What's Wrong With My Pretty BOSS ?

.

Rated : M

.

.

Disclaimer

Naruto : Masashi Kishimoto

HighSchoolDxD : Ichie Ishibumi

Warning : Typo bertebaran

.

.

.

Kini Kiba terjebak bersama tim departemen pemasaran setelah tak sengaja tertangkap basah oleh mereka, akhirnya rahasia tempat tinggalnya terbongkar namun ingin marah pada Asia pun tak berguna karena tampaknya ini bukanlah kesengajaan dari gadis pirang tersebut serta ada andil darinya andai saja tak datang ke rooftop maka tidak mungkin dirinya bertemu dengan mereka.

Sementara Asia yang merasa bersalah karena tidak bisa mencegah para rekan-rekannya bertemu dengan Kiba hanya menunduk sedari tadi dan tak berani menatap ke arah si lelaki yang memiliki warna rambut sama seperti dirinya tersebut.

"Kami tidak tahu kalau Kiba tinggal di gedung yang sama dengan Asia-chan" salah satu senior Asia mengajak Kiba berbincang dan hanya ditanggapi dengan gumaman tak jelas dari orang yang dimaksud. Tampaknya dengan keberadaan dari pria yang menjadi primadona di perusahaan sudah cukup membuat para wanita itu lebih ingin mengobrol dengannya dibandingkan dengan niat yang sudah direncanakan sebelumnya.

Untuk Issei dia lagi-lagi merutuki pria berambut pirang, bagaimana tidak jika di gedung perusahaan dirinya melihat sang senior sekaligus atasannya berciuman dengan wanita impian si pemuda Hyoudo dan kini pria berambut pirang jugalah yang menyita perhatian dari wanita-wanita yang seharusnya mengobrol dan bersenda gurau dengannya.

Cukup lama mereka berada di atas sana, dari yang tadinya matahari masih menampakkan sinarnya hingga sudah berganti dengan gelapnya malam mereka semua terus berbincang ditemani makanan ringan serta beberapa kaleng bir bahkan Kiba yang pada awalnya enggan kini malah bisa berbaur dengan orang-orang dari departemen pemasaran.

.

.

Hari yang cukup dinanti akhirnya datang juga, tepat hari ini adalah hari pembukaan galeri seni sekaligus pameran lukisan dari salah satu seniman yang tengah naik daun yakni Hinata dan untuk pertama kalinya juga dia akan muncul ke publik setelah selama ini selalu menyembunyikan identitasnya dalam membuat lukisan.

Orang-orang penting, para pecinta seni dan wartawan dari berbagai media sudah berada di lokasi, sebelum resmi di buka terlebih dahulu akan diadakan sesi potong pita sebagai pertanda dan simbol dari dibukanya galeri seni. Sesi tersebut berjalan lancar dan dengan begitu galeri resmi dibuka, tak semua orang bisa masuk ke dalam galeri karena hanya yang memiliki surat undangan dan tiket saja yang bisa masuk dimana untuk pembelian tiket sendiri sudah dijual jauh-jauh hari dengan harga yang bisa dibilang tak murah juga namun bagi seluruh pegawai dan staff perusahaan mereka mendapat akses untuk masuk secara gratis.

Dalam ruangan galeri tampak lukisan-lukisan indah menghiasi dinding, tapi tampaknya selain lukisan disana juga ada berbagai karya seni lain yang bernilai tinggi dari berbagai seniman namun karena kali ini Hinata menjadi bintang utamanya maka seni lukisan lebih ditonjolkan.

Hari ini akan sangat menyibukkan bagi Naruto dan dia melakukan semuanya dengan maksimal sebagai bentuk pengabdian terakhir untuk tempatnya bekerja karena setelah akhir pekan nanti dia sudah resmi meninggalkan perusahaan.

.

Pameran berjalan lancar dan publik untuk pertama kalinya bisa mengetahui siapakah orang dibalik karya-karya luar biasa yang selama ini mereka ketahui adalah karya dari seniman misterius. Begitu Hinata muncul semua mata tertuju padanya, berbagai pujian dan sanjungan didapatkan oleh gadis muda tersebut. Seharian ini dia banyak bertemu dan bercengkrama dengan orang-orang yang menghargai karyanya hingga tak terasa sudah di penghujung hari menandakan sebentar lagi galeri akan di tutup untuk hari pertama.

Pengunjung yang tak seramai tadi membuat semua yang disana dapat sedikit bersantai apalagi Hinata, dirinya sedang duduk sambil menikmati minuman ditemani oleh Naruto yang tampaknya juga sama lelahnya seperti dirinya.

"Akhirnya bisa bersantai juga" satu hembusan panjang dari Naruto menandakan dirinya memang secapek itu karena dari pagi hampir tak bisa duduk karena harus menemani orang-orang seperti Sirzechs dan yang lainnya.

"Terima kasih untuk karena selalu membantuku Naruto-kun, tanpamu mungkin pameran ini tak akan berjalan seperti ini", Hinata melirik pada Naruto yang sedang bersandar dan menikmati air minumnya.

Naruto menyelesaikan minumnya lebih dulu sebelum menerima rasa terima kasih dari Hinata dan balik memuji wanita Hyuuga tersebut setelah mau bekerja sama dengannya beberapa waktu ke belakang sekaligus memberikan ucapan selamat karena akhirnya wanita itu dapat dikenal oleh orang banyak sebagai salah satu pelukis berbakat yang tengah naik daun.

Saat dirinya masih bersantai dan mengobrol dengan Hinata tak lama berselang ada seorang bawahannya menghampiri setelah sebelumnya mengetuk pintu dan persilakan masuk untuk kemudian ia berbisik ke telinga si Uzumaki muda, mendengar apa yang dituturkan orang itu Naruto mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih sebelum pria tadi pergi meninggalkan Naruto serta Hinata.

"Tampaknya aku harus kembali bertugas, lanjutkan istirahatmu Hinata."

Setelah Naruto meninggalkan Hinata sendiri kini gadis bersurai indah itu mencoba memejamkan matanya untuk menikmati suasana sepi nan sunyi yang bisa memberikannya ketenangan, hari ini sangat melelahkan baginya apalagi harus banyak berbicara dengan orang-orang yang tak dirinya kenal sama sekali tapi untungnya Naruto terus menemaninya dan membantu ketika ia mulai merasa kesulitan.

.

Naruto kini sedang berjalan sambil mengancingkan baju setelan miliknya yang tadi ia tanggalkan saat beristirahat dengan Hinata, kakinya melangkah cepat menyusuri ruangan dan matanya juga melirik demi bisa menemukan orang yang dimaksud oleh pria bawahannya tadi.

Hembusan nafas lega meluncur dari bibir si pirang kala berhasil menemukan seorang wanita dengab rambut berwarna cokelat panjang yang sedang menatap lukisan, Naruto berjalan mendekat kemudian sedikit menunduk dan menyapa wanita di hadapannya.

"Maaf sudah membuat anda menunggu lama, Venelana-sama", suara dari Naruto sukses membuat wanita yang ia panggil berbalik dan menampakkan wajahnya. Seorang wanita cantik dengan tampilan anggun menawan sedang menebar senyum pada Naruto.

"Ara~, seharusnya aku yang meminta maaf padamu Uzumaki-kun karena sudah mengganggu waktu istirahatmu" nada suara lembut nan mendayu mengalun indah menerpa indera pendengaran Naruto dari wanita tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah istri dari Presdir perusahaan ia bekerja dan secara garis besar juga ibu dari Sirzechs dan Rias kekasihnya.

"Ah tidak kok, saya sudah selesai beristirahat,".

"Oh begitu, jadi karena sekarang sudah beristirahat maukah kau menemaniku untuk melihat seisi galeri seni ?" sebuah permintaan dari Venelana segera disanggupi oleh si pirang untuk menemani istri dari Zeoticus Gremory itu.

Venelana memang benar-benar ingin menjelajahi seisi galeri dan melihat berbagai macam karya seni apalagi wanita cantik tersebut lumayan hobi mengoleksi berbagai macam hiasan dan ornamen bernilai seni tinggi di kediaman Gremory, selain melihat-lihat Venelana juga beberapa kali menanyakan kepada Naruto perihal arti dan makna dari karya seni yang terpajang.

Selain itu Venelana juga menjelaskan alasannya datang ke galeri di sore hari ketika tempat tersebut tak seramai tadi pagi ataupun siang demi bisa menikmati semua ini dengan tenang dimana tak akan dia rasakan jika ada banyak orang di galeri. Di tengah menemani Venelana, Naruto cukup terkagum-kagum dengan bagaimana sifat tenang dan anggun dari wanita tersebut sekaligus sedikit mengundang tanda tanya dari Naruto kenapa bisa berbanding terbalik dengan Rias yang cukup galak dan emosional.

Cukup lama berkeliling secara tak terduga mereka berpapasan dengan dua orang pria dan wanita bersurau merah saat akan berbelok menuju bagian lain dari galeri.

"Padahal kami baru saja ingin mencari Kaa-sama tapi ternyata sekarang sudah ketemu", si lelaki berambut merah panjang bersuara lebih dulu.

"Kaa-sama baru saja berkeliling ditemani Naruto-kun," Venelana tersenyum teduh pada dua orang di depannya.

Mereka semua terlibat pembicaraan singkat dan pada akhirnya Venelana akan melanjutkan menjelajahi galeri bersama Sirzechs, pada awalnya si wanita bersurai merah juga diajak namun ia menolak dan beralasan punya tujuan lain datang ke galeri.

"Terima kasih sudah menemani berkeliling Naruto-kun, kami mau ke tempat lain jadi kutitipkan Rias padamu!" Venelana berpamitan untuk kemudian pergi bersama Sirzechs meninggalkan Rias supaya dijaga oleh Naruto.

.

Sepeninggal Venelana dan Sirzechs yang sudah menuju lokasi lain Naruto kini berduaan saja dengan Rias di tempat itu dan lumayan sepi juga, belum sempat ada yang berbicara tampak Rias tersenyum jahil pada si lelaki Uzumaki. "Hey bagaimana rasanya berkencan dengan Ibu dari pacarmu sendiri ?".

Mendengar pertanyaan aneh dari Rias membuat Naruto dengan tanpa ampun dan ragu langsung menyentil jidat dari wanitanya itu, "jangan membayangkan hal konyol, aku hanya menemaninya berkeliling tapi yang jelas sekarang aku jadi bertanya-tanya kenapa sifat kalian berbeda jauh?" sambil bersidekap dada Naruto menatap Rias yang sedang mengelus dahinya karena kena sentilan barusan.

"Ish entahlah. Kau itu pacarku tapi kenapa selalu usil tiap kita bersama?, bisa tidak sekali-kali bersikaplah romantis", Rias masih menggosok keningnya dan menatap Naruto nyalang.

"Memangnya seperti apa yang kau inginkan ?" kedua tangan yang tadinya menyilang di depan dada kini sudah turun dan Naruto masukkan ke dalam celana, Rias menyudahi acara mengelus dahinya dan memikirkan sesuatu tentang pertanyaan dari Naruto hingga akhirnya ia punya jawaban. "Mungkin seperti memeluk atau menciumku?,".

Mengangguk-angguk dengan hal yang diminta kini tanpa peduli sedang ada di mana Naruto menarik pinggang Rias supaya tubuh mereka dapat mendekat, detik berikutnya Naruto sudah menempelkan bibirnya pada bibir Rias yang saat ini masih diam belum merespon. Manik blue-green milik wanita Gremory tersebut berkedip beberapa kali seolah dirinya tak menyangka akan dicium oleh Naruto di tempat umum.

"Apa ini yang kau mau ?", suara berat dan dalam dari Naruto yang baru pertama kali ia dengar dari si pirang membuat Rias seakan terbuai seolah baru saja melihat sesuatu yang berbeda dari kekasihnya itu. "Lagi!", mengetahui Rias masih menginginkannya Naruto menciumi lagi bibir Rias secara singkat hingga beberapa kali.

Sekitar tujuh kali kecupan barulah Naruto berhenti dan melihat saat ini wajah Rias yang menurutnya sangat memesona hingga jika tidak menahan diri bisa saja dirinya memakan si Gremory saat itu juga. Bibir Rias melengkung indah saat dirinya tersenyum karena baru saja mendapatkan kemauannya, ia segera memeluk erat Naruto seolah tak mau melepaskannya sementara wajahnya mendongak supaya mereka bisa saling pandang.

Karena seolah lupa saat ini mereka ada di tempat umum makanya ketika ada orang yang lewat mereka segera memisahkan diri, "aku lupa kita masih di tempat umum" Rias yang malu setelah tak sengaja dilihat orang lain hanya bisa menyembunyikan wajahnya menggunakan kedua telapak tangan.

"Sudahlah lebih baik kita berkeliling tempat ini saja, kau boleh anggap sebagai kencan jika mau", Naruto meraih tangan Rias dan menggenggamnya untuk kemudian membawa kekasihnya itu pergi melihat-lihat.

.

.

Pameran karya seni yang berlangsung selama tiga hari itu berjalan lancar dan sudah berakhir, Naruto kembali ke kantor dan menikmati hari-hari terakhirnya di perusahaan sebagai pegawai. Dirinya sekarang lebih intens membantu dan menyiapkan Asia supaya bisa meringankan beban dari Rias karena itulah tugas yang sudah diberikan padanya sejak awal, perkembangan dari Asia juga bisa membuatnya bernafas lega jika nanti meninggalkan perusahaan walaupun dari yang ia dengar posisinya tak akan ada yang mengisi dalam waktu dekat.

Ditengah pekerjaannya Naruto tersenyum tipis kala melihat sebuah bingkai lukisan berukuran kecil pemberian dari Hinata padanya saat gadis Hyuuga itu berpamitan padanya, lukisan yang berisi sosok dirinya bersama semua karyawan ketika berlibur di villa tergambar begitu bagus dan hampir mirip sebuah foto. Tak hanya Naruto saja yang mendapatkan benda tersebut tapi semua orang di departemen pemasaran mendapatkan hal serupa dari Hinata.

Tak terasa hari itu jam kerja sudah usai dan menandakan waktunya pulang, beberapa karyawan lain sudah pulang termasuk Asia, Naruto yang masih berada di tempatnya segera mematikan komputer yang ia gunakan serta sedikit membereskan barang-barang pribadi miliknya yang beberapa sudah mulai ia bawa pulang.

Rias keluar dari ruangannya dan mendapati Naruto yang sedang membereskan barang-barangnya tak mencoba memanggil nama dari sang pria dan lebih memilih bersandar ke dinding sambil menyilangkan lengan di bawah dua asetnya. Iris matanya terus memperhatikan kegiatan dari Naruto yang sesekali akan tersenyum kecil kala memasukkan sebuah benda yang pastinya sudah menemani pria itu dalam jangka waktu lama.

Gadis Gremory itu terus memperhatikan Naruto dan tiba-tiba terbersit di hatinya apakah nanti suasana kantor akan berbeda dengan tidak adanya si pria Uzumaki, ia yang sudah terbiasa sejak awal dengan keberadaan pria itu pasti akan merasa kehilangan walaupun pria itu tetap menjadi kekasihnya namun tetap saja waktunya dengan Naruto pasti berkurang jika pria itu sudah tak bekerja.

Tanpa Rias sadari ketika memikirkan hal tersebut Naruto sudah selesai dan balik memperhatikan dirinya yang seperti melamun.

"Rias ?", sebuah panggilan lembut Naruto utarakan dan mengembalikan si Gremory dari dunianya.

"A-ah ya !?".

"Mau pulang sekarang ?", Naruto menutup box yang ia gunakan untuk menyimpan barang dan menghampiri Rias yang masih bersender ke dinding.

Anggukan pelan dilakukan Rias sebagai jawaban dari pertanyaan Naruto, mereka segera bergegas pergi meninggalkan ruangan itu menuju parkiran dimana mobil Rias berada.

.

Malam harinya di apartemen Naruto.

Kedua muda mudi yang kita ketahui sebagai sepasang kekasih itu sedang bersantai dan beristirahat setelah seharian bergelut dengan pekerjaan, Rias berbaring telungkup di atas tubuh Naruto yang juga sedang merebahkan dirinya di atas sofa sambil menonton acara salah satu anime kesukaan Rias yang tengah tayang.

Walaupun saat ini anime kesukaan sedang tayang namun otak Rias sedang berkelana memikirkan hal lain, Naruto yang tak mengetahuinya menyangka jika wanita yang sedang tiduran di atas tubuhnya itu sedang menikmati tontonan dengan serius hingga tak bersuara. Namun setelah beberapa saat berdiam diri dengan pemikiran yang entah kemana Rias memanggil nama Naruto dengan pelan.

"Kenapa ?, apa ada yang mengganggumu ?", Naruto meraih kepala Rias dan membalikkannya hingga bisa menatap wajah cantik dari kekasihnya tersebut.

"Apa memang harus berhenti dari perusahaan ?", begitu melihat raut wajah Rias tampak Naruto dapat melihat sedikit raut dan nada sedih dari wanita cantik tersebut.

Belum mau menjawab pertanyaan kini Naruto malah tersenyum manis pada Rias dan mengecup singkat kening dari wanitanya tersebut, "bukankah dari awal datangpun kau sudah tahu ?, waktuku di sana sudah cukup dan ingin mencari sesuatu yang baru dan juga masih ada yang lainnya seperti Asia ataupun Issei".

"Tapi tetap saja rasanya akan berbeda, dan bukankah salah satu alasanmu keluar dari perusahaan adalah ingin fokus mencari pasangan ?, kalau begitu kita menikah saja nanti bagaimana ?, sewaktu kecil kita pernah berjanji akan menikah", obrolan Rias yang sudah makin melantur membuat Naruto cukup gemas.

Dengan sambil terkekeh pelan Naruto menarik tubuh Rias supaya lebih naik ke atas demi bisa mensejajarkan wajah dari wanita Gremory itu dengan wajahnya, "memangnya kau mau punya suami pengangguran ?".

"Aku tak masalah, kurasa aku sudah cukup kaya untuk bisa menghidupi kita berdua" tanpa pikir panjang dan penuh rasa percaya diri Rias.

Naruto menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan kepercayaan diri dari si Gremory, memang mungkin saja Rias mau menjadi pasangannya walaupun pengangguran tapi itu akan melukai harga diri dari Naruto jika memang terjadi.

Remote tv yang tergeletak di atas meja diraih oleh Naruto untuk mematikan benda elektronik tersebut sebelum akhirnya si Uzumaki muda bangkit dari posisi berbaringnya dan serta membawa Rias juga dalam posisi sama yakni duduk namun bedanya Rias duduk di atas paha Naruto. "Obrolannya kita sudahi dulu, lebih baik kita segera tidur!".

Bukannya memisahkan diri dari Naruto namun Rias kini malah memeluk leher dari prianya tersebut. Mengerti dengan niatan dari si Gremory, kini sebelah tangan Naruto langsung menuju bokong dari Rias dan menyangganya sedangkan lengan yang satunya memeluk punggung wanita bersurai merah tersebut. Dengan posisi seperti ayah yang menggendong putrinya Naruto membawa Rias menuju kamar tidur satu-satunya di apartemennya tersebut, jika kemarin mereka berdua tidur terpisah dengan Naruto di lantai kini mereka sudah satu tempat tidur karena berkaca dari kejadian sebelumnya demi bisa menghindari kejadian seperti Rias jatuh dari atas tempat tidur jika.

Sebelum tertidur mereka saling mengecup bibir dan bagian wajah masing-masing bergantian.

.

Hari terakhir Naruto di perusahaan akhirnya tiba, entah kenapa dia merasakan cukup berat meninggalkan tempat yang selama bertahun-tahun dirinya tempati. Tempat dimana perubahan dari yang semula remaja labil menjadi seorang pria dewasa, untuk terakhir kalinya juga dia akan duduk di kursi, berhadapan dengan layar monitor serta bersentuhan dengan dokumen-dokumen merepotkan yang harus ia selesaikan setiap harinya.

Saat jam kerja usai Naruto sudah bersiap pulang namun belum sempat bangun dari kursinya ia sudah dikerubungi oleh para karyawan departemen pemasaran, Naruto yang cukup keheranan akhirnya mengetahui maksud dari orang-orang tersebut yang memang ingin mengucapkan salam perpisahan serta memberikan kado bagi si Uzumaki.

Satu persatu orang-orang tersebut menyalami dan memberikan kado pada Naruto termasuk juga Issei yang memberikan sebuah kotak kecil yang menjadi hadiah terkecil yang si pirang terima, entah apa isinya namun jangan menilai sesuatu dari ukurannya.

Melihat perpisahan yang cukup mengharukan, dari dalam ruangannya Rias hanya bisa memandangi saja dan tak ada niatan keluar dan ikut bersama mereka toh dirinya masih akan sering bertemu karena si pirang adalah kekasihnya jadi dia membiarkan yang lain untuk berpamitan dan tak ingin mengganggu momen tersebut.

Momen perpisahan itu cukup mengharukan sampai membuat beberapa wanita menangis karena akan kehilangan sosok yang bisa melindungi mereka dan memberi ketenangan saat dalam posisi sulit maupun tertekan.

"Terima kasih untuk semuanya, semoga kita bisa tetap berhubungan baik kedepannya. Selamat tinggal dan sampai jumpa", Naruto menyudahi perpisahan tersebut dan mulai berjalan melangkah meninggalkan ruangan yang sudah bertahun-tahun dirinya tempati.

Semua karyawan divisi pemasaran hanya melihat saja punggung lelaki pirang itu perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu. Suasana hening sempat tercipta beberapa saat setelah kepergian Naruto sampai dengan teratur mereka pergi ke tempat masing-masing untuk merapikan meja kerja sebelum pulang ke rumah.

.

Tak hanya dari departemennya sendiri namun para karyawan dari departemen lain terutama para wanita juga sudah menunggu untuk bisa mengucapkan selamat tinggal dan memberikan hadiah bagi si pirang, banyak yang bersedih kala mereka tahu Naruto akan meninggalkan perusahaan karena itu berarti satu dari dua pria incaran mereka akan pergi dan akan jauh lebih sulit mendekatinya jika bukan dilingkungan perusahaan.

Kedua tangan Naruto yang tadi sudah penuh dengan hadiah kini makin kerepotan karena menerima lebih banyak bingkisan yang entah apa isinya, dirinya bahkan kesusahan untuk bisa meninggalkan orang-orang tersebut karena cukup banyaknya wanita mengerubunginya mungkin ia sedikit menyesal tidak menunggu Rias dan keluar bersama sehingga bisa terhindar dari ini semua namun di sisi lain ia mensyukuri dengan begini artinya banyak orang yang menyayanginya.

Sementara itu Sirzechs yang juga baru mau pulang melihat pemandangan Naruto yang dikerubungi wanita hanya berdecak tak percaya, "bahkan di hari terakhirnya bekerja dia masih bisa dapat hal mujur".

.

Usai bersusah payah akhirnya Naruto bisa lepas dan pergi dari kerumunan tadi, dirinya kini sedang berada di dalam mobil milik Rias dan sedang menunggu wanitanya itu datang. Sebari menunggu kedatangan si Gremory terlihat Naruto yang cukup penasaran dengan isi berbagai hadiah pemberian itu, dirinya hanya membuka yang berukuran kecil saja karena yang sisa yang lainnya ia letakkan di kursi bagian belakang.

Beberapa bingkisan yang di buka ada yang isinya dasi, kacamata hitam, jam tangan dan beberapa benda kecil lainnya namun walaupun begitu Naruto tahu jika dijumlahkan harganya cukup mahal juga apalagi benda tersebut cukup brended. Merasa cukup membuka beberapa hadiahnya Naruto kembali menyimpan benda-benda tersebut ke belakang namun dia merasa ada sesuatu yang mengganjal di kantong bajunya.

"Bukankah ini pemberian Issei ?", Naruto baru ingat benda tersebut pemberian juniornya tadi. Karena penasaran akhirnya tak membutuhkan waktu lama ia membukanya dan dahi Naruto sedikit mengkerut serta berkedut mengetahui apa yang diberikan Issei padanya.

"Junior kurang ajar, bisa-bisa dia memberikan ini sebagai hadiah perpisahan", Naruto menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil dengan tangan yang masih menggenggam benda yang baru saja ia buka, sungguh dia tak bisa berkata-kata lagi dengan isi otak Issei. Dengan berani dan gilanya bocah berambut cokelat itu memberikan sekotak berisi kondom pada Naruto, saat ingin menutup kembali kotak tersebut Naruto baru mengetahui ada secuil kertas kecil yang ternyata ditulis langsung oleh juniornya tersebut dimana isinya tentang cara menggunakan benda tersebut.

"Pasti sedang baca surat dari wanita lain", mendengar kalimat tersebut Naruto menoleh dan mendapati ternyata Rias sudah berdiri di luar mobil dengan kepala yang mengintip ke dalam mobil karena Naruto tak menutup kaca jendelanya.

"Ini dari Issei".

Jawaban singkat Naruto sudah membuat Rias percaya namun sesuatu di tangan kekasihnya itu membuat Rias penasaran. "Wahhh permen, aku mau" melihat bungkusan yang mirip permen Rias mengambil benda di tangan Naruto dan membuat si Uzumaki gelagapan karena itu bukanlah seperti apa yang Rias pikirkan.

"E-ehhh?!", Naruto sempat mencegah Rias mengambilnya namun dia sudah terlambat kini kotak tersebut sudah berpindah tangan.

Tanpa rasa curiga karena sudah menganggap itu permen Rias membukanya dan wajahnya langsung memerah kala sudah terlanjur membuka sesuatu yang ia anggap permen, "aku tidak tahu kalau dirimu sangat mesum Naru, bisa-bisanya kau membawa benda ini apalagi dengan jumlah yang banyak aku jadi takut".

"Rias, sayang. Ini tak seperti bayanganmu justru itu adalah pemberian Issei. Kalau tak percaya baca ini!" Naruto memberikan kertas itu ke Rias sebagai bukti, tak tidak lucu jika Rias tiba-tiba ilfeel padanya lalu memutuskan hubungan mereka.

Tanpa membaca lebih dulu Rias yang menerima kerta dari Naruto langsung meremasnya dan ia buang asal, "aku percaya dan lagipula jika kau mau melakukannya padaku pasti tidak akan menggunakan benda ini kan ?".

Ok sudah cukup Naruto dipusingkan dengan Issei yang memberinya benda tak berguna kini dia makin syok dengan Rias yang mengucapkan hal barusan dengan enteng dan santai seolah itu bukan masalah baginya.

Pusing dengan Issei dan kini ditambah Rias membuat Naruto menghela nafas, lelaki pirang itu membuka pintu mobil dan menarik wanitanya ke dalam.

"Kyaaaa... jangan lakukan disini Naru," Rias berteriak kecil karena dipaksa masuk dan mengira Naruto akan melakukannya karena diprovokasi barusan. Namun yang terjadi adalah wanita itu didudukkan pada kursi penumpang dengan sudah lengkap dipasangi sabuk pengaman.

"Jangan aneh-aneh, lebih baik kita segera pulang".

Mobil segera melaju pergi meninggalkan parkiran gedung perusahaan menuju apartemen Naruto karena dia harus menurunkan barang-barang hadiah tersebut sebelum nanti malam mengantarkan Rias pulang.

.

.

Tak terasa sudah seminggu Naruto berhenti bekerja dan menjadi seorang pengangguran, jika biasanya pagi hari seperti sekarang dia sudah bangun kini justru karena tak punya kewajiban seperti sebelumnya ia bisa tidur lebih lama. Badan besar pria bersurai pirang itu masih terbaring di kasur tempatnya berselancar di alam mimpi.

Walaupun sinar mentari di luar sudah mulai menyinari bumi namun tak berpengaruh pada Naruto, dirinya masih saja terlelap pulas bahkan saking pulasnya ia tak mendengar ada seseorang yang membuka kunci rumahnya dan masuk ke dalam.

"Naru... sudah bangun ?", suara panggilan dari seorang wanita mengalun di ruang tengah apartemen coba mengetahui apakah si empunya rumah sudah bangun atau belum.

Tak ada sahutan barulah orang tersebut berjalan menuju kama tempat dimana kemungkinan besar orang yang ia cari berada, begitu pintu terbuka yang pertama orang itu lihat adalah sosok lelaki dewasa tertidur pulas dengan wajah tampannya tampak.

Ia menghampiri pria tersebut dan coba membangunnya dengan sedikit mengguncangkan bahu pria tersebut. "Naru~, cepat bangun ini sudah pagi" guncangan yang dirasakan Naruto membuatnya dengan perlahan membuka mata, pandangan pertamanya langsung melihat sesosok wanita berparas cantik.

Bukannya bangun seperti yang diperintahkan Naruto justru kembali menutup matanya dan malah memeluk pinggang wanita tersebut serta mengajaknya merebahkan diri di kasur.

"Lima menit lagi, tubuhmu hangat aku suka", dengan sambil memeluk tubuh montok Rias yang membuatnya semakin nyaman Naruto kembali mencoba tidur.

Rias membiarkan Naruto kembali tidur dengan ia menemani, sambil menghabiskan waktu sebanyak lima menit seperti yang diminta Rias mengamati dan membelai surai pirang acak-acakan dari si Uzumaki. Tak berasa waktu berjalan hampir sepuluh menit dan melebihi perjanjian sebelumnya, dengan lembur wanita Gremory itu menepuk pelan pipi Naruto, "ayo bangun!, sudah lewat sepuluh menit".

Kata-kata Rias tak diindahkan oleh Naruto dan pria itu melepaskan pelukannya pada sang wanita untuk berganti posisi menjadi telentang, jengah karena dirinya tak ditanggapi membuat Rias langsung naik menduduki perut dari pria yang tengah telentang tersebut.

"Tak ada pilihan lain sepertinya", tubuh Rias condong ke arah depan supaya ia bisa mendekati wajah tampan dari kekasihnya. Kecupan singkat Rias daratkan mulai dari kening, kedua kelopak mata, pipi, pucuk hidung, dagu dan yang terakhir ke bibir yang membuat Naruto langsung membuka mata sebari tersenyum cerah. Tampaknya ia sudah merencanakan hal tersebut sebelumnya.

"Nahhh sudah bangun, ayo cepat mandi ini sudah siang", saat Rias baru saja ingin turun dari tubuh Naruto tiba-tiba saja pria itu kembali memeluknya dan membawa tubuh montok wanita itu tiduran di kasur, tak sampai disitu saja Naruto juga menggelitik pinggang si Gremory hingga membuat wanita itu tertawa dan menggeliat mencoba melepaskan diri.

Merasa kesusahan bisa lolos dari Naruto yang berada dalam mode jahil tanpa ampun Rias melesakkan sikutan yang penuh cinta menghantam perut dan sukses membuat dirinya lepas dari genggaman Naruto.

"Kau jahat" sambil memegangi perutnya yang baru saja kena hantaman Naruto bangkit dan duduk di pinggiran kasur setelah Rias sudah turun dan berdiri di depannya.

"Makanya jangan jahil!, cepat mandi sana!" Rias merapikan rambut dan bajunya yang sempat tersingkap saat dirinya mencoba membebaskan diri.

"Iya... iya".

Keduanya keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju dapur, Rias akan menyiapkan makanan yang sudah ia beli tadi sebelum datang ke apartemen sedangkan Naruto sudah bersiap untuk mandi. Kebetulan kamar mandi terletak di samping dapur jadinya ketika akan mandi Naruto sempat menjahili Rias lagi dengan mencoba menarik wanitanya itu masuk ke dalam.

.

Selesai dengan mandi dan sarapan pagi keduanya sudah siap-siap berangkat ke tempat yang berbeda namun karena searah Naruto meminta Rias mengantarkannya dulu.

"Ada keperluan apa datang ke Uchiha corp ?", dibalik kemudi Rias menanyakan kepentingan Naruto yang akan datang ke salah satu perusahaan besar tersebut yang baru wanita itu ketahui bahwa salah satu petingginya adalah teman kekasihnya.

"Sasuke menyuruhku datang, entah ada urusan apa".

"Ahhhh begitu, kukira Naru akan kerja di sana".

Obrolan dan perbicangan keduanya terus berlangsung hingga akhirnya tiba di sebuah gedung pencakar langit yang menjadi bangunan perusahaan Uchiha, segera setelah sampai Naruto ingin turun dari mobil namun Rias memanggil namanya seperti ingin menyampaikan sesuatu. "Naru apakah nanti mau dijemput ?".

"Tidak usah, lagipula ini tidak akan sampai sore kurasa. Baiklah kalau begitu aku pergi dulu" Naruto melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil tapi sebelum itu dia mencium kening Rias tepat sebelum pergi dan masuk ke dalam gedung.

"Dia menjadi bersikap lebih manis akhir-akhir ini" Rias tersenyum manis melihat kepergian Naruto, sesudah pria itu masuk ke gedung barulah ia melanjutkan perjalanan ke tempatnya bekerja.

.

Naruto berjalan masuk ke gedung tinggi itu, karena sudah tahu dimana letak ruangan Sasuke ia segera menuju ke sana. Di perjalanan beberapa orang yang berpapasan dengannya akan sedikit menoleh dan menatapnya curiga karena merasa asing dengan sosok Naruto apalagi pakaian yang dikenakan pria pirang tersebut bukan setelah kerja kantoran bisa berkeliaran di sana, setelah menaiki lift dirinya tiba di depan pintu ruangan berbahan kayu, segera setelah itu dia mengetuk pintu sebelum masuk.

"Akhirnya kau tiba juga", Sasuke bangkit dari meja kerjanya dan beralih ke sofa yang diikuti oleh Naruto juga duduk di sana.

"Ada perlu apa kau sampai menyuruhku datang kemari ?" Naruto duduk di depan Sasuke yang bahkan tak menyuguhkan minuman padanya.

Tanpa berkata-kata pria bermarga Uchiha itu menaruh secarik kertas di atas meja, "aku perlu bantuanmu mengerjakan ini, kau harus mau dan pergi duduk di kursi sana !". Tanpa persetujuan dan lebih terkesan memaksa Sasuke menyerahkan kertas tersebut yang begitu Naruto baca membuatnya sedikit membelalakkan mata.

"Kau serius memintaku mengerjakan ini ?", dengan raut wajah seolah tak percaya Naruto masih menggenggam kertas di tangannya.

"Tentu saja, jadi cepat kerjakan di sana dan jangan banyak omong. Oh iya aku juga akan membayarmu untuk itu", mendengar ada nominal uang yang bermain di sana membuat Naruto malah bersemangat, lumayan untuk menambah-nambah uang jajan dengan hanya mengerjakan hal kecil pikirnya. Ia segera menuju tempat yang Sasuke maksud dan tanpa buang-buang waktu ingin cepat menyelesaikan hal tersebut dan pergi dari sana.

Sasuke juga kembali ke mejanya karena juga memiliki hal lain yang harus ia kerjakan.

.

Butuh waktu cukup lama bagi Naruto menyelesaikan hal yang diberikan Sasuke, dari tadi pagi dan sekarang hampir memasuki jam makan siang ia baru bisa membereskan semuanya. Sungguh diawal ia mengira bisa membereskannya dalam waktu singkat namun ternyata ia salah, banyak hal yang diluar perkiraan sehingga dirinya harus mengerjakan satu persatu dan karena hal tersebut cukup memakan waktu.

Sasuke mendatangi Naruto yang tampaknya sudah selesai karena sahabat pirangnya itu tak sefokus sebelumnya, iris hitamnya melihat ke arah pekerjaan Naruto. Sebuah tarikan senyum tipis yang saking tipisnya hampir tak kelihatan.

"Kau cukup hebat, mulai besok kau sudah boleh bekerja di sini", sebuah perkataan dari Sasuke langsung membuat Naruto terlonjak kaget sehingga pria itu reflek berdiri dari posisi duduknya.

"Apa maksudmu ?", Naruto sedikit berteriak.

"Mulai besok kau bekerja padaku, ini adalah tesmu dan kau bisa melewatinya", dengan wajah datar seperti biasa Sasuke menyilangkan tangan di depan dada mencoba memperlihatkan kekuasaannya di hadapan Naruto yang tak berpengaruh sama sekali, justru pemuda Uzumaki itu saat ini ingin menghantamkan tangannya ke wajah si pewaris Uchiha.

"Aku tidak mau, intinya aku hanya mengerjakan ini karena kau membayarku dan tak ada tes-tesan. Jadi bayar saja dan aku akan segera pergi ok!", tak mau kalah Naruto segera menolak mentah-mentah ajakan Sasuke bekerja padanya dan saat ini dirinya ingin segera pergi karena urusannya telah selesai.

"Baiklah", malas berdebat karena tak ada gunanya Sasuke mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana, segera setelah itu ia memperlihatkan pada Naruto yang ternyata adalah bukti transfer uang ke rekening si Uzumaki.

"Bagus... kalau begitu aku pergi dulu", Naruto segera beranjak pergi karena tak ingin terlalu lama ada di sana, jika kelamaan yang ada bisa saja saat lengah Sasuke memberikannya kontrak kerja dan jika itu terjadi kebebasan yang baru saja ia dapatkan akan hilang.

Jujur saja ini bukan pertama kalinya Sasuke menawari dan memaksanya bekerja untuk pria Uchiha itu bahkan semenjak ia keluar dari perusahaan sebelumnya Sasuke sudah beberapa kali hampir menjebaknya seperti sekarang.

Sekeluarnya dari gedung Uchiha kini Naruto entah mau kemana, dia sendiri bingung apa yang harus dikunjungi di siang bolong seperti ini jadinya ia hanya berjalan mengikuti kemana kakinya melangkah, blok demi blok wilayah perkantoran ia lewati hingga tak sadar akhirnya ia tiba di wilayah gedung yang menjadi tempat dirinya dan Rias bekerja sama bertemu klien serta ia juga ingat dirinya meninggalkan Rias sendirian di sini saat ia balik ke kantor.

Karena sudah tanggung ada di sana dan perutnya juga terasa cukup lapar jadi ia memutuskan mendatangi caffe tempat Rias waktu itu menunggunya yang kebetulan tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Saat sampai ia segera masuk dan memesan makanan serta secangkir kopi di sana, tempat tersebut tampak cukup ramai dan di dominasi oleh wanita-wanita muda yang nongkrong di sana otomatis Naruto langsung menjadi perhatian mereka.

Sang pemilik tempat yakni Akeno yang berada di belakang kasir melihat Naruto kini duduk di sebuah meja secara diam-diam memotret pria pirang tersebut, puas dengan hasil fotonya ia melipir mengirimnya pada seseorang dan menambahkan keterangan pada foto tersebut.

.

Di tempat lain tampak beberapa orang pria dan wanita berjalan beriringan meninggalkan sebuah gedung perusahaan, getaran dari ponsel salah satu diantara mereka membuat si pemilik merogoh saku celananya guna mengambil benda elektronik tersebut.

Dirinya melihat ada sebuah pesan masuk dan segera membukanya, begitu mengetahui dan membaca pesan tersebut ia segera menghentikan langkahnya. "Minna-san maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut bersama kalian karena ada urusan mendadak. Mungkin lain kali saja aku ikut bersama kalian, dan lain kali aku yang akan mentraktir" ia segera berlari kecil menjauh meninggalkan teman-temannya yang lain.

"Sepertinya menjadi atasan tak selamanya menyenangkan", salah satu wanita diantara mereka mengungkapkan pemikirannya setelah melihat atasannya itu pergi secara mendadak padahal mereka akan makan siang bersama.

"Aku setuju, pasti merepotkan mendapat urusan mendadak dan harus segera pergi saat itu juga, bukan begitu Asia?", kali ini giliran si lelaki berambut cokelat yang berbicara dan meminta persetujuan dari gadis pirang disampingnya yang ia panggil Asia.

"Huum, kuharap lain kali Rias-sama bisa pergi dengan kita tanpa ada gangguan".

Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju restoran yang sudah direncanakan sebelumnya walaupun satu diantara mereka sudah pergi barusan.

.

Rias segera meluncur pergi ke caffe milik Akeno yang barusan saja ia mendapatkan pesan dari temannya tersebut jikalau Naruto sedang ada di sana sendirian, hal tersebut sebenarnya bukan masalah namun dari keterangan yang diberikan Akeno bahwa pengunjung wanita cukup terpesona akan kehadiran kekasih Rias tersebut dan menjadikan pria itu pusat perhatian dari para wanita muda.

Begitu tiba Rias segera masuk ke dalam caffe dan melihat ke arah Akeno yang tampaknya sudah menunggunya, sahabatnya itu memberikan kode dengan mata memberitahukan dimana tempat saat ini si Uzumaki berada. Benar saja pria itu sedang duduk sambil menikmati kopi dan makanannya, tampak juga beberapa wanita yang tempat duduknya tak jauh dari Naruto sengaja curi-curi pandang pada pria itu, namun entah tak peduli atau memang tak tahu dia malah asik sendiri dengan makannya sehingga tak menyadari kedatangan Rias yang kini sedang menarik kursi dan duduk di hadapannya.

Mengetahui ada orang yang menempati tempat duduk di hadapannya Naruto mendongakkan kepala mencoba melihat siapah orang tersebut karena dia barusan menikmati makanannya sambil menunduk.

Ia lumayan terkejut karena saat ini Rias yang sedang duduk sambil menyilangkan kaki dan bersidekap dada, Naruto menelan makanan yang masih ada di mulut sebelum berbicara. Belum sempat berbicara lebih dulu Rias menanyai Naruto, "bukanlah Uchiha corp dan tempat ini lumayan jauh ?".

"Aku selesai lebih cepat dan memutuskan jalan-jalan hingga tak sadar ada di sekitar sini, jadi sekalian saja aku makan siang. Lalu, kau sendiri kenapa bisa tahu aku ada di sini ?", Naruto balik bertanya karena dia sama sekali tak memberitahu pada Rias dirinya ada di mana.

"Seseorang memberitahuku dirimu ada di sini jadi aku segera kemari", Rias menurunkan posisi tangannya untuk bisa meraih pisau yang Naruto gunakan. Dengan pisau di genggamannya Rias menggores piring sehingga menimbulkan bunyi berdecit ngilu yang tercipta dari gesekan piring dan pisau, matanya juga melirik ke arah beberapa wanita yang tadi curi-curi pandang pada Naruto.

Sadar dengan penyebab perbuatan Rias, Naruto segera meraih tangan kekasihnya tersebut dan melepaskan pisau dari genggaman si Gremory. Selain itu juga Naruto cukup ngeri jika Rias menusukkan ke orang lain. "Kau pasti lapar, mau makan apa? biar kupesankan" Naruto hendsk berdiri dan membelikan makanan untuk Rias untuk bisa sedikit mengalihkan perhatian wanita itu dan juga pastinya saat ini ia belum makan siang.

"Makanan yang sama seperti yang Naru pesan", pandangan Rias tak lagi melihat ke arah wanita-wanita tadi.

"Baiklah tunggu sebentar, oh iya tolong jangan sentuh pisau dan menatap mereka seperti tadi!".

"Aku tak janji", jawaban cepat dari Rias sukses membuat Naruto sweatdrop. Dirinya harus segera memesan apa yang Rias mau dan segera kembali sebelum wanitanya itu menusuk orang menggunakan pisau.

Ditengah Naruto yang khawatir jika Rias akan menusuk orang tampak ada sesosok wanita cantik yang berada di belakang kasir hanya senyam senyum melihat si Gremory dan Uzumaki. Dirinya sengaja mengirimi Rias foto Naruto yang diperhatikan oleh beberapa wanita demi bisa melihat apakah si pria pirang memang pacar Rias atau bukan karena waktu itu ia sedikit menyimpan keraguan namun kini semuanya sudah clear.

.

Selesai makan siang kini Naruto dan Rias sedang berada di parkiran, "mau kuantar kembali ke kantor ?". Naruto menawarkan diri mengantar dan menemani Rias namun wanita itu menggelengkan kepalanya, "ini sudah lewat jam makan siang, jadi hari ini aku hanya akan masuk setengah hari saja. Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu berdua ?".

"Mau kemana ?", Rias tampak memikirkan kemana dia ingin pergi sampai sebuah ide muncul di kepalanya. Dia mendekati Naruto dan membisikkan sesuatu ke telinga pria itu, mendengar gagasan dari Rias Naruto tersenyum lalu mengajak si Gremory ke dalam mobil.

Kendaraan mewah berwarna mewah itu segera melaju menuju tempat yang diinginkan oleh Rias.

.

.

Rias dan Naruto sedang berada di ruangan luas yang cukup gelap, tampak penerangan cukup minim dan hanya berasal dari sebuah layar berukuran besar di depan mereka. Dan benar sekali mereka sekarang sedang ada di dalam ruangan bioskop, di dalam sana ada beberapa orang ataupun pasangan lain sama seperti duo NaruRias.

Film yang saat ini sedang di putar memang sudah masuk dalam list tontonan yang akan di tonton oleh Naruto dan secara kebetulan Rias mengajaknya jadi tanpa basa basi si pirang menyetujuinya juga ditambah karena saat ini jam sibuk serta weekday jadinya bioskop cukup lowong dan tak penuh. Sambil fokus menonton Naruto juga sesekali menikmati popcorn yang dipegang oleh Rias, padahal tadi mereka sudah makan namun seperti belum kenyang Rias malah membeli popcorn dengan ukuran besar dengan dalih menonton di bioskop kurang pas jika tanpa popcorn dan soda.

Sama halnya dengan Naruto, Rias juga sudah menantikan film yang saat ini mereka tonton. Namun bukan hanya masalah filmnya saja yang ditunggu-tunggu tapi bagi Rias ini juga pertama kalinya ia datang ke bioskop dengan seorang pria apalagi pria tersebut adalah pacarnya, memang dulu jaman sekolah ia beberapa kali ke bioskop namun itu hanya berdua bersama Akeno.

Lebih dari sejam film berputar Rias akhirnya kehabisan popcorn dan juga secara tak sengaja melihat sepasang kekasih yang duduk tiga baris di depannya. Posisi si wanita yang dirangkul oleh si pria membuat Rias sedikit iri, maka dengan dasar itulah ia mengangkat lengan kanan Naruto dan mendekatkan diri pada si pirang sebelum akhirnya membuat posisinya dirangkul oleh Naruto.

Naruto tak menanyakan apa pun dan kembali lanjut nonton namun ia juga menyambut niatan Rias tersebut dengan menarik kepala Rias supaya bersandar padanya dan menautkan tangan sebelah kiri yang tadi menganggur.

.

Film sudah memasuki bagian akhir dan sudah mencapai klimaksnya, Naruto mengalihkan sebentar perhatiannya dari layar di depan sana namun sialnya dia menoleh ke arah kiri dimana ada pasangan yang sedang asik berciuman tak memperdulikan keadaan sekitar. Menghindari pemandangan yang mencemari matanya Naruto membuang muka ke arah lain yakni dia ingin melihat Rias namun entah anugerah atau musibah yang ia lihat adalah belahan dada dari si Gremory yang terpampang jelas bahkan samar-samar Naruto dapat melihat dalaman yang dikenakan pacarnya tersebut.

Tangan yang tadi saling tertaut dengan Rias kini Naruto lepaskan guna pria itu bisa menutup wajahnya sambil ia pijit juga keningnya, "sialan... bioskop memang tempat penuh dosa".

Rias tadinya memerhatikan film kini penasaran dengan Naruto yang justru menutup wajah dan memijit keningnya sendiri, rasa penasaran dan tanda tanya sempat muncul di kepala Rias namun kala dirinya juga secara tak sengaja melihat satu pasangan beberapa kursi dari mereka tengah berciuman membuat wajah Rias memerah. Ia kembali menatap lurus ke depan, namun walaupun begitu wajah Rias masih belum berhenti nemerah. Dirinya tak habis pikir ada orang yang berani berciuman seperti itu di dalam bioskop apalagi sepengetahuannya ada kamera cctv di dalam ruangan tersebut.

Di sisa film Naruto dan Rias sudah tak lagi fokus dan sibuk dengan pemikiran masing-masing, hingga pemutaran film usai duo NaruRias keluar urutan terakhir sambil berpegangan tangan tanpa bersuara.

Saat sudah sampai di pintu keluar mereka malah berpapasan dengan orang yang keluar dari ruangan bioskop sebelah yang memutar film berbeda, "bukankah itu adikmu Sirzechs-kun ?" suara lembut dari seorang wanita berambut silver menjadi pemecah keheningan yang sedang terjadi.

Naruto membulatkan matanya secara sempurna begitupun dengan Rias, mereka secara tak sengaja berpapasan dengan sosok pria yang menjadi kakak dari Rias dan mantan atasan Naruto.

"Ni-nii-sama/Sirzechs ?".

Sirzechs yang juga sama terkejutnya melihat saat ini Naruto dan adiknya Rias tengah berpegangan tangan hanya menyeringai seperti baru saja mendapatkan jackpot.

.

.

.

TBC