus melawan puluhan makhluk seorang diri, maka lama kelamaan tenaganya juga akan habis.

Zrasshh

Sabetan pedang yang mengenai salah satu penyerang sungguh mengagetkan Sakura. Ia menoleh ke kanan dan mendapati seorang lelaki berambut mirip nanas berdiri dengan sebilah pedang yang teracung ke depan.

"Shikamaru," gumam Sakura.

Pertarungan berlangsung sengit cukup lama dan akhirnya berhasil dimenangkan oleh pihak Sakura. Pemandangan yang nampak selanjutnya ialah mimpi buruk. Mayat tergeletak dimana-mana. Tanah bagaikan ditutupi oleh selimut darah yang menakutkan.

"Apa kau baik-baik saja Sakura?" tanya Shikamaru sambil menyimpan pedangnya.

"Siapa kalian sebenarnya?" Sakura justru balik bertanya takut.

Shikamaru menggaruk bagian belakang kepalanya sedangkan Sasuke menghembuskan nafas kecil.

"Ayo pulang!" seru Shikamaru dan Sasuke bersamaan. Keduanya juga telah menggenggam tangan Sakura.

"Lepaskan aku!" balas Sakura seraya menghempaskan dua tangan yang menempel di masing-masing tangannya. "Jelaskan, siapa kalian?"

"Sasuke itu vampir dan aku pemburu vampir. Sudah puas? Ayo pulang!" ajak Shikamaru.

Sakura membeku sesaat. "Aku ingin sendiri, lebih baik kalian tidak mengikutiku," kata Sakura melangkah pergi.

Belum sempat satu meter, kilatan cahaya menyambar Sakura. Dan sosok gadis cantik itu pun menghilang bagai ditelan Bumi.

-Dark-

"Hah, syukurlah kau sudah sadar," kata satu suara lembut saat Sakura sadar.

Sakura memijat pelipisnya pelan lalu menoleh ke samping kanan. Iris hijau zambrudnya langsung menangkap satu sosok wanita cantik. Rambutnya pirang pucat dikuncir dua dan senyumannya begitu meneduhkan. "Siapa Anda? Dan ada dimana saya?" tanya Sakura heran.

Wanita itu sedikit membenarkan posisi duduknya di pinggir ranjang hingga ia bisa lebih dekat dengan Sakura. "Namaku Sarutobi Tsunade. Kamu ada di rumah sekarang."

Sakura memejamkan mata, mencoba menetralkan pening di kepalanya. "Ini bukan rumah saya. Katakan sejujurnya, dimana saya sekarang? Dan kenapa saya bisa ada disini?"

Sarutobi Tsunade menepuk pucuk kepala Sakura lembut. "Kamu memang ada di rumah. Aku menyelamatkanmu dari para vampir ganas itu."

Sakura menghela nafas kesal. "Sudah cukup aku mendengar tentang hal vampir. Aku benar-benar pusing, aku mau pulang."

"Pulang kemana?"

"Kumohon, jangan mempersulitku Nyonya," ucap Sakura lelah.

"Ini memang rumahmu Sakura. Apa keluarga Haruno belum memberitahumu bahwa kau akan pindah kesini?"

"Pindah? Mengapa aku harus pindah?" tanya Sakura semakin heran.

"Hah, keluarga Haruno sungguh menyayangimu Sakura," kata Tsunade pelan.

Sakura mengangkat kedua alisnya. "Tentu saja. Mereka adalah keluargaku," jawabnya.

Tsunade menggeleng. "Bukan. Kau adalah Sarutobi Sakura, anakku. Aku menitipkanmu pada keluarga Haruno saat masih bayi karena sebuah alasan."

"Candaan Anda tidak lucu Nyonya."

"Aku serius. Sarutobi adalah leluhur pemburu vampir, tak heran bila banyak vampir yang mengincar darahmu. Kau tahu kan kalau vampir dan pemburu itu memiliki dendam mendalam?"

"Apa?" tanya Sakura.

"Jangan melepas kalungmu! Itu bisa melindungimu dari serangan vampir!" kata Tsunade.

"Arrghh!" teriak Sakura seraya berlari pergi.

-Dark-

Sakura berlari tanpa tujuan. Segala kebenaran terjabarkan secara mendadak. Benar-benar menguras emosinya sampai titik terbawah.

"Sasuke," panggil Sakura saat kelelahan berlari. Entah mengapa, hanya sosok lelaki dingin itu yang ada di pikirannya.

Sakura mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menyadari jika ia telah berada di salah satu taman bermain di bagian barat Kota. Ia pun melangkah ke ayunan yang tak jauh darinya lalu duduk disana.

"Gila! Kenapa banyak terjadi hal gila hari ini?" gumam Sakura.

Angin malam berhembus lembut mengayunkan helai-helai rambut Sakura. Dia mendongak dan menatap bulan yang tengah bersinar penuh. Purnama memang indah, tapi tetap tak bisa mengalihkan pikiran Sakura.

"Sasuke," ucapnya sekali lagi.

"Ada apa?" sahut suara berat.

Sakura menoleh ke belakang dan langsung terbelalak saat melihat lelaki yang dipikirkannya telah berdiri di depan matanya. Sakura menarik nafas sejenak untuk meredakan kekagetannya. "Hmm, aku masih belum bisa menerima hal-hal yang terjadi di sekitarku Sasuke," curhatnya.

Lelaki berambut emo berwarna biru dongker itu diam dan duduk di ayunan di sebelah sang gadis musim semi. Ia membiarkan Sakura untuk bercerita lebih banyak.

"Kau adalah vampir yang selama ini kucari, Shikamaru adalah pemburu vampir, dan ditambah lagi kenyataan bila aku merupakan anak angkat. Astaga, sangat runyam!" Sakura menghela nafas sejenak dan kembali berkata, "Aku masih belum sepenuhnya percaya. Bolehkah aku mengetesmu?"

Sasuke sekedar mengangkat sebelah alisnya. "Apa yang mau kau buktikan?"

Sakura beranjak dari ayunannya, melepas kalung yang dipakainya, dan menyimpannya di saku. "Aku ingin kau menggigitku," jawabnya seraya menyingkap rambut merah mudanya ke samping kanan.

Sasuke mendengus. "Benar-benar tawaran yang menggiurkan," ucapnya disertai seringai tipis.

"Lalu, kenapa kamu masih duduk disitu? Berdirilah!" seru Sakura yang sedari tadi telah berdiri menunggu reaksi Sasuke.

Sasuke berdiri menantang di depan Sakura. Iris onyx-nya menyelam dalam ke iris hijau zambrud Sakura. "Kesalahan besar jika kau menawarkan diri seperti ini."

"Aku siap menanggung resikonya. Bahkan bila aku harus mati seperti vampir jalanan tadi," sahut Sakura tegas.

Sasuke menyeringai dan tiba-tiba lenyap dari hadapan Sakura. Sang gadis musim semi hanya bisa terbengong saat sepuluh detik kemudian Sasuke sudah berada lagi di hadapannya dengan seekor burung merpati.

Hal yang terjadi selanjutnya sungguh membuat Sakura terperanjat dan mual secara bersamaan. Sasuke meremas erat burung merpati di tangannya hingga sang burung memekik sakit. Dia lalu mengoyak burung merpati tersebut menggunakan gigi taringnya.

"Hentikan Sasuke. Kau menyiksa burung malang itu," kata Sakura menutup kedua matanya. Ia tidak tahan melihat tindakan Sasuke.

Sasuke menuruti perkataan Sakura dan membuang sembarangan sang burung merpati. Mulut serta tangannya berlumuran darah. Ia nampak seperti makhluk predator yang menakutkan.

"Itulah yang akan terjadi padamu jika menyerahkan diri padaku," ucap Sasuke dengan kedua taring yang masih muncul.

Sakura menegakan tubuh. Ia menampilkan wajah yang mantap. Perlahan, tangannya menyentuh bibir Sasuke dan menghapus jejak darah yang ada disana. "Aku hanya mau bukti. Itu saja."

Sasuke memejamkan mata, seolah begitu menikmati sentuhan yang diberikan Sakura. Hal ini tentu saja dimanfaatkan Sakura untuk mengeleminasi jarak keduanya.

Kini, dua insan itu berdiri begitu dekat. Sakura bisa merasakan hembusan nafas hangat Sasuke. Ia menakupkan tangannya di kedua sisi pipi Sasuke yang pucat nan dingin. Hasratnya seakan terpacu untuk mengecup singkat bibir lelaki Uchiha itu.

"Kau akan menyesal Haruno Sakura," kata Sasuke semakin memajukan wajahnya.

Sakura spontan memejamkan mata dan menikmati saat bibirnya bertemu dengan bibir Sasuke. Ciuman yang terjadi begitu lembut dengan gairah sampai puncaknya. Tubuh Sakura bahkan sampai mengigil hingga ia semakin merapatkan diri ke Sasuke.

Ketika ciuman itu usai, Sakura begitu terperangah pada keadaan di sekelilingnya. Entah, sihir apa yang digunakan Sasuke. Tapi yang pasti, Sakura tidak lagi berada di taman bermain, melainkan berdiri di sebuah atap rumah.

Rembulan terlihat lebih dekat dan indah menerangi cakrawala dari atap. Sakura tersenyum penuh arti kemudian ganti mencium Sasuke dengan intensitas lebih dalam dari sebelumnya. Perlu beberapa menit hingga Sakura secara perlahan melepas pagutannya dan mengarahkan bibir Sasuke ke lehernya.

Jantungnya berdegup lebih kencang saat Sakura merasakan gigi taring Sasuke menusuk lehernya. Memang sakit, tapi hal itu hilang seketika dan berganti menjadi nikmat juga memabukan. Sakura seakan melayang. Sungguh, ia tak pernah sesenang ini sebelumnya.

Lima menit kemudian, Sasuke menarik taringnya. Ia menatap Sakura lekat lalu melukai lehernya dengan kukunya yang tajam.

"Kau berbeda dari vampir jalanan tadi," kata Sasuke.

Darah keluar dari leher Sasuke, seolah mengundang untuk mengicipinya. Dengan ragu-ragu Sakura pun mendekat dan menghisap darah yang mengalir disana.

Malam itu, bulan purnama yang bersinar menjadi saksi bisu hubungan terlarang diantara dua insan beda dunia itu.

-Dark-

Hari berganti. Lembaran putih kehidupan pun tercoreti. Sakura nampak berjalan terburu-buru menenteng buku-buku dalam dekapannya sambil sesekali membenarkan tas selempangnya yang melorot. Untunglah, suasana trotoar siang ini sepi, jadi Sakura tidak perlu berdesak-desakan dengan para pedestrian.

Sakura terus berjalan dan karena terlalu tergesa-gesa, salah satu bukunya pun terjatuh. Ia spontan menunduk hendak mengambil bukunya, namun diraih terlebih dahulu oleh satu tangan yang terulur padanya.

"Eh, terima kasih," ucap Sakura berdiri tegap sambil menerima buku tebal miliknya.

"Sama-sama," balas pria berambut abu-abu. Kacamata bingkai ovelnya terlihat buram akibat debu yang menumpuk.

Sakura membungkuk sopan sembari berkata, "Saya harus bergegas. Selamat siang."

Baru tiga langkah Sakura melewati si pria, tiba-tiba ia merasa sengatan di tengkuknya. Kepalanya langsung pening dan beberapa detik kemudian kegelapan menyambutnya.

-Dark-

Menyakitkan. Sangat menyakitkan. Hujaman yang menusuk lehernya begitu menyentak Sakura. Jiwanya seakan ditekan sedemikian kuat dan tulang-tulangnya seperti remuk tak berbentuk.

'Tuhan, ada apa denganku?' batin Sakura. Pikirannya masih dapat bekerja, namun anggota tubuhnya kaku. Bahkan kedua kelopak matanya tak mau terbuka, menuruti perintah sang otak.

Tidak ada yang bisa Sakura lalukan kecuali menangis dan meraung dalam hati. Sepersekian menit setelahnya, rasa sakit itu memudar perlahan. Tapi, Sakura masih belum bisa bernafas lega karena indera pendengarannya menangkap kalimat ancaman dari mulut penculik.

"Kau benar-benar enak Sakura. Jangan terlalu banyak bergerak atau kau akan mati!"

Sungguh, Sakura lebih baik bunuh diri daripada harus disiksa seperti ini.


Untuk beberapa guest, ini tanggapan dariku^^

cheryxsasuke: makasih atas reviewnya^^ yosh, dua pertanyaanmu sudah terjawab di chapter ini kan? Hehehe, baca terus ya^^

Natsumo Kagerou: dan…cut! Prok-prok. Bagaimana hubungan antar tokohnya? Sudah baguskah? Hm, makasih sudah review yak^^

myuurin: Yoroshiku!^^ makasih atas reviewnya. Yosh, aku akan terus semangat kok seperti Lee XD

mystiA: makasih sudah baca dan berkenan review^^ hmm, chapter ini sudah menjawab semua kegundahan kan? #eeaaa hahaha, tos dulu dong kalau sama-sama author yang kadang diserang WB. Fiuh, kesal juga kalau WB hinggapnya lama T.T

Yaya Uchiha: salam kenal juga^^ makasih sudah review. chapter tiga hadir untuk menjawab pertanyaan yaya^^

East Robo: makasih reviewnya. ini sudah update^^

Geesuke: chapter tiga datang! nggak sampai satu bulan kan? Hehehehehe^^

bubu: makasih sudah review^^ keponya jangan dihilangin biar baca Dark sampai tamat XD Shika itu temannya Sakura

sasusaku kira: yoroshiku^^ iya, kamu boleh kok manggil aku seperti itu kok Kira^^ pertanyaan-pertanyaan kamu dijawab dalam fanfic ya^^ Dark masih lama tamatnya. Makasih loh


Space untuk bacot author

Chapter ini saya persembahkan khusus untuk dia

Dia siapa?

Siapa lagi kalau bukan yang berulang tahun tanggal 23 Juli^^

Happy bassuday, Uchiha Sasuke! Bbrr, karakter dingin nan seksi. Aww #hug

Oke, maaf kalau rush.

Bagaimana tanggapan kalian? Kritik dan saran silahkan salurkan lewat kotak review, aku baca semua kok #bungkuk

Oh ya, mohon doanya supaya WB hilang dan saya cepat publish fanfic BTC #pundung

Yosh, sampai jumpa di kejutan selanjutnya ^^

Terima kasih pada,

hamster-pink, tohko ohmiya, cheryxsasuke, aguma, Natsumo Kagerou, Haru Si Petualang, myuurin, mystiA, Yaya Uchiha, happy. , hanazono yuri, East Robo, Universal Playgirl, Geesuke, uchiharuno susi, , Uchiha Shesura-chan, bubu, dan sasusaku kira.