Im In Love With A Monster
ChanBaek
M
BGM = Ikon - Apology (saran aja ya^^)
DLDR ya gengs!
.
.
.
Baekhyun memalingkan wajahnya kesamping ketika Chanyeol mulai menciumi rahangnya. Wajahnya tak menunjukkan apapun walau didalam hati ia ingin sekali menyambar bibir tebal kekasihnya.
Chanyeol tak mengawali dengan ciuman dibibir seperti biasanya. Lelaki itu lebih memilih mencium seluruh permukaan wajah Baekhyun dengan rahang sebagai sasaran utamanya.
Baekhyun merasa geli, jilatan-jilatan Chanyeol dirahangnya membuat dirinya merasa tergelitik dan menginginkannya terus.
"Aku akan menutup pintu du-"
"Tidak perlu!"
"..."
"Jangan lepaskan aku Yeol"
"Hanya menutup seb-"
"Bahkan kalau itu hanya satu detik, jangan lepaskan aku!"
Mengingat kalau ia dan kekasihnya itu tengah berusaha memperbaiki hubungan mereka, Chanyeol pun hanya bisa tersenyum singkat karena ucapan Baekhyun. Ia mengecup pipi bulat itu dua kali, membuat Baekhyun memejamkan matanya sejenak.
"Aku tidak akan melepaskanmu. Walau itu hanya satu detik"
Bibirnya menyapu dengan lembut permukaan bibir Baekhyun, menghisap bibir bawah anak itu perlahan dan penuh perasaan.
Mata Baekhyun terbuka dan hanya bisa memandangi Chanyeol dihadapannya. Mata keduanya bertemu, tapi sampai saat ini hanya bibir Chanyeol yang terus bergerak untuk mengulum bibir manis Baekhyun. Anak itu benar-benar menepati perkataannya untuk diam dan berusaha menikmati.
Chanyeol tak bisa meminta apalagi memaksa Baekhyun menjadi agresif seperti sebelumnya walau ia ingin. Disini ia yang harus mengembalikan kepercayaan Baekhyun padanya, dan ia pun adalah satu-satunya orang yang harus membuat Baekhyun menarik kata-kata putusnya.
Saat Chanyeol menyudahi ciumannya, hal pertama yang Baekhyun lakukan adalah memalingkan wajahnya. Ia tak mau Chanyeol mendapatinya tengah merona dalam kondisi mereka yang bertengkar seperti ini.
Walau dalam hati ia menginginkan ciuman Chanyeol lagi, yang bisa ia lakukan sekarangpun hanya memalingkan wajah dan bertingkah sok jual mahal. Ia tak mau kelepasan dan malah merengek manja agar Chanyeol menciumnya lagi.
"Kubuka ya?"
"Hn"
"Sayang, tak ingin mem-"
"Buka saja Yeol. Lakukan sesukamu!"
Chanyeol bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya untuk menggoda Baekhyun. Tapi anak itu sudah lebih dulu menyelak dan menatapnya datar. Membuat Chanyeol menghela nafas pelan tanpa Baekhyun ketahui.
Mendapatkan izin secara tidak langsung, sebelah tangan Chanyeol pun langsung meraih kancing piyama Baekhyun, dengan satu tangannya lagi yang menahan tubuhnya agar tidak menimpa si manis.
Lagi-lagi Chanyeol mendapati Baekhyun memalingkan wajahnya. Tatapan anak itu nampak kosong, dan hanya menatap menerawang pada sisi kanan yang ia lihat.
Chanyeol tahu anak itu benar-bemar marah padanya. Saat Baekhyun yang banyak bicara tiba-tiba menjadi sosok yang diam dan jarang tersenyum, Chanyeol tahu kalau anak itu pasti benar-benar kecewa.
Ia juga merasa kalau kekasih manisnya ini seolah setengah hati menginginkannya. Ia tak tahu kalau Baekhyun benar-benar menginginkannya menyetubuhi anak itu malam ini atau tidak. Apakah Baekhyun hanya penasaran atau memang benar-benar menginginkannya Chanyeol tidak tahu. Yang jelas, ia masih merasa ragu kalau harus menunjukkan dirinya pada Baekhyun sekarang.
Bukannya masih ingin menutup-nutupi atau bagaimana. Tapi tiba-tiba saja ia teringat kejadian-kejadian diwaktu lalu. Terakhir kali Park Chanyeol menyetubuhi seorang gadis, gadis itu malah terkapar tak berdaya selama 3 hari dirumah sakit keesokan harinya.
Waktu memang Chanyeol tak terlalu ambil pusing karena ia pun sudah biasa membuat orang terkapar lemah diatas ranjang. Tapi terakhir kali melakukannya, ia bahkan membuat Hyeri terbaring dirumah sakit selama 3 hari. Malam itu ia tengah marah, ia benar-benar mengalami hari yang buruk. Dan sebagai pelampiasan, ia malah menarik Hyeri untuk menemaninya semalaman suntuk.
Chanyeol hanya tidak ingin Baekhyun berakhir seperti Hyeri. Walaupun tak ada sedikitpun penyesalan karena sudah membuat Hyeri tak berdaya seperti itu, Chabyeol pikir akan berbeda jika ia melakukannya sekasar itu dengan Baekhyun.
"Kau...melamun?"
"Hn?"
"..."
"T-tidak Baek, aku...hanya tak tahu harus memulainya bagaimana"
"Kau pasti sudah terlalu berpengalaman untuk ini Yeol. Kenapa masih ragu untuk melakukannya padaku? Lakukan saja seperti yang biasa kau lakukan. Aku ini jalangmu untuk malam ini"
"Baek, mana bisa begitu? Kau terlalu berharga untuk menjadi seorang jalang. Walaupun hanya menjadi jalang untukku, kau benar-benar terlalu berharga. Aku tidak bisa menganggapmu seperti itu sayang"
"..."
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi. Mengerti?"
"Hn"
Walau terdengar jutek, Chanyeol sudah cukup tahu kalau Baekhyun mengerti maksudnya. Ia tersenyum kemudian, kembali pada tubuh Baekhyun yang sudah tersuguh dihadapannya karena kancing piyamanya sudah sama sekali tidak terkancing.
Tangan besarnya memegangi sisi tubuh atas Baekhyun, dengan ibu jari yang bergerak untuk mengusap pucuk puting kekasih manisnya yang kembali memalingkan wajah.
Mata Baekhyun terpejam cepat ketika ibu jari Chanyeol mulai menekan-nekan nipple-nya dan membuat gerakan melingkar. Ia menyukai ini, namun memilih bertahan pada gengsinya dan tidak akan menunjukkan pada si tiang kalau ia menikmati pijatan di pucuk putingnya.
Bahkan saat bibir Chanyeol mulai mengambil alih untuk menghisap-hisap area dadanya, yang Baekhyun lakukan hanyalah menggigit bibir bawahnya kuat. Matanya sesekali terpejam ketika tubuhnya bergetar karena hisapan Chanyeol yang mulai bermain dengan putingnya.
Baekhyun sudah tak bisa menahan dirinya lagi. Tapi ia sungguh tak ingin membuat Chanyeol menjadi besar kepala karena ia ketahuan dengan mudah menyerah dan malah menikmati sentuhan bibir Chanyeol ditubuhnya.
"Baek"
"..."
"Bibirmu bisa berdarah sayang"
"..."
Baekhyun menggeleng dan tanpa berkata-kata tetap menggigit bibirnya. Ia bahkan tak mau melirik Chanyeol sedikitpun, tak mau peduli juga pada lelaki yang kini baru saja menarik sedikit celana Baekhyun.
Sadar tak akan membuat kekasihnya itu merespon, Chanyeol pun memilih untuk melesakan kepalanya dileher Baekhyun. Saat itu, Baekhyun langsung mengangkat sedikit kepalanya agar Chanyeol dapat dengan mudah menghisapi lehernya.
Ia hampir melenguh ketika jilatan-jilatan Chanyeol hanya menggoda satu titik sensitif dilehernya. Matanya terpejam kuat dan ia ingin sekali menyerah untuk bertahan seperti ini.
"M-mhh"
Ketika Chanyeol kembali lagi pada putingnya dengan tangan lelaki itu yang langsung menarik turun celana Baekhyun beserta underwear-nya, lenguhan yang sedari tadi ia tahan malah lolos. Baekhyun merutuk, tapi tak bertahan lama karena Chanyeol kembali membuatnya melenguh pelan ketika lelaki itu mempertemukan kejantanan Baekhyun dengan kejantanannya yang masih terbungkus jeans.
"Aku tidak bisa"
"M-mwo?"
Kesadaran Baekhyun dengan cepat kembali saat dengan tiba-tiba Chanyeol menyudahi kegiatan mereka. Lelaki tinggi itu nampak bersalah walau ia kembali menyempatkan diri untuk mencium bibir Baekhyun.
Mata Baekhyun membelalak tak percaya dan berkaca-kaca setelahnya. Ia agak sedih, sempat berpikiran buruk mengenai Chanyeol yang mungkin sudah tidak mencintainya lagi. Ah, memangnya Chanyeol pernah mencintainya? Kalau Chanyeol mencintainya, pasti ini semua tidak akan terjadi kan?"
"K-kau hiks"
"Baek, banyak cara untuk menunjukkan siapa di-"
"C-coba dulu hiks. K-kau harus menunjukkannya p-padaku Yeol! K-kenapa tidak bi-hiks bisa?"
"Sayang~ aku...tidak bisa me-"
"Kau jahat!"
"Baek, to-"
"Pergi!"
"Ba-"
"Jangan temui aku lagi!"
"Tap-"
"Hiks"
Chanyeol menyerah, ia tak bisa melihat Baekhyun menangis seperti ini. Lagipula bukannya ia tidak mau melakukannya dengan Baekhyun. Ia hanya...masih berpikir untuk melakukannya, mengingat ia bahkan bisa membuat lawan mainnya pingsan. Ia hanya tidak mau Baekhyun kenapa-napa.
"K-kau tidak mencintaiku lagi kan? Kau hiks jahat sekali Yeol"
"Baby~ aku sangat mencintaimu. Tapi kalau harus melakukannya sekarang, aku tidak bisa. Ini terlalu mendadak. Dan aku takut ka-"
"Kau hanya tidak mencintaiku Yeol. Katakan saja hiks begitu!"
"Itu tidak be-"
"Kau tidak membutuhkanku lagi. Kau tidak menginginkanku lagi. Kau juga mungkin sudah bosan dengan tubuhku. Hiks, k-kau tidak mencintaiku Yeol"
"..."
"Per-hiks pergilah!"
"..."
"Aku tidak mau melihat hiks wajah jelekmu lagi!"
"..."
"Pergi Chanyeol, Pergi! Pergi dari kamarku!"
"Tap-"
"Hiks, kumohon~"
"Tap- baiklah. Istirahatlah, maaf membuatmu menangis. Aku ben-"
"Hiks"
Chanyeol agak ragu untuk mengiyakan permintaan Baekhyun untuk pergi. Ia masih ingin berada disisi lelaki manis itu, menyelesaikan segala permasalahan diantara mereka agar mereka bisa bersama lagi seperti sebelumnya.
Tapi Baekhyun yang sudah menangis tersedu-sedu membuat Chanyeol mengalah. Walau dalam hati ingin memeluk Baekhyun dan menenangkannya, ia tetap tidak bisa melakukannya. Baekhyun bahkan seolah-olah jijik padanya ketika Chanyeol berusaha menyentuhnya.
"Aku hiks bisa melakukannya sendiri"
Anak itu bahkan sampai menyingkirkan tangan Chanyeol yang berniat mengancingi kembali piyamanya. Wajahnya nampak dingin walau lelehan air mata masih menghiasi sudut matanya.
Lagi-lagi Chanyeol menghela nafasnya, dan ia segera bangkit dari menindih Baekhyun agar anak itu bisa dengan mudah membenarkan pakaiannya.
"Aku per-"
Tanpa mau peduli pada Chanyeol, Baekhyun bahkan langsung bergerak ketengah ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut.
Matanya terpejam walau ia tidak mengantuk. Ia memunggungi Chanyeol, berusaha terlihat baik-baik saja dan tidak peduli walau pada kenyataannya ia benar-benar rapuh sekarang.
"Selamat malam sayang"
"..."
Langkah Chanyeol terdengar manjauh ditelinganya. Bahkan ketika suara pintunya yang terbuka dan tertutup hingga tak terdengar lagi suara langkah Chanyeol, Baekhyun masih setia bergelung dibalik selimutnya.
Tak ada ciuman selamat malam ataupun kecupan dikening. Padahal Baekhyun sudah sangat berharap Chanyeol akan memberikannya kecupan sebelum lelaki itu benar-benar meninggalkannya.
Tapi sayang, Chanyeol tidak melakukannya. Bahkan si tiang itu tak mencoba mendekatinya sebelum lelaki itu pergi. Sakit hatinya benar-benar membuatnya hampir tak bisa bernafas sekarang. Ia memegangi dadanya, memejamkan mata dan akan berusaha tegar walau akan sangat sulit mengingat kalau ia sudah benar-benar jatuh cinta pada si tiang nan brengsek semacam Chanyeol.
.
.
.
Piiiiittt
Dor
Taburan confetti berwarna-warni dan juga tiupan terompet menyambut Chanyeol ketika ia sampai dilantai dasar rumah Baekhyun. Dihadapan matanya, dengan kekanakan Yebin tertawa konyol dengan terpompet kecil dimulutnya.
Chanyeol tak tahu apa maksudnya, tapi sempat terlintas dibenaknya kalau wanita ini pasti hanya ingin memanas-manasi dan juga mengejeknya.
Chanyeol tak banyak bereaksi, bahkan saat banyak taburan confetti berjatuhan dikepalanya, ia sama sekali tak berniat menyingkirkan kertas-kertas itu.
"Selamat ya bocah"
"..."
"Apa kau dan si jalang itu sudah berakhir? Waah, aku senang sekali mendengarnya"
"..."
Piiiit
Wanita itu meniup lagi terompetnya dihadapan wajah Chanyeol. Membuat Chanyeol geram dan hampir saja meninju wajah cantik itu kalau Chanyeol tak ingat Yebin adalah seorang wanita.
Awalnya bahkan Chanyeol berniat mengabaikan dan segera keluar dari rumah besar ini. Tapi Yebin yang terus-terusan tersenyum sambil meniup terompet kecil didepan telinganya membuat Chanyeol agak geram.
"YAK!"
Dengan satu hentakan, terompet yang baru saja hendak Yebin tiup kembali jatuh ke lantai. Dengan tatapan yang mengerikan, kini Chanyeol malah mencengkeram rahang Yebin kasar.
Matanya yang indah begitu menusuk wanita didepannya yang mulai nampak ketakutan. Ia bahkan mendorong Yebin hingga wanita itu jatuh ke sofa dibelakangnya.
"Kau yang melakukan ini semua?"
"..."
"Haishh, baik sekali"
Ia tertawa meremehkan, mencengkram rahang wanita itu makin erat saat Yebin terus melawan dan berusaha melepaskan tangannya.
Tapi didetik berikutnya Chanyeol mengalah. Tangannya ia tarik kembali dan hanya menatap wanita yang usianya baru menginjak 30-an itu dengan tak bersahabat.
"Kali ini kumaafkan"
"Cih, aku tidak butuh maaf dari bocah sepertimu"
"Hn?"
"Yang kumau hanya kau dan juga Baekhyun berpisah. Kedatanganmu benar-benar menghancurkan semua rencanaku!"
"Oh, Baekhyun pasti sangat bersyukur karena aku datang di hidupnya dan mengacaukan semua rencanamu"
Setelahnya ia yang juga tengah pusing setengah mati hanya berjalan menjauh. Ia tak melirik lagi kebelakang, tak mau peduli pada Yebin ataupun Baekhyun yang mungkin bisa saja muncul tiba-tiba. Yak, jangan banyak berharap kalau Baekhyun mau menemuimu untuk waktu dekat ini!
.
.
.
"Hiks"
"..."
"Angkat t-teleponnya hiks Lulu~"
Baekhyun pikir, setelah Chanyeol tadi menolak menyetubuhinya ia malah menjadi agak sensitif. Ia menangis ketika mengingat beberapa hal menyenangkan yang ia dan pria besar itu lakukan beberapa waktu lalu.
Kinipun demikian, air matanya sudah meleleh deras tapi sahabat Rusa-nya diujung sana tak kunjung mengangkat telepon darinya.
Bahkan Baekhyun tak sempat berpikir kalau ia akan menangis dan terlihat lemah seperti ini hanya karena pertengkaran konyolnya. Tapi fakta berkata lain, dan ia malah terlihat begitu menyedihkan setelah perdebatan kecil yang sempat ia lakukan bersama kekasihnya.
"Hiks, kau di- Luhan!"
"Baekhyun, ya tuhan aku benar-benar khawatir padamu ketika kau mematikan telepon tiba-tiba. Kau tidak apa-apa? Apa kau merasa ti- Baek?"
"Hiks"
"Ya tuhan, apa yang terjadi padamu Baek? Jangan menangis kumohon"
"Hiks. Lu, C-chanyeol hiks. C-chanyeol t-tidak hiks mencintaiku la-lagi hiks"
"..."
"Hiks"
"Tenanglah Baek"
"D-dia tidak mau hiks menunjukkan p-padaku hiks dirinya yang sebenarnya~ bagaimana ini Lu~ hiks"
"B-baek, aku...aku juga tidak tahu~ tapi tenanglah. J-jangan menangis seperti ini Baek. Lebih baik kita pikirkan jalan keluarnya bersama"
"Hiks"
Baekhyun kadang berpikir, bagaimana bisa Tuhan begitu baik hingga memberikan Luhan dikehidupannya ini. Sahabatnya yang satu itu selalu bisa membuat Baekhyun merasa nyaman dan lebih baik ketika ia tengah berada didalam sebuah masalah.
Baekhyun tak tahu harus dengan cara apa ia mengucapkan terimakasih pada Rusa cina itu. Walau keduanya sering beradu mulut, Baekhyun berani bersumpah kalau ia bahkan sangat menyayangi Luhan melebihi apapun. Dan ia yakin, kalau Luhan pun merasakan hal yang sama sepertinya.
18 belas tahun bersama, dan 18 tahun itu juga mereka selalu berbagi kesedihan dan juga kebahagiaan yang mereka rasakan masing-masing.
"Jangan langsung menganggap Chanyeol tidak mencintaimu Baek. Cobalah berpikiran positif, mungkin Chanyeol sedang lelah hingga ia tidak bisa menunjukkannya padamu sekarang"
"T-tidak Lu, tidak!"
"Baek, kita mana tahu? Chanyeol yang merasakannya, hanya ia yang tahu kalau ia benar mencintaimu atau tidak"
"Hiks"
"Menurutku, ini juga terlalu tiba-tiba. Kau memergokinya beberapa jam yang lalu dan langsung menekannya. Kalau aku jadi Chanyeol, aku juga pasti akan mengatakan kalau aku tidak sanggup menceritakan semuanya sekaligus"
Kepalanya berdenyut tiba-tiba mendengarkan ocehan panjang lebar Luhan. Setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya terasa seolah memojokkannya. Bukannya Baekhyun tak terima, mendengar itu semua ia jadi merasa bersalah juga karena sikapnya.
Walau salah Chanyeol jauh lebih besar darinya, Baekhyun pikir ia juga memiliki kesalahannya sendiri disini. Kalau saja dari dulu ia bisa membuat Chanyeol perlahan-lahan jujur padanya, atau kalau saja ia tidak marah-marah dan langsung menuntut Chanyeol tadi, pasti ia tidak akan berakhir menangis tersedu-sedu seperti ini.
Ia hanya begitu kecewa, merasa dibohongi hingga tak sadar amarah malah menguasainya. Ia begitu mencintai Chanyeol, dan saking cintanya ia sampai tak mau dibohongi sedikitpun walapun itu hanya hal kecil.
"I-ini salahku hiks. Lu, bagaimana?"
"Baek, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Tenanglah dan cobalah memikirkan jalan keluarnya. Aku berjanji aku akan membantu"
"Hiks"
"Apa aku perlu mampir kerumahmu? Aku akan kesana agar bisa menemanimu malam ini"
"T-tidak hiks tidak perlu. Aku b-baik-baik saja hiks"
"Sungguh?"
"N-ne Lulu~"
"Yasudah. Kalau begitu sampai bertemu besok disekolah"
"Hn"
Helaan nafasnya terdengar sedetik kemudian ketika ia berhasil memutus sambungan teleponnya dengan Luhan. Ia melirik layar ponselnya lagi, sedikit mengharapkan sebuah pesan atau panggilan masuk dari Chanyeol.
Tapi tak ada satupun. Hanya wallpaper-nya dengan gambar dirinya dan sang kekasih yang tengah berciuman yang dapat ia lihat. Ia tersenyum kecil, memperhatikan bagaimana manisnya ia didalam foto yang tengah dicium bibirnya oleh Chanyeol yang saat itu masih mengenakan kacamata-nya.
"Haishh, aku merindukanmu daddy~"
Layarnya ia usap sekali. Namun tak lama kemudian ia malah terkejut dengan ucapannya sendiri. Daddy? Bahkan tawa kecilnya terdengar begitu ia yakin harus meledek dirinya sendiri.
"Ak- Yixing hyung?"
Saat ia berencana mengganti wallpaper ponselnya, satu panggilan masuk malah tampil dilayar ponselnya. Nama 'ZhangZhang' tercetak jelas dilayar ponselnya saat menandakan adanya panggilan masuk.
"Hyung~"
"Oh, aku harus lihat bagaimana manjanya dirimu saat ini Byun"
"Hyung~ i miss u~"
"Aku juga sayang"
"Jadi, ada apa meneleponku malam-malam?"
"To the point sekali, tak seperti biasanya. Ada sesuatu terjadi?"
"Eung? Tidak ada apa-apa hehe"
Baekhyun dapat mendengar kekehan kecil terdengar disebrang sana. Suara-suara gaduh terdengar dengan jelas disebrang sana. Dan tanpa perlu bertanya pada Yixing, Baekhyun pun sepertinya sudah mengetahui lelaki China itu berada dimana.
"Sepertinya club nampak ramai. Suaranya gaduh sekali"
"Hn. Makanya aku butuh bantuanmu. Jadi bagaimana? Mau membantu?"
"Malam ini?"
"Besok saja kalau kau bisa"
"Oh baiklah. Besok malam aku akan membantumu hyung"
"Ah, berapa banyak uang yang harus kubayarkan untuk pekerja sepertimu"
"Jangan main-main hyung"
"Oh, maaf"
Keduanya tertawa bersama walau terpisahkan oleh jarak. Baekhyun bahkan nampak senang ketika berbincang dengan Yixing. Seolah-olah sebelumnya ia tidak pernah memiliki masalah yang cukup serius dengan sang kekasih hingga ia menangis.
"Ohiya hyung"
"Ada apa?"
"Boleh aku main ketempatmu besok siang?"
"Memangnya kau tidak sekolah eum?"
"Aku sedang libur"
"Ah begitu. Datanglah kapanpun kau mau"
"Oh, terimakasih hyung"
"Hn. Baek, aku harus kembali bekerja"
"Oke hyung. Selamat malam"
Saat bunyi 'pip' terdengar ditelinganya yang mana artinya Yixing sudah memutus telepon mereka, Baekhyun menghela nafasnya lagi. Ada sedikit rasa gatal didekat matanya karena air mata yang mengering, membuat Baekhyun mau tak mau harus turun dari ranjangnya untuk mencuci muka ketimbang membiarkan wajahnya lengket dan juga agak gatal.
.
.
.
"L-luhan!"
Plak
"Apa yang kau lakukan disini?"
Chanyeol memegangi pipinya yang agak nyeri karena tamparan Luhan yang tiba-tiba. Ia membenarkan kacamata besarnya sebelum kembali menatap Luhan yang sudah begitu menyeramkan dihadapannya.
Ia bedeham sekali, menghilangkan amarahnya yang hampir saja muncul ketika tiba-tiba Luhan langsung menamparnya.
Setelah semalaman ia tak bisa tidur karena memikirkan Baekhyun, ia pun masih tak dapat menemui kekasihnya sampai detik ini. Padahal, sudah hampir satu jam ia berdiri didepan kelas Baekhyun. Bukannya mendapati sang kekasih, ia malah mendapatkan tamparan penuh cinta dari Luhan.
"Setelah membuat Baekhyun menangis semalaman, kau masih berani mencarinya?"
"Aku...aku benar-benar menyesal"
"Cih, menyesal? Kemarin kemana saja? Seharusnya aku tidak mempercayakan Baekhyun padamu"
"L-luhan"
"Kau bahkan masih bisa berpenampilan menjijikan seperti ini. Ya tuhan, pembohongan publik macam apa ini?"
"..."
Kalau saja suasana saat ini tidaklah ramai, pasti Chanyeol sudah menghabisi Luhan ditangannya. Ia tak suka dipojokkan seperti ini. Ini memang kesalahannya karena menyakiti Baekhyun, tapi ia benar-benar tidak suka ketika ia berada di situasi yang menyebalkan seperti ini.
"Menyingkirlah! Aku harus ke kelas"
"Luhan, dimana Baekhyun?"
"Kau sudah tidak ada urusannya dengan Baekhyun, untuk apa mencarinya?"
"Aku...tidak tidak. Aku sangat mencintainya Lu, tolong katakan padaku dimana Baek-"
"HENTIKAN CHANYEOL!"
"..."
"Jangan memaksaku untuk membencimu. Aku sudah hampir mati ketika Baekhyun semalam menelepon dan menangis histeris"
"Lu, aku...maaf"
"Me-"
"Luhannie!"
Luhan yang baru saja hendak menyemburkan segala kekesalannya pada Chanyeol harus urung. Saat kekasihnya yang tampan menariknya kedalam pelukan, yang Luhan lakukan sudah pasti membalas pelukan Sehun padanya.
Sehun mengusap-usap punggungnya lembut dan penuh kasih sayang, membuat amarah Luhan meluap entah kemana hingga ia hanya bisa menyamankan dirinya pada pelukan Sehun.
"Teman sekelasku berkata kalau Luhan Sunbae tengah memarahi Chanyeol Sunbae. Dan karena aku mengkhawatirkan kekasihku, aku langsung berlari kesini"
"..."
"Kau baik-baik saja sayang?"
Luhan mengangguk pelan-pelan dan terus mengabaikan tatapan iri yang orang-orang layangkan untuknya dan juga Sehun. YAK, bahkan ini masih terlalu pagi untuk mengawali hari dengan bermesraan.
Didepannya, Chanyeol merasa agak iri melihat apa yang Luhan dan Sehun lakukan. Melihat dua orang itu bermesraan malah membuat rasa rindunya pada Baekhyun semakin tak bisa dibendung. Sial, bagaimana caranya agar ia bisa memeluk Baekhyun seperti itu lagi?
"Kau bertengkar dengan Chanyeol hyung?"
"Aku hanya kesal"
"Hei, bukannya sudah kukatakan padamu untuk memberikan Chanyeol hyung kesempatan kan?"
"Oh, bukannya sudah kukatakan juga kalau jangan halangi aku untuk memenggal kepalanya kan?"
"Baby Deer~ tenanglah sayang. Lebih baik sekarang kau masuk kedalam kelas. Biar Chanyeol hyung aku yang urus"
"Tap-"
Cup
"Aku mencintaimu Luhan"
"Haishh, menyebalkan!"
Dengan sangat tidak terima, Luhan buru-buru melangkah pergi meninggalkan dua lelaki tampan itu didepan kelasnya.
Kalau saja Sehun tidak datang. Atau, kalau saja kekasihnya itu tidak membuatnya malu dengan mencium bibirnya didepan umum seperti tadi. Pasti Luhan sudah sedari tadi membelah tubuh Chanyeol menjadi dua.
"Hyung, kita perlu bicara"
"Tidak per-"
"Tentang Baekhyun hyung"
"..."
"Ikuti aku"
Kalau Sehun tak membawa-bawa Baekhyun, pasti Chanyeol tak akan pernah mau peduli pada lelaki yang ia kira hanya akan membahas hal-hal tidak penting. Atau, bahkan Chanyeol pikir tadi Sehun malah berniat menceramahinya karena telah bertengkar dengan Luhan.
Tapi saat anak itu mengatakan ini tentang Baekhyun, tanpa banyak bicara Chanyeol segera mengikutinya. Ia tak mau peduli pada orang-orang yang menatapnya aneh karena membuntuti adik kelas seperti Sehun. Ia yang memiliki urusan dengan Sehun, jadi tak akan ia pedulikan semua orang yang mulai berspekulasi sendiri.
.
.
.
"Kau mencintai Baekhyun hyung?"
"Kau mengajakku kemari hanya karena ingin menanyakan hal itu?"
"Tentu saja tidak. Hell"
"So, to the point!"
Sehun tersenyum sejenak mengingat sikap tidak sabaran Chanyeol yang sejak dulu tak pernah hilang. Sebagai yang paling muda, Sehun selalu berusaha untuk memahami hyung-hyungnya. Entah itu Chanyeol, Yifan, Baekhyun, ataupun kesayangannya -Luhan.
Ia melipat tangannya didepan dada kemudian, tapi saat mengingat perbincangan mengenai hubungan Chanyeol dan juga Baekhyun adalah masalah yang serius, wajahnya langsung berubah menjadi sedingin es. Bahkan Chanyeol sempat terkejut karena sikap Sehun yang tiba-tiba seperti itu.
"Jadi, bagaimana hubungan kalian? Masih bertengkar?"
"Kupikir anak kecil sepertimu ti-"
"Hyung, siapa tahu aku bisa membantu"
"Yak, apa pedulimu hah? Diam dan urusi saja kekasihmu yang menyebalkan itu"
"Peduliku? Kau dan Baekhyun itu sudah seperti keluargaku sendiri. Bagaimana bisa aku membiarkan kalian bertengkar seperti ini?"
"Kau tidak meng-"
"Aku mengetahui segalanya! Bahkan hal-hal kecil mengenai Baekhyun yang tak kau ketahui sama sekali"
"B-bagaimana bisa?"
"Ingatkan aku kalau Luhan dan Baekhyun selalu dikira anak kembar! Bagaiamana mungkin aku tidak mengetahui apapun mengenai saudara kembar kekasihku"
"Omong kosong"
Chanyeol menyeringai dan ia berpikir untuk pergi saja ketimbang mendengarkan omong kosong Sehun. Ia sudah berbalik, masih tersenyum meremehkan bahkan ketika ia sudah mencapai langkah ketiganya.
"Ia sudah begitu kesulitan karena masalahnya dengan Yebin. Apa kau tega? Kalau kau memang mencintai Baekhyun, sudahi pertengkaran konyol kalian. Perjuangakanlah cintamu hyung."
"..."
"Baekhyun hyung sangatlah rapuh. Ia tak seperti kelihatannya dimana kau biasa melihat ia begitu binal dan menyebalkan. Ia adalah lelaki cengeng yang begitu lemah"
"..."
"Ia tidak binal. Bukan jalang apalagi maniak. Ia melakukan itu semua untuk kelangsungan hidupnya yang sudah berantakan karena ibu tirinya. Ah, kupikir kau sudah mengetahui masalah diantara Baekhyun dan Yebin kan?"
Satu hal lagi yang baru Chanyeol ketahui mengenai kekasihnya. Tidak binal dan anak yang cengeng. Ia bahkan tak pernah berpikir Baekhyun begitu. Ah, sebegitu bodohnya ia yang tak benar-benar mengenal kekasihnya itu.
Merasa sedikit tertarik dengan topik yang disampaikan Sehun, Chanyeol pun mendekat perlahan.
"Baekhyun membutuhkanmu. Sangat membutuhkanmu. Dan, satu hal yang harus kau tahu. Baekhyun sangatlah mencintaimu."
"Aku juga mencintainya asal kau mau tahu!"
"Nah, kalian saling mencintai. Apalagi yang kau tunggu hyung? Temui Baekhyun dan minta maaflah mengenai kebrengsekanmu! Perbaiki hubungan kalian dan jadilah kuat"
"Aku...aku tak percaya kau malah menceramahiku-_-"
"Sama-sama hyung"
Sehun tersenyum puas atas pidato singkatnya dan memilih untuk meninggalkan Chanyeol setelah berhasil menepuk bahu lelaki itu. Sedangkan Chanyeol, ia masih diam ditempatnya. Merenungi setiap kata yang Sehun ucapkan mengenai Baekhyun.
Sehun benar, ia harus memperjuangakan cintanya dan menjadi kuat bersama Baekhyun. Ia harus memperbaiki hubungannya dengan Baekhyun mengingat mereka saling mencintai.
.
.
.
Mobil hitam dengan merk terkenal itu perlahan-lahan memasuki area parkir dan berhenti disatu spot parkir dengan sangat rapi. Seorang lelaki berkacamata hitam pun keluar dari dalam sana dan segera berjalan anggun dibawah sinar matahari yang menusuk siang hari ini.
Dengan skinny jeans super ketat dan juga kemeja hawai berwarna coklat yang 3 kancingnya dibiarkan terbuka, Baekhyun berjalan bak seorang model keluar dari mobilnya.
"Haishh, panas sekali"
Namun ia berlari kekanakan beberapa langkah kemudian, menghilangkan kesan Sexy yang sebelumnya nampak didirinya saat ia baru saja keluar dari mobilnya.
Baekhyun terus berlari dengan gaya menggemaskan hingga ia memasuki bangungan Club malam yang masih tertutup untuk umum karena masih siang.
Senyumnya mengembang, apalagi ketika melihat dua orang lelaki yang ia kenal dari balik pintu kaca dihadapannya.
"Satu tequila"
"Kami belum buka tu- Baekhyun?"
"Hai Xingie hyung~"
Baekhyun membuka kacamatanya cepat dan segera tersenyum lebar. Membuat lelaki dihadapannya tersenyum ragu-ragu dengan satu lelaki lagi yang hanya bisa tersenyum maklum.
"Hyung tidak merindukanku?"
"Oh, kemarilah anak nakal! Hyung sangat merindukanmu!"
"Hehe"
Yixing menariknya kedalam sebuah pelukan dengan cepat. Baekhyun terus saja tersenyum lebar bahkan tak kalah erat membalas pelukan Yixing padanya. Oh, ia benar-benar merindukan temannya yang satu ini.
Baekhyun mengenal Yixing cukup baik. Lelaki China yang ia temui beberapa tahun lalu ketika ia tengah berada didalam situasi terburuk saat Appa Byun tanpa izinnya sudah menikahi Yebin dan membawa wanita itu kerumah mereka.
Ia sangat berterimakasih pada Yixing. Kalau saja waktu itu ia tidak bertemu Yixing, pasti ia kini masih mendekam dipenjara kalau ia benar-benar membunuh Yebin. Shit, bahkan sejak dulu Baekhyun berniat melenyapkan Yebin.
"Junmyeon hyung?"
"Hn?"
"Tidak merindukan bayimu eum?"
"Kau sudah besar Baek!"
"Haishh! Dasar menyebalkan!"
Tapi pada akhirnya Junmyeon tetap menarik Baekhyun untuk mendekat padanya. Baekhyun agak terkejut ketika Junmyeon menariknya yang masih dipeluk Yixing dengan paksa. Tapi ia tersenyum setelahnya, ia juga merindukan kekasih Yixing ini. Ah, mereka berdua benar-benar membuatnya merasa nyaman.
"Kau tidak sekolah?"
"Sekolahku sedang libur!" Bohong Baekhyun dan memilih duduk disamping lelaki yang usianya jauh lebih dewasa darinya.
"Tapi tadi pagi aku mengantar sepupuku kesekolah dan ti-"
"Baiklah, aku bohong. Aku membolos"
"Anak nakal!"
"Bi- tunggu"
Baekhyun tersentak tiba-tiba ketika ponselnya yang ada disaku bergetar. Ia tersenyum sekali pada Yixing dan juga Junmyeon sebelum akhirnya matanya membulat melihat siapa yang menelepon.
'Chanyeollie'
Baekhyun senang bukan main, tapi ia berusaha terlihat biasa saja ketika ia sadar ia dan Chanyeol belumlah benar-benar berbaikan.
Ia menggebrak mini bar dihadapannya hingga membuat sepasang kekasih itu terkejut. Tapi Baekhyun tak mau peduli, ia sedang bingung karena haruskah ia mengangkat telepon Chanyeol?
"Kenapa tidak diangkat?"
"Tidak mau!"
"Haishh, siapa ta-"
"Ini aku angkat! Jangan bawel hyung!"
Dan Junmyeon menyesal telah ikut campur pada urusan mengangkat telepon Baekhyun. Harusnya ia diam saja saat menyadari kalau anak disisinya sedang menunjukkan wajah yang tak enak dilihat.
"Ada apa?"
"Kau dimana?"
"Aku?"
"Ya! Aku merindukanmu!"
"..." 'aku juga merindukanmu~'
"Kau dimana sayang?"
"Tidak perlu tahu!"
Baekhyun mempoutkan bibir tak sadar kala itu. Ia yang tiba-tiba menjadi begitu menggemaskan dengan bibir dipoutkan hanya bisa membuat Yixing dan juga Junmyeon geleng-geleng kepala. Suara Baekhyun memang terdengar galak, tapi sepasang kekasih itu yakin kalau orang yang menelepon Baekhyun disebrang sana tahu kalau anak itu tengah bertigkah menggemaskan, pasti ia akan gemas.
"Baek, ayolah sayang. Aku benar-benar merindukanmu. Daddy merindukanmu baby~"
"Jangan berusaha menggodaku!"
"Aku..."
"Aku tutup tel-"
"Baek,"
"Hn?"
"I love you!"
"Aku sudah tahu!"
"..."
"..."
"Katakan padaku kau dimana sekarang!"
"Ti-"
"Tolong katakan kau dimana Sayang~ Aku hanya begitu merindukanmu"
"Kukirimkan alamatnya nanti. Sekarang aku tutup teleponnya!"
"Tap-"
Tuuuuuuutttt
Helaan nafas Baekhyun terdengar begitu lemah ketika ia kembali melesakkan ponselnya disaku setelah mengirim alamat tempatnya sekarang pada Chanyeol. Ia jadi merindukan Chanyeol karena lelaki itu juga bilang merindukannya. Haruskah Baekhyun memaafkan Chanyeol agar ia bisa cepat-cepat menghambur kedalam dekapan hangat lelaki itu?
Ia nampak benar-benar murung, bahkan saat sekaleng cola dingin menempel dipipinya. Ia melirik Yixing, tengah tersenyum sangat lembut ditempatnya.
"Cola untuk siang hari."
"Aku mau al-"
"Alkohol hanya disediakan ketika malam!"
"Haishh!"
Mood-nya jadi agak memburuk karena mengingat masalah percintaannya. Sebegitu buruknya kah ia sampai-sampai tuhan selalu mempermainkan perasaannya? Membuatnya jatuh tiba-tiba ketika ia tengah berada diatas kebahagiannya?
Baekhyun bahkan menenggak cola-nya kasar, tak peduli pada tatapan khawatir yang Yixing dan juga Junmyeon layangkan padanya. Bahkan kalau Junmyeon tidak segera menarik kaleng cola ditangan Baekhyun, lelaki itu yakin kalau Baekhyun juga akan menelan kalengnya nanti.
"Kau sepertinya punya masalah yang cukup rumit"
"Hn?"
"Ck, sulit sekali hidupmu. Masalahmu dengan Yebin belum selesai tapi kau malah punya masalah lain"
"Haishh, Junmyeon hyung~ jangan meledekku!"
"Aku ti-"
"Gawat! Gawat gawat! Bagaimana Chanyeol bisa sampai kesini begitu cepat?"
Baekhyun cepat-cepat menlompat dari tempatnya duduk ketika mata puppy-nya mendapati sang kekasih diluar sana yang tengah berjalan ketempatnya.
Ia nampak panik bahkan sampai menggerak-gerakan kaki dan juga menggigiti jarinya saat melihat Chanyeol dan juga Yifan hampir memasuki gedung ini.
"Haishh. Yixing hyung, aku pinjam kekasihmu!"
"Y-yak! Apa-apaan!"
"Junmyeon hyung~ maafkan aku. Kau boleh memukulku setelah ini. Tapi sekarang tolong aku dulu!"
"Apa mak- Y-yak!"
Seandainya Baekhyun tak akan gegar otak nantinya kalau Junmyeon mendorongnya hingga anaknitu jatuh kelantai, pasti Junmyeon sudah melakukannya. Ia pasti akan mendorong dan menceramahi anak nakal itu.
Tapi nyatanya, ia hanya bisa menahan kesal ketika Baekhyun sudah melompat kedalam pangkuannya dan langsung memeluknya erat. Dengan Yixing yang nampak kesal ditempatnya, Baekhyun sama sekali tak peduli. Chanyeol sudah ada disana dan itu jauh lebih penting dibandingkan Yixing yang merajuk.
"Baekhyun!"
Anak manis itu memejamkan matanya dan memeluk leher Jumyeon makin erat. Suara Chanyeol dibsebelahnya ia abaikan dan malah berakting sok manja pada Junmyeon yang mulai ketakutan pada Yixing yang merajuk.
Tapi Baekhyun tak akan melepaskannya. Rencana balas dendamnya pada Chanyeol jauh lebih penting dibandingkan apapun.
"Suho hyung~"
Baekhyun menggerak-gerakkan kakinya yang tak sampai menyentuh lantai. Suaranya bahkan terdengar begitu menggemaskan. Hingga Chanyeol yang mendengarnya sempat menyerngit bingung.
"Baek, apa yang kau lakukan?"
"..."
"Byun Baekhyun!"
Sial. Kenapa suara Chanyeol bisa seseksi itu? Bahkan Baekhyun bergetar pelan ketika lelaki itu dengan sangat jantan memanggil namanya.
"Turun dari sana!"
"A-akhh"
Karena tak tahan melihat kekasihnya malah bermanja-manja pada orang lain, dengan tanpa belas kasihan Chanyeol segera menarik anak manis itu untuk segera berhadapannya dengannya.
Baekhyun menjerit kesal dengan wajah merajuknya yang begitu menggemaskan. Ia menatap Chanyeol penuh amarah, namun tak dipedulikan oleh lelaki yang kini menatapnya tak kalah menusuk.
"Apa maksudnya hah?"
"..."
"Baekhyun!"
"..."
"Baek"
"Bukan urusanmu!"
"..."
"..."
Mati-matian Chanyeol berusaha tak merampas ciuman dibibir Baekhyun ketika anak itu mempoutkan bibirnya. Ia gemas, tapi tak bohong kalau ia juga merasa begitu marah pada kekasih mungilnya yang mulai kembali nakal dibelakangnya.
Chabyeol hanya...bagaimana mengatakannya? Ia tak suka Baekhyun berdekatan dengan lelaki lain sampai segitunya. Ia tak suka Baekhyun bermanja-manja pada lelaki lain karena hanya ialah satu-satunya yang bisa dijadikan tempat bermanja-manja oleh anak itu. Chanyeol jelas cemburu, Baekhyun miliknya dan iapun adalah milik lelaki manis itu.
"Jelaskan pa-"
"Sudah kubilang bukan urusanmu Park!"
"BYUN BAEKHYUN!"
"APA?"
"Ikut aku!"
"TIDAK MAU!"
"Ikut pulang denganku! Aku memaksa!"
"Aku. Tidak. Mau! Pergi sana sialan!"
Gigi Chanyeol saling bertemu dan ia tekan keras karena tak tahu harus apa untuk melampiaskan kekesalannya. Baekhyun dihadapannya nampak begitu menantang masih dengan wajah menggemaskannya.
Sial, bagian bawah Chanyeol bisa bangun kalau Baekhyun tetap seperti ini. Bibir merah yang dipoutkan, celana jeans-nya yang nampak sangat ketat dan mempertunjukkan tonjolan yang tak seberapa ukurannya ditengah-tengah kakinya, hingga kemeja tipis transparat yang bahkan hampir tak terkancingi. Ingatkan Chanyeol untuk benar-benar memberikan anak ini hukuman.
"Ayo pulang!"
"AKU TIDAK MAU CHANYEOL! YAK! JANGAN MENARIK TANGANKU!"
"..."
"CHANYEOL!"
"..."
"LEPASKAN AKU BRENGSEK!"
"YAK!"
PLAK
Baekhyun langsung mengayunkan tangannya tepat ketika Chanyeol menghentakkan tangannya kasar. Sial, telapak tangannya terasa begitu nyeri sekarang.
Sedangkan Chanyeol, ia menyentuh sudut bibirnya yang ia tahu mengeluarkan darah. Dan benar, saat melihat di ibu jarinya terdapat sedikit lelehan darah ia malah tertawa meremehkan pada kekasihnya.
"Aku membencimu!"
"..."
"Sangat!"
"..."
"Ayo Suho hyung!"
"Hn?"
Junmyeon yang tengah asik menonton drama yang dibuat Baekhyun nampak begitu kaget ketika Baekhyun malah menariknya. Anak itu menggandengnya dan segera bergelayut manja dilengannya.
Ia menyempatkan diri untuk melirik kekasih Baekhyun. Lelaki tampan yang kini menatapnya dan juga Baekhyun penuh amarah. Seolah-olah ia bisa saja memakannya dan juga Baekhyun saat ini juga.
.
.
.
"Jadi kau bermasalah dengan kekasihmu?"
"Jangan ajak aku bicara!"
Keduanya kini malah terdampar didalam mobil Junmyeon dengan Baekhyun yang tak henti-hentinya melamun. Anak itu nampak menyedihkan dan hanya sibuk menatap kosong keluar jendela.
Tangannya masih merasa nyeri akibat menampar Chanyeol tadi. Dan Baekhyun menyesal. Bukan karena berhasil menampar wajah tampan kekasihnya. Tapi karena tangannya menjadi kebas dan memerah sampai sekarang.
"Kau mengingatkanku pada hubunganku dan juga Yixing dulu"
"Hn?"
"Berhentilah bertengkar. Kau bisa menyesalinya"
"Ini berbeda hyung"
"Memangnya apa yang membuat kalian bertengkar seperti ini?"
"Dia membohongiku"
"Tentang?"
"Tentang dirinya. Dia menyembunyikan semua hal yang ada di dirinya dariku. Dia adalah seorang maniak...S-sex? Dan ia menyembunyikannya. Ia malah selalu berpenampilan bodoh dihadapanku."
"Oh. Aku agak terkejut dengan...maniak...sex"
"Hn. Aku juga"
Matanya melirik lagi keluar jendela. Menghela nafasnya sekali lagi dengan jemari telunjukanya yang ia gigit. Tapi tiba-tiba matanya mendapati Chanyeol diujung jalan sana. Membuat Baekhyun tersenyum kecil karena mengetahui Chanyeol terus mencarinya.
"Hyung, tolong aku sekali lagi"
"Tidak mau!"
"Hyung~ aku akan memberikan foto telanjang Yixing hyung kalau kau mau membantuku"
"Deal!"
"Dasar mesum! Aku tak percaya wajah angelic seperti itu bisa menjadi sangat mesum"
"Kemarilah baby~"
"Shit. Kau membuatku mual hyung"
Baekhyun tak berhenti menggerutu walau ia tetap bersusah payah untuk pindah duduk dipangkuan Junmyeon. Sekali kepalanya terantuk atap mobil Junmyeon ketika dengan ceroboh ia berpindah tempat.
Shit, ada saja hal-hal menyusahkan ketika ia ingin balas dendam pada kekasihnya. Sekarang terantuk dan kepalanya sakit, lalu nanti apa?
"Jangan macam-macam ya hyung! Ini hanya untuk membuat Chanyeol-ku cemburu"
"Aku juga tidak tertarik padamu!"
"Yak! Kau harus tahu kalau semua orang mendambaku"
"Terserah"
.
.
.
Sudah setengah jam Chanyeol bolak-balik diarea parkir hanya untuk mencari keberadaan kekasihnya yang ia tahu masih berada disekitar sana. Bagaimana bisa? Salahkan mobil Baekhyun yang masih terparkir rapi disana. Membuat Chanyeol semakin yakin kalau kekasihnya masih berada didekat sini. Walaupun kemungkinan Baekhyun bisa saja naik mobil orang lain, tapi Chanyeol tetap kekeuh dengan pendiriannya.
"Mobil hitam diarea VIP, Yeol!"
"Hn?"
"Bartender tadi memberitahuku kalau Baekhyun dan lelaki pendek tadi pasti ada disana"
"Kau tunggu disini. Aku yang akan kesana"
"Pergilah"
Chanyeol memutuskan untuk pergi seorang diri ketimbang merepotkan Yifan yang sudah berbaik hati mau menemaninya. Ia berlari cepat, menelusuri area parkir yang masih kosong hingga matanya mendapati sebuah mobil mewah selain milik Baekhyun diarea parkir VIP. Chanyeol tahu itu, karena hanya ada dua mobil hitam yang terparkir disana setelah ia berhasil menebak kalau yang ada paling pojok adalah mobil kekasihnya.
Dengan amarah yang tersulut, Chanyeol berjalan cepat menghampiri mobil mewah itu. Ia berdeham, mengetuk jendelanya sekali dan langsung terbuka.
Ia agak terkejut, tapi cepat-cepat menunjukkan wajah galaknya ketika mendapati Baekhyun kembali bertingkah binal pada lelaki lain.
Ia menggeram tertahan hingga tangannya terkepal kuat. Menyaksikan Baekhyun yang bahunya dipamerkan karena kemejanya hampir terlepas, juga lelaki pendek yang Baekhyun duduki, yang kini tengah menyandarkan dahinya dipundak Baekhyun.
"Hyunghh~"
"Ekhmm!"
Tapi Baekhyun tetap pada tempatnya walau dehaman Chanyeol terdengar begitu mengerikan.
"O-mhhh"
"Baekhyun!"
"Hyunghh~"
Mata Baekhyun terpejam dan kemejanya sudah melorot hingga Chanyeol dapat melihat punggungnya. Sial, bagaimana bisa Baekhyun membuatnya semarah ini?
Chanyeol benar-benar harus memberikan kelinci manisnya itu sebuah hukuman yang tak akan pernah dilupakan. Bahkan jika Baekhyun kehilangan ingatannya, Chanyeol bersumpah hukumannya pada bocah itu tak akan pernah terlupakan.
"BYUN BAEKHYUN!"
"H-hyunghh~ B-baek ingin mhh me- YAK!"
"IKUT AKU!"
"TIDAK MAU!"
Tangan Chanyeol ia hempaskan kasar setelah lelaki itu berhasil menyeretnya menjauh dari mobil Junmyeon. Keduanya saling melemparkan tatapan dengan sengit, tak memperdulikan kalau teriknya matahari bisa membakar kulit keduanya.
"Ikut aku atau kau kuperkosa ditengah jalan?"
"..."
"Lebih baik ikut denganku!"
"Lepaskan aku!"
"Jangan membuatku semakin marah Baekhyun!"
"Cih, marah? Menjijikan!"
"BYUN BAEKHYUN!"
Dan Baekhyun tak bisa melakukan apapun selain memukuli punggung Chanyeol yang bisa ia gapai. Lelaki tampan itu mengangkatnya bagai karung beras, berjalan tergesa melewati mobil Baekhyun dan langsung memaksa kekasih manisnya itu masuk kedalam mobilnya.
.
.
.
"Kenapa keru- TURUNKAN AKU PARK BAJINGAN CHANYEOL!"
Mobil Chanyeol sampai dipekarangan rumahnya tepat setelah menghabiskan satu jam perjalanan cepat dari tempat mereka sebelumnya. Oh, bahkan seharusnya mereka menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk perjalanan sejauh itu. Tapi karena kegilaan Chanyeol, ia yang tengah terbakar emosi bahkan bisa menempuhnya dalam waktu yang setengah kali lebih singkat.
Ia kembali menggendong Baekhyun ala karung beras dan membawanya cepat-cepat kedalam rumah. Sungguh, ia benar-benar tak bisa menahan emosinya lagi pada Baekhyun yang terus-terusan bersikap menyebalkan. Heol, tidak bisakah anak itu berhenti bertingkah kekanakan yang bisa membuat Chanyeol geram?
Eomma Park yang tiba-tiba saja muncul dari arah dapur dan masih mengenakan celemeknya berlari mengekori Chanyeol yang masih enggan menurunkan Baekhyun yang terus meronta.
Wanita itu nampak khawatir, apalagi saat mendapatkan calon menantunya terisak-isak gelisah dan nampak tak berdaya diatas kuasa Chanyeol.
"Park Chanyeol! Apa yang kau lakukan pada menantu Eomma? Turunkan Baekhyunnie! Cepat turunkan Baekhyun, anak nakal!"
"..."
"Turunkan aku Yeol! Hiks"
"PARK CHANYEOL! KAU MENDENGAR EOMMA TIDAK? TURUNKAN BAEK-"
BRAK
Tapi Chanyeol sudah membanting pintuntnya terlebih dahulu. Mengunci pintunya dan membuat Eomma Park bagai orang kesetanan menggedor pintu kayu kamarnya.
"YAK! PARK CHANYEOL! JANGAN MACAM-MACAM PADA BAEKHYUN! EOMMA AKAN MEMBUNUHMU KALAU KAU BERANI MACAM-MACAM! YAK PARK CHANYEOL!"
Walau tahu itu semua sia-sia, Eomma Park terus-terusan melakukannya. Ia tahu Chanyeol tak akan pernah mendengarkannya ketika anak itu tengah marah. Dan pula, wajah tampan Chanyeol memang terlihat begitu tak bersahabat tadi.
.
.
.
BRUK
Bahkan suara yang dihasilkan saat Chanyeol melemparkan Baekhyun ke ranjangnya begitu kentara dan memenuhi kamarnya. Chanyeol berdecak sekali, mengacak rambutnya frustasi sebelum akhirnya menggeram keras untuk satu waktu.
Ia nampak benar-benar marah. Dengan wajah dingin yang tiba-tiba saja mengukir sebuah ser- lebih tepatnya mungkin kini tengah tersenyum meremehkan kearah kekasihnya yang masih merintih sakit diatas ranjangnya.
"Kau menangis?"
"..."
"Kau menangis setelah membuatku marah besar?"
"..."
"YAK! BYUN BAEKHYUN, JAWAB PERTANYAANKU!"
"MEMANGNYA KENAPA KALAU AKU MENANGIS? SIALAN!"
Baekhyun menatap Chanyeol murka, tapi setelahnya memilih untuk menunduk karena sumpah, kepalanya masih terasa berputar-putar setelah Chanyeol membantingnya kasar keatas ranjang.
Ia memejamkan matanya berkali-kali untuk menghalau rasa peningnya. Ia mengutuk Chanyeol, bagaimana bisa lelaki tampan itu tanpa rasa sayang sedikitpun melemparnya.
"A-akhh!"
"Lihat aku!"
Belum sempat Baekhyun menghilanglan peningnya, rambutnya malah sudah ditarik kebelakang oleh Chanyeol dengan kasar. Lelaki itu memaksanya mengangkat kepala agar mereka bisa bertatapan mata untuk sesaat.
"Kau masih marah karena aku?"
"S-sakit Yeol!"
"Sudah berapa kali kukatakan kalau aku mencintaimu hah?"
"..."
"Baek, aku sungguh tidak memiliki niatan untuk kasar padamu. Tapi kau...kau ingin aku kasari?"
"..."
"Baiklah. Ayo bermain kasar!"
Tak sabaran, Chanyeol melepaskan almamater sekolahnya yang kebetulan masih ia pakai. Juga, tangannya dengan cepat menarik dasi dilehernya.
Ia naik keatas ranjang dan memaksa Baekhyun hingga punggungnya menyentuh kepala ranjang. Chanyeol mengikat tangan Baekhyun erat dengan kepala ranjangnya. Tak membiarkan ada sedikitpun celah untuk tangan Baekhyun bisa bergerak. Rasanya sakit sekali. Chanyeol benar-benar tanpa perasaan ketika mengikatnya.
"Sekarang, kau akan tahu bagaimana brengseknya aku"
SREK
Tangannya tanpa tahu diri langsung merobek kemeja Baekhyun, membuat anak itu membelalak terkejut karena kemeja mahalnya sudah robek-robek karena Chanyeol. Baekhyun berusaha melawan, walau menendang-nendang sprei Chanyeol adalah hal yang sia-sia.
Ia makin tak bisa berkutik ketika Chanyeol mencium bibirnya kasar. Menggigit, dan menghisap bibirnya bergantian hingga Baekhyun bisa merasakan kalau bibirnya mulai sedikit berdarah.
"Kau harus tahu seberapa besar cintaku padamu sayang"
"AKU MEMBENCIMU CHANYEOL! KAU SUDAH MEMBOHONGIKU! AKU TIDAK SUKA DIBOHONGI! DAN AK-hmptthhh!"
"Jangan berteriak seperti itu Baek. Aku janji, aku tidak akan berbohong lagi padamu. Bahkan untuk hal-hal kecil"
"Hhmppthhmm!"
Kalau saja Chanyeol tak mengikat sapu tangan untuk menutupi mulutnya. Pasti Baekhyun sudah kembali mengutuk si tampan itu. Bibirnya terasa sobek ketika Chanyeol mengikat sapu tangannya terlalu keras.
"Cantiknya~"
Lelaki itu tertawa brengsek kemudian. Mengusap-usap pipi Baekhyun hingga membuat anak itu memejamkan matanya. Oh, nyaman aekali ketika tangan besar Chanyeol menyentuh pipinya.
Baekhyun merasakan hatinya menghangat. Mendengar sebelumnya Chanyeol berjanji dengan begitu sungguh-sungguh kalau ia tak akan membohongi Baekhyun lagi.
Walau Baekhyun tahu Chanyeol tengah sangat beremosi, tapi ia tahu kalau Chanyeol benar-benar tulus. Dan tentang Chanyeol yang mengatakan akan bermain kasar...ayolah, Baekhyun sangat menantikan itu.
Baekhyun memang masih terlihat marah pada lelaki itu. Tapi Baekhyun sama sekali sudah tak merasakan amarahnya. Ia benar-benar mencintai Chanyeol, bahkan tak menyentuh lelaki itu semalaman membuatnya merasakan rindu yang besar.
"Aku merindukanmu!"
Chanyeol mencium leher Baekhyun perlahan-lahan, turun secara bertahap melalui dada dan mampir dikedua putingnya hingga berakhir diperut Baekhyun.
Tangannya yang panjang menarik cepat jeans super ketat yang dipakai kekasihnya. Menyisakan sebuah ubderwear yang turun sampai pahanya karena sempat ikut tertarik.
"Tetap menggemaskan seperti terakhir kali aku melihatnya"
Baekhyun tersipu, padahal penisnya yang tengah digoda oleh lelaki sialan itu. Dibawah sana Chanyeol mencium berkali-kali penis Baekhyun dengan gemas, mengabaikan fakta kalau Baekhyun mendesah tertahan karena ada kain yang menyumbat mulutnya.
Tak mau ketinggalan dengan kekasihnya yang sudah bertelanjang bulat. Chanyeol pun membuka seragam sekolahnya cepat. Dan ia menunduk kembali setelah berhasil menurunkan celana sekolah beserta undewearnya hingga tersangkut dilutut.
Ia berniat menggoda kejantanan Baekhyun lagi dengan bibirnya. Namun saat tiba-tiba Baekhyun menutup kakinya rapat, Chanyeol mendengus tak suka. Ia menatap Baekhyun kesal dan hanya dihadiahi rolling eyes dari si manis itu.
Chanyeol menggeram, mengocok penisnya pelan tanpa Baekhyun ketahui. Dan tanpa aba-aba, ia langsung melesakannya. Tanpa penetrasi apalagi pelumas.
Sial, Baekhyun bahkan membelalakan matanya merasakan perih yang teramat sangat. Tubuhnya menegang dan terasa dibelah menjadi dua. Chanyeol hanya menyeringai puas, kepalanya menengadah dan matanya terpejam karena nikmat.
"Kau akan merasakan yang lebih dari ini sayang. Ini hanyalah permulaan"
"HAMPTHHSHH!"
"Ugh, sempit sekali!"
'Sial, aku benar-benar dalam bahaya. Aku bisa mati kalau Chanyeol seperti ini'
TBC
Annyeong~
Naena-nya diundur jadi chap depan ya gengs. Aku lagi down banget, ga sanggup kalo harus ngetik sambil ngebayangin chanbaek main kasar wkwk
Sorry for typo. Sorry for everything lah pokoknya.
Review Juseyooooooo~
