Karma, anak yatim piatu yang hidup sendirian di suatu kota yang terisolasi. Hidup bak sampah di dalam sangkar. Ia memiliki impian untuk melarikan diri, mengangankan kebebasan, cinta, dan kehangatan di luar sana. Suatu hari ia bertemu dengan Asano Gakushuu, mereka saling mengikat janji untuk bersama-sama keluar dari kota ini.

Songfict Jailbreak (脱獄) -Neru

~AsaKaru~

.

.

.

DISCLAIMER

Assassination Classroom (暗殺教室) (c) Yūsei Matsui

Jailbreak / Datsugoku (脱獄) (c) Neru / oshiire-P

.

.

.

Note :

Chapter 2 update~ AU, slight ShoAi (mungkin), OOC, OOT, TYPO, etc. Enjoy~

.

.

.

Chapter 2

" As Bird

.

.

.

Dua hari, tiga hari, seminggu, bahkan sebulan semenjak pertemuannya dengan Karma, Asano lebih sering pergi menghabiskan waktu dengannya. Memainkan permainan taktik monopoli yang makin mereka kuasai, berbincang-bincang kecil, sampai beradu argumen sudah menjadi agenda rutin mereka. Ya, hubungan pertemanan di antara mereka terjalin semakin erat. Asano mulai memahami sosok Karma, begitu pula dengan sebaliknya.

Tak tertinggal, tentang rencana melarikan diri. Mereka berjanji untuk bersama-sama kabur dari sangkar ini. Meski telah membicarakan berbagai cara untuk melarikan diri, mereka belum membuahkan hasil juga. Akan tetapi, hal itu tidak memadamkan kobaran api dalam hati mereka.

.

.

.

Hari ini cukup panas, terik matahari menyengat kulit. Hal itu tidak menjadi masalah bagi si surai merah dan jingga. Toh, mereka memang sudah terbiasa.

Si surai merah berlari kecil di atas tanah yang retak dan kering. Kepalanya mendongak, melihat angkasa biru. Langit biru cerah tanpa awan, sangat indah. Terlihat seekor burung merpati berwarna putih bersih terbang di atasnya.

"Hey, Asano! Lihat burung itu!" seru Karma kegirangan. Jari mungilnya menunjuk burung itu. Jarang sekali ia mendapati ada hewan di sekitar tempatnya tinggalnya—yang tidak mungkin organisme lain dapat hidup dengan baik disana.

"Burung itu terbang dengan bebas, ya..." gumam Asano. Ia memperhatikan burung itu dengan serius, seketika ia mendapatkan sebuah ide.

"Karma, bagaimana kalau kita menciptakan alat... Seperti burung itu?" usul Asano.

"Hm?" Karma menaikkan alisnya, tidak begitu mengerti dengan apa yang dikatakan Asano.

"Coba pikirkan, burung itu dengan kedua sayapnya, terbang bebas di angkasa... Dia dapat melewati sangkar yang tinggi! Bayangkan jika kita membuat alat seperti sayap itu! Kita bisa terbang bebas, melarikan diri, dan melihat dunia luar!" seru Asano kegirangan menjelaskan ide briliannya.

Manik emas Karma berbinar mendengar pernyataan Asano.

"Asano! Kau benar-benar jenius! Walau aku lebih jenius, tapi ayo kita coba idemu itu!" seru Karma. Siapa tidak kenal Karma, yang tidak akan pernah ikhlas memuji seseorang—terlebih pada seorang Asano. Asano tertawa kecil melihat tingkah Karma.

.

.

.

Tangan Asano tidak bisa diam. Ia sibuk berkutik dengan lembaran-lembaran kertas di depannya, sedang mendesain alat rancangannya. Sudah berminggu-minggu sejak idenya itu muncul, tetapi desainnya itu masih saja belum sempurna.

Asano kemudian menghela nafas lega, melemaskan jari-jemarinya.

"Karma, coba lihat ini!" Asano menunjukkan blue print pesawat terbangnya dengan bangga kepada Karma.

"Eh? Sudah jadi?" Karma mendekat, memperhatikan dengan cermat lembaran biru di depan matanya.

"Ya, konsepnya sudah jadi," Asano menatap wajah Karma yang yang sibuk memperhatikan blue printnya. Yang dilihat hanya dapat berdecak kagum.

"Hmm.. Karma, mungkin hari ini cukup itu dulu," ujar Asano sembari membereskan peralatannya yang tergeletak.

"Ha? Kenapa?" jeda sejenak. "Bukankah ini masih siang?" tanya Karma penasaran. Sorot matanya meredup, seakan kecewa.

"Hari ini ayahku akan pulang lebih awal. Kau tahu sendiri kan, aku pernah bercerita ia marah besar ketika aku tidak ada di rumah sampai malam?" jelas Asano seraya menghela nafas panjang. Sebenci apapun ia dengan ayahnya, ia tetap anak-anak yang takut ketika kena marah orang tuanya.

"Hah... baiklah," ujar Karma kecewa. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa berbuat apa-apa jika soal ayah Asano yang seram itu.

"Tapi pastikan besok kamu datang untuk membuat alat itu bersamaku!" ucap Karma. Sepasang mata emasnya menatap tajam lawan bicaranya.

"Oke, aku pasti akan datang! Tunggu saja aku," seru Asano mantap. Bersiap-siap untuk meninggalkan Karma.

"Dan Karma, tolong simpan blue printnya, ya!" pinta Asano, menyerahkan rancangan pesawat terbangnya pada Karma.

"Aku mengerti, serahkan padaku!" tangan Karma mengambil lembar biru dari Asano. Mereka berpamitan. Asano lalu melangkahkan kakinya, pulang menuju bangunan yang ia benci—rumahnya.

.

.

.

Asano membuka pintu dengan gusar. Didapatinya sosok lelaki berbadan tinggi, menatap tajam kearah dirinya—yang tak lain adalah ayahnya.

"Mencoba kabur lagi?—" adalah hal yang pertamakali diucapkan ayahnya ketika ia sampai rumah.

"Tidak, aku hanya... mengunjungi teman," sanggah Asano junior.

"Kurangi bermainmu. Kamu harus belajar lebih untuk masuk menjadi anggota kepolisian. Nantinya, kau akan meneruskan jabatan ayah,"

"Aku tidak ingin menjadi anggota kepolisian," bantah Asano. Ia memang sama sekali tidak berminat masuk kepolisian dan sebagainya—persetan dengan jabatan atau hidup enak.

"Jangan coba-coba..." pria tinggi itu menatap anaknya. Atmosfer serasa suram—sunyi. Yang ditatap bergidik ngeri.

"Kau kira aku tidak tahu siapa ini?" Ayah Asano mengeluarkan selembar foto dari sakunya. Memperlihatkan sosok yang sangat dikenal Asano. Mata Asano membulat—Itu Karma!

"Jika kamu tidak menjadi anggota kepolisian, ayah tidak akan menjamin akan melakukan apa kepada anak ini," ayah Asano tersenyum licik. Memandang anaknya yang terkejut di hadapannya.

'Sial! Ayah ini memang iblis, Karma tidak ada hubungannya dengan masalah internal keluarga ini! Jangan libatkan Karma!'

'...Jika aku menolak permintaan ayah... Apa yang akan dilakukanya pada Karma? Sistem kepolisan memang mengerikan; Apalagi Ayah memiliki banyak bawahan di sekeliling kota. Karma tidak akan selamat'

Karma... hanya itulah yang ada di pikiran Asano. Ia sangat khawatir apa yang akan terjadi pada anak itu.

"Jangan libatkan dia! Dia sama sekali tidak ada hubungannya!" teriak Asano. Emosinya memuncak.

"Aku tidak akan melibatkan dia, jika kamu menurut. Jadilah anggota kepolisian. Jauhi anak itu, laksanakanlah tugasmu dengan baik," jeda sejenak.

"Dengan begitu, aku tidak akan melakukan apa-apa padanya,"

Asano berpikir keras. Ia harus segera mengambil keputusan.

'Kabur saja?'

Tidak, kalau begitu ia sendiri ataupun Karma tidak akan hidup dengan selamat.

Walaupun begitu, Asano lebih mementingkan satu hal daripada apapun, yaitu keselamatan Karma.

'—Jadi... aku harus menuruti ayah dan menjadi anggota kepolisian?'

Ia bimbang akan memilih keputusan apa. Namun akhirnya dengan berat hati, Asano membuka mulutnya.

"Aku akan menurutimu... Tapi, jangan sekali-kali melakukan sesuatu padanya!" ujar Asano. Untuk saat ini, hanya inilah solusi terbaik.

"Bagus. Tetapi besok, kamu harus mulai pergi ke pelatihan kepolisian. Dan, jangan pernah mememui anak itu lagi," pria itu membalikkan badan—meninggalkan anaknya yang berdiri mematung masih tak bisa mencerna apa yang ia katakan.

.

.

.

Surai merah menghela nafas berkali-kali. Sosok yang ia tunggu-tunggu belum nampak juga batang hidungnya.

'Apa Asano sakit perut ya? Terakhir kali, sudah kubilang bahwa selera makannya yang err... aneh itu perlu diperbaiki—'

Surai merah terkikik sendiri, mengingat ulah lucu temannya itu.

'Oh... Atau, ayah iblisnya itu memarahinya habis-habisan kemarin? Apa Asano tidak apa-apa?'

Hening, ia menjadi merasa bersalah. Bisa dibilang, Asano jadi lebih sering kabur dari rumah karena dirinya.

'Apa sih, yang aku pikirkan? Tidak begitu! Asano pasti baik-baik saja! Dia kan sudah berjanji... Dia pasti akan datang!'

.

.

.

Si surai merah itu tersenyum—mencoba untuk berpikir positif. Menunggu surai jingga dengan tidak sabar. Sosok polos itu tidak tahu, yang akan terjadi nantinya.

.

.

.

.

To Be Continued

A/N

Terimakasih buat yang sudah meluangkan waktunya membaca fic ini dan yang telah berkenan review~ Krisar sangat dibutuhkan~

Thanks,

Euclair