ONMYOUJI TO KITSUNE
Chapter 2 : Start
.
.
.
"Shashiburi da na, KITSUNE YARO !"
"Cih, Bakugou."
"Sudah lama aku mencarimu. Kali ini, kau akan kuhabisi sampai berkeping-keping!"
Midoriya terperangah melihat sosok Inugami yang muncul di hadapan mereka dengan ganas. Ia menduga Shouto dan Inugami itu saling mengenal satu sama lain. Namun, kenapa tampaknya mereka tidak memiliki hubungan baik? Bahkan setelah lama mereka tak berjumpa, yang mereka lakukan adalah saling menyerang. Ditambah lagi, rumah ini menjadi sial karena terror yang disebabkan oleh siluman anjing itu.
Duar!
"Izuku!"
Semburan api yang disertai ledakan itu tepat mengarah ke Shouto dan Midoriya. Dengan segera, sebelum mengenai keduanya, Shouto sudah bersiap membentuk lempengan es untuk melindungi mereka. Sebagian dari lempengan es itu mulai menguap karena perubahan suhu drastis. Midoriya yang terkaget pun terjungkal karena didorong oleh Shouto agar tidak terkena efeknya.
"Kekuatanmu itu selalu saja menyebalkan, huh, Kitsune?"
Kuku-kuku tajam si Inugami bernama Bakugou mencengkram udara. Suara dari mulutnya itu terasa serak dan penuh emosi meledak-ledak. Aura hitam dari tubuhnya menguar di sekitar mereka, merusak bunga hidup yang menjadi hiasan di ujung ruangan itu. Kedua iris merahnya menyala penuh amarah, namun meredam ketika kedua bola matanya melirik jeli pemuda yang tak asing yang tengah bersimpuh karena terjatuh.
"Kau masih saja jadi baby sitter anak itu, huh? Kau suka sekali ikut campur masalah orang lain."
Seketika, kedua alis Midoriya mengerut dalam-dalam saat kata-kata itu diucapkan, menimbulkan sebuah pertanyaan di benaknya. Sedangkan Shouto hanya melirik Midoriya sesaat dengan begitu tajam, sembari melihat keadaannya apakah ia terkena serangan mendadak tadi.
"Apa maksudnya-" Midoriya menyernyit, merasakan keganjalan.
"Dan kau selalu saja datang di waktu yang tepat, Bakugou."
Tawa remeh lolos dari si Inugami. Tanpa basa basi, ia mulai berjalan menapak perlahan mendekati si Onmyouji dan Shikigaminya. Percikan api kembali menyuarakan eksistensi, bersiap mengamuk pada siapapun yang berada di hadapannya. Bahkan seringaiannya itu merupakan hal paling mengerikan yang pernah ada di malam itu.
"Candaanmu itu lucu sekali, rubah. Itu artinya bersiaplah untuk lenyap. Benar 'kan, Deku ?"
Kedua mata kehijauan itu membelalak saat mendengar kata 'Deku' terucap seraya iris mata merah menyorotinya. Seakan saat itu Midoriya jatuh ke dalam sebuah lubang besar tanpa ujung yang tak sengaja ia tapaki. Kegelapan menenggelamkan pikirannya ke dalam lautan merah seperti darah.
"Izuku?"
Suara teriakan mengisi telinganya, membuat kepalanya terasa begitu tersiksa kesakitan. Midoriya terus saja memegangi kepala dan menutupi telinganya rapat-rapat. Otaknya seperti memutar memori yang terkubur dalam relung hatinya.
"Bodoh. Kau itu kenapa sih? Hal mudah begitu saja tidak bisa?"
"Kacchan!"
"Kalau bukan karena aku, kau tidak akan pernah bisa, Izuku."
Di sisi lain, Shouto terus memanggil namanya, berusaha menyadarkan tuannya itu ke dunia nyata. Meskipun begitu, tubuh Midoriya yang gemetar membuat Shouto lega karena keputusan yang diambilnya sangat tepat saat itu. Namun, keberadaan Bakugou tetaplah menjadi suatu hal yang patut ia waspadai demi keselamatan mereka saat itu.
"Warghhhh!"
Midoriya berteriak histeris. Kepalanya makin terasa pening. Semua bayangan-bayangan semu bergantian saling bertukar di dalam kepalanya. Nafasnya terengah-engah menahan sesak di dadanya yang begitu menyiksa. Hatinya terus berteriak diikuti mulutnya sendiri. Bayangan seorang pemuda di tengah kobaran api dan lengkingan teriakan hati menjadi menu utama makan malam Midoriya. Ya, pemuda berambut ganda, bermata heterokrom tajam yang terus berseru dalam pikirannya sembari menyiksa batin dan fisiknya.
Tanpa memperdulikan apa yang terjadi, Bakugou melompat dan menyerang keduanya. Shouto tak sempat mengelak karena sebelumnya ia sedang berusaha menyadarkan Midoriya. Salah satu ekor Shouto terbakar karena percikan yang dilayangkan Bakugou, meskipun begitu, pangkal ekornya yang berbulu putih mengeluarkan asap dingin meredakan jalaran api baik pada ekornya maupun bagian dari ruangan ritual itu. Bentukan es tercipta di balik kaki Shouto, membawa ia dan Midoriya ke ujung ruangan tempat Onmyouji muda itu menaruh barang-barangnya. Setelahnya kepulan asap merah dan putih berbaur memenuhi tubuh Shouto dan Midoriya, melenyapkan eksistensi mereka dari ruangan itu.
"RUBAH SIALAN! KAU KABUR!?"
Shouto memeluk tubuh yang ringkih dan gemetar itu kemudian menidurkannya sebentar di batang pohon terdekat. Mereka sempat kabur dan berpindah tempat berkat kekuatan Shouto ke dekat kuil yang tak jauh dari kediaman Uraraka Ochako. Dalam beberapa menit ke depan, Shouto hanya memandangi tubuh Midoriya yang sedang mengalami tremor akibat gangguan di kepalanya. Pemuda itu terus saja meracau tak jelas dan menjerit kesakitan. Shouto menyernyit memandanginya. Onmyouji-nya yang seharusnya terlihat kuat ternyata begitu lemah dan tak berdaya.
Suara angin malam menyadarkan Shouto dari pikirannya sendiri saat itu. Surai gandanya yang terpisah, bersatu karena hembusannya. Kemudian dalam sekejab, tubuh setengah manusianya berubah menjadi wujud rubah seutuhnya. Ukuran wujud silumannya begitu besar, dengan bulu-bulu halus dan tebal berwarna putih bergradasi kemerahan disertai ekor-ekor panjang senada yang menjuntai anggun. Iris mata heteronya sangat khas dan berkilat di tengah malam. Hanya dalam sekali gerakan, ia menaruh tubuh Midoriya yang mulai lemas ke pundaknya lalu terbang ke langit malam. Sinar rembulan begitu indah menyinari sesosok siluman yang tengah membawa kenangan bersamanya.
Hanya butuh sepuluh menit untuk sampai kembali ke kediaman Midoriya, tepatnya sekaligus toko Onmyouji itu. Shouto kembali ke wujud setengah manusianya perlahan dan sempurna. Shouto pun menggendong tubuh lunglai Midoriya di lengannya dengan hati-hati. Ia berjalan selangkah demi selangkah menuju kamar pemuda itu. Setibanya di kamar itu, ia kembali merebahkan Midoriya yang kini sudah tak sadarkan diri. Lagi, ia memandangi wajah yang berpeluh itu. Menyusuri masuk ke dalam kekhawatirannya. Sudut matanya setajam pisau bermata dua.
"Aku, punya satu permintaan padamu. Mungkin ini adalah yang terakhir. Bisakah kau...?"
"Aku tak sudi."
Ingatannya akan kejadian yang telah lama berlalu bersembunyi dalam pikirannya. Mendorong hatinya untuk berbuat. Tubuh Shouto merapat ke tubuh Midoriya melalui sisi ranjang. Jari-jarinya menyusuri wajah mungil yang dibanjiri keringat deras. Sudut-sudut bibirnya bergerak, menyeringai.
"Ternyata aku memanglah rubah yang jahat. Benar 'kan, Izuku?"
Ucapannya seperti bisikan setan di telinga orang yang tertidur lelap dalam sebuah mimpi buruk tiada akhir. Deru nafas Shouto menerpa wajah pemuda yang tak berdosa. Wajah tampan yang terus mendekat dan menimbulkan aura merah putih yang bercampur. Bibirnya menempel tepat pada bibir pucat itu, menyatukan energi berwarna merah, putih dan hijau yang saling berbauran.
Malam itu adalah malam yang paling ia tunggu. Malam dimana semuanya akan kembali ke titik semula.
.
.
.
[20 years ago]
Hiyashi, adalah nama marga pertama yang ia tau selalu bersanding dengan nama kecilnya, Izuku. Sejak kecil, ia selalu memperkenalkan dirinya dengan nama marga keluarga Ibunya itu. Sebabnya adalah itulah yang harus terjadi, begitu kata Ibunya, Hiyashi Inko, tanpa menjelaskan apapun kepadanya.
Kehidupan Hiyashi Izuku kecil tidaklah mudah. Meskipun ia mengerti dirinya masih anak-anak berusia 10 tahun, ia merasa Ibunya pantas mendapatkan kehidupan yang lebih nyaman dan layak, tidak seperti kehidupannya saat ini. Hiyashi Izuku hanya tinggal berdua dengan Ibunya di sebuah apartemen sempit tapi hangat akan sarat kekeluargaan baik dari Ibunya sendiri maupun dari tetangganya. Kebutuhan ekonomisnya selalu terpenuhi berkat kerja keras Sang Ibu muda yang giat bekerja paruh waktu di sebuah supermarket pada siang hari dan sebuah restoran khas makanan Jepang di malam harinya.
Meskipun ibunya sibuk bekerja, bocah berkepala hijau itu tidak merasakan kesepian. Ia sangat mengerti perjuangan Ibunya demi makan dan juga biaya kebutuhan sekolahnya setiap hari. Adapula saat dimana kebutuhan sekolahnya membludak, membuat keuangan keluarga menipis sehingga mereka pun makan seadanya. Dengan tekad yang kuat, ia pun rajin belajar agar menjadi orang sukses nantinya dan akan membelikan barang-barang cantik untuk Ibunya dan juga memakan semua makanan paling enak di penjuru sudut Jepang.
Sejak masuk TK, kira-kira di usia 5 tahun, ia sudah bisa melihat hal-hal mistis. Terkadang membuat bocah itu ketakutan bukan kepalang hanya karena melihat siluman berbulu bermata empat seperti serangga yang melompat-lompat di balik jendela taman kanak-kanak tempatnya belajar. Beberapa kali Ibunya dipanggil untuk menjemputnya karena ia pingsan tanpa sebab. Hal itu bukan sekali dua kali tetapi sangat sering terjadi. Hingga akhirnya Ibunya menanyakan ada apa. Saat itu, Izuku kecil mengatakan apa pengalaman yang selama ini ia alami. Dari melihat mahluk halus yang lucu dan bersahabat bahkan sampai mahluk besar mengerikan yang selalu mengganggu teman-temannya.
Saat mendengar cerita anak semata wayangnya itu, Hiyashi Inko terkejut bukan main. Ia tidak pernah menyangka anak kesayangannya akan menunjukkan ciri-ciri yang paling tidak diinginkannya. Kedua matanya memandangi Izuku kecil dengan gelisah kemudian membaurkan diri memeluk anaknya itu begitu erat seakan anaknya akan hilang selamanya.
"Maafkan Ibu, Izuku."
Hanya kata-kata itu yang terlontar dari bibir Ibunya. Sejak saat itu, entah kenapa Izuku kecil tidak pernah mengeluh sekalipun. Mendengar suara rintihan Ibunya membuat bocah itu berusaha sebisa mungkin untuk menahan dan mengendalikan diri agar tidak ketakutan setiap melihat sesuatu yang ganjil. Meskipun begitu, keingintahuannya sangat besar akan fenomena yang dialaminya sejak TK. Pada akhirnya, ketika ia berusia 8 tahun dan sudah bisa lancar membaca, mungkin beberapa kanji masih tak dimengertinya, ia diam-diam membaca buku-buku di perpustakaan umum untuk mencari tau ada apa dengan dirinya.
Dari buku umum yang dibacanya, ia menemukan opini bahwa mungkin fenomena indera keenam adalah semua penyebabnya namun tidak semua bahasa yang tertulis dipahaminya jadi hanya sekedar itulah yang ia tau. Suatu hari ia bertemu dengan siluman burung gereja yang baik hati dan mengobrol dengannya, ia bertanya apa pendapat siluman itu terhadap manusia semacam dirinya. Siluman itu merasa bocah keriting itu memiliki aura berbeda dan kemungkinan kekuatan spiritual terkubur di dalam tubuhnya meskipun sangat kecil. Dari sanalah kesimpulan dibuat yaitu mungkin ini yang namanya kemampuan spiritual seperti para biksu, pendeta atau lainnya.
Semenjak mengetahui opini-opini tersebut, Izuku kecil mulai tertarik dengan dunia spiritual. Ia mulai membaca buku-buku tentang legenda mistis dan mahluk-mahluk halus. Tentu saja hal itu dilakukan secara diam-diam dibalik punggung Ibunya. Karena ia khawatir Ibunya akan melarangnya atau bahkan kembali merintih dengan alasan yang tak jelas.
Ketika ia berusia 10 tahun, tiba-tiba saja, Hiyashi Inko sering jatuh sakit. Penyebabnya karena kelelahan fisik dan mental. Izuku kecil merasa sangat sedih melihat Ibunya sakit dan tak berdaya berbaring di ranjang lusuh miliknya. Ibunya sempat berhenti bekerja paruh waktu karena kondisi tubuhnya mulai melemah. Kehidupan mereka hanya dipapah oleh tabungan yang tak seberapa. Hingga suatu hari yang membalikkan dunia Izuku kecil datang bagaikan badai yang tak kunjung berhenti.
"Kembalilah ke kediaman Midoriya. Tuan Muda Izuku seharusnya ada disana."
Seorang pegawal berpakaian serba kimono hitam datang mengatasnamakan keluarga Midoriya. Keluarga Midoriya adalah garis keturunan Onmyouji yang cukup terkenal sejak jaman kekaisaran. Salah satu Onmyouji keturunan keluarga Midoriya selalu menjadi penasehat untuk para kaisar karena kemampuannya meramal nasib dengan keakuratan tajam. Sehingga ramalannya menjadi acuan dasar dalam menentukan keputusan pemerintahan. Bahkan sampai berakhirnya jaman kekaisaran, keluarga Midoriya memiliki koneksi kemanapun sehingga bisnis dan tentunya dunia yang berhubungan dengan spiritualnya sangat terbangun dengan baik. Mereka juga dipergunakan untuk menetapkan kalender, melakukan perlindungan dan pengusiran roh termasuk juga membimbing orang-orang untuk menghindari diri dari kesialan dan eksistensi spiritual yang merugikan.
Saat itu, Izuku tidak mengerti apa maksudnya orang itu datang dan bicara berdua dengan Ibunya. Yang ia lihat dari balik pintu kamarnya adalah pemandangan sang Ibu yang terpaku di tempat sambil menangis tersedu-sedu untuk meminta agar anaknya tidak dibawa pergi. Tak lama, orang itu pergi. Izuku kecil mendekati Ibunya, mendekap tubuhnya yang mulai mengurus. Selama ini, sesungguhnya, kedatangan orang itulah yang menyebabkan sakit Hiyashi Inko tidak kunjung sembuh.
"Siapa dia, Ibu?"
Kedua bola mata yang berair itu memandang kepolosan anak kesayangannya. Sudah tidak ada hal lain yang harus dilakukannya kecuali menceritakan semuanya.
Hiyashi Izuku adalah keturunan termuda dan satu-satunya yang dapat menjadi penerus keluarga Midoriya yang selama ini menghilang. Semua itu disebabkan Hiyashi Inko kabur dari kediaman Midoriya membawa anaknya karena alasan yang tidak dijelaskan. Sekali pun, bocah itu tak pernah bertanya siapa ayahnya karena ia sering melihat Ibunya menangisi foto yang diam-diam disembunyikannya. Yang ia tau saat ini hanya Ibu lah yang ia miliki, apakah ayahnya adalah orang baik atau bukan, ia tidak memperdulikannya. Kenyataannya ayah Izuku kecil yaitu Midoriya Hisashi sudah lama meninggal sehingga keberadaan bocah itu selalu dicari-cari untuk meneruskan tradisi keluarga yang kini diurusi oleh neneknya. Mendengar semua fakta tersebut membuatnya terbingung-bingung. Jika memang itu kenyataannya, maka mengapa Ibunya bersikeras agar ia tidak menjadi penerus keluarga Midoriya? Hal itu menjadi pertanyaan mendasar di hati bocah itu.
Beberapa hari kemudian, sang nenek kandung benar-benar datang. Hiyashi Inko memohon dengan sangat agar anaknya diberi kebebasan. Namun apa daya, justru Izuku kecil hanya mengatakan hal yang tak bisa dipercayanya.
"Tidak apa-apa, Ibu. Aku akan membuatmu senang."
Bocah itu berpikir ia ingin membahagiakan Ibunya. Jika ia menjadi penerus keluarga Midoriya, maka dijamin kehidupan mereka akan berputar 180 derajat. Ia tidak perlu lagi melihat Ibunya sesak nafas karena kelelahan bekerja. Ia juga tidak perlu lagi melihat Ibunya hanya memakan sisa makanan yang ada dari makan malamnya. Serta ia tidak perlu melihat Ibunya sakit dan tak bisa diberi perawatan terbaik. Sang Ibu sangat mengkhawatirkan keputusan anaknya itu apalagi mimpi buruk yang akan dihadapinya nanti. Namun anaknya begitu keras kepala dan berjanji akan baik-baik saja. Dengan semua bendungan kekhawatiran itu, akhirnya, Hiyashi Inko mengalah dengan syarat ia pun akan ikut bersama anaknya kembali ke kediaman Midoriya.
Hari itu, hari yang cerah demi mekarnya bunga sakura menjadi hari pertama baginya yang ia jalani sebagai Midoriya Izuku.
"Selamat datang, Izuku."
Ia disambut baik di keluarga barunya itu, namun sang Ibu terlihat sangat resah. Sedangkan anaknya hanya bersikap biasa, membuat Ibunya terheran-heran. Sang nenek dari Midoriya Izuku menceritakan semua kewajibannya sebagai penerus keluarga Midoriya. Terutama tentang bagaimana ia harus mempelajari dan mendalami ilmu onmyoudo yang turun-temurun menjadi pengetahuan dasar wajib. Namun sang nenek sepertinya sedikit kecewa karena cucunya itu tidak menunjukkan ciri-ciri utama keturunan keluarga Midoriya. Demi melihat bagaimana perkembangannya, anak itu akan diajari secara khusus untuk mengembangkan kemampuannya oleh seseorang yang selama ini menjadi pengganti sementara yang menjalani tradisi keluarga selama Midoriya Izuku menghilang.
"Lama tak bertemu, Inko-san. Kudengar kau sakit?"
"Sudah lebih baik. Bagaimana keadaanmu, Yagi-san?"
"Seperti biasa. Hahahahah. Apakah anak ini...?"
"Iya, dia Izuku."
"Ia sangat mirip dengan Hisashi." Pria itu tersenyum dan kemudian membungkukkan badan untuk menyamai posisi Midoriya Izuku kecil. "Senang bertemu lagi, jagoan. Kau sudah besar ya."
Midoriya kecil hanya terperangah melihat pria besar itu mengajaknya bicara. Setaunya ia akan dipertemukan dengan orang yang spesial tetapi siapa orang ini? Kenapa orang ini layaknya orang yang mengenal bocah itu? Rambut keritingnya bergoyang kesana kemari karena menggeleng tak mengerti.
"Hahah. Pasti kau tidak ingat padaku." Pria itu menggendong anak itu dengan mudah dan melayangkannya di udara. Seingatnya itu adalah gerakan yang sangat disukai anak itu saat bermain dengannya sewaktu masih berumur satu tahun. "Perkenalkan lagi, namaku Toshinori Yagi."
"Toshinori Yagi?"
Alis kecil itu mengerut. Berusaha mengingat.
"Aku yang akan mengajarimu. Panggil aku dengan panggilan kesukaanku ya."
"Paman All Might?"
"Anak pintar. Hahahaha."
Pada saat itulah, sepasang mata berbeda warna memperhatikannya dari kejauhan. Memberikan aura intimidasi yang belum bisa dirasakannya saat ini.
"Jadi bocah itu yang bernama Izuku."
.
.
.
To be continued.
A/N : Ini kok panjang ya jadinya? Gue pikir 2-3 chapter aja cukup, ternyata gue baru jelasin sampe sini doang. Ya sudahlah ya. Btw, maaf gue lupa deskripsikan usia Izuku di present momennya, untung ada yg review bertanya. Makasih yaaa.. Kira" Izuku yg skrg ada di usia 20an ke atas. Maaf atas kekurangan yang ada. Makasih sudah membacanya. See you next chapter.
