My Lady

Kim Jongin aka Kai

Do Kyungsoo(Gs)

Other EXO members

Rated : M

.

.

.


Kaisoo in "My Lady" by trie1288


.

.

.

Malam sudah semakin larut Jongin dan Kyungsoo sudah berada di kamar, mereka tengah bersiap untuk tidur. Setelah membersihkan badannya Jongin menyusul Kyungsoo yang telah berbaring terlebih dahulu di tempat tidur. Gadis mungil telah memejamkan mata, tapi ia belum terlelap. Setelah tangisnya reda, Kyungsoo langsung ke kamar dan bersiap untuk tidur tanpa menghiraukan sang kekasih yang menyuruhnya untuk makan malam terlebih dahulu.

Jongin tahu jika Kyungsoo belum makan malam karena menunggunya. Jongin juga melihat makanan yang masih utuh di meja makan, ketika ia melewati ruang makan saat hendak mengambil air di lemari pendingin yang ada di dapur.

"Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah"Jongin berucap setelah memberikan kecupan di kepala Kyungsoo yang saat ini tengah berbaring memunggunginya.

Pria tan itu tahu jika sang gadis masih merasa sedih atas apa yang terjadi padanya malam ini. Ia sudah berusaha menenangkan dengan mengatakan bahwa apa yang terjadi padanya malam ini bukanlah karena kesalahanya tapi gadis mungil itu masih saja menyalahkan dirinya. Jika sudah seperti ini, Jongin tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia akan membiarkan Kyungsoo menangis untuk meluapkan kesedihan di hatinya.

"Jongin"

Panggilan Kyungsoo membuat Jongin kembali membuka mata dan membalik badannya untuk menatap sang kekasih yang kini tengah menatapnya.

"Ada apa sayang?"tanya Jongin lembut di sertai senyum tipis yang tersungging di bibirnya.

"Aku ingin kita melakukan 'itu' sekarang"ucap Kyungsoo seraya mengalihkan pandanganya untuk menatap langit-langit kamar.

"Melakukan apa sayang?"

"Melakukan hubungan intim yang sesungguhnya, Jongin"mata bulat Kyungsoo kini tepat mengarah ke mata Jongin yang masih menatap dengan tatapan sendu.

"Kenapa kau tiba-tiba ingin melakukanya, heum?"Jongin kembali menyungging senyum seraya mengusap pipi chubby sang kekasih.

"Kita sepasang kekasih yang saling mencintai, apa kita harus punya alasan khusus untuk melakukan itu?"

"Aku lelah sekali malam ini sayang, lain kali saja ya"

"Tidak mau, aku mau malam ini!"

Kyungsoo bangun dari posisinya untuk duduk dan mulai membuka kancing piyama yang ia kenakan tapi Jongin langsung menghentikanya dan memandang Kyungsoo dengan tatapan tajam.

"Hentikan Kyungsoo!"Jongin berucap tegas.

"Kenapa? Apa tubuhku tidak menarik? Apa aku tidak sexy hingga kau enggan untuk bercinta denganku?"

"Bukan karena itu, aku menolak karena aku tahu apa yang ada di pikiranmu saat ini"

"Jangan mencari alasan Jongin, aku tak memikirkan apa-apa saat ini. Aku hanya ingin kita melakukan hubungan intim yang sesungguhnya karena aku ingin belajar bagaimana cara untuk memuaskanmu jika kita sudah menikah nanti!"

"Yang mencari alasan bukan aku tapi kau, Kyungsoo"Jongin menjeda ucapanya untuk mengambil nafas "kau mengajakku berhubungan intim karena ingin membuktikan bahwa apa yang Kris tuduhkan padamu tidaklah benar. Bukan begitu Kyungsoo?"Jongin melanjutkan perkataanya.

Gadis bermata bulat itu hanya terdiam seraya menundukkan kepalanya, apa yang di katakan sang kekasih memang benar. Kyungsoo terus terpikir akan kebohongan yang di sampaikan Kris pada Jongin. Dan setelah cukup lama bergelut dengan pikirannya, akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk mengajak Jongin berhubungan intim dengan tujuan agar sang kekasih tahu jika apa yang katakan Kris hanyalah omong kosong belaka.

"Mencintai berarti mempercayai sepenuhnya dan jika aku mencintaimu berarti aku percaya sepenuhnya padamu tanpa pernah meragukanmu sedikitpun. Aku tidak perduli apa yang orang lain katakan tentangmu, sayang"Jongin berucap, kini nada bicaranya sudah kembali lembut.

"Aku tidak bisa janji untuk menahan diriku sampai kita menikah nanti, tapi aku akan melakukanya di saat yang tepat, saat di mana kita benar-benar menginginkanya karena cinta seperti apa yang kau katakan di awal tadi"Jongin melanjutkan perkataanya seraya meraih jemari mungil sang gadis yang kini kembali meneteskan air matanya.

"Jangan menangis lagi sayang, kau sudah banyak menangis malam ini"

Jongin mengangat dagu Kyungsoo, mengusap butiran air mata di pipinya kemudian menuntun sang kekasih untuk kembali berbaring.

"Sekarang sudah hampir pagi jadi jangan pikirkan apa-apa lagi dan tidurlah"Jongin mengecup puncak kepala Kyungsoo.

Pria tan itu lantas berbaring di samping sang kekasih dan mulai memejamkan matanya, ia berharap sang kekasih akan mengerti dan tak lagi menyalahkan dirinya. Jongin tak ingin hubunganya dengan Kyungsoo memburuk hanya karena omong kosong Kris. Pria tinggi itu akan merasa menang jika Kyungsoo dan Jongin sampai bertengkar. Tidak! Jongin tak akan membiarkan hal itu terjadi.

.

.

.

Hari sudah pagi, Kyungsoo telah selesai membuat sarapan dan juga menyiapkan perlengkapan Jongin seperti biasanya. Gadis mungil itu kini tengah menunggu sang kekasih di ruang makan seraya memainkan ponselnya.

"Selamat pagi, sayang"sapa Jongin, pria tan itu duduk di seberang yang kakasih.

"Selamat pagi, Jongin"balas Kyungsoo di sertai senyuman tipis sekilas.

"Mianhae Jongin, aku kesiangan saat bangun tadi jadi aku hanya bisa menyiapkan sarapan sederhana seperti ini"Kyungsoo kembali berucap seraya memberikan piring yang berisi roti panggang dan telur mata sapi pada sang kekasih.

"Tak apa sayang, walaupun sederhana tapi kalau kau yang membuatnya pasti terasa istimewa untukku"

Kyungsoo hanya mengulas senyum tipis saat mendengar jawaban Jongin. Suasana sarapan pagi ini terasa hening, Kyungsoo tampak serius menikmati sarapannya tanpa mengajak sang kekasih untuk berbincang seperti biasanya. Jongin ingin memulai pembicaraan, tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat wajah manis Kyungsoo yang masih terlihat murung pagi itu.

"Jongin-aa, pagi ini kau tak perlu mengantarku ke kantor karea aku akan berangkat bersama Luhan, dia sedang dalam perjalanan dari apartemen Sehun dan akan sampai sebentar lagi"ucap Kyungsoo setelah menghabiskan sarapanya.

"Apa kalian akan bertemu klien pagi ini?"

"Tidak, kami akan melihat lokasi yang akan di jadikan tempat untuk syuting iklan di daerah Icheon"

"Oh, ya sudah kalau begitu. Hati-hati dalam perjalanan dan jangan lupa mengabariku jika kalian sudah sampai di sana"

"Arraseo. Aku turun dulu, Luhan sudah menungguku di bawah"

Kyungsoo beranjak dari duduknya setelah menerima pesan dari Luhan yang mengatakan jika ia sudah sampai. Setelah mengambil tas, gadis bermata bulat itu langsung melenggang pergi meninggalkan sang kekasih yang hanya menatapnya dengan tatapan sendu.

"Dia bahkan tak memberikan morning kiss untukku"Jongin bergumam lirih.

Kyungsoo menghela nafas begitu sampai di lift yang akan membawanya turun, gadis mungil itu sengaja menghindar dari sang kekasih. Kebetulan Luhan mengirim pesan dan meminta Kyungsoo untuk menemaninya ke Icheon pagi ini. Kyungsoo tak marah pada Jongin, ia hanya merasa sedikit canggung karena perdebatan semalam.

.

.

.

Jongin telah sampai di kantor, dan kedatanganya telah di tunggu oleh seorang pria yang kini tersenyum ramah padanya. Pria itu bernama Kim Jongdae, pengacara pribadi Jongin yang bertugas mengatasi setiap masalah yang menimpa pria tan itu. Apapun masalahnya, Jongdae selalu bisa mengatasi dengan baik dengan kecerdikan dan kesabaran yang di milikinya.

"Jadi bagaimana hyung?"Jongin memulai pembicaraan, keduanya memang selalu menggunakan panggilan akrab jika mereka hanya bicara berdua seperti saat ini.

Jongdae bersahabat dengan Jeonmyeon dan sang kakak juga yang merekomendasikan Jongdae saat Jongin tengah mencari seorang pengacara pribadi ketika ia baru saja di tunjuk untuk menjadi direktur oleh Ayahnya.

"Aku sudah mengurus semuanya, Jongin"Jongdae tersenyum ramah "awalnya mereka menolak untuk berdamai tapi setelah aku menunjukkan bukti pengintaian yang kau kumpulkan, akhirnya pihak Kris memilih untuk berdamai"lanjutnya.

Sebenarnya malam tadi, Jongin dan Kris di laporkan ke polisi oleh pemilik café tempat mereka bertemu. Urusan di kantor polisi membuat Jongin terpaksa pulang sampai larut malam karena ia harus menunggu Jongdae mengajukan permohonan pada polisi agar tak memasukkanya ke dalam sel dan mengijinkanya untuk pulang.

Jongin tak ingin membuat sang kekasih khawatir sepanjang malam karena menunggunya dan ia juga sengaja merahasiakan kejadian di kantor polisi dari sang kekasih. Jongin tak ingin Kyunngsoo semakin merasa bersalah jika mengetahuinya.

Otak licik Kris langsung bekerja dengan cepat, ia memanfaatkan kejadian malam itu untuk menuntut Jongin yang memang bersalah karena telah memukul Kris terlebih dahulu. Tapi ternyata Jongin telah bersiap diri untuk menghadapi kelicikan Kris.

Pria tan itu telah mengumpulkan bukti dari hasil pengintainya selama ini dan ia berniat mengirimnya pada calon mertua Kris yang terkenal over protectif pada putri semata wayangnya, Zitao. Kebetulan saat ini Jongin sedang dekat dengan calon mertua Kris karena perusahaan mereka tengah menjalin kerja sama.

Jika sudah seperti itu Kris tak bisa berbuat apa-apa lagi dan dengan sangat terpaksa Ia menyerah pada Jongin dari pada harus kehilangan kesempatan untuk menikah dengan Zitao.

Jongin kini telah menunjukkan siapa dirinya, pria tan itu tak akan segan untuk menghancurkan Kris dan keluarganya jika pria tinggi itu kembali mengusik hubunganya dengan Kyungsoo.

"Gomawo hyung, maaf karena kemarin malam aku telah menyita waktu santaimu bersama keluarga"

"Sama-sama Jongin. Kau tak perlu sungkan seperti itu karena tugasku sebagai pengacaramu adalah menyelesaikan semua malasah yang datang padamu, kapanpun dan di manapun"

" Arraseo hyung"

Mereka mengakhiri perbincangan karena Jongin harus segera menghadiri beberapa rapat penting dan Jongdae langsung kembali ke kantornya.

Akhirnya pria tan itu bisa bernafas lega karena ia telah berhasil menjauhkan Kris dengan caranya sendiri. Kini Pria tinggi itu tak akan lagi mengganggu hubunganya dengan sang kekasih dan Jongin hanya perlu menyelesaikan sedikit kesalahpahaman yang membuat hubunganya dengan sang kekasih sedikit renggang pagi tadi.

Tapi sayangnya harapan Jongin tak berjalan sesuai dengan kenyataan, Kyungsoo memutuskan pulang ke rumah orang tuanya sepulang dari Icheon sore tadi. Gadis bermata bulat itu mengirim pesan tepat ketika Jongin hendak keluar kantor untuk menjemputnya. Ini adalah hari jum'at dan mau tak mau Jongin harus melewatkan akhir pekannya tanpa sang kekasih kali ini.

.

.

.

Jongin berjalan dengan lesu menuju sofa ruang tengah yang ada di rumah besar itu, ia terlihat tak bersemangat hingga membuat Jeonmyeon dan Yixing mengerutkan keningnya karena heran. Jongin juga memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya.

"Kau kenapa Jongin? Kenapa lemas seperti itu? Apa kau sakit?"Yixing menghampiri adik iparnya.

"Tidak noona, aku hanya lelah saja"Jongin membalas lirih

"Lelah badan atau lelah hati?"Jeonmyeon menyahut, menggoda sang adik.

Jeonmyeon sangat hafal bagaimana sifat adiknya. Hanya dengan melihat saja ia sudah tahu jika Jongin tengah ada masalah dengan kekasihnya.

"Tumben kau di rumah hyung?"Jongin mengalihkan pembicaraan.

"Hanya mampir sebentar sambil mengantar kakak iparmu pulang, masih ada jadwal operasi jadi aku akan kembali ke rumah sakit sebentar lagi"balas Jeonmyeon.

Saat ini Yixing tengah hamil enam bulan dan siang tadi ia datang ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan rutin yang di lakukan setiap bulan.

"Kapan eomma pulang hyung?"Jongin kembali bertanya.

"Mungkin besok sore"Jawab Jeonmyeon singkat.

"Besok? Apa eomma ada operasi penting hyung? tumben sekali sampai menginap di Rumah sakit seperti itu"

"Eomma sedang menghadiri seminar di Jeju, Jongin"Yixing membalas ucapan adik iparnya, mertuanya memang pamit untuk menghadiri seminar di Jeju kemarin pagi.

"Jeju? Berarti Appa pergi ke Jeju untuk menyusul eomma?"

"Appa juga pergi ke Jeju?"kini Jeonmyeon yang bertanya.

"Iya, Appa terlihat buru-buru saat pergi tadi. Bahkan Appa mengabaikanku, padahal ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padanya"Jongin membalas dengan wajah cemberut karena kesal

"Jangan merajuk seperti itu, mungkin appa memang ada urusan di sana. Ada masalah apa? bicarakan denganku saja, siapa tahu aku bisa membantumu"Jeonmyeon menyahut, sedangkan Yixing hanya tersenyum melihat Jongin cemberut seperti anak kecil.

"Masalah pekerjaan, hyung tak akan mengerti"balas Jongin lirih sebelum beranjak pergi meninggalkan Jeonmyeon dan Yixing untuk pergi ke kamarnya.

.

Keesokan harinya, Jongin hanya menikmati liburanya dengan bermain bersama anjing kesayanganya di pagi hari. Siang harinya ia hanya bermalas-malasan di depan televisi untuk menonton tayangan kartun pororo. Kartun favorit sang kekasih yang sangat ia rindukan saat ini.

Sejak semalam Jongin terus memikirkan Kyungsoo. Gadis bermata bulat itu tak menghubunginya, ia hanya sesekali saja membalas pesan chat darinya dengan jawaban singkat dan padat.

"Astaga Jongin, kenapa berantakan seperti ini?"Eomma Jongin menyapa dengan sedikit omelan ketika baru saja tiba di rumah.

Hari sudah malam, dan Jongin masih belum bergerak dari depan televisi sejak siang tadi. Jeonmyeon sempat menghubungi Yeri dan meminta adik sepupunya itu untuk menghibur Jongin. Yeri datang dan mengajak Jongin untuk pergi ke bioskop dan makan malam bersama tapi Jongin langsung menolaknya.

"Oh…Eomma dan Appa sudah pulang"Jongin membalas.

"Ada apa Jongin? kenapa kau terlihat kusut seperti itu?"sang eomma kembali bertanya.

"Tak ada apa-apa eomma"

"Apa yang ingin kau bicarakan Jongin?"sang Appa yang baru datang langsung menyahut, Ia masih ingat jika putranya ingin menyampaikan sesuatu saat ia hendak berangkat ke Jeju kemarin siang.

"Itu bukan hal yang penting. Appa dan eomma pasti lelah, silahkan istirahat saja"balas Jongin, mengalihkan pembicaraan.

Jongin kembali menikmati kesendiriannya setelah Ayah dan Ibunya berlalu untuk beristirahat. Ia masih enggan untuk beranjak ke kamarnya sekalipun malam sudah larut. Jongin kembali mengirim pesan chat pada sang kekasih tapi ia tak mendapat balasan.

.

.

Pagi ini anggota keluarga Kim telah berkumpul untuk sarapan bersama. Jeonmyeon yang mendapat jatah libur telah terlihat tampan, ia hendak mengajak sang istri untuk pergi berkencan. Tuan dan Nyonya Kim juga sudah terlihat segar karena telah beristirahat setelah pulang dari Jeju semalam. Diantara semua orang yang ada di ruang makan, Jonginlah yang paling berantakan. Pria tan itu baru saja bangun, karena paksaan sang Ibu.

"Aku selesai"Jongin berucap setelah menghabiskan setangkup roti dan segelas susu yang di siapkan oleh Ibunya.

Pria tan itu beranjak meninggalkan meja makan tanpa memperdulikan sang Ibu yang memanggilnya untuk berbincang terlebih dahulu. Tuan dan Nyonya Kim memang selalu memanfaatkan sedikit waktu setelah sarapan untuk berbicang dengan semua anggota keluarga jika mereka tengah berkumpul seperti saat ini.

"Sepertinya Jongin sedang merajuk"Jeonmyeon berucap.

"Jongin terus diam seperti itu sejak datang ke sini kemarin malam"Yixing menambahkan.

Sang Ayah hanya menghela nafas kasar, Ia menyadari kesalahan karena telah mengabaikan putra bungsunya yang mungkin ingin mendiskusikan sesuatu yang penting dua hari yang lalu. Tanpa menunggu lama akhirnya Tuan dan Nyonya Kim menghampiri putra bungsunya yang kini kembali bermalas-malasan di ruang tengah. Sedangkan Jeonmyeon dan Yixing langsung pergi, mereka tak ingin mencampuri urusan adiknya.

"Jongin-aa, eomma mewakili appa ingin meminta maaf padamu"sang Ibu membuka pembicaraan.

"Maaf untuk apa Eomma?"Jongin membalas.

"Sebenarnya eomma yang meminta Appamu untuk menyusul eomma di Jeju. Kami harus mengurus sesuatu yang penting di sana, jadi Appa terpaksa mengabaikanmu kemarin"Eomma Jongin kembali berucap, wanita paruh baya itu berusaha selembut mungkin menghadapi sikap kekanakan putra bungsunya itu.

Sekalipun Jongin terlihat dewasa dan berwibawa saat tengah bekerja tapi terkadang sisi manjanya sebagai putra bungsu dalam keluarga masih melekat pada dirinya. Apalagi jika tengah menginginkan sesuatu seperti saat ini.

"Sekarang katakan apa yang ingin kau sampaikan kemarin, Appa dan Eomma akan mendengarkannya" sang ayah menambahkan.

Jongin menghela nafas sebelum mengungkapkan semua yang ingin ia sampaikan pada sang Ayah sejak dua hari yang lalu. Pria tan itu tak ingin menundanya lagi, tak apa terlambat sedikit dari pada tak di mencoba sama sekali.

.

.

.

Situasi yang hampir sama di juga di hadapi oleh kedua orang tua Kyungsoo. Mereka sedikit khawatir melihat putrinya yang terlihat murung sejak pulang ke rumah dua hari yang lalu. Tapi meskipun begitu, kedua orang tua Kyungsoo memilih untuk diam dan tak bertanya karena terlebih dahulu karena biasanya Kyungsoo sendiri yang akan bercerita tentang masalah yang sedang di hadapinya pada sang Ibu yang memang selalu menjadi tempat mencurahkan isi hati paling nyaman bagi Kyungsoo.

"Kyungsoo-ya cepat mandi dan pakailah baju yang bagus, sebentar lagi teman Appa akan datang. Eomma ingin, kau menemani kami untuk menemui mereka"

Eomma Kyungsoo menghampiri putrinya yang sejak pagi tadi belum juga keluar dari kamarnya, gadis itu tengah bergelut dengan koleksi novel lamanya dengan sebuah kacamata bulat menempel di mata indahnya. Sejak semalam Kyungsoo mengisi waktunya dengan membaca novel untuk menghilangkan rasa bosan. Tak ada yang bisa ia ajak untuk bermain karena keponakan kembarnya sedang berkunjung ke rumah nenek dari pihak Ibunya sejak kemarin sore. Akhirnya Kyungsoo memilih untuk berdiam diri di kamar sambil membaca.

"Kenapa aku harus ikut menemui mereka?" Kyungsoo bertanya tanpa mengalihkan pandanganya dari novel yang tengah ia baca.

"Mereka mengajak seorang putra yang seusia denganmu jadi eomma ingin kau menemaninya untuk mengobrol"

"Aku tidak mau di jodohkan, Eomma"Kini mata bulat itu mulai terarah pada sang Ibu.

"Eomma tidak bilang akan menjodohkanmu Kyungsoo"

"Sama saja Eomma, awalnya hanya menemani ngobrol tapi pada akhirnya pasti akan membicarakan tentang perjodohan juga. Aku tidak mau Eomma, aku sudah memiliki Jongin dan aku hanya akan menikah dengannya"

"Ya sudah terserah kau saja, yang penting sekarang mandi lalu rapikan kamarmu. Eomma tidak ingin melihat kamarmu berantakan saat kau pergi ke kantor besok pagi"sang Ibu menutup pembicaraan lalu pergi dari kamar Kyungsoo.

Kyungsoo menghela nafas, jemari mungilnya meraih ponsel yang ada di atas nakas lalu membuka beberapa pesan yang di kirim oleh Jongin sejak kemarin malam.

"Aku sangat merindukanmu Jongin"Kyungsoo bermonolog seraya memandang wajah selca Jongin yang menjadi wallpaper di layar ponselnya.

.

Kyungsoo keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih tergulung di kepala membungkus rambut panjangnya yang masih basah. Kamarnya sudah telihat rapi dan bersih karena sebelum mandi tadi Kyungsoo telah merapikan novel-novel yang telah selesai ia baca untuk di simpan ke tempatnya semula. Gadis bermata bulat itu kini tengah mengeringkan rambutnya di depan meja rias yang ada di kamarnya.

"Kyungsoo, cepat ganti baju dan riaslah wajahmu sedikit. Mereka sudah datang"Eomma Kyungsoo kembali menghampiri putrinya di kamar.

"Aku tidak mau menemui mereka sekalipun eomma memaksa"Kyungsoo membalas tanpa membalikkan tubuh mungilnya yang kini tengah memunggungi sang Ibu.

"Kau yakin tidak ingin menemui Jongin"

"Jongin?"Kyungsoo membalik badannya, menatap penuh tanya pada sang Ibu yang kini mengulas senyum tipis.

"Jongin datang bersama kedua orang tuanya"

"Apa! benarkah? Apa yang harus ku lakukan, eomma?"Kyungsoo kaget dan langsung gugup seketika.

"Tentu saja menemui mereka, memangnya apa lagi yang akan kau lakukan?"sang eomma membalas santai.

"Tapi aku belum bersiap, eomma"

"Maka dari itu cepatlah bersiap Kyungsoo, dalam 15 menit kau harus sudah selesai. Jangan membuat mereka menunggu terlalu lama"

Sang Ibu berlalu meninggalkan Kyungsoo yang kini terlihat frustasi. Gadis bermata bulat itu tak menyiapkan apa-apa, karena Jongin tak mengatakan apapun tentang kedatanganya sore ini.

Kyungsoo berusaha untuk tenang, ini adalah moment penting karena ia akan bertemu kedua orang tua Jongin untuk pertama kalinya. Kesan pertama merupakan penilaian yang cukup penting dan Kyungsoo mencoba untuk berpenampilan sebaik mungkin agar kedua orang tua Jongin terkesan padanya.

Sejak keduanya berkencan dulu, Jongin belum pernah mengenalkan Kyungsoo pada kedua orang tuanya yang memang sangat sibuk dengan urusan pekerjaanya. Selain itu, Jongin juga sedikit ciut karena Ayahnya sempat menentang hubunganya dengan sang kekasih saat itu.

Lima belas menit telah berlalu dan kini Kyungsoo sudah tampak cantik dengan dress selutut berwarna biru muda dengan model sederhana. Rambutnya yang masih setengah kering ia biarkan terurai tanpa hiasan apapun. Sangat natural dan apa adanya, menggambarkan pribadi seorang Do Kyungsoo.

"Anyeonghaseyo"

Kyungsoo menyapa begitu memasuki ruang tamu dan membuat semua orang yang ada di sana mengalihkan pandanganya untuk menyambut kedatangan seorang yang telah mereka tunggu.

Jongin mengulas senyum tipis, menatap sang kekasih yang sangat ia rindukan beberapa hari ini. Dalam hati itu pria tan itu terus merapalkan pujian atas penampilan sang kekasih yang begitu cantik saat ini.

"Oh, kau sudah selesai Kyungsoo. Duduklah di sini"Appa Kyungsoo menunjuk sisi kosong di sebelahnya.

"Wah, ternyata Kyungsoo jauh lebih cantik dari yang eomma lihat di foto yang perlihatkan oleh Jongin"eomma Jongin berucap dan di balas oleh ucapan terima kasih oleh Kyungsoo dengan anggukan sopan.

"Semuanya sudah berkumpul jadi sekarang saatnya kau menyampaikan niat kedatanganmu ke sini Jongin"Appa Jongin memberi komando pada sang putra yang kini terlihat sedikit kaget.

Sekalipun ia telah meyakinkan diri sepanjang perjalanan tapi rasa gugup tetap melanda pria tan itu. Jongin mengungkapkan keinginanya untuk melamar Kyungsoo ketika kedua orang tuanya mengajaknya untuk bicara tadi pagi.

Awalnya Jongin berpikir jika kedua orang tuanya pasti akan sedikit mempersulit keinginanya hingga Jongin menyiapkan sebuah antisipasi dengan melakukan aksi merajuk layaknya anak kecil selama beberapa hari yang lalu.

Antisipasi yang di lakukan Jongin membuahkan hasil, kedua orang tuanya menyambut niat baik Jongin untuk melamar sang kekasih tanpa perdebatan sedikitpun. Bahkan Jongin sedikit takjub saat melihat keakraban orang tuanya dengan kedua orang tua Kyungsoo. Mereka sudah seperti teman lama yang tengah melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu. Padahal setahu Jongin mereka tidak mengenal satu sama lain sebelumnya.

Jongin menarik nafas lalu menghembuskanya perlahan, berusaha menghilangkan rasa gugupnya sebelum mulai bicara.

"Tuan dan Nyonya Do.. hari ini saya datang bersama kedua orang tua untuk melamar putri anda, Do Kyungsoo. Saya sangat mencintai putri anda dan saya ingin menjadikanya istri yang akan mendampingi sisa hidup saya untuk ke depannya. Saya mohon anda menerima niat baik ini" Jongin berucap dengan lantang dan tegas.

"Sebagai seorang Ayah, aku hanya bertugas untuk meneruskan jawaban yang akan di sampaikan oleh putriku. Jadi bagaimana Kyungsoo? apa kau menerima lamaran Jongin?"Appa Kyungsoo mengarahkan pandanganya pada sang putri yang kini mengangguk malu-malu seraya menyembunyikan wajah cantiknya dengan terus menunduk.

"Jangan hanya mengangguk seperti itu sayang, katakan dengan lantang kau mau atau tidak"Eomma Kyungsoo menambahkan.

"Aku menerimanya, Eomma Appa"cicit Kyungsoo lirih, gadis itu mulai mengangkat wajahnya yang kini terlihat merona merah karena malu.

"Kau sudah dengar jawabanya kan Jongin, sebagaimana Kyungsoo kami juga menerima niat baikmu dengan tangan terbuka"Appa Kyungsoo menegaskan jawabanya atas niat baik dari sang calon menantu.

Jongin dan Kyungsoo menghela nafas lega. Meraka saling menatap untuk beberapa saat dan tersenyum manis setelahnya.

"Kalau begitu kalian harus segera bersiap diri, dua bulan dari sekarang kalian akan menikah"Eomma Jongin menyahut dan perkataanya langsung membuat Jongin dan Kyungsoo menatap kaget ke arah wanita paruh baya itu.

"Apa maksudnya,Eomma? Dua bulan terlalu singkat untuk mempersiapkan pernikahan. Aku dan Kyungsoo harusnya menggelar pesta pertunangan terlebih dahulu baru kami akan menikah setelahnya"Jongin menanggapi ucapan sang Ibu dan Kyungsoo memberikan anggukan tanda setuju atas pernyataan Jongin.

"Langsung menikah saja tidak perlu ada acara bertunangan segala, kami para orang tua sudah menyiapkan semuanya sejak kalian telah kembali menjalin kasih beberapa bulan yang lalu. Kalian tinggal menyiapkan diri saja"Eomma Jongin kembali berucap di ikuti anggukan dari tiga orang tua lainnya.

Jongin dan Kyungsoo kembali bertukar pandang, keduanya semakin tak mengerti dengan semua yang di sampaikan oleh eomma Jongin.

"Sebenarnya Tuan Kim sudah melamarmu untuk putranya sejak 4 tahun yang lalu"Appa Kyungsoo berkata seraya menatap putrinya yang kini terlihat melebarkan mata bulatnya karena kaget.

"Benarkah?"Kyungsoo dan Jongin berucap bersamaan, pandangan keduanya tertuju pada Ayah mereka masing - masing.

"Kau telah memenuhi keinginan Appa untuk belajar di luar negri dan selama di sana kau menjalankan tugasmu dengan sungguh-sungguh hingga kau berhasil meraih nilai yang baik. Kami sangat bangga padamu, dan sebagai imbalan atas kerja kerasmu, kami berniat menjaga seorang gadis yang sangat kau cintai dengan melamarnya. Meminta pada Tuan dan Nyonya Do agar menjaga putri cantiknya untukmu"Eomma Jongin menyampaikan penjelasannya.

"Appa tidak pernah menentang hubunganmu dengan Kyungsoo. Appa hanya ingin membuatmu menjadi orang yang pantas untuk kekasihmu saat kau melamarnya seperti sekarang ini. Maaf karena Appa terpaksa berbohong padamu saat itu, Appa melakukan semua untuk kebaikanmu, Jongin"Appa Jongin menambahkan.

Jongin dan Kyungsoo hanya terdiam, mereka cukup shock mendengar pernyataan yang di sampaikan oleh kedua orang tua Jongin.

"Kenapa Appa dan Eomma merahasiakannya dariku? Bahkan eomma tak mengatakan apapun saat aku menjalin hubungan dengan pria lain"Kyungsoo berucap,memecah keheningan. Mata bulat gadis itu menatap penuh tanya pada wanita paruh baya yang ada di sampingnya.

"Kami para orang tua sangat yakin jika pada akhirnya kalian pasti akan kembali bersama. Sekalipun kau pernah bersama pria itu, tapi eomma tahu kalau kau tidak mencintainya jadi eomma membiarkanmu untuk mengikuti kata hatimu yang pada akhirnya memilih Jongin"Eomma Kyungsoo memberikan jawaban.

"Sekarang sudah saatnya kalian berbahagia jadi untuk apa menundanya terlalu lama"Appa Kyungsoo menambahkan.

Kyungsoo merasa terharu, ia tak mampu lagi menahan air mata. Gadis mungil itu kini berada dalam pelukan sang eomma yang tengah menenangkanya dari tangis bahagia.

"Terima kasih Appa,Eomma"

Jongin berucap lirih, pria tan itu tak pernah menyangka jika hari ini ia akan mendapat kejutan yang luar biasa indah dari kedua orang tuanya. Selama ini Jongin selalu khawatir jika kedua orang tuanya tak merestui hubunganya dengan sang kekasih bahkan pria tan itu pernah berpikir untuk menentang kedua orang tuanya jika sampai akhir hubunganya dengan Kyungsoo tak mendapatkan restu. Tapi kini ia bisa bernafas lega karena kenyataan yang ada sekarang berbanding terbalik dengan apa yang selalu ia bayangkan.

Akhirnya rasa penasaran yang sempat melanda Jongin beberapa saat lalu terjawab sudah, Ayah dan Ibunya sudah mengenal kedua orang tua Kyungsoo sejak 4 tahun yang lalu jadi wajar saja jika kini hubungan mereka menjadi sangat akrab.

"Maafkan aku Jongin"Kyungsoo berucap lirih.

Keduanya tengah duduk di teras belakang rumah Kyungsoo. Jongin dan Kyungsoo telah sepakat untuk menikah dua bulan ke depan. Mereka dengan senang hati akan mengikuti apa yang telah di siapkan oleh para orang tua. Kyungsoo dan Jongin akan fokus untuk menyelesaikan pekerjaan mereka agar bisa leluasa untuk mengambil cuti saat menikah nanti.

"Aku juga meminta maaf karena telah berkata keras padamu malam itu, aku terbawa emosi"Jongin membalas.

"Tak apa Jongin, semua yang kau katakan adalah benar. Aku melarikan diri ke sini bukan karena aku marah padamu tapi aku merasa malu atas sikapku yang begitu kekanakan malam itu"

"Aku akan memakluminya untuk kali ini, tapi kau tak boleh melakukanya lagi lain kali. Aku tak bisa jauh dari darimu dalam keadaan seperti itu, rasanya sangat menyiksa"

"Mianhae, aku tak bermaksud membuatmu tersiksa Jongin. Aku hanya ingin merenungi kesalahanku dengan menjauh darimu untuk sementara waktu"

"Semuanya sudah berlalu dan kita tak perlu membahasnya lagi. Sekarang kita harus fokus untuk menghadapi pernikahan kita"Jongin mengulas senyum seraya meraih jermari Kyungsoo, menggenggamnya erat lalu menciumnya dengan lembut.

"Aku tidak menyangka jika hubungan kita akan berjalan semudah ini Jongin, selama ini aku sedikit khawatir memikirkan masa depan hubungan kita"Kyungsoo berucap seraya menyandarkan kepalanya di bahu Jongin.

"Aku juga merasakan hal sama sayang dan sekarang aku merasa sangat bersyukur untuk semua kemudahan dan keindahan ini"Jongin membalas, sebelah tanganya meraih tubuh mungil Kyungsoo untuk peluknya.

"Aku mencintaimu Jongin"

"Aku juga mencintaimu Kyungsoo"

Ungkapan cinta menjadi penutup minggu sore yang indah untuk Jongin dan Kyungsoo. Keduanya sepakat untuk saling memaafkan dan melupakan pertengkaran kecil akibat kesalahpahaman yang terjadi beberapa hari yang lalu. Kini Jongin dan Kyungsoo telah siap untuk menyambut hari bahagia setelah berhasil melalui berbagai halangan yang datang untuk menguji hubungan cinta mereka. Pelangi pasti akan datang setelah badai berlalu, itulah kiranya ungkapan yang pas untuk menggambarkan kisah cinta Kyungsoo dan Jongin saat ini.

Tbc….

My Note : Konfliknya cuma mampir aja, jadi selesainya juga cepet hehe..Thanks for all review, sorry for typo and happy reading….